batampos.co.id – Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali memakan korban di Batam, Minggu (3/4). Kali ini korbannya Eduard Manurung, warga Bida Ayu, Mangsang. Bocah berusia 6 tahun ini meninggal setelah satu minggu terjangkit DBD.
“Meninggalnya tadi malam di rumah sakit Elisabeth, Batam Center, sekitar pukul 00.20 WIB,” ujar ketua RT setempat, Firman Purba kepada koran Batam Pos.
Ia mengatakan sebelumnya, anak dari pasangan J Manurung dan Br Pardede ini dirawat intensif dirumah sakit Elisabeth selama satu minggu.
“Dia dibawa ke rumah sekitar Sabtu (26/3) lalu,” katanya.
Lanjut ia mengatakan, kondisi terakhir yang dialami bocah laki-laki enam tahun ini begitu buruk dan mengkhawatirkan hingga ia meninggal.
“Pembuluh darahnya pecah, dan seminggu dia dirawat ada sembilan kantong darah yang ditranfusikan,” jelasnya.
Sebelumnya, ia menyebutkan ada dua warganya yang terkena penyakit yang sama dan sempat dilarikan ke Rumah sakit.
“Dua bulan terakhir ini ada tiga warga saya yang terkena DBD,”imbuhnya.
Di Daerah setempat, Firman mengaku sudah tiga tahun terakhir ini pihak Dinkes maupun Puskesmas yang turun melakukan penyemrotan (fooging) atau pun sosialisasi mengenai hidup bersih.
“Seharusnya enam bulan sekali ada penyemrotan, tapi sampai sekarang mereka gak turun, meskipun kami sudah meminta dan beberapa kali mengirim surat ke Puskesmas,” jelasnya.
Ia juga mengatakan bahwa gotong royong yang mesti dilakukan setiap Minggu memang jarang dilaksanakan.
“Mulai besok kami akan melakukan gotong royong ataupun membeli obat penyemprotan meskipun kami harus ngutip dari warga,” paparnya.
Sementara itu, Manurung salah satu warga mengatakan untuk kesedian pemerintah terkait untuk melakukan sosialisasi mengenai kebersihan lingkungan agar tidak ada lagi korban yang jatuh.
“Gotong royong memang jarang, tapi kami juga minta dukungan dari pemerintah seperti obat-obat semprot,” pungkasnya.
Ratusan pelayat hadir di rumah duka sejak pagi tadi. Sedangkan jenazah dikebumikan di TPU sei Temiang, Sekupang. (cr19)
Zulaikha(13) peserta pelatihan MTQ untuk Provinsi Kepri cabang tahfizh satu juz dan tilawah saat pembukaan pelatihan di Quran Centre, Sekupang, Jumat (1/4/2016). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Menjelang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 31 Juli 2016 mendatang, sebanyak 75 kafilah asal Kepri yang akan mengikuti 15 cabang yang diperlombakan kembali dilatih di Quran Centre, Sekupang.
Wakil Gubernur Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Nurdin Basirun membuka langsung acara Pelatihan dan Pembinaan Intensif Peserta Potensial Provinsi Kepulaun Riau di Aula Utama Quran Centre, Sekupang, Jumat (1/4/2016).
Nurdin Basirun mengatakan Provinsi Kepri memiliki potensi untuk kembali meraih juara umum di MTQ nanti, seperti yang diraih saat MTQ Nasional di Batam 2014 lalu.
“Kita optimis bisa kembali mengulang prestasi gemilang yang lalu,” ujar Pria yang juga merupakan Ketua Umum Lembaga Pembangunan Tilawatil Quran Provinsi Kepri ini.
Direktur Quran Centre, Mahamadi Rahman menuturkan pelatihan sudah dimulai sejak dua tahun yang lalu. Hanya saja sekarang ini lebih difokuskan lagi untuk menyambut pelaksanaan MTQ yang sudah semakin dekat.
“Pelaksanaannya delapan hari,” ujarnya.
Setelah mengikuti pelatihan, kafilah akan dikembalikan ke daerah masing-masing untuk mengikuti MTQ tingkat Kota/Kabupaten.
Minggu (3/4/2016) hari ini semua kafilah diuji kemampuannya di pusat pelatihan yang berada di Pulau Moro.
“Di sana mereka akan uji kemampuan, masih ada beberapa bulan lagi untuk memantapkan bacaan maupun hapalan. Kita harapkan yang Kepri berjaya di tingkat Nasional,” pungkasnya. (cr17/bp)
Khairani, salah satu siswi SMK Muhammadiyah Batam yang menunggak pembayaran SPP karena mikisn. Ia anak yatimpiatu. Rani pun mengadukan nasibnya ke komisi IV DPRD Batam, Batamcentre, Jumat (1/4/2016) karen akhawatir tak bisa ikut UN. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Khairani, siswi kelas III SMK Muhammadiyah, Batuaji, Batam, bukan satu-satunya yang menunggak SPP di SMK tersebut. Banyak siswa lain yang juga menunggak karena miskin atau yatim.
“Iya, bukan hanya Rani yang nunggak SPP, tapi kenapa hanya Rani yang mengadu ke dewan,” ujar Agus, wakil kesiswaan SMK Muhammadiyah, Sabtu (3/4/2016).
Agusmenyebutkan, total tunggakan siswa kelas tiga secara umum di sekolah tersebut mencapai angka Rp 35 juta.
“Kalau dari kelas satu sampai tiga sekitaran Rp 300-an juta ada,” sebutnya.
Agus juga membenarkan kalau Rani, sapaan akrab Khairani, sering menunggak pembayaran SPP. “Kalau tak mampu memang iya karena neneknya sering datang ke sini minta kebijakan,” kata Agus yang juga Wali Kelas Rani.
Menurut Agus, warning terpaksa diberikan pada siswa yang menunggak pembayaran SPP, namun Agus menegaskan pihak sekolah tidak pernah mengancam atau melarang siswa yang masih punya tunggakan untuk tidak ikut UN.
“Masa warning saja tak boleh? Sekolah juga butuh biaya,” kata Agus.
Untuk itu sekali lagi Agus menegaskan, tunggakan SPP ya tetap tunggakan. Meskipun diperbolehkan ikut UN, namun saat pengambilan ijazah nanti tetap harus dilunasi tunggakan tersebut.
“Kalau tak lunas ya ijazahnya ditahan. Itu sudah kebijakan sekolah,” tegasnya. (eja/bp)
Siti Aisyah bersama cucunya Khairani di kontrakannya Sagulung Lama blok d nomor 19, Sagulung, Jumat (1/4/2016). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Ayahnya meninggal saat dia masih dalam kandungan. Sang ibu menyusul suaminya saat buah hartinya masih berusia 8 tahun. Khairani akhirnya dibesarkan neneknya, Siti Aisyah, yang sudah rentah. Sang nenek berjuang mencari nafkah untuk menyekolahkan sang cucu dari hasil pijak. Namun hasilnya, hanya cukup bayar kontrakan. Makan seadanya, dan sang cucu selalu menunggak SPP.
Suasana di Kaveling Lama, Blok D nomor 17 Sagulung, terlihat lengang, begitupun dengan suasana rumah kontrakan bercat putih yang ditempati oleh Khairani, 18, dan sang nenek, Siti Aisyah, 80.
Rumah kontrakan itu hanya punya falisitas satu kamar tidur, satu kamar mandi dalam, ruang tamu dan dapur. Kasur lusuh terhampar di ruang tamu. Televisi model tabung bertengger di rak besi yang sudah berkarat di ruang tamu.
”Silakan masuk, ayo duduk,” suara dari dalam memanggil wartawan koran ini. ”Maaf, agak sempit (ruangannya),” sambung perempuan tua yang masih terdengar tegas.
Perempuan tua itu adalah nenek dari Khairani. Pelajar kelas tiga SMK Muhammadiyah yang sebelumnya dikabarkan tidak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN) karena menunggak bayaran SPP.
Rani—panggilan akrab Khairani—anak pasangan Afimah dan Indra. Ibunya berasal dari Banten, sedangkan bapaknya dari Kota Padang. Rani lahir di Kota Medan, Sumatera Utara, pada 11 Mei 1997. Dia hijrah ke Batam tahun 2002 bersama ibu dan neneknya. ”Dua tahun di Batam saya masuk SD,” ungkap Rani.
Karena kondisi keuangan yang tidak stabil, tempat tinggal mereka sering berpindah-pindah. Dari satu kontrakan ke kontrakan lain.
”Mamak gak kerja, jadi nenek kasih makan dari hasil pijat,” tutur Rani. ”Tinggal di sini (Kaveling Lama, Red) sejak SMK kelas 1,” sambungnya.
Inilah rumah kontrakan Khairani di Sagulung Lama blok d nomor 19, Sagulung. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Perbincangan kami berlangsung santai. Selain koran Batam Pos (grup batampos.co.id), juga ada dua tamu. Kedua laki-laki tersebut adalah Ade Koto dan Anas yang merupakan anggota komunitas sosial online di Batam.
”Kedatangan kami, tak lain karena mendengar kabar dari Rani yang tak bisa ikut UN,” ujar Ade, Sabtu (2/4/2016).
Kabar tentang ancaman kepada Rani tidak bisa ikut UN yang akan diselenggarakan Senin (4/2/2016) besok, membuat pria berkecamata ini langsung mendatangi sekolah dan bertatap muka dengan pihak SMK Muhammadiyah. Di hadapan kepala sekolah, ia menanyakan perihal Khairani.
”Pas lihat postingan di sosmed, saya langsung datang ke sekolahnya,” kata Ade.
Dari Kepala Sekolah, Ade mendapatkan keterangan bahwa siswa yang bersangkutan memang mempunyai tunggakan SPP sebanyak Rp 4,8 juta. Namun, untuk masalah menolak Rani untuk ikut UN, katanya hal itu tidak benar.
Pihak sekolah mengatakan tunggakan tersebut akan dilunasi pihak Lembaga Amil Zakat (LAZ) Masjid Raya Batam (MRB) yang merupakan donatur Khairani.
“Menolak ikut (UN) itu tidak, tapi pihak sekolah hanya mengimbau untuk segera melunasi tunggakan tersebut,” jelasnya.
Setelah mendengar dan bertemu dengan pihak sekolah atas kabar tersebut, ia dan Anas melangkahkan kakinya ke kediaman Khairani.
”Kami ke sini untuk mengecek langsung, apakah Rani ini memang layak dibantu atau tidak, dan setelah mendengar ceritanya ya kami siap membantu,” ungkapnya.
Ade mengatakan, jika dana yang dikumpulkan oleh donatur nantinya melebihi target, ia berharap uang tersebut bisa digunakan Aisyah untuk mengelola usaha.
”Kalau uangnya banyak, nenek bisa buat usaha warung, biar gak mijit lagi,” sarannya yang diamini langsung oleh Aisyah.
Sementara itu, Anas yang langsung memposting berita mengenai Khairani mengaku banyak warga yang antusias membantunya. Satu per satu pengguna sosmed pun meneleponnya.
”Baru-baru tadi juga ada seorang polisi yang mau transfer uang, tapi saya bilang tahan dulu, karena saya gak berani simpan uang orang,” ucap pengajar di sekolah Gici ini.
Akhirnya ia pun menyarankan kepada Siti Aisyah untuk secepatnya membuat rekening untuk memudahkan para donatur mentrasfer bantuan tersebut.
”Saya bilang hari Senin setelah ujian pergi ke bank, secepatnya rekening dibuat,” katanya.
Selain pengguna sosmed, perusahaan MC Dermott juga antusias membantu Khairani, dengan memberikan uang sebanyak Rp 2 juta yang diterima langsung oleh Siti Aisyah dan Khairani.
”Pas baca koran dan online, mereka langsung datang dan menyerahkan uangnya,” ujar sang nenek, Siti Aisyah.
Khairani saat mengadu ke komisi IV DPRD Batam, Batamcentre, Jumat (1/4/2016). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Aisyah mengaku bersyukur dan terharu, ternyata banyak warga yang bersimpati dengan keadaan serta keterbatasannya.
”Syukur Alhamdulillah, Allah ngasih kemudahan buat saya dan Rani,” katanya terisak.
Diakuinya, penghasilan dari pekerjaannya sebagai tukang pijat dan urut memang tidak seberapa, per bulannya nenek berkacamata ini hanya mampu mendapatkan uang di bawah satu juta.
”Belum lagi saya harus bayar kontrakan Rp 700 per bulan, saya pun harus mencukup-cukupkan penghasilan saya,” sebutnya.
Apalagi untuk urusan biaya sekolah cucunya, ia hanya bisa meminta bantuan kepada pihak LAZ MRB sebagai donatur Rani. Selain itu ia kerap mendatangi sekolah tempat Rani mengenyam pendidikan untuk meminta keringanan biaya.
”Setiap ujian semester saya pasti ke sekolah minta keringanan,” ungkapnya.
Rani ditinggal mati oleh kedua orang tuanya sejak usianya 8 tahun, membuat Aisyah harus benar-benar mengurus tenaga.
”Ayahnya meninggal saat Rani belum lahir, sedangkan ibunya meninggal saat Rani usia 8 tahun karena penyakit pernapasan yang dideritanya,” tuturnya.
Apalagi untuk masalah pendidikannya, ia rela meninggalkan rasa malunya untuk mengharap rasa iba dan bantuan dari pihak lain.
”Kadang saya malu minta seperti ini, tapi mau gimana lagi, keadaan dan keterbatasanlah yang membuat saya seperti ini,” ungkapnya.
Aisyah mengaku trauma dengan kejadian seperti ini, tidak hanya kali ini, dari dulu ketika SMP, Rani kerap mendapatkan cobaan seperti itu.
“Saya trauma jika ijazah Rani harus ditahan seperti waktu SMP. Jika ditahan lagi, cucu saya harus lamar kerja pakai apa?” ungkapnya.
Saat ini, yang Aisyah inginkan adalah Rani bisa mengikuti ujian dan lulus, lalu mendapatkan ijazah terakhirnya, karena ia mengharapkan supaya ke depan Rani bisa bekerja dan membantu ekonomi keluarga di kala usianya semakin ringkih.
Ia juga mengaku, saat ini Rani sudah mendaftarkan diri menjadi calon mahasiswa baru di Politeknik Negeri Batam, ia mendaftar di jurusan administrasi.
”Maunya sih nanti kuliah sambil kerja,” tukas Rani yang mengenakan pakaian warna hijau.
Rani mengaku senang setelah pihak SMK Muhammadiyah meyakinkan dia bisa ikut UN.
”Senang dan bersyukur, karena gak mau lagi disuruh keluar dari ruangan ujian karena gak bayar uang semester. Trauma,” ucap cewek yang ingin jadi pegawai negeri ini.
Sementara itu, mengenai keseharian Rani, menurut seorang tetangganya, Rani merupakan tipe anak yang biasa-biasa saja, yang selalu menghabiskan waktunya di rumah saja.
”Kayak anak muda seusianya, jarang juga keluyuran,” pungkasnya. (YULIANTI/bp)
batampos.co.id – Oknum polisi menembak orang dekatnya kembali terjadi. Kali ini oknum polisi yang bertugas di Batam.
Ya, dia oknum polisi berinisial Ys. Dia menembak kekasihnya, MS, 23, di Komplek Ruko Penuin Blok Y Nomor 9, Lubukbaja, Batam, Kepri, pada Jumat (1/4/2016).
Sebelum menembak kekasihnya itu, kedua pasangan sejoli ini terlibat pertengkaran. Penyebab pertengkaran polisi berpangkat brigadir itu dengan sang kekasih masih dalam penyelidikan.
Saksi di lapangan menyebutkan ada pertengakaran antara keduanya.
“Kejadiannya itu malam, sekitar pukul 22.40. Rs ini mendatangi korban di kamar kosnya,” kata sumber koran Batam Pos di Polresta Barelang, Sabtu (2/4/2016).
Ia menyebutkan Brigadir Ys ternyata memiliki kunci duplikat kamar kos MS, dan membuka pintu kamar kos tersebut. Ss pada saat itu sedang tidur terlelap. Tak mengetahui ada orang yang telah memasuki kosnya.
“Tak berapa lama terdengar suara orang sedang berantem, mungkin ketika MS terbangun melihat ada Ys di kamarnya,” ungkapnya.
Kemudian, kata sumber, setelah ribut-ribut, MS mencoba untuk keluar dari kamarnya, namun dicegat oleh Ys dan mengancam pelaku.
“Kalau aku keluar, kau yang mati atau aku yang mati,” ujar sumber itu menirukan perkataan pelaku.
Namun MS, tetap memberontak ingin keluar. Tapi pelaku lebih kuat dan menarik tangan korban, sehingga korban terjatuh di kasur. Entah apa sebab, pelaku menodongkan senjata ke arah korban. Sehingga korban menutup mukanya dengan bantal.
Melihat hal ini, pelaku melepaskan tembakan ke arah kepala korban. Namun tembakan tersebut mengenai tangan kanan korban, menembus di sela antara jari korban. Akibatnya, korban dilarikan ke RS Harapan Bunda.
“Korban di rumah sakit sekarang, sedangkan pelaku diamankan oleh Polda Kepri,” kata salah satu sumber koran Batam Pos di kepolisian.
Adapun barang bukti yang diamankan pihak kepolisian yakni satu pucuk pistol dan amunisi. (ska/ray/jpnn)
batampos.co.id – Salah seorang mayat laki-laki bernama Anwar Bapa Lego (24), ditemukan oleh temannya Pascal di kawasan Golden Land, Batam Centre Sabtu (2/4) sekira pukul 01.30 WIB.
Saat ditemukan, Pascal menuturkan terdapat luka tusuk di bagian leher Anwar. Korban sempat dibawa Pascal ke Rumah Sakit AwalBros untuk mendapat pertolongan. Namun nahas, nyawa korban tidak bisa tertolong.
Jenazah Anwar lalu dibawa ke kamar jenazah RSOB Sekupang untuk dilakukan otopsi. Namun pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi.
“Tidak usah pakai otopsi, kami langsung bawa pulang saja ke kampung,” kata salah seorang keluarga korban.
Korban sendiri rencananya akan dibawa pulang ke kampung halamannya di Adonara Provinsi Nusa Tenggara Timur. (egi)
batampos.co.id – Mantap, Marga Nababan se-Indonesia menggelar Rapat Kerja Nasional I Parsadaan Borsak Mangatasi Nababab Boru Bere (PBMNBB) di Batam, Sabtu (2/4/2016).
Ketua Umum PBMNBB Anthon Nababan mengatakan bahwa saat ini Indonesia memasuki pasar bebas masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
“Saat ini, Vietnam sudah mulai belajar bahasa Indonesia. Dan kita, marga Nababan, tidak boleh hanya berdiam diri saja,” kata Anthon.
Maka dari itu, Ia meminta kepada seluruh marga Nababan untuk mulai berubah. “Karakter dan mental kita harus dirubah. Kita tidak boleh lagi hanya duduk dan diam. Kita harus terus bergerak,” pinta pria yang juga anggota DPR RI.
Rakernas ini semakin istimewa karena dihadiri tokoh Nababan dunia, Dr.SAE Nababan mantan Ephorus HKBP sebagai pembicara utama.
Dr.SAE Nababan, mengaku gembira dengan rakernas ini. “Yang paling susah adalah mengumpulkan orang Batak. Tapi ketua kita Anthon ini, berhasil mengumpulkan kita marga Nababan dari seluruh penjuru Indonesia,” kata SAE.
Melalui rakernas ini, Ia juga sepakat dengan Anthon agar anak-anak Nababan meningkatkan kemampuannya. “Selain kemampuan, kredibilitas, dan dapat dipercaya. Hal inilah yang harus dimiliki anak-anak kita nanti,” kata SAE.
Sebab, kedepan, sambungnya, orang-orang yang dapat dipercaya akan terus dicari. “Saya memuji PBMNBB ini. Karena dari organisasi ini kita mulai belajar terbuka. Itu kunci dari orang yang dapat dipercaya,” tegasnya.
Sebelumnya, ketua panitia Rynaldi Nababan mengatakan bahwa pemilihan Batam sebagai tempat rakernas karena dekat dengan Singapura dan Malaysia. “Agar kita bisa melihat dan belajar langsung dari negara tetangga kesiapan mereka menghadapi MEA. Kami berharap semangat itu bisa ditiru kita marga-marga Nababan,” harapnya.
Rakernas pertama ini dihadiri para pengurus Nababan dari seluruh Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi. Dalam rakernas ini, para pengurus berencana menyusun rencana kerja Nababan kedepannya. (*)
batampos.co.id – Khairani, siswi SMK Muhammadiyah Batam yang terancam tak bisa ikut UN karena dilarang pihak sekolah, kini dicari Menteri Pendidikan Anies Baswedan. Sang Menteri mencarinya karena tergerak hatinya untuk membantu Khairani melunasi tunggakan pembayaran SPP.
Anies Baswedan mengetahui kisah Khairani setelah membaca berita dari Batam Pos (batampos.co.id). Sebelumnya diberitakan Khairani terancam tak bisa ikut UN yang akan dimulai pekan depan karena pelajar yatim piatu itu masih menunggak pembayaran SPP.
Selain menunggak sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP), Khairani juga belum membayar biaya pemantapan UN. Sehingga total tunggakan yang harus dibayar senilai Rp 4 juta. Jika tunggakan itu tak dilunasi, maka Khairani tak diizinkan ikut UN di sekolahnya.
“Sekolah memperbolehkan ikut UN asal ada kepastian kapan tunggakan itu dibayar,” kata Khairani, Jumat (1/4).
Bersama neneknya Siti Aisyah, 78, pelajar jurusan Teknik Komunikasi Jaringan (TKJ) ini sebenarnya sudah berupaya keras untuk melunasi tunggakan itu. Keduanya sudah pontang-panting mencari pinjaman. Tekat Khairani cuma satu, ia harus ikut UN tahun ini. Namun sayang, mereka hanya mampu mengumpulkan uang sebesar Rp 500 ribu dari pinjam sana-sini.(uma)
Rombongan Hanoi Unesco Travel Club yang terdiri dari pimpinan agen travel di Vietnam saat Fam Trip di Batam. foto:istimewa
batampos.co.id – Hanoi Unesco Travel Club bekerjasama dengan Vietnam Airlines melakukan Fam Trip di Batam selama dua hari, Jumat dan Sabtu (1-2 April). Ini pertamakalinya rombongan agen travel dari Vietnam melakukan penjajakan di Batam sebagai salah satu tujuan wisata bagi Vietnam.
President Director Kurnia Djaja Wisata Tour and Travel, Simon Budi, yang membawa delegasi dari Vietnam ini mengatakan inilah kesempatan untuk mempromosikan pariwisata Batam bagi agen tour dan travel dari Vietnam. Terutama objek wisata di Batam, hotel, resort dan lapangan golf. “Mereka mengunjungi beberapa tempat di Batam, terutama resort dan lapangan golf,” ujar Simon Budi, kemarin.
Delegasi dari Vietnam tersebut tiba di Batam Centre Jumat pagi (1/4). Mereka langsung mendatangi spot-spot wisata untuk mengambil foto seperti Engku Putri, Masjid Raya Batam, dan Bukit Clara dengan Welcome Batam signboard. Mereka juga mencicipi kuliner Batam, utamanya seafood, di Restoran Golden Prawn Batam.
Mai Tien Dzung, Honorary Chairman Hanoi Unesco Travel Club mengatakan Batam cocok untuk dipasarkan di Vietnam karena cuaca dan makanannya sesuai dengan selera orang Vietnam. “Harga makanannya masuk akal. Lebih murah dibanding makanan di Malaysia. Orang Batam juga mengesankan, mereka selalu tersenyum,” katanya usai santap siang di restoran Golden Prawn.
Setelah itu mereka melanjutkan inspeksi ke sejumlah hotel, di antaranya Planet Holiday Hotel dan Allium Hotel. Dari city tour, mereka menikmati suasana yang tenang di Nongsa Point Marina and Resort. Di sana mereka bermalam.
Untuk hari kedua, rombongan Fam Trip dari Vietnam ini mengunjungi lapangan golp Palm Spring dan Sukajadi Golf. Selanjutnya, saat makan siang, mereka akan bersantap di Bandung Resto. Selain menjajaki untuk membawa turis Vietnam, mereka juga menjajaki untuk membawa rombongan yang ingin melaksanakan MICE di Batam.
“Memang tidak ada penerbangan langsung dari Vietnam, tapi kunjungan ke Batam bisa digabungkan dengan wisata ke Malaysia dan Singapura,” Mai Tien Dzung. (uma)
batampos.co.id – Hospital Pakar KPJ Pasir Gudang (KPJ PGSH) tawarkan potongan harga 20 persen paket pemeriksaan kesehatan dalam gelaran Batam Medica Expo 2016 ke VI dari 31 Maret hingga 3 April.
Pegawai Pemasaran KPJ PGSH, En Mohd Erman Saniran mengatakan potongan harga paket pemeriksaan tersebut yakni Executive Screening baik untuk pria maupun wanita.
“Harganya RM 559.20 dari harga asli RM 699,” katanya.
Lanjut dia, Executive Screening meliputi konsultasi dokter spesialis termasuk laporan medis, X-Ray dada, Elektrokardiogram (ECG), tekanan darah, USG Abodemen, penanda kanker serta saluran air kencing.
“Kami menyambut baik wisatawan yang di bawah naungan BAtam Medica Expo 2016, sehingga mengetahui lebih lanjut pariwisata medis oleh Hospital Pakar KPJ Pasir Gudang,” tambahnya.
Menurutnya KPJ PGSH akan meneyediakan fasilitas transportasi gratis untuk pelanggan dari Batam yang akan ke Johor Bahru melalui dua terminal yakni Pasir Gudang Pasengger Terminal dan The Zone Ferry Terminal Stulang Laut.
Dengan adanya paket yang ditawarkan tersebut, pihaknya berharap industri pariwisata kesehatan dapat berkembang pesat.
“Ada konsultasi gratis oleh dokter spesialis juga, yaitu dr Che’ Wan Aminud-din Hashim. dia ahli dalam hal asma , bronkoskopi terapeutik srta sub-spesialis pernapasan,” pungkasnya. (cr13)