Jalur penyeberangan Pelabuhan ASDP Telaga Punggur, Nongsa. Pelabuhan ini menjadi titik keberangkatan utama bagi wisatawan yang menyeberang ke Tanjung Uban, Bintan, untuk menikmati momen liburan. (F. Azis Maulana / Batam Pos)
batampos – Libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024-2025 meningkatkan aktivitas perjalanan masyarakat Kota Batam, khususnya di jalur penyeberangan Pelabuhan ASDP Telaga Punggur, Nongsa. Pelabuhan ini menjadi titik keberangkatan utama bagi wisatawan yang menyeberang ke Tanjung Uban, Bintan, untuk menikmati momen liburan.
General Manager PT ASDP Batam, Hermin Welkis, mengungkapkan aktivitas di pelabuhan saat ini terpantau ramai namun tetap berjalan normal. Lonjakan pengguna jasa berhasil dikelola dengan baik berkat sejumlah langkah antisipasi yang telah disiapkan.
“Beberapa hari terakhir, aktivitas pengguna jasa ramai tetapi tetap normal. Tidak ada penumpukan kendaraan karena kami sudah menyiapkan buffer zone parkir di area atas serta mempermudah pemesanan tiket secara online,” jelas Hermin, Kamis (2/1).
Menghadapi potensi lonjakan arus balik di akhir pekan, PT ASDP Batam telah menyiapkan armada kapal roro tambahan untuk memastikan kelancaran mobilitas penumpang.
“Masyarakat sudah mulai bergerak untuk berlibur ke Bintan. Kami telah mengantisipasi penumpukan penumpang dengan menyiapkan armada tambahan,” ujar Hermin.
Lanjutnya, kapal roro juga dipercepat untuk jarak tempuhnya agar tidak terjadi keterlambatan sehingga pengguna jasa bisa berangkat tepat waktu.
“Kami juga upayakan waktu tempuh perjalanan yang dipercepat agar pengguna jasa berangkat tepat waktu,” jelasnya
Hermin juga mengimbau calon penumpang untuk memanfaatkan sistem pemesanan tiket secara online melalui platform Ferizy. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi antrean dan mencegah kepadatan di area pelabuhan.
“Pemesanan tiket secara online memudahkan calon penumpang dan membantu kami memastikan kenyamanan dan kelancaran aktivitas di pelabuhan,” tambahnya.
Dengan persiapan yang matang, PT ASDP Batam optimistis dapat melayani pengguna jasa dengan baik selama periode liburan panjang ini, sekaligus menjaga kelancaran arus transportasi menuju dan dari Bintan. (*).
Pengendara menerobos banjir rob yang merendam ruas jalan di Tanjunguban, Bintan, Kamis (2/1/2025) siang. F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos.
batampos– Ruas jalan yang ada di jalan RE Martadinata dan jalan Merdeka, Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara terendam banjir rob, Kamis (2/1/2025) siang.
Banjir rob sudah menjadi langganan di ruas jalan depan Pelabuhan Bulang Linggi, Tanjunguban itu.
Akibatnya, sebagian pengendara motor harus memutar arah untuk menghindari banjir rob.
“Banjir rob naik lagi ke jalan,” ujar pengemudi mobil, Putra.
Dia mengeluhkan kondisi banjir rob yang belum teratasi sampai saat ini. Soalnya, banjir rob dapat membuat komponen mobil, terutama bagian logam berkarat.
“Bisa karatan mobil karena terkena air asin,” kata Putra.
Putra mengharapkan, pemerintah daerah dapat mengatasi banjir yang sudah menjadi langganan setiap tahun.
Pemuda Tanjunguban, Yorfa meminta perhatian pemerintah daerah terkait pembangunan yang ada di Tanjunguban, termasuk permasalahan banjir rob yang terjadi di pintu masuk wisatawan.
“Harus ada perhatian dari pemerintahlah, karena sudah bertahun-tahun kondisi ini,” katanya. (*)
Flyover Laksamana Ladi di kawasan Seiladi yang baru saja diresmikan. F.Cecep Mulyana/Batampos
batampos – Arus lalu lintas di kawasan Sekupang menuju pusat Kota Batam semakin lancar sejak kehadiran Flyover Laksamana Ladi. Infrastruktur baru ini terbukti mampu mengurai kemacetan, terutama di jam-jam sibuk, sekaligus menjadi ikon baru Kota Batam.
Flyover sepanjang 120 meter dengan lebar 10,5 meter ini terbukti ampuh menjadi solusi mengurai kemacetan, khususnya di kawasan Southlink menuju Simpang Universitas Internasional Batam (UIB).
Warga Tiban, Puspa, mengaku, sangat terbantu dengan keberadaan flyover tersebut. Ia menuturkan bahwa arus lalu lintas, yang biasanya macet saat malam pergantian tahun, kini terasa lebih lancar.
“Kami merasa senang dengan adanya flyover di Sei Ladi. Biasanya malam tahun baru pasti macet kalau kita mau ke arah Batam Center, tapi semalam alhamdulillah tidak lagi,” ujarnya, Rabu (1/1).
Pendapat serupa juga diutarakan Aida, warga Tiban lainnya. Ia menyebut, flyover tersebut memberikan dampak signifikan terhadap kelancaran mobilitas para pekerja, terutama di jam-jam sibuk.
“Biasanya jam sibuk pasti macet. Sekarang alhamdulillah sudah terurai. Jadi kita yang bekerja di area Batam Center maupun Batu Ampar sangat terbantu,” ungkapnya.
Selain bermanfaat untuk masyarakat, flyover yang dibangun dengan anggaran sebesar Rp 132 miliar ini juga dianggap sebagai langkah strategis pemerintah dalam menyiapkan infrastruktur pendukung investasi di Batam.
“Jika menginginkan investasi meningkat, maka infrastrukturnya perlu kita benahi terlebih dulu. Kalau sudah maksimal, maka investasi akan tumbuh dan ekonomi pun bangkit,” kata Kepala BP Batam, Muhammad Rudi.
Di tengah berbagai perdebatan soal penamaan, Flyover Laksamana Ladi tetap memberikan dampak positif bagi kelancaran mobilitas masyarakat Batam. Infrastruktur ini juga menjadi wajah baru yang semakin memperkuat citra Batam sebagai kota modern yang ramah investasi. (*)
Anak-anak saat bermain air banjir rob di depan Posyandu Bunga Rampai 1 Jalan Lembah Purnama Tanjungpinang, Kamis (2/12). F. Mohamad Ismail/BATAM POS
batampos– Banjir luapan air laut (rob) kembali terjadi di wilayah pesisir Kota Tanjungpinang, Kepri, pada Kamis (2/1). Adanya banjir rob tersebut membuat jalan di permukiman warga ikut terendam.
Salah satunya terjadi di Jalan Lembah Purnama Tanjungpinang. Dimana, banjir rob telah meninggi sejak pukul 10.00 WIB. Pantauan Batam Pos, banjir yang merendam wilayah tersebut setinggi diatas mata kaki orang dewasa.
Bahkan, banjir rob tersebut juga merendam halaman Posyandu Bunga Rampai 1, yang terletak di Gang Selayar Jalan Lembah Purnama tersebut.
“Jam 10 pagi tadi sudah mulai naik (air laut). Memang tidak terlalu tinggi, tapi kita was-was takutnya masuk rumah,” kata Ali di lokasi banjir rob.
Banjir rob yang terjadi hari ini memang lebih tinggi, ketimbang pada hari-hari sebelumnya. Menurutnya, banjir rob akan terus melanda pesisir Jalan Lembah Purnama Tanjungpinang hingga beberapa hari ke depan.
Ia juga mengaku khawatir jika sewaktu-waktu hujan deras melanda saat banjir rob tengah naik. Kondisi itu, kata ali dipastikan menambah luapan air laut dan dapat merendam banyak permukiman warga.
“Takutnya hujan aja. Kalau hujan pasti tinggi airnya pasti langsung masuk rumah. Adanya banjir rob ini juga akan membuat sampah naik ke darat,” pungkasnya. (*)
batampos – PT Air Batam Hilir, operator air bersih di Batam menginformasikan bahwa ada perbaikan kebocoran pipa DN 800mm di Simpang Punggur, Batu Besar.
Pekerjaan ini berdampak pada gangguan suplai air bersih yang dapat mengakibatkan air kecil atau bahkan terhenti sementara waktu.
Area yang terdampak adalah;
KDA
Tunas
Legenda
Bida 1
Bukit Palm
Paragon Hill
Beverlly
Glory Paris
Dotamana
KPN Batara
BSI
Selebriti
Puri Asri
Family Dream
Orchard
Purimas
Taman Raya
Buanavista
Bandara dan sekitarnya
Selama perbaikan ini, Air Batam Hilir telah menyiagakan mobil tangki air untuk melayani pelanggan yang mengalami gangguan suplai air. Warga yang terdampak dapat berkoordinasi dengan Ketua RT/RW/Kelurahan setempat untuk mengatur pengiriman air bersih. Layanan ini dapat diakses melalui Kantor Pelayanan Pelanggan (KPP) di Bengkong, Batu Aji, dan HO Batam Center, serta Call Center Air Batam Hilir di (0778) 5700 000.
Perbaikan ini diharapkan dapat selesai dalam waktu 1×24 jam. Diharapkan warga dapat bersabar dan tetap menghubungi saluran resmi untuk kebutuhan suplai air bersih. (*)
Sebuah nama melurus, memahat dirinya di bawah beton kokoh jalan layang terbaru di Batam: Laksamana Ladi. Sebutan ini memantik rasa ingin tahu, menyelipkan aroma kebesaran sejarah dan kepahlawanan. Namun, di balik gegap gempita peresmian dan keriuhan publik, satu pertanyaan mengemuka: siapakah sebenarnya Laksamana Ladi? Apakah dia benar ada?
Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, sebagai pengusung nama ini, dengan tegas menyebut sosok tersebut sebagai salah satu legenda di Batam. Pernyataan itu melahirkan gelombang harapan, seakan Batam akan menemukan kembali satu fragmen sejarah yang lama terkubur. Akan tetapi, di tengah penggalian makna, para budayawan dan sejarawan lokal justru dihadapkan pada kesunyian.
Ironi ini menebarkan nuansa misteri di antara gemerlap modernitas Batam. Apakah Laksamana Ladi adalah pahlawan yang terlupakan, atau justru sebuah dongeng yang baru dilahirkan? Literasi sejarah yang tak mencatat namanya membuat publik bertanya-tanya: adakah makna tersembunyi di balik penamaan ini?
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota, nama Laksamana Ladi kini menjadi simbol paradoks.
Ia mengajak kita merenungi jejak sejarah yang tak selalu terang, serta bagaimana kota ini, yang terus berlari mengejar masa depan, mungkin telah kehilangan sebagian dari akar masa lalunya.
Pada 24 Desember lalu, BP Batam merilis catatan singkat mengenai asal-usul Sei Ladi. Nama tersebut, seperti halnya banyak nama tempat di Kepulauan Riau, berakar dari bahasa Melayu. “Sei” berarti sungai, sementara “Ladi” merujuk pada seorang tokoh penting, seorang laksamana yang dipercaya berperan besar dalam menjaga perairan Melayu pada masa Kesultanan Riau-Lingga.
Laksamana Ladi mereka sebut sebagai pemimpin tangguh armada laut Melayu, sosok yang mengawal kedaulatan laut dari ancaman bajak laut hingga kekuatan asing yang mencoba menguasai jalur perdagangan strategis di kawasan Riau. Keberanian dan kepiawaiannya dalam strategi pertempuran laut menjadikannya figur yang dihormati, meskipun hingga kini bukti tertulis mengenai kiprahnya belum ditemukan dalam literatur resmi.
Ketika flyover Laksamana Ladi diresmikan pada 31 Desember, Komandan Lantamal IV, Laksamana Pertama TNI Tjatur Soniarto, menjelaskan bahwa nama tersebut diusulkan oleh Muhammad Rudi, Kepala BP Batam.
“Walau tidak ada catatan literatur, kisah Laksamana Ladi berasal dari kearifan lokal yang menceritakan perlawanan beliau terhadap penjajah Belanda. Nama ini merupakan penghormatan atas perjuangan beliau,” katanya.
Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri Kota Batam berkumpul dalam sebuah rapat mendesak pada malamnya, untuk membahas menyoal Laksamana Ladi itu. Ada yang dirasa kurang pas, seperti jejak yang salah langkah, menodai warisan yang seharusnya terjaga.
LAM tahu, apa yang akan mereka bahas malam itu bukan cuma perkara nama. Bukan juga kemegahannya yang dipersoalkan, melainkan nama yang melekat padanya, nama yang seolah muncul tanpa akar, tanpa sejarah yang tertanam di tanah ini.
Jalan layang Laksamana Ladi yang baru diresmikan oleh Kepala BP Batam Muhammad Rudi, Selasa (31/12).
Dari pertemuan itu, sebuah keputusan bulat diambil. LAM Batam akan mengirimkan surat resmi kepada BP Batam. Dalam surat itu, mereka meminta jawaban, sebuah penjelasan yang mendalam dan menyeluruh mengenai latar belakang penamaan jalan layang tersebut. Petua adat juga mendesak adanya kajian yang melibatkan LAM dan para sejarawan, demi memastikan bahwa nama yang tertulis di atas jembatan itu benar-benar mencerminkan jiwa dan sejarah Melayu.
Bagi mereka, menjaga warisan adalah tugas suci, tugas yang tidak boleh tergelincir oleh sembarang keputusan. Karena dalam sebuah nama, tersimpan cerita, martabat, dan kehormatan yang tak boleh tergadaikan.
Seperti halnya banyak legenda, kisah Laksamana Ladi memantik perdebatan tak pakai sudah. Budayawan Melayu Kepri, Abdul Malik, menyatakan dirinya belum pernah menemukan bukti sejarah yang menguatkan keberadaan tokoh tersebut. Ia menduga bahwa nama “Ladi” mungkin lebih terkait dengan suku asli penghuni kawasan itu.
”Saya belum pernah baca sejarahnya. Saya tak berani menjawab jika belum menemukan sumber resminya. Setau saya, Ladi itu nama suku asli, seperti suku Sakai. Mungkin dulu di tempat itu bermukim suku Ladi,” kata dia.
Senada, Samson Rambah Pasir, budayawan Batam, juga meragukan keberadaan figur Laksamana Ladi. Ia mengungkapkan bahwa nama ”Ladi” lebih mungkin merujuk pada suku asli yang menghuni berbagai tempat di Kepri, termasuk Kampung Ladi di Pulau Penyengat.
”Sejauh yang saya tahu, tak ada pula (figur Laksamana Ladi). Mungkin pengetahuan saya terbatas,” ujarnya sambil bercanda.
Ia menyebut, Suku Ladi ini umumnya dikenal sebagai pelayan istana, bukan prajurit atau laksamana. Ladi itu nama suku asli yang mendiami kawasan itu di masa dulu. Nama Sungai Ladi ada di banyak tempat di Kepri. Bahkan, di Pulau Penyengat, dekat keraton, ada kampung Ladi yang dihuni Suku Ladi.
Tiada yang khas tentang Sei Ladi, begitu juga dengan Suku Ladi yang notabene, umumnya, adalah pelayan istana. Mereka juga bak orang Sakai.
”Mereka (Suku Ladi) tidak punya tradisi berperang. Mereka paling modern pelayan istana dalam kerajaan. Beda dengan orang Galang yang punya tradisi berperang. Orang Gelam yang punya tradisi membuat kapal perang,” ujar Samson.
Aswandi Syahri, sejarawan Batam, juga buka suara. “Saya baca berita setelah peresmian itu, mereka mengaitkan Laksamana Ladi dengan Kerajaan Riau-Lingga. Tapi, nama itu tak pernah ada. Tak tercatat dalam sejarah, tak terdengar dalam cerita rakyat,” ucapnya dengan nada serius.
Sejarah, bagi Aswandi, adalah nyala api yang harus dijaga dengan bukti. Arsip demi arsip telah ia selami, mulai dari naskah kuno hingga dokumen kerajaan. Namun, nama Laksamana Ladi tak kunjung ditemukan.
“Tak hanya dari buku, saya baca arsip asli. Memang tak ada nama itu. Kalau memang ada buktinya, tak masalah. Tapi kalau hanya rekaan, itu berbahaya. Nama yang dikaitkan dengan sejarah kerajaan membutuhkan legitimasi,” katanya yang juga pengurus LAM Kepri itu.
Nama ”Ladi” memang punya akar di wilayah ini. Sungai Ladi, sebuah aliran yang pernah menjadi nadi kehidupan suku-suku laut, mungkin menjadi asal muasal nama itu.
Orang Ladi, begitu mereka dikenal, adalah salah satu komunitas dari berbagai suku laut yang mendiami kawasan ini. Mereka dikenal karena keahlian mendayung dan membangun istana. Kaum perempuan mereka, sering disebut sebagai penyedia sirih dan kapur di istana raja. Namun, meski kisah suku Ladi begitu kuat dalam memori lokal, tidak ada sama sekali jejak mereka yang berkaitan dengan perang atau kepemimpinan dalam sebuah kerajaan
“Orang Ladi ini terkenal sebagai pembuat perahu, bukan pejuang. Dalam sejarah, yang terkenal sebagai pejuang itu adalah orang Galang,” kata Aswandi.
Nama Laksamana Ladi kini tersemat pada sebuah karya infrastruktur, seolah meng-hidupkan kembali sosok yang sebenarnya tak pernah hadir dalam sejarah. Tetapi, pertanyaannya, apa misi BP Batam dari nama ini?
“BP Batam seharusnya berkonsultasi dengan lembaga adat. Kita punya warisan budaya yang harus dihormati. Ini bukan soal nama semata, tapi soal keabsahan sejarah yang menjadi bagian identitas kita,” ujar Aswandi.
Bagi masyarakat Melayu, sejarah bukan sekadar rentetan peristiwa, melainkan napas identitas. “Saya minta ini ditinjau ulang. Dudukkanlah persoalan ini bersama lembaga adat Melayu. Jangan sampai nama yang dipilih justru menjadi kontroversi, bukan kebanggaan,” tegasnya.
Narasi tentang Laksamana Ladi mungkin telah meng-hiasi prasasti, tapi apakah ia mampu berdiri kokoh di bawah sorotan sejarah? Bagi Aswandi dan para penjaga tradisi, jalan menuju kebenaran adalah dengan menggali lebih dalam, mendengarkan mereka yang hidup dari akar sejarah, dan memberikan tempat yang layak bagi warisan budaya yang tak tergantikan.
Teruntuk Batam, kota dan tanah Melayu yang terus tumbuh dan berubah, nama-nama seperti Laksamana Ladi mengingatkan kita bahwa setiap langkah ke depan harus berpijak pada dasar yang kuat. “Kalau tak tahu duduk perkara, jangan sebarang membuat bicara” memberikan pelajaran: setiap keputusan, apalagi yang menyentuh identitas budaya, harus didasari oleh kejujuran sejarah.
“Tegak rumah karena tiangnya, tegak bangsa karena budayanya.” Dan dasar itu, seperti sejarah, hanya akan bertahan jika dibangun di atas kebenaran, bukanlah tipuan. (*)
batampos – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil menyita 23 aset yang terkait dengan kasus dugaan korupsi dalam proses akuisisi PT Jembatan Nusantara oleh PT ASDP Persero periode 2019-2022. Aset yang diamankan mencakup tanah dan bangunan dengan nilai total mencapai Rp1,2 triliun.
Proses pelacakan aset bermula sejak Oktober hingga Desember 2024, yang mengarah pada pengumpulan 23 aset yang tersebar di berbagai daerah. Aset tersebut antara lain dua di Bogor, tujuh di Jakarta, dan 14 di Jawa Timur. Juru Bicara KPK, Tessa Mahardhika Sugiarto, mengungkapkan bahwa KPK juga telah menetapkan empat tersangka dalam kasus ini.
Tersangka terdiri dari seorang individu berinisial A, serta tiga pejabat PT ASDP yang dikenal dengan inisial IP, MYH, dan HMAC. KPK memperkirakan bahwa total kerugian negara akibat korupsi ini mencapai sekitar Rp1,3 triliun selama periode empat tahun tersebut.
Kasus ini mencuat setelah ASDP diduga tidak cermat dalam melakukan akuisisi terhadap PT Jembatan Nusantara, terutama terkait dengan pembelian 53 kapal bekas yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. Selain itu, PT Jembatan Nusantara juga membawa beban utang sebesar Rp600 miliar, yang menjadikan akuisisi ini merugikan negara, mengingat ASDP adalah perusahaan milik negara.
Sementara itu, KPK juga tengah menyelidiki dugaan penyalahgunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Indonesia. Setelah menggeledah kantor Bank Indonesia dan OJK, KPK memeriksa dua anggota Komisi XI DPR, Satori dari Fraksi NasDem dan Heri Gunawan dari Gerindra, sebagai saksi. Kasus ini didalami karena diduga aliran dana CSR BI mengarah ke yayasan yang terkait dengan anggota DPR tersebut, termasuk kemungkinan afiliasi keluarga atau kerabat dalam pemilihan yayasan penerima CSR. (*)
Pengunjung menikmati masakan seafood sembari disuguhkan pemandangan alam dari RM. Rindu Selalu yang berada di Desa Kuala Sempang, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Rabu (1/1/2024). F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos.
batampos– Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Desa (Pemdes) Kuala Sempang dalam upaya menggerakkan roda perekonomian masyarakat desa.
Salah satunya mengembangkan bisnis seafood yang dijalankan Badan Usaha Milik Desa (BUMdes).
“Ini salah satu unit usaha yang dikembangkan BUMDes Sri Kuala Raya,” ungkap Kepala Desa Kuala Sempang, M Hatta di lokasi unit usaha BUMDes yang dinamai RM. Rindu Selalu, Jagonya Seafood di Desa Kuala Sempang, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Rabu (1/1/2024).
Dia menjelaskan, alasan mengembangkan unit bisnis seafood, karena letak desa yang berada di daerah pesisir.
Selain itu, tidak jauh dari jalan Lintas Barat yang merupakan akses jalan yang ramai dilalui kendaraan dari Batam dan Tanjungpinang.
“Kita mencoba menggali potensi yang ada di desa dengan menonjolkan masakan seafood seperti gonggong dan ketam masak telor asin. Sambal kita juga memiliki rasa yang lain dari biasanya,” ujarnya.
Terpenting, kata Hatta, bisnis ini dijalankan untuk menggerakan roda perekonomian masyarakat desa.
Tidak hanya ekonomi masyarakat Desa Kuala Sempang, tapi desa-desa di sekitarnya seperti Desa Busung, Desa Pengujan dan Desa Penaga.
Sembari menikmati masakan seafood, kata Hatta, pengunjung dimanjakan bentangan alam nan indah.
“Sambil makan, pengunjung bisa menikmati view jembatan, laut, sunset dan mangrove,” katanya.
Bupati Bintan, Roby Kurniawan mengapresiasi Pemerintah Desa Kuala Sempang dan BUMDes Sri Kuala Raya yang mengembangkan bisnis seafood.
“Ini kali pertama, desa di Bintan memiliki bisnis rumah makan seafood,” katanya.
Dia berharap, bisnis yang dijalankan Pemerintah Desa dan BUMDes di Desa Kuala Sempang ini dapat meningkatkan pendapatan asli desa dan menggerakan ekonomi masyarakat desa. (*)
batampos – Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) secara resmi menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) terbaru soal kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12 persen untuk barang mewah yang juga dikenakan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM), pada Rabu (1/1).
“Pajak Pertambahan Nilai yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif 12 persen (dua belas persen) dengan Dasar Pengenaan Pajak berupa harga jual atau nilai impor,” bunyi Pasal 2 ayat (2) dalam PMK 131/2024, dikutip JawaPos.com Rabu (1/1).
Namun secara khusus, pemerintah juga mengatur lebih detail soal waktu pemberlakuan PPN 12 persen untuk barang mewah dalam PMK 131/2024 yang diteken Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada malam tahun baru, yakni 31 Desember 2024.
Melalui Pasal 5 poin a, pemerintah memastikan bahwa PPN 12 persen untuk pembelian barang mewah akan berlaku mulai 1 Februari 2025. Sementara, khusus bulan ini terhitung Rabu, 1 Januari 2025 hingga Jumat, 31 Januari 2025, tarif PPN untuk pembelian barang mewah masih berlaku sebesar 11 persen.
“Mulai tanggal 1 Januari 2025 sampai dengan tanggal 31 Januari 2025, Pajak Pertambahan Nilai yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif 12% (dua belas persen) dengan Dasar Pengenaan Pajak berupa nilai lain sebesar 11/12 (sebelas per dua belas) dari harga jual,” bunyi Pasal 5 poin a dalam PMK tersebut.
“Mulai tanggal 1 Februari 2025 berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2),” bunyi Pasal 5 poin b.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memastikan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12 persen mulai 1 Januari 2025 hanya berlaku untuk barang mewah. Kenaikan PPN 12 persen dari sebelumnya 11 persen sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP).
“Kenaikan tarif pajak pertambahan nilai menjadi 12 persen ini merupakan amanah dari UU Nomor 7 Tahun 2021 tentang HPP. Jadi sesuai kesepakatan pemerintah RI dengan DPR pada 2021, kenaikan tarif dilakukan bertahap 10 persen ke 11 persen pada 2022,” kata Prabowo saat konferensi pers di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Selasa (31/12).
Adapun barang mewah yang akan dikenakan PPN 12 persen, diantaranya seperti pesawat jet pribadi, kapal Pesiar, Yacht, Rumah/apartemen/kondominiun mewah dengan harga diatas Rp 30 miliar, dan kendaraan bermotor mewah. (*)
Seorang anak Palestina duduk di atas puing-puing sebuah bangunan yang hancur akibat serangan Israel di Kamp Pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah, 7 Desember 2024. F. Eyad BABA/AFP
batampos – Hampir 1.100 bayi Palestina meninggal akibat serangan Israel ke Jalur Gaza yang tak kunjung berhenti sejak 7 Oktober 2023, demikian laporan otoritas setempat dilansir dari Antara pada Rabu (1/1).
Otoritas media pemerintah Gaza menyebut 1.091 bayi, termasuk 238 bayi yang baru lahir, kehilangan nyawanya selama satu tahun lebih agresi Israel. Meski menghadapi desakan melalui resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk segera melakukan gencatan senjata di Gaza, rezim Zionis Israel tak kunjung menghentikan agresinya.
Lebih dari 45.550 orang, yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak, terbunuh dan 108.300 lebih lainnya cedera akibat serangan Israel, demikian menurut otoritas kesehatan setempat. Israel juga melakukan blokade total terhadap Jalur Gaza sehingga membuat seluruh populasi daerah tersebut terancam kelaparan.
Otoritas setempat pada Senin (30/12) menyebut sekurangnya tujuh orang, termasuk enam bayi, meninggal akibat terpapar cuaca dingin di Gaza di tengah blokade Israel.
Sementara itu, pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan ketua otoritas pertahanan Israel Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Jalur Gaza.
Israel juga kini menghadapi gugatan atas dugaan tindak genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas tindakannya di Gaza. (*)