
batampos – Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI), memastikan lima Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menjadi korban penembakan oleh aparat hukum Malaysia di perairan negara tersebut bukan berasal dari Kepri. Dari kelima orang itu, satu di antaranya tewas.
Kepastian ini diperoleh setelah tim dari BP3MI melakukan penelusuran terkait insiden yang menimpa seorang warga Aceh bernama Muhammad Hanafiah. Hanafiah dilaporkan tertembak di perairan Malaysia saat berusaha kembali ke Indonesia melalui jalur tidak resmi tanpa pemeriksaan imigrasi.
Dalam laporan resmi BP3MI Aceh yang diterima pada 26 Januari 2025, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur untuk memastikan kebenaran informasi ini.
KBRI Kuala Lumpur telah menerima informasi mengenai insiden ini pada Sabtu sebelumnya, namun hingga kini data lengkap korban masih dalam tahap pengumpulan oleh otoritas Malaysia. Imigrasi Malaysia berjanji akan memberikan pembaruan data pada 27 Januari 2025.
Sementara itu, tim BP3MI Aceh telah melakukan verifikasi langsung ke lapangan dengan mendatangi alamat keluarga korban di Kabupaten Aceh Timur. Kepala Desa Alue Bugeng, Azhari, membenarkan bahwa Hanafiah adalah warganya yang bekerja di Malaysia. Informasi ini juga diperkuat oleh pernyataan abang ipar korban, Muzakir, serta istri korban, Mawaddah.
Menurut keterangan Mawaddah, sang suami sempat menghubunginya pada 23 Januari 2025 malam. Korban sempat menyampaikan bahwa dia menghadapi masalah serius di Malaysia. Ia juga meminta agar istrinya tidak menghubungi dirinya terlebih dahulu.
Keesokan harinya, pada 24 Januari 2025 pagi, Hanafiah kembali menghubungi istrinya dan menyatakan niatnya untuk pulang ke Aceh. Pada pukul 14.00 WIB, ia mengirimkan pesan suara melalui WhatsApp, menyampaikan kondisinya sedang dalam bahaya.
Korban meminta istrinya untuk melaporkan kepada pihak kepolisian bahwa dia berada di dalam kapal sendirian dan meminta dijemput oleh aparat Indonesia di wilayah perairan Dumai.
Hanafiah juga mengirimkan lokasi keberadaannya di sekitar Pulau Carey, Malaysia, yang kemudian dikonfirmasi sebagai lokasi penangkapan lima orang korban lainnya dalam insiden yang sama. Kontak terakhir dengan Hanafiah terjadi pada Sabtu sore, sebelum nomor ponselnya tidak lagi aktif.
BP3MI Aceh telah menyampaikan perkembangan ini kepada keluarga korban dan terus berkoordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur serta otoritas terkait di Malaysia. Mereka menegaskan, status korban baru akan dipastikan setelah adanya konfirmasi resmi dari pihak imigrasi Malaysia.
Menanggapi insiden ini, Ketua Jaringan Safe Migrant, Chrisanctus Paschalis Saturnus, meminta pemerintah Indonesia harus mengambil sikap tegas dengan meminta klarifikasi dari pemerintah Malaysia.
Dia juga menegaskan pentingnya keadilan bagi korban serta perlunya reformasi dalam tata kelola perlindungan PMI, termasuk pemberantasan sindikat mafia yang memperdagangkan pekerja migran secara ilegal.
“Kejadian seperti ini harus menjadi perhatian serius pemerintah. Selain memastikan keadilan bagi korban, perlu langkah konkret dalam memperbaiki sistem perlindungan dan pembersihan jaringan ilegal yang memperdagangkan pekerja kita,” ujar pria yang akrab di sapa Romo Paschal itu. (*)
Reporter: Arjuna
Artikel Tragedi Penembakan 5 PMI di Malaysia, BP3MI Ungkap Korban Berasal dari Aceh, Bukan Kepri pertama kali tampil pada News.









