batampos – Pengemudi pemula mobil matic wajib memahami arti huruf dan angka pada tuas persneling. Pengetahuan dasar ini penting untuk keselamatan, efisiensi bahan bakar, hingga performa kendaraan saat melaju.
Berikut arti setiap huruf dan angka pada persneling mobil matic, sebagaimana dijelaskan Suzuki:
1. P (Parking)
Digunakan saat mobil diparkir. Mode ini mengunci transmisi sehingga roda tidak bergerak.
2. R (Reverse)
Mode untuk memundurkan mobil. Umumnya digunakan saat parkir mundur atau keluar dari area parkir.
3. N (Neutral)
Posisi netral di mana mesin tidak menyalurkan tenaga ke roda. Biasanya digunakan saat mobil berhenti singkat.
4. D (Drive)
Mode berkendara maju. Transmisi akan berpindah otomatis sesuai kecepatan kendaraan.
5. M (Manual)
Memungkinkan pengemudi memilih gigi secara manual, biasanya melalui tuas atau paddle shift di setir.
6. S (Sport)
Mode sport memberikan akselerasi lebih agresif. Transmisi menahan gigi lebih lama agar mobil lebih bertenaga.
7. L atau 1–2–3 (Low Gear)
Gigi rendah digunakan saat melewati tanjakan, turunan curam, atau kondisi yang membutuhkan kontrol lebih stabil.
8. + dan –
Umumnya terdapat pada mode manual. Tanda + untuk menaikkan gigi dan – untuk menurunkannya.
Memahami fungsi tiap mode transmisi sangat membantu pengemudi mengatur laju kendaraan dengan benar. Kesalahan memilih mode saat berkendara dapat menimbulkan risiko di jalan.
Posisi dasar seperti P, R, N, dan D menjadi hal pertama yang wajib dipahami setiap pemula.(*)
Pemain tim Citramas U15 merayakan kemenangan di final setelah mengalahkan Kemuning Lion di turnamen Citramas Cup 8 2025. F. Citramas untuk Batam Pos.
batampos – Turnamen sepak bola usia dini Citramas Cup ke-8 resmi dimulai di Stadion Citramas, Kabil, Batam, Minggu (23/11). Sebanyak 68 tim Sekolah Sepak Bola (SSB) meramaikan turnamen tahunan ini, termasuk peserta dari Malaysia dan Singapura.
Direktur Utama Citramas Grup, Mike Wiluan, mengatakan penyelenggaraan Citramas Cup merupakan upaya membuka ruang bagi pemain muda untuk menambah jam terbang dan pengalaman bertanding.
“Kita menggelar ajang ini supaya adik-adik punya pengalaman bertanding, baik dari Malaysia, Singapura, dan sekitar Kepri,” kata Mike.
Ia menegaskan pentingnya konsistensi agar turnamen ini terus dilirik negara-negara lain di luar kawasan Sijori (Singapura, Johor, Riau).
“Kalau konsisten, Citramas Cup ini akan membuat negara lain ikut bergabung dengan sendirinya,” ujarnya.
Setelah melalui persaingan intens, para juara di tiap kelompok usia diumumkan. Blue Eagle berhasil menjadi juara kategori U-9, disusul Tanggo (U-10), Karimun Junior (U-11), dan Citramas (U-12).
Lebih dari sekadar memperebutkan piala dan total hadiah Rp77 juta, Mike menegaskan Citramas Grup turut menyiapkan fasilitas terbaik untuk mendukung pembinaan atlet muda.
“Dari Citramas Grup, yang penting bukan hanya piala. Kami mempersiapkan fasilitas yang menjadi basis untuk pertandingan, dan sharing dengan tim lainnya,” ujarnya.
Mike juga mendorong para pemain muda untuk tetap fokus dan tidak mudah berpindah-pindah klub, terutama bagi mereka yang memiliki potensi besar. Citramas Grup, kata dia, telah menyiapkan jalur seleksi berkelanjutan untuk pengembangan atlet Kepri.
Di sisi lain, Mike berharap Pemko Batam dan Pemprov Kepri turut mendorong perkembangan sepak bola daerah dengan membentuk klub profesional.
“Hanya Kepri saja yang tidak ada klub sepak bola yang bermain di Liga 1 Indonesia,” tegasnya.
Dengan jumlah peserta yang terus meningkat dan hadirnya tim dari tiga negara, Citramas Cup kini dianggap sebagai salah satu barometer perkembangan sepak bola usia dini di kawasan Sijori, menandai kebangkitan sepak bola muda pascapandemi. (*)
Kasi Pidum Kejari Anambas, Erwin Napitupulu. F. Ihsan Imaduddin/Batam Pos.
batampos – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepulauan Anambas menyatakan hingga Senin (24/11) belum menerima berkas perkara tahap satu terkait kasus penyalahgunaan narkoba yang menjerat Camat Siantan Tengah nonaktif, Afrizal, serta dua pemasoknya, Pendi dan Darman.
Dalam kasus ini, polisi menyita sabu seberat total 1,31 gram dari tangan dua tersangka, yakni Afrizal dan Pendi. Temuan itu menjadi dasar penetapan ketiganya sebagai tersangka.
Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Anambas, Erwin Napitupulu, mengatakan pihaknya masih menunggu berkas lengkap dari penyidik untuk diteliti sebelum dilimpahkan ke tahap selanjutnya.
“Sampai sekarang kami belum terima berkas tahap satu dari penyidik kepolisian kasus Camat Siantan Tengah dengan dua orang rekannya,” ujar Erwin di ruang kerjanya.
Meski berkas belum diterima, Kejari sudah mengantongi tiga Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) sebagai tanda resmi bahwa perkara sedang ditangani penyidik. Selain itu, kejaksaan juga menerima surat perpanjangan masa penahanan ketiga tersangka dari 20 hari menjadi 40 hari.
“Bahkan kita juga terima surat pemberitahuan perpanjangan masa tahanan 3 tersangka, semulanya 20 hari, diperpanjang hingga 40 hari ke depan,” jelasnya.
Terkait kemungkinan pengajuan rehabilitasi untuk Afrizal yang kedapatan memiliki sabu hanya 0,23 gram, Erwin menegaskan hingga kini belum ada koordinasi dari penyidik.
“Belum ada usulan rehab. Kalau rehab, tentu penyidik kepolisian koordinasi dengan jaksa. Tak bisa main sendiri memutuskan,” tegasnya.
Ia menambahkan, permohonan rehabilitasi tidak bisa serta-merta diberikan karena harus mempertimbangkan peran tersangka dalam peredaran narkoba, termasuk apakah yang bersangkutan hanya pengguna atau ikut mengedarkan.
“Dalam aturan rehab, harus dilihat betul apakah dia pemakai aktif ataupun ikut mengedarkan juga,” ujarnya.
Selain itu, riwayat hukum tersangka turut menjadi pertimbangan. “Dilihat juga apa dia pernah residivis. Rehab ada aturannya juga,” lanjut Erwin.
Diketahui, Afrizal ditangkap pada Jumat (7/11) pukul 23.23 WIB di kantor Camat Siantan Tengah, Desa Air Asuk. Ia kedapatan tengah menggunakan sabu di ruang kerjanya. Dalam pemeriksaan, ia mengaku empat kali memakai sabu di kantor camat sepanjang tahun 2025.
Sementara pemasok sabu, Pendi, ditangkap di sebuah rumah di Air Asuk dengan barang bukti 1,08 gram sabu. Ia mengaku mendapatkan barang tersebut dari Darman, warga Desa Munjan.
Kasus ini masih dalam proses penyidikan. Kejari Anambas menunggu kelengkapan berkas perkara untuk melangkah ke tahap selanjutnya. (*)
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh saat berkunjung ke Tanjungpinang, Senin (24/11). F. Mohamad Ismail/Batam Pos.
batampos – Komisi IX DPR RI menyoroti minimnya jumlah pengawas tenaga kerja khusus di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Kondisi ini dinilai rentan memicu pelanggaran perusahaan terhadap hak-hak pekerja.
Saat berkunjung ke Gedung Daerah Kota Tanjungpinang, Senin (24/11), Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, mengungkapkan bahwa Kepri hanya memiliki 40 pengawas tenaga kerja khusus dari kebutuhan ideal 100 orang.
“Di sini kekurangan pengawas cukup banyak. Kebutuhannya 100 orang, tapi baru tersedia 40 pengawas saja,” kata Nihayatul.
Ia menegaskan keberadaan pengawas tenaga kerja sangat krusial untuk memastikan perusahaan menjalankan kewajibannya, mulai dari keselamatan kerja hingga pemenuhan hak pekerja.
Kepri sebagai wilayah kepulauan disebut memiliki tantangan tersendiri dalam pengawasan tenaga kerja karena akses dan jarak antarwilayah yang tidak mudah. Nihayatul menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Kemenpan RB untuk mencari solusi.
“Kita minta Kemenpan RB memprioritaskan Kepri untuk pelatihan pengawas tenaga kerja. Masih kurang sekitar 60 orang lagi,” tegasnya.
Ia juga menyoroti praktik pemindahan ASN yang sudah diangkat sebagai pengawas tenaga kerja ke dinas lain. Menurutnya, kebijakan itu justru mengurangi kapasitas pengawasan.
“Ini kebutuhan penting bagi pekerja. Jangan sampai ada lagi K3 yang diabaikan,” tambahnya.
Kepala Disnakertrans Kepri, Diky Wijaya, mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan terkait penempatan pengawas tenaga kerja khusus di Kepri.
“Kita sifatnya mengajukan. Ketika disetujui, nanti Gubernur akan merotasi siapa saja yang menjadi pengawas tenaga kerja,” ujarnya. (*)
Pengiriman perdana 24 ton Cocopeat blok dan Cocopeat curah hasil produksi dari sentra IKM Kelapa Kabupaten Lingga, Senin (24/11). F. Vatawari/Batam Pos.
batampos – Sebanyak 24 ton cocopeat blok dan cocopeat curah produksi Sentra IKM Kelapa Kabupaten Lingga diberangkatkan menuju Batam sebagai pengiriman perdana sebelum diekspor ke Tiongkok. Produk ini dikelola Koperasi Produksi Cahaya Selingsing Mandiri.
Plt Kadisperindagkop UKM Lingga, Febrizal Taupik, mengatakan pengiriman perdana ini menjadi capaian penting bagi Sentra IKM Kelapa sejak berdiri.
“Ini bukti kerja keras seluruh pengelola dan pelaku industri kecil menengah di daerah,” kata Taupik, Senin (24/11).
Selain mendorong ekspor, sentra IKM tersebut juga membuka lapangan pekerjaan baru. Saat ini, 34 pekerja yang seluruhnya warga lokal terlibat dalam proses produksi cocopeat.
Aktivitas industri ini turut menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat. Limbah sabut kelapa yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini dapat dijual warga ke sentra IKM dengan harga Rp200 per butir.
“Dalam satu panen, satu pohon kelapa menghasilkan 15 sampai 20 butir. Sesuatu yang dulu dianggap sampah ternyata bisa menjadi sumber ekonomi masyarakat,” ujar Febrizal.
Ia berharap sentra IKM terus berkembang dan mampu menghasilkan beragam produk turunan lainnya seperti cocopeat, cocofiber, VCO, hingga briket yang memiliki nilai jual tinggi. (*)
Tumpukan sampah di tepi Jalan Pemuda Batam Kota, Minggu (16/11). Saat ini warga Citra Batam mengeluhkan sampah di perumahan mereka tak diangkut. F. Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos – Permasalahan sampah di Kota Batam sepenuhnya belum benar-benar selesai. Warga Perumahan Citra Batam, Kecamatan Batam Kota, mengeluhkan tumpukan sampah yang tidak pernah diangkut selama tiga pekan terakhir.
Di kompleks yang berisi sekitar 500 kepala keluarga (KK) itu, tidak ada satu pun titik yang tersentuh armada pengangkut sampah. Kondisi ini membuat warga kebingungan harus membuang sampah ke mana, sementara sampah berserakan di depan rumah warga dan menimbulkan bau menyengat.
Niken, salah seorang warga, membenarkan bahwa sudah tiga minggu tidak ada petugas kebersihan yang datang. “Sudah tiga minggu tidak diangkut,” kata Niken saat dihubungi Batam Pos, Senin (24/11) siang.
Ia menyebut telah menghubungi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam untuk meminta kejelasan. Pihak DLH, kata Niken, menyampaikan bahwa pengangkutan terhambat karena banyak armada pengangkut yang mengalami kerusakan.
“Saya sudah hubungi DLH, mereka bilang armadanya banyak yang rusak, jadi itu kendalanya sampah tidak diangkut,” ujarnya.
Meski begitu, Niken mengaku tidak mendapat kepastian kapan layanan pengangkutan sampah di wilayahnya akan kembali normal. “Itu dia, saya juga tidak tahu kapan mau diangkut,” tambahnya.
Batam Pos kemudian mencoba mengonfirmasi hal tersebut ke DLH melalui sambungan telepon WhatsApp. Seorang pegawai yang merespons mengakui hal serupa. “Kendala kita sekarang ada di armada, sehingga sampah tidak diangkut,” katanya.
Namun ketika ditanya lebih jauh mengenai jumlah armada per kecamatan dan langkah penanganan selanjutnya, pegawai tersebut menolak memberikan informasi detail dan mengarahkan agar wawancara dilakukan langsung kepada Kepala Bidang DLH. “Ke Kabid DLH saja. Tak boleh wawancara lewat telepon kalau mau dinaikkan beritanya,” tegasnya
Saat Batam Pos meminta identitasnya untuk kebutuhan verifikasi, pegawai tersebut langsung memutus sambungan telepon. (*)
batampos – Setiap 25 November, Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Momentum ini menjadi bentuk penghargaan bagi guru yang selama ini dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, sosok yang setiap hari mendidik, membimbing, dan meletakkan pondasi penting dalam dunia pendidikan.
Peringatan Hari Guru Nasional menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa sangat bergantung pada peran guru dalam mencerdaskan generasi muda.
Sejarah Hari Guru Nasional
Cikal bakal Hari Guru Nasional bermula dari penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia di Surakarta pada 24–25 November 1945. Kongres ini melahirkan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sebagai organisasi resmi guru di Indonesia.
Sebelumnya, organisasi guru telah berdiri sejak tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Anggotanya terdiri dari kepala sekolah, guru bantu, guru desa, hingga perangkat sekolah.
Pemerintah kemudian menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1994. Pada tahun yang sama, terbit Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 yang mengukuhkan hari lahir PGRI sebagai Hari Guru Nasional.
Sejak itu, tanggal 25 November diperingati sebagai hari nasional untuk menghormati jasa para pendidik di seluruh Indonesia.
Makna Hari Guru Nasional
Hari Guru Nasional menegaskan bahwa kemajuan bangsa sangat berkaitan dengan kualitas dan dedikasi guru. Momentum ini menjadi bentuk apresiasi atas pengorbanan guru dalam mempersiapkan pembelajaran, membimbing murid, dan memberikan dukungan emosional di kelas.
Peringatan juga menjadi ajang refleksi bagi guru untuk terus meningkatkan kompetensi dan profesionalisme sejalan dengan perkembangan pendidikan.
Tahun ini, tema Hari Guru Nasional adalah “Guru Hebat, Indonesia Kuat”, yang menekankan pentingnya peran guru dalam membangun pendidikan yang maju dan inklusif.
Biasanya, peringatan dilakukan di sekolah melalui upacara hingga kegiatan apresiasi bagi guru. Hari Guru Nasional menjadi momen untuk kembali menegaskan bahwa kualitas pendidikan dimulai dari peran guru yang berdedikasi.
Hari ini pun menjadi momentum refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Indonesia.(*)
Replika Patagotitan Mayarum, dinosaurus terbesar yang pernah ditemukan manusia di Argentina, kini hadir di Science Centre Singapura. F. Ratna Irtatik/Batam Pos.
batampos – Lorong temaram bermotif batuan langsung menangkap perhatian begitu pengunjung melangkah memasuki salah satu sudut wahana di Science Centre Singapura, Selasa (18/11/2025) lalu.
Cahaya redup mengalir di sepanjang dinding kecoklatan yang menggambarkan alur waktu, seolah membawa siapa pun kembali ke masa ratusan juta tahun lalu, ketika bumi masih berupa lautan luas dengan organisme sederhana yang mengambang di dalamnya. Suasana itu menjadi pengantar yang halus, mengingatkan bahwa kehidupan besar selalu berawal dari yang amat kecil.
Di ujung lorong sejarah tersebut, terbentang ruang utama pameran bertajuk DINOSAURS | EXTINCTIONS | US, hasil kolaborasi Science Centre Singapura dengan Lee Kong Chian Natural History Museum dan Faculty of Science, National University of Singapore (NUS), Singapura.
Berada di area seluas 3.000 meter persegi, pameran ini merangkum dua ekshibisi internasional: Dinosaurs of Patagonia dari Museo Paleontológico Egidio Feruglio, Argentina, dan Six Extinctions dari Gondwana Studios, Australia. Semua tersaji untuk memperlihatkan bagaimana kehidupan berevolusi, bertahan, dan pada akhirnya menghadapi kepunahan massal.
Begitu memasuki ruangan, satu sosok langsung menguasai pandangan: Patagotitan Mayorum, dinosaurus sepanjang 40 meter dengan bobot diperkirakan 57 ton. Replika raksasa ini berdiri megah dengan leher menjulang hingga hampir menyentuh atap.
Berada di bawah bayangannya menghadirkan sensasi seakan tengah berdiri di tanah purba Patagonia, mendengar dentuman langkah makhluk terbesar yang pernah berjalan di muka bumi.
Fosil Patagotitan yang ditemukan tahun 2014 inilah yang membuka kembali jendela pengetahuan tentang raksasa sejati dari Argentina.
“Setiap fosil menyimpan kisah penemuan dan ketekunan. Melalui Dinosaurs of Patagonia, kami ingin mengajak dunia melihat bagaimana sains menghubungkan kita dengan masa lalu—dan dengan planet yang kita tinggali,” ujar Dr. Rubén Cúneo, Direktur Museo Paleontológico Egidio Feruglio.
Beberapa langkah dari sang raksasa herbivora, tampak sosok predator legendaris Tyrannosaurus Rex atau yang kemudian dijuluki “Scotty”. Replika sepanjang 13 meter itu seolah hidup kembali dengan rahang menganga dan reputasinya sebagai pemburu paling ditakuti di era Kretaseus.
Kontras dua makhluk purba ini, raksasa pemakan tumbuhan dan predator penghancur tulang, menggambarkan dinamika kehidupan yang pada akhirnya tunduk pada kekuatan alam: kepunahan massal.
Perjalanan pengunjung kemudian diarahkan ke masa kini. Kurasi dari Lee Kong Chian Natural History Museum menghadirkan kisah pelatuk raksasa great slaty woodpecker, burung yang pernah hidup di Singapura namun lenyap akibat hilangnya pepohonan tua tempat ia bersarang.
Kini, jika terlihat sekalipun, para ahli meyakini itu hanyalah pengembara dari Malaysia. Narasi ini menohok, bahwa kepunahan bukan hanya cerita purba, melainkan kenyataan yang berlangsung di sekitar kita.
“Dengan menyoroti spesies yang hilang dan tantangan keanekaragaman hayati hari ini, kami ingin mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari penyebab sekaligus bagian dari solusi,” kata Daniel Tan, Senior Project & Exhibitions Division Science Centre Singapura.
Ia menambahkan, pameran ini sangat tepat bagi keluarga dan pelajar, terlebih berlangsung pada periode libur akhir tahun. Selain memuat informasi ilmiah yang mendalam, seluruh instalasi dirancang agar edukatif sekaligus menyenangkan.
Pengalaman pengunjung dirancang interaktif. Ada Test Your Strength yang menantang pengunjung mengadu kekuatan dengan para raksasa, Imagine Dinosaurs yang memungkinkan menambahkan otot dan warna pada kerangka dinosaurus, serta Digital Fossil Dig, permainan menggali fosil digital berbasis waktu. Di sudut lain, pengunjung bisa mengumpulkan cap dari stamping stations untuk mengungkap ilustrasi prasejarah yang menarik.
Menurut Ms Tham Mun See, Chief Executive Science Centre Board, pesan utama pameran ini adalah kesadaran akan nilai kehidupan.
“Melalui fosil-fosil menakjubkan dan pengalaman imersif, kami ingin membangkitkan rasa ingin tahu sekaligus mendorong tindakan nyata menghadapi krisis keanekaragaman hayati saat ini,” ujarnya.
Pameran DINOSAURS | EXTINCTIONS | US telah dibuka sejak 11 Oktober 2025 di Annexe, Science Centre Singapura, dan berlangsung hingga awal tahun depan. Tiket reguler mulai dari 39.90 dolar Singapura (sekitar Rp508 ribu) untuk dewasa, dan 35.90 dolar Singapura (sekitar Rp457 ribu) untuk anak-anak.
Lanjutkan ke Dunia Salju: Pengalaman Musim Dingin di Snow City
Masih di dalam kawasan Science Centre, pengalaman musim dingin menanti di Snow City. Suhu dingin dan hamparan salju asli, bukan buatan dari busa sabun, menghadirkan sensasi seolah berada di negeri empat musim. Anak-anak dapat membuat snowman dengan tambahan 10 dolar Singapura untuk mendapatkan perlatan lengkapnya.
Di lantai dua, Kampung Natal atau A Little Christmas Village menampilkan dekorasi bergaya Eropa yang hangat. Sementara itu, pecinta adrenalin bisa mencoba Giant Luge, wahana seluncur es permanen dengan suhu mencapai minus 8 derajat celcius.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman musim dingin bagi keluarga yang belum sempat berlibur ke negara bersalju,” ujar Norazani Shaiddin, General Manager Snow City.
Pemahat es membuat dekorasi menyambut libur Natal dan Tahun Baru 2026 di Snow City Singapura. F. Ratna Irtatik/Batam Pos.
Selama periode 1–31 Desember, wisatawan pemegang paspor Indonesia mendapat diskon 30 persen untuk pembelian hingga lima tiket dalam satu keluarga.
Pada 25 Desember, suasana semakin meriah dengan Christmas Carol dan acara spesial meet and greet Santa Claus dari Rusia, menghadirkan karakter Natal yang lebih autentik dan berbeda dari biasanya.
“Kami juga tetap menampilkan koleksi patung es warna-warni bagi pengunjung yang ingin berfoto,” tambah Norazani.
Dari raksasa zaman purba hingga butiran salju yang lembut, kawasan ini menawarkan dua pengalaman sekaligus, edukasi mendalam dan hiburan keluarga yang menyenangkan. Liburan akhir tahun pun terasa lengkap. (*)
batampos-Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengajak masyarakat menjaga kondusivitas di tengah keberagaman sebagai upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam mendukung pembangunan Kota Batam. Ia menegaskan bahwa Batam merupakan kota dengan pluralitas tinggi dan masyarakat yang multikultural.
Hal itu disampaikan Amsakar saat menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun ke-10 Forum Komunikasi Warga Perantauan se-Jawa Timur (Forkom se-Jatim), yang dirangkaikan dengan Peringatan Hari Pahlawan Nasional di Paguba Buana Central Park, Tembesi, Sagulung, Batam, Minggu (23/11/2025).
“Atas nama pribadi saya dan Ibu Li Claudia Chandra, serta atas nama Pemerintah Kota dan BP Batam, saya mengucapkan selamat hari lahir ke-10 untuk Forkom se-Jatim,” ujar Amsakar.
Dalam sambutannya, Amsakar memaparkan bahwa data statistik menunjukkan komposisi komunitas masyarakat Batam relatif seimbang satu sama lain. Komunitas Melayu tercatat 17,61 persen, Batak 14,97 persen, Minangkabau 14,93 persen, Tionghoa 6,28 persen, serta beragam etnis lain dengan jumlah yang tidak terpaut jauh.
Menurutnya, keberagaman tersebut menjadikan Batam layak disebut sebagai miniatur Indonesia. Karena itu, seluruh warga memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga keharmonisan dan kebinekaan.
“Yang dibutuhkan di Batam adalah tumbuhnya rasa berkita, kesadaran kolektif bahwa Batam ini rumah kita bersama. Kitalah yang akan menjaga dan merawatnya. Kebersamaan ini harus terus dijaga, dirawat, dan dikembangkan,” ujarnya.
Amsakar menekankan bahwa peringatan hari lahir organisasi bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk merefleksikan perjalanan masa lalu dan capaian saat ini, guna menetapkan langkah yang lebih baik di masa depan.
“Substansi ulang tahun bukan hura-hura. Ulang tahun adalah refleksi terhadap tiga dimensi waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Saya berharap perjalanan Forkom se-Jatim terus tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Amsakar juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Batam saat ini tengah fokus menyelesaikan persoalan sampah dan air bersih. Ia mengajak seluruh tokoh Forkom se-Jatim berperan aktif mendukung upaya tersebut melalui aksi nyata di lingkungan masing-masing.
“Mudah-mudahan Forkom se-Jatim dapat mengambil bagian dalam upaya bersama meminimalkan persoalan sampah di Kota Batam yang kita cintai ini,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Umum Forkom se-Jatim, Imam Thohari, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus bersinergi dan berkolaborasi dalam mendukung kebijakan serta program kerja Pemerintah Kota dan BP Batam.
“Forkom se-Jatim siap mendukung penuh program Wali Kota Batam dan Wakil Wali Kota Batam, Amsakar–Li Claudia,” katanya. (*)
batampos-Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengajak masyarakat menjaga kondusivitas di tengah keberagaman sebagai upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam mendukung pembangunan Kota Batam. Ia menegaskan bahwa Batam merupakan kota dengan pluralitas tinggi dan masyarakat yang multikultural.
Hal itu disampaikan Amsakar saat menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun ke-10 Forum Komunikasi Warga Perantauan se-Jawa Timur (Forkom se-Jatim), yang dirangkaikan dengan Peringatan Hari Pahlawan Nasional di Paguba Buana Central Park, Tembesi, Sagulung, Batam, Minggu (23/11/2025).
“Atas nama pribadi saya dan Ibu Li Claudia Chandra, serta atas nama Pemerintah Kota dan BP Batam, saya mengucapkan selamat hari lahir ke-10 untuk Forkom se-Jatim,” ujar Amsakar.
Dalam sambutannya, Amsakar memaparkan bahwa data statistik menunjukkan komposisi komunitas masyarakat Batam relatif seimbang satu sama lain. Komunitas Melayu tercatat 17,61 persen, Batak 14,97 persen, Minangkabau 14,93 persen, Tionghoa 6,28 persen, serta beragam etnis lain dengan jumlah yang tidak terpaut jauh.
Menurutnya, keberagaman tersebut menjadikan Batam layak disebut sebagai miniatur Indonesia. Karena itu, seluruh warga memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga keharmonisan dan kebinekaan.
“Yang dibutuhkan di Batam adalah tumbuhnya rasa berkita, kesadaran kolektif bahwa Batam ini rumah kita bersama. Kitalah yang akan menjaga dan merawatnya. Kebersamaan ini harus terus dijaga, dirawat, dan dikembangkan,” ujarnya.
Amsakar menekankan bahwa peringatan hari lahir organisasi bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk merefleksikan perjalanan masa lalu dan capaian saat ini, guna menetapkan langkah yang lebih baik di masa depan.
“Substansi ulang tahun bukan hura-hura. Ulang tahun adalah refleksi terhadap tiga dimensi waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Saya berharap perjalanan Forkom se-Jatim terus tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Amsakar juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Batam saat ini tengah fokus menyelesaikan persoalan sampah dan air bersih. Ia mengajak seluruh tokoh Forkom se-Jatim berperan aktif mendukung upaya tersebut melalui aksi nyata di lingkungan masing-masing.
“Mudah-mudahan Forkom se-Jatim dapat mengambil bagian dalam upaya bersama meminimalkan persoalan sampah di Kota Batam yang kita cintai ini,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Umum Forkom se-Jatim, Imam Thohari, menegaskan komitmen pihaknya untuk terus bersinergi dan berkolaborasi dalam mendukung kebijakan serta program kerja Pemerintah Kota dan BP Batam.
“Forkom se-Jatim siap mendukung penuh program Wali Kota Batam dan Wakil Wali Kota Batam, Amsakar–Li Claudia,” katanya. (*)