
batampos – Tokoh-tokoh yang muncul saat ini banyak digadang-gadang bakal bertarung dalam Pilpres 2024. Hanya saja tokoh-tokoh tersebut sudah sering dan pernah muncul sejak lima tahun terakhir.
Kehadiran para tokoh dianggap memicu kejenuhan publik dalam menentukan sikap pada Pilpres 2024 mendatang. Menurut, Koordinator Komite Pemilih (Tepi Indonesia) Jeirry Sumampow, masyarakat sudah mengenal figur-figur yang digadang-gadang sebagai calon presiden pada Pemilu 2024. Termasuk dengan figur yang memiliki elektabilitas tinggi dari hasil sejumlah survei. Tokoh tersebut sama seperti yang terjadi pada Pemilu 2019 lalu dan tidak ada perbedaan signifikan.
“Itu tentu memperlihatkan ada kebosanan publik. Problemnya, media terlalu mempopulerkan nama tokoh. Publik seolah-olah tak punya pilihan lain. Membuat figur-figur ini populer, dan populernya ini berpengaruh pada elektabilitasnya,” ujar Jeirry Sumampow.
Pendapat Jeirry itu diungkap dalam diskusi publik diselenggarakan oleh TEPI Indonesia di Jakarta (6/9). Diskusi tersebut bertemakan “Capres Alternatif: Menuju Subtansialitas Pilpres 2024”.
Jeirry menyebut, figur atau nama-nama capres yang lalu-lalang sekarang ini kerap berlatar kepala daerah, militer, atau kader partai. “Orang-orang yang tampil sekarang memang orang-orang yang memegang jabatan publik. Ada yang juga sengaja di-branding untuk maju sebagai calon presiden,” tegasnya.
Pembicara lain, Direktur Eksekutif Lembaga Riset dan Konsultasi Publik Algoritma Aditya Perdana mengatakan, masyarakat sejatinya tak sepenuhnya yakin dengan calon presiden yang populer saat ini. Berdasar survei yang dilakukan Algoritma, kata Aditya, meskipun beberapa bakal capres tersebut memiliki kesukaan dan elektabilitas tinggi, masyarakat belum yakin para bakal calon presiden Indonesia itu mampu mengatasi persoalan bangsa dan negara yang saat ini tengah dihadapi.
“Di situlah kami punya keyakinan bahwa masih ada peluang bagi para capres lain yang sebenernya mau mengatasi problem yang kita hadapi, seperti polarisasi masyarakat, pemberantasan korupsi, hukum, pemulihan ekonomi, kalau itu semua bisa dipenuhi, curilah ruang itu,” kata Aditya.
Menurut dia, masih ada ruang bagi para capres alternatif untuk muncul dan mengambil peran dan menjawab kegelisahan responden di atas serta peluang mengkapitalisasi kemampuan dan kapasitasnya sebagai capres.
“Maka saya berpikir seharusnya para capres alternatif ini perlu membuat skenario yang komprehensif dan sistematis untuk menantang calon yang ada sehingga dampaknya dapat dimonitor dengan baik. Tentu tantangannya tidak mudah, tapi perlu ada gerakan perlawanan,” terangnya.
Peneliti Formappi Lucius Karus menyebut, sudah sewajarnya publik merasa jenuh lantaran dominasi capres masih dipegang oleh nama-nama besar. Figur itu selama ini aktif berkeliling menjajakan diri untuk menaikkan elektabilitasnya.
“Belum lepas dari sini, banyak muncul figur lain, tapi sejauh ini tidak ada kenaikan signifikan dalam tingkat elektabilitas mereka menurut potret dalam survey,” papar Lucius. (*)
Reporter: JP Group









