Jumat, 8 Mei 2026
Beranda blog Halaman 10556

Jual Tembakau Sintesis Mengandung Ganja, Dua Mahasiswa Ditangkap

0

batampos.co.id – Polres Metro Jakarta Selatan membongkar sindikat pengedar ganja sintesis mengandung ganja. Dalam kasus ini, petugas mengamankan dua orang mahasiswa MH, 20, dan MU, 21, serta dua orang lainnya Z, 28, dan TI, 34. Keempatnya diketahui berperan sebagai pengedar.

Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Budi Sartono mengatakan, tersangka Z dan TI ditangkap di kawasan Cipete, Cilandak, Jakarta Selatan pada Kamis (5/3). Dari mereka, polisi menemukan barang bukti berupa sabu sebanyak 21, 6 gram sabu.

Berdasarkan keterangan mereka, petugas kemudian melakukan pengejaran kdpada MH dan MU. “Untuk dua mahasiswa, saat dilakukan penggeledahan di kos-kosannya (di Cilandak), Jakarta Selatan ditemukan barang bukti sebanyak 62 bungkus klip tembakau sintesis dengan berat 820 gram,” kata Budi kepada wartawan, Selasa (9/3).

Berdasarkan hasil Laboratorium Forensik Polri, tembau sintesis itu dipastikan mengandung ganja. “Pengakuannya, awalnya mereka ngutang untuk beli bahannya, lalu meracik sendiri dan menjualnya ke sosial media Instagram,” jelasnya.

Budi menyampaikan, mulanya kedua mahasiswa ini hanya coba-coba menjual tembakau sintesis. Namun, karena mendapat untung yang menggiurkan, mereka pun melanjutkan bisnis haramnya tersebut.

“Mereka belajar meracik tembakau sintetis itu secara otodidak dari internet. Harga tembakau sintesis yang mereka jual bervariasi, per 100 gram mereka jual Rp 2 juta, per 200 gram Rp 4 juta, dan 500 gram Rp 7 juta,” terangnya.

Untuk mengelabui polisi, para pelaku menjual tembakau sintesis ini di media sosial dengan nama tembakau biasa. Sistem pengirimannya, pelaku akan meletakan barang ini di lokasi tertentu yang sudah disepakat dengan pembeli. Nantinya pembeli akan langsung mengambil barang tersebut.

Keduanya, mengaku sudah menjalankan bisnis ilegal itu selama 3 bulan. “Jadi bisa dibilang kosannya itu digunakan sebagai mini home industry tembakau sintesis. Saat ini masih kami dalami kembali penyedia bahan mentahnya itu karena dia kan membelinya dari Instagram juga,” pungkas Budi.

Para tersangka kini langsung ditahan di Polres Jakarta Selatan. Mereka dijerat Pasal 113 ayat (2) subsider Pasal 114 Ayat (2) subsider Pasal 112 Ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) Undang – Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.(jpg)

Nurdin Basirun Kembali Dicecar Soal Suap dan Gratifikasi Jabatan

0

batampos.co.id – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengejar pengakuan Gubernur Kepri nonaktif, Nurdin Basirun, tentang perkara suap izin pemanfaatan ruang laut dan gratifikasi jabatan. Jaksa mencecar Nurdin dengan puluhan pertanyaan pada sidang lanjutan dengan agenda pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Senin (9/3).

Dalam sidang yang dipimpin langsung Ketua Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Yanto, JPU KPK yang digawangi Muhammad Asri Irawan dan kawan-kawan melayangkan puluhan pertanyaan kepada terdakwa Nurdin merujuk hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) beberapa waktu lalu.

JPU KPK, Roy Riadi, membuka jalannya sidang dengan pertanyaan; apakah terdakwa mengenal Edy Sofyan dan Budy Hartono dan pernah membahas tentang izin prinsip bersama Edy Sofyan?

Nurdin menyatakan mengenal Edy Sofyan, namun untuk Budy Hartono dirinya tidak kenal sama sekali.

“Tidak terlalu sering membahas tentang izin pemanfaatan ruang laut. Saya hanya meminta penjelasan tentang aturan main dalam hal penerbitan izin sesuai dengan aturan yang ada. Selain itu mendiskusikan apakah saya sebagai gubernur boleh mengeluarkan izin prinsip tentang pemanfaatan ruang laut,” ujar Nurdin, menjawab pertanyaan JPU.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah benar dirinya mengeluarkan izin prinsip atas nama Abu Bakar dan Kock Meng di kawasan Tanjungpiayu, Batam.

Mengenai hal itu, Nurdin mengaku ada menandatangani izin prinsip tersebut. Namun, dirinya tidak kenal dengan yang namanya Abu Bakar dan Kock Meng. “Apakah izin prinsip tersebut secara individu atau korporasi saya lupa,” jelas Nurdin.

JPU juga mempertanyakan apakah ada atau tidak dirinya menerima sejumlah uang dari Abu Bakar dan Kock Meng sebelum mengeluarkan izin prinsip tersebut? Terkait hal itu, mantan Bupati Karimun tersebut juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menerima uang dari kedua nama tersebut.

Lalu, mengenai pertemuan dirinya dengan Edy Sofyan di Hotel Harmoni, Batam, dan adanya pengakuan Edy yang menyerahkan uang sebanyak 5.000 dolar Singapura. “Memang ada pertemuan dengan Edy Sofyan di Hotel Harmoni, Batam. Namun, saya tidak ada menerima uang tersebut dari Edy Sofyan,” tegas Nurdin.

Jaksa juga melontarkan pertanyaan yang sama, terkait 56 izin prinsip yang sudah diterbitkannya selama men-
jadi Gubernur Kepri, apakah penerbitan izin tersebut sebagai Gubernur dirinya ada menerima uang. Kemudian penerbitan izin prinsip tersebut apakah sudah sesuai dengan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 31 Tahun 2018 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).

Nurdin menjelaskan, dirinya memiliki kewenangan penerbitan izin prinsip, meskipun hal itu tidak diatur dalam Pergub Nomor 31 Tahun 2018. Disebutkannya, sebelum menerbitkan izin prinsip tersebut, ia sudah meminta penjelasan ke Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Edy Sofyan, dan Asisten II Pemprov Kepri (Syamsul Bahrum, red).

“Saya menanyakan kepada mereka (Edy Sofyan dan Syamsul Bahrum, red) izin prinsip boleh dikeluarkan oleh gubernur. Karena itu bukan izin operasional, tentu gubernur selaku kepala dae rah punya kewenangan. Apalagi kepentingan pembangunan daerah dan investasi,” jelasnya lagi.

Sementara itu, Penasehat Hukum Nurdin, Andi Muhammad Asrun, mengatakan, berkaitan sidang pemeriksaan Nurdin sebagai terdakwa di PN Jakarta Pusat, pihaknya menilai Nurdin telah memberikan keterangan yang sesungguhnya. Keterangan Nurdin akan diperkuat dengan bukti-bukti dokumen yang akan disampaikan dalam sidang pembelaan (Pledoi) setelah sidang tuntutan pada 18 Maret 2020. Pledoi yang akan disampaikan pengacara Nurdin akan membuktikan ketidakbenaran dakwaan JPU. (jpg)

Ketahuan Mencuri, Pria Ini Sandera Pengendara Wanita

0

batampos.co.id – Warga Bengkong Kolam, Jeki Saputra, babak belur dihajar massa di kawasan Regata, Batam Center, Senin (9/3/2020) sekitar pukul 09.30 WIB.

Pria 35 tahun ini tertangkap usai mencuri ponsel milik Andriani, pemilik warung kopi di Jalan Laksamana Bintan atau tepatnya di sekitar Simpang Gelael, Batam Kota.

Tak hanya mencuri ponsel, Jeki yang kepergok ketika mencuri, langsung kabur berlari menuju jalan raya, tepatnya ke arah lampu lalu lintas di Simpang Gelael.

Di tangannya, tergenggam sebilah pisau yang ia dapatkan dari warung kopi tersebut.

Kemudian, ia nekat menyandera seorang wanita pengendara sepeda motor bernama Maria, yang sebelumnya berhenti di simpang itu karena lampu lalu lalu lintas menyala merah.

“Awalnya memang saya dengar ada orang teriak maling. Orang itu (pelaku) mendekati saya dan menodong pisau ke leher,” ujar Maria di Mapolsek Batam Kota.

Jeki Saputra saat digiring polisi usai dihajar massa karena mencuri ponsel dan menyandera
pengendara, kemarin. Foto: batampos.co.id/Iman Wachyudi

Maria menjelaskan, usai ditodong, pelaku memaksanya menjalankan sepeda motor menuju kawasan Regata, Batam Center.

Namun, sepeda motor yang dikendarai mereka berdua juga dikejar warga lainnya. Mereka akhirnya diadang belasan orang di Simpang Regata.

“Saya yang bawa motor, tapi dia (pelaku) yang ngegas. Banyak warga yang mengejar, kemudian diadang baru berhenti,” katanya.

Maria mengaku, sebelum ditodong pelaku, ia mengendarai sepeda motor Honda Beat BP 2849 CQ dari rumahnya di Batuaji.

Rencananya, ia hendak menuju Pelita untuk bimbingan belajar (bimbel), tapi sebelumnya hendak menuju ke tempat kawannya di sekitar Batam Center.

“Sebelum dia menodong pisau, dia bilang minta tolong ke saya. Tapi perasaan saya
sangat takut,” katanya.

Sementara itu, dari pengakuan Jeki, aksi nekatnya tersebut muncul setelah melihat  ponsel Samsung yang diletakkan di atas meja di warung tersebut.

“Saya khilaf,” katanya.

Jeki mengatakan, pagi itu ia baru saja mengantarkan sewa ojek di kawasan Gelael dan
berencana untuk sarapan pagi. Pelaku diketahui bekerja sebagai ojek pangkalan di Bengkong Kolam.

“Sehari-hari ngojek. Saat ambil HP (ponsel) itu, saya ketahuan,” katanya.

Sementara itu, Wakasat Reskrim Polresta Barelang, AKP Ricky Firmansyah, mengatakan, pelaku sudah diamankan di Mapolsek Batam Kota.

“Kita juga amankan sepeda motor yang digunakan pelaku. Untuk korban yang ditodong,
dalam kondisi sehat,” katanya.(opi)

82 Suspect Corona di Kepri, 77 Negatif Dinyatakan Negatif Covid-19

0

batampos.co.id – Jumlah warga Kepri suspect virus corona yang diobservasi dalam satu bulan belakangan ini ternyata mencapai 82 orang. Hal ini diungkapkan sendiri oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepulauan Riau, Tjetjep Yudiana, saat memberikan laporan kepada Plt Gubernur Isdianto, Senin (9/3).

“Kami juga sudah laporkan ke Pak Plt Gubernur kondisi terkini ancaman corona virus di Kepri. Sampai hari ini (kemarin, red) masih aman. Malah sejak 6 Maret lalu, sudah tidak ada lagi pasien dalam pengawasan atau orang dalam pemantauan,” ungkap Tjetjep, dalam rilis Humas Pemprov Kepri yang dikirim ke redaksi Batam Pos, petang kemarin.

Meski begitu, menurut Tjetjep, tim tetap bekerja dan waspada. Baik dari Pemprov Kepri, Polda Kepri, TNI, BIN, Pemko Batam, BP Batam, Imigrasi, Bea Cukai, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL), dan semua pihak yang aktif menangkal ancaman ini.

Tjetjep yang dihubungi terpisah tadi malam menyebutkan, dari 82 orang itu, sebenarnya masih ada satu pasien dalam pengawasan yang kini diisolasi di Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Raja Ahmad Tabib di Tanjungpinang. Hasil uji lab-nya akan keluar Selasa (10/3), hari ini.

“Pasien dalam pengawasan yang belum ada hasil labora toriumnya hanya satu, yang di Rumah Sakit Raja Ahmad Tabib. Insya Allah hasilnya besok (hari ini, red),” tegas dia, malam tadi.

Tjetjep juga menyebutkan, sebelumnya ada sembilan pasien yang diisolasi. Hasil laboratorium delapan di antaranya telah keluar dan dinyatakan negatif virus corona.

Selain menunggu hasil laboratorium satu pasien dalam pengawasan tersebut, pihaknya juga menunggu hasil laboratorium empat orang dalam pemantauan yang dikarantina. “Total yang kami tunggu hasil laboratoriumnya lima orang,” terangnya.

Ia juga mengungkapkan, sebelumnya dari total yang diajukan untuk dicek hasil laboratoriumnya, yakni 82 orang (baik pasien dalam pengawasan maupun orang dalam pemantauan), hasilnya sudah keluar dimana sebanyak 77 dan semuanya dinyatakan negatif. “Sisanya itu yang kami tunggu hasil laboratoriumnya,” ungkapnya.

Plt Gubernur Kepri, Isdianto, yang menerima laporan Tjetjep mengatakan, mesti masih aman dari virus corona, ia meminta masyarakat Kepri tetap waspada. “Kewaspadaan tetap harus kita jaga bersama. Tetap melakukan aktivitas yang meningkatkan antibody atau imunitas tubuh. Kalau daya tahan tubuh kuat maka virus pun mampu ditangkal,” kata Isdianto, usai menerima laporan Tjetjep Yudiana, kemarin.

Isdianto pun berterima kasih kepada semua pihak, khususnya tim yang terlibat langsung melakukan berbagai upaya untuk pencegahan Covid-19 ini. Karena itu, Isdianto menyampaikan agar masyarakat untuk tidak ragu datang ke Kepri. Menikmati pesona dan melakukan beragam aktivitas di Negeri Segantang Lada ini.

Termasuk menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Implementasi Birokrasi dan Rapat Kerja Nasional Forum Sekretaris Daerah Seluruh Indonesia (Forsesdasi) di Batam, tengah pekan ini.

Kepastian Kepri masih bebas Covid-19 juga disampaikan Sekdaprov TS Arif Fadillah kepada Kementerian Dalam Negeri. Arif berkoordinasi dengan Sekjen Kemendagri dan Deputi terkait tentang kesiapan Kepri menyelenggarakan Forsesdasi. “Insya Allah acara dibuka Bapak Mendagri,” kata Arif usai melakukan pertemuan.(iza/eja)

Pria Jepang Sengaja Pergi ke Bar untuk Tularkan Virus Korona

0

batampos.co.id – Seorang pria Jepang berusia 50 tahun yang dites positif terkena virus Korona jenis baru atau COVID-19 marah dan kecewa. Dia tak terima dinyatakan telah terinfeksi virus Korona. Sebagai pelampiasan amarahnya, dia sengaja pergi ke bar yang banyak pengunjung untuk menyebarkan virus Korona.

Sebelumnya pria Jepang itu tidak menunjukkan gejala terkena virus Korona. Namun, dia kemudian diuji di sebuah rumah sakit di Kota Gamagori, Jepang pada Rabu (4/3). Itu dilakukan setelah kedua orang tuanya yang tinggal bersamanya terinfeksi virus Korona. Dan, hasilnya pria tersebut positif terkena COVID-19. Hal ini seperti dilansir dari Mirror, Selasa (10/3).

Setelah dites positif terkena virus Korona, pria itu disuruh menunggu di rumah sampai dokter dapat menemukan ruang untuk fasilitas medis. Bukannya mengikuti saran dokter, pria itu justru memutuskan untuk naik taksi ke bar Izakaya (bar informal Jepang) yang menyajikan minuman beralkohol dan makanan ringan.

“Saya akan menyebarkan virus,” kata pria tersebut kepada keluarganya seperti dilansir Mirror.

Dia kemudian berjalan kaki ke bar setelah turun dari Taksi. Pria yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan kepada orang-orang di sana bahwa dia telah dites positif terkena virus Korona. Setelah itu seorang anggota staf melaporkan kepada pusat kesehatan setempat.

Petugas dari Kantor Polisi Gamagori, mengenakan pakaian pelindung, tiba di bar untuk menangkap pria itu. Ternyata pria itu sudah pulang dengan taksi. Kini, bar tersebut disterilisasi. Karyawan serta pelanggan menjalani pemeriksaan medis.

Wali Kota Gamagori, Toshiaki Suzuki menyesalkan kejadian tersebut. “Sangat disesalkan bahwa pria itu tidak tinggal di rumah seperti yang diperintahkan petugas medis,” ujarnya.

Jumlah kasus positif virus Korona di Jepang per Senin (9/3) 1.198. Dari total itu, 696 orang berasal dari kapal pesiar Diamond Princess yang dikarantina di pelabuhan Yokohama, selatan Tokyo. Banyak sekolah di kota-kota besar di Jepang menyediakan ruang kelas terbuka untuk siswa setelah pemerintah memutuskan untuk menutup semua sekolah dasar dan menengah mulai 2 Maret 2020.(jpg)

Pos Koramil Diserang KKSB Papua, 1 Prajurit TNI Gugur

0

batampos.co.id – Pos Koramil 1710-05 Jila, Kodim 1710/Mimika, Papua, diserang oleh Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB). Akibat peristiwa ini satu anggota Babinsa setempat, Sertu La Ongge harus meregang nyawa akibat terkena tembakan kelompok separatis.

“Sertu La Ongge, salah satu Babinsa Kodim 1710 – 05 Jila akhirnya meninggal dunia setelah sempat mendapat perawatan medis di RSUD Timika sekitar pukul 10.30 WIT,” kata Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Cpl Eko Daryanto dalam keterangan tertulis, Senin (9/3).

Dia menuturkan, peristiwa penyerangan ini terjadi pukul 05.00 WIT. Pos Koramil 1710-05 Jila mendadak ditembaki oleh KKSB dari arah ketinggian bagian depan dan kanan pos. Salah satu peluru kemudian menyerempet bagian pelipis kiri sampai belakang telinga Sertu La Ongge.

“Saat itu almarhum baru saja selesai melaksanakan Siaga Pagi dan hendak menunaikan ibadah salat Subuh di musola dekat posnya,” imbuh Eko.

Akibat terkena peluru tersebut, Sertu La Ongge sempat mendapat perawatan medis dari petugas medis di Pos Pamrahwan 754/ENK yang lokasinya tak jauh dengan Koramil. Korban kemudian dievakuasi menggunakan helikopter Bell TNI – AD menuju Timika sekitar pukul 09.30 WIT. “Namun nyawa almarhum tidak dapat diselamatkan karena mengalami banyak pendarahan akibat luka yang dialaminya,” pungkas Eko.(jpg)

19 Pasien Positif Virus Korona, Banyak yang Tertular di Luar Negeri

0

batampos.co.id – Kementerian Kesehatan mengumumkan 19 kasus positif virus korona dari Wuhan. Padahal Minggu (8/3), hanya 6 orang positif terjangkit COVID-19. Tapi Senin (9/3), bertambah 13 kasus baru. Sehingga totalnya menjadi 19 pasien positif virus korona di Indonesia.

Juru Bicara Pemerintah Untuk COVID-19 Achmad Yurianto menjelaskan, kebanyakan pasien di antaranya hanya bergejala minimal. Tidak demam, tidak batuk. Artinya secara keseluruhan tampak sebagai pasien ringan, tidak sakit berat.

“Namun ada beberapa yang dipasang infus oksigen karena memang ada penyakit yang mendahului,” katanya kepada wartawan, Senin (9/3).

Pasien 1 (perempuan, 31 tahun) dan pasien 2 (perempuan, 64 tahun). Kluster Jakarta. Tidak ada keluhan. Dokter penanggung jawab pasien yang merawat menyampaikan bahwa pasien 1-2 hanya mengalami beban psikologis karena identitas mereka sudah terpublikasi beberapa waktu lalu.

Pasien 3 (33 tahun) dan pasien 4 (34 tahun). Kluster Jakarta. Jauh lebih bagus dari sebelumnya. Mereka meminta jaminan agar nama atau identitas mereka tak diumumkan.

Kondisi pasien 5 (laki-laki, 55 tahun). Kluster Jakarta. Juga bagus dan tidak ada keluhan. Akan tetapi dia sudah mulai merasa bosan karena berada di kamar terus.

Dan pasien 6 (laki-laki, 36 tahun). Kluster Jepang dari kapal Diamond Princess. yang merupakan kasus impor dari Jepang, baik-baik saja dan tidak ada keluhan. Kasus ini merupakan kasus penularan di kapal Diamond Princess.

Kasus pasien 7 (perempuan, 59 tahun). Kondisinya nampak sakit ringan sedang stabil. Ini adalah kasus imported case, pasien baru kembali dari luar negeri dan kemudan menunjukkan gejala-gejala seperti batuk dan pilek. Kemudian dilakukan pemeriksaan baik dengan PCR dan Genome Squenzing.

Kasus pasien 8 (Laki-laki, 56 tahun). Pasien ini tertular oleh pasien 7. Karena memang suami istri. Kondisinya sekarang menggunakan beberapa peralatan seperti infus dan oksigen. Sebab sebelum kontak dengan 7, pasien 8 ini sudah sakit duluan tetapi bukan sakit COVID-19. Tetapi memang sakit karena diare, ditambah riwayat diabetes. Sekarang terpapar, kondisinya sakit sedang ke arah berat.

Pasien 9 (perempuan, 55 tahun). Kondisinya sekarang nampak sakit ringan sedang. Tanpa ada penyakit penyulit sebelumnya. Pasien ini juga imported case, bukan dari bagian kluster mana pun. Baru datang dari luar negeri.

Pasien 10 (laki-laki, 29 tahun) adalah Warga Negara Asing (WNA). Nampak dalam kondisi sakit ringan sedang. Ini adalah bagian dari kluster Jakarta.

Pasien 11 (perempuan, 54 tahun) adalah WNA. Kondisi nampak sakit ringan sedang. Ini bagian dari kluster Jakarta.

Pasien 12 (laki-laki, 31 tahun). Sakit ringan sedang juga. Bagian dari kluster Jakarta.

Pasien 13 (perempuan, 16 tahun). Merupakan bagian penelusuran dari penularan subkluster pasien 3.

Pasien 14, (laki-laki, 50 tahun). Gambaran sakit ringan sedang. Imported case baru pulang dari luar negeri.

Pasien 15 (perempuan, 43 tahun). Ini juga Imported case. Baru pulang dari luar negeri.

Pasien 16 (perempuan, 17 tahun) ini terkait dengan pasien 15. Kontak eratnya dan tertular dari pasien nomor 15.

Pasien 17 (laki-laki, 56 tahun) adalah imported case. Baru pulang dari luar negeri.

Pasien 18 (laki-laki, 55 tahun, ini juga imported case. Baru pulang dari luar negeri.

Pasien 19 (laki-laki, 40 tahun). Ini juga imported case. Baru pulang dari luar negeri.(jpg)

Kisah Para Orang Tua Bayi Tabung Menanti sang Buah Hati

0

Para ayah dan ibu ini benar-benar tegar menanti kelahiran buah hati pertama setelah menikah. Sayang, ada suatu kondisi yang mengharuskan mereka menunggu lebih lama hingga memutuskan ikut program bayi tabung. Minggu (8/3) mereka berkumpul untuk berbagi cerita dan memberikan motivasi.

Memori Nova Dwiyanti melayang ke delapan tahun silam. Dia masih ingat betul air matanya meleleh saat memeluk tubuh mungil Atiqah Nekyafaza Setyo Bekti yang baru saja dilahirkan. Tangis haru itu tidak hanya sebatas ungkapan gembira lantaran buah hati pertamanya lahir. Nova menangis bahagia karena telah menanti sang buah hati selama 14 tahun.

Selama itu pula Nova telah melakukan berbagai upaya agar bisa memberikan buah hati untuk Dwi Kusumo Setyo Bekti yang menikahinya pada 1997.

Penantian selama belasan tahun itu tentu bukan hal mudah. ’’Berat sekali, sangat berat,’’ ungkapnya saat ditemui dalam acara gathering Anak-Anak Bayi Tabung di Hotel Gran Dafam, Minggu (8/3).

Nova mengungkapkan, sejatinya dirinya pernah hamil setelah tiga bulan menikah. Namun, kehamilan pertamanya itu tidak berhasil karena mengalami keguguran. Kondisi tersebut terulang di tahun berikutnya. Setiap hamil pasti keguguran.

Pada 2001, Nova berkisah memang sempat mengalami masalah yang cukup serius. Saat itu dokter memvonisnya hamil di luar kandungan. ’’Jadi, perkembangan janin terjadi di saluran rahim, bukan pada tempatnya,’’ ucapnya.

Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani operasi. Saluran rahimnya yang kiri diangkat. Tinggal satu yang kanan. Dokter mengatakan masih ada peluang untuk bisa hamil meski hanya memiliki satu saluran rahim.

Nova terus menjalani program kehamilan. Namun, upayanya belum membuahkan hasil. Hingga akhirnya dia berusaha mengikuti program bayi tabung pada 2009. ’’Itu yang pertama, tapi gagal,’’ ungkapnya.

Berbagai omongan pun datang. Bukan hanya dari para tetangga. Beberapa saudara maupun teman dekat pun kerap menanyakan tentang anak. Ada yang bernada simpati. Ada pula yang bikin sakit hati. ’’Ada yang mencibir juga, tapi harus kuat,’’ ungkapnya.

Hal itu membuatnya sempat drop. Namun, sang suami terus memberikan motivasi. Nova lantas kembali mencoba program bayi tabung pada 2011. Nah, program yang dijalani untuk kali kedua itu berhasil. Nova dinyatakan hamil. ’’Itu dulu bayinya Atiqah,’’ ucapnya sambil memeluk dan mencium kepala putri pertamanya tersebut.

Sejak saat itu Nova mulai lebih percaya diri. Setelah lima tahun dikaruniai anak pertama, dia ingin mencoba lagi program bayi tabung untuk kali kedua. Pada 2016, perempuan 47 tahun itu kembali mengikuti program bayi tabung. Sayangnya, saat itu janinnya dinyatakan gagal. Tiga bulan kemudian, dia mencoba lagi dan berhasil. Pada 2017, anak keduanya M. Azka Faza Setyo Bekti lahir.

Kondisi Nova juga dialami Kiki Nurmandari. Istri Dio Delyanta tersebut juga mengalami masalah pada rahimnya. Bahkan, kedua saluran rahimnya harus diangkat sehingga tidak ada pilihan lain selain menjalani program bayi tabung.

Dio yang menikah dengan Kiki pada 2017 tidak sabar menanti kedatangan sang buah hati. Namun, pada 2018 hasil pemeriksaan dari rumah sakit yang menyatakan adanya masalah medis pada rahim Kiki membuat pasangan muda itu sempat down. ’’Saat itu sempat bingung, istri langsung stres berat setelah tahu kondisinya,’’ paparnya.

Dio menyatakan sempat berkeliling ke rumah sakit hingga panti asuhan untuk mencari bayi yang bisa diadopsi. Bukan hanya di Surabaya, melainkan sampai ke Malang. Bahkan, hampir setiap pagi pria 26 tahun itu membolak-balik halaman koran untuk mencari berita pembuangan bayi.

Pada September 2018, Dio memutuskan ikut program bayi tabung. Dia mengatakan, upaya tersebut merupakan tindakan nekat karena memang tidak memiliki biaya. Pria yang bekerja di salah satu perusahaan persewaan alat berat itu mengungkapkan sampai menggadaikan sertifikat rumahnya di Probolinggo. ’’Demi bisa memiliki anak, Mas. Nekat pokoke,’’ ucapnya.

Untungnya, program pertama yang dijalani berhasil. Kiki dinyatakan positif hamil. Janin yang sudah diproses di dalam tabung ditanamkan ke rahimnya. Setelah sembilan bulan mengandung, Kiki bisa melihat wajah buah hati pertamanya pada Mei 2019. Evano Alfitra Delyanta lahir di RS Hermina, Malang.

Penantian panjang untuk memiliki buah hati juga dirasakan pasangan Endra Septa Ismunandar-Fitri Indayani. Warga Sawojajar, Malang, itu harus menunggu delapan tahun untuk memiliki buah hati. Endra tidak menjelaskan kendala yang dialami.

Pria 38 tahun itu menyatakan sudah mencoba berbagai upaya agar istrinya bisa hamil. Mulai mencari pengobatan alternatif hingga bolak-balik konsultasi ke dokter kandungan. Namun, tidak ada hasil yang memuaskan. Padahal, saran dari ahli pengobatan alternatif maupun dokter sudah dijalani.

Endra yang bekerja di perusahaan jasa konstruksi itu mengaku sudah dua kali menjalani program bayi tabung. Yang pertama dijalani pada 2012. Fitri memiliki ekspektasi yang sangat tinggi. Namun, hal itu tidak berbanding lurus dengan hasilnya. Program pertamanya tersebut gagal dan membuat Fitri drop sampai sakit-sakitan.

Untungnya, ada seorang teman yang juga menjalani program bayi tabung yang memberikan motivasi. Keluarga, baik dari pihak Endra maupun Fitri, juga memberikan dukungan agar tetap semangat. Nah, pada 2014 Fitri kembali mengikuti program bayi tabung untuk kali kedua.

Karena tidak ingin gagal lagi, perempuan 37 tahun tersebut benar-benar berhati-hati dan menjaga diri. Baik pola makan, istirahat, maupun aktivitas. ’’Saat itu belum tahu berhasil atau tidak, tapi kami sudah membayangkan bahwa di dalam perut (Fitri, Red) sudah ada anaknya,’’ kata Endra.

Sebagai suami, Endra pun memberikan perhatian lebih. Sebagian pekerjaan rumah dikerjakan. Hingga akhirnya waktu pengumuman hasil program bayi tabung tiba. ’’Itu sudah deg-degan seperti menunggu apa gitu,’’ ungkapnya.

Hasil pengumuman benar-benar seperti yang diharapkan. Program bayi tabung pasangan asal Malang itu berhasil. Hebatnya, dari tiga janin yang ditanam, dua di antaranya berhasil. Fitri pun mengandung anak kembar.

Tidak sampai sembilan bulan, buah hatinya lahir prematur di RSIA Puri, Malang. Fitri tidak henti-hentinya menitikkan air mata. Tangis haru dan rasa bahagia yang tertahan selama delapan tahun pecah. ’’Wes gak karu-karuan. Sueneng banget saat itu,’’ paparnya.

Dari program tersebut, lahirnya Keano Adelio Navendra dan Keisha Adelia Navendra. Keduanya berusia 5 tahun. Rasa bahagia juga dirasakan Soetomo dan Susiani, orang tua Fitri. Sebab, dua anak kembar itu merupakan cucu pertama mereka. Soetomo dan Susiani dipanggil mbah kung dan mbah uti.

Dalam acara gathering tersebut, ada tamu istimewa yang hadir di tengah-tengah para orang tua peserta program bayi tabung. Tamu itu adalah Ainur Rokhimah alias Inul Daratista, penyanyi dangdut yang juga mengikuti program bayi tabung. ’’Saya dulu 13 tahun baru dapat (anak, Red),’’ kata Inul saat memberikan motivasi.

Istri Adam Suseno itu menilai anak hasil program bayi tabung adalah anak istimewa. Mereka berbeda dengan anak-anak pada umumnya. ’’Ada proses panjang yang dijalani. Ada perjuangan panjang yang harus dilalui. Tidak seperti anak-anak yang lain, bikin lalu jadi gitu,’’ ungkapnya.

Karena itu, dia meminta para orang tua bayi tabung tetap semangat dan selalu memberikan yang terbaik kepada sang buah hati. Mereka adalah aset yang harus dijaga. ’’Orang tua harus mengambil peran dalam mewujudkan mimpi mereka,’’ jelasnya.(jpg)

MA Batalkan Kenaikan Iuran BPJS, Sudah Final

0

batampos.co.id – Mahkamah Agung (MA) memutuskan untuk membatalkan kenaikan iuran BPJS Kesehatan. Pemerintah kalah dalam proses judicial review atau peninjauan kembali yang diajukan oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI).

Menanggapi itu, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menilai putusan ini bersifat final. Tidak ada lagi jalur hukum yang bisa ditempuh oleh pemerintah.

“Putusan MA kalau judicial review itu adalah putusan yang final tidak ada banding terhadap judicial review berbeda dengan gugatan perkara perdata atau pidana,” kata Mahfud di Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (9/3).

Mahfud menjelaskan, kondisi ini berbeda dengan sebuah gugatan perdata maupun pidana. Dalam kasus pidana, ketika proses kasasi sudah diputus, pihak yang kalah dalam gugatan bisa mengajukan Peninjauan Kembali (PK).

“Kalau judicial review itu sekali diputus final dan mengikat. Oleh sebab itu kita ikuti saja (putusan MA). Pemerintah kan tidak boleh melawan putusan pengadilan,” tegasnya.

Sebelumnya, MA mengabulkan gugatan Komunitas Pasien Cuci Darah (KPCDI) terkait Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Jaminan Kesehatan. Alhasil, kenaikan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dibatalkan.

“Mengabulkan sebagian, menolak sebagian,” kata juru bicara MA, Andi Samsan Nganro saat dihubungi JawaPos.com, Senin (9/3).

Andi menjelaskan, Pasal 34 ayat 1 dan 2 bertentangan dengan Pasal 23 A, Pasal 28H dan Pasal 34 UUD 1945. Selain itu juga bertentangan dengan Pasal 2, Pasal 4, Pasal 17 ayat 3 UU Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.(jpg)

Pasien Positif Virus Korona di Indonesia Jadi 19 Orang

0

batampos.co.id – Jumlah pasien virus korona jenis baru atau COVID-19 di Indonesia naik drastis dalam kurun waktu sehari. Hari ini, Senin (9/3), ada 13 pasien yang dinyatakan positif terinfeksi virus korona. Sehingga, total pasien yang positif virus korona di Indonesia jadi 19 orang.

“Sehingga hari ini kasus yang terkonfirmasi positif 19 orang. Ini yang kami rilis kasus 1 sampai 6 kemarin, hari ini saya sampaikan kasus 7 sampai 19,” kata Juru Bicara COVID-19 Untuk Pemerintah Achmad Yurianto, Senin (19/3).

Yurianto menegaskan masyarakat diminta untuk tenang, karena penyakit ini tidak seperti di Wuhan, Tiongkok. Tidak ada pasien yang menggunakan oksigen dan infus.

“Gejala klinis yang kami dapatkan pada mereka yang tanpa penyuakit kronis mendahului, tidak demam, tidak batuk, artinya secara keseluruhan tampak sebagai pasien ringan, tidak sakit berat,” paparnya.

Namun, ada beberapa pasien yang dipasang infus dan oksigen karena memang ada penyakit kronis yang mendahului. Berdasarkan hasil lab siang tadi, kata dia, pemeriksaan dilakukan beberapa hari lalu yang menggunakan PCR, kemudian dikonfirmasi dengan Genome Squenzing.

“Maka hari ini ada beberapa lagi kasus positif yang kami dapatkan,” katanya.

Sementara itu, pasien 1 (31 tahun) dan pasien 2 (64 tahun) masih dinyatakan positif virus Korona meski sudah dirawat selama 7 hari. Virus tersebut masih belum hilang dari tubuh pasien meski sudah dirawat selama sepekan.(jpg)