Jumat, 10 April 2026
Beranda blog Halaman 10905

Polda Kepri Gagalkan Penyelundupan Narkoba dari Malaysia

0

batampos.co.id – Sindikat narkoba jaringan internasional melakukan berbagai modus untuk mengelabui petugas. Kali ini, para pelaku berpura-pura menjadi teknisi kapal saat hendak menyelundupkan sabu seberat 30,8 kilogram dari Malaysia ke Batam, Jumat (23/8) lalu.

Namun, aksi para pelaku terendus polisi. Jajaran Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Polairud) dan Direktorat Reserse Narkoba Polda Kepri berhasil menggagalkan upaya penye­lundupan sabu tersebut di Pulau Putri, Nongsa, Batam. Selain mengamankan sabu 30,8 kg, polisi juga menangkap empat pelaku.

“Penangkapan ini bermula dari patroli rutin yang dilakukan Direktorat Polisi Perairan Polda Kepri, Jumat (24/8) lalu,” kata Kabid Humas Polda Kepri Kombes Erlangga saat konferensi pers, Senin (26/8).

Erlangga menjelaskan bahwa saat berpatroli petugas melihat ada kapal cepat (speedboat) yang melintas di perairan Pulau Putri, Nongsa, Batam. Polisi mengejar dan menghentikan laju kapal tersebut.

Saat didekati, di dalam kapal tersebut terdapat tiga orang. Terdiri dari satu tekong dan dua penumpang yang mengenakan baju wearpack ala teknisi.

Kepada petugas, dua penumpang kapal yang belakangan diketahui bernama Suryanto dan Indra Syahrial itu mengaku baru saja mengerjakan perbaikan kapal tanker di area perairan Out Port Limited (OPL) atau perairan perbatasan Batam-Malaysia.

“Modusnya seolah mereka ini mendapatkan pekerjaan di perairan OPL, jadi teknisi,” ungkap Erlangga.

DARI kiri: Kabag Wasidik Ditresnarkoba Polda Kepri AKBP Charles Sinaga; Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Erlangga; dan Dirpolair Polda Kepri, Kombes Pol Benyamin Sapta menunjukkan barang bukti sabu 30,8 kg beserta empat orang tersangka saat ekspos di Mapolda Kepri, Senin (26/8).
foto: batampos.co.id / cecep mulyana

Namun, petugas dari Ditpolairud Polda Kepri tidak percaya begitu saja.

Mereka kemudian menggeledah barang bawaan Suryanto dan Indra. Benar saja, saat membuka kaleng kemasan oli pelumas yang dibawa keduanya, polisi mendapati 30 kg sabu di dalamnya. Sabu tersebut dibungkus dalam kemasan teh Cina dengan merek Guan Yin Wang.

“Kemudian kami melakukan control delivery. Narkoba ini terus dikawal, hingga di mana akhir tujuannya,” bebernya.

Ternyata, dari perairan Pulau Putri, mereka akan menuju sebuah pelabuhan rakyat di Bengkong, Batam. Polisi menggiring kapal cepat tersebut menuju Bengkong.

Benar saja, di pelabuhan rakyat di Bengkong itu sudah menunggu seorang pria bernama Patria Dona. Ia merupakan bagian dari jaringan narkotika internasional tersebut yang bertugas membawa sabu yang diselundupkan Suryanto dan Indra menuju gudang penyimpanan di Batam Center.

Akan tetapi polisi keburu menangkap Patria Dona. Polisi kemudian menginterogasi ketiganya. Kepada polisi Patria mengatakan, sedianya sabu seberat 30,8 kg itu akan dibawa ke sebuah ruko di Batam Center.

Polisi pun kemudian menggiring ketiganya ke ruko yang dimaksud.

“Sesampai di sana, ternyata sudah menunggu seseorang berinsial Ns (Nasrul, red),” sebutnya.
Kepada polisi, Nasrul mengaku tidak tahu-menahu soal keberadaan sabu tersebut. Sebab ia hanya merupakan karyawan dari si pemilik ruko. Namun begitu, polisi tetap mengamankannya. Sehingga total pelaku yang diamankan polisi dalam kasus ini ada empat orang, yakni Suryanto, Indra Syahrial, Patria Dona, dan Nasrul.

Para pelaku menjelaskan bahwa sabu tersebut merupakan milik seseorang bernama Agam Patra. Agam inilah yang memesan sabu langsung kepada seorang bandar di Malaysia bernama Peter. Sementara Suryanto dan Indra bertugas mengambilnya ke Malaysia dengan upah sebesar Rp 15 juta per orang.

Direktur Polisi Perairan Polda Kepri Kombes Benyamin Sapta mengatakan, Suryanto dan Indra masuk ke Malaysia melalui jalur resmi. Keduanya bertemu dengan Agam Patra di Pantai Sungai Rengit, Malaysia. Setelah mendapatkan sabu dari Agam, keduanya kembali lagi ke Batam. Namun, kali ini melalui jalur ilegal.

Dari Pantai Sungai Rengit, Suryanto dan Indra naik kapal cepat yang sudah disiapkan Agam menuju kawasan OPL. Sesampai di sana, keduanya dijemput kapal cepat dari Batam yang sudah dipesan Agam. Menurut Kombes Benyamin, pihak penjemput tidak mengetahui jika kedua penumpangnya itu merupakan kurir sabu.

“Saat dijemput, speedboat yang membawa kedua orang ini berada dekat kapal tanker yang lagi berlabuh di OPL,” ungkap Benyamin.

Kepada polisi, para pelaku mengaku sudah lima kali beraksi. Mereka mulai menjalani peran masing-masing dalam jaringan narkotika internasional sejak Januari 2019 lalu.

Akan tetapi, Kabag Wasidik Ditresnarkoba Polda Kepri AKBP Charles P Sinaga tidak mau percaya begitu saja. Jika melihat modus dan perencanaannya yang begitu rapi, Charles memperkirakan sudah lebih dari lima kali mereka menyelundupkan sabu ke Batam.

“Saya duga lebih dari lima kali. Oleh karena itu kami akan melakukan pemeriksaan mendalam atas kasus ini,” ungkap Charles.

Menurutnya, jaringan Batam ini bisa dibilang sebagai distibutor. Karena mengambil sabu dalam jumlah besar. Charles menduga, sabu tersebut akan dikirim ke luar Batam. Namun, pengiriman dilakukan dalam jumlah kecil dan tidak serentak.

“Yang jelas barang ini akan dipecah. Tapi kemana-mananya masih belum diketahui. Ini akan kami selidiki,” imbuhnya.

Atas perbuatannya, polisi mengancam akan menjerat mereka dengan pasal 112 ayat (2) jo Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman pidana mati. (ska)

Badai Pasti Berlalu

0

Saat ini kita tengah dihadapkan pada situasi sulit. Kondisi ekonomi yang (katanya) belum juga membaik memberikan efek domino bagi sebagian besar dunia usaha.

Pemerintah telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen. Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada pembacaan nota keuangan di depan DPR/MPR belum lama ini. Sementara belanja negara direncanakan akan mencapai Rp 2.528,8 triliun, atau sekitar 14,5 persen dari PDB.

Sejatinya, proyeksi yang disusun pemerintah tersebut lebih tinggi ketimbang pro-yeksi global. Dimana, Bank Dunia meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 5,1 persen. Artinya, pemerintah mematok lebih tinggi 0,2 persen dari proyeksi global.

Apakah ini kabar baik? Semoga saja iya. Namanya juga masih proyeksi. Masih harus direalisasikan. Harus terus diperjuangkan. Karena memang situasi ekonomi yang tidak pasti memberikan multi­plier effects bagi semua sektor.

Alhamdulillah, pemerintah melalui Kementerian PPN/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sudah mendiagnosa penyebab lambatnya pertumbuhan ekonomi ini. Semoga tidak sekadar diagnosa saja, melainkan langkah nyata untuk memberikan hasil yang terbaik.

Lagi-lagi, penyebab lambatnya pertumbuhan ekonomi negeri ini dikarenakan regulasi dan institusi. Menurut Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro, itu menjadi faktor pertama. Entah mengapa, hingga saat ini regulasi masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang belum terselesaikan dari periode ke periode.

Masih kata Bambang, untuk urusan ekspor di Indonesia saja, administrasi dan kepabeanan makan waktu rata-rata 4,5 hari. Masih sangat lama di bandingkan negara-negara tetangga seperti Si­ngapura yang cuma setengah hari. Atau Vietnam dan Thailand yang hanya butuh wak­tu sekitar dua harian.

Pun demikian soal investasi. Masih menurut Bambang, memulai bisnis di Indonesia ini ngeri-ngeri sedap. Waktu yang diperlukan untuk mengurus semua hal sebelum memulai bisnis rata-rata sekitar 19 hari. Belum lagi biaya yang dikeluarkan untuk memulai investasi yang cenderung tinggi.

Akan sangat wajar jika investor berpikir dua kali untuk menggelontorkan uangnya di Indonesia. Belum memulai investasi saja sudah dihantam kanan-kiri. Regulasi yang dianggap berbelit hingga biaya yang lumayan. Jika terus demikian, pertumbuhan ekonomi bisa dipastikan begini-begini saja.

Butuh solusi jitu dari pemerintah untuk menata regulasi. Terutama regulasi yang menghambat investasi maupun perdagangan. Harus cepat. Tidak perlu menunggu pelantikan kabinet. Khawatir justru malah memperburuk situasi dan kondisi perekonomian di negeri ini.

Pemerintah harus benar-benar serius dalam menyelesaikan semua hal yang menghambat pertumbuhan ekonomi. Jika masih berkutat pada persoalan internal, bahaya. Apalagi kalau ribut soal bagi-bagi jatah menteri. Saya jadi agak khawatir kalau badai ekonomi yang melanda Indonesia tidak akan reda.

Saya masih sangat yakin, bahwa badai pasti segera berlalu. Tak sekadar menjadi judul lagu. Situasi ekonomi yang terjadi bisa terselesaikan. Indonesia tumbuh menjadi negara dengan ekonomi yang kuat, daerahnya maju, masyarakatnya pun sejahtera.
Badai pasti berlalu.

Tentunya Presiden dengan para “pembantunya” harus benar-benar serius menyelesaikan persoalan ekonomi yang terjadi. Apalagi, tidak ada beban bagi Jokowi lagi. Tinggal fokus memperbaiki kondisi agar semakin lebih baik. (*)

Semangat Ibu Tien Soeharto Diteruskan Generasi Ketiga

0
Mbak Tutut menyampaikan bantuan,

Bertepatan 40 tahun berdirinya Food and Agriculture Organization atau FAO di tahun 1985, Presiden Soeharto berkunjung ke markas organisasi naungan PBB itu, di Roma, Italia.

Beliau membawa bantuan dari para petani Indonesia, berupa hasil pertanian kita yang saat itu berlimpah ruah. Pak Harto mengantarkan langsung sebagian hasil pertanian yang melimpah itu, untuk disampaikan oleh FAO kepada saudara-saudara kita di Afrika yang sakit dan meninggal akibat kelaparan.

Saat itu kemarau kelewat panjang, terutama bayi dan banyak anak-anak, juga orang dewasa yang tidak mampu bertahan hidup tanpa air dan makanan. Peristiwa itu telah menjadi bencana dunia melalui foto-foto yang menghunjam perasaan.

Hati nurani Indonesia terpanggil. Kesetiakawanan sosial berskala internasional itu diterima dengan sangat besar hati.

Kepada Presiden Republik Indonesia Mohamad Soeharto, organisasi federasi pangan dunia itu memberikan medali dan penghargaan yang tinggi.

Teladan yang dilaksanakan Pak Harto menggerakkan hati Ibu Tien Soeharto melaksanakan keinginan terpendamnya, yaitu berbagi kasih sayang dan perhatian nyata kepada keluarga-keluarga Indonesia yang begitu merana karena tertimpa bencana.

Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan pun berdiri setahun kemudian tepatnya 23 Agustus 1986 di Istana Bogor.

Kedalaman rasa. Keinginan yang sangat kuat untuk menemani dan menyantuni, turut merasakan duka dan penderitaan sesama, segera dan seketika dapat dilaksanakan berkat bantuan dan dana yang terkumpul berkat kedermawanan masyarakat dan para bengusaha.

Kesetiakawanan sosial yang tulus telah 33 tahun diantarkan oleh seluruh Pengurus Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan Siti Hartinah Soeharto.

Begitu bencana alam terjadi, mereka adalah yang terdepan berada di lapangan. Ibu Negara Tien Soeharto memegang langsung komandonya.

Ibu Tien Soeharto mempercayakan pengabdian besar ini turut dilaksanakan oleh putra-putri dan menantunya.

Kiprah yayasan pun berskala internasional dengan pemberian santunan untuk korban musibah di Saudi Arabia, korban perang Teluk Persia, dan lainnya.

Ibu Tien Soeharto sendiri seringkali mengantarkan langsung kebutuhan mendasar perkotaan di daerah seperti gerobak sampah dan merehabilitasi banyak perkampungan kumuh.

Yayasan juga mengadakan berbagai pelatihan dan simulasi bencana untuk para relawan, mengukuhkan keberadaan mereka, kemudian menyerahkannya kepada pemerintah daerah setempat untuk bertugas di lokasi-lokasi bencana.

Di bawah komando Ibu Siti Hardiyanti Rukmana, hingga kini Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan tetap melanjutkan bakti sosialnya.

Generasi ketiga keluarga Pak Harto dan Ibu Tien tampak sangat bersemangat mengikuti jejak langkah eyang, ayah dan bundanya tercinta. Mbak Danty Rukmana, Mbak Eno Sigit, Mbak Gendis Trihatmojo telah menjadi bagian pasukan terlatih Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan Siti Hartinah Soeharto. (*)

Bocah 8 Tahun Ini Ngebut 180 Kilometer per Jam di Jalan Tol

0

batampos.co.id – Bocah 8 tahun memacu kendaraan milik ibunya dengan kecepatan 180 kiometer per jam.

Bocah yang belum diketahui namanya itu berasal dari Soest, Jerman.

Pada Rabu (21/8/2019), dia mencuri kunci mobil Volkswagen Golf milik ibunya, lalu berkendara dengan kecepatan 140 kilometer per jam.

Dia mengaku tak sehat kepada polisi saat berhasil menepi dengan selamat.

Ilustrasi mobil VW. Foto: Istimewa/Jawa Pos

Tapi itu tidak membuatnya tak jera. Pada Jumat malam (23/8/2019) dia kembali melakukan hal serupa. Kali ini bocah tersebut memacu kendaraan tersebut di tol.

Kecepatannya mencapai 180 kilometer per jam dari Soest ke Dortmund.

Bocah itu seakan ingin menguji kemampuan kendaraan milik ibunya tersebut.

Nahas baginya, perjalanan kali ini tidak berjalan mulus. Mobilnya menabrak truk trailer yang sedang diparkir.

Untung, tak ada korban dalam kejadian itu. Hanya, mobil Volkswagen Golf yang dia kendarai rusak parah.

“Dia mengabaikan lampu merah dan aturan lalu lintas lainnya,” ujar salah satu petugas kepolisian Dortmund seperti dikutip Sky News.(jpg)

Dirgahayu Yayasan Harapan Kita

0
Mbak Tutut saat menyampaikan sambutan

23 Agustus 2019 Yayasan Harapan Kita berusia 51 tahun.

Yayasan ini didirikan oleh Hj. Siti Hartinah Soeharto, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dalam arti seluas-luasnya.

Ibu Tien Soeharto, demikian kita mengenalnya,  mengelola Yayasan Harapan Kita bersama para wanita enerjik pada zamannya yaitu Ibu Siti Zaleha Ibnu Sutowo, Ibu Sri Dewanti Muhono, Ibu Kartini Widya Latief, Ibu Siti Maemunah Alamsjah, Ibu Wastuti Ali Murtopo dan Ibu Soetamtitah Soedjono Humardani.

Syukuran pendirian yayasan dilaksanakan bertepatan ulang tahun Ibu Tien Soeharto ke 45 pada 23 Agustus 1968.

Tamu yang paling dinantikan hari itu tentu saja Presiden Soeharto.

Tampak hadir Wakil Presiden Adam Malik, para Menteri Kabinet Pembangunan dan Direktur Utama Pertama Bp. Ibnu Sutowo. Pengguntingan pita oleh Sultan Hamengkubuwono IX selaku Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

Pak Harto mendukung setiap ide besar Ibu Tien, berikut pelaksanaannya. Dukungan penuh cinta dan kebanggaan dari seorang suami yang tahu benar kemampuan dan kehebatan istrinya.

Pasangan yang visioner ini telah membuktikan bahwa tidak ada karya Ibu Tien Soeharto yang sia-sia. Bahkan hingga kini setelah Yayasan Harapan Kita berusia 51 tahun.

Kini Yayasan Harapan Kita berlayar di bawah komando seorang nakhoda yang tidak kalah pintar, tegar, dan kaya visi. Ibu Siti Hardiyanti Rukmana atau kita akrb menyapanya dengan nama pendek, Mbak Tutut, telah mengukir sejarah panjang pengabdian sosial masyarakat di dalam dan luar negeri. (*)

Tim DKI Open Terbaik di Ajang Kepri International Bridge Festival

0

batampos.co.id – Tim DKI Open menjadi yang terbaik dalam perlombaan Team Open 16th Kepri International Bridge Tournament yang digelar di Hotel Golden View dan berhasil mengumpulkan 107, 57 poin.

Dengan hasil tersebut tim DKI Open mendapatkan hadian berupa uang tunai Rp 46 juta dan piala Gubernur Provinsi Kepri.

Ketua Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi) Kepri, Cendra Nawazir, mengatakan, kejuaran internasional itu diikuti 11 tim manca negara dan 38 tim nasional.

“Kategori Student bridges Championship bisa dikatakan menjadi kejuaraan internasional karena diikuti delapan tim yang salah satunya berasal dari Thailand,” jelasnya saat penutupan kejuaraan di Restauran Golden Prawn 933, Batam, Minggu (25/8/2019) malam.

Cendra mengatakan, kegiatan tersebut berlangsung sejak Jumat (23/8/2019) hingga Minggu (25/8/2019).

Para pemenang Team Open 16th Kepri International Bridge Tournament berfoto bersama dengan setelah pembagian hadiah. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

Ia mengapresiasi partisipasi seluruh perserta baik dari dalam maupun luar negeri.

“Juga pada seluruh panitia yang bekerja keras menyukseskan acara,” tuturnya.

“Terima kasih pada Pemprov Kepri dan semua pihak yang membantu terselenggaranya event ini,” ujarnya lagi.

Ia pun berharap para peserta bersedia hadir kembali dalam kejuaraan-kejuaraan yang akan digelar oleh Gabsi Kepri di tahun-tahun mendatang.

Cendra menjelaskan untuk first runner up diduduki oleh DKI Mix dengan raihan 92,08 poin dan second runner up diduduki oleh Djarum Senior dengan raihan poin 70,73.

Sementara diperingkat keempat diraih Jatim Mix dengan raihan 69,93. Peringkat lima menjadi milik Djarum Black dengan raihan 68,71 poin.

AC2R menduduki peringkat keenam dangan raihan 65,73 poin. Peringkat ketujuh diduduki oleh Team Internatio dengan 60,04 poin. Serta Tim Kepri berada di peringkat delapan dengan raihan 25,21 poin.

“Tim DKI Open berhak atas Piala Gubernur Kepri, medali, dan uang pembinaan Rp 46 juta,” jelasnya.

Sementara second runner up berhak atas piala, medali dan uang pembinaan Rp 28 juta.

Peringkat ketiga dihadiahi trofi, medali dan uang pembinaan sebesar Rp 16 juta.(nto)

PNS Instansi Pusat Pilih Pensiun Dini Daripada Dipindahkan ke Kalimantan Timur

0

batampos.co.id – Ribuan Pegawai Negeri Sipil (PNS) instansi pusat waswas. Mereka takut masuk dalam daftar list PNS yang akan dipindahkan ke ibu kota negara yang baru di Kalimantan Timur.

Salah seorang PNS mengaku memilih pensiun dini daripada harus pindah ke Kalimantan Timur.

“Aduh, jangan sampai pindah deh, bagaimana dengan keluarga kami. Anak-anak sudah sekolah di sini, masa mau dipindahkan lagi,” kata salah satu PNS yang juga pejabat struktural dan berkantor di bilangan Sudirman kepada JPNN.com (grup batampos.co.id), Senin (26/7/2019).

PNS yang enggan nama disebutkan itu mengatakan, bila rencana pindah ibu kota dilaksanakan, akan banyak pegawai yang minta pensiun dini.

Ilustrasi PNS. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Sebab, lebih menguntungkan minta pensiun dini daripada pindah ke Kalimantan.

“Kalau pindah Kalimantan otomatis mulai dari nol lagi. Rumah kami sudah di sini, kalau harus menetap di Kalimantan mendingan pensiun dini saja,” ujarnya.

Akan adanya gelombang pensiun dini sudah terbaca oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana. Permintaan pensiun dini akan terjadi bila PNS pusat dipindahkan ke Kalimantan.

“Iya itu kemungkinan besar terjadi makanya kami sangat hati-hati menerapkan kebijakan ini,” ujar Bima.

Salah satunya dengan tidak memindahkan seluruh PNS pusat ke Kalimantan. PNS yang dipilih adalah pemegang jabatan struktural. PNS yang berhubungan dengan layanan publik tetap ditempatkan di Jakarta.(jpnn)

PT Sergap 17 Gelar Gada Pratama untuk Tingkatkan Profesionalisme Satpam

0

batampos.co.id – Guna meningkatkan profesionalisme Satuan Pengamanan (Satpam) PT Sergap 17 mengadakan pelatihan Gada Pratama.

Pelatihan tersebut dibuka oleh Kasubdit Satpam Polda Kepri, AKBP Rudy Sy. Idris yang dilaksanakan di kantor PT Sergap 17 di Ruko Cikitsu Blok A1 Nomor 14, Batam Kota, Senin (26/8/2019).

Manajer PT Sergap 17, Depi Rihansyah, mengatakan, kegiatan tersebut akan dilaksanakan selama 7 hari dan diikuti oleh 60 Satpam yang merupakan anggota dari PT Sergap 17.

“Kegiatan ini sengaja dilakukan sebagai bentuk kepedulian PT Sergap 17 terhadap kualitas Satpam kita,” katanya.

Kata dia, kegiatan itu diadakan agar para Satpam anggota Sergap 17 mendapatkan kesempatan belajar dan melatih diri. Sehingga memiliki keterampilan dan keahlian sebagai Satpam.

“Jadi saya sangat berharap agar setiap peserta dapat menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

“Agar kelak dapat menjadi Satpam yang memiliki kompotensi, menjadi Satpam yang andal dan profesional,” katanya lagi.

Menurutnya, tujuan utama pelatihan itu untuk menghasilkan Satpam yang memiliki sikap mental yang baik, berkarakter dan bermartabat dalam melakukan tugasnya di lapangan ketika bekerja.

“Dengan pelatihan ini kami harapkan para peserta nantinya dapat menjadi Satpam yang disiplin, jujur, memiliki sikap dan mental yang baik,” paparnya.

Depi menambahkan, pelatihan ini sangat penting diikuti, sebab Satpam yang berfungsi sebagai pengamanan swakarsa adalah mitra dan membantu polisi.

Kasubdit Satpam Polda Kepri AKBP Rudy Sy. Idris, Manajer PT Sergap 17 Depi Rihansyah bersama peserta Gada Pratama di kantor PT Sergap 17 di Ruko Cikitsu Blok A1 nomor 14, Batam Kota, Senin (26/8/2019). Foto: Iman Wachyudi/batampos.co.id

Para Satpam kata dia, bisa bertindak sebagai polisi di tempat kerja dan lingkungannya. Hanya saja kewenangan terbatas.

“Dalam undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 dijelaskan bahwa fungsi Satpam sebagai mitra Polri untuk membantu keamanan dalam bentuk pengamanan swakarsa,” jelasnya.

“Satpam juga harus memiliki pengetahuan, keterampilan sebagai tenaga pengaman,” ujarnya lagi.

Selain itu, sikap dan pribadi yang sopan serta santun juga menjadi bagian dari pendidikan Satpam.

“Jangan sampai, karena tidak mengetahui knowledge, keterampilan, dan sopan santun, Satpam malah menjadi pemicu keributan di perusahaan atau di lingkungan kerjanya dan Ini tentu sangat tidak diharapkan,” ujar Depi.

Diklat ini kata Depi menjadi legalitas, kompetensi, dan wajib diikuti seorang yang berprofesi sebagai satpam.

Direktur Utama PT Sergap 17, Mayor SS mengatakan, PT Sergap 17 selain sebagai penyelenggara, perusahaannya merupakan Badan Usaha Jasa Pengamanan (BUJP) juga memiliki izin sebagai Badan Usaha Jasa Pendidikan dan Pelatihan Pengamanan (BUJPP) dari Mabes Polri.

“Komitmen kami sebagai perusahaan yang bersertifikasi ISO 9001:2015 adalah menciptakan Satpam-Satpam yang terampil, disiplin, jujur, rajin dan berdedikasi tinggi dalam mengemban tugas dan tanggungjawabnya,” kata Mayor.

Saat ini, kata Mayor, sudah 90 persen Satpam PT Sergap 17 sudah mendapatkan pendidikan Gada Pratama.

Guna meningkatkan pelayanan dan pengamaman, lanjutnya, PT Sergap 17 dilengkapi dengan dua unit mobil patroli, tujuh unit motor patroli dan tiga ekor anjing K9.

“Nanti di bulan Oktober kami juga akan mengadakan Gada Madya untuk tingkat Danru, pesertanya diperkirakan ada 50 orang,” ujarnya.

“Kami berterimakasih kepada perusahaan yang telah mempercayakan keamanannya kepada PT Sergap 17,” kata dia lagi.

Sementara itu, Kasubdit Satpam Polda Kepri, AKBP Rudy Sy, mengatakan, pelatihan Gada Pratama ini melibatkan 12 orang anggota Polda Kepri.

Mereka lanjutnya akan memberikan materi tentang fungsi-fungsi kepolisian terbatas, baris-berbaris, TURJAWALI (Pengaturan, Penjagaan, Pengawalan, dan Patroli ) dan pembuatan laporan.

Kemudian penangkapan dan penggeledahan, materi hukum dan undang undang, pengetahuan tentang HAM, penggunaan tongkat dan borgol, dan tugas pokok Satpam.

“Dengan Gada Pratama ini kita berharap, meraka (Satpam) menjadi tahu tugas pokoknya,” ucapnya.

Karena lanjutnya, Satpam merupakan perpanjangan tangan kepolisian.

Dengan kegiatan tersebut kata dia, para Satpam yang mengikuti teregistrasi sesuai dengan kualifikasi gada pratama dan memiliki kartu anggota Satpam.

“Dengan pelatihan ini mereka mendapatkan legalitas sebagai Satpam dan PT Sergap 17 termasuk BUJP yang tertib dan secara rutin melakukan pelatihan untuk satpamnya,” paparnya.

“Bahkan saya cek saat ini sudah 90 persen anggotanya yang sudah ikut pelatihan,” jelas Rudy.(iwa)

Pemilik Sabu 38,66 Kilogram yang Dikendalikan Narapidana Diburu Polisi

0

batampos.co.id – Jajaran Satres Narkoba Polresta Barelang masih melakukan pemeriksaan terhadap empat tersangka, yakni LOF, 26, JA, 36, PES, 43 dan TI, 36, yang ditangkap beberapa waktu lalu.

Polisi juga kini memburu pemilik maupun donatur pengiriman narkotika jenis sabu seberat 38,66 kilogram (kg) dari Malaysia.

Kasat Narkoba Polresta Barelang, AKP Abdul Rahman, mengatakan, sabu itu dikendalikan oleh PES yang merupakan tahanan Lapas Narkotika Kelas IIA Tanjungpinang atas kasus penyelundupan 20 ribu butir ekstasi tahun 2015 lalu.

Sari pengakuan PES kepada penyidik, ia merupakan orang yang mengendalikan pengiriman narkoba tersebut.

”Yang di Lapas ini hanya mencari orang siapa yang bisa dia kendalikan di luar,” jelasnya.

“Jadi dia telepon kenalan-kenalan dia ini, mereka ini sama-sama mantan napi disitu (Lapas Narkotika Tanjungpinang, red) jadi mereka sudah saling kenal,” ujar Rahman.

ilustrasi sabu

Dari pengakuan PES, penyidik Satres Narkoba Polresta Barelang kemudian mendalami keterangannya.

Dari keterangan yang didapat, PES tidak pernah bertemu sama sekali dengan pemilik barang atau donatur pengiriman barang tersebut.

Selama ini, antara PES dengan pemilik barang hanya berkomunikasi dengan menggunakan ponsel.

”Jadi dia panggil pemilik barang (sabu) ini Bang SBY. Dan Bang SBY ini nama panjangnya dia kurang tahu karena belum pernah jumpa,” jelasnya.

“Kenapa panggilan SBY? Karena kemungkinan keberadaannya di Surabaya, makanya dipanggil SBY,” jelasnya lagi.

Rahman menegaskan, sampai saat ini pihaknya masih bekerja keras untuk memecahkan teka-teki pemilik barang dan donatur pengiriman dari Malaysia ke Jakarta yang bernama SBY tersebut.

Selain mengungkap identitas SBY, pihaknya juga tengah mencari keberadaan SBY, termasuk ke Surabaya yang diduga tempat persembunyian SBY.

”Tetap kita lakukan penyelidikan, tetap kita dalami keterlibatan Putra ini sampai dimana, dan juga keterlibatan SBY ini tetap kami dalami,” kata dia.

“Siapa sebenarnya orang ini. Yang jelas, untuk penyidikan terus berjalan, pemeriksaan saksi-saksi dan semuanya tetap berjalan,” imbuhnya lagi.(gie)

Kerja Sama BPJS dengan Tiongkok Baru Sebatas Pembicaraan

0

batampos.co.id – Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa belum ada satu pun kerja sama yang disepakati antara perusahaan asal Tiongkok Ping An Insurance dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Pernyataan Luhut ini sekaligus menjawab banyak spekulasi yang beredar akan kerjasama Pemerintah RI dan Tiongkok dalam hal asuransi kesehatan.

Luhut menjelaskan, kerja sama BPJS Kesehatan dengan Ping An baru sebatas pembicaraan yang tercetus pada pertemuannya dengan salah satu pemimpin Ping An Insurance saat kunjungannya ke Tiongkok pada bulan lalu.

”Dari perbincangan tersebut terungkap perusahaan asuransi berbasis daring ini menggunakan teknologi kecerdasan buatan dan telah sukses membantu efiensi bisnis mereka,” jelas Luhut, Minggu (25/8/2019).

“Perusahaan publik ini memelopori menggunakan sistem manajemen kesehatan berbasis teknologi di 282 kota di Cina,” kata dia.

Menurut mereka, layanan ini telah dimanfaatkan lebih dari 403 juta orang. Pada pembicaraan tersebut pihak Ping An menyampaikan beberapa saran yang bisa dilakukan oleh BPJS untuk mengatasi defisitnya yang diperkirakan mencapai Rp 28,4 triliun.

Menurut  Luhut, saat itu ia menyarankan agar pihak Ping An bertemu langsung dengan BPJS Kesehatan.

Masyarakat mengantre di kantor BPJS Kesehatan Cabang kota Batam. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Untuk membicarakan apa saja yang bisa diterapkan atau ditingkatkan lagi untuk efisiensi atau bahkan memperkecil defisit BPJS yang jumlah pesertanya saat ini mencapai lebih dari 222 juta.

Ia berharap perusahaan ini bersedia berbagi pengalaman mereka yang telah sukses mengelola asuransi kesehatan bagi peserta yang jumlahnya lebih banyak dari peserta BPJS.

Luhut mengatakan, ia memahami benar bahwa BPJS ini tidak masuk dalam lingkup bidang kerjanya, tetapi dari pertemuan itu, Ia -sebagai warga negara Indonesia- berharap Ping An bisa memberi masukan atau sumbang saran.

Grup Ping An mengelola jasa keuangan pada tiga divisi yaitu asuransi, investasi, dan perbankan dengan aset mencapai US$1,3 triliun.

Divisi asuransi Ping An Insurance adalah  perusahaan asuransi terbesar di Tiongkok dengan kapitalisasi pasar sebesar US$ 230 miliar.

Sebagai tindak lanjut, pekan ini Luhut telah  bertemu dengan  Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris.

Pada kesempatan tersebut, Fachmi  menyampaikan bahwa ada beberapa hal yang perlu dilakukan, antara lain pembenahan sistem teknologi, regulasi dan penegakan hukum untuk meningkatkan kepatuhan pembayaran iuran dari para peserta.

Lalu pihak Ping An memberi saran kepada BPJS, yang pertama dilakukan adalah mengevaluasi sistem teknologi informasi yang dimiliki BPJS.

Dari sana baru bisa diketahui apa yang menjadi kelemahan badan asuransi ini dan bagaimana memperbaikinya.

Menurut Luhut, BPJS sebagai lembaga asuransi dengan ratusan juta peserta, sangat paham bagaimana melindungi data pesertanya agar tidak bocor ke pihak lain.

Jadi yang terjadi saat ini baru pembicaraan dan saran dari mereka, tidak ada satupun keputusan yang dibuat.(tau/jpg)