Kamis, 23 April 2026
Beranda blog Halaman 11054

Aset Daerah Dikuasai Individu

0

batampos.co.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan banyak aset Pemerintah Daerah (Pemda) di Kepri yang dikuasai oleh individu, baik berupa bangunan maupun tanah. Atas dasar itu, KPK mendorong penuntaskan persoalan aset secepat mungkin.

“Dalam kegiatan rekonsiliasi permasalahan aset daerah antara Pemprov Kepri, Pemko Batam, Pemko Tanjungpinang, Pemkab Bintan, dan Pemkab Karimun ditemukan beberapa persoalan,” ujar Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, Kamis (25/7).

Disebutkannya, persoalan yang terjadi adalah proses hibah atau serah terima aset antarpemda yang belum klir. Kemudian ada juga disebabkan per­­masalahan dobel pencatatan atau klaim aset antarpemerintah daerah. Berikutnya permasalahan aset daerah yang masih dikuasai pihak lain yang tidak berhak, baik perorangan atau masyarakat.

“Terkait dengan dobel pencatatan atau klaim, Pemprov Kepri mencatat terdapat 15 aset dengan nilai perolehan sebesar Rp 22,16 miliar berupa tanah dan bangunan yang juga tercatat di Pemkab Bintan, Pemko Batam, atau Pemko Tanjungpinang,” jelas Febri.

Masih kata Febri, untuk di Batam aset tersebut berupa tanah perumahan di Belakangpadang dua persil dengan luas sekitar 800 m2. Kemudian dua persil tanah bangunan di Kartini, Sekupang, dengan luas total sekitar 9.500 m2.

Sedangkan di Tanjungpinang dan Bintan, di antara aset tersebut berupa tanah bangunan di Jalan Merdeka seluas 3.256 m2. Selain itu ada juga tanah bangunan di Jalan Tugu Pahlawan seluas 1.950 m2 dan di Barek Motor seluas 525 m2. Lalu tanah bangunan di Jalan Riau sebanyak tiga persil dengan total seluas 1.600 m2, tanah bangunan di Desa Kawal seluas 3.000 m2, dan tanah di Jalan Sultan Mahmud seluas 7.690 m2.

Menurut Febri, saat ini telah disepakati tindak lanjut penyelesaian aset melalui proses hibah dari Pemprov Kepri ke Pemko Batam dan Pemko Tanjungpinang terhadap aset-aset yang sudah dimanfaatkan oleh Batam dan Tanjungpinang sesuai dengan prosedur dan peraturan. Berikutnya proses hibah dari Pemkab Bintan ke Pemprov Riau dan Pemko Tanjungpinang dilakukan secara bertahap sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku.

“Dilakukan kembali pencatatan, valuasi, pengukuran maupun pencocokan data-data aset yang berbeda antarpemda dalam rangka pelaksanaan proses hibah yang clear dan clean,” jelasnya lagi.

Mantan Aktivitas ICW tersebut juga mengatakan, mekanisme lainnya adalah, aset yang masih ada tarik menarik antarpemda karena nilainya yang strategis akan dilakukan pembahasan lebih intens dengan penetapan target penyelesaian 1 bulan hingga akhir tahun. Dengan prinsip tidak merugikan kedua belah pihak.

Selanjutnya, terkait dengan permasalahan penguasaan aset Pemprov Kepri oleh masyarakat, perorangan sebanyak tujuh persil dengan total luas hampir 900 ribu m2 dan total harga perolehan sekitar Rp 46,73 miliar dilakukan secara persuasif dan juga melibatkan Asdatun Kejati Kepri. Demikian juga permasalahan penguasaan aset di Bintan maupun Tanjungpinang oleh pihak lain yang tidak berhak, diperlakukan sama seperti Pemprov Kepri.

Febri menambahkan, tidak hanya antarpemerintah daerah, KPK juga mendorong penyelesaian masalah aset antara pemerintah daerah dengan BUMN, yaitu PT Timah dan dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam sebagai badan yang diberi wewenang melakukan pengusahaan di Batam.

Dikatakan Febri, dalam pertemuan tersebut pembahasan dilakukan untuk beberapa masalah yang dihadapi saat ini. Karena masih terdapatnya aset Pemkab Karimun hasil perolehan hibah dari PT Tambang Timah yang proses hibahnya tidak sempurna.

Terdapatnya perubahan kebijakan terkait pengamanan aset di PT Timah sebagai efek dari bergabungnya perusahaan tambang dalam satu holding (PT INALUM). Terdapatnya perbedaan data luasan aset hibah PT Timah yang tercatat di Pemkab Karimun dengan yang tercatat di PT Timah.

“Dengan jumlah aset 4 titik berbentuk eks kantor bupati, kantor DPRD, TK, dan SD Negeri dan total luas lebih dari 60.000 m2 serta nilai aset (perolehan) hampir Rp 10 Miliar, pertemuan menghasilkan beberapa kesepakatan,” papar Febri.

Sementara terkait aset Pemprov Kepri, KPK fokus pada permohonan terhadap tiga jenis aset meliputi 42 item bangunan, antara lain rumah dinas, kantor, arsip kantor, kantor Graha Kepri, 26 SMA/SMK/SLB negeri Batam, dan pusat layanan autis), pelabuhan Ex Camp Vietnam di Sijantung serta alat transportasi kapal cepat.

Sementara pembahasan dengan Pemkot Batam fokus kepada enam tahap permohonan hibah Pemko Batam kepada BP Batam yang meliputi aset tanah dan bangunan fasilitas umum dan perekonomian. Aset fasilitas umum dan rumah dinas, aset 1.000 ruas jalan, aset fasilitas umum, perekonomian, kantor, dan lainnya.

Menurut Febri, setelah pertemuan diperoleh kesimpulan BP Batam sudah menyelesaikan sebagian permohonan hibah dari Pemko Batam, terutama untuk tahap 1. Lalu penyelesaian administrasi untuk tahap 2 dan penyesuaian data BMN (jalan) untuk tahap 3. Permohonan tahap 4 sampai 6 belum diusulkan ke Menteri Keuangan dan perlu lebih dahulu dibahas dalam Rapat Dewan Kawasan.

Dalam kegiatan ini KPK membuat kesepakatan dengan pemerintah daerah yang terlibat, PT Timah, dan BP Batam menetapkan tenggat waktu penyelesaian masing-masing rencana aksi dan akan memantau penyelesaiannya.

“KPK juga tetap memberikan komitmennya dalam pencegahan korupsi di daerah dan terus berupaya untuk mendorong manajemen pengelolaan aset sehingga tidak dikuasai pihak lain yang tidak berhak dan bisa digunakan untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Febri.

KASUBAG Transportasi dan Akomodasi Biro Umum Provinsi Kepri, Juniarto, tiba di Mapolresta
Barelang untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi kasus suap izin reklamasi, Kamis (25/7/2019).
foto: batampos.co.id / dalil harahap

Lima Orang  Diperiksa KPK

Sementara itu, penyidik KPK kembali memeriksa sedikitnya lima orang dari berbagai kalangan terkait dengan kasus dugaan suap izin reklamasi yang melibatkan Gubernur Kepri nonaktif Nurdin Basirun. Pemeriksaan ini digelar di Mapolresta Barelang, Batam, Kamis (25/7).

Selain pejabat di lingkungan Pemprov Kepri, kelima orang yang diperiksa kemarin merupakan pengusaha. Namun mereka enggan berkomentar saat diwawancari wartawan, kemarin.

Salah satu yang diperiksa kemarin adalah Juniarto, Kepala Sub Bagian (Kasubag) Transportasi dan Akomodasi Biro Umum Provinsi Kepri.

Nama Juniarto mencuat setelah ditemukan rumah mewah atas namanya di Perumahan Anggrek Mas 2 oleh KPK. Namun pria yang akrab disapa Yon ini tak mau berkomentar terkait materi pemeriksaannya. Ia juga tidak mau menanggapi pertanyaan wartawan seputar penggeledahan rumahnya oleh KPK, Selasa (23/7) lalu.

“Nanti, nanti, nanti selesai aku kasih tahu. Aku sebentar lagi selesai, aku tidak banyak pertanyaan kok,” ujarnya sambil berjalan ke ruangan pemeriksaan di lantai tiga Mapolresta Barelang, kemarin.

Selain Yon, penyidik KPK juga memeriksa Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Provinsi Kepri, Syamsuardi. Ia selesai menjalani pemeriksaan sekitar pukul 14.45 WIB, kemarin. Namun seperti halnya Yon, Syamsuardi juga tak mau melayani pertanyaan wartawan.

“Kaki saya sakit,” ujarnya.

Sementara dari pihak swasta atau pengusaha, KPK memeriksa Kock Meng. Ia merupakan pengusaha yang diduga berada di balik suap terhadap Nurdin Basirun terkait rencana reklamasi di Tanjungpiayu, Batam. Kock Meng yang selesai diperiksa sekitar pukul 15.00 WIB lang­sung meninggalkan Mapolresta Barelang didampingi kuasa hukumnya, James Silalahi.

James mengatakan, kliennya itu diperiksa mulai pukul 10.00 WIB. Namun ia enggan menyebutkan detil materi pemeriksaan. “Ada banyak pertanyaan. Nanti kami hubungi lagi,” ujarnya.

Sementara Kapolresta Barelang Kombes Hengki mengatakan, penggunaan ruangan di lantai tiga Mapolresta Barelang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan pihaknya hanya memfasilitasi tempat untuk dilakukan pemeriksaan oleh penyidik KPK.

Untuk jumlah personel yang diturunkan untuk melakukan pengamanan, pihaknya hanya menyesuaikan dengan kebutuhan.

“Yang jelas, kami mendukung semua kegiatan mereka yang ada di sini. Kami hanya memfasilitasi tempat,” katanya. (gie/jpg)

Kejaksaan Dalami Proyek RSUD Dabo

0

batampos.co.id – Sejumlah proyek yang bersumber dari dana APBD Lingga 2018 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dabo Singkep menjadi sorotan pihak penegak hukum.
Tidak hanya kepolisian yang hampir selesai menangani kasus raibnya dana Jasa Pelayanan (Jaspel) kesehatan, saat ini Kejaksaan Negeri Lingga juga sedang mendalami kasus salah satu proyek 2018.

Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Yosua PL Tobing membenarkan pihaknya sedang melakukan proses hukum terkait salah salah satu proyek yang menggunakan dana APBD Kabupaten Lingga.

Segala proses sedang berjalan, namun pria berkacamata itu tidak dapat memberikan keterangan lebih banyak.

“Benar kami sedang melakukan penyelidikan, namun kami belum dapat memberikan informasi lebih lanjut karena masih dalam sidik,” kata Yosua saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.

Dari informasi yang dihimpun Batam Pos ada sejumlah proyek pengerjaan di RSUD yang diselidik. Salah satunya proyek pengecatan dengan pagu anggaran hampir Rp 1 miliar yang dinilai terlalu besar sehingga tidak menutup kemungkinan ada pelanggaran hukum di dalamnya.

RSUD Dabo

Sedangkan, kasus raibnya dana Jaspel pihak kepolisian dalam hal ini Satreskrim Polres Lingga tengah mengambil keterangan serta berkas dari pakar Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Ini dilakukan karena RSUD sudah berstatus BLUD.

“Saat ini masih banyak kegiatan, setelah ini kami akan minta keterangan ahli BLUD,” ujar Kasat Reskrim AKP Rangga Primazada melalui kanit tipikornya.

Sebelumnya, kasus Jaspel ini mencuat setelah sejumlah karyawan RSUD, baik dokter hingga perawat resah karena dana Jaspel yang merupakan hak mereka tidak kunjung diserahkan pihak RSUD Dabo Singkep. Dana yang raib tersebut tidak sedikit, mencapai Rp 1,7 miliar.

Di tempat terpisah Ketua DPC Lembaga Anti Korupsi Indonesia (LAKI) Kabupaten Lingga Azrah mendukung penuh tindakan penegak hukum untuk memberantas tindak pidana korupsi yang berujung pada kehancuran Bunda Tanah Melayu ini.

Pria berambut cepak ini meminta kepada penegak hukum agar mempercepat proses hukum sesuai ketentuan.

“Kami juga bertanggungjawab atas daerah ini untuk lebih bersih lagi dari tindak pidana korupsi,” kata Azrah, Kamis (25/7) pagi. (wsa)

Pinjaman CSR Pertamina untuk UMKM Natuna

0

batampos.co.id – Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan UMKM Pemkab Natuna Agus Supardi mengatakan, program pinjaman yang sudah diberikan kepada 10 pelaku UMKM dari program CSR Pertamina harus dikembalikan untuk digulirkan.

Pinjaman CSR Pertamina ini, kata Agus Supradi, baru dilaksanakan di tahun 2018 lalu sebagai perdana. Terdapat 10 pelaku usaha kecil dan menengah menerima bantuan pinjaman.

”Bantuan pinjaman produktif ini ada batas waktunya, tiga tahun harus lunas dikembalikan. Supaya program CSR ini terus bergulir kepada pelaku usaha lainnya,” kata Agus Supardi, Kamis (25/7).

ilustrasi
foto: putut ariyotejo / batampos.co.id

Pelaku UMKM yang dapat pinjaman kata Agus Supardi, merupakan pelaku usaha yang produktif setelah dilakukan seleksi dari tim Pertamina. Sebelumnya terdapat 24 pelaku UMKM yang lolos seleksi administrasi, dari 50 proposal pinjaman yang diterima.

Supardi mengatakan, UMKM yang menerima bantuan pinjaman bergulir produktif ini rata-rata dari kalangan keluarga nelayan, yang mengembangkan usaha produktif seperti makanan olahan.

”Rata-rata keluarga nelayan menerima bantuan pinjaman. Ada pengolahan kerupuk ikan, makanan, sembako dan lainnya. Tahun ini sasaran UMKM masih di wilayah Kecamatan Bunguran,” jelasnya.

Pinjaman produktif dari program CSR pertamina ini sambungnya, bervariasi sesuai kondisi usaha. Mulai dari Rp 30 juta hingga Rp 75 juta.

Sementara di 2019 ini, pemerintah daerah masih menunggu kelanjutan program tersebut.

”Pinjaman cukup besar untuk mengembangkan usaha kecil. Tapi pinjaman itu harus dicicil dengan batas waktu tiga tahun harus lunas,” ujarnya. (arn)

Pasar Ikan Tsukiji Belokasi di Gudang Es Milik Pemkab

0

batampos.co.id – Persiapan pembangunan Pasar ikan Tsukiji di Ranai masih dilakukan pemerintah daerah Natuna. Dinas Perikanan terus melakukan koordinasi dengan dinas teknis terkait pengurusan izin.

Kepala Dinas Perikanan Pemkab Natuna Zakimin Yusuf mengatakan, lokasi pembangunan pasar ikan sudah ditetapkan di gudang es pemerintah yang lokasinya berdekatan dengan pasar tradisional Ranai.

Menurut Zakimin, pemerintah dapat dukungan dari program Kementerian Kelauatan dan Perikanan bersama Japan International Cooperation Agency (JICA). Di mana pemerintah daerah menyiapkan sarana dan prasarana pendukung. Salah satunya membangun jalan sebagai akses menuju pasar ikan.

“Pembangunan jalan akan menggunakan dana APBD Natuna,” kata Zakimin, Kamis (25/7).
Menurut Zakimin, agar pasar ikan ini bisa berkembang, harus didukung dengan kondisi akses jalan yang bagus. Bahkan menurutnya, akan dibangun dengan akses jalan dua jalur.

“Akses dua jalur itu harus dibangun pemerintah daerah, karena pasar ini selain ikan, ada pusat jajanan dan kuliner dengan anggaran Rp 46 miliar,” sebut Zakimin.

Dalam target Kementerian Kelautan dan Perikanan sambungnya, segala perizinan sudah rampung di 2019 ini. Ini dilakukan mengingat akan ada reklamasi pantai dengan panjang sekitar 65 meter ke arah laut.

“Mewujudkan ini dinas teknis dapat terus bekerjasama dan saling berkoordinasi agar berbagai persoalan yang muncul dapat diatasi dengan cepat,” ujarnya. (arn)

Jenazah Jaminah Linda Telah Ditemukan

0

batampos.co.id – Bersama pihak KBRI mereka menuju rumah sakit di Selangor tempat jenazah almarhumah disemayamkan untuk proses identivikasi.

Perpustakaan Pemko Batam Sepi Pengunjung

0

batampos.co.id – Perpustakaan menjadi tempat favorit bagi si kutu buku.

Selain banyak pilihan diperpustakaan kita juga dapat dengan mudah memperoleh bacaan yang sesuai dengan keinginan.

Sayangnya hal itu tidak ditemukan di perpustakaan milik Pemko Batam.

Saat batampos.co.id bertandang ke sana, pada Kamis (25/7/2019), tidak ada satu pun petunjuk mengenai buku yang tersusun di rak-rak buku.

 

Tidak hanya itu perpustakaan yang berada di lantai 4 Gedung Bersama Kota Batam itu sepi pengunjung.

Hampir sekitar dua jam batampos.co.id berada di sana, tidak ada satu pun orang yang datang.

Salah satu dinding di lantai 4 Gedung Bersama ditempelkan spanduk ajakan untuk membaca buku. Foto: Dhiyanto/batampso.co.id

Padahal koleksi buku di perpustakaan Pemko Batam termasuk cukup lengkap. Bahkan banyak keluaran terbaru.

Salah satu yang menarik perhatian batampos.co.id adalah buku berjudul 40 Tahun Oom Pasikom: Peristiwa dalam Kartun Tahun 1967-2007.

Salah satu koleksi buku milik perpustakaan Pemko Batam yang berada di lantai 4 Gedung Bersama. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

Buku ini menyampaikan berita dalam bentuk karikatur. Ide ceritanya terinspirasi dari kehidupan masyarakat.

Ketika membaca buku itu, batampos.co.id hanya bisa tersenyum kecut dan seakan menertawakan diri sendiri.

Anda penasaran dengan koleksi buku di perpustakaan milik Pemko Batam?

Datang saja ke gedung bersama Pemko Batam. Perpustakaannya buka muliai Senin hingga Jumat.

Mulai pukul 08.00 hingga 15.30 WIB pada Senin hingga Kamis dan Jumat pukul 08.00 hhingga pukul 16.00 WIB.(nto)

Direksi ATB Akan Mendongeng pada ATB-BP Batam Festival Hijau

0

batampos.co.id – Lain dari biasanya, tahun ini Direksi PT Adhya Tirta Batam (ATB) akan mendongeng untuk anak-anak di kegiatan ATB-BP Batam Festival Hijau 2019. Dongeng yang akan dibawakan oleh Direktur Keuangan ATB Asriel Hay ini sekaligus untuk memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan.

”Direksi ATB melihat pentingnya menanamkan edukasi kepada anak-anak sejak dini. Kegiatan ini sekaligus memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh di bulan Juli ini,” ujar Head of Corporate Secretary ATB Maria Jacobus.

Aksi Direksi ATB mendongeng untuk anak-anak itu digelar di Atrium Kepri Mall, Sabtu (27/7) pukul 11.30 WIB. Ini merupakan kesempatan langka, dimana anak-anak bisa berinteraksi langsung dengan jajaran direksi ATB.

Dongeng yang nantinya dibawakan Asriel, lanjut Maria, akan mengisahkan perjalanan pasukan Blu-blu di Negeri Madani yang dikemas secara interaktif. Asriel akan membawakan kisah ini dengan perpaduan tampilan visual yang menarik sehingga semakin menyenangkan.

F. DOKUMENTASI ATB UNTUK BATAM POS
Direktur Keuangan PT ATB Asriel Hay (kiri) tampak hangat bersama anak-anak di kegiatan ATB, beberapa waktu lalu. Asriel akan mendongeng di kegiatan ATB–BP Batam Festival Hijau 2019.

Selain itu, akan ada hadiah-hadiah menarik menanti anak-anak yang dapat menjawab pertanyaan yang dilemparkan di sela-sela cerita.

”Kemasannya sangat menarik, karena ada visualisasi yang akan mendukung cerita. Banyak hadiah menariknya juga,” jelasnya.

Kegiatan mendongeng ini menjadi salah satu upaya ATB untuk menanamkan sikap cinta lingkungan kepada anak sejak dini. Mulai dari pentingnya membuang sampah pada tempatnya, pentingnya peran hutan terhadap sumber daya air dan lain sebagainya.
ATB berharap, para orangtua dapat mengajak anak-anak mereka untuk mengikuti kegiatan ATB-BP Batam Festival Hijau 2019, karena kesadaran untuk menghemat air harus ditanamkan sejak kecil demi masa depan generasi mendatang.

Menurutnya, jika perilaku cinta lingkungan sudah tumbuh sejak kecil, maka ke depannya kultur ini akan terus berkembang dan membawa dampak positif terhadap kelestarian alam dan masa depan air di Batam.

”Kami punya tanggung jawab moral untuk mewariskan perilaku positif ini kepada generasi kita mendatang,” ungkap Maria. (nji)

Inilah…… The Hood Foundation

0

batampos.co.id – Tergerak dalam kepedulian sesama masyarakat, enam putra Hood bin Dahlan (almarhum) yakni

  1. Herizal Hood,
  2. Huzrin Hood,
  3. Herman Hood,
  4. Hardi S Hood,
  5. Husnizar Hood,
  6. Hendri K Hood,

Mereka mendirikan Yayasan Keluarga Bin Hood (The Hood Foundation) di Ruko Greenland Blok C Nomor 9, Batam Center, yang dikukuhkan melalui penandatangan akte notaris bersama Notaris H Novain Pribadi, Kamis (25/7).

”Kami bersaudara yang kini tinggal berenam ini dengan latar belakang profesi berbeda-beda, berniat untuk membesarkan yayasan keluarga ini, terutama dalam hal pendidikan, kesehatan, dan sosial,” kata Ketua The Hood Foundation Hardi S Hood, kemarin.

Anak keempat dari 11 bersaudara itu, mengaku punya program jangka panjang dalam mendirikan PAUD, pesantren, hingga perguruan tinggi sebagai tempat menuntut ilmu yang diakui untuk anak-anak kurang mampu. Dengan berbagai latar belakang keilmuan Hood bersaudara, masing-masingnya juga akan mengembangkan keilmuan itu melalui program nan inovatif.

”Seperti saya yang juga penulis dapat membantu para penulis di Kepri agar bisa menerbitkan bukunya. Begitu juga dalam hal kebudayaan, keagamaan, lingkungan hidup, pelatihan, dan lain sebagainya,” terang Hardi.

Hood bersaudara. Dari kiri, Herizal Hood, Huzrin Hood, Herman Hood, Hardi S Hood, Husnizar Hood, dan Hendri K Hood, mengukuhkan The Hood Foundation melalui penandatangan akte bersama Notaris H Novain Pribadi, di Ruko Greenland Batam Center, Kamis (25/7).
foto: batampos.co.id / FEBBY ANGGIETA PRATIWI

Pihaknya juga merancang program untuk mengapresiasi para tokoh di Kepri melalui Hood Award, atau melakukan riset-riset melalui Hood Institute yang dikembangkan yayasan.

Sementara untuk jangka pendek, lanjutnya, akan banyak difokuskan dengan kegiatan bersosial dalam membantu sesama bahkan menjalin hubungan dengan negara tetangga, khususnya Singapura dan Malaysia.

The Hood Foundation yang berada di ruko lantai dua tersebut, dibagi dengan konsep yang lebih nyaman dengan memposisikan lantai satu sebagai kafe, dan lantai dua sebagai sekretariat.

”Bersama The Hood Foundation, kita tumbuhkan kepedulian sesama,” ungkap Hardi yang juga anggota DPD RI. (nji)

Kenal Dekat dengan Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI

0

Destry adalah sosok ramah. Dia bisa dengan mudah membuat obrolan menjadi hangat. Di balik itu, tidak ada yang meragukan kapasitasnya dalam industri keuangan. Presiden memercayai dia menjadi pejabat BI-2, menggantikan Mirza Adityaswara yang memasuki masa pensiun per 25 Juli mendatang.

”Sebagai calon tunggal, ya gampang-gampang susah. Karena artinya saya memikul beban bahwa presiden memberikan kepercayaan kepada saya,” ujarnya di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Selasa (16/7) lalu.

Perempuan 55 tahun tersebut mengaku sama sekali tidak menyangka bakal menduduki posisi prestisius di lembaga otoritas moneter itu. Ibu tiga anak tersebut menceritakan, sejak dulu pembawaannya cenderung easy going. Di masa muda Destry adalah pemain tenis profesional.

Rangkaian kompetisi, baik di dalam maupun luar negeri, pernah dia jajal.

Selulus SMA, Destry mendaftar ke Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia (UI). Sayang gagal. Dia kembali bermain tenis. Setahun berikutnya, Destry kepikiran untuk daftar kuliah lagi. ”Karena jadi atlet saya juga nggak hebat-hebat amat,” ujarnya.

Meski hanya mempersiapkan diri tiga bulan sebelum ujian, Destry lolos diterima di Ilmu Ekonomi UI. Perempuan kelahiran 16 Desember 1963 itu tergolong mahasiswa populer. Otaknya encer, juga supel dan aktif di bidang olahraga. Dia bisa melakukan semua olahraga, kecuali dua. ”Senam dan gerak jalan,” ungkapnya.

Masih menjadi mahasiswi, Destry sudah mengajar sebagai asisten dosen plus asisten peneliti di Harvard Institute for International Development (HIID). Pada Januari 1989 Destry lulus. Di tahun yang sama, dia melepas masa lajang. Tidak lama kemudian, Destry mengikuti suami yang tengah menempuh pendidikan di Cornell University New York. Destry juga mencari beasiswa agar bisa melanjutkan studi di kampus yang sama.

”Alhamdulillah dapat. Jurusannya regional science. Tentang bagaimana terbentuknya suatu daerah,” urainya.

Lulus 1992, Destry kembali ke tanah air dan bekerja di Kementerian Keuangan. Lima tahun kemudian, dia melepaskan karir dan bergabung dengan bank swasta asing Citibank. Karirnya sebagai ekonom dimulai dari sana.

Destry Damayanti

”Saya masuk Citibank saat Indonesia krisis moneter. Bisa dibayangkan lah gimana situasinya saat itu,” kenangnya.

Pada 1999 Destry melahirkan anak ketiga. Jam kerja yang panjang membuat dirinya berpikir ulang untuk meneruskan karir. Pada 2000 dia keluar dari Citibank dan menjadi senior economic adviser untuk duta besar Inggris di Indonesia. Tujuannya, waktu untuk keluarga menjadi lebih banyak.

Namun, lagi-lagi Destry galau. Putri pertamanya yang juga atlet tenis tengah rajin mengikuti turnamen. Destry tak tega putrinya bepergian sendiri. Dia pun resign.

”Bagaimanapun, family is number one. Saya jadi ibu, manajer, sekaligus partner latih tanding putri saya,” katanya.

Satu setengah tahun berikutnya, Destry mendapat cobaan berat. Karena sejumlah alasan, dia berpisah dengan suami. Ketiga anak berada dalam pengasuhannya. Mau tak mau Destry kembali bekerja. Padahal, usianya sudah kepala empat. Tapi, dari situ justru titik balik karirnya dimulai.

Destry bekerja sebagai peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI. Berjalan setahun, dia mendapat informasi bahwa Mandiri Sekuritas (Mansek) tengah mencari ekonom. Usia yang tidak lagi muda membuat Destry sempat tidak percaya diri untuk mendaftar.

”Karena Mansek itu fokusnya capital market dan itu dunia anak muda, sedangkan waktu itu saya sudah 42 tahun. Tapi, ya sudahlah, saya beranikan mencoba,” ungkapnya.
Meski harus bekerja dengan anak muda, bahkan Direktur Utama Mansek (waktu itu) Harry M. Supoyo adalah adik kelasnya di UI, Destry mampu membuktikan kapasitas. Pada 2011 Kepala Ekonom Bank Mandiri (saat itu) Mirza Adityaswara ditugaskan menjadi anggota Dewan Komisioner LPS. Destry dipercaya menggantikannya.

Pada 2014, setelah Jokowi terpilih sebagai presiden, Destry mendapat tugas sebagai ketua Satuan Tugas (Satgas) Ekonomi Kementerian BUMN. Karirnya terus melesat. Setahun berikutnya, dia ditunjuk sebagai ketua Pansel Capim KPK. Sebagai ekonom yang tidak pernah bersentuhan langsung dengan dunia hukum, penunjukan tersebut sempat membuatnya kaget. Apalagi, ketika itu Destry sedang diopname karena demam berdarah.

”Kondisi lagi jelek-jeleknya karena trombosit turun. HP bunyi terus. Akhirnya adikku yang jaga bilang, ’Mbak kayaknya penting ini.’ Aku angkat, ternyata dari Pak Teten. Dia bilang, ’Mbak Destry diminta Bapak (Presiden) jadi Pansel KPK,’” kenangnya.

Destry meminta waktu berpikir. Dia sempat menghubungi bosnya, Dirut Bank Mandiri (saat itu) Budi Gunadi Sadikin (BGS), untuk meminta bantuan agar tidak ditunjuk sebagai pansel.

”Tapi, Pak BGS malah bilang, ’Aduh Des, kalau yang nyuruh presiden, saya bisa apa?’” ungkapnya.

Destry akhirnya menerima penugasan tersebut. Saat pengumuman resmi Pansel KPK di istana, Destry dipapah adiknya karena belum pulih.

”Jadi, saya berangkat ke istana dari rumah sakit lho. Karena masih kliyengan, saya naik golf cart dari Setneg ke Istana Merdeka. Yang lainnya jalan kaki. Hahaha,” katanya.

Mampu merampungkan tugas dengan baik, Destry diminta mengisi jabatan anggota Dewan Komisioner LPS. Meski kaget, dia menerima karena penunjukan, yang sekali lagi, datang langsung dari presiden. Hampir empat tahun mengabdi di LPS, Destry diajukan sebagai calon DGS BI periode 2019–2024.

”April lalu saya dipanggil Pak Darmin (Nasution, menteri koordinator bidang perekonomian),” ucap Destry.

Diceritakan, Darmin mengajukan empat nama untuk posisi itu. Destry juga dimintai sejumlah pendapat tentang BI, regional economy, dan beberapa masalah ekonomi lainnya.

”Ya sudah, saya masukkan sebagai calon DGS BI ya. Ada beberapa nama, nanti kita serahkan ke presiden,” ujar Destry menirukan Darmin.

Destry agak melupakan pertemuan tersebut. Hingga beredar kabar, dia adalah calon tunggal. Destry menghubungi Darmin untuk meminta klarifikasi.

”Pak Darmin bilang, ’Iya calon tunggal. Pak Jokowi langsung pilih Destry. Kamu persiapkan ya semuanya.’ Saya kaget dan bingung. Tapi okelah, karena calon tunggal, saya harus tunjukkan juga bahwa saya layak,” tegasnya.

Kini Destry tinggal menunggu masa pelantikan. Di mata rekan, Destry dikenal sebagai pribadi yang cair, tapi dengan integritas tinggi.

”Dia sangat mumpuni di bidangnya. Saya turut senang Destry terpilih DGS BI. Orangnya nggak bossy. Malah saya yang lebih bossy. Hahaha,” ujar Ketua Pansel Capim KPK Yenti Garnasih. (*/c9/ayi)

Mengintip Rumah Panggung di Atas Laut Milik Warga Pesisir Tanjunguma Kota Batam

0

batampos.co.id – Kota Batam merupakan salah satu kota industri di Indonesia. Saat ini hampir di seluruh wilayah di Kota Batam berdiri kawasan industri.

Kota yang perkembangannya cukup pesat itu kini sudah memiliki sekitar 1,3 juta penduduk.

Dari jumlah penduduk itu banyak yang menetap di rumah modern. Namun tidak sedikit juga masyarakat asli Kota Batam mempertahankan rumah-rumah panggung di atas laut

Permukiman di Kawasan pesisir Tanjunguma, Lubukbaja, Kota Batam, semakin padat, Rabu (24/7). Meski dekat dengan pusat kota, namun sebagian penduduk mempertahan­kan model rumah panggung di atas laut. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

Hal itu dikarenakan Kota Batam merupakan daerah kepulauan yang dikelilingi laut.

Salah satu kawasan yang dapat Anda kunjungi untuk melihat rumah panggung tersebut ada di pesisir Tanjunguma, Lubukbaja.

Bahkan rumah panggung tersebut semakin padat. Meski dekat dengan pusat kota, namun sebagian penduduk mempertahan­kan model rumah panggung di atas laut.(esa)