BELASAN bayi dan anak-anak di Spanyol tiba-tiba menjelma menyerupai manusia serigala. Bulu di sekujur tubuh mereka mamanjang.
Orang tua mereka panik. Pemerintah pun turun tangan. Setelah diselidiki, itu memang bukan kutukan, melainkan gara-gara obat yang tertukar kemasan.
Dilansir The Guardian, bayi dan anak-anak yang mengalami sindrom manusia serigala tersebut awalnya mengalami masalah lambung. Dokter meresepkan omeprazole.
Masalahnya, isi dalam botol omeprazole itu tertukar dengan minoxidil yang merupakan obat penumbuh rambut untuk mengatasi kebotakan. (sha/c22/fal)
ATB mendistribusikan air tanki kepada pelanggan beberapa waktu lalu, perilaku berhemat menggunakan air bersih salah satu upaya menyelamatkan ketersediaan air baku bagi Batam di masa depan
Air bersih berperan menopang kehidupan manusia, sehingga langkah menghemat penggunaan air bersih mampu menyelamatkan bumi di masa depan. Bagaimana perilaku kita, masyarakat Batam dengan ketersediaan air yang terbatas?
Pulau Batam tidak seberuntung daerah lain yang kaya akan sumber air baku. Air bersih yang dikelola ATB untuk masyarakat Batam hanya mengandalkan curah hujan. Oleh karena itu, berhemat menggunakan air bersih setidaknya dapat menyelamatkan Batam di masa mendatang.
“Di banyak kesempatan kami selalu sampaikan bahwa menghemat penggunaan air bersih itu sangat penting. Apalagi Batam tidak memiliki sumber air yang melimpah. Langkah kecil menghemat air bersih dimulai dari rumah, sudah berperan menyelamatkan Batam di masa depan,” jelas Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, Sabtu (31/8).
Selain itu, tambah Maria, ATB juga kerap mengedukasi tentang seberapa penting masyarakat Batam harus menghemat menggunakan air bersih yang tersedia, di tengah ketersedian air waduk yang semakin berkurang akibat curah hujan. Sudah seharusnya Batam punya cadangan air baku untuk memenuhi kebutuhan di masa mendatang.
“Kapasitas air baku yang tersedia saat ini diperkirakan hanya akan bertahan hingga 3 tahun mendatang. Pertumbuhan penduduk dan industri di Batam perlu diimbangi dengan pertumbuhan cadangan air baku,” pesan Maria.
Sumber air baku yang dikelola ATB berasal dari lima waduk milik pemerintah. Saat ini total kapasitas terpasang berkisar 3.800 liter/detik. Dari kapasitas tersebut, ATB telah mengelola 3.300 liter/detik untuk memenuhi kebutuhan domestik dan industri.
“Cadangan air baku yang ada hanya tinggal 500 liter/detik, sementara pertumbuhan kebutuhan air bersih meningkat antara 150 hingga 200 liter per detik setiap tahunnya,” jelas Maria.
Langkah sederhana menghemat air bersih yang tersedia bisa dimulai pada lingkungan keluarga. Ibu dalam keluarga berperan besar dalam mengajarkan perilaku penggunaan air secara optimal, demi kelestarian air untuk masa depan generasi mendatang yang lebih cerah.
Lebih dari itu, menghemat air juga secara langsung dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga. Seorang Ibu dapat mulai mengubah perilaku keluarga dalam penggunaan air bersih dari sekarang secara optimal melalui pengurangan, penggunaan kembali dan pelestarian air (3P).
Menghemat penggunaan air bersih juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menutup keran wastafel ketika mencuci muka, menggosok gigi, dan bercukur. Sebisa mungkin hindari pemakaian selang untuk berkebun dan mencuci kendaraan.
Gunakan air bersih yang ditampung di ember atau wastafel untuk langkah awal mencuci piring dan kendaraan. Segera perbaiki pipa bocor atau keran rusak. Kebocoran berpotensi membuang percuma hingga 13 liter air per hari.
Pemahaman terkait penghematan air bersih juga penting karena dalam banyak kasus, air bersih di rumah terbuang sia-sia hanya karena penghuni rumah kurang memahami cara-cara sederhana pemanfaatan dan penghematan air.
“Sedikit apa pun, air bersih sepatutnya tidak dibiarkan terbuang begitu saja tanpa dimanfaatkan secara lebih optimal seperlunya. Dampak penyalahgunaan air yang lebih besar bisa berupa kerusakan lingkungan dan kelangkaan air,” ucap Maria.
Pentingnya menghemat air bersih juga dirasakan oleh pelanggan ATB di wilayah Sagulung, Lili, yang telah berlangganan ATB selama 10 tahun lebih dan cukup merasakan manfaat suplai air dari ATB. ATB menurutnya sudah cukup baik menyediakan air.
“Memang perlu untuk berhemat menggunakan air bersih yang ada agar masyarakat yang lain bisa mendapatkan air, lihat saja saat terjadi musim kemarau, air pasti terganggu, saya selalu siapkan tampungan air di rumah buat jaga-jaga,” jelas Lili
Mari selalu jaga perilaku kita menggunakan air bersih yang ada. Usaha penghematan air yang kita lakukan secara bersama-sama akan memberikan dampak besar bagi kehidupan generasi mendatang untuk menyelamatkan Batam di masa depan. (*)
Mengintip menara ATC Bandara Hang Nadim dari jendela pesawat, Jumat (30/8/2019).
AirNav Indonesia, memiliki kewenangan untuk memberikan layanan navigasi penerbangan di seluruh Indonesia.
AirNav berperan untuk menjaga keselamatan dan mengatur lalu lintas penerbangan di udara.
ATC Bandara Hang Nadim memiliki wilayah ruang udara hingga ketinggian 1.500 kaki. Sedangkan untuk ketinggian di atasnya lalu lintas udara dikendalikan oleh Approach Centre Unit (APP) di Tanjungpinang
Pesawat Lion Air lepas landas di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepri, Jumat (30/8/2019)
ATC Bandara Hang Nadim memiliki wilayah ruang udara hingga ketinggian 1.500 kaki. Untuk ketinggian di atasnya lalu lintas udara dikendalikan oleh Approach Centre Unit (APP) di Tanjungpinang.
AirNav Indonesia, merupakan satu-satunya perusahaan yang memiliki kewenangan untuk memberikan layanan navigasi penerbangan di seluruh Indonesia. Perannya sangat dibutuhkan untuk menjaga keselamatan dan mengatur lalu lintas penerbangan di udara.
AirNav Indonesiadi Bandara Hang Nadim, Batam, Kepri bekerja selama 24 jam. Rata-rata sekira 120 pesawat yang mereka layani.
Bandara udara ini paling padat lalu lintasnya di Batam karena berbatasan dengan Singapura dan Malaysia.
AirNav Indonesia, memiliki kewenangan untuk memberikan layanan navigasi penerbangan di seluruh Indonesia. Perannya sangat dibutuhkan untuk menjaga keselamatan dan mengatur lalu lintas penerbangan di udara.
batampos.co.id – Peresmian Pasar Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau yang dikenal dengan Pasar TPID diundur.
Jika sebelumnya peresmian dijadwalkan hari ini, Senin (2/9/2019), diundur hingga Senin (16/92019) mendatang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Gustian Riau, mengatakan peresmian ditunda untuk menyesuaikan jadwal Dirjen Perdagangan Dalam Negeri dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, Tjahya Widayanti.
”Tanggal 16 September dipastikan sudah terkonfirmasi kehadirannya,” kata Gustian.
Sembari menunggu, pihaknya akan melengkapi dengan berbagai penyempurnaan, terutama perihal interior pasar.
Dengan demikian, pasar ini tidak seperti pasar pada umumnya namun memiliki kekhasan dan nyaman untuk dikunjungi.
”Tiangnya kami kasih ornamen motif Batik Batam, lalu kami siapkan untuk spot foto tiga dimensi,” jelasnya.
“Ini kami lakukan supaya pasar ini enak untuk dikunjungi,” papar dia lagi.
Kabid Pasar Disperindag Batam Zulkarnain (tengah) bersama Ketua Asosiasi Distributor Bahan Pangan, Aryanto (kiri) mengecek kesiapan pasar TPID, Kamis (22/8) lalu. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id
Pasar itu kelak akan diresmikan Wali Kota Batam, Muhammad Rudi. Selain pejabat dari Kemendag, dijadwalkan hadir Deputi Bidang Pelayanan Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), Diah Natalisa.
”Karena ini terkait inovasi pelayanan publik, deputi akan hadir,” paparnya.
“Selain itu Pak Gubernur Babel (Bangka Belitung, Erzaldi) juga direncanakan hadir,” katanya lagi.
Tidak hanya itu, sejumlah perwakilan daerah lain juga akan hadir guna menyaksikan peresmian sekaligus melihat pasar TPID terlengkap karena diisi puluhan distributor pangan ini.
”Dari daerah lain juga akan hadir, seperti Jambi. Mereka ingin tahu bagaimana cara mengumpulkan distributor dalam satu pasar seperti kita,” imbuh dia.
Ia menyampaikan, distributor sendiri sudah siap. Kemarin, mereka mulai memasukan bahan pangan ke pasar yang mengambil tempat di Pasar Grand Niaga Mas Batam Centre tersebut.
”Kalau distributor sudah siap semua,” ucap dia.
Setidaknya sudah ada 60 distributor yang bergabung. Termasuk pengelola hasil tani dari Galang, serta bahan pokok dari Jambi.
Ia menerangkan, pasar ini diperuntukkan bukan untuk pedagang yang akan menjual kembali, namun masyarakat umum.
”Kami batasi hanya untuk konsumsi pribadi, dengan ini dapat membantu masyarakat ekonomi ke bawah,” imbuhnya.
Harga yang masyarakat dapatkan adalah harga distributor dan dipastikan lebih murah.
”Contohnya jika satu komoditas Rp 10 ribu per kg, ya yang dia dapat segitu, kalau di pasar lainkan malah ada yang Rp 15 ribu atau Rp 13 ribu per kg. Tentu harga distributor lebih murah,” kata dia.(iza)
DIASINGKAN, dengan kata lain dibungkam di Pulau Buru (sejak 1965 hingga 1974), pikiran Pramoedya Ananta Toer justru bergema panjang dan nyaring.
Dalam buku “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”, kumpulan tulisan yang bisa kita baca sebagai sebuah memoar, Pram menuangkan banyak gagasan. Termasuk soal pemindahan ibukota ke Kalimantan.
Dan dia setuju gagasan itu.
Kepada para buangan, di Pulau Buru, didatangkan penceramah agama dan propagandis yang mencecoki dengan doktrin-doktrin Orde Baru, penguasa kala itu.
Kritik Pram: ceramah agama yang ia dengar tak beranjak dari bahan-bahan yang sudah ia dengar di surau-surau di kampung pada masa kecilnya. Soal surga dan neraka. Dan dia bosan. Sesekali tak tahan juga dia untuk tak mengingatkan pengkhotbah yang disebutkan Pram “lebih tua sedikit dari anakku”.
Adapun terhadap indoktrinasi pembangunanisme Orde Baru Pram diam-diam mencatat gagasan tandingan.
Banyak hal menarik dari gagasan Pram. Ia menulis bahwa sudah sejak lama punya gagasan bahwa sedikitnya sebanyak dua puluh juta penduduk Jawa harus pindah ke luar Jawa setiap sepuluh tahun.
Pram memang mempersoalkan kependudukan di Jawa. Penyebaran penduduk yang tidak merata. Tapi ia tak setuju transmigrasi.
ilustrasi
Katanya, “…cara mentransmigrasi yang kurang manusiawi, kurang human, dan kurang bermartabat bagi suatu bangsa yang merdeka, yang pernah berevolusi, semestinya dihentikan.”
Cara itu, kata Pram, mengganggap orang yang harus ditransmigrasikan sebagai orang yang sudah tidak mampu cari penghidupan di Jawa, dianggap sebagai buangan sosial, kemudian disekop dan dilemparkan ke seberang got.
Menumpuknya penduduk di Jawa adalah ekses dari ratusan tahun masa penjajahan. Pram mengkritik keras kebijakan yang terpusat di Jawa, alias Jawa-Centris. Itu warisan Hindia Belanda, katanya.
Belanda kala itu menganggap Jawa adalah penentu. Ketika Pram menuliskan pendapatnya itu, di tahun-tahun akhir pengasingannya, 1975, Indonesia sudah tiga puluh tahun merdeka.
Dan warisan kesalahan Hindia Belanda itu tetap dipakai.
Padahal di akhir kekuasaan Hindia Belanda itu sendiri sudah ada koreksi. Jika Maluku adalah masa lalu, Jawa masa kini, maka Sumatera adalah masa depan.
Jawa menanggung beban berat dan semakin berat, jika tak ada kebijakan radikal untuk melepaskannya dari tekanan perkembangan yang tak tertanggungkan pulau yang hanya meliputi 6,8 persen luas wilayah Indonesia ini.
Kalkulasi Pram benar. Penduduk Indonesia berjejal di satu pulau. Sekitar 57 persen orang Indonesia ada di Jawa (sensus 2010).
Berdasarkan proyeksi penduduk Indonesia (2015-2045) menurut hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015, jumlah penduduk Indonesia pada 2019 akan mencapai 266,91 juta jiwa.
Sekitar 150 juta orang (56% lebih) berada di Pulau Jawa. Persentase yang tak bergeser banyak setelah sembilan tahun.
Pramoedya Ananta Toer
Artinya, beban ekologis-demografis Jawa semakin berat. Semua urusan bisa jadi soal besar. Urusan mudik orang di Jawa tiap tahun menguras energi dan perhatian nasional. Kehilangan lahan produktif akibat tekanan pertumbuhan penduduk semakin melaju.
Maka, kata Pram, untuk mengatasi kependudukan di Jawa hanya bisa ditempuh dengan pemikiran, sikap dan cara revolusioner.
“Bila tidak, dalam setengah abad mendatang, biar gunung-gunung tidak meledak dan banjir-banjir tidak mengamuk, Jawa sudah sulit ditinggali lagi, karena kompleknya persoalan,” ujar Pram.
Ketika Pram menulis gagasannya itu, dalam pembuangannya di Pulau Buru, 30 tahun sudah Indonesia merdeka. Ia menilai saat itu pun Sumatera sudah menjadi “masa lalu”, bukan “masa kini”, apalagi “masa depan”.
Masa depan itu, bagi Pram, adalah Kalimantan. Keluasannya. Kekayaan sumber alamnya. Tapi yang penting, apabila ibukota dipindahkan ke Kalimantan, pikiran yang Jawa-Centris akan lenyap.
“Bukan hanya membuka kemungkinan baru, juga akan membuka dimensi baru, meninggalkan kesempitan ruang, pandangan dan sikap jiwa yang sempit, dan menggantikannya dengan yang lebih besar dan luas,” ujar Pram.
Kita tahu, Kalimantan itu pulau dengan wilayah terluas di Indonesia, meliputi 28,5 persen wilayah Indonesia.
Jika ibukota dipindahkan, maka perpindahan penduduk pun akan terjadi dengan sendirinya. Mengikuti pusat pertumbuhan baru itu.
Saya setuju dengan apa yang dipikirkan oleh Pram, 44 tahun lalu itu.
Pusat pertumbuhan baru harus dikebut, diciptakan di luar Jawa. Termasuk dengan keputusan besar memindahkan ibukota.
Selain itu, kita juga sudah membaca kabar pemerintah yang menetapkan sepuluh kota (enam di luar Jawa, empat di Jawa) sebagai pusat pertumbuhan baru.
Demi meralat Jawa-Centrisme, warisan penjajah itu. Demi memeratakan kemajuan di Indonesia (hah)
batampos.co.id – Kegiatan operasi patuh seligi yang digelar gabungan oleh Polres Natuna mendapat respon positif dari pemilik kendaraan. Tidak hanya memberikan kesadaran tertib berlalu lintas, sadar pajak kendaraan pun meningkat.
Kepala Kantor Pelayanan Pajak Daerah (KPPD) Natuna, Alpiuz Zamri mengatakan, kegiatan operasi ini sangat membantu pemerintah meningkatkan penerimaan pajak kendaraan. Dan kantor pajak siap jemput bola membantu masyarakat mengurus pajak kendaraan.
”Melalui operasi patuh seligi ini kami ingin mempermudah masyarakat membayar pajak kendaraan. Kalau wajib pajak tidak sempat, kita siap membantu dengan cara menguruskannya langsung. Mereka bisa membayar di lokasi operasi,” ujarnya, Jumat (30/9).
Seperti diketahui, Polres Natuna sudah melaksanakan operasi patuh seligi dengan sasaran ketertiban lalu lintas di jalan raya dengan melibatkan TNI AD, AL, AU, KPPD dan Dishub Kabupaten Natuna.
Kasat Lantas Polres Natuna, Iptu Zubaidah mengatakan, kegiatan operasi berjalan lancar.
Bahkan petugas dilapangan tidak menemui kendala, karena pengendara cukup tertib berlalu lintas.
”Operasi ini untuk penertiban pengendara di jalan raya agar meminimalisir angka kecelakaan jalan raya,” ujarnya.
Target Operasi Patuh Seligi 2019 diantaranya, pengemudi di bawah umur, pengemudi melawan arus, pengendara bermotor roda dua yang berboncengan lebih dari satu. Tidak gunakan helm SNI, pengendara di bawah pengaruh alkohol atau narkoba, dan pengendara menggunakan ponsel serta sabuk pengaman.
”Kendaraan kebut-kebutan di jalan raya juga menjadi sasaran operasi. Sebelumnya ada beberapa kendaraan ditilang karena tidak gunakan helm,” sambungnya.(arn)