Jumat, 8 Mei 2026
Beranda blog Halaman 11099

Mencari Pemimpin Kepri ke Depan

0

batampos.co.id – Komite Pemuda Peduli Pemilu Bersih Kepri menggelar dialog interaktif pilgub Kepri 2020 di Pusat Informasi Haji Batam Centre, Jumat (9/8). Dialog terbuka untuk umum ini sebagai bentuk kepedulian masyarakat dan mahasiswa Kepri khususnya, dalam menentukan kepala daerah Kepri ke depannya.

”Pemuda dan mahasiswa harus peka terhadap politik. Artinya pasca operasi tangkap tangan (OTT) mantan gubernur kita beberapa waktu lalu tentu akan muncul figur dan poros baru yang akan bertarung sebagai calon gubernur. Untuk itulah kita harus jeli, jangan sampai kondisi seperti itu terulang lagi,” kata Ketua Komite Pemuda Peduli Pemilu Bersih Kepri Fahrul Anshori, Jumat (9/8).

Hadir dalam dialog tersebut Gubernur Kepri yang diwakili Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kepri Lamidi, Komisioner Bawaslu Kepri, tokoh politik, mantan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah serta Direktur Utama Batam Pos yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Kepri (PWI) Candra Ibrahim.

Ketua PWI Kepri Chandra Ibrahim memberikan pemaparan saat menjadi narasumber pada acara dialog interaktif menuju Pilgub Kepri 2020 yang digelar Komite Pemuda Peduli Pemilih Bersih di Pusat Informasi Haji (PIH) Batam Center, Jumat (9/8).
foto: batampos.co.id / cecep mulyana

Menurut Fahrul, lewat dialog ini nantinya diharapkan menjadi landasan dalam menentukan pilihan gubernur yang betul-betul dibutuhkan masyarakat ke depan.

”Di sini kita bertukar pikiran dan berbagi pandangan. Se­perti apa calon yang kita butuhkan. Jangan sampai apa yang melanda Kepri terulang lagi,” katanya.

Lamidi mengaku bangga dengan dialog ini. Sebab sebagai bentuk kepedulian pemuda dan mahasiswa terhadap calon gubernur Kepri ke depan.

Ia juga berpesan agar masyarakat Kepri tetap mengutamakan keamanan daerah sehingga iklim investasi di Kepri tetap terjaga.

”Beda pilihan boleh. Tapi tetap jaga keamanan dan ke-tertiban. Jangan sampai terpecah belah,” katanya.

Ketua PWI Kepri Candra Ibrahim mengutip salah satu tokoh yang menyatakan kursi gubernur Kepri seperti mawar berduri. Dia indah, cantik, berwarna-warni tetapi memiliki duri. Seperti yang terjadi baru-baru ini, Gubernur Kepri nonaktif terkena kasus operasi tangkap tangan oleh Komisi Pemberantas Korupsi (KPK).

”Dalam konteks ini kita melihat Kepri daerahnya kecil, imut. Namun, dari yang kami baca selama ini kepentingan pusat dan bahkan negara te-tangga begitu tinggi. Karena begitu daerah ingin melakukan sesuatu aturan, ada gangguan dari mana-mana. Karena magnet Kepri sangat luar biasa,” ungkap Candra.

Apalagi kalau kita melihat perairan tersibuk hari ini ada di Selat Malaka. Orang melihat selama ini ada Teluk Kera yang dipersiapkan Tiongkok dan Thailand untuk memutus mata rantai jalur yang ada di Selat Malaka. Tapi menurutnya tak mungkin juga dalam waktu dekat, walau disebut-sebut di 2025.

”Karena negara tetangga kita yang lebih kecil dari kita tentu tak akan tinggal diam. Sama hal dengan dengan pelabuhan Batuampar sampai hari yang tak selesai,” kata Candra.

Ia menambahkan, dalam kontek pemilukada Kepri yang dibutuhkan adalah persaingan secara sehat dan fair. Namun begitu Candra melihat, semuanya itu juga bergantung pada 20 Oktober 2019 atau setelah pelantikan presiden nanti. Setelah presiden dilantik, dilanjutkan pelantikan kabinet dan menteri.

Partai-partai politik pendukung pemerintah tentu akan mengirim kader-kader terbaik­nya untuk mengisi jabatan menteri tersebut.

”Contohnya kemarin Ibu Mega menegaskan PDIP wajib mendapat kursi menteri terbanyak, meski Surya Paloh sedikit kecewa. Namun, hal itu dampaknya akan ke bawah. Menurut saya terlalu dini kita menentukan pilkada, karena apa yang kita gadang hari ini belum tentu terjadi,” paparnya.

Candra menambahkan politik itu rumit. Tetapi sebagai orang yang beriman tidak ada salahnya untuk berikhtiar dan berusaha. ”Tapi satu kita ingat tidak ada harga mati di politik. Politik itu dinamis dan selalu bergerak,” tegas Candra.

Dalam dialog itu juga dilakukan tanya jawab. Mantan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah turut mengajukan pertanyaan yang diajukan kepada Ketua PWI Kepri Candra Ibrahim.
Bunyi pertanyaannya, ”Apa yang salah dari berbagai pilkada selalu dirasakan curang oleh masyarakat? Bagaimana cara mengatasinya? Apakah kita masih yakin sipil bisa mengawasi sipil?

Direktur Umum Batam Pos itu menjawab, pertanyaan Pak Ismeth penting dan menarik. Kuncinya di regulasi. Undang-undang dibuat mereka yang di Senayan. Digodok bersama parpol dengan pemerintah. Nah, parpol biasanya cende-rung membuat UU yang me-nguntungkan mereka.

Misalnya soal aturan ASN harus mundur jika ikut pilkada. Ada lagi soal silang kalau eksekutif ke legislatif harus mundur. Begitu juga sebaliknya. Itu pun setelah diajukan ke MK.

Aturan sebelumnya, lanjutnya, cenderung menguntungkan orang-orang parpol. Nah, bagaimana cara agar pilkada tidak curang, jalan terbaik pakai e-voting. Kalau ragu IT bisa kena hack, ciptakan pe-ngamanan berlapis. Memang mahal, tapi kan lebih mahal jembatan Babin atau bahkan lebih mahal biaya pemindahan ibukota negara.

”Tapi pemerintah kan lebih suka membangun infrastruktur dibanding membangun sistem demokrasi. Padahal, dari demokrasi yang sehat akan keluar pemimpin-pemimpin daerah atau pemimpin daerah yang baik pula. Yang tidak akan neko-neko ketika memerintah,” jawab Candra.

Ari Widodo, peserta dialog lainnya juga mengajukan pertanyaan ke Candra. Bunyi pertanyaannya adalah ”OTT gubernur Kepri disebut merubah peta politik Kepri? Sejauh mana dia mempengaruhi dan mengubah peta politik Kepri? Candra menjawab, tidak ada yang tidak mungkin dalam politik. Ketika ditanya sejauh mana memengaruhi, jawabannya sangat meme-ngaruhi perpolitikan di Kepri.

“Contohnya ketika Pak Nurdin digadang akan maju seba-gai Kepri satu, setelah OTT KPK namanya hilang. Terus siapa pengganti beliau? Saat ini ada nama pak Isdianto sebagai Plt, karena pak Nurdin belum final kasusnya.  Nasdem tentu akan mencari calon terbaiknya. Karena sesuai survei yang dilakukan Januari 2019 lalu, posisi Nurdin masih di tangga pertama, disusul Pak Rudi, Anshar Ahmad, dan Asman Abnur. Pengantinya yang paling dekat pak Rudi, apakah pak Rudi maju ke Kepri 1 belum tentu, karena kita tidak bisa menebak-nebak,” terangnya.

“Selain itu, bagaimana misal kalau pak Rudi diminta partai bertahan di Batam. Itu bisa saja terjadi. Politik itu seni kemungkinan. Jadi, tak ada yang tak mungkin. Jadi, kembali lagi ke partai politik. Walaupun terkadang parpol egonya minta ampun yang dilihat bukan menangnya, tetapi bagaimana melihat orang yang diusung,” jelas Candra.(rng)

Warga Singapura Banjiri Batam

0

batampos.co.id – Ribuan warga Singapura menghabiskan masa libur hari kemerdekaan (National Day) dan Iduladha 2019 di Batam. Arus kedatangan wisatawan dari Negeri Singa itu terpantau di terminal kedatangan di sejumlah pelabuhan feri internasional di Batam, Jumat (9/8/2019).

Di Pelabuhan Feri Internasional Sekupang (PSFT), misalnya, sejak pagi kemarin terminal kedatangan dipadati para turis yang baru tiba dari Singapura. Menurut Pengelola PSFT, Julmarly, saat ini warga Singapura memang tengah menikmati akhir pekan panjang dalam rang­ka libur hari kemerdekaan pada Jumat (9/8) dan ditambah li­bur Iduladha.

“Senin baru ba­lik ke Singapura. Alhamdulillah yang datang lumayan ramai ha­ri ini,” kata Julmarly, Jumat (9/8).

Ia memperkirakan, arus kedatangan akan berlangsung hingga Sabtu (10/8) hari ini.

“Untuk hari ini (kemarin) mung-kin sampai tiga ribu wisatawan yang datang,” sebutnya.

Pria yang akrab disapa Jul ini mengungkapkan, untuk me­ngantisipasi antrean kendaraan di pelabuhan, pihaknya membuka dua pintu gerbang untuk mobilisasi bus pariwisata yang menjemput wisatawan.

“Biar tidak macet. Jadi kami buka dua gate. Nanti kendaraan lain juga tetap bisa lewat meskipun banyak bus pariwisata yang keluar dan masuk,” imbuhnya.

Tak hanya kedatangan, arus keberangkatan di PSFT juga terjadi peningkatan. Bahkan, intensitas keberangkatan yang cukup tinggi diprediksi akan berlangsung hingga Sabtu (11/8) ini. “Besok (hari ini, red) kemungkinan ramai juga,” tambahnya.

Pantauan Batam Pos, kepadatan arus kedatangan terlihat di PFST. Ribuan wisatawan terlihat menunggu bus yang akan membawa mereka. Beberapa dari wisatawan juga memanfaatkan waktu untuk membeli kartu internet selama menikmati liburan di Batam.
Antrean bus juga terlihat menunggu wisatawan yang baru saja tiba di pelabuhan.

Lonjakan kedatangan penumpang dari Singapura juga terjadi di Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, Jumat (9/8).

Pantauan koran ini, ratusan penumpang antre keluar dari pemeriksaan konter cap paspor Imigrasi, kemarin pagi. Sebagian mereka disam-but oleh beberapa agen travel yang telah menunggu di depan terminal kedatangan.

Manajer Operasional Pelabuhan Feri Internasional Batam Center Nika Astaga mengatakan, penumpang yang datang kemarin memang didominasi oleh wisman asal Singapura. Seperti tahun-tahun sebelumnya, hari kemerdekaan Singapura dimanfaatkan warganya untuk berlibur ke Batam.

“Inilah bedanya dengan kita, kalau hari ulang tahun kemerdekaan mereka meninggalkan negara mereka untuk berlibur ke Batam,” ujar Nika di ruang kerjanya, kemarin.

Ratusan warga Singapura antre di terminal keberangkatan Pelabuhan Harbour Front Singapura sebelum berangkat ke Batam, kemarin.

Dikatakan Nika, jumlah penumpang yang datang baru bisa dirangkum pada malam hari. Sebab, arus penumpang yang datang dipastikan masih terus berlangsung hingga malam hari.

“Tapi kalau melihat, jumlah penumpang datang hari ini (kemarin, red) meningkat dibandingkan hari biasa, itu naik beberapa kali lipat,” imbuh Nika.

Tak hanya di terminal kedatangan, momentum hari jadi negara Singapura dan Iduladha juga dimanfaatkan oleh warga Indonesia untuk berlibur ke Singapura. Terbukti, dari penambahan ekstra trip dari beberapa operator kapal tujuan Batam-Singapura.

“Ada penambahan 7 trip di keberangkatan. Kalau regulernya itu hanya 45. Jadi total yang berangkat hari ini (kemarin, red) ada 52 trip. Prediksi penumpang lebih dari 5.000 hingga 10.000 penumpang,” jelas Nika.

Selain itu, ekstra trip juga diajukan oleh operator kapal untuk hari Sabtu (10/8) ini sebanyak 7 kali. Pada hari Minggu (11/8) hingga Senin (12/8) ada penambahan 18 trip sehingga rencana kapal yang berangkat ada 63 trip (ditambah dengan 45 reguler).

“Hari Minggu dan Senin itu lebih banyak permintaan, karena yang berangkat juga banyak, rata-rata warga Singapura yang balik,” kata Nika.

Masih kata Nika, karena terjadi lonjakan penumpang, pihaknya meningkatkan pengamanan dari saat kedatangan hingga keberangkatan. Hampir semua tenaga keamanan kerja lembur. Pengamaman juga dibantu oleh aparat keamanan.

“Tenaga keamanan kami lemburkan, agar kondisi tetap kondusif,” ujar Nika.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam Ardi Winata mengaku mendapat laporan terjadi peningkatan hunian hotel dan kunjungan restoran hingga beberapa hari ke depan. Kunjungan wisman ke Batam juga banyak menggunakan agen travel dan sebagian lagi lagi secara pribadi.

“Tadi dapat laporan, semua terminal kedatangan dari Singapura padat. Hunian hotel juga dipastikan meningkat,” kata Ardi.

Hal ini dibenarkan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Batam Muhammad Mansyur. Menurut dia, tingginya kunjungan wisman berdampak pada naiknya tingkat hunian hotel di Batam pada akhir pekan ini. Mansur menyebut, tingkat hunian hotel bintang di Nagoya dan Batam Center rata-rata 90 persen lebih.

“Mayoritas hotel di Nagoya-Jodoh penuh. Untuk yang di pinggiran, seperti di wilayah Batuaji, tingkat hunian sampai 70 persen,” kata Mansyur, kemarin. Mansyur mengatakan, pemesanan hotel di Batam mulai meningkat sejak Kamis (8/8) lalu. Namun, puncaknya terjadi pada Jumat (9/8) kemarin.

“Ini karena Lebaran Haji juga, makanya public holiday sudah dimulai kemarin,” kata dia. (she/yui)

Ada 539 Titik Salat Iduladha, Pusatnya di Engku Putri

0

batampos.co.id – Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Batam menetapkan 539 titik pelaksanaan salat Iduladha tahun ini.

Hal ini disampaikan Plt Kepala Seksi (Kasi) Bimas Kankemenag Batam Dirham, Jumat (9/8/2019).

Ia menyebutkan pelaksanaan salat Id akan digelar di dua lokasi yaitu masjid dan lapangan.

Sebanyak delapan titik salat akan digelar di lapangan. Pertama, Dataran Engku Puteri Batam Center, lapangan Temenggung Abdul Jamal dan depan ruko Tiban Impian.

Ribuan masyarakat Kota Batam memadati lapangan Engku Putri untuk melaksanakan salat iduladha pada 2018 lalu. Foto: Cecep Mulyana/batampos.id

Kemudian lapangan bola Tiban, Lapangan Kartini Raya II, lapangan bola Taman Sari Hijau, Lapangan Batamindo, dan lapangan parkir utama House Market, Lubukbaja.

“Lokasi salat baik lapangan maupun masjid masih sama dengan tahun lalu. Pusatnya tetap dilaksanakan Dataran Engku Putri, Batam Center,” ujarnya.

Ibadah kurban ini menjadi salah satu cara untuk berbagi. Daging kurban bisa diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

“Mudah-mudahan dengan pelaksanaan ibadah kurban banyak masyarakat yang bisa menikmati indahnya berbagi,” lanjutnya.(yui)

KPK Curiga Nurdin Basirun Terima Setoran dari Sejumlah Dinas

0

batampos.co.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengendus dugaan gratifikasi yang diterima Gubernur Kepri nonaktif Nurdin Basirun di luar dugaan suap izin reklamasi.
Selain dari setoran sejumlah dinas, KPK menduga Nurdin menerima duit gratifikasi terkait pengisian jabatan di lingkungan Pemprov Kepri.

Berdasarkan catatan Batam Pos, selama tiga tahun menjadi Gubernur Kepri, Nurdin telah melantik 1.064 pejabat. Mulai dari pejabat eselon II hingga empat, dan para pejabat fungsional dan administrator setingkat eselon II dan III.

Setelah dilantik menjadi Gubernur Kepri pada Mei 2016 lalu, Nurdin melakukan rotasi pejabat pertama kalinya pada 7 November 2016. Saat itu ada 20 pejabat eselon II. Pada kesempatan yang sama, Nurdin juga menunjuk sembilan pejabat untuk menduduki posisi Pelaksana Tugas (Plt) di sembilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Pelantikan perdana itu mendapat reaksi negatif dari DPRD Kepri. Khususnya anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan, Ruslan Kabulatov. Menurut Ruslan, pelantikan dan penunjukan pejabat tersebut sarat dengan nepotisme.

Masalah ini juga disorot oleh Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) yang berbuntut pada rekomendasi. Namun, Nurdin mengabaikan rekomendasi tersebut.

Pelantikan berikutnya terjadi pada 3 Januari 2017. Saat itu, Nurdin melantik 31 pejabat. Mereka terdiri dari seorang Pejabat Pimpinan Tinggi Madya, kemudian 29 orang Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, dan seorang Pejabat Administrator.

Tiga hari berselang atau pada 6 Januari 2017, Sekretaris Daerah (Sekda) Kepri TS Arif Fadillah melantik tiga pejabat administrator di lingkungan Pemprov Kepri. Pelantikan ketiganya diklaim untuk percepatan pembahasan APBD Kepri 2017.

Sepuluh hari kemudian atau pada 16 Januari 2017, Gubernur Nurdin melakukan pelantikan besar-besaran. Saat itu ada 16 pejabat eselon II yang dilantik, 200 pejabat eselon III, 538 pejabat eselon IV, dan 98 pejabat fungsional yang setingkat kepala OPD. Pada pelantikan tersebut, Gubernur juga mempromosikan sejumlah nama untuk naik status dari eselon III ke eselon II.

Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Nurdin Basirun mengenakan kemeja lengan panjang tiba di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jakarta pada siang hari ini, Kamis (11/7/2019). Foto: Muhammad Ridwan/JawaPos.com

Berikutnya, melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 577 Tahun 2017, Gubernur juga melakukan pergeseran posisi terhadap 19 pejabat eselon III dan 69 pejabat eselon IV.
Selanjutnya pada 2018, Nurdin melakukan tiga kali pelantikan. Yakni pada 3 Mei 2018 yang melibatkan empat pejabat eselon II. Kemudian yang kedua pada 4 Juli 2018. Saat itu Gubernur mempromosikan Muhammad Dali sebagai Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) menggantikan Arifin Nasir yang pensiun. Sedangkan yang ketiga terjadi pada 2 Oktober 2018 yang melibatkan satu pejabat eselon II dan satu pejabat eselon III.

Sementara itu, di 2019 sebelum ditangkap KPK pada 10 Juli lalu, Nurdin melakukan empat kali pelantikan pejabat. Pertama dilaksanakan pada 29 Januari 2019. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nomor 141 Tahun 2019 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan PNS dalam Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkungan Provinsi Kepri, Gubernur melantik tiga pejabat eselon II.

Kemudian pada 12 Maret 2019, Nurdin melantik Muhammad Yusrial Mahyuddin sebagai Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman. Kemudian Hendri Kurniadi sebagai Kepala Bidang Pertambangan Mineral pada Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral.
Selanjutnya, 2 Mei 2019 Gubernur Nurdin Basirun melantik tiga pejabat pimpinan tinggi pratama, empat pejabat administrator, dan 34 pejabat fungsional. Nurdin juga melantik Nilwan sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Yerry Suparna sebagai Kepala Dinas Kebudayaan, dan Aiyub sebagai Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat. Selain itu, ada beberapa pejabat lain yang dilantik.

Pelantikan terakhir dilakukan Gubernur Nurdin pada 9 Mei 2019. Saat itu Nurdin melantik 17 pejabat administrator dan empat orang pejabat pengawas di Karimun.
Dari 17 orang itu, 13 di antaranya bertugas pada Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP), dan empat orang lainnya di Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Provinsi Kepri.

Sementara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami sumber duit senilai Rp 5,3 miliar yang ditemukan di rumah dinas Nurdin Basirun di Tanjungpinang, beberapa waktu lalu.

“Selain dugaan suap izin prinsip reklamasi, KPK juga akan mendalami dugaan gratifikasi dari OPD di Pemprov Kepri,” ungkap Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat di Batam, Rabu (7/8) lalu.

Febri mengatakan, saat ini penyidik baru fokus pada kasus dugaan suap izin prinsip pemanfaatan ruang laut dan pesisir di Kepulauan Riau. Setelah itu, sambung Febri, penyidik KPK juga mendalami dugaan gratifikasi yang diterima tersangka terkait dengan perizinan pemanfaatan ruang laut, pesisir dan pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau.
Meskipun demikian, Febri belum dapat menyebutkan OPD mana saja yang diduga melakukan gratifikasi. Febri menyebutkan, proses penyelidikan dan penyidikan masih sedang berlangsung.

“Ada berapa OPD yang diduga memberikan gratifikasi tentu belum dapat kami sampaikan. Hal-hal yang berkaitan dengan proses penyidikan belum dapat kami sampaikan ke publik,” jelasnya.

Jumat (9/8) kemarin, KPK kembali memeriksa seorang pengusaha Batam sebagai saksi untuk tersangka Nurdin Basirun. “Kalau tidak ada perubahan kemungkinan Senin depan pemanggilan juga dilakukan kepada Hartono, pengusaha Batam yang melakukan pengembangan kawasan Harbour Bay,” kata Febri, Jumat (9/8).

Selain Hartono, Senin (12/8) mendatang KPK juga akan melakukan pemanggilan ulang terhadap Kock Meng. Sebab, pada pemanggilan pertama, yang bersangkutan mangkir. Febri menegaskan, pemanggilan ini wajib dipenuhi karena kewajiban hukum. Kalau masih mangkir, KPK akan melakukan pemanggilan paksa.

“Dan sampai saat ini belum ada tambahan tersangka,” kata Febri. (jpg)

Tetap Eksis dan Berkontribusi

0

SETIAP 10 Agustus, bertambah bilangan usia Batam Pos. Hari ini, 10 Agustus 2019, menjejak tahun ke-21. Dua dasawarsa! Tak terasa, tapi berliku suka-duka.

Kami yang hari ini menerajui harian terbesar di Kepri ini memang bukan generasi pertama. Namun secara umum, pernah dan masih merasakan betapa era itu datang dan pergi.

Terus berganti. Masa-masa kejayaan media cetak, memang tak sedigdaya dulu lagi, namun kami masih eksis hingga hari ini. Kami masih menjadi sumber referensi nomor satu di Kepri. Kami yakin itu, karena kami yang bertungkus-lumus di dapur pengambil kebijakan, dapat merasakannya. Lembaga-lembaga survei masih menempatkan kami di posisi teratas setiap kali melakukan survei. Terakhir, Januari 2019 yang lalu, sebelum Pilpres, sebuah lembaga survei menyisipkan pertanyaan seputar media apa yang paling berpengaruh di Kepri, ya kami! Batam Pos.

Yang terus membuat kami eksis di tengah persaingan global ini, di antara perang multiplatform akibat digitalisasi, serta pelemahan ekonomi empat tahun terakhir ini, adalah bahwa kami menjaga integ-ritas. Kami menjaga kepercayaan publik. Kami juga men­jaga akurasi liputan, tidak ge­gabah, tidak main hakim sendiri, dan kami tampil lebih soft, meskipun kadang bisa garang bagai macan!

Sebagai sebuah media mainstream di Kepri, Batam Pos hadir dan tetap taat kepada setiap aturan yang memayunginya. UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, menjadi pedoman kami. UU Perseroan Terbatas, menjadi pijakan kami. Ketentuan Periklanan dan garisan Dewan Pers, menjadi landasan kami. Sebab itulah, Batam Pos tidak pernah tertarik menjadi media sensasi yang hanya menjual judul, gosip, dan narasi basi untuk sekadar menarik simpati. Batam Pos adalah media berisi, percaya akurasi, karenanya tetap menjadi referensi.

Pelemahan ekonomi empat tahun terakhir di Batam dan Kepri, harus kami akui menjadi kendala tersendiri untuk tetap eksis menjadi sebuah entitas bisnis yang menguntungkan.

Persaingan di tengah era digitalisasi, adalah tantangan tersendiri. Ekonomi Kepri yang terus turun sejak 2015, bahkan pernah terjun bebas menjadi 2,02 persen per tahun dua tahun lalu, ikut memukul bisnis kami. Recovery menjadi tak semudah direncanakan. Planning untuk menaikkan omzet dari pendapatan iklan, penjualan koran, dan pendapatan lain-lain, menjadi tidak mudah. Ekstentifikasi juga sudah. Melahirkan multiplatform media, adalah pilihan yang sudah berjalan. Kami masih berproses dan segera kembali berjaya!

Batam ini unik. Dia menyumbang hampir 70 persen pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepri. Kalau Batam bangkit, Kepri akan ikut bangkit. Sebaliknya, jika perekonomian Batam terpuruk, Kepri secara agregat akan turut memburuk. Begitulah. Empat tahun terakhir adalah masa-masa terberat perekonomian Batam. Pengaruh global, seperti menurunnya order pembuatan kapal, berkurangnya pesanan produk manufaktur, tutupnya banyak perusahaan, serta gonjang-ganjing persoalan lahan dan perizinan di Batam, telah memperburuk keadaan. Ditambah regulasi pemerintah pusat dan daerah yang masih sering berganti dan lamban mengantisipasi keadaan, telah memberi dampak tambahan melemahnya daya saing Batam. Dampak turunannya, pendapatan Batam menurun, target PAD meleset, penerimaan pajak dan retribusi jauh dari proyeksi.

Itu semua ikut memukul industri media. Pemain properti menahan belanjanya, termasuk belanja promosi dan iklan. Pameran-pameran perumahan yang biasanya digelar hampir setiap triwulan, kini boleh dihitung jari.

Mengapa? Sepi calon pembeli. Pameran otomotif juga ikut terpukul. Tiga tahun terakhir, penurunan sale oto­motif rata-rata 20 persen per tahun. Juga penjualan elektronik, menurun terus. Akibatnya, semua prinsipal dan biro iklan merestrukturisasi budget-nya. Media kena dampak. Termasuk kami. Padahal, sebelumnya, tiga besar pemasang iklan kami adalah properti, elektonik, dan otomotif, di samping consumers goods, perbankan, dan loker. Ke depan, kami sangat berharap dan kami tetap optimistis bahwa perekonomian nasional akan terus membaik. Juga Batam, Kepri. Kuncinya ada di pemerintahan.

Mereka pemegang regulasi. Batam ini mudah dinaikkan, mudah juga dijejalkan ke tanah. Sektor swasta lebih mendominasi pertumbuhan ekonomi. Maka pemerintah jangan ganggu dengan berbagai regulasi yang kontraproduktif. Bertindaklah cepat.

Putuskan semua hal yang menghambat. Mau FTZ atau KEK, kami tak begitu peduli. Mau kepala BP dirangkap walikota atau bukan, bukan urusan kami. Kami hanya butuh kepastian dan regulasi proinvestasi, sehingga Batam dapat bersaing lagi. Bangkit lagi. Memang, pertumbuhan eko­nomi terakhir sudah di atas 5 persen untuk Batam. Sudah lumayan, meskipun Batam pernah mencapai pertumbuhan dua digit di era sebelum tahun 2000-an. It’s not bad. Daripada terpuruk lagi ke 2,02 persen, ya kan? Hehe…

Akhirnya, terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi atas perjalanan kami, Batam Pos, selama dua dekade ini. Percayalah, ini bu­kan pernyataan basa-basi. Tanpa Anda semua, para pelanggan, pemasang iklan, pemerintah, swasta, agen, loper, pembaca, dan seluruh karyawan beserta keluarganya, kami tak kan pernah sebesar ini. Kita masih ingin bersama, bukan?

Mari terus pelihara semangat dan kebersamaan. Bahwa misi kami bukan hanya mengejar laba, sudah lama kami sematkan. Kami adalah perusahan media yang telah lama berkontribusi untuk kemajuan daerah. Doakan kami. Jayalah Batam, jayalah Kepri! (*)

Tak Perlu Naik Kapal untuk Berburu Sinyal

0

Matahari mulai condong ke barat saat Dedi Andri Firly selesai melakukan selam dangkal (snorkeling) di laut Pulang Antang, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepri, akhir 2018 lalu. Segera ia mengemasi barang-barang miliknya sebelum pulang ke Tarempa, Anambas.

Bersama rekan-rekannya di komunitas selam dan snorkeling Bertuah Explore and Outdoors, sore itu ia sengaja mengeksplorasi keindahan Pulau Mantang. Sudah banyak kegiatan serupa yang ia lakoni dalam setahun terakhir. Hasil eksplorasi ke pulau-pulau dan pantai itu didokumentasikan dalam bentuk foto dan video. Lalu dibagikan ke media sosial untuk ditawarkan kepada para turis.

Kemas-kemas selesai, Dedi dan rekan-rekannya bergegas naik ke perahu kayu yang telah menunggu di ujung pantai. Dalam perjalanan pulang, di atas perahu, Dedi membuka gawainya. Memilih dan memilah sejumlah foto dan video yang sempat diambil dengan kamera ponselnya.

Dalam hitungan detik, foto-foto itu sudah terpasang di dinding akun Facebooknya yang memiliki 2.307 teman itu. Lengkap dengan video pendeknya.

“Sekarang gampang upload foto dan video di medsos. Jaringan seluler dan internet di Anambas sudah bagus,” kata Dedi saat berbincang dengan Batam Pos melalui sambungan voice call di aplikasi WhatsApp, Kamis (08/08/2019) siang.

Dedi masih ingat betul, bagaimana sulitnya jaringan telekomunikasi di Anambas, sebelumnya. Terutama sebelum tahun 2018 awal. Jangankan membagikan foto dan video di media sosial (medsos), untuk sekadar mengirim teks pesan singkat (SMS) saja kadang susah. Sinyal sering hilang timbul.

WARGA Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas mengakses internet melalui ponselnya, beberapa waktu lalu. Kehadiran Palapa Ring Barat di Anambas mambuat warga setempat semakin mudah melakukan akses data dan berkomunikasi melalui telepon genggam.

Apalagi untuk internetan. Susah sekali. Bukan hanya di daerah pulau-pulau, kondisi susah sinyal ini juga terjadi di Tarempa yang merupakan pusat pemerintahan di Kabupaten Kepulauan Anambas.

Akibatnya, warga Tarempa seperti Dedi harus rela ‘berburu’ sinyal jika kebutuhan akan jaringan telekomunikasi bersifat mendesak. Misalnya harus menghubungi keluarga di luar Anambas.

Jika dari dalam rumah hape tak bisa menangkap sinyal, maka warga harus keluar rumah dan menuju ke area yang dekat dengan tower operator seluler. Pelabuhan Tarempa sering menjadi jujugan. Sebab biasanya di sana sinyal seluler lebih kuat karena lokasinya berdekatan dengan menara salah satu operator seluler.

Namun tak jarang warga harus naik ke atas kapal-kapal yang sedang berlabuh di pelabuhan itu. “Kadang harus naik ke atas bukit biar dapat sinyal,” kata Dedi.

Untuk bisa internetan, saat itu, warga Tarempa harus rela merapat ke dekat kantor Bupati Anambas. Sebab hanya di kantor tersebut terdapat wifi gratis. Itupun terbatas dan harus dilakukan di malam hari.

Sebab saat siang hari, banyak pegawai kantor bupati yang menggunakan wifi tersebut. Sehingga jaringan menjadi lelet.

Maklum, Anambas merupakan salah satu daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) di Indonesia. Anambas memiliki luas wilayah 590,14 kilometer persegi. Namun sebagian besar wilayahnya berupa lautan, yakni sekitar 89 persen lebih. Kabupaten pecahan dari Natuna ini memiliki 256 pulau, namun hanya 26 yang berpenghuni.

Secara geografis, Anambas berada di ujung utara Indonesia. Kabupaten terpencil ini berbatasan dengan beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Vietnam, dan Kamboja. Lokasinya yang berada di hamparan Laut China Selatan membuat warga Anambas selama ini kesulitan mendapatkan akses telekomunikasi dan akses data internet.

Namun kondisi tersebut kini tinggal cerita lama. Sebab sejak Maret 2018, jaringan telekomunikasi di sebagian besar wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas sudah terintegrasi melalui proyek Palapa Ring jalur barat atau lebih dikenal dengan nama Palapa Ring Barat yang dibangun Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo).

“Di Tarempa sekarang sudah ada jaringan 4G. Beberapa operator seluler juga sudah mulai masuk. Ya sejak ada Palapa Ring itu. Jadi tak perlu lagi naik ke kapal atau bukit untuk mencari sinyal,” kata Dedi.

Menurut Dedi, ketersediaan jaringan telekomunikasi dan jaringan internet saat ini menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat. Termasuk masyarakat daerah terdepan NKRI seperi Anambas. Selain untuk keperluan komunikasi, ketersediaan jaringan seluler dan internet juga memungkinkan warga di wilayah perbatasan mengetahui informasi dan berita lebih cepat dan akurat.

Di sisi lain, ketersediaan jaringan telekomunikasi dan internet juga menghadirkan peluang bisnis baru. Seperti yang dilakoni Dedi bersama Bertuah Explore and Outdoors. Bermodalkan jaringan internet dan media sosial, ia bisa menawarkan paket liburan dan wisata bahari ke Anambas kepada para turis.

Hasilnya cukup efektif, dari foto dan video eksplorasi wisata bahari Anambas yang diunggah di akun medsosya, banyak turis yang akhirnya tertarik datang ke Anambas dan berwisata melalui jasa yang ditawarkan Dedi dan Bertuah Explore and Outdoors. Tak hanya turis domestik, beberapa tamu Dedi merupakan wisatawan mancanegara.

“Jadi bukan hanya bisa eksis di medsos, dengan jaringan internet dan telekomuniasi yang baik, kami bisa memulai bisnis berbasis digital,” katanya.

Namun sayang, kata Dedi, sebaran jaringan 4G di Anambas masih sebatas di Tarempa yang posisinya berada di Pulau Siantan. Sementara di pulau lain, seperti Pulau Palmatak, Jemaja, dan pulau berpenghuni lainnya belum tersedia jaringan 4G.

“Seperti di Palmatak ini, untuk kirim email masih agak susah. Tapi kalau untuk telepon, medsos, dan WA sudah jauh lebih baik,” kata Dedi lagi.

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Kepulauan Anambas, Jeprizal, mengakui jaringan generasi keempat (4G) memang belum bisa dinikmati seluruh warga Anambas. Penyebabnya, pihak operator seluler belum sepenuhnya memanfaatkan jaringan backbone yang telah disediakan pemerintah melalui jaringan Palapa Ring Barat.

“Anambas ini setiap kecamatannya dipisahkan laut dan gunung. Jadi perlu ada tower pemancar untuk mengantarkan jaringan 4G ini ke luar Tarempa,” kata Jeprizal, Jumat (09/08/2019).

Jeprizal menyebut, di Anambas jaringan fiber optik Palapa Ring Barat memang hanya mendarat di Tarempa, Pulau Siantan. Sehingga jaringan 4G baru bisa dinikmati di wilayah Tarempa saja.

Namun begitu, dalam waktu dekat ini ada beberapa operator seluler yang akan membangun tower pemancar di beberapa wilayah di Anambas. Khususnya di pulau-pulau utama seperti Siantan, Jemaja, dan Palmatak. Sehingga jaringan 4G bisa dinikmati lebih luas oleh masyakarat Anambas.

Sebab menurut Jeprizal, saat ini masyarakat lebih banyak memerlukan jaringan telekomunikasi untuk akses data atau internet ketimbang untuk telepon dan mengirim pesan.

Pemerintah daerah, kata Jeprizal, tidak memiliki kewenangan untuk membangun sarana telekomunikasi, misalnya tower pemancar. Sehingga pihaknya hanya bisa melakukan beberapa upaya dengan melaporkan kondisi di lapangan ke pemerintah pusat melalui Kementerian Kominfo. Dengan harapan ada percepatan pembangunan sarana telekomunikasi di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) seperti Anambas ini.

Selebihnya, Diskominfo Anambas lebih sering melobi operator seluler agar mau membangun sarana telekomunikasi di Anambas, khususnya di luar Tarempa. Sehingga jaringan serat optik Palapa Ring Barat bisa dimanfaatkan secara maksimal.

“Memang kadang pertimbangan operator adalah keuntungan secara bisnis. Tapi kami mencoba meyakinkan supaya selain memikirkan bisnis, mereka juga mau berbuat untuk masyarakat di daerah 3T seperti kami,” kata Jeprizal.

Namun secara keseluruhan, saat ini jaringan telekomunikasi di Anambas sudah jauh lebih baik. Menurut Jeprizal, sejak kehadiran jaringan Palapa Ring Barat pada Maret 2018 lalu, cakupan atau coverage jaringan telekomunikasi di Anambas saat ini mencapai 92 persen.

“Ini jauh lebih luas jika dibandingkan empat tahun lalu yang hanya 55 persen,” kata dia.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Kominfo (Diskominfo) Provinsi Kepri, Zulhendri. Menurut dia, proyek Palapa Ring Barat telah berhasil membuka isolasi telekomunikasi di sejumlah titik di Kepri, khususnya di Natuna dan Anambas.

“Yang pasti coverage jaringan telekomunikasi di Kepri semakin luas sejak diresmikannya proyek Palapa Ring Barat ini pada Maret 2018 lalu,” kata Zulhendri.

Zulhendri mengatakan, Palapa Ring Barat menyediakan tulang punggung (backbone) jaringan serat optik sepanjang 2.275 kilometer (km). Rinciannya, sepanjang 1.730 km serat optik melalui bawah laut, dan 545 km di darat.

Melalui proyek Palapa Ring Barat ini, Kementerian Kominfo membangun infrastruktur telekomunikasi mencakup beberapa wilayah di Kepulauan Riau (Kepri), Sumatera Utara, dan Provinsi Riau.

Di Kepri, jaringan kabel optik Palapa Ring Barat melalui empat kabupaten/kota. Yakni Kota Batam, Kabupaten Lingga, Kabupaten Anambas, dan Kabupaten Natuna. Selain menyediakan jaringan telekomunikasi, proyek Palapa Ring Barat ini juga menghadirkan jaringan internet generasi keempat (4G) dengan kecepatan sekira 30 Mbps.

Selain membangun jaringan fiber optik, lanjut Zulhendri, sebelumnya Kementerian Kominfo juga sudah gencar membangun tower telekomunikasi hingga pulau-pulau terpencil dan terdepan di wilayah Kepri. Tak hanya di Anambas, pembangunan tower tersebut juga dilakukan wilayah terdepan di Kabupaten Natuna dan Bintan.

“Jumlahnya sangat banyak. Ini juga sebagai upaya membuka isolasi informasi di daerah perbatasan di wilayah Kepri,” katanya.

Sementara anggota Komisi III DPRD Anambas, Raja Bayu Febri Gunadian, mengatakan kehadiran Palapa Ring Barat di Anambas memang telah membawa banyak perubahan. Terutama dari segi ketersediaan jaringan telekomunikasi dan akses data di Anambas.

“Sekarang jaringan seluler sudah jauh lebih baik. Komunikasi dengan hape juga lebih mudah,” kata Bayu, Jumat (09/08/2019) malam.

Namun untuk sebaran layanan seluler generasi keempat (4G) di seluruh wilayah Anambas, menurutnya butuh proses. Sebab perlu ada pembangunan sarana pendukung, seperti tower pemancar, yang membutuhkan biaya dan investasi yang tidak sedikit.

Untuk itu, pihaknya mendorong adanya komitmen pihak operator swasta maupun BUMN untuk bersama-sama membuka isolasi telekomunikasi di Anambas. “Palapa Ring Barat sudah menyediakan jaringan serat optik yang baik, tinggal dimanfaatkan lebih maksimal lagi oleh operator seluler,” katanya. (Suparman)

Denim Bahan Jin yang Paling Populer

0

batampos.co.id – Banyak dari kita yang rancu dalam penyebutan denim dengan jin (jeans).

Ada yang menyebut busana denim, ada juga yang menyebut busana jin yang umumnya dibedakan dari segi bahan.

Denim dianggap lebih tipis dan adem, sementara jin lebih tebal. Padahal, denim dan jin bukan soal perbedaan bahan.

Dimana, denim merupakan jenis bahan, sedangkan jin adalah nama produk yang terbuat dari bahan denim.

Dikutip dari laman wolipop, jin merupakan sebutan untuk denim yang mulai dikenal sejak tahun 1873 yang dicetuskan Jacob Davis dan Levi Strauss.

Mereka membuat celana jin untuk para penambang emas Amerika. Hingga kini, popularitas denim semakin mendunia.

Pria maupun wanita banyak memilih item ini untuk melengkapi penampilan. Kesan kasual yang ditampilkan membuat keberadaanya tak lekang zaman.

Novi, mengombinasikan pakaian berbahan denim untuk berbagai aktivitas harian. Foto: Febby Anggieta Pratiwi/batampos.co.id

Pedagang pakaian di MB2, Lian, mengatakan, denim merupakan outfit yang digemari. Hingga saat ini, outfit berbahan denim menjadi pakaian yang paling banyak dicari pelanggannya.

”Denim itu mudah dikreasikan dengan berbagai macam tampilan. Mau kasual, feminin atau gaya lainnya,” ujar Lian.

Outfit berbahan denim juga sangat mudah dipadupadankan. Misalnya, celana ripped dipadukan dengan plaid shirt (kemeja kotak-kotak) dan jaket jin.

”Yang mau tampilan kasual bisa padukan skinny jin dengan flat shoes atau sneakers,” terangnya.

Selain itu, pakaian yang satu ini bisa digunakan di segala suasana. Mau acara apa saja, denim selalu masuk.

”Kalau acara formal bisa menggunakan kemeja denim dipadukan dengan rok. Atau, kemeja putih dipadukan dengan celana denim,” kata Lian.

Penggemar denim Batam, Silvi, menyebutkan, memadu-kan denim dengan denim juga menarik.

Ia menyarankan, pilih dua jenis denim outfit dengan warna yang sedikit berbeda. Misalnya, kemeja berwarna biru yang dipadukan dengan celana denim berwarna biru kehitaman.

”Biar agak beda, tambahkan outer agak panjang berwarna putih atau pun warna lain,” jelasnya.(nji)

Seorang Plt Dilarang Mutasi Pegawai

0

batampos.co.id – Pemerintah Pusat melalui Badan Kepegawaian Nasional mengeluarkan surat edaran terkait Kewenangan Pelaksana Harian (Plh) dan Pelaksana Tugas (Plt) dalam Aspek Kepegawaian. Di situ ditegaskan, pejabat yang berstatus Plh dan Plt dilarang melakukan mutasi pegawai, baik mengangkat, memindah, atau memberhentikan.

Kepala Biro Humas Badan Kepegawaian Negara (BKN) Mohammad Ridwan mengatakan, edaran tersebut bersifat pengingat. Pasalnya, lanjut dia, terjadi kasus tindakan mutasi pegawai yang dilakukan pejabat plt atau plh di sejumlah daerah.

“Banyak kasus. Jadi ada misalnya kasus di kabupaten malang, di Sulawesi Selatan, dan beberapa yang lain,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (9/8). Namun, dia enggan menjelaskan detail pejabat mana yang melakukannya.

Hanya, Ridwan menjelaskan, tindakan tersebut tidak dibenarkan secara aturan. Oleh karenanya, BKN merasa perlu mengingatkan Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK), yakni Kepala Daerah untuk mengawasi perilaku jajarannya.

Sementara Kepala BKN Bima Haria Wibisana dalam surat edarannya menjelaskan, plt dan plh tidak berwenang mengambil keputusan yang bersifat strategis. (far)

4 Daerah di Indonesia yang Mengalami Kekosongan Blanko e-KTP

0

batampos.co.id – Kekosongan blangko e-KTP ternyata tidak hanya terjadi di Kota Batam, Provinsi Kepri. Hal yang sama juga terjadi di beberapa daerah lainnnya di Indonesia.

Tiga pegawai Kecamatan Sagulung merapikan e-KTP yang sudah dicetak, Selasa (3/4). Jika tak diambil pemiliknya, e-KTP tersebut tetap akan disimpan oleh Disdukcapil di masing-masing kecamatan. F. Dalil Harahap/Batam Pos

Berikut daftar daerah yang saat ini juga mengalami kekosongan blanko E-KTP:

  1. Kota Batam Kepulauan Riau.
  2. Sragen Jawa Tengah.
  3. Bontang Kalimantan Timur.
  4. Lhoksemawe, Aceh.(far/jpg)

Konsumsi Daging Ternyata Memincu Pemanasan Global

0

batampos.co.id – Tahukah Anda ketika kita mengkonsumsi daging, berkontribusi besar terhadap pemanasan global.

Informasi yang lazim di masyarakat soal upaya melawan pemanasan global adalah mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan limbah plastik.

Namun, 107 peneliti IPCC menyimpulkan bahwa upaya menekan emisi gas rumah kaca dimulai dari urusan perut.

Semakin banyak manusia yang mengonsumsi daging merah, semakin cepat pula panas bumi melewati batasan Kesepakatan Paris.

Hal tersebut diungkapkan oleh lembaga PBB Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

“Kami tidak menyuruh semua orang berhenti mengonsumsi daging. Tapi, sudah jelas bahwa masyarakat di (negara-negara, Red) Barat makan daging terlalu banyak,” ujar Pete Smith, pakar lingkungan hidup dari Aberdeen University, kepada BBC.

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), daging memang salah satu produk pangan dengan emisi terbesar. Per kilogram daging sapi, misalnya, bisa menghasilkan 26,5 kilogram gas emisi.

Ilustrasi Daging. foto: batampos.co.id / dlil harahap

Faktor penyebabnya banyak. Antara lain, kotoran ternak, produksi pangan sapi, dan distribusi daging.

Penggunaan lahan jadi yang paling mengkhawatirkan. Semakin banyak permintaan, lahan pertanian dan peternakan bakal semakin luas.

Padahal, hutan, tumbuhan, dan tanah subur menyimpan setidaknya sepertiga dari total emisi buatan manusia.

“Itu adalah perpaduan bencana yang pas. Lahan makin terkurangi, manusia makin bertambah, dibungkus dengan selimut iklim yang terus memanas,” tutur Dave Reay, profesor manajemen karbon Universitas Edinburgh.

Menurut Kesepakatan Paris, seharusnya pemanasan global tak melebihi 1,5 derajat Celsius.

Namun, jika permasalahan emisi akibat industri pangan itu tak diatasi, target tersebut semakin sulit tercapai.

Akibatnya, justru ketersediaan pangan bakal terganggu. Ingat, perubahan iklim juga mengakibatkan cuaca ekstrem seperti badai dan kemarau panjang.

Kalau cuaca semakin tak menentu, hasil pertanian juga berkurang.

“Daratan adalah tempat kita tinggal. Mereka adalah solusi (dari perubahan iklim, Red), tapi tak bisa apa-apa tanpa campur tangan manusia,” ujar Lee Hoesung, salah satu pemimpin IPCC.(jpc)