Jumat, 8 Mei 2026
Beranda blog Halaman 11816

Ketika Seekor Anjing Menjadi Wali Kota

0

WARGA kota kecil di California, Idyllwild, memilih seekor anjing golden retriever lucu menjadi wali kotanya. Tidak hanya itu, anjing bernama Maximus Mighty Dog Mueller II tersebut telah menjadi Wali Kota Idyllwild selama sekira lima tahun.

Wali Kota Max dan dua wakilnya, yang juga anjing jenis golden retriever, menjadi tamu-tamu penting di acara-acara amal, penggalangan dana dan terkadang acara peresmian dan pemotongan pita. Dalam menjalankan tugasnya mengelola Idyllwild, dia dibantu oleh kepala stafnya, Phyllis Mueller.

“Perannya adalah untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik dengan menyampaikan cinta tanpa pamrih dan melakukan banyak perbuatan baik untuk orang lain,” kata Mueller.

Karena Idyllwild adalah kota yang tidak berbadan hukum, kota itu tidak memiliki wali kota manusia yang sebenarnya. Max sendiri menggantikan pamannya yang menjadi wali kota pertama Idyllwild pada 2012. Dalam setiap pemilihan umum, seluruh kandidatnya memang bukan manusia, melainkan binatang piaraan. (dka)

Tanjungpinang Jadi Sentra Tanaman Lada

0
Kepala BPTP Kepri Mizu Istianto (kiri) menyerahkan bibit lada kepada Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul di Bukit Manuk Senggarang, Tanjungpinang, Selasa (2/10). F. BPTP Kepri

x.batampos.co.id – Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kepri menyerahkan bibit lada kepada Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Tanjungpinang di Bukit Manuk, Senggarang Tanjungpinang Selasa (2/10/2018) lalu.

Sebanyak 15 ribu bibit lada yang diserahkan tersebut langsung diterima Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul untuk diberikan kepada petani lada di Tanjungpinang.

Kepala BPTP Kepri, Mizu Istianto mengatakan bibit lada tersebut akan diolah oleh petani lada yang berada di Kecamatan Bukit Bestari, Tanjungpinang Kota, dan Tanjungpinang Timur. Selain penyerahan bibit lada, pihaknya akan memberikan pendampingan dan pemantauan kepada petani lada tentang bagaimana cara mengolah bibit tersebut.

“Kami berharap Tanjungpinang ini menjadi sentral tanaman lada ke depannya,” kata Mizu.

BPTP Kepri, lanjut Mizu, juga menyelenggarakan Sekolah Lapangan Pengembangan Tanaman Perkebunan. Tujuannya untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat dan petani tentang budidaya tanaman lada dan meningkatkan perekonomian petani.

Masyarakat dan petani juga diberi pengetahuan, pengenalan, dan cara pengendalian hama penyakit bagi tanaman lada. “Kami memberikan materi teknik budidaya tanaman lada mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, penanaman, panen, dan pasca panen,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul mengatakan meskipun kultur tanah di Tanjungpinang bukan untuk pertanian, namun dengan adanya teknologi yang canggih dari BPTP Kepri, apapun yang diusahakan akan ada hasilnya.

Wali Kota juga mengapresiasi petani Tanjungpinang yang telah berinovasi untuk mengubah lahan Tanjungpinang menjadi lahan pertanian yang baik untuk bercocok tanam. “Dengan adanya teknologi dan inovasi dari petani, membuat lahan Tanjungpinang menjadi lebih berdaya guna,” kata Syahrul.

Pemberian bibit lada tersebut, lanjut Syahrul, diharapkan hasilnya dapat bermanfaat bagi seluruh masyarakat Tanjungpinang. Selain itu petani juga dapat membudidayakan dan merawatnya.

“Pengadaan bibit lada adalah program pemerintah, pergunakan dengan sebaik-baiknya. Semoga memperoleh hasil yang baik,” harapnya. (odi)

70 Persen Kepsek di Bintan belum Bersertifikat

0
Kadisdik Bintan Tamsir. F Slamet nofasusanto / x.batampos.co.id

x.batampos.co.id – Sebanyak 70 persen kepala sekolah di Kabupaten Bintan belum mengantongi sertifikasi calon kepala sekolah (cakep).

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Bintan, Tamsir usai menghadiri pelantikan kepala sekolah baik SD dan SMP serta pengawas di aula kantor Bupati Bintan Kompleks Bintan Buyu, Rabu (3/10/2018) siang.

Dikatakannya jumlah kepala SD di Bintan sebanyak 90 orang sedangkan kepala SMP berjumlah 28 orang. Dari jumlah tersebut sebagian besar kepala sekolah saat ini belum melakukan sertifikat calon kepala sekolah (cakep).

“Kita sekarang krisis kepala sekolah,” ujarnya.

Oleh karena itu, Disdik Bintan mengalokasikan anggaran di APBD Perubahan 2018 sebesar Rp 300 juta. Alokasi anggaran tersebut akan digunakan untuk memberikan pelatihan penguatan setara cakep yang melibatkan LP2KS (Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia (RI).

Dia berharap tahun 2018 nanti tidak ada lagi kepala sekolah yang belum memiliki sertifikat cakep. “2019 semoga semua kepsek sudah memiliki sertifikat cakep,” tutupnya. (met)

 

Agar Perempuan Piayu Laut Tak Lagi Melaut

0
RENTINA mengepak keripik pisang ke dalam kemasan alumunium foil bantuan dari Astra di Tanjung Piayu Laut, Batam, Kepri, Senin (17/8/2018). Foto: Suparman/Batam Pos

Kondisi ekonomi membuat sebagian perempuan di Kampung Tua Tanjung Piayu Laut, Batam, terpaksa bekerja sebagai nelayan tradisional. Kehadiran Kampung Berseri Astra (KBA) di sana memberikan secercah harapan baru bagi mereka.

batampos.co.id – Aroma keripik pisang langsung menyergap indera penciuman saat kaki melangkah masuk ke rumah Rentina, 40, di Kampung Tua Tanjung Piayu Laut, Kota Batam, Kepri, Senin (17/8/2018) lalu. Siang itu, sang empunya rumah memang tengah menggoreng keripik pisang kepok di dapur.

Ditemani sang suami, Edi, Rentina terlihat membolak-balik keripik setengah matang di penggorengan yang ada di depannya. Di sebelah kirinya terdapat sekeranjang pisang kepok kupas yang menunggu giliran dipotong dan digoreng.

Sementara Edi sibuk membantu istrinya itu membungkus keripik yang sudah matang ke dalam kemasan alumunium foil. Setiap bungkus berisi 100 gram keripik pisang. Untuk memastikan ukurannya pas, Edi menimbangnya dengan timbangan duduk analog yang ada di sampingnya.

“Beginilah kesibukan kami sehari-hari,” ujar Rentina sambil terus membolak-balik keripik di penggorengan.

Rentina mengaku sudah melakoni usaha keripik pisang tersebut sejak setahun terakhir. Awalnya, Rentina mengaku hanya coba-coba. Namun karena respon pasar lumayan bagus, ia kemudian serius menjalankan usahanya itu.

“Awalnya hanya dititipkan di kedai. Satu bungkus kecil Rp 2 ribu. Ternyata laris,” kenangnya.

Sejak saat itu, Rentina mulai berani memproduksi keripik pisang dalam jumlah yang lebih banyak. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan hingga 20 Kg pisang untuk digoreng menjadi keripik pisang asin.

Kemasan keripik Rentina juga diperbesar. Jika sebelumnya hanya 50 gram per bungkus, kini ditambah menjadi 100 gram per bungkus. Tentu harganya juga naik dari Rp 2.000 per bungkus menjadi Rp 5.000 per bungkusnya.

Untuk pemasarannya, ia mengandalkan kerja sama dengan kedai dan restoran seafood yang ada di sekitar Kampung Tua Tanjung Piayu Laut.

Namun selama hampir setahun berjalan, Rentina merasa usahanya itu tak banyak berkembang. Selama hampir setahun itu pula, jumlah produksi keripiknya tidak bertambah. Hanya sekitar 20 Kg per hari.

“Karena memang pasarnya tidak bertambah. Hanya di sekitar sini saja,” kata ibu dua anak ini.

Hingga akhirnya ia bergabung dengan program kewirausahaan yang digelar Astra, sejak tiga bulan terakhir. Melalui program Kampung Berseri Astra (KBA), PT Astra International Tbk menggelar kontribusi berkelanjutan yang diimplementasikan kepada masyarakat setempat dengan konsep pengembangan yang mengintegrasikan empat pilar program, salah satunya kewirausahaan.

Melalui program ini, Rentina mengaku mendapatkan beberapa hal yang bermanfaat untuk mengembangkan usaha keripik pisangnya. Selain suntikan semangat melalui beberapa kali pelatihan, Astra juga membantu pemasaran produk keripik pisang yang diberi brand Mrs Rentina itu.

Pelan namun pasti, usaha keripik pisang Rentina mulai tumbuh. Saat ini, produksi keripik pisang Rentina bertambah antara 7 hingga 10 kilogram dibandingkan biasanya.

“Sekarang bisa 27 sampai 30 kilogram sehari,” katanya.

Selain membantu pemasarannya, Astra juga membantu Rentina memperbaiki kemasan keripik pisangnya. Jika sebelumnya hanya dibungkus plastik transparan biasa, saat ini keripik pisang Mrs Rentina sudah tampil dalam kemasan alumunium foil yang lebih menarik.

Tak hanya itu, kemasan keripik pisang Rentina juga dipasangi stiker yang menampilkan brand Mrs Rentina lengkap dengan alamat akun media sosialnya. Tak lupa ada tulisan “Kampung Berseri Astra (KBA) Tanjung Piayu Laut” di bagian atasnya.

Dengan penampilan barunya itu, kini keripik pisang Mrs Rentina naik harga. Jika sebelumnya hanya Rp 5.000 per bungkus, kini menjadi Rp 8.000 per bungkusnya. Isinya sama-sama 100 gram.

“Selain lebih cantik, dengan kemasan ini keripik lebih awet renyah dan terjaga kebersihannya,” kata Rentina sambil menunjukkan sebungkus keripik pisang Mrs Rentina dengan kemasan barunya.

Ditanya soal omset, Rentina enggan menyebutnya. “Lumayan lah untuk membantu penghasilan suami,” kata Rentina sambil melirik suaminya, Edi. Sehari-hari Edi bekerja sebagai nelayan.

Keinginan Rentina memang tak muluk-muluk. Jika kelak usahanya makin besar, bukan keuntungan pribadi semata yang ia kejar. Namun ia ingin agar usahanya itu turut membawa manfaat bagi warga di sekitarnya.

“Sekarang memang dikerjakan sendiri. Tapi kalau sudah besar nanti kami ingin bisa mempekerjakan ibu-ibu di sini. Supaya mereka juga punya penghasilan,” katanya.

Sebab, kata Rentina, sebagian besar perempuan di Tanjung Piayu Laut merupakan ibu rumah tangga. Mereka tidak bekerja. Praktis, pendapatan keluarga mereka hanya mengandalkan penghasilan suami yang umumnya bekerja sebagai nelayan tradisional.

Padahal, penghasilan nelayan tradisional di Batam sangat tidak menentu. Apalagi sejak marak reklamasi pesisir pantai untuk pembangunan resort hingga galangan kapal, dalam beberapa tahun belakangan.

Bahkan tak sedikit perempuan di Piayu Laut yang nekat ikut melaut untuk membantu suaminya. Selain menjaring ikan, perempuan nelayan di Tanjung Piayu Laut banyak yang melaut dengan berburu ketam atau kepiting bakau.

“Kadang kasihan juga melihatnya,” kata Edi, menimpali istrinya.

Karenanya, senada dengan Rentina, Edi berharap kelak usaha keripik pisang yang mereka geluti saat ini bisa membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu di sekitar tempat tinggal mereka.

Selain itu, Edi berharap Astra melalui program KBA-nya juga terus memperluas binaan kewirausahaannya kepada warga Piayu Laut lainnya. Sehingga mereka juga bisa memiliki usaha sendiri dan tak perlu lagi menjadi nelayan.

Memang, Rentina bukan satu-satunya perempuan Tanjung Piayu Laut yang menjadi binaan KBA. Saat ini setidaknya ada empat orang lain yang juga dibina untuk menjalankan usaha rumahan.

Di antaranya Yuliah, Sarimah, dan Noni yang menggeluti usaha peyek kacang, peyek teri, dan keripik royco. Lalu ada Nurul yang mulai merintis usaha kerajinan tangan dengan bahan cangkang kerang khas Kepri, gonggong.

Seperti halnya Rentina, mereka juga mendapatkan binaan dan pelatihan seputar kewirausahaan. Mereka juga mendapat bantuan modal untuk kemasan produk makanan kecil yang diproduksi. Serta bantuan pemasaran hasil kerajinan dan aneka keripik yang dihasilkan warga tersebut.

“Belum lama ini produk kami diikutkan dalam pameran di Batam Center,” kata Sarimah saat ditemui di kediamannya, di Tanjung Piayu Laut, Senin (17/08/2018) lalu.

Perempuan Nelayan di Kampung Tua

Ketua RT 01 RW 10 Tanjung Piayu Laut Abdurrahman mengapresiasi program Kampung Berseri Astra (KBA) di wilayahnya. Melalui program ini, warga bisa merasakan secara langsung kehadiran dan peran Astra dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih berkualitas. Menurut dia, program KBA ini memang tepat dijalankan di Tanjung Piayu Laut untuk mengangkat derajat ekonomi warga di sana.

Menyandang status sebagai Kampung Tua, Tanjung Piayu Laut memang dihuni warga yang merupakan penduduk asli Melayu. Saat ini ada 98 kepala keluarga (KK) dengan jumlah warga sekitar 200 jiwa di Tanjung Piayu Laut. Hampir 100 persen para kepala keluarga bekerja sebagai nelayan tradisional. Termasuk para anak mudanya. Sementara para istri menjadi ibu rumah tangga.

Secara ekonomi, kata Abdurrahman, hampir seluruh warga Tanjung Piayu Laut masuk kategori masyarakat kurang mampu. Bahkan ada beberapa perempuan di sana yang nekat bekerja menjadi nelayan demi memenuhi kebutuhan hidup.

“Kadang penghasilan suami sebagai nelayan tidak cukup,” kata Abdurrahman, Rabu (03/10/2018).

Meski begitu, para perempuan nelayan di Tanjung Piayu Laut ini hanya melaut di musim-musim tertentu saja. Misalnya pada bulan Juni-September saat musim rajungan. Sementara pada bulan Oktober hingga Februari, biasanya para perempuan nelayan itu tak melaut.

“Karena air laut keruh. Gelombang juga tinggi karena sudah memasuki musim angin utara,” kata Abdurrahman.

Pria yang akrab disapa David ini berharap, program KBA di wilayahnya terus berlanjut dan berkesinambungan. Sehingga program ini tidak hanya menyentuh segelintir warganya saja. Melainkan bisa melibatkan sebagian besar warga Tanjung Piayu Laut supaya mereka tak lagi menggantungkan penghasilan keluarga dari pekerjaan sebagai nelayan.

Sebab menurut David, di Tanjung Piayu Laut sebenarnya terdapat banyak sekali pengrajin. Baik pengrajin makanan ringan khas Melayu, pengrajin kayu, hingga pengrajin souvenir dari cangkang kerang laut (gonggong). Namun selama ini mereka tak bisa mengapikasikan keahlian itu menjadi sebuah usaha karena terkendala banyak hal.

“Selain modal, mereka terkendala pemasaran. Jadi usahanya tak bisa jalan,” kata David.

Melalui program KBA ini, kata David, tim dari PT Astra International Tbk mendampingi sejumlah warga yang ingin atau telah memiliki usaha. Misalnya usaha makanan ringan yang dijalankan Rentina dan beberapa warga lainnya.

“Astra banyak membantu mereka. Mulai dari cara bikin kemasan yang menarik hingga membantu pemasarannya,” kata David.

Jika program ini berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak lagi warga, David yakin Kampung Tua Tanjung Piayu Laut akan menjadi kampung yang mandiri secara ekonomi. David juga berharap, kelak warganya tak lagi bergantung pada hasil laut yang tak menentu itu untuk menghidupi keluarganya.

“Terutama para perempuan, jangan lagi ada yang jadi nelayan karena terlalu berisiko,” katanya.

Empat Pilar yang Menginspirasi

Sementara Koordinator Wilayah KBA Tanjung Piayu Laut, Batam, Kepulauan Riau Muhammad Iqbal mengatakan, KBA Tanjung Piayu Laut merupakan satu dari 77 KBA yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Namun KBA Tanjung Piayu Laut ini tergolong KBA yang masih baru dibandingkan yang lainnya.

“Baru mulai jalan sekitar dua bulan lalu,” kata Iqbal, Kamis (13/09/2018) lalu.

Iqbal mengatakan, untuk tahap awal Tim KBA PT Astra International Tbk fokus menjalankan pilar kewirausahaan di KBA Tanjung Piayu Laut. Mereka mendampingi beberapa warga yang memiliki usaha kecil dan menengah. Juga mendorong warga menghidupkan kembali usaha mereka yang sempat mati suri.

Melalui pilar kewirausahaan ini, program KBA diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang produktif dan mandiri secara ekonomi.

Iqbal menjelaskan, program Kampung Berseri Astra (KBA) merupakan program kontribusi sosial berkelanjutan Astra yang diimplementasikan kepada masyarakat. Ada empat pilar dalam program ini. Selain pilar Kewirausahaan, ada pilar Kesehatan, Pendidikan, dan Lingkungan.

Melalui program ini, masyarakat dan perusahaan dapat berkolaborasi untuk bersama mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah KBA.

Iqbal menyambung, saat ini pihaknya tengah menyusun agenda kegiatan untuk mengimplementasikan tiga pilar lainnya di KBA Tanjung Piayu Laut. Yakni pendidikan, kesehatan, dan lingkungan.

Menurut Iqbal, program KBA merupakan langkah nyata Astra untuk ikut serta membangun bangsa. Ia berharap program ini bisa dijadikan role model dan inspirasi bagi banyak pihak, baik swasta maupun pemerintah, untuk berkolaborasi membangun dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. (suparman)

Neno Anggap Kang Emil, TGB, Jokowi dan Ahok Manfaatkan Prabowo

0
Pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno. (Foto: Issak Ramadhani/JawaPos.com)

x.batampos.co.id – Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto mengakui kesalahannya karena menyampaikan informasi bohong terkait Ratna Sarumpaet. Ketua Umum Partai Gerindra itupun menyampaikan permohonan maaf.

Menanggapi sikap jagoannya itu, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Neno Warisman mengaku kagum. Prabowo berani menyampaikan permintaan maaf ke masyarakat Indonesia.

“Dalam hal ini saya justru kagum dengan jiwa ksatria Pak Prabowo. Berkali-kali beliau disalahgunakan orang-orang yang dibantunya macam Ridwan Kamil, TGB, Jokowi, Ahok. Tapi, beliau tetap tegar menerima dengan lapang dada,” ujar Neno kepada JawaPos.com (grup x.batampos.co.id), Kamis (4/10).

Inisator #2019GantiPresiden ini menambahkan, Prabowo di sisi lain justru bersyukur luka lebam yang memenuhi wajah Ratna Sarumpaet bukan dikarenakan pengeroyokan. Itulah yang menurut Neno menunjukkan jiwa besar Prabowo.

“Pak Prabowo jadi malah bersyukur pada Bu Ratna. (Itu) adalah sifat ksatria yang sangat terpuji,” katanya.

Tutur kata Prabowo yang cerdas dan satun diyakini Neno akan menambah dukungan dari masyarakat untuk memberikan dukungan di Pilpres 2019 mendatang. “Tutur kata yang cerdas dan santun malah menambah euforia respect dan keberpihakan masyarakat pada Prabowo Subianto,” katanya.

Oleh karena itu, Neno yakin pada akhirnya masyarakat dapat menilai Prabowo Subianto adalah seorang yang sangat antikekerasan. Hal ini juga dikatakan Neno tercermin dalam keseharian Prabowo Subianto.

“Sifat tentara harusnya seperti itu. Kan ada dalam diktum tentara bahwa tentara adalah pelindung bagi anak-anak dan perempuan dari kekerasan,” pungkasnya.

Sebelumnya, capres nomor urut 02 Prabowo Subianto menyampaikan permohonan maaf kepada publik. Hal ini terkait kebohongan yang dilakukan oleh aktivis Ratna Sarumpaet soal pengeroyokan di Bandung, Jawa Barat.

Prabowo minta maaf karena telah menyampaikan informasi kebohongan yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet. Adapun Ratna Sarumpaet mengaku dirinya bukan dikeroyok sehingga wajahnya menjadi lebam. Padahal lebam yang ia dapatkan lantaran usai melakukan sedot lemak di bagian pipi kirinya di Rumah Sakit Khusus Bina Estetika. (gwn/jpg)

Ada Usul 3 Oktober Sebagai Hari Anti Hoax

0
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. (Dok Humas)

x.batampos.co.id – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil merekomendasikan 3 Oktober sebagai hari anti hoax nasional.

“Saya hanya mengusulkan saja 3 Oktober sebagai hari anti hoax. Karena pengakuan pembuatan hoax terbaik pada 3 Oktober kemarin,” kata Ridwan Kamil di Bandung, Kamis (4/10).

Menurut pemimpin yang akrab disapa Kang Emil, berita pemukulan Ratna Sarumpaet di Bandung merupakan peristiwa luar biasa, kemarin. Karena yang menjadi korbannya itu level-level elit nasional.

“Yang jadi korban level elit-elit nasional dan ini hikmah bahwa kondisi bangsa Indonesia seperti ini mudah dibohongi,” ujarnya.

Berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran. Agar bisa terus diingat maka diusulkan 3 Oktober sebagai hari Anti Hoax nasional.

Selain itu, Kota Bandung sangat dirugikan maka sebagai Gubernur Jawa Barat, dirinya meminta Ratna Sarumpaet meminta maaf kepada warga Bandung. Karena perihal hukum akan ada pihak analisanya.

“Karena warga Jabar khususnya Bandung banyak dirugikan, komplen merasa Bandung jadi tidak aman karena berita bohong itu. Angkasa Pura II Bandara juga rusak dianggap tidak ada pengaman, (militer) AU juga merasa tercoreng seolah-olah kecolongan, itu kan berita bohong. Jadi mengimbau cukup untuk minta maaf,” pungkasnya.

Sebelumnya Ratna Sarumpaet dikabarkan dipukuli oleh orang tidak dikenal di Bandara Husein Sastranegara Bandung pada 21 September 2018 lalu. Namun akhirnya berita tersebut merupakan hoax karena fakta-fakta di lapangan tidak ada dugaan penganiayaan di Bandung. Dilanjut dengan pengakuan Ratna Sarumpaet bahwa berita itu hoax. (ona/jpg)

Imunisasi MR di Kepri Diperpanjang hingga 31 Oktober

0
ilustrasi

x.batampos.co.id – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Tjejep Yudiana menegaskan pemberian imunisasi MR di Kepri diperpanjang hingga 31 Oktober mendatang. Hal tersebut terkait belum targetnya pencapaian imunisasi MR di Kepri.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di Kepri agar mau mengimunisasi MR anaknya, pihaknya terus gencar menggelar pertemuan dengan tokoh masyarkat, kepsek, MUI, tokoh agama di beberapa kabupaten/kota di Kepri, termasuk di Batam yang penduduknya paling padat di Kepri.

“Kendala terbesar dan paling sulit itu adalah sudah terlanjurnya masyarakat terbentuk opini bahwa pemberian imunisasi atau vaksin MR ke anak itu haram hukumnya. Tanpa dukungan yang kuat dari seluruh masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, MUI dan pimpinan daerah, mustahil target imunisasi di Kepri bisa dicapai,” ujar Tjejep, Rabu (3/10) sore.

Anak yang terkena rubella yang sudah tercatat Dinkes Kepri, lanjut Tjejep, jumlahnya mencapai 114 anak yang tersebar di kabupaten/kota se-Kepri.

“Itu untuk jumlah yang dilaporkan loh ya. Kalau yang tak terlaporkan, saya yakin jumlahnya lebih banyak. Bahkan saat rapat kami dengan Kabid penanggulangan penyakit di Tanjungpinang, tiap satu RW itu, rata-rata dua sampai tiga anak terkena rubella. Tapi orangtuanya enggan melapor ke dinkes karena mereka tak mau anaknya sampai terpublikasi terkena rubella,” terangnya.

Jumlah terbanyak anak ditemukan terkena rubella sendiri, lanjut Tjejep, didominasi dari Batam.

“Tapi saya jumlah pastinya tak hafal. penderita ini ketahuan terkena rubella setelah memeriksakan ke rumah sakit. Sementara yang sudah terlanjur kandunganya keguguran, terlanjur cacat, itu tak diperiksakan oleh orangtuanya. Contoh faktanya adalah siswa di SLB,” katanya.

Di Kepri sendiri saat ini jumlah SLB ada enam, termasuk di Batam dengan jumlah murid sekitar dua ribuan lebih. Tjejep menegaskan dari jumlah SLB tersebut tiap sekolah itu sebagian dipastikan cacat karena terkena rubella.

“Kalau kurang yakin dengan ganasnya virus rubella yang menjangkiti anak-anak di Kepri, saya sarankan masyarakat datanglah ke SLB. Virus rubella sendiri bagi yang terjangkit dampaknya menimbulkan kebutaan, bisu, tuli, perkembangan tubuhnya tak normal atau cebol hingga ke kematian,” terang Tjejep.

Untuk jadwal pemberian imunisasi MR sendiri di tiap posyandu dilakukan sebulan sekali. Sementara untuk di puskesmas se-Kepri dilakukan tiap seminggu sekali dan itu semua gratis. Sedangkan di rumah sakit bisa dilakukan tiap hari, namun dikenakan biaya jasa penanganan dokter.

“Kenapa di puskesmas dilakukan seminggu sekali? Sebab yang datang ke puskesman untuk imunisasi jumlahnya sedikit sekali. Kalau tiap hari hanya ada tiga atau empat orang saja yang mau imunisasi MR, itu sangat mubazir sekali. Karena satu ampul vaksin MR itu harus dipakai untuk delapan anak dan sekali dibuka, apabila masih tersisa, harus segera dibuang, tak boleh lagi disimpan atau digunakan lagi ke anak lainnya,” ujar Tjejep mengakhiri. (gas)

Batam Menunggu 10 Bus Bantuan Kemenhub

0

batampos.co.id – Dishub Batam akan terus melobi kementerian perhubungan untuk segera merealisasikan 10 unit armada. Di mana saat ini, armada tersebut sangat dibutuhkan di Batam untuk menambah armada yang ada di Batam.

“Kita dapat 10 tetapi hanya baru tertulis. Hingga kini fisiknya belum ada sekali. Kita berharap realisasinya segera,” kata kepala dinas perhubungan Kota Batam, Rustam Efendi, beberapa waktu lalu.

Rustam mengatakan saat ini masih ada sekitar 57 trans Batam yang beroperasi. Tetapi jumlah tersebut sangat jauh dari jumlah layak untuk melayani seluruh Batam. Apalagi sudah ada beberapa unit di antaranya yang memang sudah harus diremajakan.

“Kalau misalnya di hinterland, sudah ada beberapa yang harusnya diganti.Dan kalau ini sudah ada kita rencana mau buat satu atau dua di sana,” katanya.

Sementara itu, anggota komisi III DPRD Kota Batam meminta Dishub untuk terus melobi pusat. Menurutnya, semakin banyak bus trans Batam maka akan semakin bagus untuk Batam.

“Kalau bus jumlahnya bertambah, maka akan semakin banyakk warga yang naik trans Batam. Kalau sekrang banyak warga yang malas naik Trans Batam karena tidak ada kepastian waktu berangkatnya. Terkadang lama ditunggu, terkadang cepat,’ katanya.

Meski demikian, ia mengaku bahwa saat ini peminat trans Batam sudah mulai ramai.Ini tidak lepas dari pelayanan yang sudah pelan-pelan berangsur baik.

“Tetapi tetap pelayanan harus terus ditingkatkan. Harus terus semakin baik. Kalau pelayanan baik, maka akan menjadi pilihan utama warga,’ katanya. (ian)

Ajak Partisipasi Masyarakat, Walikota Serukan Tagar #BataMiliKita

0

batampos.co.id – Walikota Batam, Muhammad Rudi mengajak masyarakat untuk menjaga Batam. Ajakan disampaikan melalui gerakan moral bertagar #BataMiliKita (Batam Milik Kita).

“Batam ini terdiri dari multi etnis, multi agama, multi suku, multi profesi, dan multi lainnya. Maka harus ada satu tekad yang menyatakan kita harus bersatu. Sering saat berpidato saya bertanya, Batam ini milik siapa, jawabannya Batam milik kita. Semua kita harus bersatu,” kata Rudi di Batam Centre, Rabu (3/10/2018).

Tagar #BataMiliKita bisa diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Pada bidang kebersihan misalnya melalui kegiatan gotong royong, gerakan tidak membuang sampah di jalan, tiap kendaraan memiliki tempat sampah agar tak buang ke jalan.

Dalam hal tata kota, #BataMiliKita juga bisa diaplikasikan melalui kesadaran untuk tidak membuat bangunan di atas drainase, tidak merusak taman yang telah dibuat, tak menempel atau memaku iklan di batang pohon, menjaga fasilitas umum, dan tidak melakukan aksi vandalisme. Parkir pada tempatnya, tidak memakai pedesterian untuk kegiatan selain pejalan kaki, juga bisa masuk dalam gerakan moral #BataMiliKita ini.

Inti dari gerakan moral ini adalah mengajak masyarakat Batam untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap kota Batam. Baik dilakukan sendiri maupun saling mengingatkan satu sama lain.

“Batam ini masyarakatnya majemuk, berasal dari berbagai daerah dengan beragam budaya. Adat budaya tempatan harus kita junjung, tapi bukan berarti budaya lain dibiarkan saja. Semua bergandengan teratur,” tuturnya.

Ia berharap gerakan moral ini bisa menyentuh seluruh masyarakat. Bila perlu akan dicanangkan secara khusus oleh Walikota. Sehingga pada akhirnya seluruh masyarakat tumbuh rasa memiliki dan mau menjaga Batam dari segala hal negatif. Batam menjadi kota yang lebih nyaman untuk ditempati warganya dan dikunjungi wisatawan.

“Akan kita canangkan, #BataMiliKita. Mari sebarluaskan semangat ini. Saya yakin suatu waktu nanti Batam ini hebat,” ujarnya. (iza)

Tak Pasang Tapping Box, izin Usaha Bisa Dibekukan

0
ilustrasi

batampos.co.id – Pemerintah Kota (Pemko) Batam terus menggali potensi pendapatan daerah. Terkhusus pajak, kini sedang intens dilakukan pemasangan tapping box (perekam transaksi).

Wali Kota Batam Muhammad Rudi mengatakan, kehadiran sistem tersebut selain mencegah kebocoran. Juga bermanfaat bagi pengusaha sendiri, karena transaksi keuangannya terarah.

“Kalau tak dilaksanakan dengan sistem yang kita siapkan. Kita perlu tanyakan ada apa,” ucap Rudi.

Bahkan, ia mengatakan jika kecurigaan tersebut terbukti akan ditindak. “Jika tak mau, ada kecurigaan ini, bisa saja nanti izinnya bekukan,” tambah Rudi.

Ia mengatakan, Kamis (4/10) ini bertempat di Kantor Wali Kota Batam akan ada sosialisasi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Turut diundang pengusaha, pejabat keuangan, hingga camat dan pimpinan OPD.

“KPK pun komit akan lakukan tindakan (jika ada pelanggaran,” ucapnya.

ia mengatakan, hal ini selain dengan tujuan mewujudkan pemerintahan yang pengelolaan keuanggnya baik juga menambah Pendapatan Batam.

“Sebenarnya ini sudah kami lakukan dari dulu. PAD itu salah satu sumber membiayai pembangunan Batam ini,” kata dia.

Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Batam, Raja Azmansyah mengungkapkan target pemasangan tapping box sampai di Oktober berjumlah 200 unit. Pihaknya menyiapkan lima tim, terdiri dari tiga tim pemasangan dan dua tim servey.

“Sekarang lagi berlangsung di lapangan. Kita targetkan sebelum akhir tahun sudah selesai,” katanya, kemarin.

Diakui Raja, sebelum pemasangan tapping box ini pihaknya memanggil 89 Wajib Pajak (WP). WP tersebut disurvey kelayakan pemasangan Tapping Box, 31 wajib pajak sudah bisa langsung dipasang. Sementara sisanya masih menunggu jadwal pemasangan.

Ia menambahkan kedepan Bank Riau Kepri memiliki target pemasangan tipping box sebanyak 400 unit.

“Tahun ini juga ada penambahan 10 dari Bank BJB. Jadi totalnya 210 unit,” tuturnya.

Ia menambahkan, target WP memasang tapping box ini merupakan target minimal di tahun ini. Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya WP di Batam yang belum memasang peralatan berbasis online ini.

“Kita maksimalkan di wajib pajak potensinya masih bisa ditingkatkan. Sehingga pelaporan juga lebih akurat,” tuturnya.

Penerapan sistem pajak online juga bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk menjadikan Batam sebagai smart city. Pemasangan juga bukan hanya pada WP hotel dan restoran, melainkan juga pada pengelola parkir, hiburan dan sumber pajak lainnya. Pemasangan bersifat wajib, artinya WP tidak bisa menolak jika sudah ditetapkan pemerintah.

BP2RD mengingatkan WP untuk tidak menghalangi proses survey dan pemasangan tapping box. Mengingat hal ini sudah diatur dalam perwako 25 Tahun 2016 tentang tata cara pembayaran Dan pelaporan pajak secara online. Selain itu wajib pajak juga wajib memberikan akses ke BP2RD, menyediakan mesin cash yang sesuai dengan alat perekam elektronik. (iza)