Selasa, 12 Mei 2026
Beranda blog Halaman 12440

Pemko Biayai Ongkos Lokal CJH

0

batampos.co.id – Pemerintah Kota Tanjungpinang akan membiayai ongkos transportasi lokal calon jemaah haji (CJH) Tanjungpinang. Ongkos ini meliputi transportasi darat dan laut dari Tanjungpinang sampai embarkasi di kota Batam.

Hal ini berlaku untuk keberangkatan maupun kepulangan. Rencana ini semakin matang dengan telah disusun rancangan peraturan daerah (Ranperda) yang akan dibahas dan disahkan tahun ini. “Karena selama ini tidak ada alokasi khusus untuk biaya transportasi ini,” kata Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tanjungpinang, Rika Adrian, kemarin.

Tak pelak selama ini pembiayaannya diambil langsung oleh Kemenag Tanjungpinang. Hal ini kemudian disampaikan ke Pemko dan DPRD agar bisa dicarikan solusi.
Terlebih, anggaran yang dimiliki Kemenag juga terbatas. Sehingga jika beban ini diambil alih oleh pemerintah, dirasa akan sangat membantu melonggarkan beban pengeluaran saban tahun.

“Jadi Kemenag minta persoalan biaya ini dibahas khusus. Kami merasa perlu ada aturannya agar biaya transportasi lokal itu bisa dialokasikan dari APBD,” ujar politisi perempuan dari PAN ini.

Menurut Rika, memang tidak ada salahnya Pemko Tanjungpinang mengambil alih tanggung jawab ini. Dengan teknis yang kelak akan dijabarkan dalam peraturan daerah, diharapkan alokasi khusus ini bisa meningkatkan kualitas pelayanan haji, yang selama ini seluruhnya jadi domain kerja Kemenag belaka.

“Jadi nanti jelas bagaimana teknis keberangkatan dari sini ke Batam, biaya ferinya, dari Punggur ke bandara dan kemudian nanti pulangnya juga sampai Tanjungpinang,” jelas Rika.

Ranperda tentang pembiayaan ongkos transportasi lokal CJH ini, sambung Rika, sudah termasuk dalam 11 ranperda yang akan dibahas pada tahun ini. Ia berharap ranperda ini bisa lekas disahkan dan pada tahun depan sudah bisa diterapkan. (aya)

Pakai Dexlite, Harga Bagus dan Tarikan Mesin Diesel Lebih Mulus

0

Kehadiran Dexlite, bahan bakar baru dari Pertamina untuk mesin diesel disambut antusias masyarakat Batam. Betapa tidak, selain harganya yang tak begitu mahal, Dexlite juga diklaim lebih bagus dan berkualitas ketimbang Bio Solar atau solar subsidi. Tak heran, banyak konsumen yang mulai beralih menggunakan Dexlite.

RATNA IRTATIK, Batam

Trisno turun dari truk tangki yang dikendarainya. Ia menghampiri petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Seraya Bawah yang berada di Jalan Budi Kemuliaan, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Saat itu, mobilnya berhenti di depan mesin pompa Bahan Bakar Minyak (BBM) berjenis Dexlite. “Rp 150 ribu saja, bang,” teriak Trisno pada petugas pria tersebut.

Tak berselang lama, pengisian Dexlite ke truk tangki itu selesai. Trisno menyerahkan uang di genggamannya kepada petugas tadi. “Minta kuitansi ya,” kata Trisno lagi.

Meski tak menyahut, petugas itu menganggukkan kepala seraya mengambil uang dari tangan Trisno. Ia kembali ke hadapan pelanggannya tersebut dengan sehelai kertas kecil. “Ini bang,” gantian terdengar suara petugas itu, sambil menyerahkan kertas kecil tadi pada Trisno.

Setelah itu, Trisno berpaling dan kembali masuk ke belakang kemudi truk tangkinya. Ia menyalakan mesin, lalu mengarahkan kendaraannya itu keluar SPBU. Saat itu, Batam Pos sengaja ikut naik ke mobil truk tangki tersebut.

“Suara mesinnya tidak terlalu bising kan? Tarikan mobil ini juga lebih halus lo,” kata Trisno, tanpa menoleh karena pandangannya fokus ke depan, pada jalanan yang akan dilaluinya. “Beda ketika pakai solar dulu, suara mesinnya kasar, tarikan juga enggak maksimal kayak begini,” ujar pria asal Jawa Tengah tersebut.

Trisno adalah sopir mobil truk tangki air bersih milik seorang pengusaha skala menengah di Kota Batam. Truk tangki semacam ini biasanya menyuplai kebutuhan air untuk beberapa kawasan yang belum teraliri air bersih dari PT Adhya Tirta Batam (ATB), pemegang konsesi distribusi air bersih untuk wilayah Batam.

Dalam sehari, Trisno mengaku bisa satu hingga dua kali membeli BBM, tergantung berapa banyak permintaan suplai air bersih ke pelanggannya. Semakin banyak yang harus ia layani, otomatis kebutuhan BBM juga meningkat. Namun, keputusan Trisno beralih menggunakan Dexlite untuk mesin diesel mobil truk tangkinya yang berjenis Mitsubishi Canter 110 Ps tersebut, ternyata belum lama dilakukan.

“Paling baru sekitar sembilan atau sepuluh bulan ini. Soalnya baru tahu kalau pakai Dexlite lebih hemat,” katanya.

Trisno bertutur, awalnya kurang tertarik menggunakan Dexlite karena harganya yang lebih mahal ketimbang Bio Solar. Namun, pandangan itu berubah drastis saat ia terpaksa harus membeli Dexlite. Iya, Trisno memang mengaku terpaksa karena saat itu Bio Solar sering kosong di beberapa SPBU di Batam. Barulah, ia mengetahui perbedaan kualitas Dexlite dibanding Bio Solar. “Sekali mencoba keterusan, kualitas mesin juga lebih bagus,” pujinya.

Trisno mencontohkan saat kendaraannya itu masih menggunakan Bio Solar dan sedang mengangkut muatan penuh. Kapasitas tangki airnya bisa sampai 6.000 liter. Jika harus menyuplai air ke wilayah yang berbukit-bukit seperti kawasan Bengkong, Batuampar dan sekitarnya, ia sedikit khawatir.

“Dulu kalau pas muatan banyak, agak ketar-ketir pas jalan menanjak, soalnya tarikan mesin berat, takut enggak kuat,” kenang Trisno sembari tertawa kecil.

Namun, setelah menggunakan Dexlite, kekhawatiran itu lenyap. Untuk mengangkut muatan sebanyak itu, kata dia, tarikan mesin mobil terasa lebih ringan. “Percaya atau enggak itu memang harus dibuktikan sendiri antara sebelum (memakai Dexlite) dan sesudahnya,” ucapnya.

Berselang 5 menit kemudian, Trisno menghentikan laju kendaraannya. Ia memarkir kendaraannya tepat di belakang mobil truk tangki lainnya. Trisno mengajak Batam Pos turun.

“Kita ketemu bos ya,” katanya.

Benar saja. Baru sekitar lima langkah turun dari mobil, orang yang disebut Trisno sebagai bos itu sudah menyambut. Ia mengulurkan tangan. Namanya Zain. Tak perlu waktu lama, Trisno lebih dulu menjelaskan tujuan kedatangan Batam Pos. Zain paham, lalu mengangguk dan mempersilakan duduk. Ia lalu bercerita tentang persetujuannya ketika kendaraan miliknya itu beralih menggunakan Dexlite.

“Karena kalau dihitung-hitung, jatuhnya lebih hemat pakai Dexlite. Tapi ini hitungan jangka panjang ya,” kata Zain.

Menurutnya, semenjak menggunakan Dexlite, ia mengaku tak lagi terlalu sering membawa kendaraannya itu ke bengkel. Tentu saja itu berbeda ketika dulu masih menggunakan Bio Solar. Setidaknya, sebulan sekali mobilnya itu harus diservis ke bengkel. Atau, ada saja komponen kendaraan yang harus diganti karena cepat rusak.

“Tapi sekarang enggak lo, paling banter ke bengkel dua bulan sekali,” ungkapnya.

Tak hanya itu, berdasarkan laporan dari para sopirnya, menggunakan Dexlite juga hemat dari hitungan jarak tempuh. Meski tak bisa menjelaskan hitung-hitungan pastinya, namun Zain menyebut dengan jumlah bahan bakar yang sama, jarak tempuh yang dihasilkan Dexlite lebih jauh ketimbang Bio Solar.

“Yang pasti sebagai pengguna saya senang, ada pilihan lain selain solar yang kualitasnya lebih bagus tapi harganya masih masuk hitungan bisnis,” ujarnya.

Disukai Pengendara Wanita

Bukan hanya pelaku usaha yang menyambut gembira hadirnya Dexlite. Warga Batam lainnya yang menggunakan mobil bermesin diesel, juga tak kalah antusias ketika menggunakan bahan bakar yang mulai didistribusikan sejak 2016 lalu itu. Terutama, kaum hawa yang menginginkan kendaraannya melaju mulus tanpa harus sering ke bengkel karena mesin atau komponennya aus.

Vivie, warga Tiban, Sekupang, Kota Batam juga mengaku menjadi pengguna Dexlite. Ia mengaku menggunakan Dexlite karena kualitasnya yang cukup bagus untuk menunjang performa mobilnya. Sejak beralih menggunakan Dexlite, Vivie menyebut mobil pribadinya, Ford Everest, terasa makin bertenaga dan suara mesinnya juga lebih halus.

“Lebih nendang, tarikan juga ringan. Pokoknya pas lah,” kata ibu dua orang putri tersebut.

Menurut Vivie, selain berkualitas, Dexlite juga tidak terlampau mahal. Sekali isi BBM, ia biasanya membeli sekitar Rp 300 ribu. Bahan bakar dengan jumlah tersebut biasanya cukup untuk menunjang mobilitasnya ke kantor selama sekitar satu hingga dua minggu.

“Kebetulan dari rumah ke kantor juga dekat banget. Sedangkan suami pakai mobil sendiri. Jadi bahan bakar enggak habis-habis,” kata wanita berjilbab itu sembari tertawa.

Namun, yang menurut Vivie paling berkesan selama menggunakan Dexlite karena mesin mobilnya tidak gampang bermasalah. Alhasil, ia pun hanya melakukan perawatan rutin ke bengkel setiap dua bulan sekali.

“Bagi wanita, mobil enggak rewel itu penting. Soalnya kalau sedikit-sedikit mogok, ribet, apalagi kita enggak tahu cara membetulkan mesin,” jelasnya.

Karena itu, ia mengaku pilihannya menggunakan bahan bakar yang mendukung ketahanan mesin bukan hal yang keliru. Terlebih, di berbagai SPBU milik Pertamina di Batam, Dexlite sudah mulai banyak tersedia.

“Kalau mau yang lebih bagus lagi, ada Pertamina Dex, kalau mau harga sedang tapi kualitas bagus ada Dexlite ini. Jadi pilihan banyak,” kata wanita yang hobi bermain bola voli tersebut.

Penyaluran Meningkat

Pihak Pertamina menyambut gembira banyak masyarakat Batam yang sudah beralih menggunakan Dexlite. Sejak diluncurkan di Batam pada 2016 lalu, pihak Pertamina mencatat terjadi kenaikan jumlah penyaluran Dexlite.

Unit Manager Communication and Corporate Social Responsibility Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I area Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Rudi Ariffianto mengatakan, hadirnya varian baru bahan bakar untuk mesin diesel itu memang ditujukan guna menunjang kualitas hidup masyarakat. Utamanya, dalam hal pemenuhan kebutuhan energi yang makin baik. Karena itu, pihaknya siap menyalurkan Dexlite, berapapun jumlah kebutuhan masyarakat.

“Karena bukan subsidi, kita sesuai dengan demand (permintaan) dari masyarakat,” kata Rudi.

Sejauh ini, penyaluran Dexlite di Batam memang mengalami kenaikan seiring bertambahnya jumlah pengguna. Pada 2016 lalu, Pertamina mencatat penyaluran Dexlite sebanyak 1.847 kiloliter (KL), dengan rata-rata penyaluran per bulan mencapai 263 KL. Sedangkan pada 2017, total penyaluran mencapai 2.898 KL dengan rata-rata per bulan sebanyak 290 KL. Bahkan, untuk periode awal 2018 ini, penyaluran Dexlite juga tercatat meningkat dengan rata-rata per bulan mencapai 311 KL.

Dengan makin meningkatnya penyaluran dan makin banyaknya pengguna, Pertamina juga berkomitmen untuk makin memudahkan masyarakat untuk mendapatkan Dexlite.

“Pertamina berkomitmen dengan terus menyiagakan SPBU selama 24 jam sehari, terus melakukan upaya inovasi dan perbaikan sehingga lebih baik dalam melayani masyarakat,” ujarnya.

Dikatakan Rudi, hadirnya varian BBM untuk mesin diesel ini memang ditujukan untuk menarik masyarakat yang tergolong mampu dan selama ini menggunakan Bio Solar, beralih menggunakan Dexlite. Terlebih, bahan bakar ini punya banyak keunggulan dibanding Bio Solar.

“Kalau Dexlite yang pasti kualitasnya lebih bagus, lebih ramah lingkungan, mesin jadi awet, tarikan enteng dan jarak tempuh lebih jauh,” sebut Rudi.

Dexlite memiliki Cetane Number (CN) minimal 51 dengan kandungan sulfur minimal 1.200 part per milion (ppm). Secara kualitas, Dexlite lebih bagus ketimbang Bio Solar, yang merupakan varian terendah solar Pertamina. Bio Solar memiliki CN 48 dengan kandungan sulfur 3.500 ppm. Sedangkan untuk kualitas di atas Dexlite, ada Pertamina Dex yang punya CN 53 dengan kandungan sulfur di bawah 300 ppm.

Pada BBM jenis ini, CN menunjukkan nilai pengapian pada mobil bermesin diesel. Sehingga, jumlah cetane jadi tolok ukur level bahan bakar di dalam mesin diesel. Makin besar tingkatannya, makin bagus kualitas pembakarannya. Hasilnya, performa kendaraan juga makin meningkat. Misalnya, tarikan mesin kendaraan jadi lebih ringan dan suara juga lebih mulus.

Tak hanya itu, makin tinggi nilai CN maka emisi gas buang dari bahan bakar bermesin diesel juga makin baik. Selama ini, penggunaan Bio Solar menghasilkan gas buang dengan kandungan nitrogen monoksida (NO), belerang oksida (SO) dan hidro karbon (HC). Untuk mengurangi polusi udara akibat pembakaran ini, maka perlu ditingkatkan CN pada solar. CN yang tinggi berarti waktu tunda penyalaan jadi lebih singkat. Karena itu, Pertamina menghadirkan tiga varian pilihan bahan bakar solar dengan tingkat CN berbeda-beda tersebut, sesuai kebutuhan dan kualitas yang diinginkan konsumennya.

Saat ini, harga jual Dexlite untuk wilayah Kepri dan Batam Rp 8.400 per liter. Sedangkan Pertamina Dex dijual Rp 10.100 per liter. Sementara harga Bio Solar Rp 5.150 per liter.

Jika sudah banyak yang beralih menggunakan Dexlite, pihak Pertamina berharap penggunaan BBM bersubsidi seperti Bio Solar bisa lebih tepat sasaran. Misalnya, untuk kalangan nelayan.

“Untuk itu, kami imbau masyarakat mampu untuk tidak menggunakan BBM bersubsidi, supaya BBM bersubsidi bisa digunakan masyarakat yang membutuhkan,” tutupnya. ***

Polisi Menyerahkan Penindakan Penambangan Pasir ke DLH

0
Sejumlah pekerja sedang menambang pasir di sekitar dam Tembesi, Jumat (9/3). Tambang pasir ilegal yang berada di hutan lindung ini merusak dam dan daerah tangkapan air. | Alfian/ Batam Pos

batampos.co.id – Pihak kepolisian menyerahkan penindakan penambangan pasir ilegal ke Dinas Lingkungan Hidup, baik di Kota Batam maupun Provinsi Kepri. “Leading sectornya disana,” kata Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Erlangga, Kamis (29/3).

Ia mengatakan penanganan penambangan pasir ilegal tidak harus ditangani pihak kepolisian. Karena pengawasan pemerintah daerahlah yang lebih berwenang. “Sama seperti penanganan sarden ada cacing, itu BPOM yang punya kewenangan. Begitu juga dengan pasir ini, pemerintah daerah,” tuturnya.

Namun walaupun begitu, dirinya tidak menutup kemungkinan ikut membantu penanganan penambangan pasir ilegal. “Kalau pemerintah daerah minta back up saat penindakan, kami akan bantu,” ungkapnya.

Terkait penindakan dan pengawasan penambangan pasir ini, juga terjadi salik tolak menolak penindakan di Dinas yang terkait di Pemerintahan Kota Batam dan Provinsi Kepri.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kepulauan Riau, Amjon menangkui penambangan adalah kewenangan pemerintah provinsi. Namun, dalam kasus tambang pasir di Batam disebutnya kasus pencurian atau pidana murni. Sehingga hal ini bisa tindak langsung pemerintah Kota Batam maupun kepolisian. “Karena Batam tata ruang bukan untuk tambang,” tuturnya.

Sedangkan Pemerintah Kota Batam, melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Herman Rozie tetap kukuh menyatakan kewenangan tambang pasir ilegal ini terletak di Pemerintahan Provinsi Kepri. Walau begitu, Herman mengatakan pihaknya siap turun, apabila dibutuhkan oleh Pemerintahan Provinsi Kepri. “Kami siap membantu dan mau turun bersama-sama menangani hal ini,” ungkapnya.

Saat beberapa instansi sibuk saling lempar tanggungjawab dalam menentukan siapa yang berhak melakukan penindakan. Penambang pasir juga sibuk, mengeruk pasir-pasir yang ada di Batam. Para penambang pasir ilegal dengan leluasa terus melakukan kegiatannya, tanpa ada kontrol atau razia. Dari pantauan Batam Pos terlihat truk-truk pasir berlalulalang di jalanan daerah Nongsa, membawa pasir hasil kerukan di beberapa titik tambang ilegal yang ada di daerah itu.

Padahal secara jelas dalam Undang-Undang nomor 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, bahwa tidak diperbolehkan adanya tindak penambangan di pulau-pulau kecil. Di undang-undang ini definisi pulau kecil yakni memiliki luas kurang dari 2.000 kilometer persegi. Sedangkan luas Pulau Batam hanyalah sekitar 1.595 kilometer persegi.

Dalam undang-undang ini juga secara tegas menyebutkan melakukan penambangan pasir apabila secara teknis, ekologis, sosial atau budaya menimbulkan kerusakan lingkungan atau pencemaran lingkungan, dapat dipidana penjara paling singkat dua tahun penjara dan paling lama 10 tahun, dengan dena paling banyak Rp 10 miliar. Hal ini tercantum jelas dalam pasal 73.

Pegawai negeri sipil yang menangani soal penambangan ilegal, tugasnya juga secara jelas dan gamblang di terangkan dalam pasal 36. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu (Dinas Lingkungan Hidup) haruslah melakukan pengawasan dan pengendalian dengan mengadakan patroli di wilayah hukumnya. Namun hal itu tidak terjadi di Batam. Tidak ada penindakan atas penambangan pasir ilegal. (ska)

Harga Pangan Tinggi Karena Biaya Distribusi

0
Warga belanja di Pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batujai, Senin (12/3). F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyampaikan Pemerintah Kota Batam akan mengajak distributor menindaklanjuti kerjasama di bidang pangan bersama Sumatera Barat di kantor Wali Kota BAtam beberapa waktu lalu.

Hal ini dilakukan guna mencari harga bahan pokok yang murah sehingga sesampainya di Batam dapat dijual dibawah Harga Eceran Tertinggi 9HET). Untuk diketahui, Pemko Batam mengklaim tingginya harga barang di Batam dipengaruhi oleh ongkos ditribusi.

“Rekan-rekan ini akan kami ajak untuk folow up MoU kita itu. Ke Sumbar juga ke Jambi. Mudah-mudahan dapat harga yang baik, sehingga kalau di Batam dapat harganya di bawah HET,” ucap Amsakar.

Ia mengatakan sejauh ini persoalan biaya distribusi jadi masalah harga barang di Batam. Alhasil komoditi yang dibeli oleh distributor di daerah tertentu sesampainay di Batam akan dijual di atas HET.

“Misalnya ongkos 500, lalau ada persen berapa yang distributor ambil (untung) makanya angkanya di atas HET,” katanya.

Ia mengatakan, sejauh ini distributor hingga kini terus mencari daerah yang dapat menjual. Secara kebetulan, di Bandara Kualanamu Medan ia bertemu dengan dua orang distributor di Batam, kedua distributor tersebut mengaku mencari komoditi di Medan Sumatera Utara yang harganya terjangkau dan di jual di Batam dengan harga di bawah HET.

“Persoalan mereka belum dapat harga cantik (murah),. Mereka bilang, mereka tidak tinggal diam juga,” ucap dia.

Terkait surat permintaan impor beras yang dikirim ke Kemendag beberapa waktu lalu, Amsakar mengaku masih menunggu jawaban. Karena hingga saat ini Pemko Batam belum terima surat balasan.

“Belum ada jawaban untuk surat kami itu,” pungkasnya. (adi)

WiKa Ingin Kelola Workshop Sekupang

0
Jembatan Dompak di Tanjungpinang, salah satu karya WiKa. Jembatan laut terpanjang ketiga di Indonesia (1.465 meter)

batampos.co.id – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Wijaya Karya (Wika) mengakui berminat untuk ikut mengembangkan Batam sebagai langkah perluasan bisnis perusahaan konstruksi ini.

“Dari pertemuan-pertemuan sebelumnya, Wika sangat tertarik untuk berinvesasi di Batam baik soal air, rumah sakit, bandara dan sektor lainnya, kata Manager Investasi Infrastruktur Wika, Bambang Sunar di Gedung Marketing BP Batam, Kamis (29/3).

Ketertarikan terbesar Wika diantaranya adalah terkait air dan pemanfaatan salah satu aset yakni workshop milik BP Batam yang ada di Sekupang.

Sedangkan Deputi IV BP Batam Eko Budi Soepriyanto yang menyambut rombongan Wika mengatakan Batam membutuhkan dukungan dari berbagai pihak dalam membangun ekosistem yang kondusif untuk pertumbuhan ekonomi.

“Di Batam banyak peluang yang bisa dikembangkan. Dan terus terang kami perlu dukungan,” kata Eko.

Ia kemudian menjelaskan berbagai rencana prioritas pengembangan Batam kedepan seperti pembangunan Pelabuhan Batuampar, Pelabuhan CPO Kabil, MRO, terminal kargo dan penumpang di Bandara Hang Nadim, Jembatan Batam Bintan dan lainnya.

Eko lalu mengatakan bentuk kerjasama yang dapat dilakukan dan sesuai perundang-undangan yang berlaku yakni sewa, pinjam pakai dan kerjasama pemanfaatan aset (KPS). Namun BP Batam menyarankan agar dapat memanfaatkan pola KPS yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) 27/2014.

“Jangka waktunya 30 tahun dan dapat diperpanjang dan ini dapat kita terapkan untuk mengembangkan aset-aset manapun seperti asrama haji, workshop Sekupang dan Kawasan Wisata Vietnam,” pungkasnya.(leo)

Kafe Remang-remang Menjamur di Pinggir Jalan Batam

0
ilustrasi

batampos.co.id – RoW jalan marak dimanfaatkan sebagai tempat usaha di wilayah Batuaji, tak terkecuali kafe remang-remang. Inilah yang marak terlihat di sepanjang jalan Brigjen Katamso, Tanjunguncang. Kafe remang-remang ini menjamur di depan PT Hyundai. Warga sekitar menyebutkan ruli pohon Ceri.

Kawasan pemukiman liar diatas lahan penghijauan itu sebelumnya sudah jadi wacana penertiban dari pihak Kecamatan Batuaji namun belum terealisasi hingga saat ini. Warga sekitar kembali mempertanyakan realisasi wacana tersebut, sebab keberadaan warung yang dijadikan kafe remang-remang itu meresahkan masyarakat sekitar.

“Ini bukan hanya warung biasa, tapi tempat esek-esek (protitusi terselubung) dan tempat mabuk-mabukan juga. Sudah lama ini semakin hari semakin bertambah,” tutur Suyono, warga yang bermukim di seberang ruli pohon Ceri itu, Senin (26/3).

Warga berharap agar instansi pemerintah terkait segera menertibkan pemukiman liar tersebut agar tidak mengganggu kenyamanan warga di sana.

“Di sini sudah padat perumahan. Banyak anak-anak usia sekolah. Ini yang kami kuatirkan. Takut anak-anak ikut-ikutan ke sana,” ujar Malik, warga lainnya.

Menurut Malik, warung yang disulap jadi kafe remang-remang itu beroperasi layaknya warung pada umumnya yakni menjajahkan berbagai makanan dan minuman, namun di malam hari warung tersebut juga membuka musik karaoke layaknya di tempat karaoke atau pujasera serta menjajahkan minuman keras. Tidak itu saja warung-warung tersebut juga ramai didatangi wanita-wanita malam yang berdandan minim. “Ada biliardnya juga jadi ribut kali kalau malam hari,” terangnya.

Pantauan Batam Pos di lapangan, ruli pohon Ceri yang berlokasi persis di pinggir jalan Brigjen Katamso itu cukup banyak. Ada belasan unit ruli yang dijadikan warung. Bangunan warung yang dijadikan kafe remang-remang itu biasa saja layaknya pemukiman liar lain. Bangunan liar itu umumnya sangat dekat dengan jalan raya. Jarak antara aspal jalan dengan bangunan liar itu hanya sekitar dua meter saja. Bagian depan merupakan kios atau warung sementara di belakangnya ada bangunan lainnya yang dijadikan tempat karaoke ataupun tempat biliar.

Sejumlah pemilik bangunan liar saat diminta tanggapan, mengaku nyaman-nyaman saja selama bermukim dan berusaha di lokasi row jalan tersebut. Itu karena belum ada teguran ataupun penertiban apapun dari instansi pemerintah terkait.

“Cuman sementara saja. Cari makan pak. Sekarang susah cari kerja. Kalau belum dipakai (row jalan) biarkan saja kami buka usaha sementara dulu,” tutur Uli, seorang penjaga warung di lokasi pemukiman liar itu, kemarin.

Pihak kecamatan Batuaji saat kembali dikonfirmasi belum bisa memastikan kapan penertiban pemukiman liar tersebut akan ditertibkan. “Belum ada wacana lagi. Coba koordinasi dengan Satpol PP,” ujar Camat Batuaji Ridwan.

Senada disampaikan Satpol PP kota Batam. Rencana penertiban pemukiman liar di wilayah Batuaji secara umum belum bisa dilaksanakan sebab penertiban masih fokus di wilayah Nagoya dan Batamkota.

“Selesai dulu yang di Nayoga baru masuk Batuaji,” ujar Sekretaris Satpol PP kota Batam Fridkalter beberapa waktu lalu. (eja)

Labuh Jangkar Dikelola Bersama

0
Sejumlah kapal saat labuh jangkar di perairan Batuampar, Senin (19/3). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Permasalahan pengelolaan labuh jangkar di perairan Kepri akan berakhir. Kemungkinan besar labuh jangkar di Batam akan dikelola bersama oleh BP Batam, Pemerintah Daerah dan Kementerian Perhubungan. Tetapi teknis pengelolaannya masih terus digodok di pusat.

“Jadi beberapa waktu lalu sudah diputuskan bahwa itu akan dikelola bersama. Pak menko sudah menargetkan bahwa ini akan selesai dalam sebulan kedepan,” kata staff ahli menko kemaritiman, marsekal Marsetio di hotel ibis style, Batuampar, Selasa (26/3).

Mantan Kepala Staff Angkatan Laut itu mengatakan bahwa permasalahan yang paling besar terkait labuh jangkar ini adalah banyaknya kapal yang asal labuh jangkar dan banyaknya kapal yang buang limbah sembarangan.

“Saat ini ada limbah di pantai Bintan. Ini menjadi persoalan serius,” katanya.

Tetapi setelah kunjungan Menko Kemaritiman, Luhut Panjaitan beberapa waktu lalu ke perairan Nipah maka semua ini akan teratasi. Nanti semua laut di Kepri akan dipetakan peruntukannya.

“Jadi nanti akan dibuat titik-titiknya. Jadi jelas mana yang untuk pariwisata, mana untuk labuh jangkar dan bagaimana kapal harus mengolah sendiri limbah sebelum dibuang ke laut,” katanya.

Sementara itu, anggota komisi III DPRD Kota Batam Werton Panggabean mendukung upaya tersebut. Ini akan mempertegas mana wilayah labuh jangkar dan mana yang tidak.

“Selama ini banyakl tempat wisata tetapi kita tidak tahu di mana tempatnya. jadi harapan kita nantinya, sosialisasi dari pemerintah bisa dilakukan dengan gencar,” katanya.

Terkait pengelolaan labuh jangkar, ia berharap pemerinmtah pusat tetap berjalan sesuai dengan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku.

“Daerah jangan diberatkan. Bagaimana Kepri dan Batam pada khususnya menikmati dari hasil alamnya. Tetapi intinya kita ada peraturan dan undang-undang,” katanya. (ian)

Pelanggaran Lalu Lintas Meningkat

0
Sejumlah pengendara kendaraan bermotor melawan arah saat melintas dijalan Abuyatama Batamcenter. Meskipun sudah ada rambu larangan dilarang melawati jalur tersebut namun sebagian pengendara tidak mengindahkan. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Operasi Keselamatan (Operasi Simpatik Seligi 2018) yang dilaksanakan 3 minggu terakhir mulai dari 5 hingga 25 Maret 2018 menunjukkan peningkatan pelanggaran. Dari operasi ini, pelanggaran yang sering dilakukan oleh masyarakat yakni pelanggaran tidak membawa surat-surat kendaraan.

Kasat Lantas Polresta Barelang Kompol I Putu Bayu Pati mengatakan, dalam operasi ini polisi lebih mengedepankan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) dalam berlalu lintas. Atau lebih tepatnya polisi memberikan edukasi kepada masyarakat yang melakukan pelanggaran lalu lintas.

“Dalam kegiatan ini ada 183 pengendara yang kita lakukan penilangan dan 1.000 teguran terhadap pengendara,” kata Putu, Senin (26/3).

Dijelaskan Kasat Lantas, dibandingkan Operasi Simpatik yang dilaksanakan pada tahun 2017 lalu, penindakan yang dilakukan oleh polisi meningkat. Dari sanksi penilangan, di tahun ini mengalami peningkatan sebesar 17 persen dan sanksi teguran meningkat sebesar 49 persen.

“Paling banyak itu pelanggaran dengan tidak bawa surat kendaraan dan melanggar rambu lalu lintas seperti berhenti di tempat yang dilarang parkir dan lainnya,” tuturnya.

Dari operasi itu, polisi menyita barang bukti SIM sebanyak 77 lembar, STNK 92 lembar, sepeda motor 72 unit, mobil penumpang 85 unit dan mobil barang sebanyak 12 unit. Dikatakan Putu, dari beberapa mobil barang yang ditindak itu ada beberapa mobil angkutan kota (angkot).

“Rata-rata penindakan mengalami kenaikan dengan usia produktif dari usia 26 tahun sampai 30 tahun. Mereka rata-rata karyawan swasta,” bebernya.

Sementara, untuk kecelakaan lalu lintas selama Operasi Simpatik Seligi 2018 ini ada 29 kejadian, dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 6 orang, luka berat 7 orang dan luka ringan 26 orang. Total kerugian materil dari 29 kasus itu sebesar Rp. 59.700.000.

“Laka yang paling banyak di perempatan dengan enam kasus dan ouy of control empat kasus. Sisanya itu hanya kecelakaan ringan seperti diserempet mobil dan hanya mengalami kerugian materil saja,” kata Putu.

Putu menambahkan, dengan meningkatnya pelanggaran lalu lintas itu, pihaknya akan meningkatkan sosialisasi dan pembagian prosedur keselamatan berlalu lintas dengan sasaran pengendara yang berusia produktif antara 26 tahun sampai 30 tahun.

“Sasaran kami di sekolah, universitas maupun ke perusahaan. Kami akan bekerja sama dengan instansi terkait seperti Jasa Raharja, Dispenda untuk menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas,” imbuhnya. (gie)

40 Kios Liar Baru Segera Dibangun

0
Kios liar dibangun di lahan hijau, Aviari.
| Dalil Harahap / batampos

batampos.co.id – Pembangunan kios liar di ruang terbuka hijau sekitar pasar seken Aviari semakin menjadi. Ada 40 kios liar yang akan segera dibangun. Ini karena ketidaktegasan dari pihak kecamatan dan Satpol PP Kota Batam.

Dari pantuan Batam Pos, Senin (26/3) dua orang sedang bekerja di kios liar bekas kebakaran tersebut. Tidak ada dari mereka yang mau memberikan komentar.

“Kami hanya pekerja saja Bang. Tak tahu apa-apa,” kata seorang pekerja tanpa mau menyebut nam.

Di sana, sudah ada sekitar 10 kios yang hampir selesai, menghadap perumahan Pemda II. Di dereatan yang masa masih ada belasan yang baru dipasang atap. Sementara belasan kios lainnya, menghadap jalan raya atau pintu masuk ke pertokoan aviari sudah dipasang tiang.

“Kalau ini sudah ada seminggu dipasang tiangnya. Katanya untuk bangun kios-kios,” kata Santi, seorang pedagang minuman tidak jauh dari lokasi.

Menurutnya, setiap hari aktifitas pembangunan kios liar tersebut tidak pernah berhenti. “Yang di sana (sebelah pemda II) kan sebagian sudah siap. Mungkin semua kios di April sudah siap,” katanya.

Sementara Camat Batuaji, Ridwa mengatakan bahwa surat mengenai penertiban kios liar tersebut sudah disampaikan kepada Satpol PP. Tetapi ini dibantah oleh Kabid Trantibum Satpol PP, Imam Tohari.

“Kami sudah mengirimkan surat. Maunya itu segera dibongkar,” katanya.

Ridwan mengatakan ruang terbuka hijau adalah lahan milik negara yang seharusnya tidak boleh untuk komersil. Apalagi bangunannya tersebut permanen.

“Yang lama saja sekarang ini banyak yang sudah dibongkar, apalagi pembangunan baru itu tidak boleh sama sekali,” katanya. (ian)

Bright Gas Dukung Ekonomi Kerakyatan

0

Seorang pedagang Usaha Kecil Menengah (UKM) Fried Chicken di Pasar Botania Batamcenter, Kota Batam sedang memasak menggunakan Bright Gas, Jumat (30/3). Bright Gas dari Pertamina ini dapat mendukung ekonomi kerakyatan bagi usaha kecil.

Teks/foto: Cecep Mulyana / Batam Pos