
Kecamatan Batuaji telah melarang dengan melintangkan tali, ternyata tali itu dicabut oleh orang tak dikenal.
Surat peringatan 1 dan 2 pun dilayangkan agar mereka membongkar sendiri.
foto / teks : Dalil Harahap / batampos



batampos.co.id – Sekelompok masa di Tanjungpinang menyerukan aksi demontrasi terhadap Gubernur Kepri, Nurdin Basirun 13 Maret 2018 mendatang. Akademisi Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Tanjungpinang, Endri Sanopaka mengatakan kritikan yang disampaikan harus positif dan konstruktif. Bukan sebagai alat bergainning untuk kepentingan sekelompok orang.
“Demonstrasi adalah bagian dari kebebasarn berekpresi untuk menyampaikan aspirasi. Selebaran-selebaran yang disebar, memang menjadi media untuk membangkitkan rasa simpati,” ujar Endri Sanopaka, Minggu (4/3) di Tanjungpinang.
Menurut Endri, isu-isu yang berkembang sekarang ini harus direspon oleh Gubernur tentunya. Karena, bisa berdampak ada kondusifitas Tanjungpinang dalam menyongsong Pilkada 2018 ini. Meskipun demikian, ia juga tidak menapikan, bahwa aksi demontrasi terkadang sarat dengan kepentingan politis. Artinya tidak murni bagi kepentingan publik.
“Selain itu tentu ada cara yang lebih elegan, yakni melalui forum diskusi. Sehingga apa yang menjadi persoalan atau aspirasi masyarakat bisa didengarkan. Jika memang dimungkin untuk diakomodir, kenapa tidak. Begitu juga sebaliknya, jika tidak memberikan faedah yang luas, sudah seharusnya tidak diterima,” paparnya.
Endri menilai, rencana aksi demontrasi yang sudah digaung-gaungkan beberapa waktu lalu, adalah upaya untuk mendapatkan perhatian dari Gubernur. Atas dasar itu, ia mengharapkan peringatan dini tersebut bisa menjadi media evaluasi bagi Gubernur. Karena jika dibiarkan, akan menjadi bola salju yang akan besar.
“Pihak pendemo juga akan terus berupaya melakukan upaya provokasi. Sehingga semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk berdemonstrasi,” tutup Endri.
Menanggapi isu demo kepada Gubernur yang santer beredar. Ketua Komisi I DPRD Kepri, Abdurrahman mengatakan, aksi unjuk rasa pasti punya dua sisi yang berbeda. Yakni manfaat positif dan konsekuensi negatif. Menurutnya, setiap aksi demonstrasi rentan dengan kepentingan politik sekelompok orang. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kepri tersebut menilai, gesekan yang terjadi hanya persoalan komunikasi saja.
“Saya yakin, jika Gubernur menyikapi dengan baik dan tidak emosional. Persoalan ini akan redam dengan sendirinya,” papar Abdurrahman.
Sementara itu, Gubernur Kepri, Nurdin Basirun memberikan respon yang lembut terhadap rencana aksi tersebut. Ditegaskannya, ia tidak merasa alergi dengan segala bentuk kritikan yang ditujukan kepadanya. Akan tetapi katanya, segala bentuk kritikan dan protes yang dilayangkan kepadanya, hendaknya harus sesuai dengan fakta.
“Saya tidak alergi dengan kritikan, tetapi jangan asal protes. Kritikan hendaknya positif dan kontruktif. Sehingga memberikan pengaruh bagi kebaikan kinerjanya kedepan,” papar Gubernur.
Ditegaskannya, selama menjabat sebagai Gubernur Kepri, ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membawa kesejahteraan Provinsi Kepri. Bahkan, apa yang dikerjakannya selama ini semuanya ditujukan untuk masyarakat Kepri. Mantan Bupati Karimun tersebut mengaku tidak pernah mengharapkan pujian atau imbalan atas seluruh kerja yang telah ia lakukan selama ini.
“Saya tidak mengharapkan pujian dari manusia, namun saya akan bekerja dengan ikhlas dan sesuai kemampuannya dan hanya Allah SWT yang tahu dan akan membalasnya,” tutup Gubernur.(jpg)
batampos.co.id – Setiap wanita selalu ingin tampil cantik dan menawan. Tak terkecuali bagi Sisca, wanita kelahiran Pontianak itu. Bagi Sisca, tidak hanya cantik penampilan luar saja. Tapi wanita juga harus memiliki kecantikan hati serta wawasan luas.
“Karena sesungguhnya kecantikan yang abadi adalah terpancar dari hati, “Your outer beauty will capture the eyes, but your inner beauty will capture the heart,” katanya, Minggu (4/3).
Ia mengatakan untuk menjaga kecantikan memerlukan biaya mahal. Harus perawatan rutin ke salon, olah raga. Namun untuk kencantikan hati, hanya perlu selalu berfikir positif, bersyukur, ibadah dan sedekah.
Wanita yang senang fashion dan kecantikan ini, sudah cukup lama berada di Batam.
“Suami saya bule,” ujarnya sembari tersenyum. “Dia kerja di China.”
Ia mengatakan untuk mengisi waktunya saat sang suami bekerja. Saat ini ia telah memiliki butik di BCS Mall.
“Nama butik saya itu sisdalls,” ucapnya.
Tak hanya berkutat di dapur, butik saja. Sisca juga mengikuti komunitas-konunitas salah satunya TCW and Friends Community.
“Saya telah menerapkan tak hanya menjaga penampilan luar saja. Tapi dalam juga, jadi saya selalu ingin tampil be Humble and good atitude,” pungkasnya. (ska)
batampos.co.id – Masih ada warga Kabupaten Kepulauan Anambas yang memiliki rumah yang kondisinya memprihatinkan dan luput dari perhatian oleh Pemerintah Daerah khususnya Dinas Sosial. Akibatnya mereka sampai saat ini belum pernah mendapatkan bantuan rehabilitasi rumah layak huni.
Mestinya hal ini tidak terjadi ketika Pemda dan Pemerintah Pusat mendata warga tidak mampu dan memiliki rumah tidak layak huni untuk dapat di bedah. Namun ternyata pendataan tersebut belum akurat.
Pantauan di lapangan terlihat rumah milik Herman dinding dan atap rumahnya terbuat dari daun kelapa. Rumah Herman yang terletak ditengah-tengah perkampungan Dusun Terdun selalu menjadi perhatian bagi para pendatang yang berkunjung kesana.
Herman selaku kepala keluarga Dusun Terdun Desa Rewak Kecamatan Jemaja, mengatakan, bahwa dirinya juga heran kenapa rumah yang dimilikinya tidak masuk dalam daftar bedah rumah pada beberapa tahun silam. “Pendataan sering dilakukan bahkan rumah saya sudah banyak orang datang melakukan foto-foto,” kata Herman bapak satu anak ini kepada wartawan ketika ditemui, Minggu (4/3).
Ia menceritakan, dirinya saat ini bekerja sebagai buruh harian lepas dan pendapatan tidak bisa dipastikan. Untuk membangun rumah dirasakan sangat berat pasalnya diperkirakan untuk membangun rumah bisa menghabiskan sekitar Rp 50 Juta.
“Kalau bangun sendiri saya pastikan tidak akan bisa pak, apalagi dengan ekonomi saat ini. Saya sangat berharap bantuan dari Pemda atau dermawan agar saya memiliki rumah yang layak dihuni,” harapnya.
Ia juga mengatakan, pada bulan Januari 2018 kemarin ketika musim angin utara dan ditambah dengan hujan lebat, rumah yang dihuninya diserang air hujan dari setiap sudut rumah dan ia bersama istri serta anaknya ketika kejadian tidak bisa tidur sebab bocor dimana-mana, dengan terpaksa ia menumpang ke rumah tetangga sekitar.
“Terasa sedih saya ketika itu, namun tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. Hujan lebat dan air masuk dari setiap sudut yakni dari atap rumah, dinding rumah,”kenang Herman.
Ia juga mengatakan, ketika saat musim panas, ia tidak merasa nyaman tinggal didalam rumah sebab suasana rumah terasa angin. (sya)
batampos.co.id – Jajaran Subdit II Ditreskrimsus Polda Kepri mengamankan DJ atas postingan informasi bohong dan berbau sara di laman Facebook, Minggu (4/3) lalu.
Terkait penangkapan ini, Kabid Humas Polda Kepri membenarkan informasi ini. “Iya benar,” katanya, Senin (5/3).
Namun terkait penangkapan dan penyelidikan saat ini, Erlangga masih enggan menyebutkan.
Dari informasi di dapat Batam Pos, Dedi ditangkap di rumahnya di Perumahan Mediterania Blok EE. Sumber Batam Pos menyebutkan Dedi melanggar pasal 45A ayat 2 UU RI No 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RO No 11 tahun 2008 tentang ITE. (ska)

batampos.co.id – Hutan lindung Sei Pulai di Kilometer 18 Kijang, Kabupaten Bintan terancam habis dibabat sekelompok orang tidak bertanggungjawab. Akibat pembabatan itu membuat debit air waduk Sei Pulau sebagai sumber air baku PDAM Tirta Kepri yang produksi airnya disuplai ke pelanggan di Tanjungpinang menyusut.
Warga Kilometer 18 Kijang, Zakaria ketika ditemui di sekitaran kawasan hutan lindung Sei Pulai mengaku prihatin terhadap aksi pembabatan hutan lindung Sei Pulai. Pria yang lahir di sekitar waduk itu mengatakan, dulunya air waduk setinggi lehernya.
“Dulu tinggi air waduk segini, sekarang lihat saja, sudah berkurang jauh. Terlebih sekarang sudah masuk musim kemarau, beberapa hari saja tak hujan bisa jadi masyarakat Tanjungpinang akan kesusahan air bersih, sebab kami di sini saja sudah mulai kekeringan air,” kata dia.
Ia mengaku, memang ditemukan rumah penduduk yang berada di sekitar waduk atau dalam kawasan hutan lindung. Seharusnya, rumah penduduk tidak berada di dalam kawasan hutan lindung.
Sementara itu, Ketua RT 05 RW 01 Kelurahan Gunung Kijang Abas mengaku, ada pihak yang mengarap lahan di kawasan itu. Lahan itu gencar digarap oleh anggota kelompok yang berjumlah sekitar 75 orang sejak tahun 2014. Namun, saat itu mereka ditegur keras oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Bintan.
“Saat itu hanya beberapa orang yang menyatakan melalui surat keluar dari lahan itu dan kegiatan pembabatan hutan meredam,” kata dia.
Untuk saat ini pembabatan hutan lindung Sei Pulau makin marak. Ia mengatakan, kewenangan kehutanan sudah beralih ke provinsi. Namun demikian, dirinya sebenarnya sudah melaporkan ke pihak pemerintahan. “Sudah saya sampaikan semua masalah di sana namun belum ada tindaklanjutnya,” kata dia. (met)

batampos.co.id – Kios liar yang berderet di sepanjang jalan R Suprapto persisnya di simpang Barelang, Tembesi, Sagulung mulai mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Itu karena bangunan kios liar tersebut kian mepet ke pinggiran aspal jalan. Jarak antara bangunan kios liar dengan aspal jalan tersisa hanya sekitar dua meter. Imbasnya arus lalu lintas di sepanjang jalan tersebut terganggu saat jam sibuk. Kemacetan panjang kerap terjadi khusus untuk jalur dari arah Mukakuning ke Simpang Batuaji.
Pantauan Batam Pos di lapangan, selain mempersempit jalur jalan keberadaan kios liar itu juga menghalangi marka jalan yang ada. Padahal di jalan sebelum simpang Barelang itu terdapat banyak marka jalan dan juga petunjuk lain terkait destinasi wisata di sekitaran Barelang.
Beberapa pengendara yang dijumpai Batam Pos mengeluhkan hal itu sebab selain membuat kemacetan, rapatnya kios liar dengan badan jalan juga menyulitkan warga untuk melihat marka jalan yang ada. “Sampai-sampai lampu (traffic lights) juga terhalang. Inikan sudah tak betul,” kata Robinson, warga Cipta Asri, Tembesi.
Yusman pengendara lain juga mempersoalkan kemacetan yang kerap terjadi di lokasi jalan tersebut. Menurutnya kemacetan terjadi lantaran pinggiran jalan yang seharusnya bebas dari bangun malah menjamur kios liar tersebut. “Jadi tambah sempit jalan ini. Entah sampai kapan ini baru diperhartikan pemerintah,” ujar warga Kaveling Baru Sagulung itu.
Keluhan warga pengguna jalan itu ditanggai dingin oleh pemilik kios di sepanjang row jalan itu. Bahkan mereka melemparkan persoalan macet itu karena kendaraan di Batam terlampau banyak. “Sudah dari dulunya jalan ini (sempit) begini. Kok sekarang baru dikeluhkan. Motor dan mobilnya yang kebanyakan,” ujar Ernita seorang pemilik warung makan di pinggir jalan tersebut, kemarin.
Pihak kecamatan Sagulung sebelumnya mengaku sudah memberikan peringatan terhadap pemilik kios liar tersebut, namun demikian belum ditindak lanjuti sebab ada wacana pelebaran jalan. “Pelebaran jalan wewenang Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri. Belum ada arahan lagi terkait itu,” ujar Camat Sagulung Reza Khadafi.
Wali kota Batam Muhamad Rudi sebelumnya juga sudah mengelurakan peringatan serupa. Rudi memintah agar pemilik kios liar di sepanjang jalan R Suprapto segera angkat kaki karena tahun 2020 nanti akan ada penataan ruas jalan dari Pemko Batam. “Untuk itu bapak ibu (pemilik kios liar di row jalan) saya minta agar segera bongkar. Ini (jalan) akan kita tata ulang,” ujar Rudi, belum lama ini di Sagulung. (eja)