Kamis, 16 April 2026
Beranda blog Halaman 12944

GMF Tanyakan Regulasi

0

batampos.co.id – PT Garuda Maintenance Facilities AeroAsia (GMF) terus menjalin komunikasi dengan pihak Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Pertemuan terakhir antara kedua belah pihak ini bulan lalu di Jakarta. Pihak GMF menanyakan soal regulasi, tax holiday dan kemudahan apa saja yang didapat mereka nantinya.

“Saat itu yang datang GMF dan Partnernya. Mereka menanyakan itu (Tax Holiday, Regulasi serta kemudahan lainnya,red),” kata General Manager Marketing Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Dendi Gustinandar, Selasa (26/9).

Untuk pertemuan selanjutnya, Dendi menuturkan masih mengetahuinya. Tapi hasil dari pertemuan tersebut dibawa ke pimpinan masing-masing. Dendi tak setuju bila proses ini disebut cukup lambat. Ia mengatakan investasi yang dikucurkan jumlahnya sangat besar. Sehingga memerlukan pengkajian yang matang.

“Investasinya bukan Rp 1 atau 2 miliar, tapi 100 juta Dollar Amerika,” ungkapnya.

Sebelum pertemuan di Jakarta. Pihak tim teknis GMF telah menyambangi Bandara Internasional Hang Nadim. Kedatangan tim teknis ini, untuk mengecek dan mengukur tanah yang menjadi lokasi pembangunan GMF. Selain itu juga, pihak GMF menanyakan soal perlistrikan dan sumber air.

Kedatangan tim teknis ini, juga untuk memetakan permasalahan apa saja yang akan dihadapi GMF nantinya. Secara umum, kedatangan tim GMF untuk memetakan masalah yang akan mereka hadapi nantinya, bila berinvestasi di Batam.

Bila semua ini terealisasi, maka di Hang Nadim ada dua tempat perawatan dan perbaikan pesawat yakni Batam Aero Technik milik Lion Group dan GMF. Pengembangan bisnis MRO ini sangat didukung BP Batam, karena membuka peluang lapangan kerja untuk tenaga terampil. Selain itu pembangunan ini, memberikan dampak ekonomi makro (multiplier effect) yang cukup besar. Sehingga kembali dapat meningkatkan perekonomian Batam yang lesu.

General Manager Operasional Hang Nadim Batam Suwarso menuturkan pihak GMF hingga kini masih belum mengajukan pilihannya, serta besaran lahan yang dibutuhkan. “Hingga kini masih dalam proses,” ungkapnya. (ska)

Polisi Minta Setiap Laka Lantas Dilaporkan

0

batampos.co.id – Polisi meminta kepada keluarga korban laka lantas maupun masyarakat untuk melaporkan setiap kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di jalan raya. Meski pun, itu hanya kecelakaan yang mengalami luka ringan. Pasalnya, selama ini banyak kasus kecelakaan lalu lintas tidak dilaporkan kepada polisi.

Kasat Lantas Polresta Barelang Kompol I Putu Bayu Pati mengatakan, bila tidak ada laporan polisi (LP), maka korban kecelakaan harus mengeluarkan biaya sendiri untuk berobat di rumah sakit. Oleh sebab itu, laporan ke polisi itu diperlukan oleh korban.

“Laporan polisi itu, selain mereka bisa menyelesaikan kasus laka lantas secara cepat, korban juga bisa mendapatkan santunan dari Jasa Raharja,” ujanya, Selasa (26/9) siang.

Ia mengatakan, selama ini korban laka lantas enggan melapor ke Polisi. Korban baru merasa kesulitan setelah muncul tagihan dari rumah sakit. Sebab, korban harus mengeluarkan biaya besar. Karena tidak adanya laporan polisi, keluarga korban pun terkesan mamaksa polisi mengeluarkan LP atas kasus kecelakaan.

“Nanti kejadiannya sudah beberapa bulan yang lalu, baru melapor kepada kita. Kalau laporannya sudah lama, bagaimana kita mau mencari lagi saksi-saksi di lokasi kejadian. Ini yang menjadi persoalan bagi kami selama ini,” tuturnya.

Putu mengatakan, pihaknya selalu siaga selama 24 jam untuk menerima laporan dan pengaduan dari masyarakat. Jika kejadian itu segera dilaporkan, anggotanya bisa dengan cepat mengambil langkah penanganan, termasuk mengeluarkan LP yang menjadi salah satu syarat pasien ditangani dan klaim ansuransi Jasa Raharja.

“Selama ini, rata-rata kasus kecelakaan itu baru dilapor setelah pihak keluarga mau mengurus santunan dari Jasa Raharja. Bukan atas dasar kesadaran hukum,” ungkapnya.

Dalam proses pelayanan penanganan kasus kecelakaan lalu lintas, petugas terlebih dulu menerima pengaduan, kemudian memeriksa saksi-saksi dan olah TKP serta mengamankan barang bukti (BB). Untuk itu, ia berharap kepada keluarga korban maupun masyarakat untuk langsung melapor apabila ada kejadian laka lantas.

“Bila laka lantas itu memang ada maka baru dikeluarkan. Hal itu untuk mencegah laporan kecelakaan fiktif. Maka itu, kami harapkan bila ada laka segera lapor secepatnya,” imbuhnya. (cr1)

Rakornas Pariwisata Pakai Baju Adat, Menpar Sebut Kekuatan Pariwisata Indonesia

0

Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata III yang digelar Kementerian Pariwisata (Kemenpar) di Hotel Bidakara, 26-27 September 2017 berlangsung heboh. Sejak pagi hari pukul 08.00 WIB sudah nampak sekitar 1.000 peserta yang hadir dengan mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah.

Menteri Pariwisata Arief Yahya hadir mengenakan baju adat Betawi. Sementara Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy mengenakan pakaian kebaya khas Jawa, Deputi Bidang Pemasaran Mancanegara I Gde Pitana mengebakan baju khas tanah kelahirannya Bali, dan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Dadang Rizki Ratman nampak gagah mengenakan baju adat khas Sunda.

Sedangkan seluruh Pejabat Eselon 1, 2 dan 3 serta jajaran di kementerian pariwisata menggunakan busana nusantara daerahnya masing-masing. Tak ketinggalan para Gubernur dan Kepala Dinas Pariwisata dari berbagai daerah juga turut mengenakan baju khas daerah asalnya.

Begitu juga dengan tamu undangan di luar Kemenpar yang menjadi partner seperti Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Untung Suseno Sutarjo, Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial Danang Wijayanto, Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Sumarna F Abdurahman dan lainnya juga turut menyemarakkan dengan baju-baju adat dari berbagai daerah Nusantara.

“Nuansa Rakornas hari ini seperti karnaval. Hal ini sekaligus untuk menunjukkan Indonesia yang beragam. Indonesia yang dengan keberagamanya merupakan satu kekuatan besar dalam dunia pariwisata,” ujar Menpar Arief Yahya sebelum membuka Rakornas, Selasa (26/9).

Menpar Arief Yahya mengatakan, keberagaman, perbedaan, dan diversity dalam pariwisata akan saling menguatkan. Beda budaya, beda adat istiadat, beda kepercayaan, beda cara berpakaian, beda kebiasaan makanan, beda dialek, tetapi satu dalam komitmen bernegara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Inilah Indonesia. Inilah pariwisata Indonesia. Keindahan dan keberagaman tersebar di bawah satu naungan, Indonesia,” ujar Menpar Arief Yahya.

Menpar Arief Yahya sebelumnya pernah menginstruksikan jajarannya menggunakan Busana Nusantara pada peringatan upacara HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus kemarin.

Rakornas Pariwisata III 2017 kali ini mengusung tema “Calendar of Event (CoE) 2018 guna mencapai target 17 juta wisman dan 270 juta wisnus di tahun 2018.

“Sinergitas CoE 2018 ini sangat penting karena tahun 2018 kita ingin memiliki lebih 100 premier event berskala international untuk mengenjot kunjungan wisman. Untuk ini perlu ada stimulus pada setiap daerah agar menciptakan event berskala international masuk dalam calendar of event Kemenpar sebagai Wonderful Indonesia Calendar of Event 2018,” jelas Menpar Arief Yahya.

CoE 2018, menurut Menteri asal Banyuwangi ini, merupakan program penting dalam memperkuat unsur 3 A (Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas) khususnya unsur aktraksi wisata berupa festival budaya (culture), alam (nature), dan buatan manusia (manmade) yang akan menjadi unggulan dan daya tarik pariwisata Indonesia.

“Dalam rakornas akan dibahas stimulus apa yang perlu diberikan kepada daerah serta bagaimana menetapkan indikator standar penyelenggaraan kegiatan berskala internasional,” lanjutnya.

Indonesia sejauh ini sudah memiliki sejumlah event internasional dan berjalan cukup lama atau terjaga kelangsungannya antara lain Jakarta Fashion Week, Java Jazz, dan Jakarta Culinary Festival serta beberapa lainnya yang belakangan ini tumbuh pesat.

“Ada dua acara internasional yang akan mendatangkan puluhan ribu wisman segera di Indonesia yaitu Asian Games di Jakarta dan Palembang pada Agustus 2018 dan Pertemuan Bank Dunia-IMF di Bali pada Oktober 2018,” pungkas mantan Dirut PT Telkom ini.(*)

Ini Dia PKS dan MoU yang Ditandatangani di Rakornas III Pariwisata

0

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) III 2017 bersama sejumlah kementerian dan lembaga (K/L) lainnya. Pada Rakornas tersebut Kementerian di bawah komando Arief Yahya itu melakukan beberapa Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, pada 26 hingga 27 Mei 2017.

Terdapat empat perjanjian kerjasama dan Memorandum of Understanding (MoU) dengan 14 Brand/Industri mengenai CO-branding Wonderful Indonesia atau Pesona Indonesia.
Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Dadang Rizki Ratman mengatakan penandatanganan itu kerjasama bentuk sinergitas antara Kemenpar dengan para stakeholder pariwisata.

“Goal-nya menjadikan pariwisata sebagai leading sector perekonomian bangsa,” kata Dadang. Lebih lanjut Dadang menyebut, PKS tersebut sebagai upaya mengajak brand perusahaan besar, menengah, maupun kecil di seluruh Tanah Air untuk melakukan kolaborasi. Kolaborasi tersebut dalam rangka menyukseskan target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2019.

Pada pendatangan pertama Menteri Pariwisata Arief Yahya mewakili Kemenpar melakukan PKS dengan Plt Ketua LIPI Bambang Subiyanto terkait pengembangan teknologi kepariwisataan di Indonesia. Di Bidang Homestay desa wisata, Kemenpar juga melakukan perjanjian Kerjasama dengan Sinar Deli dan PT Conwood Indonesia terkait pengembangan bahan baku rumah conwood menggunakan inovasi rumah dengan zero persen pemakaian kayu.

“Teknologi conwood sebagai salah satu pelestarian bagi lingkungan. Karena pemakaian kayu yang massif saat ini telah menyebabkan deforestasi mencapai sekitar 680 ribu hektare per tahun. Padahal, hutan Indonesia merupakan salah satu paru-paru dunia yang sangat diandalkan,” ujar Dadang.

Di Bidang Kesehatan, Kemenpar juga melakukan kerjasama dengan Kementerian Kesehatan. Kedua Kementerian tersebut siap berkoordinasi dan harmonisasi kebijakan dan program dalam pengembangan wisata kesehatan, peningkatan mutu wisaata kesehatan, pengembangan promosi wisata kesehatan, pemberdayaan masyarakat di lingkungan wisata kesehatan, pertukaran data dan Informasi terkait pengembangan wisata kesehatan.

Di Bidang pendidikan Kemenpar melalui Badan Pelaksana Otorita Danau Toba yang diketuai Arie Prasetyo melakukan kerjasama dengan Universitas Sumatera Utara. Perjanjian itu akan memberikan landasan bagi berbagai pihak. Seperti penelitian, endidikan dan pengabdian bagi semua pihak.

Tidak sampai disitu, Kemenpar juga menjalin kerjasama dengan 14 Industri atau brand ternama di Indonesia untuk melakukan Co Branding. Kerjasama itu untuk memperkuat brand bersama. Harapannya, brand Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia bisa semakin bersinar di dalam maupun luar negeri. Hingga saat ini sudah 41 Brand yang telah melakukan MoU dengan Kemenpar.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, beberapa perjanjian kerjasama itu sebagai kolaborasi antara pemerintah dan industri pariwisata yang akan saling menguatkan satu sama lain.

“Inilah Indonesia. Inilah pariwisata Indonesia. Keindahan dan keberagaman tersebar di bawah satu naungan, Indonesia. Jika kita Incorporated tentu kita akan jadi Bangsa pemenang, ” ujar Menpar Arief Yahya.(*)

 

Kemenpar-Kemenkes Sepakat Kembangkan Wisata Kesehatan Bersama

0

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan Kementerian Kesehatan (Kemenke) sepakat untuk mengembangkan Pariwisata Kesehatan Internasional. Penandatanganan MoU dilakukan saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata III yang digelar Kemenpar di Hotel Bidakara, Jakarta 26-27 September 2017.

Sekretaris Kementerian Pariwisata Ukus Kuswara mengatakan, bagi Kemenpar, pengembangan wisata kesehatan dan kebugaran memang merupakan salah satu flagship (fokus pengembangan) untuk wisata minat khusus, dan dalam pengembangannya memang harus terjalin koordinasi antara instansi terkait, baik di pusat maupun di daerah.

“Pengembangan wisata kesehatan di Indonesia memiliki potensi yang besar mengingat lokasi dan keunggulan Indonesia untuk menarik wisata kesehatan, dan mengingat juga jumlah orang Indonesia yang ke luar negeri untuk menjalankan perawatan kesehatan,” ujar Ukus usai penandatanganan MoU, Selasa (26/9).

Adapun kesepakatan yang dilakukan kedua Kementerian ini meliputi koordinasi dan harmonisasi kebijakan dan program dalam pengembangan wisata kesehatan, peningkatan mutu wisaata kesehatan, pengembangan promosi wisata kesehatan, pemberdayaan masyarakat di lingkungan wisata kesehatan, pertukaran data dan Informasi terkait pengembangan wisata kesehatan.

“Selain itu juga ada bimbingan teknis, pemantauan dan evaluasi secara terpadu dalam pengembangan wisata kesehatan dan perlindungan kesehatan terhadap wisatawan,” jelas Ukus.

Berdasarkan nota kesepahaman Kemenpar memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyusun standar usaha pariwisata di bidang wisata kesehatan, melaksanakan sosialisasi wisata kesehatan yang bernuansa tradisional, unik, otentik, dan mudah diakses, dan menyusun kerjasama antara sektor swasta di bidang pariwisata dan fasilitas pelayanan kesehatan yang ditetapkan.

“Yang tak kalah pentingnya Kemenpar juga bertugas menyusun strategi pemasaran produk pelayanan kesehatan yang merupakan daya tarik dan daya saing wisata Indonesia dan melakukan identifikasi dan mengusulkan berbagai produk unggulan wisata kesehatan Indonesia untuk dipatenkan sebagai kekayaan intelektual di Indonesia dan dunia,” papar Ukus.

Sementara, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Untung Suseno Sutarjo menjelaskan, yang menjadi tanggung jawab Kemenkes meliputi, menyusun dan mensosialisasikan kebijakan wisata kesehatan, mendorong sektor swasta untuk menyelenggarakan Rumah Sakit unggulan (Medical Tourism) dan fasilitas kesehatan tradisional unggulan (Wellness Tourism).

“Kemudian memfasilitasi ketersediaan fasilitas pelayanan dan pelaksanaan upaya kesehatan lainnya untuk memberikan perlindungan kesehatan wisatawan di 10 destinasi pariwisata prioritas. Serta menetapkan Rumah Sakit unggulan (Medical Tourism) dan fasilitas kesehatan tradisional unggulan (Wellness Tourism) yang memiliki pelayanan unggulan dalam penyelenggaraan wisata kesehatan,” tutur Untung.

Langkah berikutnya adalah Kemenpar bersama dengan Kemenkes, perwakilan rumah sakit, spa dan asosiasi kesehatan akan membentuk tim kerja yang akan ditindaklanjuti dengan penyusunan rencana kerja bersama.

Untuk informasi, salah satu estimasi di 2006 memperkirakan bahwa ada sekitar 350.000 orang Indonesia yang melakukan pengobatan di luar negeri dengan pengeluaran USD 500 juta. Estimasi yang lebih baru memperkirakan bahwa ada sekitar 600.000 orang Indonesia yang melakukan pengobatan di luar negeri dengan nilai pengeluaran sekitar USD 1.4 miliar. Sebagai perbandingan negara seperti Thailand yang relatif berhasil mengembangkan wisata kesehatan, dapat memperoleh devisa USD 3,2 miliar pada tahun 2011.

Suatu survei global di sejumlah negara di dunia yang dilakukan McKinsey di 2008 perihal mengapa konsumen melakukan perawatan di luar negeri, alasan utama adalah: 40% karena mencari teknologi yang muktahir, 32% mencari perawatan yang lebih baik; 15% mencari pelayanan medis yang lebih cepat; dan hanya 9% yang mencari perawatan yang lebih murah.

Ternyata secara umum mencari perawatan yang lebih murah bukan alasan utama. Justru yang diperlukan adalah peningkatan standar dari rumah sakit maupun SDMnya termasuk dari aspek pelayanan. Rumah sakit dan pengetahuan dokter dan perawat yang dianggap “baik” termasuk penggunaan teknologi yang muktahir, perawatan yang lebih baik dan yang tidak kalah pentingnya adalah memberi pelayanan yang baik dan cepat. Dengan ketersediaan sumber daya yang bersertifikasi internasional, peralatan medis terkini, sertifikasi dari lembaga internasional seperti Hospital Quality Improvement Accreditation (HA) dan Joint Committee International Accreditation (JCIA) dapat diperoleh.

Sedangkan kearifan lokal Indonesia yang kaya dan mendasari dikenalnya spa dan hal tersebut berarti pariwisata kebugaran mempunyai potensi menjadi produk unggulan khas Indonesia yang bisa bersaing di pasar global.

“Namun kesuksesan Bali menjadi “The Best Destination Spa in the World” belum didukung oleh basis ilmiah kesehatan di dalam negeri maupun dipatenkan secara internasional. Kearifan lokal kita yang demikian kaya dan beranekaragam perlu kita angkat ke taraf evidence dan science based dan dilindungi, sehingga spa kebugaran Indonesia dapat berkompetisi secara global dan berkesinambungan di masa yang akan datang,” papar Untung.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, liburan sambil berobat mungkin masih asing di telinga beberapa traveler. Tapi ternyata, traveling gaya ini sedang digandrungi banyak orang. Tak cuma untuk masalah kesehatan, namun juga kecantikan.

“Di Bali contohnya, yang selama ini dikenal dengan pantainya yang indah ternyata juga memiliki rumah sakit dengan taraf internasional yang diminati untuk medical tourism. Salah satunya adalah BIMC Hospital yang ada di Nusa Dua, Bali. Tadinya, rumah sakit ini dikenal sebagai rujukan para turis asing yang sedang sakit saat liburan ke Pulau Dewata,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Kini, turis yang ingin operasi plastik pun bisa dilakukan di sini. Banyak dari turis asal Australia yang melakukan operasi kecantikan seperti ini. “Kebanyakan mereka liburan sambil operasi kelopak mata yang sudah kendur, sedot lemak, mempercantik payudara dan sejenisnya,” pungkas Menpar Arief Yahya.(*)

 

Berbaju Adat Betawi, Menpar Arief Yahya Buka Rakornas Kepariwisataan III 2017

0

Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Kepariwisataan III Tahun 2017 berlangsung heboh, seru, dan sukses. Selasa (26/9) di Birawa Assembly Hotel Bidakara, Jakarta betul-betul dibuat senyap, di tengah suasana sound system dan lighting.

Stage-nya keren. Video mapping keren. Performance Jember Fashion Carnaval juga keren. LED backdropnya lebar, panjang dan keren juga. Speech Menpar Arief Yahya juga dipuji rihuan audience yang di amplifikasi melalui live online media online.

Sejak pagi hari, seribuan stakeholder pariwisata sudah berkumpul guna membahas berbagai hal penting pariwisata dalam rangka mewujudkan targwt pariwisata nasional tahun 2018 sebanyak 17 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan 270 juta pergerakan wisatawan nusantara.

Dalam acara rakornas kali ini sangat spesial. Sebab seluruh peserta rakornas mengenakan busana nusantara yang menunjukkan keberagaman yang dimiliki Indonesia. Menteri Pariwisata Arief Yahya sendiri yang membuka kegiatan Rakornas menggunakan busana adat Betawi.

Menpar Arief Yahya mengatakan, dalam Rakornas kali ini memgangkat tema “Wonderful Indnlonesia Calendar of Event 2018: Sinergi Mencapai 17 Juta Wisman dan 270 Juta Wisnus di Tahun 2018”.

Rakornas kali ini memang beda dengan Rakornas Pariwisata sebelumnya, soal Go Digital be The Best, Air Connectivity, dan Homestay Desa Wisata. Puncak acara yang penuh hiburan dilangsungkan di hari kedua. Termasuk memberikan penghargaan kepada David dan Widika, artis dan aktor yang membintangi video pariwisata yang juara di UNWTO.

Juga director Condro Wibodo dan penyanyi Rossa, yang sudah mempopulerkan lagu Pesona Indonesia dan Wonderful Indonesia. Rosa juga akan turut tampil di panggung.

Menpar Arief Yahya mengatakan, di tahun 2018 mendatang ada dua event internasional yang akan mendatangkan puluhan ribu wisman. Yakni Asian Games di Jakarta dan Palembang pada Agustus 2018 serta Pertemuan Bank Dunia-IMF di Bali pada Oktober 2018. Kedua ajang tersebut, dikatakan Menpar, tentunya bakal memberikan dampak langsung terhadap pencapaian target 17 juta wisman di tahun depan.

“Tahun 2018 kita ingin punya lebih dari 100 premier event berskala internasional untuk menggenjot kunjungan wisman. Untuk itu perlu ada stimulus di setiap daerah agar menciptakan event berskala internasional masuk dalam Calendar of Event Kemenpar sebagai Wonderful Indonesia Calendar of Event 2018,” ujar Menpar Arief Yahya.

Hal tersebut dikatakannya merupakan program penting dalam memperluat unsur 3A yakni Atraksi, Amenitas dan Aksesibilitas khususnya unsur atraksi wisata berupa festival budaya, alam, dan buatan yang akan menjadi unggulan dan daya tarik pariwisata Indonesia.

“Dalam rakornas ini akan dibahas bentuk stimulus yang perlu diberikan kepada daerah serta bagaimana menetapkan indikator standard penyelenggaraan event berskala internasional,” kata Menpar.

Tidak kalah penting, lanjutnya, adalah bagaimana menciptakan agar event tersebut menjadi sustainable yang mencakup elemen, pre event, event dan post event.

Menciptakan sustainable event menurut Menpar sering kali menjadi kelemahan karena hal itu berkaitan dengan dukumgan finansial daribpara sponsor karena bagaimana harusnya sebuah event internasional kalau tidak profit akan sulit untuk mempertahankan kelangsungannya atau sustainable event-nya diragukan.

“Indonesia sejauh ini sudah memiliki sejumlah event internasional dan berjalan cukup lama atau terjaga kelangsungannya. Karena itu perlu ditingkatkan lagi dan dikelola lebih baik lagi,” kata Menpar Arief Yahya.

Rakornas Kepariwisataan III Tahun 2017 akan berlangsung hingga Rabu (27/9) esok. Turut hadir dalam rakornas kali ini Gubernur dan Kepala Dinas Pariwisata sejumlah provinsi, CEO perusahaan swasta nasional, perguruan tinggi dan akademisi serta media.

Selain itu juga ada pelaku bisnis serta komunitas. Dalam rakornas juga akan dilakukan penandatanganan kerjasama (MoU) dengan beberapa instansi terkait serta lembaga pemerintah dan non-pemerintah.(*)

 

Kegiatan di Daerah Harus Berstandar Global

0

Menteri Pariwisata Arief Yahya meminta pemerintah daerah berkomitmen dalam membangun kepariwisataan untuk dapat menaruh perhatian yang lebih dalam penyelenggaraan events di daerah. Semuanya harus dilakukan dengan standar yang baik agar dapat menjadi daya tarik wisatawan untuk datang dan berwisata.

Hal tersebut dikatakan Menteri Pariwisata Arief Yahya saat menyampaikan Keynote Speech di Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kepariwisataan III tahun 2017 tentang “Calendar of Event 2018” yang mulai berlangsung hari ini, Selasa (26/9) di Assembly Hall Hotel Bidakara, Jakarta.

Dalam paparanya Menpar Arief Yahya memulai dari sector pariwisata telah ditetapkan sebagai leading sector perekonomian nasional oleh Presiden Joko Widodo. Dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2018, ada tiga leading sector yang ditetapkan. Satu adalah pertanian karena Indonesia adalah negara agraris, nomor tiga perikanan dan nomor dua adalah pariwisata.

“Saya sering berdikusi dengan pak presiden, apa sebenarnya DNA bangsa ini? Lalu saya tulis dalam CEO Message saya, apa sebenarnya core industri bangsa ini? Yang bisa menjadi yang terbaik di regional dan global dan memberikan sumbangan terbesar bagi bangsa ini?,” ujar Arief Yahya.

Apakah pertanian? Atau Manufacturing?
Untuk hal tersebut ia bisa langsung menjawab. Di manufacturing misalnya, tidak ada satu negara pun yang bisa mengalahkan Cina di industri tersebut. Begitu juga dengan era informasi. Tidak ada satu negara pun yang bisa mengalahkan United States. Lima perusahaan terbaik dalam dunia informasi semuanya adalah American Based.

“Jadi tinggal di era keempat, yakni ekomomi kreatif dan pariwisata masuk di dalamnya. Saya katakan, ada kemungkinannya kita menjadi yang terbesar dan menjadi terbaik di regional maupun global,” ujar Menpar Arief Yahya disambut gemuruh tepuk tangan seluruh pesarta yang hadir.

Karena itu ia menilai sangat aneh jika Badan Pusat Statistik tidak melakukan pengukuran sektor pariwisata terhadap sumbanganya terhadap PDB, devisa dan sumbangan tenaga kerja.

“Kalau pariwisata sudah ditetapkan sebagai leading sector, maka aneh sekali kalau BPS tidak mengukurnya,” ujar Menpar.

Apakah pariwisata Indonesia bisa membuktikan dia menjadi yang terbaik dan terbesar di dunia? Menurut laporan The Telegraph, pariwisata Indonesia masuk dalam Top 20 Fastest Growing Travel Destinations in the world.

Artinya menurut Menpar, kecepatan tumbuh kita sudah masuk standar dunia. Karena itu ia sering mengatakan bahwa dalam persaingan saat ini bukan yang besar makan yang kecil tapi yang cepat makan yang lambat.

Menpar menjelaskan, yang ia bayangkan kemudian adalah Indonesia sebagai bangsa yang besar juga lincah dan cepat. The Dancing Giant. Negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura dan Thailand adalah negara relatif kecil dan Indonesia besar. Jadi Indonesia adalah negara besar dengan kecepatan yang sangat tinggi.

“Jadi seluruh yang ada di ruangan ini dan pelosok tanah air, anda kalau berbicara tentang pariwisata kepala kita harus tegak. Kita sudah masuk pada jajaran pemain dunia,” ujarnya.

Dalam peta pasar pariwisata dunia, ukuranya jelas. Di regional karena Indonesia berada di Asia tentunya adalah ASEAN. Sementara untuk global diwakili report dari UNWTO yakni lembaga PBB untuk pariwisata.

“ASEAN sendiri tumbuh enam persen dan dunia juga tumbuh enam persen. Tapi Indonesia tumbuh 24 persen. Kita tumbuh empat kali lipat dibanding regional dan global growth,” kata dia.

Jadi sebenarnya apa DNA bangsa ini pertanyaan presiden? “Jadi jawabannya adalah di cultural industry. Ada nilai budaya dan ada juga nilai komersial. Itulah yang bangsa ini mungkin menjadi yang besar di regional dan global,” kata dia.

Menpar mengatakan, untuk menjadi seorang pemenang maka kita harus mengenali diri sendiri, mengenal musuh, maka kita akan memenangkan peperangan.

“Langsung saja, bahwa musuh kita adalah Malaysia dan Alhamdulillah Malaysia kalah. Turun dia karena growthnya jauh dibawah Kemenpar, hanya di bawah lima persen,” ujar Menpar Arief Yahya seraya tersenyum.
Kalau setiap industri dikelola dengan seperti ini maka Indonesia akan menjadi bangsa pemenang.

Lebih lanjut Menpar mengatakan, salah satu kelemahan bangsa ini adalah kepercayan diri. Karena itu kita harus menciptakan satu kemenangan dan kemengan lainnya. Agar self confident kita naik sebagai bangsa.

“Bangsa ini adalah bangsa pemenang, bukan bangsa pecundang. Kalau kita memang mau,” tegas Menpar.

Karena itu satu per satu “medan peperangan” harus dimenangkan agar confidence bangsa ini meningkat. Selama tahun 2016 sendiri Indonesia telah memenangkan 46 penghargaan di 22 negara.

Branding Wonderful Indonesia juga berada di rangking 47 dunia, sementar Thailand di posisi 83 dan Malaysia di peringkat 96.
Terakhir adalah Indonesia baru saja memenangkan di ajang UNWTO Video Competition. Indonesia meraih Peoples Choice Awards dan Winner East Asia and Pacific Region.

“Impactnya apa? Jelas pada top 20 the fastest growing tadi. Jadi kita bisa menang di penghargaan, performance juga menang,” ujar Menpar.

Lebih lanjut Menpar mengatakan, jika ingin menjadi pemain dunia maka tentunya harus dapat menggunakan standar dunia atu global standard. Untuk hal ini Menpar merujuk pada 14 pilar dalam Travel and Tourism Competitiveness Index (TCCI) yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF).

Untuk top five dari Indonesia dalam pilar tersebut diantaranya adalah price competitiveness Indonesia yang selalu top dunia. Sementara untuk yang paling buruk adalah envirtomental sustainability.

“Jadi kalau mau berdebat maka bertingkah lakulah seperti bagaimana kita dinilai. Kita harus terus menerus secara cepat memperbaiki seluruh variabel penilaian dari 14 pilar tersebut,” ujar Menpar.

Indonesia sendiri setelah tahun 2015 melompat 20 peringkat ke posisi 70 dan saat ini di tahun 2017 Indonesia berada di peringkat 42 dari 181 negara yang dinilai oleh WEF tersebut.

Kemudian terkait event, penting sekali untuk melakukan persiapan di awal dengan sangat baik. Harus ada kurator yang baik, desainer baju yang baik. Koreografi juga harus baik.

Event berstandar global harus dapat menghadirkan kurator yang berstandar dunia pula. Dengan kurator yang baik maka akan dapat memilih penampil terbaik diantara yang terbaik.

“Koreografi, kostum, musik semuanya mharus dipastikan. Dan jangan lupa, endorser juga penting,” kata dia.

Kelemahan pelaksanaan event kita selanjutnya adalah konsistensi jadwal pelaksanaan. Setiap tahunnya pelaksanaan bisa saja berubah. Tidak tepat waktu.

Begitu juga dengan pengelolaan anggaran yang lebih banyak kepada penyelenggaraan kegiatan. Padahal yang sangat penting adalah bagaimana bisa mempromosikan kegiatan itu dengan baik. Karena kegiatan itu bukan untuk kita tonton sendiri. Tapi untuk mendatangkan wisatawan.

“Kedua hal tersebut membutuhkan komitmen dari para CEO atau kepala daerah. Kalau bupati atau walikotanya tidak bisa, maka kemudian jadwal tersebut diubah. Ini yang salah,” ujarnya.

Kemenpar sebut Menpar Arief Yahya, berkomitmen untuk memberikan fasilitasi pendanaan untuk promosi dan publikasi. Tidak akan menyentuh pada pelaksanaan event.

“Karena saya tahu kelemahan rekan-rekan adalah tidak melakukan investasi di media. Maka saya yang akan menutup itu,” ujarnya.

Untuk itu ia berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras demi menggenjot pariwisata Indonesia.

“Sesuai arahan presiden, agar berkelas dunia,” ujarnya.(*)

 

Kemenpar Dapat Penghargaan BPS Award

0

Pada saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata III menjadi hari istimewa Menteri Pariwisata Arief Yahya. Pasalnya, Kementeran Pariwisata juga menerima penghargaan dari BPS Awards 2017, sebagai “Pengguna Data Teladan, Kategori Kementerian atau Lembaga Pemerintah”.

Menpar Arief Yahya pun akhirnya melewatkan makan siangnya meninggalkan Hotel Bidakara, tempat diselenggarakannya Rakornas meluncur ke Gedung Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menerima penghargaan. Penghargaan tersebut diberikan langsung Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto kepada Menpar Arief Yahya.

Dalam sambutannya, Menpar Arief Yahya menyampaikan pentingnya BPS untuk Go Digital, karena data yang cepat, tepat dan akurat sangat dibutuhkan.

“Apabila data terlambat disampaikan, telat disediakan maka tidak akan ada gunanya, karena dunia cepat sekali berubah. Solusinya adalah Big Data. Dengan Big Data, maka BPS bisa jadi lembaga yang paling kaya di Indonesia,” ujar Menpar Arief Yahya, Selasa (26/9).

Penghargaan ini diberikan bertepatan dengan Hari Statistik Nasional (HSN) yang jatuh pada tiap tanggal 26 September. Sebagai bagian dalam rangka memperingati HSN, juga diadakan Seminar dengan judul “Merancang Format Masa Depan Pengumpulan Data Statistik dengan Pemanfaatan Teknologi Informasi”.

Menpar Arief Yahya mengungkapkan, Kemenpar dan BPS telah mengimplementasikan Mobile Positioning Data (MPD) pada tahun 2016. Metode tersebut telah mendapatkan dukungan dan apresiasi dari UNWTO melalui kegiatan Kunjungan delegasi Kementerian Pariwisata dan Badan Pusat Statistik ke UNWTO di Madrid (31 Januari 2017), Workshop of The Use Mobile Positioning Data on Tourism Statistics di Bali (23 Maret 2017).

“MPD telah dipaparkan pada kegiatan the 6th UNWTO International Conference on Tourism Statistics di Manila pada tanggal 20-21 Juli 2017. Metode tersebut mendapatkan apresiasi dan dukungan dari berbagai negara dan lembaga internasional,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Menpar Arief Yahya menambahkan, MPD pada era digital saat ini merupakan upaya tepat yang dapat membantu mengumpulkan data kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Sebab, metode itu ditunjang dengan sejumlah keunggulan, seperti real time, kecepatan, ketepatan, dan cakupan yang lebih luas.

“Kita biasa sebut dengan ‘3V’, yakni volume, velocity atau kecepatan, dan variety atau jenis. Kalau kita sudah mengedepankan digital, terus kita tidak menggunakan MPD, nantinya tidak nyambung. Sebab, Big Data atau MPD sangat banyak manfaatnya. Di era sekarang adalah sebuah keniscayaan kita tidak menggunakan digital,” ujarnya.

Lebih lanjut Menpar mengatakan, metode ini juga membantu Indonesia menjawab tantangan sebagai negara kepulauan yang memiliki perbatasan dengan negara tetangga. “Karena siapa yang menguasai informasi, itu pasti yang memenangkan persaingan,” kata mantan Dirut PT Telkom itu.

Dijelaskan, proses pengolahan data dapat digunakan tiga aspek, yang disebutnya “3P”, yakni performance, promotion, danprojection. “MPD itu digunakan untuk mengukur performa, sementara Big Data digunakan untuk promosi dan proyeksi,” jelas Menpar Arief Yahya.

Peraih BPS Award 2017 lainnya adalah Bisnis Indonesia sebagai “Mitra Media Teladan, Kategori Media Massa” dan PT. Indofood Sukses Makmur sebagai “Responden Teladan, kategori Perusahaan/Asosiasi”. (*)

Ini Dasar Penetapan 100 Event Berskala Internasional oleh Kemenpar

0

Masih dari ajang Rapat Koordinasi Nasional Kepariwisataan III Tahun 2017 yang berlangsung di Assembly Hall Hotel Bidakara, Selasa (26/9). Dalam kesempatan ini Kementerian Pariwisata menetapkan 100 event berskala internasional yang akan berlangsung pada tahun 2018 mendatang.

Penetapan ini guna semakin meningkatkan kualitas penyelenggaraan kegiatan pariwisata dalam rangka menunjang pariwisata sebagai penggerak utama roda perekonomian negara pascaditetapkanya pariwisata sebagai salah satu leading sector ekonomi bangsa oleh Presiden Joko Widodo.

Penetapan dilakukan oleh tim kuratorial yang diketuai oleh Don Kardono bersama anggota Taufik Rahzen dan Dynand Faridz.

“Kementerian Pariwisata RI menyusun Calendar of Event 2018 ini berdasarkan ribuan event, festival, upacara dan kegiatan pariwisata yang terselenggara di seluruh Indonesia,” ujar Taufik Rahzen dalam paparanya.

100 event internasional tersebut merupakan event utama atau premiere atau core evet yang bakal menjadi ikon kegiatan pariwisata Indonesia tahun 2018. 100 event tersebut dimasuk dalam kategori yang disebut W-Event.

Taufik menjelaskan, kriteria terhadap pemilihan event ini adalah event-event yang diselenggarakan secara berkelanjutan dan tersosialisasi dengan luas. Melampaui batas regionalnya. Dikenal melalui pemberitaan media cetak, elektronik dan digital.

“Juga memiliki brand yang khusus,” ujar Taufik yang juga staf ahli menteri bidang budaya.

Lebih lanjut Taufik mengatakan, event yang masuk dalam kategori ini adalah event-event yang mewakili keragaman budaya Indonesia. Serta memiliki keunikan yang menonjol dan memiliki tema yang atraktif.

“Mengungkapkan daya tarik setempat serta memiliki dukungan aksesibilitas dan amenitas yang memadai,” kata dia.

Serta yang tidak ketinggalan, ujar Taufik, adalah event-event tersebut dikelola dengan relatif profesional, berkelanjutan dan memperoleh dukungan audiens yang terus berkembang.

“Penyelenggara memperlihatkan komitmen untuk kerjasama, keterbukaan dan berintegrasi dengan program Pariwisata secara keseluruhan,” jelasnya.

Sesuai dengan arahan Menteri Pariwisata Arief Yahya, event yang baik adalah kegiatan yang mewakili sebaran ruang geografis di seluruh Indonesia yang merata serta waktu yang terjadwal tetap.

“Serta dengan memperhatikan strategi pengembangan pariwisata Indonesia. Tiga greater, 10 branding dan 10 kawasan prioritas,” ujar Taufik.

Adapun kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya adalah Karnaval Kemerdekaan, Hari Nusantara, Sail Indonesia, Festival Keraton Nusantara juga Hari Pers Nasional yang kesemuanya merupakan kegiatan nasional.

Setelah itu baru penetapan kegiatan-kegiatan yang berlangsung di setiap daerah. Misalnya di Aceh, yang ditetapkan sebagai kegiatan berlevel dunia. Adalah Aceh Culinary Festival, Festival Danau Lut Tawar serta Aceh International Rapa’i.

Kemudian di Jawa Tengah ada Dieng Culture Festival, Solo Batik Carnaval, Borobudur Marathon, Borobudur International Festival, Grebeg Sudiro dan lainnya.

“Jumlah event di setiap daerah yang ditetapkan sebagai skala internasional tentunya berbeda,” kata dia.

Lebih lanjut ia menjelaskan, diluar event-event yang telah ditetapkan sebagai kegiatan berskala internasioal, tim kurator juga menetapkan 100 c-event. Yakni kegiatan yang berbasis culture, creative dan community.

“C-Event merupakan 100 multi event yang diselenggarakan oleh berbagai pihak baik pemerintah, swasta atau masyarakat yang memiliki kaitan langsung atau sebagian dengan dunia pariwisata. Event yang diselenggarakan secara khusus, menonjol dan memiliki daya tarik kuat,” ujar Taufik.

Pemilihan 100 C-Event ini berdasarkan atas beberapa hal. Pertama adalah kegiatan prioritas yang diselenggarakan atau didukung oleh kementerian dan lembaga terkait seperti Kemendikbud, Bekraf, KLH, Kemenag dan lainnya.

Kemudian event khusus yang diusulkan oleh masing-masing provinsi yang menjadi ikon festival budayanya. Mewakili keragaman budaya nusantara.

“Misalnya Pekan Budaya Aceh, Pahlawan Surabaya dan lainnya,” ujar Taufik.

Selain itu juga upacara tradisi yang diselenggarkan oleh komunitas pendukungnya dan diselenggarakan secara mandiri. Misalkan Seren Taun di Cipta Gelar, Wola Podu di Sumba atau Sekaten di Yogya.

“Serta kegiatan swasta yang diselenggarakan secara reguler dan memiliki audiens internasional yang luas. Serta juga upacara dan festival keagamaan yang telah menjadi tradisi besar yang tersebar di seluruh Indonesia. Misalnya Lebaran, Maulid Nabi, Paskah, Natal, Waisak dan lainnya yang menunjukkan keberagaman,” ujar Taufik.

Terakhir adalah A-Event, adalah almanak event yaitu kompilasi dari seluruh eventevent yang ada di Indonesia yang baik penyelenggaraanya reguler atau dalam tahap tahun tertentu.

“Diperkirakan sekitar 3.000 event budaya dan festival diselenggarakan setiap tahunnya. Informasi tentang event ini akan ditayangkan secara reguler dalam sistem informasi pariwisata E-Digital,” kata dia.

Almanak event sendiri, lanjut Taufik Rahzen, terbagi atas tiga bagian. Pertama adalah event nasional, regional dan lokal yang tidak termasuk dalam event wonder dan culture sebelumnya.

Kemudian yang kedua adalah event periodik yang diselenggarakan dalam rentang waktu berbeda.

Ketiga adalah event sendiri yang diselenggarakan secara reguler. Seperti Ramayana di Prambanan, Sriwedari Solo, Wayang Bharata Jakarta, Devdan di Nusa Dua, atau Bali Agung Taman Safari Bali,” ujar Taufik.

Dari seluruh daftar tersebut, Taufik menjelaskan pihaknya masih membuka kesempatan bagi setiap daerah untuk merevisi ataupun daerah-daerah lainnya untuk mengajukan kegiatan-kegiatan yang dapat masuk dalam tiga kategori tersebut.

Sebelumnya Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, Dadang Rizki Ratman mengatakan, 100 event besar utama nantinya akan disupport di Calendaer of Event (CoE) 2018 pariwisata nasional.

“Supporting Kemenpar lebih ke promosi, bukan ke operasional events itu sendiri. Promosi melalui media, dengan POSE Paid Media Own Media dan Social Media. Lalu disesuaikan dengan DOT, destinasi, originasi dan timeline,” kata Dadang Rizki Ratman.

100 event kelas dunia itu disebut Prime Events yang bakal ditetapkan, diluncurkan dan dipromosikan oleh Kemenpar. Selain dikurasi oleh tim, 100 premier events itu akan dikonfirmasi kembali ke masing-masing daerah, untuk dipersiapkan secara matang pada tahun mendatang.

“CoE itu akan menjadi patokan travel agent dan travellers yang akan datang ke destinasi Indonesia. Karena itu, CoE 100 Premier Events itu harus dipastikan punya agenda yang tetap, baik tanggal bulan dan jamnya. Sehingga promosinya akan dilakukan jauh sebelum tanggal tersebut,” ujar Dadang.

Ujungnya, penetapan-penetapan ini adalah untuk menambah kunjungan wisatawan. Tahun 2018 sendiri jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ditargetkan mencapai 17 juta dan 270 juta pergerakan wisatawan nusantara.(*)

Samosir Lake Toba Ultra Marathon 2017 Bikin Danau Toba Semakin Mendunia

0

Bupati Samosir Rapidin Simbolon, melepas secara resmi 800 peserta lomba lari Samosir Lake Toba Ultra Marathon (SLTUM) 2017 di pelataran Hotel Sitio-tio Pangururan, Sabtu (23/9/2017). Sebelum melepas peserta lomba, Rapidin Simbolon menyampaikan selamat datang di Kabupaten Samosir “Negeri Indah Kepingan Surga”.

“Nikmatilah keindahan panorama Danau Toba, berlomba sembari berwisata. Lomba Ultra Marathon ini bukan hanya ajang berkompetisi, sekembalinya peserta ke daerah asalnya juga menjadi media promosi kepada dunia bahwa Danau Toba menyajikan keindahan luar biasa mengagumkan untuk dikunjungi,” ujar Rapidin.

Simbolon melepas ratusan peserta yang mengikuti lomba untuk kategori 50K (50 Kilometer), sedangkanKapolres Samosir, AKBP Donald Simajuntak SIK melepas untuk 25 km, dan Wakil Bupati Samosir Ir Juang Sinaga utk 10 km dan 5 km.

Kepala Dinas Pariwisata Samosir, Ombang Siboro, mengatakan, Samosir Lake Toba Ultra Marathon adalah rangkaian even ke tujuh Horas Samosir Fiesta (HSF) 2017. “Even ini akan terus dikembangkan karena alam dan kekayaan budaya Pangurusan Samosir harus dikombinasikan demi mengangkat pamor Danau Toba yang mendunia,” kata Ombang Siboro.

Even yang sudah digelar untuk ketiga kalinya ini merupakan rangkaian program Pemerintah Kabupaten Samosir yang diselenggarakan Running Explorer, bekerja sama dengan Horas Halak Hita Toba International Detour dan didukung Kementerian Pariwisata.

“Ini lomba lari yang terunik di Indonesia karena merupakan satu-satunya lomba lari yang dilakukan di pinggir danau. Selain itu, jalurnya juga sangat menantang karena tanjakan dan turunannya cukup sulit dan ekstrim dibanding even yang sama,” ujarnya.

Menurut Ombang, berlari di Samosir akan membawa sensasi tersendiri. Di sini peserta akan dimanjakan pemandangan Danau Toba yang mengelilingi Pulau Samosir. Suasana yang sejuk dan menyegarkan, hamparan air jernih yang berwarna biru, dan juga pemandangan mempesona beberapa pegunungan hijau, dipastikan siap menyapa peserta.

Belum lagi, panorama danau raksasa di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut juga bisa dilihat langsung dari dekat. Semua peserta diyakini bakal terbius pesona Danau Toba, danau terbesar kedua setelah Danau Victoria di Afrika.

Setelah itu, ada Batu Hobon, situs yang terletak di Desa Limbong Sagala. Batu ini sakral karena merupakan tempat Si Raja Batak menyimpan harta bendanya.

“Lintasan lari juga cukup memberikan tantangan bagi pelari. Mereka berlari dengan lintasan menanjak dan menurun. Start-nya mulai dari pemandian air hangat Resor Sitio-tio Panguruan. Finish-nya juga sama. Setelah berlari, mereka bisa berkunjung ke obyek-obyek wisata yang ada di Samosir dan Danau Toba,” jelasnya.

Lomba lari maraton ini yang diikuti 800-an peserta dari Indonesia dan mancanegara seperti Malaysia, Singapura dan Filipina dikuasai pelari dari Indonesia. Di kelas bergengsi 50K,pelari asal Binjai ,Udin Akbar menguasai podium pemenang SLTUM 2017 dengan waktu tercepat 03:42:10 diikuti oleh pelari Medan, Partogian Gultom (3:46:25) dan Lotswardi Kabaekan dari Depok (4:09:07).

Sementara itu, dibagian putri, untuk kelas 50K, Ruth Theresia dari Bekasi menempati yang pertama dengan membukukan catatan waktu %:44:57. Di posisi kedua, ditempati Nengsih Samadi (5:45:12) dan Kartini Achmad Kamal,pelari Malaysia dari petaling Jaya menjadi yang terbaik ketiga dengan catatan waktu (6:14:44). (Hasil lengkap Lomba Samosir Lake Toba Ultra Marathon (SLTUM) 2017 dapat dilihat di grafis).

Bagi Kemenpar, Sport tourism memang selalu menjadi andalan untuk memperkenalkan destinasi wisata di tanah air. “Sukses dan harus solid! Kompak! Maju bersama, berjuang bersama, saling support, saling memperkuat! Itulah Indonesia Incorporated!” papar Menteri Pariwisata Arief Yahya. “Kolaborasi yang hebat, pasti akan menghasilkan produk event yang solid juga!” ujar Menpar Arief.

Arief Yahya menambahkan, kegiatan SLTUM 2017 ini sukses mendatangkan sejumlah pelari bukan hanya tingkat nasional, tetapi juga pelari dari luar negeri. Dampaknya kata dia, akan memberikan dan menyatakan bagaimana indahnya Danau Toba dengan pesona wisatanya.

Menurutnya, peran semua pihak harus terlibat. Selain perhatian dari pusat yaitu Kemenpar, dua pemerintah Pemkab Samosir, juga partisipasi konkret dari Pemprov Sumut. Ia berharap kegiatan itu kembali dilaksanakan dengan mendatangkan pelari dalam jumlah banyak dari luar negeri.

“Mereka yang datang ini bukanya hanya mengenal Samosir tetapi juga wilayah Danau Toba secara keseluruhan. Ada dampak yang baik, karena itu kita berharap kegiatan ini kembali dilakukan tahun depan,” pungkasnya.(*)

Berikut Hasil Lengkap Samosir Lake Toba Ultra Marathon 2017 :

5K Men
1. Agum Prabowo azhar (Medan)
2. Tommy Simbolon (Pangururun)
3. Muhammad Basyir Harahap (Binjai)
4. Ramo Saragih (Medan)
5. Risky Andrianto Sitepu (Karo)

5K Women
1.Idfitri Dayanti Harahap (Binjai)
2. Elisabeth Rosalin Sinaga (Medan)
3. Nova Rismalina (Deli Serdang)
4. Dinda Joya (Deli serdang)
5. Syahfitri (Asahan)

 

10K Men
1. Erwin (Medan)
2. Leandro Fortuna Bayu Sinaga (Medan)
3. Laudry Ravael Sinaga (Medan)
4. Bobby Hidayat (Berastagi)
5. Adryanto Sinaga (Samosir)

10K Women
1. Lentaria (medan)
2. Meike Sari Rohana (Binjai)
3. Rizki Azura (Medan)
4. Dame Rohani Laoli (Tapanuli Selatan)
5. Eni Sonia Hasibuan (Tapanuli Selatan)

25K Men
1. Wilman Pasaribu (Medan)
2. Lourenzho Adhetya Sinaga (Medan)
3. B marolop Pandiangan (Berastagi)
4. Adi Zulkarnaen (Tapanuli Selatan)
5. Naek Sagala (DKI Jakarta)

25K Women
1. Ina Lydia Damanik (Medan)
2. Eliza Chandra (Medan)
3. Jessely (Medan)
4. Yggreis Marsella Saragih (Medan)
5. Winda Marisa (rantau Prapat)

50K Men
1. Udin Akbar (Binjai)
2. Partogian Gultom (Medan)
3. Lotswardi Kabeakan ( Depok)
4. Moses Sinaga (Medan)
5. Christovik H Simatupang (Jakarta)

50K Women
1. Ruth Theresia (Bekasi)
2. Nengsih Samadi (Jakarta)
3. Kartini Ahmad Kamal (Petaling Jaya-Malaysia)
4. Nova Sarah (Medan)
5. Sortauli Turnip (Jakarta)