batampos.co.id – Nasib 49 mantan karyawan perusahaan PT Cipta Persada Mulia (CPM) dan PT Singkep Timas Utama (STU) semakin tidak jelas. Pasalnya, pesangon yang menjadi hak mereka sesuai dengan kesepakata dengan direktur perusahaan tersebut tak kunjung dibayar.
Kondisi ini semakin diperparah setelah direktur menyerahkan tanggungjawab sisa pembayaran pesangon yang telah dicicil, kepada pemegang saham perusahaan PT Cipta Persada Mulia (CPM), PT Singkep Timas Utama (STU) dan PT Sumber Prima Lestari. Sayangnya, komisaris dan pemegang saham tidak dilibatkan atau diberitahukan terkait pengambilan kebijakan pemutusan hubungan kerja keseluruhan karyawan perusahaan tersebut.
Sehingga, seluruh keputusan yang diambil terkait pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan termasuk keputusan jumlah pemberian pesangon keseluruhannya mutlak adalah kebijakan yang diambil direktur. Dengan kata lain keputusan itu tidak melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Sementara itu di lokasi berbeda, Kabid Ketenagakerjaan Dedi Supartono mengatakan, pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan yang berlaku di PT STU adalah kebijakan dari perusahaan yakni direktur. Seharusnya tanggungjawab pemberian pesangon kepada mantan karyawan adalah tugas direktur. Sedangkan urusan dengan pemilik saham adalah internal perusahaan.
“Intinya, direktur harus bertangungjawab terhadap keputusan mereka merumahkan karyawan untuk membayar pesangon karyawan,” ujar Dedi kepada Batam Pos, Minggu (3/12) pagi.
Sementara itu Dedi menganjurkan agar perusahaan melakukan mediasi kembali untuk menciptakan keputusan bersama. Selanjutnya keputusan bersama ini yang akan menjadi acuan untuk melakukan tindakan dan jika tidak dilaksanakan akan dapat dieksekusi oleh pengadilan PHI.
Menurut salah seorang mantan karyawan PT CPM Ari Susanto mengatakan, seluruh karyawan yang dirumahkan itu hanya mengetahui dan bertemu dengan direktur perusahaan. Bahkan direktur juga yang mensosialisasikan terkait pemutusan hubungan kerja dan bukan dengan pemegang saham.
“Yang kami tau ya direktur yang mem-PHK kami. Yah sudah sepantasnya kami menuntut hak kami yakni pesangon kepada direktur,” ujar Ari.
Ditanya terkait penyerahan tanggungjawab pembayaran pesangon dari direktur ke pemegang saham, Ari menjawab tidak menerima hal tersebut. Ari beralasan semestinya karyawan tidak berurusan dengan internal perusahaan, yang mereka inginkan hanya hak pesangon sesuai yang dijanjikan direktur saat pertemuan berlangsung. (wsa)
Kampanye hari aids sedunia di Natuna oleh dinas kesehatan dan KPAD Natuna di simpang Jami’ Ranai. F. Aulia Rahman/Batam Pos.
batampos.co.id – Memperingati hari Aids sedunia tahun 2017, ratusan pelajar melaksanakan kampanye damai mencegah penularan HIV Aids di Natuna. Aksi yang digelar di Simpang Jami’ Ranai ini diikuti dari berbagai sekolah, baik KPAD Natuna, PMI dan Dinas Kesehatan.
Aksi damai tersebut, ratusan pelajar mengajak masyarakat melalui pesan-pesan moral dalam spanduk spanduk maupun selebaran dan penyematan pita untuk ikut peduli mencegah penularan virus HIV.
Kepala Bidang pencegahan dan perlindungan penyakit Dinas kesehatan pengendalian penduduk dan KB Pemkab Natuna Hikmat Aliansyah mengatakan, saat ini angka penularan HIV di Natuna sudah cukup tinggi. Hingga ditahun 2017 ini sudah ditemukan 90 kasus penularan.
Angka kasus penularan HIV tersebut kata Hikmat, merupakan data yang diperolah dari jumlah kunjungan konseling di klinik VCT, dari RSUD maupun dari pemeriksaan lapangan yang disasar kepada warga risiko tinggi atau pekerja seks komersil.
“Sudah sangat tinggi kasus penularan HIV di Natuna. Dari 90 kasus itu, sudah ada 30 lebih penderitanya sudah meninggal dunia. 11 penderi diberikan obat, tetapi sekarang tinggal 4 orang, mereka kemana juga tidak diketahui,” jelas Hikmat.
Dikatakan Hikmat, dari tiga sumber angka penularan HIV yang ditemukan di Natuna cenderung lebih tinggi dari kalangan masyarakat umum, terutama pada ibu rumah tangga. Namun lebih kecil angka kasus ditemukan pada pekerja seks komersil.
Angka ini sambungnya, secara logikanya disebabkan satu orang pekerja seks dapat menularkan kepada 10 orang pelanggannya. Dan kasus penularan HIV ini pertama ditemukan di Natuna sejak tahun 2009 lalu. Tentu fenomena gunung es sudah menghawatirkan terjadi di Natuna.
Peran kesadaran diri sendiri kata Hikmat, sangat diutamakan dalam menekan kasus penularan HIV Aids di Natuna. Angka 90 kasus ini baru terungkap, namun dikawatirkan lebih tinggi kasus yang belum terungkap.
Dinas Kesehatan sambungnya, dalam waktu dekat akan melakukan pengecekan lapangan untuk melakukan pendataan jumlah pekerja seks komersil di Natuna. Dan melakukan pemeriksaan kesehatan. Kendala saat ini masih pada perlengkapan pemeriksaan kesehatan untuk virus HIV tersebut. Karena sampel pasien harus dikirim ke Batam.(arn)
Suasana aktifitas siang hari di Telukpandan (Sintai), Tanjunguncang, Batuaji F. Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Pusat Rehabilitasi Sosial non Panti (PRSNP) Tanjungpandan atau yang lazim disebut Sintai tak sesuai dengan semangat awal pembentukannya.
Pusat rehabilitasi yang dibangun era Nyat Kadir jadi Wali Kota Batam itu sejatinya pusat rehabilitasi bagi pekerja seks komersial (PSK) dari lokasi prostitusi liar, sebelum dikembalikan ke masyarakat.
Namun kini justru jadi lokalisasi atau tempat prostitusi yang terkesan dilegalkan Pemerintah Kota Batam.
“Prakteknya berlawanan dengan Perda Nomor 6 tahun 2002 tentang Ketertiban Sosial,” kata anggota Komisi IV DPRD Batam, Riki Indrakary, beberapa waktu lalu.
Pasal 8 ayat 2 poin a Perda No. 16/2002 disebutkan, harus ada pengawasan ketat dari Pemko Batam agar jumlah PSK tak bertambah. Sebab, PSK atau dalam penanggulangan HIV/AIDS disebut wanita penjaja seks (WPS), salah satu kategori risiko tinggi tertular HIV/AIDS.
Sementara pada poin c diatur, setelah berangsur-angsur dibina, PRSNP akan ditutup dalam waktu tiga tahun setelah Perda tersebut terbit.
“Tapi kini sudah masuk 15 tahun tak juga ditutup, malah jadi lokalisasi komersil,” kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.
Ia mempertanyakan evaluasi dari Pemko Batam. Sudah seharusnya pusat rehabilitasi Tanjungpadan alias sintai itu dikembalikan fungsinya sebagai pusat rehabilitasi.
“Maaf saya katakan sama saja kita membiarkan praktek itu terjadi. Ini tanggungjawab utamanya di eksekutif,” ucap dia.
Menurutnya, DPRD Batam sering menyampaikan hal ini ke Pemko Batam, namun kini belum ada evaluasi sama sekali. “Kami legislatif beberapa kali mengingatkan praktek yang sekarang itu bertentangan dengan Perda,” ujarnya.
Wakil Wali Kota, Amsakar Achmad enggan mengomentari hal ini. Ia menyampaikan pihaknya fokus kini fokus pada tiga permasalahan sosial, yakni pengentasan kemiskinan, program Rehabilitasi Rumah Layak Huni (RTLH) dan penanganan Gelandang Pengemis (Gepeng).
“Ini yang kami fokus tangani tiga bulan terakhir ini,” kata Amsakar beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Menteri sosial RI Khofifah Indar Parawansa, akhir tahun 2016 lalu terdengar kaget saat ditanyakan ada praktek prostitusi di Pusat Rehabilitasi Non Pati Telukpandan Tanjunguncang. Ini berawal saat dia ditanya bagaimana penanganan prostitusi di tempat yang lazim disebut Sintai itu.
“Masa sih? itu panti rehabkan?” kata Khofifah waktu itu.
Menurutnya, pemerintah melalui Kementerian Sosial menargetkan tahun 2019, Indonesia bakal bebas lokalisasi. Di Batam sendiri kementerian mengaku akan berkoordinasi dengan Wali Kota Batam, Rudi.
Sementara itu, pantauan Batam Pos di pusat rehabilitasi yang kini benar-benar jadi lokalisasi itu, PSK atau WPS diwajibkan mengikuti pemeriksaan medis rutin pertiga bulan. Dari pemeriksaan itu, banyak menemukan wanita terjangkit penyakit menular seksual (PMS).
Namun demikian mereka tetap aman melakoni profesi tersebut sebab petugas medis dari Puskesmas Batuaji rutin memberikan pengobatan dan perawatan untuk mengobat penyakit tersebut.
Ketua pengurus Pusat Rehabilitasi Sosial Non Panti Teluk Pandan, Sintai Ace Jamaluddin, mengatakan sejauh ini PMS yang menyerang para PSK itu belum memberikan dampak apapun. Baik kepada tamu ataupun kepada PSK sendiri.
“Itu karena ada pengobatan yang rutin dari pihak Puskesmas. Penyekit itu sifatnya sementara dan bisa sembuh. Kalau ke tamu tentu tidak berbahaya juga sebab disini wajib pakai pengaman (kondom),” kata Ace, beberapa waktu lalu.
Kawasan lokalisasi tersebut ditegaskan Ace memang kawasan wajib kondom. Dimana tamu atau pengunjung yang ingin memakai jasa PSK disana diwajibkan menggunakan kondom tanpa terkecuali.
“Itu sudah peraturan tetap di sini. Ini untuk kebaikan bersama baik pekerja ataupun tamu yang datang,” kata Ace.
Meskipun selalu ada satu sampai lima wanita yang terserang PMS setiap pemeriksaan rutin itu, namun untuk penyakit mematikan HIV/AIDS sejauh ini kata Ace belum terjangkit sama sekali.
“Anggota (PSK) kami di sini total ada 224 orang di 26 bar yang ada. Tapi semuanya bersih dari HIV AIDS,” katanya.
Bahkan untuk menjamin sterilisasi penghuni di lokalisasi tersebut dari penyakit mematikan itu, pengelolah tempat hiburan malam di sana juga menerapkan aturan untuk menggantikan PSK pertiga bulan hingga perenam bulan sekali.
“Tidak semua tapi beberapa yang sudah tak mau lagi ya kita gantikan. Ini juga membantu agar penyakit-penyakit yang bisa menular pelanggan bisa dicegah,” ujar Ace.
Saat ini di lokalisasi tersebut terdapat 26 bar yang beroperasi setiap malam dan ada 224 PSK yang siap melayani tamu yang datang. Pusat rehabilitasi itu kini benar-benar jadi lokalisasi prostitusi yang dilegalkan dan pemerintah menutup mata.
Sementara itu, prostitusi liar masih terus menjamur di Kota Batam. Khususnya di kawasan Batuampar. Bila malam tiba, berjejer PSK menunggu tamu di depan pertokoan Jodoh Square dan sekitarnya.
Rata-rata tamu membawa PSK itu untuk kencan di hotel atau di tempat lain. Beberapa PSK juga melayani kencan di tempat di ruko tertentu yang hanya bersekat kain atau tripleks tipis. Tarif sekali kencan beragam. Mulai Rp 50 ribu hingga ratusan ribu.
Kawasan ini sempat beberapa kali dirazia Satpol PP, namun PSK kembali lagi dan lagi. Wajar saja penderita HIV/AIDS terus meningkat. Sebab, anak usia di bawah umur pun bisa menggunakan jasa PSK di kawasan itu. Belum lagi PSK/WPS yang bisa dipesan lewat media sosial.
PSK liar inilah sejatinya harus ditertibkan dan dibawa ke Pusat Rehabilitasi Sosial Non Panti di Tanjungpandan-Sintai-Tanjunguncang. Di sana mereka harusnya dibina agar meninggalkan profesinya itu. Namun, pusat rehabilitasi itu kini jadi pusat mencetak PSK profesional. (cr13/eja/nur)
Pedagang cabai di Pasar Baru Tanjunguban, Rustam belum lama ini. Karena pasokan menurun, harga cabai di sejumlah pasar di Kabupaten Bintan naik hingga 50 persen. F. Slamet/Batam Pos.
batampos.co.id – Harga cabai rawit di sejumlah pasar di Kabupaten Bintan naik hingga Rp 40 ribu rupiah per kilogram. Biasanya cabai rawai Rp 30 hingga Rp 40 ribu per kilogram, kini mencapai Rp 80 ribu per kilogram.
Seorang ibu rumah tangga, Darmiyati mengeluhkan harga cabai rawit yang tinggi. Akibat harganya yang melambung tinggi, ia harus mengurangi penggunaan cabai rawait. “Belinya sedikit sedikit saja, paling 2 hingga 3 ons saja,” kata wanita yang tinggal di
Tanjunguban ini.
Hal senada dikeluhkan Yem, warga Tanjunguban. Wanita paruh bayah ini bukan hanya mengeluhkan harga cabai rawit yang mahal, namun harga cabai merah juga mahal.
“Sudah kurangi makan cabai, karena mahal sampai Rp 80 ribu per kilogram. kalau mau beli sedikit saja, tak sampai Rp 5 ribu,” katanya ketika ditemui di rumahnya di Kampung
Kamboja, Tanjunguban, Minggu (3/12) siang kemarin.
Pemasok Cabai, Indra Setiawan mengakui harga cabai tinggi karena produksi cabai di tingkat petani menurun disebabkan musim penghujan. Akibat cuaca yang buruk, kualitas cabai menurun. “Harganya naik, tapi setahu saya yang naik cabai rawit saja,” katanya.
Terpisah, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bintan, Setia Kurniawan membenarkan harga cabai dan sayur mayur mengalami kenaikan. Di awal Desember ini, harga cabai rawit
dijual berkisar Rp 80 ribu per kilogram. “Yang naik cabai rawit, kalau cabai merah kenaikannya masih berkisar Rp 10 ribu per kilogram atau dijual berkisar Rp 52 ribu per kilogram,” jelasnya.
Terkait permasalahan ini lanjut Iwan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak Kementerian Perdagangan. Sejauh ini, pemerintah pusat memastika n daerah penghasil sampai saat ini masih stabil. Namun demikian, pihaknya akan menyelidiki kelangkaan pasokan cabai di Bintan. (cr21)
batampos.co.id – Anggota Opsnal Sat Res Narkoba Polres Karimun berhasil menangkap tiga orang tersangka yang terlibat dengan peredaran narkotika jenis sabu. Ketiga tersangka yang ditangkap masing-masing berinisial Mhg alias Hi, Abd dan Ac dengan total barang bukti sebanyak 66,76 gram.
”Penangkapan terhadap tiga orang yang diduga sebagai pengedar sabu ini kita lakukan secara terpisah pada Rabu (29/11). Tersangka pertama yang ditangkap terlebih dulu adalah Mhg alias Hi dari dalam sebuah mobil di Jalan Pertambangan, Kecamatan Karimun. Dari hasil penggeledahan ditemukan 3,2 gram, sendok untuk sabu dan termasuk satu unit timbangan di dalam mobil,” ujar Kasat Res Narkoba Polres Karimun, AKP Nendra Madyatias, Sabtu (2/12).
Kemudian, kata Nendra, polisi melakukan pengembangan terkait jaringan Mhg. Akhirnya, tersangka yang pertama memberikan keterangan bahwa sabu tersebut diperoleh dari tersangka Abd dan Ac. Untuk menangkap keduanya, polisi menggunakan mobil Mhg agar tidak curiga. Akhirnya, dua jam kemudian, Abd bersama dengan AC berhasil diamankan.
”Tersangka Abd dan Ac menggunakan mobil dan berhasil kita cegat di tengah sekitar Kampung Harapan, Kecamatan Tebing. Namun, pada saat kita hadang dari depan tersangka melawan dan menabrakkan mobilnya ke mobil yang kita bawa. Pada saat itu, anggota langsung turun dari mobil langsung mengamankan mereka. Dari tangan Ac ditemukan 6 paket sabu dengan berat 27,61 gram,” paparnya.
Pada saat itu, lanjut Nendra, Abd tidak membawa barang bukti. Melainkan, masih di simpajn di rumahnya. Tersangka Abd membawa kita ke rumahnya untuk mengambil sabu yang disimpan di dalam kulkas atau lemari Es. Dalam lemari es ditemukan 6 paket dengan berat 35,95 gram. Selain itu, ditemukan plastik dan timbangan digital yang digunakan tersangka untuk diedarkan. Pengakuan Abd bahwa sabu tersbeut diperolehnya di Malaysia. (san)
batampos.co.id – Kasus HIV/AIDS di Batam kian mengkhawatirkan. Setiap tahun jumlahnya terus meningkat. Yang mencengangkan, penderitanya didominasi para pria penyuka sesama jenis alias gay. Celakanya, bak fenomena gunung es, jumlah kasus yang sesungguhnya dipastikan jauh lebih besar dari data yang ada.
PRIA itu bergegas masuk ke lift di sebuah tempat hiburan malam di Batam, beberapa waktu lalu. Ia datang memenuhi undangan temannya seorang pebisnis tajir di Batam yang merayakan ulang tahun.
Jemarinya menekan angka di dinding lift sesuai lantai yang akan ia tuju. Pandangannya lalu fokus ke layar sentuh ponsel pintarnya. Melayani percakapan grup media sosial yang ia ikuti.
Dalam hitungan detik, lift berhenti. Ia berjalan keluar dan menuju sebuah ruangan sambil terus memandangi layar ponselnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti, pandangannya menyapu seisi ruangan. Ia kaget karena seisi ruangan isinya semua pria.
Sontak ia balik kanan dan langsung mengubungi temannya yang akan merayakan ulang tahun itu. “Ruangannya yang mana? Kok isinya laki-laki semua,” ujarnya saat menghubungi temannya.
Dari percakapan telepon itu, ia mendapat penjelasan kalau ia salah ruangan. “Rupanya ruangan yang saya masuki tadi lagi ada acara gay, kaget benar saya,” ujar pria berinisial RS ini.
Warga Legenda, Batamcenter, ini mengaku tidak terlalu alergi dengan kaum gay. Namun ia mengaku khawatir karena keberadaan mereka kerap mendatangkan pengaruh negatif bagi lingkungannya.
RS mengaku, ada beberapa temannya yang sebenarnya normal tapi akhirnya menjadi penyuka sejenis karena dipengaruhi gay di sekitarnya. Tak hanya itu, para pria yang sudah beristri dan memiliki anak, juga bisa terseret ke dalam lingkaran homoseksual itu.
“Ada yang sudah ketahuan istrinya, dikira selingkuhannya perempuan, pas dilabrak ternyata laki-laki,” ujarnya.
Yang tak kalah memprihatinkan adalah, perilaku sodom ini di Batam ternyata penyumbang angka besar penularan HIV-AIDS. Dinas Kesehatan Kota Batam mencatat, jumlah gay yang memeriksakan diri ke klinik Voluntary Counseling Test (VCT) di Batam tahun 2016 ada 386 orang. Dari jumlah itu, 194 orang atau 50 persennya positif HIV.
Jika dibandingkan dengan wanita penjaja seks (WPS) di tahun yang sama, dari 935 orang yang memeriksakan kesehatan, hanya 90 orang positif HIV. Begitupun dengan pasangan risiko tinggi, dari 435 orang yang memeriksakan diri di 2016, hanya 89 yang positif HIV.
Bandingkan juga dengan pelanggan pekerja seks (PPS) dari 820 orang yang mengikuti pemeriksaan, hanya 170 orang positif HIV. Kalangan lain-lain dari 7.179 orang, positif HIV hanya 127 orang. Masih lebih tinggi yang positif HIV dari kalangan gay.
Begitupun jika dibandingkan dengan kalangan waria. Dari 386 yang tes kesehatan di 2016, ada 16 orang yang positif HIV. Warga binaan pemasyarakatan (WBP) dari 557 yang ikut tes, hanya 9 yang positif HIV.
Pengguna narkoba lewat jarum suntik (Injecting Drug User/IDU) yang terinfeksi HIV malah kecil. Dari 10 orang yang memeriksakan diri hanya satu yang positif HIV.
Kondisi serupa juga terjadi di 2017. Data Dinas Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS Kota Batam menyebutkan, penularan HIV/AIDS dari kalangan laki-laki penyuka sesama jenis juga mendominasi.
Januari hingga September saja, dari 271 gay yang memeriksakan diri di VCT, baik di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan tingkat pertama dan lanjutan, hampir separoh (129 orang) atau 47,6 persen positif HIV.
Sementara waria yang melakukan tes dari 60 orang, 12 positif HIV. Wanita penjaja seks (PSK) dari 1.280 yang tes, 41 positif HIV. Pelanggan penjaja seks dari 721 yang dites, 91 positif HIV, kalangan lain-lain dari 4.960 yang dites, 52 positif HIV. Pasangan risiko tinggi dari 403 yang diperiksa, 47 positif HIV. Warga binaan pemasyarakatan 71 yang dites, tidak ada yang positif HIV.
“Penularan dari hubungan sesama lelaki memang paling tinggi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, Kamis (30/11).
Angka tersebut masih lebih kecil dari kondisi riil di lapangan. Sebab, masih banyak lelaki suka lelaki yang enggan memeriksakan diri karena takut identitasnya terungkap. Masih banyak juga yang merasa dirinya aman-aman saja, meski pernah melakukan hubungan sesama jenis.
Karenanya, ia meminta masyarakat Batam untuk menjauhi perilaku homoseksual itu. Selain dilarang agama, eprilaku itu juga sangat berisiko pada penularan HIV/AIDS. “Berperilaku normal dan setia pada pasangan sah,” ujar Didi.
Konselor HIV/AIDS yang sudah lebih dari 21 tahun menangani pasien dengan kasus HIV/AIDS (ODHA), dr Francisca L Tanzil, juga membenarkan kalau tren penularan HIV/AIDS beberapa tahun terakhir lebih banyak pada lelaki penyuka sesama lelaki.
“ODHA di Batam saat ini memang mayoritas dari kalangan gay, menyusul ibu rumah tangga, lalu anak di bawah umur,” ungkap dokter yang akrab disapa Sisca, saat ditemui di Klinik Konseling dan Testing HIV Kasper, Pavilium Anyelir, Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam, Kamis (30/11) pekan lalu.
Dalam hal penularan, meski perempuan lebih rentan dari laki-laki karena posisi dan bentuk dari anatomi kelamin, namun di Batam, banyak temuan kasus-kasus ODHA karena hubungan sesama jenis, termasuk biseksual.
Dalam dunia gay, berdasarkan pengakuan para pasiennya, dokter Sisca mengungkapkan, pasangan sesama laki-laki ini ada yang berperan sebagai laki-laki dan perempuan. Umumnya yang berperan perempuannya (bottom) yang paling rentan terkena penularan HIV/AIDS.
“Kan mereka yang disodomi. Itu rentan tertular,” ungkapnya lagi.
Meski begitu, dua-duanya dari pasangan tersebut bisa terkena karena peran yang bergantian dan gonta-ganti pasangan antar sesama gay.
Umumnya yang konseling ada anggota polisi, TNI, pegawai bank, dan berbagai latarbelakang profesi. Namun paling banyak dari tempat-tempat pusat kebugaran (fitnes). Tak sedikit juga yang sudah menikah dan punya anak. Namun identitas pribadi mereka tetap wajib dirahasiakan.
Dokter Sisca juga menyebutkan, makin lama warga Batam yang datang konseling makin banyak. Selain karena informasi yang sudah makin banyak dan gampang diakses di internet, kesadaran masyarakat yang rentan juga makin tinggi untuk memeriksakan diri dan konseling.
“Bulan ini banyak banget. Rata-rata 30-40 pasien baru per bulan. Ini hanya yang memeriksakan diri di RSBK saja ya, belum di tempat lain,” ujar dokter Sisca.
Ia pun menunjukkan data selama 10 bulan terakhir. Jumlah warga Batam yang konseling ke RSBK sebanyak 4.145 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.123 orang di antaranya mengikuti rapid test atau test diagnosa cepat melalui pengecekan darah untuk mengetahui positif atau negatif HIV/AIDS.
Dari 4.123 orang yang tes darah tersebut, sebanyak 294 orang dinyatakan positif HIV. “Paling banyak laki-laki, 182 orang, sisanya 103 perempuan,” sebut Sisca.
Mirisnya, dari 294 pasien positif HIV tersebut, sembilan di antaranya masih di bawah usia 14 tahun dan sudah tahap AIDS.
“Masih di bawah umur dan usia sekolah sudah tahap AIDS. Miris banget,” ujarnya.
Khusus penderita yang sudah sampai tahap AIDS saat ini tercatat 250 pasien. Rinciannya, 175 laki-laki dan 66 perempuan serta sembilan anak di bawah umur.
“Khusus anak di bawah umur ini, ada yang masih SMP dan rata-rata karena seks bebas bukan karena turunan dari orangtua. Penderita SMP ini semua warga Batam. Dia pasien lanjutan kami,” jelas Sisca.
Usia pelajar di Batam memang rentan terkena penularan HIV/AIDS. Perkembangan teknologi informasi yang tak bisa dan tak mungkin dibendung membuat usia pelajar makin melek teknologi dan terhubung dunia luar yang seolah tanpa batas lagi.
“Usia-usia sekolah itu kan upaya pencarian jati diri, menjadi lebih dominan mengikut arus,” kata dokter Sisca.
Kondisi ini diperparah dengan kurangnya pengawasan orangtua dan pihak sekolah, sehingga makin banyak anak usia bawah umur terjun ke pergaulan bebas dan narkoba.
“Tahun ini saja ada tiga laki-laki dan lima perempuan usia sekolah yang sudah terkena AIDS, bukan cuma terkena virus lagi,” jelas Sisca panjang lebar.
Selain itu, ada juga beberapa anak di bawah umur yang jadi korban perdagangan manusia. “Baru menstruasi sudah disuruh melayani di lokalisasi. Ini ada beberapa kasus,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ibu hamil juga rentan terkena HIV/AIDS ini. Dari data yang didapat, per Januari-Oktober tahun ini, dari 1.438 ibu hamil yang konseling dan test HIV, ada 17 yang positif HIV dan 15 orang AIDS. Sementara ada 19 bayi yang lahir dari ibu dengan HIV positif.
“Persentasenya sudah 1,18 persen. Jumlah ini sudah masuk kategori tinggi dari jumlah populasi masyarakat umum,” jelas Sisca.
Sementara itu, dilihat dari usia, penderita HIV/AIDS di Batam, didominasi usia produktif. Data Dinas Kesehatan Kota Batam menyebutkan, pada 2016 sebanyak ada 694 positif HIV, 304 AIDS, dan 82 orang meninggal dunia.
Dari 694 positif HIV, sebanyak 549 positif HIV berusia 25-49 tahun. Menyusul usia 20-24 tahun sebanyak 76 orang. Usia 15-19 tahun 5 orang. Usia 5-14 tahun empat orang, kurang dari 4 tahun 20 orang, dan di atas 50 tahun 40 orang.
Sedangkan di 2017 dari Januari-September, penderita HIV 423 orang, AIDS 259 orang, meninggal dunia 36 orang. Dari 259 yang sampai tahap AIDS, ada 215 orang masuk kategori usia produktif dengan rentang usia 25-49 tahun. Kemudian 16 orang usia 20-24 tahun. Usia 5-14 tahun ada 9 orang, kurang dari 4 tahun 4 orang, dan di atas 50 tahun 16 orang.
Data tersebut masih lebih kecil dari data yang sesunguhnya. Sebab, masih ada beberapa VCT, baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan yang belum menyerahkan data terbaru. Bahkan, yang tidak memeriksakan diri diperkirakan jauh lebih banyak lagi.
Secara keseluruhan, penderita HIV/AIDS di Kota Batam dari tahun 1992-Juni 2017 mencapai 8.101 orang. Rinciannya, 5.303 HIV, 2.100 AIDS, dan 698 meninggal dunia
***
Berbagai upaya pencegahan HIV/AIDS dilakukan Dinas Kesehatan Kota Batam. Mulai dari penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat umum, anak sekolah, hingga ke perusahaan-perusahaan. Termasuk pekerja pelabuhan dengan kerja sama dan dikoordinir Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Batam yang diketuai Wali Kota Batam, Muhammad Rudi.
Khusus anak remaja di Batam telah dibentuk oleh KPA Young Care about AIDS (YCAA ). Anggotanya hampir semua ketua OSIS se-Kota Batam.
Upaya pencegahan juga dibantu oleh penyuluhan dan penjangkauan oleh masyarakat yang peduli pada kasus HIV Kota Batam. Antara lain forum masyarakat peduli HIV Batam (FOMPAB), Forum warga peduli HIV Batam (Forwaphi). Keduanya di-SK-kan Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam dan juga menjadi anggota KPA BATAM.
Khusus untuk penyuluhan dan penjangkauan LSL (lelaki suka lelaki/gay/homo), Dinkes Kota Batam bersama KPA melibatkan sejumlah pihak. Antara lain Yayasan Embun Pelangi, Gaya Batam, dan HIWABA.
“Biaya Obat ARV baik pasien umum maupun BPJS sepenuhnya ditanggung oleh Kemenkes,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi.
Obat ARV ini disalurkan melalui Instalasi Farmasi Kota Batam. Namun ia mengakui sering terjadi masalah bila pasien BPJS Kesehatan mengambil obat. BPJS Kesehatan tidak menanggung biaya konsul dokter spesialis. Sedangkan sebelum mengambil obat perbulan, pasien wajib menemui dokter spesialis untuk mendapatkan resep dokter.
Didi juga menjelaskan, biaya rumah sakit (Faskes lanjutan) yang ada pengobatan ARV berbeda-beda. Ada di RS Budi kemuliaan, RS Elisabeth, dan RSUD Embung Fatimah. “Kalau di PKM Lubukbaja sepenuhnya gratis,” kata Didi.
Saat ini Puskesmas Lubukbaja bekerja sama dengan Yayasan Kasih Suwitno dan Yayasan Embun Pelangi mendorong pemeriksaan LSL (gay) dengan menambah jam layanan khusus LSL di PKM lubukbaja menjadi 12 jam per minggu.
Khusus pengidap HIV/AIDS dari kalangan PNS, Didi mengatakan, tidak ada data khusus berapa jumlahnya. Namun, jika melihat data Sistem Informasi HIV/AIDS berdasarkan kelompok pekerjaan, nomor dua terbanyak adalah ibu rumah tangga.
“PNS, TNI, Polri hanya 15 orang tahun 2016 dan 7 orang pada 2017,” sebutnya.
Konselor HIV/AIDS RSBK Batam, dr Francisca L Tanzil, menyebutkan jumlah penderita AIDS yang meninggal di RSBK sepanjang 2017 berjalan sebanyak 31 orang. Laki-laki 19 orang dan 12 perempuan. Satu di antaranya perempuan di bawah usia 14 tahun.
Kini, ada beberapa jenis obat yang sudah bisa menangkal pertumbuhan virus HIV di dalam tubuh, yakni Aluvia 200 gram, Efavirenz, Lamivudine, dan Tenofoir.
Khusus pasien dengan HIV positif awal atau lini 1, umumnya dokter akan menganjurkan Lamivudine dan Zidovudine, atau nevirapine dan juga 3 in 1 obat gabungan dari efavirenz, lamivudine, dan tenofoir.
Jika pasien sudah tak mempan atau resisten dengan obat tersebut, biasanya akan diberikan Aluvia, Tenofoir Disoproxil, dan Fumarate. “Obat ini tidak dijual bebas di apotek. Hanya didapatkan di tempat khusus,” jelas Sisca.
Dokter Sisca sendiri terjun ke penanganan HIV/AIDS sejak 1996. Kala itu, ia menjadi Kepala Puskesmas Kecamatan Belakangpadang. Hobi penelitian kesehatan dan saat itu tengah meneliti kasus Hepatitis B, ia berkenalan dengan pemilik Yayasan dan RSBK Sri Soedarsono. Ia kemudian diajak bekerjasama untuk penanggulangan AIDS dengan Utrecht University Belanda.
Tak lagi menjadi Kepala Puskesmas Belakangpadang, ia pun bergabung dengan RSBK dan concern melayani di lokalisasi Samyong di Bukit Girang Batuampar sebelum akhirnya dipindah ke lokalisasi Sintai di Tanjunguncang.
Dia menceritakan awal-awal terjunnya ia menjadi konselor. Meski sudah paham secara teori, namun pada praktiknya ia sempat merasa risih dan jijik. Kala itu, ada pasien pria di Samyong, datang konseling karena merasa pernah campur bebas. Pertama datang masih dalam kondisi sehat meskipun ada indikasi HIV. Kedua kalinya, bobot tubuhnya berkurang drastis dan tumbuh candida atau jamur di lidahnya.
“Saya kaget, itu ciri-ciri awal orang sudah terkena AIDS,” ujar Sisca.
Ia pun membuat surat rujukan ke RSBK dengan isi ‘pasien ada indikasi AIDS’. Surat itu dilem dan menyerahkan ke perawat dengan identitas ‘pasien dikasper segera’. Kasper adalah kata sandi pemeriksaan pasien HIV/AIDS oleh RSBK untuk melindungi identitas pasien dari pasien umum lainnya.
“Sehabis itu saya menangis, takut, cuci tangan, dan minta pada suami jangan dekat-dekat saya selama tiga bulan. Apalagi saat itu saya lagi hamil besar anak kedua,” ceritanya.
Sempat ia hampir meninggalkan konselor, namun hatinya meminta ia terus melayani mereka yang terkena HIV dan AIDS. “Sempat ada pertentangan batin, tapi ada kepuasan bisa membantu mereka,” ujarnya.
Tidak Ada Anggaran
Lalu seperti apa dukungan anggaran penanggulangan HIV/AIDS di Kota Batam? Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Batam, Udin P Sihaloho, yang ditanya hal ini langsung meminta maaf.
“Saya pribadi minta maaf. Ini menjadi kelemahan kami di DPRD Batam yang lalai dan tak pernah sosialisasi penanggulangan HIV sepanjang tahun ini akibat tak dianggarkan padahal fungsi penganggaran ada di kami,” ujarnya.
Pada 2016, pemerintah menganggarkan biaya penanggulangan penyakit menular seksual termasuk AIDS di Batam sebesar Rp 748.950.100. Sejak itu, tak ada lagi anggaran dengan alasan anggaran Pemko Batam defisit.
“Fokusnya Pemko saat ini pembangunan fisik. Secara lembaga kami dukung, tapi harusnya jangan mengesampingkan pembangunan akhlak manusia di kota ini,” ujarnya.
Meskipun tak ada anggaran khusus mengenai penanganan dan sosialisasi pencegahan HIV-AIDS tahun ini, Udin menilai harusnya Pemko Batam melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan tetap mengadakan edukasi lewat anggaran umum mereka.
Dinas Kesehatan (Diskens) Kota Batam, misalnya. Anggaran 2017 sebesar Rp154,3 miliar. Jumlah itu di luar anggaran RSUD sebesar Rp 98,877 miliar. “Harusnya bisa digunakan dari dana itu,” ujarnya.
Sedangkan 2018 mendatang, Dinkes memiliki anggaran sebesar Rp 133,1 miliar dan RSUD sebesar Rp 96,3 miliar. Sedangkan penanggulangan penyakit menular seksual (PMS) hanya Rp 280 juta. Jauh menurun dari 2016.
“Meskipun terjadi penurunan, mohon disisihkan dana dari situ untuk sosialisasi kesehatan khususnya pencegahan HIV-AIDS ini,” jelasnya.
Bukan hanya anggaran cekak untuk pencegahan HIV/AIDS di Batam, ternyata Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Wali Kota Batam tentang Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Batam juga belum ada. Padahal, regulasi di atasnya mewajibkan.
Saat ini hanya ada SK Nomor 187 tentang Pembentukan Tim Pengawas Pemeriksa Berkala dan Penggunaan Kondom. Kemudian SK Nomor 40 tentang Tim PMTS Paripurna. Lalu SK 89 tahun 2015 tentang Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Batam. (cha/nur/yuli)
batampos.co.id – Sekretaris Partai Demokrat Kepri, Husnizar Hood kesal dengan sikap yang ditunjukan Gubernur Kepri, Nurdin Basirun dalam menyikapi polemik Wakil Gubernur (Wagub) Kepri. Apalagi dengan tidak membalas surat ketiga yang dilayangkan DPRD Kepri. Padahal tiga partai pengusung sudah menyatakan sikap politik dengan mengusulkan Mustafa Widjaja.
“Keputusan kita mendukung Mustafa sudah direkomendasikan oleh masing-masing DPP. Artinya bukan kreativitas kita didaerah. Usulan ini sudah disampaikan kepada Gubernur,” ujar Husnizar Hood saat menggelar konfrensi pers di Tanjungpinang, Minggu (3/12).
Wakil Ketua II DPRD Kepri tersebut menjelaskan, keputusan pengusulan nama Mustafa Widjaja tersebut bukanlah semerta-merta muncul begitu saja. Tentu sudah melalui mekanisme partai. Apalagi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sudah bersinergi dengan mendukung Mustafa sebagai pengganti Agus Wibowo.
“Sesuai mekanisme partai, keputusan ini sudah kita sampaikan kepada Gubernur. Tapi heran, Gubernur justeru yang tidak menyampaikan kepada DPRD Kepri. Untuk masalah, biarkanlah masyarakat yang menilai,” papar Husnizar.
Legislator Dapil Tanjungpinang itu menyanpaikan, apabila terdapat kesalahan dalam proses pengusulan tersebut sehingga Gubernur enggan mengusulkan kembali nama Mustafa Widjaja sesuai degan dukungan dari tiga partai, Husnizar atas nama Demokrat menyampaikan permintaan maafnya.
“Saya meminta maaf kepada beliau (Gubernur, red) mungkin terdapat kesalahan. Mari selesaikan masalah ini dengan cara melayu. Mungkin kemampuan politik kami hanya sebatas itu,” jelas Husnizar.
Mantan Wakil Rakyat DPRD Tanjungpinang tersebut menegaskan, Pak Gubernur adalah figur yang sudah menyandang gelar doktor komunikasi. Tentu lebih paham dalam membangun komunikasi politik. Sehingga apabila juga tidak ada sikap Gubernur, pihaknya akan menghormati dengan keputusan yang akan dibuat oleh DPRD Kepri dalam proses Cawagub Kepri ini.
“Kami tetap legowo, jika memang nantinya DPRD tetap memproses satu nama Cawagub,” tutup Husnizar.
Terpisah, Ketua Panitia Pemilihan (Panlih) Wagub Kepri, Hotman Hutapea mengatakan untuk tahapan selanjutnya, pihaknya masih menunggu instruksi Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Kepri. Apakah masih konsultasi ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) atau mengambil sikap, atau menunggu klarifikasi dari Gubernur Kepri, Nurdin Basirun.
“Kalau sudah ada intruksi lanjut, kita sebagai Panlih akan mempersiapkan perangkat untuk memproses pemilihan,” ujar Hotman.(jpg)
batampos.co.id – Warga Pulau Pucung Desa Malang Rapat Kecamatan Gunung Kijang dikagetkan penemuan mayat di tepian pantai Trikora pada Sabtu (2/12) sekitar pukul 06.00 pagi. Mulanya warga mengira jasad manusia yang belum diketahui identitasnya tersebut adalah sebongkah batang kayu yang mengapung di laut.
Kapolsek Gunung Kijang AKP Dunot P Gurning membenarkan telah ditemukan mayat di tepian pantai Trikora Desa Malang Rapat Kecamatan Gunung Kijang. Mayat itu pertama kali ditemukan nelayan yang kebetulan melintas di tepian pantai. Penemuan mayat itu, akhirnya diberitahukan ke sesama nelayan.
“Mereka lalu beramai-ramai ke lokasi penemuan mayat dan menghubungi pihak kepolsiian,” kata kapolsek.
Setiba di lokasi, ia mengatakan, mayat yang ditemukan masih menggunakan kaos singlet hitam, celana dalam, dan dalam posisi telungkup. “Jasadnya sudah dibawa ke RSUD Kepri Batu 8 Tanjungpinang untuk dilakukan visum,” katanya.
Ia menduga mayat ini adalah nelayan yang sudah lebih dari tiga hari meninggal. Ia mengimbau bagi masyarakat yang mengetahui identitas mayat atau ada sanak keluarganya yang sudah lebih tiga hari menghilang sebaiknya melaporkan ke kantor polisi. (cr21)
batampos.co.id – Di New Delhi, India, seorang dokter di rumah sakit swasta menyatakan bayi telah meninggal. Namun dimakamkan, bayi tersebut bergerak dan hidup lagi.
Hal itu membuat orang tua bayi marah dan menyesalkan kualitas pelayanan di RS Max yang dikelola secara pribadi itu. Apalagi selama ini rumah sakit itu dikenal dengan bertarif mahal.
Kejadian itu bermula dari seorang dokter yang tidak disebutkannya namanya itu mengumumkan sepasang bayi kembar meninggal. Satu bayi sudah dipastikan menutup mata. Lantas beberapa jam kemudian, kembarannya yang tidak diketahui jenis kelaminnya tersebut juga bernasib serupa.
Namun beberapa jam kemudian orang tua bayi itu melihat salah satu bayi menggeliat di dalam kantong plastik tempat dokter menempatkan bayi. Insiden tersebut telah memicu kemarahan dan perdebatan mengenai kualitas layanan kesehatan swasta yang sering kali mahal harganya.
Kepala Menteri Delhi Arvind Kejriwal men-tweet bahwa dia telah memerintahkan penyelidikan atas masalah tersebut. Menteri kesehatan negara itu juga menggambarkan kejadian tersebut sebagai kelalaian yang sudah pada taraf kriminal.
Sementara itu, menurut kakek si kembar, keluarganya langsung datang ke rumah sakit pada saat mereka diberitahu bahwa bayi mereka masih hidup. Dalam sebuah pernyataan kepada wartawan, RS Max mengatakan bahwa mereka kaget dan khawatir atas insiden tersebut.
Kini dokter yang menangani bayi kembar itu telah diminta untuk cuti, sambil menunggu penyelidikan. Di pihak lain, polisi Delhi telah mulai menyelidiki kasus tersebut dan telah berkonsultasi dengan ahli hukum.
Kejadian ini menambah rentetan kelalaian rumah sakit di India. Sebulan lalu, di RS lainnya seorang gadis meninggal karena demam berdarah. Sebelum dinyatakan meninggal, si korban sempat ditagih dengan nilai mahal oleh pihak RS untuk perawatan. Akan tetapi keluarganya tidak memiliki biaya, akhirnya gadis itu meninggal sebelum ditangani.
KAMISAH bersama anaknya dan saudaranya mengawali berburu belanja di Family Shopping (Famshop) dengan sangat meyakinkan. Baru dua menit berjalan, barang belanjaan di trolinya sudah penuh. Ia bergegas mencari stiker bonus yang tertempel di salah satu produk tisu kering. Seperi apa keseruannya, berikut ulasannya.
Kamisah mengajak anaknya, Fiona dan saudaranya, Ani serta keponakannya, Ethan Lee di JC Supermarket BCS Mall, Lubukbaja, Sabtu (2/12) sore. Sebelum dimulai, Kamisah diarahkan panitia Family Shopping (famshop), Cindy, mengenai tata cara ikut program famshop yang digelar Batam Pos bekerjasama dengan BPR Sejahtera Batam (SB) tiap seminggu sekali ini.
Peserta disarankan agar tak mengambil barang belanjaan di atas harga Rp 20 ribu. Peserta hanya diperbolehkan mengambil satu item barang pada produk yang sama. Panitia juga menjelaskan soal bonus Rp 250 ribu yang tersimpang di antara produk tertentu.
“Fokus cari barang belanjaan sesuai petunjuk yang kami jelaskan, jangan melebihi harga yang kami tentukan, sembari mencari stiker bonus yang tertempel di salah satu produk. Bila waktu masih tersisa, lanjutkan berbelanja. Bila bonus didapat, total modal belanjanya Rp 750 ribu,” ujar Cindy menjelaskan ke peserta famshop.
Kamisah diperbolehkan mensurvei terlebih dahulu tempat belanjaan di setiap sudut lorong rak barang di JC Supermarket BCS Mall.
Usai mensurvei, peserta yang tinggal di Perumahan Taman Nagoya Indah ini kembali ke garis start yang ditentukan panitia famshop. Waktu yang diberikan peserta famshop untuk berbelanja, hanya tujuh menit. Begitu semua siap, panitia famshop memberi aba-aba dimulainya famshop dengan membunyikan sirine toa.
Kamisah dibantu anaknya, Fiona yang bertugas mencari barang belanjaan. Sedangkan saudaranya, Ani pilih mendorong troli.
Lorong pertama yang dimasuki Kamisah adalah lorong yang menyediakan aneka jenis produk shampo.
Kamisah kembali berlari menuju lorong yang menyediakan aneka produk sabun mandi. Peserta memilih salah satu produk sabun mandi dan memasukkannya ke lori belanjaan.
Berikutnya Kamisah menuju lorong yang menyediakan aneka produk cairan pembersih mulut. Kamisah kembali mengambil salah satu produk cairan pembersih mulut (mouthwash) dan memasukkannya ke troli belanjaan.
Kali ini Kamisah dan Fiona kembali memasuki lorong yang menyediakan aneka jenis produk pewangi tubuh. Kamisah mengambil satu produk pewangi tubuh dan memasukkan ke dalam troli belanjaan.
Peserta kali ini langkahnya sangat cepat dalam berburu belanjaan. Baru dua menit waktu berjalan, trolinya sudah penuh dengan barang belanjaan. Mengetahui belanjanya sudah tampak banyak, Kamisah, Fiona dan Ani bergegas menuju lorong yang menyediakan tisu kering yang tertempel stiker bonus famshop.
Kamisah dan Fiona sibuk membongkar-bongkar tisu kering mencari stiker bonus. dibarisan ketiga tisu kering, stiker bonus didapatkan Kamisah.
Berikutnya Kamisah memasuki lorong yang menyediakan aneka produk kecap manis. Satu produk diambilnya, Kamisah dan Fiona kembali berjalan memasuki lorong berikutnya yakni lorong aneka sabun deterjen pencuci pakaian.
Waktu sudah berjalan enam menit, masih tersisa satu menit lagi. Panitia famshop mengingatkan agar peserta bahwa waktu sudah hampir habis dalam berburu barang belanjaan.
“Ayo semangat lagi, bonus sudah didapat, tinggal mencari barang yang diinginkan lagi,” ujar panitia famshop.
Kamisah dan Fiona mulaimemperlambat langkahnya, karena stiker bonus sudah didapatnya. Begitu juga barang belanjaannya sudah banyak diambilnya.
“Stop, waktu berburu belanjaan sudah habis. Silakan troli langsung didorong menuju kasir di depan,” ujar panitia famshop, Cindy mengarahkan peserta untuk menghentikan perburuan belanjaannya.
Troli belanjaan didorong ke lorong kasir. Saat pengecekan dan menghitung jumlah harga barang oleh panitia dibantu kasir, tak satupun produk yang dilarang diambil, masuk dalam troli belanjaan Suharman.
Setelah semua barang belanjaan dihitung, total barang yang diambil oleh Kamisah mencapai Rp 1.172.650 . Kelebihan Rp 422.650 dibayar oleh peserta sendiri.
“Padahal dari rumah sudah saya diskusikan ke anak dan saudara, agar berburu belanjaannya jangan banyak-banyak kelebihannya. Eeeh..tak taunya lebihnya kebanyakan, sampai Rp 400 ribu lebih. Ya tak apa juga sih, karena terlalu semangat belanja kali yah, mumpung gratis ada yang bayarin,” ujar Kamisah.
Pada penutupan acara famshop, panitia menggelar kuis berhadiah ke pengunjung JC Supermarket BCS Mall. Pertanyaan yang dilontarkan seputar produk Batam Pos atau BPR Sejahtera Batam
Pengunjung yang beruntung kali ini Sutami, warga Citra Batam sebagai pemenang kuis dari BPR Sejahtera Batam. Sedangkan pemenang kuis Batam Pos adalah Sophian, warga Perumahan Beverly Extension Blok L3 Nomor 18 Batamkota. ***
Kembali Bagikan Hadiah Ratusan Juta Rupiah ke Nasabah
HUT ke-12 BPR Sejahtera Batam
Bertepatan dengan HUT BPR Sejahtera Batam (SB) yang ke 12 periode tanggal 17 Juni 2017, BPR SB kembali membagikan hadiah SB Superboom periode 2016-2017 kepada nasabah pemenang. BPR SB juga kembali hadir dengan meluncurkan program SB Superboom.
Berbagai ekstra kejutan telah menanti warga Batam yang memilih bergabung menjadi nasabah BPR SB. Nasabah memiliki peluang berkali-kali untuk memenangkan berbagai hadiah undian yang menarik, dengan cara yang mudah yakni dengan menabung, kredit maupun membayar cicilan kredit tepat waktu.
Hadiah dari program SB Superboom kali ini terdiri dari grand prize berupa satu unit mobil Daihatsu Xenia. Selain itu terdapat hadiah lainnya seperti sepeda motor matic, sepeda gunung, Tv, AC, kulkas, mesin cuci, koper, dan ratusan juga voucher belanja yang total hadiahnya mencapai Rp 500 juta.
Selain memberikan beragam hadiah, BPR SB juga menawarkan promosi suku bunga kredit yang menarik. Bagi nasabah yang ingin membeli rumah, membutuhkan dana untuk modal usaha maupun konsumtif, dapat mengajukan pinjaman ke BPR SB melalui promosi bunga KPR Fix Duo dan Kredit Serba Guna mulai 6,88 persen per tahun.
Tunggu apa lagi, ayo buruan ke BPR Sejahtera Batam, karena promosi ini jangka waktunya terbatas. Menabung dengan cara ringan dan mudah, dapatkan hadiahnya suka-suka, dan suku bunga menarik, dan dapatkan info selengkapnya.
Kunjungi segera kantor operasional BPR SB di berbagai wilayah di Batam seperti di Komplek Tanjungpantun Blok A Nomor 13-14 Jodoh, Komplek Pertokoan Aviari Pratama Blok A4 Nomor 8 Batuaji, Komplek Citra Mas Blok A Nomor 4 Penuin, Komplek Pertokoan Botania Garden Blok A1 Nomor 2 Batamkota, dan di Komplek Pertokoan Mitra Raya Blok A Nomor 1 Batamkota. (gas)