
batampos.co.id – Pemerintah kota Batam tengah berupaya keras untuk mengatasi persoalan banjir di wilayah Batuaji dan Sagulung dengan mengerahkan sejumlah pekerja dan alat berat untuk mengeruk saluran drainase yang tersumbat. Upaya normalisasi tersebut sudah berjalan sebulan belakangan ini dan beberapa titik saluran drainase yang tersumbat di lokasi rawan banjir sudah dibersihkan.
Namun demikian upaya normalisasi drainase tersebut belum sepenuhnya rampung. Sebab beberapa lokasi drainase yang dibersihkan terhalang dengan bangunan liar yang menutupi dan mempersempit saluran drainase.
Camat Sagulung Reza Khadafi menyebutkan di sepanjang jalan R Suprapto Batuaji dari arah Mukakuning sedikitnya ada tiga titik drainase yang terhalang dengan bangunan lain yang menutupi drainase yakni depan simpang SMKN I Batam, jalan masuk kawasan Sentosa Perdana (SP) Plaza, Mall dan di pinggir jalan depan gedung Telkom Batuaji.
Drainase depan simpang SMKN I Batam meskipun belum ditutup, namun bangunan jembatan yang sedang dikerjakan mempersempit lebar drainase dari enam meter jadi empat meter. Pihak kecamatan Sagulung sudah menghentikan proyek pembangunan jembatan itu dan memintah agar pihak proyek segera membongkar dan mengembalikan ukuran drainase seperti semula. “Itu harus dibongkar dan dikembalikan seperti semula. Tak ada aturan yang membenarkan mempersempit drainase,” ujar Reza.
Begitu juga drainase yang tertutup coran jalan masuk kawasan SP Plaza mall, pihak kecematan sudah memberikan surat peringatan kedua agar segera membongkar jalan masuk tersebut dan mengembalikan lebar drainase seperti semula.
Sementara bangunan liar depan kantor Telkom atau persisnya sebrang pasar Melayu, Batuaji sampai saat ini masih berdiri tegak dengan berbagai macam bangunan untuk kepentingan usaha. Bangunan liar itu menutup dan mempersempit saluran drainase. Pihak kecamatan Sagulung sudah menyurati Satuan Polisi Pamong Praja agar segera ditertibkan, namun sampai saat ini belum ada tindakan apapun.
Imbasnya kata Camat Batuaji Fridkalter, upaya normalisasi drainase depan pasar Melayu jadi sia-sia. Sebab alur air dari drainase yang dibersihkan itu tidak bisa mengalir ke arah hilir sungai yang berada di wilayah kecamatan Sagulung sebab tersumbat di lokasi bangunan liar depan pasar melayu itu. “Sama juga yang di MKGR, sudah kami bersihkan tapi itu tadi, karena tersumbat depan SP air tak bisa mengalir juga sekalipun sudah dibersihkan,” ujar Fridkalter, kemarin.
Padahal saat ini Pemko Batam melalui Dinas Bina Marga dan pihak kecamatan sedang gencar membersihkan drainase yang tersumbat untuk mengatasi banjir. Untuk itu kepada warga ataupun pengusaha yang mendirikan bangunan diatas saluran drainase, Fridkalter ataupun Reza sama-sama menghimbau agar segera bongkar demi kepentingan bersama warga di Batuaji dan Sagulung. “Karena percuma kalai bersihkan yang di Batuaji sementara yang di Sagulung tersumbat. Airkan ngalirnya kesana juga,” ujar Fridkalter lagi. (eja)







Terdakwa dalam perkaranya merekrut 10 TKI asal Sumatera Utara secara ilegal, untuk dipekerjakan di Malaysia sebagai pencuci mobil milik Lan (DPO). Bersama Arifin dan Nofa Susanti (DPO), terdakwa mengiming-imingi para korban dengan upah yang akan diterima RM 1.000 (sekira Rp 3 juta) per bulannya.