Minggu, 19 April 2026
Beranda blog Halaman 13781

Belum Dioperasikan Gedung Guru Sudah Rusak Parah

0
Seorang warga sedang melihat Gedung Guru Raja Ahmad Engku Haji Tua yang sudah rusak parah di Kelurahan Senggarang, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Rabu (25/1).F. Harry/batampos.

batampos.co.id – Gedung Guru Raja Ahmad Engku Haji Tua yang dibangun melalui APBD Provinsi Kepri sebesar Rp 11 miliar lebih di Kelurahan Senggarang, Kecamatan Tanjungpinang Kota sudah rusak parah sebelum dioperasikan. Mirisnya kondisi gedung megah berlantai tiga itu membuat PGRI Kepri enggan menempati, walaupun serahterima aset tersebut telah dilakukan Dinas Pendidikan (Disdik) Kepri sejak Mei 2015 lalu.

Ketua PGRI Kepri, Huzaifa Dadang Abdul Gani mengatakan PGRI Kepri belum bisa mengoperasikan Gedung Guru Raja Ahmad Engku Haji Tua sejak diserahterimakan oleh Pemprov Kepri. Sebab aset yang bernilai miliaran rupiah itu telah diberikan oleh Disdik Kepri dalam kondisi belum layak ditempati.

“Memang waktu penyerahan aset itu saya belum menjabat. Jadi sayapun tak mengerti juga kenapa fasilitas yang belum siap 100 persen itu mau diterima PGRI Kepri. Alhasil sampai sekarangpun belum bisa ditempati karena masih banyak fasilitas yang kurang,” ujarnya ketika dikonfirmasi, Rabu (25/1).

Sebenarnya, Kata dia, penyerahaan aset tersebut harus dilakukan Disdik Kepri jika sudah rampung total baik dari sisi luar maupun dalamnya. Kemudian juga harus tetap mengalokasikan anggaran untuk perawatannya. Dengan begitu PGRI Kepri bisa memanfaatkan aset daerah itu semaksimal mungkin untuk pertemuan, pelatihan, dan kegiatan lainnya.

Apabila Disdik Kepri lepas tangan dengan aset tersebut, lanjutnya, gedung tersebut tidak akan bisa ditempati apalagi kondisinya semakin miris seperti ini. Sebab PGRI Kepri tidak memiliki dana untuk merehabilitas bagian-bagian bangunan yang sudah rusak parah maupun pengadaan berbagai fasilitas penunjangnya.

“Bagaimana bisa difungsikan kalau belum didukung fasilitas yang memadai. Kami tak ada anggaran juga untuk perbaiki dan pengadaan barang. Karena anggaran kami itu terkumpul dari iuran juga,” beber pria yang juga menjabat sebagai Kepala Disdik Tanjungpinang ini.

Agar PGRI dari tujuh kabupaten/kota se Kepri bisa menempati gedung megah tersebut. Dirinya sudah melaporkan permasalahan ini kepada Gubernur Kepri, Nurdin Basirun. Bahkan Disdik Kepri langsung diperintahkan untuk menindaklanjutinya. Kemudian juga dirinya telah mengusulkan penganggarannya ke Pemprov Kepri dengan besaran Rp 13 miliar.

Jika 2017 ini Pemprov Kepri kembali menganggarkan dana perawatannya. Dirinya berjanji akan mengoperasikan gedung tersebut secepat mungkin. Sebab gedung yang memiliki aula berkapasitas besar dan kamar berfasilitas seperti hotel itu mampu menampung seluruh guru yang ada di Kepri.

“Kami harapkan tahun ini dianggarkan. Jadi gedung itupun bisa dioperasikan. Kalau bagus, guru-guru yang ada di seluruh Kepri bisa gelar acara apapun di gedung itu,” ungkapnya. (ary)

Ikan Mahal, Warga Memilih Beli Daging

0
ilustrasi

batampos.co.id – Cuaca ekstrim beberapa hari terakhir diwilayah perairan Natuna menyebabkan ketersediaan ikan di pasar tradisional Ranai menipis. Harganya pun naik dari biasa.

Harga ikan jenis tongkol di pasar ikan tradisional Ranai, biasanya Rp 15 ribu per ekor, kini Rp 30 ribu per ekor. Belum lagi kondisinya sudah tidak segar, karena kelamaan dibekukan.

Suharmin,34 warga Ranai mengaku, di musin cuaca ekstrim saat ini ia lebih memilih membeli daging, dibanding harus membeli ikan. Selain harganya mahal, kondisinya ikan sudah tidak segar.

“Sekarang makin mahal, belum lagi ikannya kelamaan di es. Sudah tidak segar lagi. Karena bukan ikan berasa dari wilayah Ranai, tapi wilàyah pulau-pulau. Untuk aman ya beli daging, harganya juga stabil,” ujar Suharmin, Rabu (25/1).

Cuaca buruk sejak beberapa hari terkahir, menyebabkan nelayan tradisional di Ranai tidak melaut. Tidak terdapatnya tempat pelelangan ikan, menyebebkan harga ikan tidak terkontrol.

Hingga saat ini BMKG Ranai masih menyatakan laut Natuna dan wilayah laut cina selatan kondisi ekstrim dan tidak dibenarkan untuk aktifitas neleyan tradisional.

Perakirawan BMKG Ranai Demetrius Kristian menyatakan, peringatan gelombang tinggi masih berlaku hingga saat ini. Bahkan tinggi gelombang maksimum berpeluang terjadi di laut cina selatan antara 4 meter hingg 6 meter.

Sementara gelombang maksimum di perairan Natuna dan Anambas antara 2,5 meter hingga 4 meter dan berpeluang terjadi di bagian Utara Pulau Serasan dan laut Natuna bagian Utara. Namun gelombang maksimum dibagian Selatan laut Natuna berkisar antara 1,5 meter hingga 2,5 meter.

“Peringatan gelombang tinggi saat ini diharapkan bisa menjadi pedoman masyarakat nelayan dan pelayaran. Karena di laut cina selatan gelombang bisa mencapai 6 meter,”sebutnya.(arn)

Kembangkan Kreativitas Siswa dengan Pameran Daur Ulang

0

batampos.co.id – Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Toapaya menggelar pameran daur ulang aneka barang bekas yang disulap menjadi kerajinan tangan yang unik dan menarik bersama sekolah binaan Adiwiyata, di Aula SMAN 1 Toapaya, Rabu (25/1).

Diantaranya, Sekolah Dasar (SD) Negeri 002 Toapaya, SDN 003 Toapaya, SDN 004 Toapaya, SDN 005 satu atap Gunung Kijang, SMPN 27 Bintan satu atap Gunung Kijang, SDN 008 satu atap pulau pucung, SMPN 20 satu atap Pulau Pucung, dan SDN 001 Toapaya.

Seluruh kerajinan tangan yang dipamerkan ini memiliki bentuk yang unik dan cantik, seperti tas dari pipet, bunga dari kulit jagung, sendal dari koran, tatakan priok dari lidi, toples dari koran, miniatur perahu dari kelapa, miniatur rumah dari stik dan lainnya.

Kepala Sekolah SMAN 1 Toapaya, Syafridas, mengatakan pameran ini merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan kreativitas siswa dalam membuat keterampilan dengan memanfaatkan barang bekas menjadi sesuatu yang bernilai seni tinggi dan bisa dipakai dikehidupan sehari-hari.

“Manfaat daur ulang ini bisa memberikan banyak keuntungan. Selain pola berpikir siswa lebih kreatif, tentunya juga akan mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat dan bersih,” terangnya.

Syafridas menuturkan sebelumnya sekolah ini sudah pernah mendapatkan penghargaan prestasi nasional Adiwiyata, dan dengan adanya pameran ini, pihaknya juga akan kembali mengikuti jenjang untuk meraih penghargaan yang lebih tinggi lagi, yakni penghargaan Adiwiyata Mandiri.

Guru Pembina Palang Merah Remaja (PMR) dan Siswa Peduli Lingkungan (SPL) SMAN1 Toapaya, Eemi Rubiani mengatakan sekolah ini juga sudah menciptakan ide baru untuk mewujudkan sekolah yang bersih dan sehat, yakni Green Water Hexagonal Alkali adalah air minum yang akan dikonsumsi seluruh siswa 5 Februari mendatang.

“Ini ide baru yang timbul karena melihat kondisi jajanan diluar semakin tidak sehat, dan higienis untuk dikonsumsi, seperti minuman gelas yang dijual bebas,” jelasnya.

Dia menuturkan minuman alkali ini juga sudah dites melalui laboratorium, sehingga tingkat keamanan untuk dikonsumsi sehari-hari dipastikan aman.

“Air ini pun sudah memiliki sertifikat dari Dinas Kesehatan, dan sehat untuk diminum setiap hari, ” terangnya.

Eemi berharap dengan adanya minuman alkali ini diharapkan kesehatan anak bisa terjaga setiap hari, sehingga anak pun bisa berpikir kreatif untuk menciptakan suatu karya yang bisa dibanggakan oleh semua orang.

“Kesehatan merupakan hal penting yang harus diutamakan. Kalau anak tidak sehat gimana dia bisa mengembangkan kreativitasnya untuk belajar,” tutupnya. (cr20)

Pemko Batam Protes Tarif Baru UWTO di Rempang – Galang

0

batampos.co.id – Penerbitan Peraturan Kepala (Perka) Badan Pengusahaan (BP) Batam Nomor 1 Tahun 2017 tentang Tarif Sewa Lahan menyisakan persoalan baru. Penyebabnya, BP Batam memasukkan kawasan Rempang dan Galang dalam daftar tarif yang dirilis pada Senin (23/1) lalu itu.

Keputusan BP Batam ini langsung menuai protes dari Pemerintah Kota (Pemko) Batam. Asisten Bidang Pemko Batam, Syuzairi, mengatakan keputusan BP Batam ini berpotensi memunculkan ketegangan baru dengan Pemko Batam. Sebab menurut dia, wilayah Rempang dan Galang (Relang) masih berstatus quo.

“Jangan pernyataan BP Batam justru memunculkan permasalahan baru,” kata Syzairi, Rabu (25/1).

Karena masih status quo, kata Syuzairi, lahan yang ada di wilayah Relang belum memiliki Hak Pengelolaan Lahan (HPL).

“Kalau HPL-nya belum ada, bagaimana bisa ada tarifnya,” kata Syuzairi.

Dengan diterbitkannya tarif sewa lahan tersebut, secara otomatis BP Batam melegitimasi bahwa lahan di Relang sudah bisa dialokasikan kepada masyarakat dan pengusaha. Padahal, alokasi itu nantinya bisa dipersoalkan di kemudian hari.

Menurut Syuzairi, hal ini akan menimbulkan polemik baru di masyarakat. Sebab dia yakin, pemerintah pusat belum mencabut status quo untuk lahan di Relang.

Syuzairi mengaku sudah beberapa kali berkoordinasi dan menggelar rapat dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pusat terkait wilayah Relang. Hasilnya, pemerintah masih menyematkan status quo untuk seluruh lahan di wilayah itu. Artinya, lahan di Relang tidak bisa dialokasikan atau diperjual-belikan.

“Jadi ini pembohongan publik,” tegas Syuzairi.

Syuzairi mengingatkan, seharusnya BP Batam baru mengeluarkan tarif sewa lahan atau tarif uang wajib tahunan otorita (UWTO) untuk Relang jika status lahannya sudah jelas. Karena jika nanti ada pengusaha atau masyarakat yang mendapat alokasi lahan di sana, dia pastikan akan mendapat masalah.

“Saya tegaskan Relang itu masih status quo,” katanya lagi.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Perencanaan dan Penelitian Pengembangan Pembangunan Daerah Pemko Batam, Wan Darussalam. Dia memastikan BP Batam sampai saat ini belum menerima HPL dari pusat untuk wilayah Relang. Kata dia, status Relang ini juga masih dibahas di sejumlah kemeterian terkait.

“Pernah (dibahas) di Kemendagri, waktu itu di Ditjen PUM (Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum). Tapi sampai saat ini belum diputuskan HPL-nya,” kata Wan di Batamcenter, kemarin.

Menurut dia, status Relang masih disebut sebagai holding zone atau kawasan hutan yang ber-Dampak Penting dengan Cakupan Luas dan Bernilai Strategis (DPCLS). Karena itu HPL Relang belum ditentukan sebelum ada perubahan status kawasan tersebut.

“Pembahasannya setahun terakhir. Karena statusnya hutan maka pemberian HPL itu harus dengan persetujuan DPR,” jelas Wan lagi.

Dikatakannya, persoalan Relang sempat dibahas dalam rapat bersama Dewan Kawasan (DK) Batam di Jakarta yang anggotanya terdiri dari lintas kementerian dan lembaga. Namun pembahasaan saat itu masih sebatas pelimpahan aset dari BP ke Pemko Batam, tata ruang, tarif UWTO hingga pencabutan lahan tidur.

“Kalau soal Relang memang sudah masuk agenda untuk dibahas, tapi sampai sekarang belum. Apalagi tentang pengalihan kewenangan,” ungkap Wan.

Dengan begitu, Wan berpendapat BP Batam belum boleh mengalokasikan lahan di Relang meski BP Batam telah mencantumkan tarif sewa lahan di kawasan itu. Karena lahan di Relang masih menjadi kewenangan pusat.

“Belum lah, kalau mengacu hasil pertemuan di Kemendagri itu belum bisa (dialokasikan),” sebut Wan.

Seperti diketahui, dalam Perka Nomor 1 Tahun 2017 BP Batam memang memasukkan lahan di Rempang, Galang, Galang Baru, dan pulau-pulau di sekitar Rempang Galang dalam daftar tarif sewa lahan atau UWTO. Tarif sewa lahan di wilayah itu jauh lebih murah jika dibandingkan dengan tarif untuk wilayah mainland.

Sebagai perbandingan, tarif sewa lahan baru untuk apartemen di kawasan Nagoya dibanderol Rp 117.700 per meter persegi per 30 tahun. Sementara di Galang hanya Rp 52.500 per meter persegi per 30 tahun.

Demikian juga untuk peruntukan lainnya, seperti perumahan, industri, komersil, dan lainnya. Tarif di Relang dan pulau-pulau sekitarnya jauh lebih rendah.

Kepala BP Batam, Hatanto Reksodipoetro, mengatakan pihaknya hanya menjalankan amanah dari pemerintah pusat melalui Dewan Kawasan (DK) Batam. Menurut dia, cakupan wilayah tarif sewa lahan dalam Perka Nomor 1 Tahun 2017 sudah mendapat persetujuan pusat.

“Perka ini merupakan perintah langsung dari atasan di Jakarta. Dan kami hanya melakukan perintah dari DK,” kata Hatanto saat jumpa pers di Gedung Marketing BP Batam, Selasa (24/1).

Sementara Direktur Humas dan Promosi BP Batam, Purnomo Andiantono, mengatakan penetapan tarif UWTO untuk wilayah Relang mengacu pada UU Nomor 44 Tahun 2007 dan PP 46 Tahun 2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) Batam. Menurut dia, dalam UU dan PP tersebut kawasan Relang masuk wilayah FTZ Batam.

“Jadi Perka harus mengatur wilayah semua FTZ,” kata Andi, Rabu (25/1).

Meski begitu, lanjut Andi, tidak berarti BP Batam bisa langsung mengalokasikan lahan di wilayah Relang. Sebab pihaknya harus mensinkronkan dengan aturan lain, mulai dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kepri dan Batam, master plan pembangunan Batam, status lahan di Relang, dan aturan pusat lainnya.

Sejarang Panjang Relang

Jika merunut ke belakang, Rempang-Galang memang masuk wilayah kerja BP Batam. Hal ini tertuang dalam UU 44 Tahun 2007 dan PP 46 Tahun 2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) Batam.

Dengan terbitnya UU tersebut, nama Otorita Batam (OB) berubah menjadi BP Batam dengan masa kerja 70 tahun sejak PP 46/2007 diteken. Meski berubah nama, namun kekuasan BP Batam hilang terhadap pengelolaan lahan di Batam dan sekitarnya tak berkurang. Bahkan di PP 46 tersebut dipertegas kembali wilayah kerja BP Batam meliputi Pulau Batam, Tonton, Setokok, Rempang, Galang, dan Pulau Galang Baru (Batam dan yang terhubung dengan jembatan).

Meski begitu, BP Batam belum bisa mengelola dan mengalokasikan lahan di Rempang-Galang dan sekitarnya kepada investor karena terbentur aturan lain. Sebagian besar Rempang-Galang tercatat sebagai hutan buru (hutan konservasi) di Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Kemenhut belum pernah melepas status hutan tersebut.

Untuk bisa melepas Rempang-Galang ke investor, status hutan buru yang setingkat dengan hutan konservasi harus diturunkan statusnya terlebih dahulu hingga ke level hutan lindung yang bisa dialokasikan menjadi kawasan komersil. Kemudian, diturunkan lagi statusnya menjadi DPCLS atau daerah penting dalam cakupan luas bernilai strategis.

Namun, mengubah status hutan buru hingga ke level DPCLS, butuh proses panjang dan melibatkan beberapa kementerian. Termasuk harus ada hutan pengganti yang luasnya beberapa kali lipat dari luas Rempang-Galang. Sementara, tidak ada lagi hutan luas di wilayah Kepri, khususnya Rempang-Galang. Itulah sebabnya, Rempang-Galang berstatus quo hingga saat ini. (ian/she/nur/leo)

Mayat Tanpa Kepala Ditemukan Membusuk

0
Petugas Polsek Tanjunguban sedang mengevakuasi sesosok mayat yang ditemukan tanpa kepala, Rabu (25/1). Foto Istimewa

batampos.co.id– Sesosok mayat tanpa kepala ditemukan warga di Pantai Senggiling, Tanjunguban, Rabu (25/1). Mayat ini ditemukan sekitar pukul 06.00 WIB, dengan kondisi sudah membusuk.

Kapolsek Tanjunguban, Kompol Jaswir membenarkan hal tersebut. Dia menuturkan mayat ini ditemukan tanpa identitas dan sudah dalam kondisi membusuk, sehingga tidak bisa ditandai lagi.

“Kondisinya hancur, dan sudah tengkorak. Bagian kepalanya pun sudah tidak ada, dan dagingnya hanya tersisa sedikit,” ujarnya kepada Batam Pos, Rabu (25/1).

Dia menduga mayat yang ditemukan ini berasal dari laut yang terseret hingga ke bibir pantai, dan diperkirakan sudah lama meninggal.

“Kalau dilihat dari kondisi mayat ini kayaknya sudah 20 hari lebih mengapung dilaut,” katanya.

Jaswir menuturkan saat ini mayat tersebut sudah dibawa ke Rumah Sakit Umum Provinsi Kepri di Tanjungpinang untuk dilakukan autopsi.

“Kami belum mengetahui jenis kelamin mayat ini. Namun mayat tersebut sedang di autopsi oleh pihak medis RSUP Kepri. Kita akan tunggu hasilnya dulu, baru selanjutnya akan diselidiki lagi,” sebutnya.

Dia juga menghimbau bagi masyarakat yang merasa kehilangan sanak saudaranya agar segera menghubungi Polsek Tanjunguban, untuk memastikan apakah penemuan mayat tersebut merupakan salah satu dari keluarganya.

“Kami meminta bantuan juga ke masyarakat. Apabila ada yang keluarganya hilang, bisa kontak kita langsung, supaya identitas mayat ini bisa diketahui dengan cepat,” imbaunya. (cr20)

 

Duriangkang Dulu dan Sekarang (6)

0
Dua karyawan ATB melakukan pengecekan jaringan Intake di Waduk Duriangkang. DOK/ATB. DOK/ATB

Dampak alih fungsi lahan yang ada di sekitar Waduk Duriangkang dan “serangan” Elnino pada tahun 2015 silam, masih menjadi penyebab sulitnya kapasitas Duriangkang untuk kembali ke level aman.

Selain hal tersebut, curah hujan di sekitar wilayah Duriangkang juga menjadi penyebab “terduduknya” Waduk terbesar di Pulau Batam ini.

Saat ini, kondisi curah hujan di sekitar Duriangkang sudah masuk dalam kategori normal dengan jumlah rata-rata mencapai 171 mm per bulan. Namun demikian, belum cukup mengembalikan dampak Elnino.

Jika dilihat dari kapasitas, Waduk Duriangkang dalam posisi normal memiliki daya tampungan berkisar 78 juta m3, namun saat ini jumlahnya dikisaran 60 juta m3. Selain itu, Waduk Duriangkang memliki “tampungan mati” di angka 25 juta m3.

Tampungan mati adalah air yang tidak bisa diambil untuk diolah, dikarenakan posisinya berada di tengah-tengah dam, sehingga sangat sulit untuk dipompa ke Intake. Praktis volume tampungan yang bisa dipakai hanya 40 juta m3 saja.

Dengan kondisi tersebut, diasumsikan jika tidak ada hujan sama sekali, maka usia Waduk Duriangkang hanya bisa bertahan hingga pertengahan hingga akhir Februari 2017.

Kondisi ini mungkin saja terjadi, mengingat setiap awal tahun Batam memasuki masa masa kemarau hingga di bulan April. Apabila hal ini terjadi, maka tidak ada opsi lain bagi ATB selain kembali melakukan rationing atau melakukan penggiliran dengan tujuan mengurangi air yang diproduksi kepada pelanggan.

Program ini sengaja dilakukan guna memperpanjang ketersediaan air baku Waduk Duriangkang. Bahkan rationing sendiri  harus diperhitungkan lagi prosentasenya.

Kalaupun rationing dilakukan sebesar 25 persen, hanya akan memperpanjang ketahanan Duriangkang selama 2 minggu saja yaitu dari 11 Februari hingga 4 Maret 2017.

“Rationing ini, merupakan pilihan terakhir yang kita lakukan. ATB tidak ingin melakukan rationing, mengingat ini adalah pil pahit bagi semua pihak. Apabila rationing dilakukan, maka akan sangat menganggu aktivitas pelanggan di Batam.  Hal ini bisa dilihat saat ATB melakukan rationing di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Harapan pada 2015 silam,” jelas Enriqo.

Saat itu, ATB melakukan rationing dengan pola 1 hari mengalir, 2 hari off, 1 hari mengalir dan 3 hari off (1-2-1-3) dalam satu minggu.

Instalasi pengolahan air (IPA) Sei Harapan saat itu hanya melayani 8 persen dari total pelanggan ATB atau sekitar 15 ribu pelanggan saja. Sedangkan IPA Duriangkang melayani 70 persen atau 151.466 pelanggan di Batam.

Jadi bisa dibayangkan dampak yang akan terjadi jika rationing di Duriangkang terjadi.

“Saat rationing di Sei Harapan, kami masih mampu menyediakan 16 mobil tangki untuk warga di kawasan terdampak. Namun jika Duriangkang mengalami rationing, setidaknya dibutuhkan 160 lebih mobil tangki. Dan hal ini sangatlah tidak mungkin. Ditambah lagi jarak tempuh yang luas. Jadi sangat tidak mungkin mengharapkan water tanker apabila rationing dilakukan di IPA Duriangkang,”tegas Enriqo.

Kondisi level air di Intake Waduk Duriangkang pada bulan Desember 2016 DOK/ATB

ATB juga sudah berupaya meminimalisir dampak berkurangnya air baku dengan menekan kebocoran hingga 15 %, yang berarti total volume produksi juga sudah diturunkan.

“Lalu, bila Duriangkang tidak lagi handal, waduk mana lagi yang dapat menjadi tulang punggung Batam? Oleh karena itu, saya sangat berharap ini bisa menjadi perhatian serius bagi seluruh pihak,” harapnya.(*)

Obituari Rekaveny Soerya, Anggota DPRD Kota Batam

0
Mantan Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo bersama putra putri almarhum Rekaveny Soerya tak kuasa menahan tangis saat jenazah tiba di rumah duka di Perumahan Duta Mas Batamcenter, Rabu (25/1). Rekaveny merupakan anggota DPRD Batam istri dari mantan Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Kabar meninggalnya Rekaveny Soerya mengagetkan banyak orang. Sosok tegar itu mengembuskan napas terakhirnya di RS National University Singapura, Rabu (25/1), setelah dua bulan berjuang melawan serangan sel kanker.

Video berdurasi satu menit tiga detik itu tiba-tiba viral di media sosial beberapa jam setelah kabar wafatnya Rekaveny Soerya tersiar, Rabu (25/1) pagi. Istri mantan Wakil Gubernur Kepulauan Riau itu meninggal pukul 07.07 WIB waktu Singapura.

Dalam video itu, Rekaveny tengah bernyanyi diiringi Soerya Respationo -suaminya. Mereka berduet mendendangkan lagu You Are My Sunshine milik Jimmie Davis dan Charles Mitchell. Rekaveny yang menyanyi, Soerya yang memainkan musik dengan kotak musik klasik.

“You are my sunshine, my sunshine only. You make me happy when skies are grey,” dendang Rekaveny.

Soerya memutar alat itu perlahan-lahan. Nada-nada muncul satu demi satu dalam tempo yang lambat. Rekaveny ikut memperlambat tempo nyanyiannya.

Rekaveny hanya mengenakan piyama tidur, ketika itu. Ia duduk di atas tempat tidur. Kakinya tersimpan di bawah selimut. Sebuah topi rajut hitam membungkus kepala. Selang oksigen melintang di bawah hidung. Di samping tempat tidur, dua botol infus tergantung di tiang. Sebuah alat pemantau detak jantung berdiri tak jauh dari sana.

Wajah Sekretaris Komisi II DPRD Batam itu putih pucat. Ia tampak kurus. Namun, bibirnya terus menyunggingkan senyum. Tak jarang ia juga tertawa. Seperti malu-malu, ia memandang Soerya yang duduk di sampingnya.

Soerya rapi dalam balutan setelan kemeja biru tua dan celana jins hitam. Kacamata hitam andalannya tergantung di kerah baju. Ia tertunduk memandang kotak kecil yang ia putar.

You never know, dear, how much I love you. Please don’t take my sunshine away,” dendangnya lagi.

Ya, video tersebut diambil ketika Rekaveny masih dirawat di rumah sakit di Singapura.

“Sekitar sebulan lalu,” kata Ketua DPRD Kepri, Jumaga Nadeak.

Jumaga tengah melayat di rumah duka di Perumahan Taman Duta Mas A17 Nomor 4, Rabu pagi itu. Soerya tak ada di rumah. Ia masih berada di Singapura, menunggui istrinya.

Rekaveny meninggal karena sel kanker menggerogoti tubuhnya. Ini metastesis kanker serviks yang pernah ia derita 2011 lalu. Dari awalnya hanya terdeteksi tumbuh di otot dada, Oktober 2016 lalu, sel ganas itu ternyata telah menyebar hingga ke paru-paru dan getah bening.

Dua bulan lamanya, ia bolak-balik Batam-Singapura untuk berobat. Ia berhenti datang ke ruangannya di Komisi II DPRD Batam. Ia bekerja di rumah ataupun di rumah sakit. Ia berkomunikasi dengan anggota Komisi II lainnya melalui obrolan Whatsapp.

Ketua Komisi II DPRD Batam Yudi Kurnain mencatat, Rekaveny rutin berobat ke Singapura setiap hari Rabu. Ia menjalani kemoterapi di hari Kamis. Menginap sehari untuk memulihkan kondisi tubuh. Lalu pulang di hari Minggu.

Namun, tidak seperti biasanya, Rekaveny langsung pulang ke Batam usai terapi, Kamis (19/1) lalu. Keesokan harinya, Jumat (20/1), tubuhnya bereaksi. Keluarga membawanya ke RS Awal Bros.

Sore harinya, keluarga memindahkannya ke Singapura. Sesampainya di sana, Rekaveny langsung diharuskan menjalani rawat inap. Ia hanya ditemani anak-anaknya. Soerya Respationo masih tinggal di Batam. Karena ketika itu, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Asman Abnur dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian tengah berkunjung ke Batam.

Soerya baru datang ke Singapura, Senin (23/1). Ketika ia datang, dokter langsung meminta keluarga berkumpul. Di depan keluarga besar, dokter menyatakan angkat tangan terhadap penyakit Rekaveny.

Sel kankernya sudah menyebar ke bagian-bagian tubuh lainnya. Obat-obatan sudah tidak mampu mengobatinya. Hanya keajaiban Tuhan yang bisa menyembuhkannya. Dokter meminta Soerya membawa istrinya pulang ke Batam.

“Selasa (24/1), pagi-pagi sekali, saya datang ke sana (rumah sakit). Beliau masih sadar tapi (kondisinya) sangat lemah. Matanya terpejam dan napasnya seperti orang mendengkur tapi respon masih ada,” kisah Jumaga.

Soerya sedang sedih-sedihnya, kala itu. Ia memilih berada di luar ruang. Ia tak tega melihat kondisi istrinya seperti itu. Jumaga mengatakan, Soerya tak berhenti menangis.

“Saya bilang, ‘Masuklah. Bisikkanlah. Ucapkanlah.’ Tapi dia (Soerya) bilang, ‘Saya tak kuat, Bung!’,” kisah Jumaga lagi.

Pada akhirnya, Lurah Paguyuban Among Wargo Jowo (Punggowo) itu menguatkan diri memasuki ruangan istrinya. Ia menunggui istrinya.

“Sore harinya, pukul 15.00 WIB kami urus segala sesuatunya di sini. Ternyata, pagi hari kami dengar beliau sudah tidak ada,” ujar Jumaga lagi.

***

Rekaveny Soerya lahir di Jakarta, 7 Juli 1964. Darah Minang kental mengalir di tubuh puteri Fadli Gatam itu. Ia cucu dari Pahlawan Minang, Bagindo Aziz Chan. Ia pernah berziarah di makam kakeknya di Bukittinggi, tahun 2014 silam.

Istri Soerya Respationo ini meninggalkan empat anak dan tiga cucu. Yakni Vira Jiansa Respaty, Dwi Ajeng Sekar Respaty, Putra Yustisi Respaty, dan Bidadari Mahardhika Respaty. Tiga cucunya, yaitu, Adipati Luhung Sangkora, Auliandra Kinanti Arumdalu, dan Abyandra Satria Bimasena.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kepulauan Riau, Guntur Sakti, mengatakan selama sakit, Rekaveny dikelilingi, dirawat, diasuh, dan dijaga oleh keluarganya secara bergantian. Sehingga ia tidak pernah merasa kesepian.

“Ini yang luar biasa. Saya menduga, seluruh energi Pak Soerya dihabiskan untuk ibu,” ujarnya usai memandu prosesi pesemayaman Rekaveny di rumah duka di Perumahan Taman Duta Mas A17 Nomor 4.

Guntur Sakti ikut menyaksikan detik-detik berpulangnya Rekaveny di RS National University (NUH) Singapura. Ia berada di Singapura sejak Selasa (24/1) siang. Ketika itu, ia mendapat kabar dari anggota DPRD Kepulauan Riau Asmin Patros bahwa Soerya menginginkan kehadirannya.

“Pak Soerya bilang, ‘Kira-kira Guntur bisa ke Singapura tidak?’ Dia paham kalau saya kerja kan,” kata Guntur lagi.

Pria yang pernah menjabat Kepala Dinas Pariwisata Kepri itu mengaku datang atas rasa kemanusiaan. Sebab, ia sudah menganggap Soerya Respationo sebagai keluarganya sendiri. Ia dekat dengan seluruh anggota keluarga Soerya Respationo.

Dari Guntur juga informasi mengenai mendiang Rekaveny tersampaikan ke publik. Ia juga mengumumkan informasi kedatangan jenazah ke rumah duka. Ketika itu, info kedatangan jenazah memang sempat simpang siur.

Disampaikannya, prosesi pemulangan jenazah dari rumah sakit Singapura memang memakan waktu. Namun, jalannya proses itu rupanya lebih cepat dari yang mereka perkirakan. Awalnya, mereka memperkirakan, prosesi akan memakan waktu enam hingga tujuh jam. Rupanya, dapat berlangsung dalam waktu tiga hingga empat jam.

Sebelum dipulangkan, jenazah dimandikan, dikafani, dan disalatkan. Prosesi itu dipandu oleh Yayasan Muslim di Singapura. Pemandian jenazah dilakukan oleh pihak keluarga.

Pukul 14.00 waktu Singapura, jenazah dipulangkan menggunakan kapal melalui Pelabuhan Tanah Merah. Jenazah tiba di Pelabuhan Internasional Batam Centre pada pukul 14.00 WIB. Jenazah diantar menggunakan mobil ambulans. Soerya Respationo dan anak ketiganya, Putra Yustisi Respaty, ikut berada di dalam ambulans.

Jenazah tiba di rumah duka pada pukul 14.51 WIB. Jenazah sudah berada di dalam peti. Para pelayat berbaris membentuk pagar di sekeliling jalan. Pembawa peti melewati para pelayat dan mengantar jenazah ke tempat persemayaman sementaranya di ruang baca.

Di sana sudah disiapkan dipan kasur untuk mendiang Rekaveny. Di sekitar bagian atas kasur tersebut dipajang empat hingga lima potret diri Rekaveny semasa hidup. Para pelayat perempuan menyambut jenazah dengan lantunan salawat.

Soerya Respationo dan Putra Yustisi Respaty mengiringi mendiang di belakang. Mereka menyalami setiap pelayat yang hadir. Terkadang ia memeluk beberapa pelayat yang ia kenal baik.  Dari raut wajahnya, Soerya tampak sangat berduka. Ia melepas kacamata hitamnya. Kedua matanya sembab. Air mata masih tersisa di pipi.

“Tolong doakan (Ibu Rekaveny) ya,” katanya sambil menyalami setiap pelayat.

Sementara Putra Yustisi, putra ketiganya, tak melepaskan kacamata hitamnya. Ia terisak ketika seseorang menepuk pundak dan memintanya bersabar. Ia berjalan sambil menundukkan kepala.

Setelah keduanya sampai di ruang baca, jenazah dikeluarkan dari peti. Prosesi ini dilakukan oleh Soerya Respationo dan anak-menantunya. Mereka menidurkan mendiang di kasur yang telah disediakan.

“Sesuai permintaan Pak Soerya, pemakaman akan dilakukan besok (hari ini, Kamis (25/1), red) di Sasana Punggowo di Nongsa. Soalnya, masih ada kerabat yang ditunggu hingga sore ini,” tutur Guntur lagi.

***

Sebagian besar pelayat mengaku kaget mendengar kabar berpulangnya Rekaveny Soerya. Sebab, di mata mereka, Rekaveny tak pernah tampak sakit. Ia tampak sehat, lincah, dan ceria. Meskipun, memang, mereka sudah mendengar Rekaveny sakit dalam dua bulan terakhir.

“Ia selalu tersenyum seolah-olah tidak sedang sakit,” kata Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun, yang datang melayat kemarin.

Anggota Komisi II DPR RI Dwi Ria Latifa merasa sangat terpukul dengan berita kepulangan Rekaveny Soerya. Ia bahkan membatalkan rencana kunjungannya ke Solo, Rabu (25/1) pagi itu. Ia segera berburu tiket ke Batam, pagi itu juga. Ia tiba di Batam pada pukul 11.00 WIB dengan pesawat Sriwijaya.

“Saya diberi kabar oleh Romo (Soerya Respationo) melalui obrolan Whatsapp. Tak berapa lama, kerabatnya menelepon saya langsung dari Singapura,” ujarnya.

Kolega Soerya dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu berkisah baru saja menjenguk Rekaveny. Ia menyempatkan diri bertemu ketika ia pergi ke Singapura, Minggu (22/1) lalu. Ketika itu, kondisi Rekaveny sudah lemah. Namun, ia masih dapat berbicara dengan lancar.

Mereka bertukar kata. Dalam percakapan itu, Rekaveny berulang kali mengingatkan Ria untuk makan. Sebagai balasannya, Ria juga mengingatkan Rekaveny untuk meminum jus terapinya.

“Dia langsung minum jusnya. Ketika dokter meminta ia transfusi darah, dia oke,” ujarnya.

Ia mendeskripsikan sosok Rekaveny sebagai seseorang yang sangat perhatian. Selama dirawat di rumah sakit, Rekaveny tak pernah lupa mengingatkan kerabat, saudara, atau siapapun yang menjaganya untuk makan. Padahal, ia-lah yang seharusnya mendapatkan perhatian dari orang-orang disekitarnya.

Jumaga Nadeak juga sering mendapatkan pernyataan serupa dari Rekaveny. Tepatnya, setiap kali ia berkunjung ke rumah Soerya. “Dia pasti tanya, ‘Sudah makan belum?’ Baru kemudian tanya kabar anak dan istri,” kenang Jumaga.

Di mana ada Rekaveny di situlah ada makanan. Hal itu yang dirasakan oleh seluruh Anggota Komisi II DPRD Batam. Ketua Komisi II DPRD Batam Yudi Kurnain, mengatakan seluruh bagian Komisi II DPRD Batam merindukan sosok Rekaveny.

“Entah bawa sambal jengkol atau sambal pete. Lalu kami makan bersama-sama di ruangan,” ujarnya.

Yudi mengaku telah mendengar kondisi Rekaveny kritis sejak Selasa (24/1) malam. Ia segera saja berkoordinasi dengan anggota Komisi II lainnya, Mesrawati dan Sallom Simatupang. Niatnya, Rabu (25/1) pagi itu mereka menjenguk Rekaveny ke Singapura. Tapi kabar duka itu lebih cepat datang. Mereka membatalkan keberangkatan dan pergi bersama-sama ke rumah duka.

Di rumah duka, Mesrawati tampak menitikkan air mata. Begitu juga Yudi Kurnain yang keluar dari rumah duka dengan mata yang memerah dan berair. Ia mengelap air matanya sebelum berbincang dengan awak media.

“Terakhir kali bertemu dengan beliau itu sekitar awal Desember lalu. Kami belum sempat jenguk ke rumah sakit karena kata dokter, terbatas,” tuturnya.

Rekaveny memang tak pernah melupakan buah tangan setiap kali berkunjung ke satu tempat. Lenny Marlina, rekan Rekaveny, mengaku ada saja yang ia bawa. Entah itu bikinannya sendiri atau dapat dari orang lain. Rekaveny terkenal hobi memasak.

“Ke rumah saya saja dia bawa bahan bakwan yang belum dimasak itu. Katanya, ‘Biar enak, Mbak Lenny, kalau masaknya di sini,” ujar Istri Pengusaha Terek Adenan itu.

Satu hal yang mungkin jarang orang ketahui tentang Rekaveny adalah jiwa sosialnya. Ketika mendampingi Soerya sebagai Wakil Gubernur Kepri, Rekaveny menduduki jabatan sebagai Ketua Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Kepri. Ia dan anggotanya sering melakukan aksi sosial sebagai bentuk program kerja LKKS Kepri.

Namun, jauh di luar itu, Rekaveny rupanya sering diam-diam membantu orang. Ia memberi beasiswa ke anak-anak tak mampu, khususnya anak-anak yatim. Ia juga memberikan modal usaha pada sejumlah orang, ia juga pernah memberikan obat-obatan kepada orang-orang yang sedang sakit parah. Semua itu ia keluarkan dari kocek pribadinya.

“Kalau untuk yang seperti itu, dia tak pernah pakai protokol. Kadang-kadang juga dia nebeng di mobil saya” kisahnya lagi.

Tak sekalipun ia memperlihatkan rasa sakitnya di depan Lenny Marlina. Ia juga menolak mengakui dirinya sakit kanker. Bahkan di depan Soerya Respationo, Rekaveny tak ingin kelihatan lemah.

Kepada Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kepri, Guntur Sakti, mengatakan Soerya bangga dengan mental dan fisiknya. Rekaveny orang yang paling kuat mental dan fisiknya. Ia seakan tak pernah merasa sakit. Mentalnya di atas baja.

“Dengan sakit yang ia tanggung dalam beberapa kali ia sembuh. Mungkin mentalnya itu yang menyembuhkannya,” kata Guntur Sakti.

Mewakili keluarga, Guntur Sakti meminta masyarakat mendoakan almarhumah. Sekaligus memaafkan kesalahannya semasa hidup. Baik itu disengaja maupun tidak disengaja.

“Ia akan dikebumikan di perkebunan keluarga di dekat makam Sambau. Ini merupakan wasiat terakhir dari beliau (Rekaveny Soerya),” katanya. (WENNY C PRIHANDINA, Batam)

Pekerja Ilegal Indonesia di Malaysia Ada 1,25 Juta Orang

0
Kapolda Kepri Irjen Sam Budigusdian didampingi kabid Humas Polda Kepri Kombes Erlangga berbincang dengan para calon TKI yang diamankan oleh Dirkrimum Polda Kepri, Jumat (13/1). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Malaysia memang jadi surga pekerjaan untuk para buruh migran asal Indonesia. Jarak yang cukup dekat, kemudahan bebas visa, dan lapangan pekerjaan yang berlimpah jadi daya tarik utama. Sayangnya, tidak sedikit yang bekerja melalui jalur tidak resmi alias ilegal. Direktur Perlindungan WNI Lalu Muhammad Iqbal mengatakan bahwa berdasarkan laporan pemerinta Malaysia, jumlah pekerja ilegal Indonesia ada 1,25 juta pekerja.

”Itu sekitar 50 persennya jadi jumlah total 2,5 juta pekerja ilegal dari berbagai negara di Malaysia,” kata Iqbal kepada Jawa Pos kemarin (25/1).

Sekretaris Pertama Konsuler KBRI Kuala Lumpur Judha Nugraha mengatakan bahwa jumlah pekerja asal indonesia itu masuk lewat beberapa jalur. Jalur masuk yang sering digunakan adalah visa pelancong. Berbekal visa tersebut, mereka overstay dan bekerja di sana. Kendati mereka masuk melalui jalur legal, tapi mereka telah menyalahgunakan visa kunjungan mereka untuk bekerja.

”Bagi yang sudah di-black list, mereka akan menggunakan jalur ’tikus’. Jalur ilegal tanpa melewati imigrasi,” terangnya.

Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri menuturkan jalur keluar negeri perlu diperketat lagi. Dia menuturkan selama ini Imigrasi sudah berperan sangat bagus untuk menolak warga negara asing (WNA) yang ingin berkunjung ke Indonesia tapi tidak punya tujuan yang jelas. Dia berharap, hal serupa juga berlaku bagi orang Indonesia yang ingin bepergian ke luar negeri. ”Kalau ada orang yang pergi dengan maksud dan tujuan yang tidak jelas. Kita minta nantinya untuk ditolak,” ujar dia usai bertemu Wakil Presiden kemarin.

Selain itu, kerja sama Kemenaker dengan pihak kepolisian juga akan ditingkatkan. Hanif menyebutkan akan ada pertemuan dia dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam waktu dekat. ”Minggu ini saya ketemu dengan Kaporli,” jelas dia.

Dia menuturkan, selama ini para TKI ilegal itu tertarik dengan iming-iming upah tinggi di negeri orang. Mereka pun menempuh jalan ilegal. Padahal, untuk bisa menjadi TKI itu tidak terlalu sulit. ”Kadang banyak orang yang istilahnya tak punya informasi tetanng itu. Sosialisasi harus digencarkan pada publik,” tambah Hanif.

Direktur Eksekutif LSM Migrant Care Anis Hidayah menjelaskan bahwa modus yang digunakan untuk mengirim buruh migran ilegal ke Malaysia sangatlah umum dan banyak terjadi. Seperti penawaran pekerjaan, keberangkatan yang tidak perlu menunggu waktu lama, gaji tinggi, hingga proses yang cepat. ”Dan itu ditawarkan langsung oleh calo-calo yang berkeliaran di desa-desa basis buruh migran yang bekerja ke Malaysia. Seperti NTT dan NTB,” jelas Anis.

Anis mengatakan bahwa para calo itu tidak segan untuk mendatangi satu per satu rumah yang ada di desa itu demi mendapatkan calon korban. Selain modus yang dilakukan para calo itu, ada modus lain yang juga cukup sering terjadi. Yakni direct hiring oleh orang Malaysia. Menurut Anis, banyak juga orang Malaysia yang langsung datang ke rumah-rumah untuk mencari pekerja.

Ketika ditawari pekerjaan, para calon buruh migran itu sama sekali tidak tahu bahwa mereka akan bekerja secara ilegal. Mereka hanya tahu bahwa mereka akan segera bekerja di Malaysia dan bisa segera meningkatkan ekonomi keluarga dengan gaji besar yang konon akan mereka dapatkan di sana. ”Padahal, mayoritas yang menawarkan itu abal-abal,” ucap Anis.

Menurut Anis, setelah membayarkan sejumlah uang kepada calo, biasanya mulai dari Rp 3 juta, para calon buruh migran itu kemudian dikumpulkan untuk diberangkatkan Malaysia. Ada setidaknya empat jalur utama yang menjadi jalur keberangkatan mereka. Yakni lewat Batam kemudian masuk Johor. Ada juga yang lewat Nunukan kemudian masuk ke Sabah dan Serawak. Ada juga yang lewat Tanjung Pinang kemudian masuk Johor. Dan yang tidak kalah popular juga lewat Batam ke Singapura kemudian ke Johor.

Terkait dengan peristiwa kapal karam di perairan Johor yang mengangkut buruh migran, Judha menuturkan bahwa sepanjang 2016, kecelakaan serupa minim terjadi di kawasan Selangor (sekitar Kuala Langat) dan Perak (sekitar hutan Melintang) yang menjadi wilayah kerja KBRI Kuala Lumpur. Penurunan, disebut Judha, mungkin terjadi karena patrol ketat dari pihak aparat Malaysia.

”Namun, terjadi peningkatan di wilayan kerja KJRI Johor Bahru,” katanya.

Kepala Fungsi Pensosbud KJRI Johor Bahru Dewi Lestari merinci, sepanjang 2016, telah terjadi lim akecelakaan kapal yang ditangani KJRI Johor Bahru dengan perkiraan jumlah penumpang mencapai 102 penumpang. Untuk korban yang berhasil ditemukan, Dewi mengatakan ada total 37 korban meninggal dan 51 korban selamat.

”Yang korbannya banyak itu kejadian Januari dan Juli,” ungkapnya.

Berkaitan pengawasan lalu lintas kapal di perairan Indonesia yang juga masuk wilayah perbatasan, TNI AL rutin melaksanakan operasi. Namun, pasukan tidak menetap. Mereka bergerak dari satu titik ke titik lain. Kadispenal Laksamana Pertama TNI Gig J. M. Sipasulta menegaskan, migrasi buruh migran ilegal bukan domain TNI AL. “Tapi, kami ikut mengawasi bersama instansi lain,” ucap dia.

Menurut Gig, TKI yang berusaha masuk Malaysia secara ilegal menjadi urusan Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Perkara mereka berusaha menyusup lewat jalur laut, TNI AL berupaya menjalankan fungsi pengawasan dengan baik. Namun demikian, celah yang ada kerap dimanfaatkan.

Di Perairan Tanjung Pinang, Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) IV menjalankan fungsi tersebut. Gig mengungkapkan, mereka sempat menggagalkan penyusupan. “Lantamal IV sering (menggagalkan penyusupan),” ujarnya. Tapi, mereka lebih concern menjaga wilayah periaran dari kapal asing yang hendak masuk Indonesia. “Untuk urusan itu (pengawasan buruh migran ilegal) urusan Imigrasi,” jelas dia.

Namun demikian, bukan berarti TNI AL abai. Gig menegaskan, setiap ada kapal bermasalah di perairan Indonesia, mereka pasti bergerak. “Misalnya ada kecelakaan,” ujarnya. Selama tidak bermasalah dan taat aturan, pergerakan kapal kecil dari dalam maupun dari luar tanah air tidak dihambat oleh pasukan yang berjaga.

Pengawasan wilayah perbatasan memang perlu perhatian. Apalagi di perairan. Dalam rapat koordinasi Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) pekan lalu, Mendagri Tjahjo Kumolo sempat menjelaskan soal jalur tikus yang kerap digunakan untuk menyelundupkan barang maupun orang. Salah satu contohnya adalah jalur tikus yang menjadi akses keluar masuk Kepulauan Riau. (syn/and/jun)

Paris Curiga Ayahnya Dibunuh

0
Paris Jackson. (Instagram Paris Jackson)

batampos.co.id – Michael Jackson, telah meninggal. Kisahnya masih berlanjut hingga kini.

Paris, anak Jackson, dalam artikel yang dipublikasikan majalah Rolling Stone, yakini ayahnya dibunuh.

Dalam wawancara mendalam yang kali pertama dilakukan Paris setelah ayahnya meninggal itu, Paris yakin kematian Jackson pada 2009 sudah dirancang sebelumnya.

Jackson meninggal dunia karena overdosis obat pereda nyeri dosis kuat. Dokter pribadinya, Conrad Murray, terbukti bersalah dengan tuntutan lalai. Namun, bagi Paris, kejadiannya lebih dari itu.

”Dia (Jackson, Red) tidak berhenti mengatakan kalau ada pihak-pihak yang ingin mendapatkannya,” kata Paris. ”Pada satu titik, dia berkata, “Mereka akan membunuh saya suatu hari nanti.” Itu yang beberapa kali dikatakannya,” kata Paris merujuk kalimat yang diucapkan mendiang ayahnya.

Ketika ditanyakan kembali apakah Paris yakin ayahnya dibunuh, lajang 18 tahun itu menjawab dengan tegas. ”Pasti.”

Disambung Paris, semua itu sangat jelas.

”Semua petunjuk mengarah ke sana. Itu seperti teori konsporasi. Namun, semua penggemar fanatik dan semua di keluarga kami menyakini itu juga. Ini semua bikinan,” ulasnya.

Ditambahkan Paris, tidak sedikit orang yang menginginkan ayahnya mati. Sekarang, Paris mengaku sedang bermain catur untuk membawa semua orang itu ke meja hijau. Namun, Paris tidak mengatakan nama seseorang atau menuduh Conrad Murray.

Sebelum ini, Paris muncul di media setelah mengeluh tentang serial drama komedi Sky Arts. Di sana, ada peran Jackson yang dimainkan aktor kulit putih Joseph Fiennes. Dalam akun Twitternya, dia mengatakan sangat dilecehkan oleh pertunjukan itu. Dan, episode yang ada tokoh Jackson membuatnya ingin muntah. Sky sekarang menunda penayangan pertunjukkan itu.

Dalam wawancara dengan Rolling Stone, Paris mengatakan kalau ayahnya sangat hebat. Dia juga menyangkal isu kalau Jackson bukan ayah biologisnya.

”Dia adalah ayah saya. Dia selalu menjadi ayah saya. Dia tidak pernah tidak menjadi ayah saya. Mereka yang mengenal ayah saya dengan baik akan melihatnya pada diri saya. Dan itu terkadang menakutkan buat mereka,” sambungnya.

Paris baru berusia 11 tahun ketika Jackson meninggal dunia pada 25 Juni 2009. Sejak saat itu, dia masih menggunakan gelang Afrika yang digunakan Jackson saat meninggal dunia. Gelang itu diberikan oleh pengasuhnya kepada Paris.

”Baunya (gelang, Red) masih seperti dia,” katanya.

Tak hanya mengenai ayahnya. Paris mengaku pernah dilecehkan secara seksual saat masih remaja. Dia juga mengalami depresi dan usaha bunuh diri pada 2013.

”Saya gila. Saya benar-benar gila. Saya melewati banyak hal dan banyak kemarahan remaja. Saya juga menghadapi depresi dan kecemasan tanpa ada bantuan.” (BBC/tia)

Dua Taruna Polisi Kedapatan Mesum di Gym

0

batampos.co.id – Dua taruna polisi tertangkap CCTV sedang melakukan hubungan seks di gym sekolah pelatihan kepolisian setempat.

Tenang, ini bukan di Indonesia, mereka ialah taruna Polisi di Puno, Peru.

Video mesum ini sudah beredar luas melalui beragam media sosial di Peru sejak Jumat (20/1). Dalam video tersebut, kedua taruna disebut masih memakai seragam latihan mereka, baju putih celana hitam.

Sang pria lebih berinisiatif membuka baju wanita saat ciuman mereka kian bergairah.

Sekejap, adegan sudah berlanjut ke sofa dan seterusnya dan seterusnya…

Mirror edisi Selasa (24/1) melansir, pasangan taruna mesum ini masih belum terindentifikasi. Kepolisian setempat juga belum mau berkomentar.

Media lokal, el Popular.pe menyebutkan, kedua taruna ini bakal mendapat hukuman berat bahkan rentan dikeluarkan dari pelatihan. (adk/jpnn)