Minggu, 19 April 2026
Beranda blog Halaman 14004

Pasar Induk Akan Dibangun Ulang

0
Pasar Induk Jodoh, Batam. Foto: Suprizal Tanjung/batampos
Pasar Induk Jodoh, Batam. Foto: Suprizal Tanjung/batampos

batampos.co.id – Pemerintah Kota Batam berencana merombak habis bangunan di Pasar Induk Jodoh. Hal itu dikarenakan pondasi bangunan lama yang mulai rapuh karena lama tak terawat.

Kepala Dinas PMK – UKM Kota Batam, Pebrialin mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu proses hibah yang telah sampai di Kementrian Keuangan. Nantinya, Pasar Induk akan menjadi milik Pemerintah Kota (Pemko) Batam setelah diserahkan Badan Penguasahaan (BP) Batam.

“Kita masih terus menindaklajunti sejauh mana perkembangan. Proses hibah ini sudah sampai di Kementrian Keuangan. Sebab asetnya tercatat di Kementrian Keuangan,” kata Pebrialin di Kantor Walikota Batam, Selasa (2/8).

Saat ini pihaknya bersama bagian perlengkapan Pemko Batam tengah menggesa agar pemindahan aset dari BP ke Pemko bisa cepat terlaksana. Apalagi, Pemko Batam sudah memiliki dana yang dianggarkan untuk Pasar Induk.

“Secara administratif ya. Dan itu sudah kita laksanakan, tinggal menunggu keputusan Kementrian,” terangnya.

Dikatakannya, setelah status Pasar Induk jelas (milik Pemko), pihaknya akan segera melakukan perbaikan. Pola yang digunakan yakni kerjasama pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Namun setelah adanya perhitungan berapa biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan.

“Tentunya akan dibuat DED-nya dulu, yang nantinya akan dihitung pihak swasta,” jelas Pebrialin.

Rencana pola KPBU yang akan di terapkan di pasar Induk merupakan prakasa dari badan usaha. Namun untuk desainnya, tetap sesuai dengan keinginan Pemerintah.

“Kuncinya tetap di pemerintah kota Batam, terkait dengan model dan bentuk bangunan. Jadi setelah ada DED mereka wajib menunjukkan ke kita sebelum dibangun,” terang Pebrialin.

Menurut dia, saat ini kondisi bangunan di Pasar Induk sudah tak memungkinkam untuk dilakukan perbaikan. Kontruksi bangunan sudah tidak kokoh karena tak pernah ada perawatan.

“Artinya akan dibangun ulang. Akan dikonsep lagi mulai dari awal. Dan kita sedang menunggu konsep model bangunan itu,” ungkap Pebrialin.

Pebrialin juga berharap, konsep bangunan baru bisa menampung seluruh pedagang kaki lima yang dipindah dari Tos 3000 , Jodoh. Namun ia tak bisa memastikan berapa daya tampung tersebut.

“Daya tampung juga jadi perhatian kita. Untuk daya tampung masih kita data. Yang pasti akan kita upayakan semaksimal mungkin,” pungkas Pebrialin. (she)

Safarai Ramadhan: Sayang APBD Dipakai untuk Biaya Pemulangan TKI

0
TKI bermasalah yang dipulangkan beberapa waktu lalu. foto:yusnadi/batampos
Ilustrasi TKI bermasalah yang dipulangkan beberapa waktu lalu. foto:yusnadi/batampos

batampos.co.id – Rendahnya pendidikan calon TKI mengakibatkan mereka menghadapi risiko mudah ditipu pihak lain. Mereka tidak memahami aturan dan persyaratan untuk bekerja di luar negeri.

Penyaluran TKI biasanya melalui agen tenaga kerja, baik yang legal maupun ilegal. Calon TKI ilegal biasanya direkrut makelar dengan janji upah yang tinggi serta pilihan pekerjaan banyak.

“Calon TKI ilegal inilah yang biasa disebut non prosedural atau yang tidak sesuai prosedur dan aturan bekerja di luar negeri,” ujar Anggota Komisi IV DPRD Batam, Safari Ramadhan, kemarin.

Menurut Safari, selain merugikan diri sendiri TKI non prosedural ini juga merugikan daerah karena menanggung kerugian yang sangat besar untuk mengembalikan mereka ke kampung halaman.

Begitu juga dengan penempatan TKI non prosedural yang jelas-jelas melanggar Undang Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI yang ada di luar negeri.

“TKI non prosedural jelas akan merugikan banyak pihak. Rugi biaya keberangkatan, daerah pun juga ikut menanggung biaya pemulangan mereka ke kampung halamannya,” beber Safari.

Untuk itulah, kata Safari, diperlukan kerjasama dan koordinasi antara Batam dengan pemerintah daerah lain. Saling memberikan informasi, semisal Batam dengan Madura, jika ada TKI ilegal, atau gagal berangkat seperti saat ini, Pemerintah Madura bisa menjemput warganya.

“Sayang kan APBD kita hanya dipakai untuk biaya pemulangan TKI tersebut,” pungkasnya.

Sebelumnya, Jajaran Polresta Barelang berhasil mengukap penyaluran TKI ilegal ke luar negeri, Selasa (2/8). Sebanyak 230 calon TKI tersebut diamankan di Ruko Taman Lakota Blok E No 3.

Hampir keseluruhan TKI tersebut tidak memiliki surat-surat resmi seperti paspor dan permit. Mereka nekat bekerja ke Malaysia karena terbuai iming-iming pekerjaan dan gaji yang besar.

“Tak ada yang suruh. Kami dijanjin bekerja di sana,” tutur Ari, seorang calon TKI. (rng)

Pemko Akan Data Ulang PNS Terkait Perombakan Kabinet

0
Kepala BKD Kota Batam M Sahir. Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos
Kepala BKD Kota Batam M Sahir. Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos.co.id – Pemerintah Kota Batam akan merombak susunan kabinet kerja pejabat Pemko Batam. Penempatan jabatan nantinya akan disesuaikan dengan minat serta kemampuan pejabat bersangkutan.

Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Kota Batam M Syahir mengatakan saat ini pihaknya sedang mendata ulang seluruh PNS di lingkungan Pemko Batam. Ia tak menampik masih banyak penempatan pejabat yang tidak sesuai dengan keahlian dan pendidikan.

“Dipindahkan ke jabatan yang sesuai jurusan diambil setelah lulus kuliah, ” kata Sahir di Kantor Pemko Batam, kemarin.

Perombakan dilakukan karena keinginan Walikota Batam yang menginginkan SKPD sesuai rencananya. Apalagi, Walikota Batam tengah menggesa rencana pembangunan jangka menengah daerah ( RPJMD) Kota Batam selama lima tahun kedepan.

“Itu otomatis nanti kalau pimpinannya ganti, pejabat setingkat Kabid dan Kasi juga ganti,” ujar Syahir

Namun disinggung, nama -nama pejabat yang akan menduduki jabatan penting di Pemko Batam, Syahir enggan berkomentar. Dengan alasan, penyeleksian terhadap para calon belum dilakukan tim panitia seleksi.

“Belum final, nanti kita sampaikan melalui Kabag Humas (Ardiwinata),” jelasnya.

Menurut dia, PNS yang memiliki latar belakang teknik tentu akan diposisikan di dinas-dinas tehnik seperti Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Dinas Tata Kota (Distako). Begitu seterusnya untuk seluruh pegawai Pemko.

“Tak terlalu sulit karena tak perlu diseleksi, hanya rotasi saja, sesuai kemampuan dan keahlian” sebut Sahir.

Dikatakan Syahir, hingga kini pihaknya masih fokus menggelar seleksi terbuka pejabat setingkat Kepala Dinas/Badan termasuk juga jabatan Sekertari Daerah (Sekda) yang kini dijabat Agussahiman.

“Masih dalam persiapan, belum ada Dinas yang kita seleksi, kita tunggu dari pak Wali (Wali Kota Batam, Muhammad Rudi),” pungkas Syahir. (she)

Kebun Raya Batam Terus Berbenah

0
Kebun Raya Batam
Kebun Raya Batam

batampos.co.id – Unit Pelayanan Teknis Kebun Raya Batam akan menebar 9 ribu bibit berbagai jenis tanaman. Bibit yang didapat dari berbagai daerah ini, sebagian telah terkumpul di Kebun Raya Batam.

“Sebagian lagi masih berada di Hutan Matakucing,” kata Ketua Pelaksana Harian Kebun Raya Batam, M Nasir kepada Batam Pos, Selasa (2/8).

Ia mengatakan penanaman ini dilakukan, setelah mendapat surat dari pihak Kejaksaan Tinggi untuk diperbolehkan dilanjutkannya pembangunan Kebun Raya Batam.

“Kami (Pemko Batam, red) hanya mengisi Kebun Raya Batam dengan tanaman. Jadi menyiram, merawat dan memupuk bibit koleksi,” ujarnya.

Sementara untuk pembangunan bangunan atau hal selain penanaman, kata Nasir bukan termasuk dalam tupoksinya. “Bukan kami,” tegasnya.

Ia menuturkan penanaman sebanyak 9 ribu bibit tersebut, akan diprediksi selesai pada November tahun ini.

Dari pantauan Batam Pos, terlihat Kebun Raya Batam masih terlihat tak terurus. Semak-semak belukar, menjadi hiasan tersendiri saat memasuki gerbang depan Kebun Raya Batam.

Sementara itu tempat parkiran Kebun Raya Batam juga sudah mulai hancur, beberapa paving block di sana terbongkar diduga akibat arus air.

Sedangkan gedung yang bakal menjadi kantor pengelola Kebun Raya Batam, hanya menjadi sarang laba-laba. Sementara itu jalan ke arah tempat pembibitan, beberapa bagian sudah rusak. Dan pembatas tepi jalan, juga sudah runtuh tergerus air.

Kondisi masih akan berlanjut hingga 2017. Dari penjelasan Nasir, pembangunan ulang Kebun Raya Batam baru dianggarkan pada tahun 2017. “Itu karena surat itu (Surat dari Kejati,red),” ucapnya. (ska)

Bekas Luka di Perut Budi Bukan Dianaya, Tapi..

0

tkw-meninggal-ilustrasi-_110911115445-785batampos.co.id – Kepala rumah tahanan (rutan) Kelas II A Batam di Tembesi, David Gultom membantah adanya tindakan kekerasan terkait kematian Budi Yanto bin Mahmud, tahanan titipan Pengadilan Negeri Batam yang tewas saat menjalani perawatan medis di RSUD Embung Fatimah Batam di Batuaji, Rabu (20/7) lalu.

Kepada wartawan di ruang kerjanya, David menuturkan bahwa kematian pemuda 24 tahun yang tersandung kasus narkoba itu murni karena sakit.

“Sebelum masuk rutan, anak ini punya riwayat sebagai pemakai narkoba yang aktif, kematiannya itu berkaitan ketergantungannya pada narkoba itu. Tak ada seperti yang diisukan bahwa dia meninggal karena disiksa atau dipukul,” kata David, Selasa (2/8).

David membatah sebab, belakangan beredar isu di tengah masyarakat termasuk informasi yang ada di media sosial bahwa Budi meninggal karena disiksa di dalam rutan sebab ada bekas luka di bagian perut Budi.

Diceritakan David, keberadaan Budi di rutan Baloi itu mulanya merupakan tahanan titipan Polresta Barelang yang masuk sejak 30 Maret lalu karena kasus narkoba.

Namun tanggal 20 statusnya berubah jadi tahanan Kejaksaan Negeri Batam dan tanggal 24 Mei kembali berubah jadi tahanan pihak Pengadilan Negeri Batam.

“Selama di sini dia sudah empat kali menjalani persidangan terkait kasus hukumnya itu,” ujar David.

Saat awal masuk ke Rutan memang diakui David, kondisi kesehatan Budi baik-baik saja. “Tidak ada keluhan apapun saat awal masuk, makanya kami langsung terima saat pihak Polres titipkan ke sini,” ujar David.

Namun pada Senin (18/7) saat dijenguk oleh Mahmud ayahnya, Budi mulai mengeluhkan sakit kepada sang ayah. “Disitu baru kami tahu kalau dia memiliki gangguan kesehatan dengan kebiasannya yang menggunakan narkoba selama di luar,” kata David.

Sakit yang dikeluhkan Budi cukup rumit karena penyakit dalam dan sampai sore hari kondisinya semakin kritis sehingga dia dilarikan ke klinik yang ada dalam Rutan.

“Sampai sore kesadarannya mulai hilang. Tak mau makan meskipun disuapin, makanya diberi infus di klinik Rutan,” ujar David.

Dijelaskan David selama berada di klinik Rutan, Budi yang tak sadarkan diri seperti orang sakau terus menggaruk dan mencakar sendiri perutnya sehingga perutnya banyak meninggalkan bekas luka garukan dan itu yang membangun opini kepada masyarakat bahwa Budi meninggal karena dianiaya.

“Kami punya dokumentasi videonya kok bagaimana dia melukai perutnya sendiri,” ujar David.

Karena kondisi kesehatan Budi yang terus memburuk, keesokan harinya (20/7), Budi dilarikan ke RSUD Embung Fatimah setelah melayangkan surat ke pihak Pengadilan Negeri Batam.

“Kami tak mau ambil risiko makanya Budi dibawa ke RSUD,” ujar David.

Namun belum lama berada di RSUD, Budi meninggal dunia. “Orang pengadilan kita panggil juga saat dibawa ke RSUD, tapi karena ajalnya sudah tiba ya mau gimana lagi,” ujar David.

Kematian Budi itu kata David murni karena sakit yang disebabkan oleh kebiasannya bergantungan dengan obat-obatan terlarang sebelum ditangkap Polisi. “Surat keterangan medisnya ada kok,”ujar David.

Isu terkait adanya tindakan kekerasan terhadap kematian Budi diakui David itu tidak benar dan iihak keluarga juga sudah menerima dengan kematian Budi.

“Keluarganya malah tolak waktu ditawarkan untuk otopsi dan mereka tanda tangan kok surat penyerahan jenazah,” tutur David. (eja)

ConocoPhillips Pastikan Tak Ada PHK di Kepri

0

gasconocobatampos.co.id – Jatuhnya harga minyak mentah dunia memaksa para kontraktor migas harus mengencangkan ikat pinggang. Tak terkecuali ConocoPhillips Indonesia. Perusahaan asal Amerika Serikat itu memilih langkah penghematan guna menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawannya.

Vice President Development and Relations ConocoPhillips Indonesia (COPI), Joang Laksanto, mengatakan lesunya industri migas saat ini memang membawa sejumlah konsekuensi. Salah satunya pengurangan pekerja atau PHK. Namun pihaknya berupaya agar hal itu tak terjadi, khususnya di wilayah kerja ConocoPhillips di Kepri.

“Sejauh ini kami belum ada rencana pengurangan karyawan,” kata Joang saat di Batam, Senin (1/8).

Namun, kata Joang, pihaknya lebih memilih langkah efisiensi di internal perusahaan. Misalnya, penggunaan kapal logistik dibatasi untuk hal-hal yang memang bersifat sangat penting.

“Demikian juga dengan penggunaan pesawat operasional. Kami harus benar-benar menghitung efisiensinya,” kata dia.

Meski harga minya mentah masih sangat rendah, yakni di kisaran 40 sampai 45 dolar AS per barel, tak membuat COPI mengurangi atau menurunkan target produksi.

“Produksi tetap. Tidak ada pengurangan,” katanya.

Joang menjelaskan, untuk daerah operasional di Kepri, saat ini COPI beroperasi di Blok B South Natuna Sea. Namun secara administrasi, lokasi pengeboran minyak lepas pantai ini masuk wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas. Dan logistic base ConocoPhillips berada di Kecamatan Palmatak, Anambas.

Dia berharap, harga minyak mentah dunia kembali pulih. Sehingga industri migas, khususnya di Indonesia, kembali bergairah dan mampu memberikan efek positif bagi perekonomian dalam negeri.

“Tapi memang, secara global sampai saat ini belum ada tanda-tanda akan ada kenaikan (harga),” katanya.

Disinggung mengenai proses pelepasan saham di Blok B South Natuna Sea, Joang mengatakan saat ini masih dalam proses lelang. Menurut dia, saat ini sejumlah pihak sudah mengajukan proposal untuk membeli sebagian saham di blok tersebut. Sayangnya, Joang enggan merinci.

“Ada lah,” katanya sambil tersenyum. (she/bpos)

Sudahlah Ilegal, TKI Ini Harus Bayar 3,5 juta dan Biaya tiket sendiri

0
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Kurnia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya karena gagal bekerja sebagai TKI di Malaysia. Sambil mengusap keringatnya ia mengatakan dijanjikan bekerja dengan penghasilan yang lebih tinggi.

“Kami dari Surabaya bertiga sama teman sekampung. Katanya disuruh nginap dulu di sini, besok baru diberangkatkan,” kata Kurnia sambil tertunduk.

Ruko tiga lantai yang berlokasi di Taman Lakota, Blok E Nomor 3 ini terlihat penuh sesak dengan ratusan calon TKI. Kebanyakan calon TKI ini berasal dari Surabaya, Semarang, Madura hingga NTB.

Korban TKI Ilegal dari NTB, Edi Irawan yang berangkat bersama tiga orang temannya mengatakan harus membayar uang tiket sendiri dan membayar uang Rp. 3,5 Juta. “Bahkan saya sampai harus berhutang,” kata Edi kepada Batam Pos, Selasa (2/8).

Dia menceritakan awalnya ia ditelepon oleh pemilik lahan di Malaysia untuk dipekerjakan. “Semua berkas seperti paspor dan Permit sudah diurus semua. Nanti katanya sih kalau berkas ada yang belum beres bisa diuruskan oleh agen TKI ini, makanya kami mau,” ungkapnya.

Dengan tawaran gaji yang lebih besar, Edi rela meninggalkan istri dan anaknya di NTB. “Syukurlah ketangkap sekarang mas, kalau sudah sampai sana (Malaysia) ada yang tidak beres kemana kami harus mengadu,” tukasnya.

Tidak semua korban mengatakan ditawari pekerjaan. Nisa contohnya, ia mengaku ikut agen perjalanan untuk bertemu keluarganya. “Tidak, saya tidak mau jadi TKI. Saya cuma melancong, sampai di pelabuhan karena kapalnya sudah berangkat disuruh supirnya menginap di sini (tempat penampungan,red),” tutur perempuan berkacamata ini.

Sebagian korban mengaku membayar tiket sendiri dan membayar kepada agen TKI tidak resmi ini. “Saya baru datang jam 4 sore tadi, dijemput sama supir dan disuruh tunggu dulu baru besok diberangkatkan. Saya nggak nyangka jadi seperti ini” kata Yono yang berasal dari Surabaya. (cr18)

Polisi Gagalkan Pengiriman 230 Calon TKI Ilegal ke Malaysia

0
TKI Wanita. Foto: istimewa
TKI Wanita. Foto: istimewa

batampos.co.id – Jajaran Polresta Barelang berhasil mengungkap kasus penyaluran tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal ke luar negeri, Selasa (2/8) malam.

Sebanyak 230 calon TKI ilegal yang kebanyakan dari pulau Jawa dan Madura tersebut diamankan petugas sebelum berangkat bekerja ke Malaysia.

“Tak ada yang suruh. Mau ke Malaysia cari uang makan. Kesini pakai uang sendiri,” tutur Astri, salah seorang TKI ilegal asal Madura.

Wanita 32 tahun tersebut juga mengakui tak memiliki dokumen resmi untuk bekerja di Malaysia. “Tak ada bawa dokumen, syarat pun tak tahu, lah kami tak sekolah. Dijanjiin bekerja, ya kami ikut lah,” sambung Astri.

Eko, calon TKI ilegal asal Surabaya, Jawa Timur mengakui untuk berangkat ke Malaysia, ia diminta untuk membayar uang Rp 3,5 juta. Uang tersebut sudah termasuk ongkos dari Surabaya dan biaya surat-surat ke Malaysia.

“Mau kerja di perkebunan sawit mas. Saya tak tahu juga kapan berangkatnya. Disuruh kumpul di sini, kami ngikut saja,” ujar Eko.

Hal senada juga diungkapkan Randi, warga asal Nusa Tenggara timur. Untuk berangkat ke Batam ia diminta mengeluarkan uang sebesar Rp 10 juta. Uang tersebut diminta agen sehari sebelum berangkat ke Batam. “Kami bertiga, diminta bayar Rp 10 juta, kalau surat-surat mereka yang ngurus nantinya,” bebernya.

Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Memo Adrian mengatakan, penangkapan calon TKI yang diduga ilegal ini bermula dari laporan unit Laka Lantas Polsek Batamkota yang curiga melihat mobil carry membawa puluhan orang melebihi kapasitas. Saat dibuntuti, mobil tersebut berhenti di Ruko Taman Lakota Blok E No 3, Batamcentre.

“Saat dicek, ternyata ada penampungan TKI. Unit satlantas langsung konfirmasi ke polsek, dan kapolsek batamkota langsung memberitahu kita, saat turun dan menemukan 230 orang calon TKI yang diduga ilegal,” ujar Memo.

Menurut Memo, sebagian besar calon TKI tersebut berasal dari daerah Jawa dan Madura. Hingga saat ini, polisi masih belum menyimpulkan pengiriman TKI ilegal tersebut.

“Langkah awal kita amankan ke polres, untuk mencari tahu siapa yang membawa dan sponsor mereka ke Malaysia,” sambung Memo.

Terkait jumlah TKI yang tergolong banyak ini, Memo mengaku akan berkordinasi dengan BNP4TKI. “Jumlah yang sangat besar, kita akan kordinasikan dengan BNP4TKI,” pungkasnya. (rng)

Ibu Kandung Al Tetap Berkomunikasi Selama Anaknya Dititipkan

0
Mega bersama putrinya, Al saat berjumpa di Mapolsek Batuaji, f Eusebius
Mega bersama putrinya, Al saat berjumpa di Mapolsek Batuaji, f Eusebius

batampos.co.id – Selama berada di tangan orangtua angkat, Mega, sang ibu kandung, memang tak putus komunikasi dengan Al. Hanya saja komunikasi via telepon dengan orangtua angkat Al itu, kliennya tak bisa mengetahui langsung kondisi Al.

baca juga : Kisah Pilu Bocah 9 Tahun, Dijual Rp 5 Juta, Disiksa Pembelinya

“Makanya klien kami tak tahu kalau anaknya dianiaya seperti dalam laporan ini. Klien kami baru tahu setelah orangtua angkatnya memberitahukan kejadian ini,” ujar Firman.

Terkait kondisi Al sendiri dikatakan Mega secara kasat mata memang tidak banyak perubahan. “Dia memang agak kurus sejak kecil, tak banyak berubah selain bertambah besar dan tinggi saja,” ujarnya.

Untuk kondisi fisik dan mental sang anak, Mega juga mengaku belum mengetahui secara detail sebab dia baru bertemu sang anak.”Baru hari Sabtu (31/7) kemarin saya tiba di Batam (dari Lampung) dan bertemu dia baru hari ini,” ujarnya.

Kanit Reskrim Polsek Batuaji AKP M Said membenarkan pemeriksaan terhadap Mega dan Al itu. “Mereka datang sebagai saksi untuk memberikan keterangan,” ujar Said.

Laporan kasus penganiayaan anak dibawa umur dengan terlapor Sp dan Yp orangtua angkat Al itu, sambung Said masih terus diselidiki. Orangtua angkat Al sebagai terlapor belum dipanggil sebab pihaknya belum juga mendapatkan hasil visum Al dari rumah sakit umum daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam di Batuaji.

“Berkas laporan awal sudah siap semua, tinggal visum saja. Kalau sudah ada visum terlapor akan kami panggil untuk diperiksa,” ujar Said.

Mengenai permintaan Mega agar Al kembali bersamanya, Said belum bisa pastikan, sebab proses hukum masih berjalan. “Itu nanti akan dipertimbangkan oleh pihak KPPAD,” ujar Said.

Sementara itu komisioner KPPAD Kepri, Ery Syahrial yang turut hadir mendampingi Al, mengatakan permintaan ibu Al itu akan dipertimbangkan lagi sambil menunggu proses hukum yang sedang berlangsung.

“Intinya mereka sudah bertemu dan langkah selanjutnya akan dipertimbangkan lagi nanti,” ujar Ery.
Saat ini sambung Ery, pihaknya masih fokus pada proses hukum atas laporan penganiayaan itu. “Proses hukumnya harus terus berlanjut dan akan terus kami awasi,” kata Ery. (eja)

Akhirnya Ibu Kandung Al Terbang Melihat Kondisi Putrinya

0

Mega bersama putrinya, Al saat berjumpa di Mapolsek Batuaji, f Eusebiusbatampos.co.id – Mega Hartati tak kuasa menahan tangis saat berjumpa dengan Al, anak kandungnya yang menjadi korban penganiayaan oleh keluarga Sp dan Yp, orangtua angkat Al yang berdiam di Perumahan Griya Pratama, Batuaji.

baca juga : Kisah Pilu Bocah 9 Tahun, Dijual Rp 5 Juta, Disiksa Pembelinya

Ibu dan anak itu berjumpa di Mapolsek Batuaji saat pihak kepolisian akan memeriksa Al dan Mega terkait laporan kasus penganiayaan itu, Senin (2/8) pagi.

Ditemani Firman penasehat hukumnya, Mega sempat tersedu-sedu saat melihat Al. Dia memeluk erat sang anak sembari menanyakan kondisi kesehatan anaknya. “Sehat kamu nak?” tanyanya kepada Al.

Saat bertemu di halaman depan Mapolsek Batuaji, Mega sempat mengajak Al untuk naik ke dalam mobil yang ditumpanginya untuk berbincang sebelum keduanya diperiksa di unit IV Reskrim Polsek Batuaji.

Di sela-sela pemeriksaan polisi, kepada wartawan Mega membantah bahwa dia dan Herman ayah tiri Al menjual Al kepada keluarga Sp dan Yt. “Saya tak pernah jual anak saya ini,” ujarnya.

Dia menyebutkan, bahwa keberadaan Al di keluarga Sp dan Yt sejak dua tahun silam itu, sebatas titipan saja sebab kondisi ekonomi keluarganya saat itu sedang susah. “Mereka mampu dan katanya mau menyekolahkan Al makanya kami kasih titip sementara saja,” ujarnya.

Hal senada diakui oleh Firman, yang menegaskan bahwa keberadaan Al di keluarga Sp dan Yt bukan karena dijual melainkan dititipkan karena kondisi ekonomi keluarga Mega tidak memungkinkan saat itu. “Dengan kejadian ini, dia (Mega) ingin anaknya (Al) kembali bersamanya,” ujar Firman.

Untuk itu kedepannya sebagai penasehat hukum, kata Firman dia akan mengupayakan agar Al kembali berkumpul bersama kliennya. “Selain mengamati proses hukum kasus ini, kami juga akan mengupayakan agar Al kembali bersama ibunya,” ujar Firman.(eja)