batampos.co.id – Kepolisian Daerah (Polda) Kepri akhirnya berhasil meringkus Rendra, tersangka kedua kasus korupsi pengadaan laboratorium (lab) BP Batam, Sabtu (28/5) malam lalu di Bandung.
Rendra merupakan Direktur PT Cakrayuda yang diduga bermain mata dengan Kasi Lalu Lintas Barang BP Batam, Heru Purnomo yang sudah dijebloskan dalam penjara.
”Iya, (Direktur PT Cakrayuda, Rendra) sudah kami tangkap,” kata Direktur Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kepri, Kombes Pol Budi Suryanto kepada koran Batam Pos (grup batampos.co.id), Minggu (29/5).
Budi menjelaskan peranan Rendra dalam kasus ini, yakni sebagai penyedia barang dari pengadaan laboratorium BP Batam. ”Kami masih melakukan pendalaman penyelidikan karena baru datang kemarin (Sabtu 28/5). Senin (30/5) baru kami mintai keterangan,” ujarnya.
Untuk penangkapan ini, Kasubdit III Tipidkor Polda Kepri, AKBP Arif Budiman turun langsung. Arif mengatakan tersangka kedua kasus korupsi lab BP Batam ini memilih kabur. Sehingga sempat menyulitkan pihak kepolisian. Namun dengan dibekali informasi dari masyarakat, akhirnya Rendra dapat dibekuk di tempat persembunyiannya.
Mengenai peranan Rendra, Arif mengatakan Ditektur PT Cakryuda tersebut bersekongkol agar memenangkan tender tersebut. ”Kami menduga Rendra menang lelang bukan karena kualitas, tapi lebih karena adanya kongkalikong,” sebutnya.
Lebih lanjut Arif menjelaskan barang-barang yang diadakan oleh Rendra tak sesuai dengan klasifikasi di kontrak pembangunan laboratorium tersebut, sehingga lab tersebut dibangun tak sesuai dengan perencanaan awal.
Dari informasi yang didapat dalam penyusunan spesifikasi teknis, terdapat kebijakan yang mengarah kepada merek tertentu. Hal ini sangat bertentangan dengan Peraturan Presiden (Perpers) Nomor 70 Tahun 2012 tentang Pengadaan Barang dan Jasa di pemerintahan.
Dugaan marak up yang dilakukan terhadap beberapa item, yakni mas spectrometer, gas chromotrography, oven, dan accesories. ”Akibat tindakan kedua tersangka tersebut (Rendra dan Heru), negara rugi Rp 569 juta,” ungkap Arif. (ska)
batampos.co.id – Nasib malang menimpa seorang sopir taksi. Ia meregang nyawa saat mencoba untuk melerai perkelahian antar dua kelompok pemuda.
Syahrial Koto (54) tewas setelah mendapat luka tusukan benda tajam di leher bagian kiri. Peristiwa naas itu terjadi di Simpang Empat Madrasah Tiban Kampung, Batam, Kepulauan Riau, Minggu (29/5) dini hari.
Kejadian ini berawal ketika korban melintas di Simpang Empat Madrasah Tiban Kampung dan melihat perkelahian antar kelompok.
Niat baik Syahrial ini ternyata membawa petaka pada dirinya. Salah satu dari pelaku tidak terima dan langsung menusuk leher Syahrial dengan benda tajam.
“Korban berniat baik, tapi jadi petaka,” ungkap salah seorang saksi di lokasi kejadian, Iwan seperti dikutip dari batampos (Jawa Pos Group).
Iwan menjelaskan kejadian tersebut berlangsung begitu cepat. Pelaku yang saat itu bejumlah sekitar 20 orang langsung melarikan diri.
batampos.co.id – Sat Narkoba Polresta Barelang mengamankan Isruliansyah dan Tarmizi dua pengedar narkotika jenis sabu, Sabtu (28/5) pagi. Tersangka ini menyelundupkan 750 gram sabu melalui pelabuhan tikus di Patam Lestari, Sekupang.
Dari tangan tersangka, polisi turut mengamankan 15 butir pil ekstasi dan satu paket ganja. Untuk mengelabui petugas, tersangka menyimpan sabu tersebut di dalam plastik susu. Sabu itu dibagi ke dalam 7 paket besar.
Kapolresta Barelang, Kombes Pol Helmy Santika mengatakan penangkapan tersangka berdasarkan pengembangan terhadap pengedar dan jaringan yang sudah diamankan. Tersangka mengambil barang haram itu dari bandar di Malaysia bernama Andi.
“Mereka langsung mengambil sabu itu ke bandar di Malaysia. Dan bertemu di perairan internasional,” ujar Helmy.
Kasat Narkoba Polresta Barelang, Kompol Suhardi Hery menjelaskan barang bukti yang diamankan tersebut bernilai Rp 1 Miliar. Menurutnya, barang haram itu sengaja diedarkan di Indonesia, khususnya Batam karena nilai jual yang tinggi.
“Di sana (Malaysia) harga sabu ini jauh lebih murah. Sehingga diedarkan di sini,” tutur Suhardi.
Dari pengakuan tersangka, mereka telah dua kali menyelundupkan sabu ke Batam. Salah satunya melakukan transaksi di Belakang Padang dengan barang bukti 1 kg sabu.
“Pengakuannya sabu itu diedarkan di Batam. Dan tersangka berhasil kita amankan saat kapalnya hendak bersandar,” tegas Helmy.
Helmy juga menegaskan pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemerintah Malaysia untuk memburu Andi.
“Kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah Malaysia untuk memburu bandar ini,” imbuhnya. (opi)
Wali Kota Batam, Rudi saat berbincang dengan investor Cina di Kantor Wali Kota Batam, Selasa (24/5/2016) siang. Mereka berharap listrik di Batam tak byar pet lagi. Foto: Ist
batampos.co.id – Pembahasan rencana kenaikan tarif listrik oleh PT Pelayanan Listrik Nasional (PLN) Batam mestinya tetap melibatkan Pemerintah Kota Batam kendati kewenangan penetapan tarif sudah beralih ke pemerintah provinsi.
Alasannya, izin usaha pembangkit listrik (IUPTL) yang dikeluarkan oleh Pemko Batam masih berlaku untuk beberapa tahun ke depan.
Tidak dilibatkannya Pemko Batam dalam pembahasan tarif jadi dilema tersendiri bagi Wali Kota Muhammad Rudi. Sebab kenaikan listrik terjadi di daerah yang ia pimpin.
“Tanya sama Pak Nurdin Basirun (Gubernur Kepri) kenapa saya tak diikutsertakan,” ujar Rudi usai menghadiri acara di Harris Hotel.
Menurut dia, PT PLN memang bisa meminta langsung kenaikan tarif listrik kepada Pemprov Kepri, karena memang sudah menjadi tanggungjawab Pemprov.
“Kan sudah ada aturannya sesuai undang-undang. Kita ngikut aja, tak mungkin melarang,” terang Rudi.
Rudi mengakui hingga hari ini, izin usaha pembangkit listrik (IUPTL) yang diterbitkan oleh Pemko Batam masih berlaku hingga beberapa tahun ke depan. Namun Pemprov malah menyetujui kenaikan tarif tersebut, tanpa memperhatikan izin yang masih dikeluarkan Pemko Batam.
“Izin memang masih di kita. Ke depannya PLN jika mau memperpanjang langsung ke provinsi. Bukan ke kita,” jelas Rudi.
Ia menegaskan bersedia jika suatu saat dilibatkan dalam pembahasan kenaikan tarif listrik di Kota Batam. Sebab, hal itu sangat berpengaruh untuk perekonomian dan kehidupan masyarakat Kota Batam.
“Jika saya dilibatkan, saya akan menolak. Sebab hal itu sangat merugikan masyarakat,” kata Rudi.
Sekretaris Komisi III DPRD Batam Helmy Hemilton meminta PLN Batam terlebih dahulu membenahi pelayanan sebelum mengusulkan kenaikan.
“Benahi dulu pelayanan karena masyarakat masih sangat mengeluhkan pelayanan PLN,” katanya.
Selain itu, lanjut Helmy, selama ini PLN Batam kurang terbuka terkait berbagai hal termasuk pengelolaan keuangannya.
Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan PT PLN Batam, Agus Subekti mengungkapkan pihaknya membutuhkan dana investasi untuk membangun jaringan atau pembangkit baru karena pertumbuhan konsumen yang pesat. Salah satunya dengan mencabut subsidi pelanggan kategori rumah tangga.
“Subsidi rumah tangga terlalu besar, sekitar Rp 200 miliar, akibatnya PLN Batam sulit berinvetasi,” kata Agus.
Ia juga mengatakan tarif dasar PLN Batam adalah yang paling murah di Indonesia. Walau murah, tapi teknologi yang digunakan untuk menghasilkan tenaga listrik tersebut menggunakan teknologi padat modal.
“Dari 2008, pengajuan kami selalu ditolak, sedangkan tarif PLN Persero sudah berubah lima kali,” katanya. (she/spt/bp)
batampos.co.id – Kapolresta Barelang, Kombes Pol Helmy Santika berjanji akan mengungkap pelaku yang melakukan keributan di Tiban Kampung, Sekupang. Dia juga berjanji akan menindak tegas pelaku penikaman terhadap Syahrial ketua RT03/RW01.
“Kami akan bekerja untuk menangkap pelaku. Beri kami waktu untuk bekerja,” ujar Helmy di Mapolresta Barelang.
Helmy mengaku sudah memeriksa dan meminta keterangan empat orang saksi. Selain itu, pihaknya sudah mengantongi ciri-ciri pelaku.
“Ciri-cirinya kami sudah tahu. Langkah pertama jajaran Polsek, Binmas dan intel sudah melakukan upaya pencarian,” tegasnya.
Menurutnya, Syahrial merupakan korban kebrutalan pelaku. Pelaku saat itu bersama rekan wanitanya mencari seseorang yang sudah menggoda rekannya.
“Sepertinya ada persoalan rekan kelompok. Kelompok perempuan diganggu kelompok lain dan pelaku mengejar. Di TKP ada sekolompok orang nongkrong,” terangnya.
Dia juga menghimbau pelaku untuk segera menyerahkan diri. Sebab pelaku telah menyerang orang yang tak bersalah dan melakukan pengrusakan di pemukiman penduduk.
Sementara Suhadi salah seorang warga mengaku sempat mencegat pelaku memasuki kawasan Tiban Kampung. Saat itu pelaku berjumlah puluhan orang, namun beberapa diantaranya berhasil menyerang.
“Sebagian mereka (pelaku) menunggu di luar. Mereka mengaku mengejar jambret,” ujarnya. (opi)
Pengurus Preti Batam, APVA Batam dan Tim Dokter Kepri bersama bayi kembar siam Rahma-Rahmi dan orangtua bayi Warmin Bahrudin dan Junaidi Bakri Ratu Loli di RSAB Batam, Sabtu (28/5). Foto: Iman Wachyudi/ Batam Pos
batampos.co.id – Bayi kembar siam dempet perut Rahma-Rahmi mengundang keprihatinan warga. Banyak warga Batam yang menjenguk dan memberikan bantuan dana.
Seperti Sabtu (28/5), Yayasan Perkumpulan Perempuan Tionghoa (Preti) Batam, mereka datang memberikan dukungan moril dan sumbangan kepada Rahma-Rahmi dan orangtua bayi Warmin Bahrudin dan Junaidi Bakri Ratu Loli yang diketahui dari keluarga tidak mampu.
Warmin Bahrudin, sang ibu, seorang buruh pabrik garmen dengan gaji UMK. Sementara Junaidi Bakri Ratu Loli, sang ayah, buruh bangunan yang baru bekerja ketika proyek memanggil. Saat ini, tidak ada proyek yang mempekerjakannya. Pemenuhan biaya kehidupan murni bergantung pada gaji Warmin.
“Kami tahu setelah baca koran Batam Pos, makanya kami kemari untuk memberikan bantuan kepada mereka. Kami harap dengan bantuan ini dapat meringankan sedikit beban mereka. Dan kami bersyukur bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak. Apalagi kami baca orangtuanya dari keluarga tidak mampu,” ujar Sekretaris Preti Batam, Vonny
Selain Yayasan Perkumpulan Perempuan Tionghoa (Preti) Batam, terlihat juga rombongan dari Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) Batam yang pada hari itu ikut membesuk bayi ini.
Penasehat APVA Batam, Datok Amat Tantoso menyatakan, butuh partisipasi segala pihak untuk membantu terwujudnya operasi yang pertama kalinya ini di wilayah Kepulauan Riau, khususnya Batam.
“Kita sebagai pengusaha di Batam ikut terpanggil untuk melibatkan diri. Kita harus tunjukkan kalau Batam bisa. Makanya, kita merasa perlu datang ke sini memberi dukungan bersama kawan-kawan sesama pengusaha money changer untuk membantu,” ujar Datok Amat.
Amat pun berharap agar masyarakat atau siapapun bisa membantu meringankan beban keluarga Rahma-Rahmi. “Mudah-mudahan semuanya berjalan baik. Saya juga akan ajak semua pengusaha money changer maupun pengusaha lainnya di Batam untuk membantu. Karena bagaimanapun, mereka adalah saudara kita juga,” jelasnya.
Sementara itu, Tim Kembar Siam Kepri mengharapkan uluran tangan semua pihak baik pemerintah, pengusaha juga masyarakat untuk memberikan donasi terkait tindakan operasi pemisahan bayi kembar siam Rahma-Rahmi.
Hingga kemarin dana yang terkumpul masih jauh dari kata cukup dari kebutuhan operasi sekitar Rp 1,1 miliar, kebutuhan ini mencangkup kebutuhan habis pakai seperti obat-obatan serta peralatan medis yang tak bisa dipakai secara rutin dalam setiap operasi hingga kedua bayi tersebut pulih.
“Terakhir kita cek pada Rabu (25/5) dana yang terkumpul baru 21 juta rupiah, ini masih jauh dari kata cukup. Untuk itu kita sekarang sedang menggerakkan semua unsur baik itu dari pemerintahan, pengusaha, maupun masyarakat agar memberikan bantuan kepada kedua bayi ini,” ujar Ketua Tim Operasi Pemisahan Kembar Siam Kepri, dr. Indrayanti, SpA, Mars.
Menurut Indrayanti, kini keadaan Rahma Fairuz Maknuniyyah dan Rahmi Fahira Nahlannisa dalam kondisi stabil sambil menunggu rencana operasi yang direncanakan awal atau pertengahan Juli mendatang. “Untuk operasi ada persyaratan fisik minimal setiap bayi 5 kilogram, kini beratnya baru 6,6 kilo jika ditimbang bersama kedua bayi tersebut. Hitungan kami di awal juli atau pertengahan juli rencana operasi,” ungkapnya.
Lebih lanjut Indrayanti mengatakan, untuk memisahkan bayi kembar dempet dengan diameter 10 centimeter itu dibutuhkan waktu 10 sampai 12 jam, sedangkan untuk tingkat keberhasilannya Indrayanti menjelaskan tergantung pada case bayi tersebut, untuk hal ini karena salah satu bayi yakni Rahma Fairuz Maknuniyyah mengalami kelainan jantung.
“Memang memisahkan kasus bayi kembar siam merupakan tantangan yang besar dan butuh penanganan yang ekstra. Namun dengan fasilitas yang lengkap dan tim yang solid kita yakin operasi ini akan berhasil,” katanya.
Direktur RS Awal Bross Batam, Widya mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan ruangan dan peralatan operasi terkait pemisahan kembar siam Rahma dan Rahma yang saat ini berumur 2 bulan itu.
Ia mengatakan ini merupakan yang pertama kali dilakukan operasi pemisahan bayi kembar siam di sini untuk seluruh biaya rumah sakit dan dokter digratiskan.
“Awal Bros (RSAB) bahkan dalam hal ini, ruang perawatan free, dokter free. Kami sama sekali tak mencari profit dari kasus ini. Selain itu tim dari rumah sakit dr. Sooetomo Surabaya yang sudah berapa kali ke sini, mereka pun tak dibayar,” jelasnya.
Bagi yang ingin memberikan sumbangan dapat dikirim ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) nomor rekening 0331-01-006402-53-8 atas nama Kembar Siam Kepulauan Riau. (iwa/cr13)
batampos.co.id – Kelak bandara Hang Nadim bukan sekadar sebuan bandara. Hang Nadim akan berubah menjadi airport city. Sebuah bandara yang menggabungkan antara bandara dengan pusat bisnis seperti kargo udara, logistik, perkantoran, retail dan hotel.
Hal ini terungkap dalam paparan menyambut kunjungan rombongan Angkasapura 1 ke bandara Hang Nadim, Sabtu (28/5).
Rombongan Angkasapura 1 berjumlah 70 orang. Terdiri dari 5 direktur, GM bandara-bandara dibawah Angkasa Pura 1, dan direktur-direktur anak perusahaan.
Hang Nadim sangat cocok sebagai airport city sebab berada di lahan seluas 1.762 hektar.
Kedepan, potensi ariport city akan dikembangakan menjadi aerotropolis.
“Sebagai tahap awal Hang Nadim akan mengembangkan kegiatan utama terlebih dulu sepert terminal kargo dan terminal penumpang,”ujar Kabid Komersil, Dendi Gustinandar saat memberi pemaparan.
Selain Dendi rombongan Angkasa Pura 1 direima oleh Kabag Umum suwarso; Plh Kabid Opsdar, Setyo Utomo dan
Internal Quality Control Bandara Hang Nadim Setyani Mahendra. (ptt)
Warga berkerumum di lokasi kejadian. Foto: eggi/batampos.co.id
batampos.co.id – Syahrial Koto, ketua RT 03 Tiban Kampung, Kelurahan Tiban Lama, Kota Batam, yang ditusuk lehernya hingga tewas, Minggu (29/5/2016) dini hari WIB, pelaku yang terkibat diduga mencapai 20-an orang.
Rombongan yang mengenakan sepeda motor ini sebenarnya sasarannya bukan ketua RT, tapi seorang pemuda yang berselisih dengan salah satu kelompok ini.
Namun naas bagi Syahrial saat terjadi ribut-ribut, ia mencoba melerai, namun dia yang menjadi sasaran.
Menurut beberapa saksi di lapangan, ketua RT yang sehari-hari bekerja sebagai sopir taksi ini sempat dianiaya lalu dipegang hingga tak bisa bergerak. Seorang lainnya mengambil pisau dari jok motornya lalu menghujamkan ke leher Syahrial.
Karena mengenai organ vital di leher, Syahrial pun tewas. Sementara pelaku langsung melarikan diri.
Salah seorang keponakan korban pembacokan di Tiban Kampung, Ade mengungkapkan sebelumnya ia telah mempunyai firasat yang tidak mengenakkan terhadap pamannya.
Ade yang ditemui di lokasi kejadian menceritakan bahwa saat itu Syahrial (54), berperilaku tidak seperti yang biasanya. Ia mendatangi warung bandrek langsung menyalami seluruh warga yang saat itu sedang minum bandrek.
“Bahkan ada salah seorang warga yang duduknya agak jauhpun di panggilnya, kemudian di salaminya,” cerita Ade.
Dalam berita sebelumnya, kejadian ini berawal dari Syahrial (54) yang melintas di Simpang Empat Madrasah Tiban Kampung dan melihat adanya perkelahian sekelompok orang tak dikenal (OTK).
Diduga aksi penyerangan ini berawal dari gagalnya sekelompok OTK yang sedang mengejar pemuda lainnya. Hingga akhirnya menyerang ketua RT. (eggi)
batampos.co.id – Salah seorang supir taksi menjadi korban penusukan orang tak dikenal (OTK) saat membantu melerai perkelahian antar dua kelompok OTK di Simpang Empat Madrasah Tiban Kampung, Minggu (29/5) dini hari. Pelaku menusuk korban dengan benda tajam di bagian leher kiri.
Kejadian ini berawal dari Syahrial, 54, yang melintas di Simpang Empat Madrasah Tiban Kampung dan melihat adanya perkelahian antar sekelompok OTK.
Korban pun bermaksud melerai perkelahian tersebut. Ternyata, salah seorang dari sekelompok OTK tersebut langsung melakukan penusukan terhadap Syahrial dengan benda tajam.
“Saat itu korban sedang melintas. Kemudian menemukan adanya perkelahian antara orang tak dikenal. Namun disaat mau meleraikan perkelahian itu, salah satu dari mereka langsung menusuk korban,” ungkap salah seorang saksi di lokasi kejadian, Iwan.
Iwan menjelaskan kejadian tersebut berlangsung begitu cepat. Pelaku yang saat itu bejumlah sekitar 20 orang langsung melarikan diri.
“Siap lakukan penusukan itu, mereka langsung kabur membawa sepeda motornya,” lanjut Iwan.
Saksi lainnya yang bernama Daniza Bakri menjelaskan sempat terjadi perkelahian antara segerombolan OTK tersebut dengan Ziko, yang merupakan salah satu warga Tiban Kampung.
“Segerombolan pelaku itu langsung memarkirkan kendaraannya dan memukuli warga yang ada di sekitar simpang empat tersebut sambil berkata
“Kalian yang tadi ya,” ungkap Ziko menirukan perkataan salah seorang pelaku.
Akibat peristiwa tersebut, korban langsung menghembuskan nafas terakhirnya akibat tusukan di bagian leher kirinya. Saat ini, korban telah dibawa ke Rumah Sakit Otorita Batam. (egi)
batampos.co.id – Kelurahan Pulau Karas saat ini sudah mempunyai Polsubsektor baru. Polsubsektor ini di resmikan secara langsung oleh Kapolda Kepulauan Riau (Kepri), Brigjen Pol Sam Budigusdian.
“Semoga dengan berdirinya Polsubsektor ini, kedepannya akan timbul hubungan yang baik antara masyarakat dengan polisi. Sehingga nantinya bisa terwujud kenyamanan dan keamanan ditengah-tengah masyarakat,” ungkap Sam Budigusdian, Jumat (28/5).
Ia juga berharap dengan terbentuknya Polsubsektor baru ini, jajarannya bisa lebih solid lagi dalam hal keamanan dan kenyamanan masyarakat setempat, hal ini juga diharapkan bisa membantu masyarakat.
“Banyak yang bisa dihasilkan dengan adanya Polsubsektor ini, salah satunya dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat akan kejahatan,” katanya.
Sementara Lurah Karas, Ute Rambe, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya dengan didirikannya pos polisi tersebut. Pasalnya, Ute Rambe saat ini banyak menemukan kenakalan remaja.
“Saat ini, di Pulau Karas jumlah remaja sudah cukup banyak. Setiap malam saya keluar keliling untuk memantau situasi, banyak ditemukan kenakalan remaja. Bahkan narkoba juga sudah merambah pulau ini,” ungkapnya.
Lebih lanjut Ute Rambe juga memberikan apresiasi yang besar terhadap seluruh masyarakat Pulau Karas. Karena masyarakat juga telah mulai membuka diri dengan menghibahkan tanahnya untuk pembangunan Polsubsektor ini.
“Dengan berdirinya pos ini juga berkat bantuan masyarakat yang mau mengibahkan tanahnya untuk mendirikan pos ini. Tentu saja, hal ini membuktikan bahwa masyarakat sudah mulai membuka diri,” pungkasnya. (egi)