Swiss Belhotel Harbour Bay, Batam, salah satu hotel yang kebajiran tamu di penghujung tahun 2016 hingga awal tahun 2017. Foto: dok swiss belhotel
batampos.co.id – Musim liburan natal dan tahun baru serta liburan sekolah, warga Batam memilih ramai-ramai liburan ke Singapura dan Malaysia. Setiap harinya, lebih dari 10 ribu warga Batam menyeberang ke kedua negara tetangga itu menggunakan kapal feri.
Sebaliknya, warga Singapura dan Malaysia juga berbondong-bondong datang ke Batam. Bhakan, jauh-jauh hari mereka telah memesan hotel.
Pantauan Batam Pos di beberapa hotel sekitaran Baloi hingga Batuampar, empat hari jelang tahun baru kamar hotel sudah 85 persen terjual. Puncaknya pada 31 Desember 2016 nanti, semua kamar hotel di Batam diprediksi penuh.
Sales and marketing manager I Hotel Baloi, Dita, membenarkan hal itu. Pihaknya sudah menerima pesanan (booking) kamar untuk tahun baru sejak sebulan lalu.
“Tanggal (31/12/2016) kita full. Umumnya tamu dari Singapura dan Malaysia,” ujar Dita, Senin (26/12/2016).
Bahkan, juga sudah ada yang memesan sejak dua bulan lalu, dan sudah mulai menempati kamar pesanannya itu dari kemarin. Menurutnya, kondisi ini biasa terjadi saat pergantian tahun, karena di Batam juga memiliki tempat-tempat seru untuk merayakan tahun baru 2017.
Selain I Hotel Baloi, hal serupa juga terjadi di Swiss-Belhotel Harbour Bay, Batuampar. Public relations manager Swiss-Belhotel Harbour Bay, Linda Ang Marasco menyebutkan, padatnya tamu yang menginap di hotel tersebut akan berlangsung hingga (3/1/2016) 2017 mendatang.
“Iya malam tahun baru full sampai H+3 karena banyak wisatawan dari Singapura yang menginap disini. Sekira tanggal (4/1) akan normal kembali,” ucapnya.
Dari 180 kamar yang tersedia di Swiss-Belhotel Harbour Bay, kini hanya tersisa 25 kamar lagi untuk tehun baru. “Untuk harga memang kita patok agak lebih tinggi dari hari biasanya,” tutup Linda. (cr15)
batampos.co.id – Ujian Nasional (UN) batal dihapuskan. Artinya, UN akan tetap dilakasanakan, meski khusus untuk SMA Sederajat, Kementrian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) hanya akan mewajibkan empat mata pelajaran untuk diujikan pada UN 2017 mendatang.
Terkait ini, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam Muslim Bidin belum bisa berkomentar banyak pasalnya program tersebut baru tahap sosialisasi dan belum memiliki petunjuk teknis (juknis).
“Ini kan baru wacana. Belum bisa bilang ke media (tentang penerapan), juknis-nya belum sampai, ” kata Muslim, Senin (26/12/2016) sore.
Dia mengatakan, beberapa waktu lalu pihaknya memang telah diundang Kemendikbud terkait sosialisasi perubahan jumlah mata pelajaran yang akan diujikan ini.
“Sosialisasi di Jakarta oleh pak menteri langsung (Muhadjir Efendy, red),” kata Muslim.
Kini, pihaknya akan menunggu juknis seandainya wacana tersebut bena-benar dilaksanakan. “Nanti kalaupun jadi, pasti tak jauh beda dengan keputusannya yang ada,” ungkpanya.
Diberitakan sebelumnya, Kemendikbud melakukan perubahan signifikan dalam pelaksanaan UN 2017 yakni hanya empat mata pelajaran (Mapel) dari yang semula enam Mapel.
Tahun sebelumnya, Mata pelajaran utama yang diujikan adalah bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris. Tiga mata pelajaran lainnya sesuai dengan penjurusan masing-masing.
Siswa jurusan IPA menggarap kimia, biologi, dan fisika. Siswa IPS mengerjakan geografi, sosiologi, dan ekonomi. Sedangkan jurusan bahasa menghadapi bahasa dan sastra Indonesia, antropologi, dan bahasa asing.
Sementara pada UN 2017, Mapel yang diujikan hanya empat. Yakni, tiga mata pelajaran utama (bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris) plus satu mapel yang dipilih siswa sendiri. Misalnya, siswa jurusan IPA memilih biologi. Maka, dia tidak mengerjakan fisika dan kimia saat UN. (cr13)
Rahma-Rahmi, pasien kembar dempet yang berhasil dioperasi di RSAB beberapa waktu lalu. BPJS Kesehatan berkontribusi dalam pembiayaan operasi si kembar ini. Namun kini BPJS Kesehatan dengan RSAB memilih melakukan talak 1. Foto: Cyntia Latuma/RSAB
batampos.co.id – Penghentian sementara kerjasama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dengan Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) memunculkan tanda tanya di benak masyarakat. Terutama mereka yang sering menggunakan fasilitas kesehatan di RSAB dengan kartu BPJS Kesehatan.
Yudi, misalnya. Pegawai Badan Pengusahaan (BP) Batam ini sudah satu tahun rutin mengajak anaknya terapi okupasi di Pusat Tumbuh Kembang Anak RSAB. Terapi itu sangat dianjurkan untuk anaknya yang berkebutuhan khusus.
“Seminggu dua kali, anak saya terapi okupasi,” tuturnya.
Terapi itu sangat membantunya. Terutama bagi ia yang memiliki jam kerja sibuk. Selain itu, para perawat pun sudah mengetahui riwayat medis anaknya.
Hingga saat ini, Yudi belum menemukan rumah sakit lain yang memiliki layanan terapi okupasi yang dijamin dengan BPJS Kesehatan. Ada satu tempat lain, sebenarnya, yang juga menyediakan terapi okupasi. Namun, lembaga tersebut lembaga swasta dan belum dijamin BPJS Kesehatan.
“Saya tidak tahu ada masalah apa antara BPJS Kesehatan dan RSAB. Apakah memang RSAB yang tidak mau melayani? Atau karena BPJS belum membayar (klaim) RSAB?” ujarnya lagi.
Ia berharap, permasalahan antara BPJS Kesehatan dan RSAB dapat segera diselesaikan. Hingga kerjasama itu dapat terjalin lagi. Sebab, bukan hanya ia, yang membutuhkan terapi okupasi tersebut.
Ia melihat, masih banyak orang tua lain yang membawa anaknya terapi di pusat tumbuh kembang RSAB tersebut. Tidak semua mereka berkecukupan untuk membiayai terapi anak-anaknya. Bahkan, banyak juga pasien yang tinggal di pulau-pulau sekitar Batam.
“Saya harap BPJS bisa melihat kondisi ini. BPJS jangan hanya mengejar kuantitas peserta yang bergabung tetapi juga harus memperhatikan jumlah fasilitas yang tersedia,” ujarnya.
Selama ini, RSAB menjadi rumah sakit rujukan dengan fasilitas paling lengkap di Batam. Dengan demikian, RSAB akan lebih bisa menyentuh ke masyarakat-masyarakat yang membutuhkan.
“Jangan sampai rumah sakit tak dibayar jadi mereka tak mau lagi kerjasama,” katanya. (ceu)
Warga Tanjunguma ramai-ramai melihat lumba-lumba yang mati terdampar di pantai Tanjung Tritip, Senin (26/12/2016). Foto: cecep mulyana/batampos
batampos.co.id – Warga Tanjunguma, tepatnya disekitar Pantai Pak Musa Tanjung Tritip, dihebohkan dengan keberadaan seekor lumba-lumba tak bernyawa yang terdampar di pinggir pantai tersebut, Senin (26/12) siang.
Cerita salah satu warga setempat, Dakir mengatakan, lumba-lumba itu terbawa arus pasang yang terjadi sejak pagi hari.
“Sekira pukul 12.00 WIB, air surut dan lumba-lumba itu sudah tergeletak mati berjarak kurang lebih 50 meter dari tepi pantai,” ujarnya.
Menurutnya, lumba-lumba itu mati akibat tertembak. “Di bagian badannya ada lubang dalam seperti bekas peluru,” terangnya.
Dari siang hingga sore, warga berbondong-bondang melihat lumba-lumba malang itu. Banyak anak-anak yang mengerumuni lumba-lumba tersebut, padahal bau amis sudah mulai merebak.
“Tidak tahu mau diapakan. Biasanya dibiarkan saja, hingga terbawa arus lagi,” ucap Dakir.
Hal serupa sebelumnya juga pernah terjadi beberapa tahun lalu, tepatnya di tepi pantai yang tak berada jauh dari Pantai Pak Musa. Dakir menjelaskan, kala itu seekor lumba-lumba yang terdampar tersebut tidak diketahui pasti penyebab matinya, karena tidak ada ditemukan luka.
“Yang dulu itu lebih besar dari yang sekarang. Ini (lumba-lumba sekarang) sepertinya masih yang anak,” pungkasnya. (cr15)
Calon penumpang pelabuhan Internasional Batamcenter memadati pintu masuk keberangkatan, Senin (26/12/2016). Masa liburan Natal dan Tahun baru jumlah penumpang mengalami peningkatan. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos.co.id – Bepergian ke luar negeri masih menjadi pilihan masyarakat Batam untuk mengisi libur Natal dan tahun baru.
Pelabuhan Internasional Batam Centre mencatat, hingga pukul 13.00 WIB, Senin (26/12/2016) penuh sesak. Jumlah penumpang yang berangkat dari Batam ke Singapura mencapai 11.000 penumpang.
“Kalau hari sebelumnya, Minggu (24/12), jumlah yang berangkat sekitar 8.000 orang,” kata Manajer Operasional Pelabuhan Internasional Batamcentre, Nika Astaga.
Begitu membludaknya penumpang ke Singapura, sejumlah perusahaan pelayaran menambah trip. Dari awalnya hanya 42 trip ke Singapura, jumlahnya menjadi 55 trip. Sementara trip ke Malaysia tetap normal 36 trip.
“Sebenarnya masih akan menambah lagi tetapi pihak syahbandar melarang. Ya sudah, tak apa,” ujarnya lagi.
Trip tambahan itu sudah ada sejak Minggu (25/12) lalu. Dan diperkirakan masih tetap akan ada di hari ini, Selasa (27/12).
Menurut Nika, jumlah orang yang keluar Batam akan mencapai puncaknya di H+2, Selasa (27/12) ini. Diperkirakan, jumlahnya mencapai lebih dari 12.050 penumpang.
Ini seperti yang terjadi pada tahun lalu. Pada H+1 Natal, jumlah penumpang yang berangkat ke luar negeri mencapai 10.000 orang. Sementara di H+2 Natal, jumlahnya meningkat menjadi 12.050 orang.
“Kalau dilihat dari tahun lalu, puncaknya ada di tanggal 27 Desember,” katanya.
Pelabuhan Internasional Batamcentre, siang itu, penuh sesak dengan manusia. Sebagian besar hendak berangkat ke luar negeri. Baik itu ke Singapura maupun malaysia.
Kondisi jalan di depan pelabuhan juga padat. Kemacetan sempat terjadi. Polisi bahkan menutup jalan putar arah dari Mega Mall ke Pelabuhan Batamcentre. Lalu lintas di area parkir pelabuhan tak kalah padatnya.
“Kami sedang mengusahakan lahan di samping pelabuhan sebagai area parkir. Tapi masih belum disetujui,” ujarnya.
Meskipun area parkir masih terbatas, sejumlah fasilitas lain di Pelabuhan Batamcentre sudah mendapat perbaikan. Seperti misalnya, pelantar ponton yang sudah diperbanyak menjadi tiga buah. Juga ruang tunggu yang sudah diperluas. Hingga mampu memuat lebih dari 500 orang.
Senin (26/12) kemarin, manajemen pelabuhan juga mengaktifkan satu unit mesin x-ray tambahan. Ini dilakukan untuk mempercepat antrian ketika hendak berangkat. Biasanya, pelabuhan hanya mengaktifkan satu unit mesin x-ray.
Sementara untuk pengamanan, manajeman juga meminta 36 petugas keamanan mereka lembur kerja. Itu juga masih ditambah bantuan dari polisi dan semua instansi terkait.
“Perintah Bapak Kapolri, kita harus siaga satu. Termasuk di pelabuhan,” katanya. (ceu)
Sekretaris Perusahaan (Sekper) PLN Batam, Samsul Bahri. Foto: istimewa
batampos.co.id – Ancaman 480 pegawai PLN Batam yang tergabung dalam Serikat Pekerja PLN Batam yang akan mogok kerja tiga hari di awal 2017–jika tarif listrik Batam (TLB) yang baru tak juga disahkan hingga akhir 2016 ini, benar-benar menjadi persoalan serius. Pasalnya, jika pegawai mogok, maka operasional PLN Batam terhenti total sehingga aktivitas ekonomi Batam-Bintan bisa lumpuh total.
Sekretaris PLN Batam Samsul Bahri yang dihubungi Batam Pos terkait rencana mogok massal itu mengaku hanya bisa mengimbau, para pegawai PLN Batam agar tidak melakukan aksi mogok massal. Karena bila hal itu dilakukan, pasokan listrik PLN Batam akan berhenti total.
“Kalau bisa jangan (mogok), kawan-kawan serikat bisa bersikap realistis. Kalau mogok, tak ada operasi, Batam dan Bintan bisa gelap (blackout),” ungkapnya, Senin (26/12/2016).
Namun Samsul menegaskan pihaknya hanya bisa mengimbau. Pihaknya tak bisa membendung aksi yang hendak dilakukan 480 pegawai PLN Batam di semua lini itu. Karena keberadaan serikat di luar kewenangan managamen.
“Perusahaan dan serikat memiliki payung hukum yang berbeda. Aksi itu di luar kuasa managemen,” kata Samsul.
Informasi yang diterimanya, aksi yang dilakukan serikat pekerja untuk menyelamatkan perusahaan yang sudah berada di ujung tanduk.
“Itu hak mereka, wajar jika ingin membela perusahaan yang sangat mereka cintai,” bebernya.
Para pegawai terpaksa melakukan aksi mogok akibat penyesuaian tarif yang diajukan PLN Batam untuk keandalan listrik batam dan sekitarnya belum diberikan lampu hijau.
“Padahal kita tak semata-mata mencari keuntungan, apa yang kita dapat (keuntungan) langsung dikembalikan kepada masyarakat. Untuk meningkatkan keandalan hingga mengembangkan jaringan,” katanya.
Karena itu, pihaknya berharap DPRD dan Pemerintah segera mengambil keputusan, sehingga keandalan listrik di Batam bisa terus terjaga dengan baik. (ceu)
batampos.co.id – Pulau Batam dan Bintan terancam blackout di awal tahun 2017. Ini tidak boleh terjadi karena bisa melumpuhkan perekonomian Batam dan Bintan. Para pengambil kebijakan harus segera turun tangan!
Tapi ancaman itu telah dilontarkan dan bakal menjadi kenyataan. Aksi yang dilakukan selama tiga hari itu sebagai bentuk protes pegawai PLN Batam atas ketidakpastian penyesuaian Tarif Listrik Batam (TLB) yang diajukan sejak awal tahun 2016 lalu.
“Bila penyesuaian tak direalisasikan hingga akhir tahun, 480 karyawan dari sistem pembangkit hingga pelayanan akan mogok kerja di awal tahun nanti,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Serikat Pekerja PLN Batam, Bukti Panggabean.
Sebelum melakukan aksi unjuk rasa, mereka akan melayangkan surat pemberitahuan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri serta instansi terkait. “Tanggal pastinya masih kita koordinasikan dengan pengurus yang lain,” ungkap Bukti.
Bila aksi tersebut berhasil direalisasikan, suplai listrik dari PLN Batam yang sudah mencapai Pulai Bintan, Belakangpadang, hingga Sembulang akan terhenti. “Tidak ada lagi yang mengoperasikan pembangkit maupun pelayanan,” beber Head of Revenuew Assurance PLN Batam ini.
Ia mengatakan, upaya bright PLN Batam membuat tangguh listrik di Batam menemui banyak hambatan. Pengajuan penyesuaian tarif setara Tarif Listrik Nasional belum menemui titik terang.
Lambannya pembahasan menyebabkan keuangan anak perusahaan PT PLN Persero itu terus memburuk, menanggung kerugian akibat menjual listrik di bawah Biaya Pokok Produksi (BPP).
“BPP PLN Batam Rp 1.388, namun harus kita jual Rp 900-an Rupiah per kWh,” ungkapnya.
Sedangkan persero yang mendapatkan subsidi dari pemerintah saja, sudah menetapkan tarif Rp 1.459 per-kWh. “Padahal BPP nya sama, kita juga menggunakan pembangkit gas, solar, dan batubara” ungkap dia.
Sebelumnya, PLN bisa menutupi kerugian harga jual listrik rumah tangga dengan subsidi silang dari golongan industri, ditopang deposito dari tabungan yang saat itu mencapai Rp 1 triliun.
Kini, subsidi silang makin sulit dilakukan, karena persentase pelanggan rumah tangga terus menanjak dari 32 persen menjadi 37 persen. Sebaliknya, sektor industri terus menurun, dari 32 persen menjadi 25 persen.
Simpanan PLN pun terus tergerus, hingga keuangan mereka terseok-seok. Berdasarkan hasil audit Price Waterhouse Coopers (PWC), dari Januari hingga Juni 2016, keuangan PLN Batam sudah minus Rp 26 miliar.
Ketua Serikat Pekerja PLN Batam, Mulnawarman menambahkan, bila kondisi keuangan terus berlangsung, keandalan listrik di Batam akan terancam. Dengan keadaan ini, jangankan investasi pembangkit listrik untuk kebutuhan jangka panjang warga Batam, untuk membeli bahan baku saja mereka mulai kesulitan.
Jika tak disikapi dengan bijak, krisis energi seperti yang terjadi di dearah-daerah lainnya di Indonesia akan terjadi di Batam. Bila listrik sudah terganggu, otomatis perekonomian di Batam dan pulau Bintan akan tersendat. Karena seluruh industri dan sektor perekonomian membutuhkan setrum.
Hal tersebut membuat 480 karyawan PLN Batam resah. “Kalau PLN kolaps, bukan nasib kami saja yang terancam, sistem kelistrikan di Batam, Bintan dan pulau sekitarnya juga akan terganggu,” katanya.
Mereka khawatir, nasib PLN Batam akan seperti saudara mereka di PLN Tarakan.
Karena tidak ada dukungan pemerintah, per 1 Januari 2017 pelayanan listrik tarakan diambil alih PLN Persero.
“Kalau Batam diambil alih persero, tarifnya bisa lebih tinggi dari tarif yang diajukan PLN Batam,” bebernya.
Di tangan persero, pengembangan jaringan ke pulau yang belum teraliri listrik akan semakin sulit, akibat birokrasi yang panjang. Setiap kebijakan yang diambil, harus ada persetujuan pusat.
“Contohnya Pulau Bintan dan Belakang Padang, akhirnya PLN Batam juga yang suplai listriknya,” ungkapnya.
Sebelum hal tersebut terjadi, para pekerja mengambil sikap untuk melakukan aksi mogok massal. “Kita tak ingin keandalan listrik di batam terganggu,” ungkapnya.
Karena itu, ia meminta seluruh pihak memahami kondisi PLN Batam. “Kami berharap, penyesuaian tarif bisa segera direalisasikan,” ungkapnya. (cew)
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, Rudi Sakyakirti. Foto: Wijaya Satria/ Batam Pos
batampos.co.id – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam mencatat sepanjang tahun 2016 ini terdapat sebanyak 67 perusahaan yang tutup. Jumlah ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2015 yang hanya 54 perusahaan.
Kepala Disnaker Kota Batam, Rudy Sakyakirti mengatakan tutupnya perusahaan ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya masalah finansial, abis kontrak, dan proyek selesai.
“Itu jumlah yang melapor ke kami, kebanyakan karena proyek sudah selesai,” kata Rudy.
Bertambahnya perusahaan yang tutup ini, tentunya mempengaruhi angka pencari kerja di Batam. Data Disnaker hingga November ini menyebutkan terdapat 13 ribu pencari kerja yang terdaftar.
Saat ditanyai masalah perusahaan yang buka pada tahun 2016 ini, dia menyebutkan belum mengetahui ada berapa perusahaan yang telah buka.
“Kemarin informasinya ada yang buka di Mukakuning, tapi hanya butuh tenaga kerja 50 orang, yang daftar ribuan orang,” sebut mantan kadisperindag Batam ini.
Dia berharap perusahaan yang buka mampu mengakomodir jumlah pencari kerja yang ada di Batam, karena menurut dia hingga saat ini Batam masih menarik bagi pencari kerja dari luar.
“Harapannya tentu investasi terus berjalan, demi terciptanya lapangan kerja. Dan angka pencari kerja bisa menurun,” ujar pria asal Sumatera Barat ini. (cr17)
batampos.co.id – Pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Batam tahun 2017 masih terjadi pro dan kontra di tubuh DPRD Batam.
Sebagian anggota dewan menarik ulur pembahasan, dengan harapan agar pokok-pokok pikiran mereka melalui reses diakomodir Pemerintah Kota (Pemko) Batam, tapi sebagian lagi malah meminta agar Badan Anggaran (Banggar) DPRD Batam segera mengesahkan pembahasan APBD 2017.
Anggota Komisi III DPRD Kota Batam, Muhammad Jefri Simanjuntak misalnya. Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, meminta Banggar DPRD Batam segera membahas APBD Batam 2017.
“Kita berharap (APBD 2017) segera dibahas. Kasihan rakyat karena dengan tertundanya pembahasan, akan menunda pembangunan,” ujarnya.
Ketua DPC PKB Batam itu juga menilai, apabila awal tahun tidak disahkan, Wali Kota jelas akan mengeluarkan Peraturan Wali Kota (Perwako). Namun begitu, semua kegiatan tahun 2017 akan mengikuti anggaran lama, yakni sesuai APBD tahun 2016.
“Gaji bisa, tetapi kegiatan pembangunan seperti infrastruktur dan hal-hal lainnya diluar gaji itu tidak diperbolehkan,” tuturnya.
Dengan demikian, sambungnya, Batam akan dipastikan kehilangan insentif sebesar Rp 25 miliar dari pemerintah pusat terhadap pengesahan APBD.
“Jadi saya berharap teman-teman di Banggar dan DPRD bersama Pemko harus segera membahas. Masalah pokok-pokok pikiran, saya rasa semua yang sudah tertuang di musrembang (musyawarah rencana pembangunan, red), baik itu tingkat kelurahan dan kota semua sudah menyangkut pokok-pokok pemikiran DPRD,” sebut Jefri.
Sekarang, kata Jefri, bagaimana disini harus dibuka ruang serius, jangan sampai APBD tidak diketok sampai akhir 2016.
“Kasihan, masyarakat tidak bisa pakai BPJS, karena tidak ada lagi pembiayaan untuk kesahatan, honor-honor juga. Bayangkan kalau sempat tertunda, ini menjadi sejarah pertama,” terangnya.
Namun demikian, Jefri mengaku masih tetap optimis pembahasan APBD bisa terkerjar sebelum tahun 2016 berakhir. Tapi, kembali dia mengingatkan bahwa sekarang tergatung DPRD dan Pemko sama-sama mengedepankan masyarakat, membuka hati dan sama-sama memulai pembahasan APBD.
“Pagi dan siang masih bisa kita kejar. Kalau kita masih punya pikiran dan hati yang jernih untuk memikirkan masyarakat Batam,” ungkapnya.
Sementara itu, sejumlah anggota DPRD Batam beberapa waktu lalu masih tetap memaksakan agar semua usulan hasil reses diakomodir dalam APBD Kota Batam tahun 2017.
“Ya, semua harus masuk. Punya saya tidak ada sama sekali. Itu permintaan dari warga. Harusnya Pemko bisa mengakomodir,” kata Harmidi, anggota Komisi I dari Fraksi Gerindra, Jumat (23/12) lalu. (rng)
batampos.co.id – Pelaku penusukan terhadap Ketua Rw 05 Kampung Harapan, Kelurahan Bengkong Sadai, Iswandi akhirnya menyerahkan diri ke Mapolresta Barelang, Sabtu (24/12/2016) sore.
Saat menyerahkan diri ke Polresta Barelang, ia didampingi oleh Ketua Ketua umum Ikatan Keluarga Besar Sumatra Selatan (IKBSS) Kota Batam, Rizan Nika Astaga.
Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Memo Ardian membenarkan bahwa pada saat ini pihaknya telah mengamankan pelaku penusukan terhadap Bustanul pada Sabtu sore kemarin.
“Pada saat ini pelaku sudah menyerahkan diri dan kita sudah kita amankan sejak Sabtu sore kemarin sekitar jam setengah tujuh. Ia didampingi sama ketua IKBSS, Nika Astaga,” ujarnya Minggu (25/12/2016) siang.
Namun, saat ditanyakan tentang motif penusukan yang dilakukan oleh pelaku, Memo belum bisa menjelaskan lebih jauh. Sebab, hingga Minggu sore pihaknya masih memintai keterangan dari pelaku.
“Saat ini sedang kita proses dan masih dimintai keterangan,” imbuhnya.
Sementara, dari keterangan Kapolsek Bengkong AKP Buala Harefa, penusukan terhadap Bustanul bermula dari pertengkaran antara pelaku dengan korban terkait permasalahan air bersih.
“Informasinya dulu pelaku ini merupakan mantan Rt di daerah itu (Kampung Harapan, red),” katanya.
Setelah masa jabatan pelaku berakhir, masyarakat tidak pernah lagi melihat pelaku dalam beberapa bulan. Namun, masyarakat baru melihat pelaku kembali pasca kejadian penusukan ini.
“Masih kita dalami motif penusukan yang dilakukan oleh pelaku,” ujarnya. (cr1)