Kamis, 2 April 2026
Beranda blog Halaman 9001

Pemprov Bangun Dua SMA Baru di Tiban dan Batam Center

0

batampos.co.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri berencana membangun dua unit sekolah baru di Batam. Dua sekolah baru tersebut akan dibangun di wilayah Tiban Indah, Sekupang dan satu lagi di wilayah Batam Center

”Dua-duanya SMA negeri. Lagi proses pembahasan,” ujar Kepala Disdik Kepri, M. Dali, Minggu (15/8).

Rencana pembangunan dua unit sekolah baru ini, sebagai upaya untuk meningkatkan fasilitas pendidikan di Batam. Pasalnya, selama ini ketika proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA/SMK, selalu bermasalah dengan kuota daya tampung sekolah negeri yang terbatas.

Setiap kali PPDB, ribuan calon siswa tidak tertampung karena kekurangan lokal ataupun sekolah. Bahkan, ada satu sekolah yang terpaksa harus menampung siswa melebihi dari daya tampung ideal.

Pada PPDB tahun ini, banyak siswa yang tidak tertampung di SMK dan SMA negeri karena jumlah siswa yang akan masuk sekolah jauh lebih besar dari daya tampung yang tersedia.

Seperti misalnya, belum lama ini puluhan orangtua calon siswa yang mendaftarkan anaknya ke SMAN 3 Batam di Batam Center, tiap hari mendatangi sekolah karena anak mereka tak diterima saat PPDB di sekolah tersebut.

Mereka berharap ada solusi sehingga anak-anak mereka dapat bersekolah. ”Kami ditawarkan solusi ke sekolah lain yang jaraknya jauh. Padahal, rumah kami dekat sini,” ujar AW, salah satu orangtua calon siswa.

Karena itu, sambung Kepala Dinas, dengan dibangunnya dua sekolah baru, persoalan daya tampung ini ke depan diharapkan dapat terurai.

”Kita terus benahi biar persoalan yang terus terjadi setiap tahun (PPDB) perlahan dapat diatasi,” ujar Dali. (*/jpg)

Ini Penyakit Penyerta Kematian Pasien Covid-19 di Batam

0

batampos.co.id – Kasus kematian pasien positif Covid-19 di Kota Batam hingga data perminggu (15/8) sudah mencapai 745 orang.

Mayoritas pasien meninggal dengan memiliki penyakit penyerta (komorbid), khususnya Diabetes Melitus.

Berdasarkan data Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Batam, ada 203 kasus kematian pasien positif Covid-19 diikuti komorbid Diabetes Melitus.

Data ini merupakan data kumulatif 14 Agustus.

”Iya, paling banyak pasien Covid-19 yang meninggal di Kota Batam memiliki penyakit bawaan diabetes. Dari data semalam (kemarin malam, red), jumlahnya mencapai 203 kasus,” ujar Ketua Bidang Kesehatan Satuan Tugas Covid-19 Batam, Didi Kusmarjadi, Minggu (15/8).

Selain diabetes, ada komorbid hipertensi yang menjadi penyakit penyerta dalam 166 kasus meninggalnya pasien Covid-19 di Batam.

Kemudian, ada pneumonia atau lebih dikenal dengan radang paru-paru yang angkanya mencapai 101 kasus kematian.

Kemudian ada komorbid sindrom distres pernapasan akut dengan 48 kasus kematian.

Lalu menyusul komorbid gagal jantung atau dikenal dengan congestive heart failure yang jumlahnya capai 35 kasus kematian.

”Ada juga komorbid sepsis dan komorbid tekanan darah tinggi masing-masing ada 32 kasus kematian,” tambah Didi.

Kemudian menyusul pasien gagal ginjal kronis sebanyak 16 kasus meninggal serta pasien dengan penyakit jantung koroner 14 kasus kematian dan TBC 13 kasus.

”Ada juga penyakit lain sepergi HIV, asma, paru, gagal ginjal serta penyakit lainnya,” sebut Kadinkes Kota Batam tersebut.

Jika melihat data dari 745 pasien Covid-19 meninggal di Batam, sebanyak 364 memiliki penyakit bawaan atau komorbid dan 381 lain tak memiliki penyakit bawaan atau komorbid.

Sementara itu, berdasarkan data tim gugus tugas, kasus terkonfirmasi positif di Batam berjumlah 24.948 kasus.

Sebanyak 1.013 kasus di antaranya masih aktif/dirawat. Untuk pasien sembuh, ada 23.190 orang dan pasien positif yang meninggal dunia ada 745 pasien.(jpg)

Dua Masalah Penyebab Mahalnya Harga Tes PCR di Indonesia

0

batampos.co.id – Indonesia Corruption Watch (ICW) mengkritik mahalnya harga tes polymerase chain reaction (PCR) di Indonesia. Kritik ini disampaikan, karena harga tes PCR di Indonesia lebih mahal setelah adanya informasi terkait perbandingan tarif PCR di India.

Dalam sejumlah pemberitaan diketahui bahwa Pemerintah India memangkas tarif PCR dari 800 Rupee menjadi 500 Rupee atau sekitar Rp 96.000. Sedangkan di Indonesia, Kementerian Kesehatan melalui Surat Edaran Nomor HK.02.02/I/3713/2020 menetapkan tarif tertinggi untuk pemeriksaan PCR sebesar Rp 900.000 atau sekitar 10 kali lipat dari tarif di India.

Peneliti ICW Wana Alamsyah menyampaikan, mahalnya tarif pemeriksaan PCR di Indonesia, tentu berdampak pada upaya Pemerintah dalam memutus rantai penularan Covid-19. Banyaknya kasus pasien Covid-19 tanpa gejala dan mahalnya tarif pemeriksaan, menghambat sejumlah warga untuk melakukan tes PCR secara mandiri.

“Berdasarkan penjelasan dari Kementerian Kesehatan, mahalnya tarif pemeriksaan karena bahan baku untuk tes PCR masih bergantung pada impor dan harga reagen yang mahal,” kata Wana dalam keterangannya, Senin (16/8).

Dari penjelasan yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan, ICW menemukan dua permasalahan. Pertama, tidak ada biaya impor yang dibebankan kepada pelaku usaha untuk produk test kit dan reagent laboratorium. Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) huruf c Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34/PMK.04/2020 tentang Pemberian Fasilitas Kepaeanan dan/atau Cukai Serta Perpajakan atas Impor Barang untuk Keperluan Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dijelaskan bahwa atas impor barang untuk keperluan penanganan pandemi Covid-19 diberikan fasilitas kepabeanan dan/atau cukai serta perpajakan berupa pembebasan pungutan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 salah satunya tes PCR.

“Tidak adanya biaya impor barang tentu akan mempengaruhi komponen dalam menyusun tarif PCR. Yang menjadi masalah adalah publik tidak pernah diberikan informasi mengenai apa saja komponen pembentuk harga dalam kegiatan tarif pemeriksaan PCR,” ungkap Wana.

Kedua, hasil penelusuran ICW menemukan bahwa rentang harga reagen PCR yang selama ini dibeli oleh pelaku usaha senilai Rp 180.000 hingga Rp 375.000. Setidaknya ada enam merek reagen PCR yang beredar di Indonesia sejak 2020, seperti Intron, SD Biosensor, Toyobo, Kogene, Sansure, dan Liverifer.

Jika dibandingkan antara penetapan harga dalam Surat Edaran milik Kementerian Kesehatan dengan harga pembelian oleh pelaku usaha, gap harga reagen PCR mencapai 5 kali lipat. Dia menuturkan, Kementerian Kesehatan tidak pernah menyampaikan mengenai besaran komponen persentase keuntungan yang didapatkan oleh Pelaku Usaha yang bergerak pada industri pemeriksaan PCR.

“Kebijakan yang dibuat tanpa adanya keterbukaan berakibat pada kemahalan harga penetapan pemeriksaan PCR dan pada akhirnya hanya akan menguntungkan sejumlah pihak saja,” beber Wana.

Oleh karena itu, ICW meminta Kementerian Kesehatan segera merevisi Surat Edaran Nomor HK.02.02/I/3713/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan PCR. Selain itu, Kementerian Kesehatan segera membuka informasi mengenai komponen penetapan tarif PCR kepada publik.

“Kementerian Kesehatan harus memberikan subsidi terhadap pemeriksaan PCR yang dilakukan secara mandiri,” harap Wana.

Mengenai polemik mahalnya harga tes PCR, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengambil langkah tegas dengan meminta harga tes PCR diturunkan. Hal ini diharapkan bisa memperbanyak testing atau memperbanyak pemeriksaan tes Covid-19.

“Saya minta agar biaya tes PCR berada di kisaran Rp 450 ribu sampai Rp 550 ribu,” kata Jokowi dalam keterangannya, Minggu (15/8).

Kepala Negara menuturkan, dengan penurunan harga tes PCR bisa memperbanyak tes pemeriksaan Covid-19. Sehingga penurunan harga, menjadi salah satu cara untuk memperbanyak tes tersebut. “Salah satu cara untuk memperbanyak testing adalah dengan menurunkan harga tes PCR. saya sudah berbicara dengan Menkes mengenai hal ini,” pungkas Jokowi.(jpg)

Presiden Jokowi Minta Harga Tes PCR Rp 450-550 Ribu

0

batampos.co.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta harga tes polymerase chain reaction (PCR) diturunkan. Penurunan harga itu diharapkan bisa memperbanyak testing atau memperbanyak pemeriksaan tes Covid-19.

“Saya minta agar biaya tes PCR berada di kisaran Rp 450 ribu sampai Rp 550 ribu,” kata Jokowi dalam keterangannya, Minggu (15/8).

Mantan gubernur DKI Jakarta itu mengatakan, penurunan harga tes PCR bisa memperbanyak tes pemeriksaan Covid-19. “Salah satu cara untuk memperbanyak testing adalah dengan menurunkan harga tes PCR. saya sudah berbicara dengan Menkes mengenai hal ini,” tegas Jokowi.

Dia mengimbau agar hasil tes PCR bisa segera diketahui dalam waktu 1×24 jam. “saya juga minta agar tes PCR, bisa diketahui hasilnya dalam waktu maksimal 1×24 jam, kita butuh kecepatan,” harap Jokowi.

Sebagaimana diketahui, biaya tes PCR yang mahal di Indonesia menjadi sorotan. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang enggan segera melakukan tes saat bergejala.

Tingginya harga tes PCR semakin menjadi perbincangan setelah diketahui bahwa India menetapkan kebijakan yang membuat harga tes PCR jauh lebih murah. Sebagai perbandingan, rata-rata tes PCR di Indonesia menghabiskan biaya Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta.

Bahkan, harganya bisa lebih tinggi jika menginginkan hasil yang lebih cepat. Sementara itu, tes di India lebih murah, yakni 500 rupee atau berkisar Rp 100 ribu.

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama menuturkan, pada September 2020 ketika akan pulang kembali ke Jakarta dari New Delhi, dirinya menjalani tes PCR sebelum terbang. ”Petugasnya datang ke rumah saya dan biayanya 2.400 rupee atau sekitar Rp 480.000. Waktu itu tarif tes PCR di negara kita masih lebih dari Rp 1 juta,” tuturnya.

Kemudian, pada November 2020, Pemerintah Kota New Delhi menetapkan harga baru yang jauh lebih rendah, yakni hanya 1.200 rupee atau Rp 240.000. Yoga menuturkan bahwa harga itu turun separo dari yang pernah dia bayar pada September 2020. Di laboratorium maupun RS swasta, biayanya malah lebih murah, yakni Rp 160 ribu atau 800 rupee.(jpg)

70.299 UMKM Terima Bantuan di Kepri

0

batampos.co.id – Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Provinsi Kepri, Agusnawarman mengatakan sepanjang priode Januari-Juli 2021 ini, sebanyak 70.299 pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Provinsi Kepri sudah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Pusat. Adapun besar bantuan yang sudah diterima berjumlah Rp 84,3 miliar.

“Di masa pandemi Covid-19 ini, tak sedikit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang terkendala dampak lesunya perekonomian. Namun pemerintah menyadari, UMKM adalah benteng untuk menggerakan ekonomi daerah. Makanya dibantu lewat Program Bantuan Usaha Mikro (BPUM) dari Kementerian Koperasi,” ujar Agusnawarman, Jumat (13/8) di Tanjungpinang.

Mantan Sekretaris Dewan (Sekwan) Bintan tersebut menjelaskan, pada tahun 2020 total anggaran bantuan untuk UMKM di Provinsi Kepri sebesar Rp 92 miliar yang diperuntukkan bagi 38.541 pelaku UMKM. Adapun pada tahun lalu men- dapatkan bantuan untuk setiap pelaku UMKM adalah sebesar Rp 2,4 juta. Sedangkan pada tahun ini, jumlah berubah menjadi Rp 1,2 juta.

“Tanggal 12 Agustus 2021 kita kembali ajukan lagi untuk pencairan. Semoga usulan yang kita sampaikan segera mendapatkan respon dari Kemenkop,” jelasnya.

Menurutnya, semua kabupaten/kota di Provinsi Kepri sudah mengajukan bantuan tersebut. Pihaknya hanya meneruskan berdasarkan data yang disampaikan oleh kabupaten/kota. Terbanyak dari Batam yaitu 33.973 UMKM, dengan anggaran yang sudah cair sebesar Rp 40,7 miliar. Disusul oleh Lingga dengan 8.213 UMKM, dengan total Rp 9,8 miliar.

Sedangkan Natuna sebanyak 6.800 UMKM, dengan pagu Rp 7,8 miliar. Sebanyak 6.463 UMKM di Bintan mendapat total Rp 7,7 miliar. Lalu Kepulauan Anambas mendapat Rp 6,7 miliar untuk 5.587 UMKM. Untuk Karimun mendapat Rp 6,1 miliar untuk 5.148 UMKM. Untuk Kota Tanjungpinang, bantuan diterima oleh 4.415 UMKM dengan pagu sebesar Rp 5,2 miliar.

“Bantuan itu langsung masuk ke rekening mereka. Jadi kami hanya membantu mendata dan mengusulkan saja. Kita bersyukur sekali ada bantuan ini dari pemerintah pusat. Karena ini bukan perkara mudah untuk menjolok dana pusat,” jelasnya lagi.

Lebih lanjut katanya, untuk program Pemprov Kepri bagi pelaku UMKM di Provinsi Kepri saat ini sedang dibahas. Karena ada wacana akan memberikan bantuan stimulus bagi 2.000 pelaku UMKM yang akan mengajukan pinjaman usaha modal sampai Rp 20 juta. Dalam hal ini, Pemprov akan bertanggungjawab dalam memenuhi bunga pinjaman tersebut.

Adapun sasarannya sebanyak 2.000 UMKM di Provinsi Kepri. Dipaparkannya, kebijakan tersebut mengukur dengan kemampuan anggaran daerah. Saat ini pihaknya tengah merancang Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Bank Riau Kepri. Kemudian akan segera disampaikan ke Gubernur. Pemprov menyiapkan bantuan bunga bank dengan kucuran dana sampai Rp 2 miliar.

“Teknisnya harus ada PKS dan Nota Kesepahaman dengan Bank Riau Kepri. Saat masih sedang kita rancang untuk dibahas lebih lanjut. Semoga program ini mendapatkan atensi dari Bank Riau Kepri,” tutupnya. (*/jpg)

Wali Kota Minta BPN Percepat Sertifikasi Lahan di Batam

0

batampos.co.id – Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, meminta Badan Pertanahan Nasional (BPN) Batam agar menggesa penyelesaian berbagai persoalan yang terkait dengan sertifikasi lahan di Batam saat ini.

Terutama, terkait sertifikasi lahan yang belum usai sampai saat ini. ”Salah satunya persoalan lahan kampung tua. Kita ingin persoalan ini cepat selesai, mumpung sekarang saya juga Kepala BP Batam,” ujar Rudi saat menghadiri pisah sambut Kepala Kantor Pertanahan Kota Batam lama, Memby Untung Pratama, dan Kepala Kantor Pertanahan Kota Batam yang baru, Makmur A. Siboro, di Kantor Wali Kota Batam, Jumat (13/8).

Selama ini, beberapa kampung tua sudah disertifikasi. Namun, di lokasi lain masih ada persoalan yang perlu diselesaikan. Ia berharap, Kepala BPN Batam yang baru bisa berkolaborasi dalam menyelesaikan persoalan lahan di Batam.

Sementara itu, kantor BPN Batam ditunjuk menjadi salah satu dari 12 kota kantor BPN di Indonesia yang diminta untuk menerbitkan sertifikat elektronik. Untuk tahap awal ini, sertifikat elektronik akan coba diterbitkan untuk instansi pemerintahan dan BUMN.

Kepala Kantor BPN Batam, Makmur Siboro, mengatakan, meskipun baru dilantik, pihaknya siap berkolaborasi dan bersinergi dengan Pemko Batam dan BP Batam untuk menggesa rencana dan melanjutkan tugas yang sudah dilakukan pejabat lama.

”Saya masih baru beberapa hari bertugas di sini. Jadi saya akan memetakan tugas yang akan dikerjakan dalam waktu dekat ini sesuai dengan target yang diberikan kementerian ketika saya ditugaskan untuk memimpin kantor BPN Batam,” ujarnya.

Sesuai yang disampaikan Wali Kota Batam, ada beberapa persoalan seperti penyelesaian sertifikasi kampung tua, menggesa penyelesaian kawasan Rempang-Galang, Kampung Reforma Agraria, PTSL, hingga pencatatan aset.

”Kami akan langsung bergerak, agar semua target bisa terselesaikan. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Jadi saya akan memetakan pekerjaan bersama tim nantinya,” ujarnya.

Kepala BPN sebelumnya, Memby Untung Pratama, mengatakan, persoalan pertanahan di Batam tidak mudah. ”Saya yakin kantor BPN Batam lebih maju dan bisa mencapai target yang lebih besar lagi,” ungkapnya. (*/jpg)

Penyempurnaan Pembangunan Pelabuhan Batu Ampar

0
Infografis Ibenk/batampos.co.id

Penyempurnaan pembangunan Pelabuhan Batu Ampar memerlukan anggaran yang cukup besar nilainnya mencapai Rp12 triliun.

Hal ini diutarakan oleh Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Muhammad Rudi.

BP Batam beberapa kali menjalin kerja sama dengan perusahaan pelat merah, namun hingga kini belum ada kejelasan.

“Untuk membangun pelabuhan ini menjadi sempurna, butuh Rp12 triliun. Tapi, belum ada perusahan masuk dan sekarang masih BP Batam yang membangun bertahap,” katanya.

Pihaknya membuka kesempatan bagi semua perusahaan yang sanggup mengembangkan guna mempercepat pembangunan pelabuhan tersebut.

“Kita sudah menjalin MoU dengan Pelindo II dan sampai sekarang belum ada perkembangan,” katanya.(*/esa)

Pemda Jangan Tutupi Data Covid-19

0

batampos.co.id – Karut-marut data kasus Covid-19 berlanjut. Beberapa waktu lalu, pemerintah mengumumkan bahwa data kematian terkini tidak akurat dan sedang dilakukan cleaning up alias perapian. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut ada keterlambatan laporan. Baik untuk kasus terkonfirmasi, sembuh, maupun meninggal.

Khususnya akibat peningkatan kasus selama dua bulan terakhir. Rilis resmi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika kemarin menunjukkan bahwa saat ini ada lebih dari 50 ribu kasus aktif yang belum ter-update status terakhirnya. Apakah berakhir dengan kondisi sembuh atau meninggal.

”Kementerian Kesehatan mendukung pemerintah daerah untuk menyelesaikan updating kasus ini dalam waktu sesingkat-singkatnya agar sesegera mungkin kita dapat menyajikan data yang lebih akurat dan tepat waktu,” ujar Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi kemarin (14/8).

Dia menegaskan, angka kematian tidak dihilangkan dari laporan harian yang disampaikan kepada publik setiap hari. Hanya, komponen angka kematian sedang diperbaiki agar pemerintah bisa menentukan level PPKM secara lebih tepat.

Nadia memastikan, pihaknya tetap berkomitmen tinggi terhadap transparansi data dan terus-menerus memperbaiki kualitas data nasional. Berdasar data terakhir, Nadia menyebut secara nasional terjadi penurunan kasus konfirmasi positif 18 persen jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya.

Meski demikian, ada perbedaan di setiap provinsi. Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Aceh, Gorontalo, dan Bangka Belitung mencatat peningkatan kasus lebih dari 20 persen jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Sementara itu, di provinsi-provinsi Jawa, ada tren penurunan kasus. Yang paling signifikan terjadi di DKI Jakarta dan Jawa Barat sehingga sangat memengaruhi tren pertambahan kasus secara nasional.

Nadia menyebutkan, per 12 Agustus, tidak ada provinsi yang mencatat bed occupancy rate (BOR) atau keterisian tempat tidur isolasi lebih dari 80 persen. Tentu hal itu menggembirakan sehingga dapat menekan beban sistem kesehatan di rumah sakit.

Namun, untuk BOR ICU, terdapat beberapa provinsi dengan BOR ICU lebih dari 80 persen, yaitu Bali, Kalimantan Timur, Bangka Belitung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Riau,” katanya.

Pada bagian lain, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta agar pemda tidak menutup-nutupi data terkait dengan Covid-19. Saat ini upaya pemerintah semakin masif untuk melakukan 3T (pengetesan, pelacakan, dan pengobatan), vaksinasi, fasilitas isoter, serta peralatan pengobatan.
”Saya titip kepada pemda, ndak perlu ada angka-angka yang ditutupi. Biar aja dibuka. Itu masalah kita rame-rame kok. Ndak ada yang salah. Yang salah kalau kita tutupi. Kalau kita patuh dengan protokol itu, pasti (angka kasus aktif) turun,” pesannya.(jpg)

Umrah Sudah Dibuka, Penggunaan Sinovac dan Sinopharm Masih Dikaji

0

batampos.co.id – Pemerintah Arab Saudi telah membuka pelaksanaan ibadah umrah pada 10 Agustus lalu. Untuk Indonesia, hingga kini penerbangan internasionalnya pun masih ditangguhkan oleh Saudi.

Konsul Haji KJRI Jeddah Endang Jumali mengatakan bahwa Arab Saudi saat ini masih melakukan kajian terkait penggunaan vaksin Sinovac dan Sinopharm. Hasil kajian tersebut akan segera diumumkan oleh Pemerintah Saudi.

“Untuk vaksin Sinovac dan Sinopharm yang digunakan sejumlah negara, Kementerian Kesehatan Arab Saudi masih melakukan kajian. Dalam waktu dekat, akan dirilis hasilnya secara resmi,” ungkap dia dalam keterangannya, Minggu (15/8).

Adapun informasi ini dia dapat setelah menggelar pertemuan dengan Deputi Urusan Umrah Kementerian Haji dan Umrah Kerajaan Arab Saudi Abdulaziz Wazzan di Kantor Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, Jeddah.

Saat ini, Kementerian Haji dan Umrah terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Hal ini untuk memastikan, apakah calon jamaah umrah dari negara lain yang sudah memperoleh 2 dosis kedua vaksin tersebut, perlu diberikan 1 dosis lagi (booster) dari 4 vaksin yang digunakan Saudi atau tidak.

“Sementara Sinovac dan Sinopharm saat ini sudah diakui WHO. Kemenag terus berkoordinasi dengan Kemenkes RI dan Kemenlu RI untuk membahas bersama masalah penggunaan vaksin ini,” sambungnya.

Diketahui juga bahwa Pemerintah Arab Saudi lebih memprioritaskan keselamatan dan kesehatan jamaah dalam pengaturan penyelenggaraan ibadah umrah di masa pandemi. Keselamatan dan kesehatan menjadi hal utama, bukan kepentingan ekonomi dan bisnis semata.

“Pelaksanaan ibadah umrah dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat, misalnya transportasi dalam kota hanya diisi 50 persen dari total kapasitas normal, dan akomodasi hotel dibatasi dua orang per kamar,” tegasnya.

“Untuk alasan keselamatan juga, kebijakan penangguhan masih diberlakukan, khusunya bagi negara yang penyebaran virus Covid-19 nya dinilai masih tinggi,” sambungnya.

Ada sejumlah negara yang masih ditangguhkan masuk ke Kerajaan Arab Saudi, antara lain India, Pakistan, Indonesia, Mesir, Turki, Argentina, Brasil, Afrika Selatan, dan Lebanon, Vietnam, Korut, Korsel, dan Afganistan.(jpg)

Lebih Mahal dari India, Biaya Tes PCR di Indonesia Disorot

0

batampos.co.id – Biaya tes PCR yang mahal di Indonesia menjadi sorotan. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang enggan segera melakukan tes saat bergejala.

Tingginya harga tes PCR semakin menjadi perbincangan setelah diketahui bahwa India menetapkan kebijakan yang membuat harga tes PCR jauh lebih murah. Sebagai perbandingan, rata-rata tes PCR di Indonesia menghabiskan biaya Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta.

Bahkan, harganya bisa lebih tinggi jika menginginkan hasil yang lebih cepat. Sementara itu, tes di India lebih murah, yakni 500 rupee atau berkisar Rp 100 ribu.

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama menuturkan, pada September 2020 ketika akan pulang kembali ke Jakarta dari New Delhi, dirinya menjalani tes PCR sebelum terbang. ”Petugasnya datang ke rumah saya dan biayanya 2.400 rupee atau sekitar Rp 480.000. Waktu itu tarif tes PCR di negara kita masih lebih dari Rp 1 juta,” tuturnya.

Kemudian, pada November 2020, Pemerintah Kota New Delhi menetapkan harga baru yang jauh lebih rendah, yakni hanya 1.200 rupee atau Rp 240.000. Yoga menuturkan bahwa harga itu turun separo dari yang pernah dia bayar pada September 2020. Di laboratorium maupun RS swasta, biayanya malah lebih murah, yakni Rp 160 ribu atau 800 rupee.

Kebijakan terbaru, Pemerintah Kota New Delhi pada awal Agustus 2021 membuat harga PCR kembali turun menjadi 500 rupee atau sekitar Rp 100 ribu. ”Kalau pemeriksaannya dilakukan di rumah klien, tarifnya adalah 700 rupee atau Rp 140 ribu. Sementara itu, tarif pemeriksaan rapid test antigen adalah 300 rupee atau Rp 60 ribu,” jelas Yoga.

Pemerintah Kota New Delhi juga meminta laboratorium swasta di kota itu bisa menyelesaikan pemeriksaan dan memberitahukan hasilnya ke klien dalam 1 x 24 jam. Termasuk melaporkannnya ke portal pemerintah yang dikelola Indian Council of Medical Research (ICMR). Dengan begitu, data segera dikompilasi di tingkat nasional sehingga mencegah keterlambatan pelaporan.

Meski demikian, kata Yoga, harus diteliti lebih lanjut mengapa pemerintah India sanggup menurunkan harga tes sebesar itu. Salah satu rekannya di India menyebutkan kemungkinan adanya subsidi dari pemerintah setempat. Ada juga informasi bahwa ada fasilitas keringanan pajak. Meski, dia belum bisa memastikan kebenaran informasi tersebut.

”Yang jelas, kalau harga tes lebih murah, jumlah tes di negara kita juga bisa lebih banyak sehingga lebih mudah mengendalikan penularan di masyarakat,” katanya.

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menyebutkan, untuk memasifkan testing dan tracing, seharusnya pemerintah bisa menggratiskan tes PCR. Itu terutama dalam konteks kepentingan penelusuran kontak. ”Yang bayar itu hanya untuk yang naik pesawat, yang keluar negeri, atau ke daerah untuk penerbangan atau perjalanan laut,” jelas Dicky.

Untuk kepentingan menemukan dan melacak kasus ketika terdeteksi ada klaster tertentu, menurut dia, tes PCR seharusnya digratiskan. ’’Jadi, ada masyarakat yang merasa khawatir karena kontak dengan pasien positif, dia bisa berinisiatif tes sendiri,” jelasnya. Dengan begitu, tracing bisa lebih masif. Sesuai standar WHO, rasio tracing yang ideal adalah 1:30.

Yang umum diketahui selama ini, pemerintah menggratiskan tes dalam rangka tracing. Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu begitu. ’’Saya punya banyak laporannya. Masyarakat yang merasa ada gejala itu ya tes sendiri, bayar sendiri. Indonesia masih yang pasif (soal testing, Red), belum termasuk yang gratis,” jelasnya. (*/jpg)