batampos.co.id – Pekerja keramba budidaya ikan di Jembatan III, Pulau Setokok menemukan sesosok mayat pria yang hanyut dan terapung tidak jauh dari keramba tempat kerja mereka, Jumat (25/9/2019) sekitar pukul 10.14 WIB.
Jenazah yang belum diketahui identitasnya ini sudah dievakuasi pihak kepolisian Batuaji untuk ditindaklanjuti.
Informasi yang didapat batampos.co.id, mayat tersebut pertama kali diketahui oleh Victor dan Iwan.
Saat itu keduanya hendak memberi makanan ikan di keramba yang mereka jaga. Saat ditemukan mayat dalam kondisi telungkup mengenakan jaket hitam, baju kaos merah dan celana jeans panjang.
Mayat juga sudah bengkak dan membusuk.
Personel kepolisian saat akan mengevakuasi mayat yang ditemukan di keramba budidaya ikan di Jembatan III, Pulau Setokok. Foto: Polsek Batuaji untuk batampos.co.id
“Mungkin terbawa arus dari jembatan dua. Badannya sudah bengkak semua,” ujar Victor kepada polisi.
Pihak kepolisian yang melakukam evakuasi belum bisa memastikan penyebab kematian korban.
Sebab secara kasat mata belum bisa dipastikan apakah ada tanda-tanda kekerasan atau tidak.
“Badannya sudah bengkak dan menghitam jadi belum bisa pastikan penyebabnya. Ini masih didalami petugas medis di rumah sakit,” ujar Kanit Reskrim Polsek Batuaji, Iptu Melki Sihombing.
Terkait hilangnya JS, waria yang terjun dari jembatan I Barelang sepekan yang lalu, Melky juga belum bisa memastikan. Apakah mayat tersebut adalah JS.
batampos.co.id – Penertiban kawasan protitusi terselubung di wilayah Tanjunguncang belum tuntas.
Kawasan Pokok Jengkol, Seialeng yang lokasinya tak jauh dari Masjid Agung Sultan Mahmud Riayat Syah, hingga saat ini masih beroperasi.
Padahal kawasan ini cukup santer dengan praktek prostitusi terselubungnya. Puluhan bangunan liar di pinggir jalan menuju pelabuhan Sagulung itu umumnya dijadikan kafe remang-remang yang disuguhi dengan wanita penghibur.
batampos.co.id yang menelusuri kawasan tersebut belum lama ini mendapati adanya praktek prostitusi terselubung di sana.
Wanita-wanita penghibur yang ada di masing-masing kafe dengan berani menawarkan jasa layanananya kepada siapa saja yang datang dengan tarif yang relatif murah.
“Mampir bang,” begitulah kata-kata yang keluar dari mulut wanita penghuni kafe remang-remang kepada siapa saja yang datang ke kawasan itu.
Ilustrasi
Sormin warga setempat membenarkan layanan prostitusi di kawasan tersebut. Menurutnya hal itu sudah berlangsung lama.
Kata dia, wanita-wanita penghibur di lokalisasi tersebut umumnya sudah berumur.
“Nggak dari Batam saja, ada yang dari (lokasi prostitusi) luar Batam,” ujar Sormin.
Kawasan bahkan sudah dikeluhkan masyarakat sejak lama. Paslanya di lokasi itu terjadi keributan.
Kawasan kafe remang-remang itu lazim dipergunakan sebagai tempat untuk meneguk minuman keras.
Keributan terjadi baik dengan penghuni ataupun sesama tamu. Belum lama ini, seorang wanita pekerja kafe di lokasi yang sama melaporkan kasus penganiayaan ke Mapolsek Batuaji.
Penganiayaan ini dipicu karena masalah asmara. Seorang pria yang telah berkeluarga dan sudah menjadi pelanggan tetapnya tidak terima jika wanita yang dianiayanya bergaul dengan tamu pria lain.
Diapun melukai sang wanita tadi dengan sebilah pisau. Kejadian-kejadian seperti ini kerap terjadi dan meresahkan masyarakat umum setempatnya. Masyarakat berharap ini akan segara ditindak.
Pemko Batam melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kota Batam sebelumnya mengakui ada persoalan tersebut.
Lokasi itu bahkan sudah menjadi target penertiban dari Tim Terpadu kota Batam. Penertiban akan dilakukan secara merata dan tahap awal sudah dimulai dengan kawasan prostitusi terselubung pohon Ceri di pinggir Jalan Brigjen Katamso, Tanjunguncang.
“Semua jadi prioritas untuk kenyamanan bersama tapi bertahap,” ujar Kasi Trantib Satpol PP kota Batam Imam Tohari.(eja)
batampos.co.id – Pada hari pertama pelaksanaannya operasi zebra Polda Kepri menilang 171 pengendara baik roda dua maupun roda empat.
Jumlah itu naik 55 persen dibandingkan di hari pertama tahun sebelumnya yaitu sebanyak 110.
Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Erlangga, mengatakan, jumlah penilangan di hari pertama naik 100 persen jika dibandingkan tahun lalu.
“Ditahun sebelumnya sebanyak 54 tilang dan pada pelaksanaan Operasi Zebra Seligi tahun 2019 sebanyak 109 tilang yang dikeluarkan bagi para pengendara yang melakukan pelanggaran lalu lintas,” ujarnya, Kamis (24/10/2019).
Hari pertama pelaksanaannya operasi zebra Polda Kepri menilang 171 pengendara roda dua dan empat. Foto: Humas Polda Kepri untuk batampos.co.id
Selain penilangan, pihaknya juga memberikan arahan dan teguran kepada para pelanggar lalu lintas sebanyak 62 teguran. Jumlah itu juga naik dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 56 teguran.
Dalam operasi kali ini sebutnya ada delapan prioritas sasaran utama. Yaitu tidak menggunakan helm SNI, pelanggaran melawan arus, penggunaan handphone saat berkendara dan berkendara dibawah pengaruh alkohol.
Kemudian berkendara melebihi batas kecepatan, pengendara dibawah umur, pelanggaran surat kendaraan, dan mengendarai kendaraan tidak menggunakan sabuk keselamatan.(nto)
batampos.co.id – Peristiwa BBM tercampur air di SPBU Persero Batuampar langsung direspon PT Pertamina.
Sales Area Manager Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I Kepri, Awan Raharjo, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat, khususnya konsumen yang terdampak.
Kata dia, bentuk pemantauan ataupun pembinaan sejak penyaluran pertama yang terindentifikasi dan ditemukan adanya indikasi masalah, penyaluran segera dihentikan.
“Agar tidak lebih banyak lagi konsumen yang terdampak,” jelasnya, Kamis (25/10/2019).
Ia menyebutkan, sebagai bentuk tanggung jawab, pihaknya akan melakukan perbaikan kepada kendaraan konsumen yang terdampak dan penggantian BBM kepada seluruh konsumen yang terdampak.
Sejumlah mobil dan sepeda motor mogok setelah mengisi bahan bakar di SPBU Persero, Batuampar, Batam, Selasa (22/10/2019), akibat bungker BBM kemasukan air akibat banjir dan hujan deras. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id
”Kami juga langsung mengingatkan kembali kepada seluruh SPBU Kepulauan Riau untuk senantiasa selalu waspada,” jelasnya.
“Khususnya jika sedang ada pekerjaan di sekitar tangki timbun pada waktu musim hujan dengan intensitas yang sangat lebat seperti saat-saat sekarang ini. Sehingga kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” terangnya lagi.
Ia melanjutkan, sampai saat ini SPBU tersebut belum dioperasikan kembali untuk memastikan bahwa sarana dan prasarana yang dimiliki sudah dipastikan aman.
”Penyaluran BBM kepada masyarakat tetap dilaksanakan untuk wilayah tersebut melalui dua SPBU yang letaknya tidak jauh dari lokasi,” katanya.
Sayangnya, Awan tidak menjawab ketika ditanya penindakan lanjutan bagi SPBU bersangkutan jika terbukti lalai.(gie,iza,une)
batampos.co.id – Tahapan pembahasan Upah Minimum Kota (UMK) Batam 2020 mulai dilakukan Dewan Pengupahan Kota (DPK) Batam, kemarin.
Meski baru pembahasan awal, namun besaran angkanya sudah dapat diperkirakan antara Rp 4,1 juta hingga Rp 4,2 juta. Namun, serikat pekerja di Batam menilai angka ideal UMK Batam 2020 adalah Rp 4,5 juta.
”Mudah-mudahan pembahasan UMK bisa berjalan lancar sehingga bisa dikirim ke Gubernur Kepri sebelum 20 November mendatang,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam, Rudi Sakyakirti.
Ia membenarkan kenaikan UMK Batam 2020 diperkirakan antara Rp 4,1 juta hingga Rp 4,2 juta.
Ini perhitungan sementara dengan menggunakan formula inflasi dan pertumbuhan ekonomi skala nasional yang menjadi acuan penghitungan besaran UMK, sebagaimana diatur di dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.
Melihat besarnya UMK ini, menurutnya, gelombang pencari kerja ke Batam juga bakal mengalami peningkatan.
Sementara untuk kondisi industri di Batam hingga kini belum juga mengalami peningkatan yang signifikan.
”Kita tidak bisa melarang mereka datang ke Batam. Jadi, persaingan semakin ketat,” jelasnya.
Para pekerja melakukan sksi damai di depan kantor Wali Kota Batam beberapa waktu lalu. Serikat pekerja menyatakan idelanya UMK Batam pada 2020 Rp 4,5 juta. Foto: Cecep Mulyana/batampso.co.id
“Lapangan kerja terbatas, upah tinggi namun pencaker beribu-ribu yang melamar,” tambahnya.
Mengenai ancaman resesi Singapura yang bakal berdampak ke Batam, ia berharap investor yang ada di Batam tetap bertahan.
Sehingga, jumlah perusahaan yang beroperasi saat ini tidak meng-alami pengurangan dengan alasan tersebut.
”Tentu kami berharap produksi tetap jalan. Bahkan kalau bisa ada proyek yang masuk untuk dikerjakan tahun depan,” paparnya.
“Kemarin informasi terakhir beberapa perusahaan sudah mulai persiapan untuk proyek baru di awal tahun nanti,” bebernya lagi.
Mengenai pertumbuhan perusahan baru, mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Batam ini belum menerima informasi terbarunya.
Hal tersebut biasanya bisa dilihat di bagian penanaman modal atau BP Batam.
”Di sini hanya perusahaan tutup yang ada. Itu pun kalau perusahaannya lapor ke sini. Mudah-mudahan ada yang baru di tahun depan. Karena sekarang saja angka pencari kerja sudah mencapai 30 ribu lebih,” lanjutnya.
Rudi menambahkan, seluruh perusahaan nantinya wajib menerapkan UMK terbaru yang sudah ditetapkan oleh Gubernur Kepri.
Jika tidak mampu, perusahaan bisa mengajukan penundaan penerapan UMK baru.
”Nanti kalau perusahaan sudah sanggup, baru dibayarkan sesuai ketentuan. Namun, prosesnya cukup panjang. Perusahaan harus menjalani audit dulu,” tutupnya.
Sementara itu, wakil ketua DPK, Bambang Satriawan, mengatakan, hari pertama pembambahasan UMK Batam 2020 baru sebatas surat edaran dan formula yang akan dipakai dalam penghitungan besaran UMK.
“Ada tujuh butir yang menjadi perhatian di SE tersebut. Namun tetap berdasarkan PP nomor 78 tahun 2015,” kata dia usai rapat di Kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam, Sekupang, Kamis (24/10/2019).
Ia menyebutkan inflasi nasional 3,39 persen dan pertumbuhan ekonomi 5,12 persen sehingga total 8,51 persen.
Angka ini lebih tinggi dari inflasi dan pertumbuhan Batam yaitu 7,56 persen.
“Jadi angka pertumbuhan nasional lebih tinggi dari Batam. Ini yang juga menjadi pandangan DPK,” ujarnya.
Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Batam, Alfitoni menambahkan, setelah melakukan survei harga kebutuhan layak di Batam, pihaknya akan mengusulkan kenaikan 10-15 persen untuk UMK tahun depan.
Angka ini lebih besar dari pertumbuhan dan inflasi nasional 8,51 persen.
“Kami sudah survei dan setelah dihitung kebutuhan hidup berdasarkan 84 item yang dihitung kebutuhan mencapai Rp 4,6 juta. Sedangkan UMK lebih rendah dari itu. Cuma Rp 4,1 juta,” ujarnya.
Hal ini akan menjadi acuan serikat dalam mengusulkan angka berbeda di pembahasan berikutnya.
Selain kebutuhan hidup, pihaknya juga memikirkan rencana kenaikan iuran BPJS 100 persen lebih per 1 Januari 2020.
“Kenaikan ini tentu menjadi beban baru bagi kami. Karena besarnya potongan juga akan bertambah.
Kenaikan upah sebesar 8,51 persen tidak sebanding dengan kenaikan BPJS yang mencapai 100 persen,” bebernya.
Di pembahasan selanjutnya, serikat buruh akan mengusulkan angka berbeda dengan berdasarkan hasil survei dan pendangan mengenai rencana kenaikan iuran BPJS tersebut.
“Minggu depan kami sampaikan apa yang menjadi pemikiran kami,” tutupnya.
Rapat akan dilanjutkan Selasa (5/11) mendatang dengan agenda pembahasan angka yang akan diusulkan kepada Gubernur Kepri.
Hal senada disampaikan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kota Batam. Persoalan besaran UMK tetap mengacu pada hasil pembahasan DPK nantinya.
”Kalau Pemerintah menggunakan PP 78 sebagai acuan, maka UMK Batam 2020 angkanya Rp 4,1 juta,” kata Saiful Badri, Ketua SPSI Kota Batam.
Besaran UMK tersebut masih belum ideal. Alasannya, tingkat kebutuhan masyarakat Kota Batam saat ini sangat tinggi.
Maka, setelah UMK ditetapkan nanti, harus diikuti penetapan upah minimum sektoral (UMS) karena UMK hanya bersifat jaring pengaman untuk pekerja nol tahun.
SPSI menginginkan upah ideal yakni sesuai kebutuhan minimal di Kota Batam, yakni Rp 4,5 juta.
Usulan ini sudah dikoordinasi dengan DPK secara internal bersama serikat pekerja lainnya.(yui,zis)
batampos.co.id – Kawasan Pokok Ceri yang berada di RT 5/RW 1 Kampung Cunting, Tanjunguncang, Batuaji, ditertibkan Tim Terpadu Kota Batam, Kamis (24/10/2019).
Pantauan Batam Pos, ratusan anggota Tim Terpadu Kota Batam yang terdiri dari unsur Satpol PP, Polri, TNI, dan Ditpam BP Batam diturunkan untuk menertibkan lokasi rumah liar (ruli) yang pada malam harinya disulap menjadi kawasan prostitusi terselubung di pinggiran Tanjunguncang itu.
Namun, penggusuran itu tetap diwarnai penolakan oleh sebagian warga yang tinggal di kawasan tersebut.
”Ini tak adil namanya. Masak belum ada ganti rugi sudah langsung dirobohkan,” teriak salah seorang warga yang tak terima dengan penggusuran itu.
Seorang warga menolak kios liarnya yang berada di kawasan prostitusi di kota batam digusur oleh Tim Terpadu. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id
Agar pelaksanaan penggusuran berjalan dengan cepat, satu unit alat berat dikerahkan merobohkan seluruh rumah.
Namun, sempat terjadi aksi perlawanan dari warga yang keberatan tempat tinggal atau tempat usahanya digusur.
”Katanya dari dulu, akan ada ganti rugi tapi sampai saat ini tak ada,” teriak yang lainnya.
Informasi yang dihimpun Batam Pos, penertiban kawasan prostitusi terselubung ini demi menjamin ketertiban umum di kawasan itu.
Terlebih, di daerah itu telah berdiri Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah. Kabid Trantib Satpol PP Kota Batam, Imam Tohari, mengatakan, bahwa penertiban kawasan ruli Pokok Ceri ini diadakan sesuai prosedur yang berlaku.
”Hal ini sudah sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur) yang ada. Jadi, saat ini dilakukan penertibannya. Bahkan semua rumah ini dirobohkan,” jelasnya singkat.(eja/zis)
DALAM sebuah wawancara dengan salah satu kanal televisi di Batam, belum lama ini, saya ditanyakan tentang bagaimana konsep ekonomi Batam yang sebaiknya diterapkan di masa mendatang.
Saya katakan bahwa Batam harus mulai benar-benar mempersiapkan langkah konkret menuju ekonomi level menengah ke atas, sehingga kelak akan tercipta sebuah kota dengan masyarakat yang juga “high quality”. Maksudnya bagaimana?
Selama puluhan tahun, sebelum diterpa resesi ekonomi empat tahun belakangan, konsentrasi Batam lebih kepada industri padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja, tanpa benar-benar menjalankan roadmap Batam sebagai kota maju, kota yang berdepan-depan dengan negara maju semacam Singapura dan Malaysia.
Industrinya didominasi oleh manufaktur atau industri rakitan, hanya sedikit industri yang menggunakan teknologi tinggi. Ada memang beberapa jenis investasi yang padat modal, namun jumlahnya masih sedikit. Turunnya permintaan pasar internasional, membuat industri jenis ini hapir kolaps. Sama persis dengan nasib industri manufaktur. Karena tenaga kerja di sektor ini banyak, akibatnya ledakan angka korban PHK tak terelakkan.
Beberapa waktu lalu, BP Batam (waktu itu masih Otorita Batam), pernah melansir sebuah kajian bahwa sejumlah waduk yang ada di Batam hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar 800 ribu hingga 1 juta penduduk saja. Saat ini, penduduk Batam sudah mencapai 1,3 juta jiwa. Sebabnya apa? Karena Batam tak memiliki sumber air alami, yakni sungai atau air pegunungan. Semua reservoir air di waduk seperti Duriangkang, Tembesi, Seiharapan, bahkan Seigong yang belum beroperasi itu, hanya menampung air hujan atau air permukaan.
Artinya apa? Artinya bahwa kebutuhan air bagi warga Batam hari ini diambil dari waduk-waduk yang ada itu, lalu diolah dengan sebuah teknologi pengolahan air yang dimiliki ATB, untuk kemudian disalurkan ke rumah-rumah, perkantoran, industri, perhotelan, dan lain sebagainya. Tentu, air yang disalurkan oleh ATB (air di Batam dikelola dan dijual oleh perusahaan swasta ini) sudah melewati proses pengolahan.
Saya tak hendak berdebat soal kelayakan konsumsi airnya, namun membayangkan air permukaan yang mungkin saja terjejas areal permukiman dan pabrik, dan kemudian jatuh ke waduk-waduk itu, memerlukan teknologi yang tak sederhana sebelum layak dipakai atau dikonsumsi.
Itu baru satu soal. Yakni soal air bersih. Bagaimana dengan soal yang lain, semacam kebutuhan perumahan, kesehatan, pendidikan, sanitasi dan kebersihan lingkungan, dan lain sebagainya? Dengan jumlah penduduk yang saat ini menuju angka 1,5 juta, tentu saja berbagai kebutuhan di atas haruslah benar-benar tersedia jika tak ingin kota pulau ini (ingat, Batam adalah sebuah kota pulau) makin crowded nanti ke depannya. Padahal di satu sisi, karena masih rendahnya realisasi PAD Batam dari sumber-sumber yang seharusnya bisa ditingkatkan, maka APBD Kota Batam hari ini belum supported untuk memenuhi semua kebutuhan warganya. Istilah kata, APBD Batam dan anggaran BP Batam saat ini, cukup makan, iya. Tapi belum berkualitas.
Oleh sebab itulah, agar kehidupan masyarakat Batam lebih berkualitas, lebih baik pendidikannya, lebih safe kebutuhannya, lebih baik upah pekerjanya, serta lebih berkualitas kehidupan religinya, menurut pandangan saya, perlu dilakukan “rekayasa” dalam penataan Batam ke depan. Jumlah penduduk perlu dikendalikan. Jangan menunggu ledakan penduduk dulu baru kemudian dicarikan cara memenuhi kebutuhan hidupnya. Ingat, kebutuhan hidup manusia itu bukan hanya soal makan. Ada kebutuhan primer, sekunder, dan tertier. Semuanya harus dipenuhi dengan cara baik dan berkualitas.
“Rekayasa” yang saya maksud di sini, bukan seperti satu dekade lalu, yakni memberlakukan Perda Kependudukan yang membatasi pendatang itu. Tidak. Itu hanya akan menyisakan berbagai persoalan, mulai dari dugaan pelanggaran HAM sampai pungli di lapangan. Rekayasa yang saya maksud di sini adalah dengan “mengengineering” jenis-jenis industri yang akan dikembangkan di masa mendatang. Batam tidak boleh lagi bertumpu kepada industri manufaktur yang padat karya itu, yang memang dapat menampung pekerja dalam jumlah banyak, namun selalu bermasalah dalam sistem pengupahan setiap tahun. Ada saja agenda demo buruh setiap tahunnya menuntut perbaikan upah/gaji. Kualitas kehidupan buruh atau pekerjanya di sektor ini juga kurang baik.
Batam ke depan perlu mempersiapkan dirinya menuju industri digital atau high technology yang padat teknologi, padat modal, dengan upah pekerja yang sudah tentu lebih baik. Lazimnya, pekerja industri jenis ini, upahnya lebih baik karena spesifikasi pekerjaan mereka sifatnya keahlian khusus. Lalu, apakah “rekayasa” jenis industri itu akan memangkas jumlah tenaga kerja secara besar-besaran jika digeser dari manufaktur ke digital dan hightech? Tidak juga dan belum tentu, sebab semuanya dapat dilakukan secara gradual. Secara perlahan.
Dalam pada itu, pemerintah pusat, Pemko Batam, dan BP Batam, harus sesegera mungkin memanfaatkan, mengaktifkan, atau mendirikan balai latihan kerja (BLK) untuk mempersiapkan calon pekerja yang dapat linked and matched dengan dunia industri baru itu. Sehingga, jika tenaga kerja yang sekarang bekerja di manufaktur atau sektor lainnya harus switch (pindah) ke jenis yang lebih tinggi spesifikasinya, mereka akan siap. Mengapa harus takut atau alergi? Bukankah dunia saat ini sudah bergerak menuju industri 4.0, bahkan ada yang sudah 5,0? Kita sudah mulai sebenarnya dengan KEK Nongsa Digital Park. Jenis inilah yang harus diperbanyak, misalnya membangun pusat logistik penghubung dan industri padat teknologi lainnya.
Dengan demikian, menurut hemat saya, tanpa harus membuat orang berbondong-bondong ke Batam, yakni dengan “rekayasa” industri tadi, maka kota ini bisa lebih tingi kualtis hidup warganya, lebih tertib, lebih maju, karena akan lebih baik fasilitas kesehatannya, pendidikannya, leisure-nya, bahkan kehidupan releginya. Sebab apa, sebab kota ini tak perlu menjadi kota yang crowded, di mana rakyatnya terlalu padat, padahal air bersih saja masih belum aman untuk waktu-waktu mendatang.***
batampos.co.id – Hujan deras disertai petir dan angin kencang diperkirakan akan terjadi di wilayah Kepri, khususnya Batam, masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan.
Meski begitu, kondisi cuaca diprediksi tak akan mengganggu jalur transportasi, baik untuk penerbangan maupun pelayaran.
Kasi Data dan Informasi BMKG Hang Nadim Batam, Suratman, mengatakan, terdapat awan konvektif signifikan di wilayah Kepri.
Hal itu memincu terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
BMKG memprediksi dalam beberapa hari ke depan Kota Batam masih akan turun hujan. BMKG memperingatkan masyarakat untuk tidak berteduh di bawah pohon dan tiang listrik. Foto: Dokumentasi batampos.co.id
“Sifat awan ini bergerak namun memicu hujan. Berpotensi terjadi hujan sedang hingga lebat, yang juga disertai petir dan angin kencang,” ujar Suratman, Kamis (24/10/2019).
Dijelaskan Suratman, hujan sedang hingga lebat bersifat lokal di beberapa wilayah. Seperti untuk Kota Batam misalnya, tak semua wilayah Batam akan turun hujan lebat.
“Prakiraan cuaca besok (hari ini) juga masih hujan. Hujan rata-rata terjadi pada siang hingga sore hari. Sifatnya ringan hingga sedang, namun ada juga yang lebat,” imbuh Suratman.
Meski begitu, intensitas hujan deras tak mengganggu jalur penerbangan hingga pelayaran.
batampso.co.id – Guna memberikan pelayanan kesehatan kepada peserta
JKN-KIS, BPJS Kesehatan menjalin kerja sama dengan berbagai fasilitas kesehatan
baik tingkat pertama maupun lanjutan.
Dalam menetapkan pilihan fasilitas kesehatan tersebut, BPJS Kesehatan melakukan seleksi dan kredensialing dengan menggunakan kriteria tertentu.
Tidak hanya pada proses awal, pada saat perpanjangan kerjasama pun BPJS
Kesehatan melakukan rekredensialing untuk memastikan kembali kualitas faskes
yang akan memberikan pelayanan kepada peserta JKN-KIS.
Pps Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Primer BPJS Kesehatan Cabang Batam, Andi Marisah Hijriyah Lestari, mengatakan, rekredensialing tersebut dilakukan paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum masa perjanjian kerja sama berakhir.
Menurut Marisah, sebanyak 105 faskes yang akan menjalankan proses rekredensialing
sampai akhit tahun 2019 nanti.
BPJS Kesehatan melakukan seleksi dan kredensialing ke fasilitas kesehatan di Kota Batam. Foto: BPJS Kesehatan Cabang Kota Batam untuk batampos.co.id
Jumlah tersebut terdiri dari 19 Puskesmas, 1 Dokter Praktik Perorangan, 79 Klinik Pratama dan 6 Klinik TNI POLRI.
“Itu jumlah di Batam kebetulan semuanya menjalani proses rekredensialing tahun ini
baik klinik maupun puskesmas, untuk faskes di Karimun akan dilakukan
rekredensialing oleh tim di Kantor Kabupaten,” ungkap Marisah.
Dalam proses rekredensialing, BPJS Kesehatan menggunakan kriteria teknis yang
meliputi sumber daya manusia, kelengkapan sarana dan prasarana, lingkup
pelayanan dan komitmen dari faskes.
Proses tersebut juga melibatkan Dinas Kesehatan serta Asosiasi Klinik yang ada di daerah.
“Kami melibatkan Dinas Kesehatan dan Asosiasi Klinik dalam proses ini, sehingga
BPJS Kesehatan tidak jalan sendiri,” kata Marisah.
Marisah menambahkan, untuk memperpanjang kerjasama setiap faskes harus
memenuhi persyaratan administrasi yang telah ditetapkan.
Serta surat penyataan kesediaan mematuhi ketentuan yang terkait dengan program JKN-KIS bagi seluruh faskes tingkat pertama.
Kepala Seksi Pelayanan Primer dan Tradisional Dinas Kesehatan Kota Batam, dr Andi Sarbiah, mengatakan, setiap fasilitas kesehatan harus melakukan perbaikan dari waktu ke waktu, tidak hanya untuk perpanjangan kerjasama tapi juga persiapan akreditasi di tahun 2020 mendatang.
“Banyak yang harus dibenahi oleh setiap klinik terutama masalah kebersihan dan
safety petugas dengan sampah medis,” ungkap Andi.
Diharapkan dengan proses ini setiap fasilitas kesehatan dapat mengetahui hal-hal
apa saja yang perlu diperbaiki sehingga dapat memberikan pelayanan kepada
peserta JKN-KIS dengan maksimal di kemudian hari.(*)
batampos.co.id – Jajaran Unit Reskrim Polsek Lubukbaja mengamankan Be, 21, dan ES, 21, pelaku pengeroyokan dan penikaman terhadap Yusuf Taqwin di Jalan Raden Patah.
Keduanya ditangkap di Tanjunguma, Rabu (23/10/2019) malam tanpa perlawanan.
Kapolsek Lubukbaja, Kompol Yunita Stevani, mengatakan, penikaman ini bermula dari korban dan dua pelaku yang tergabung di dalam grup WhatsApp.
Pada Selasa malam, terjadi percekcokan antara pelaku dan korban di dalam grup tersebut karena korban mengirimkan gambar porno ke grup WhatsApp tersebut.
”Setelah mengirimkan gambar itu, kemudian pelaku tidak terima dan terjadi penganiayaan hingga penikaman di belakang Kantor PKB, Jalan Raden Patah,” ujar Yunita, Kamis (24/10/2019).
Dalam kejadian itu, korban mengalami tiga luka tusukan di bagian punggung dan harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Budi Kemuliaan.
Sementara kedua pelaku langsung meninggalkan korban yang bersimbah berdarah. Mendapatkan adanya laporan penganiayaan di wilayah hukumnya, pihaknya langsung mencari dan mengamankan pelaku kurang dari 12 jam.
”Kejadiannya itu sekitar pukul 09.00 pagi dan pelaku kita amankan pada malamnya sekitar pukul 08.00 WIB,” jelasnya.
Ilustrasi. Jawa Pos
“Usai diamankan, langsung kami bawa ke polsek untuk dipro-ses,” tuturnya lagi.
Yunita mengatakan, kedua pelaku dikenakan pasal 170 KUH Pidana tentang pengeroyokan hingga mengalami luka berat, dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.
Salah satu pelaku, Be, mengaku tidak terima karena Yusuf mengirimkan gambar porno ke grup tersebut.
Sehingga, mereka terlibat cekcok dengan korban dan meminta admin grup WhatsApp untuk mengeluarkan korban dari dalam grup.
”Setelah itu, korban dikeluarkan dan E (menyebut nama pelaku lainnya,red) tanya sama saya, siapa yang mengirimkan gambar itu,” ujarnya.
Percakapan antara Be dan ES terus berlanjut hingga ES mengirimkan pesan WhatsApp kepada Be bahwa ia akan menusuk korban.
Saat itu, Be hanya menanggapinya sebagai candaan dan mengirimkan tangkapan layar percakapannya dengan ES ke dalam grup sebagai guyonan.
”Dalam grup itu masih ada temannya korban hingga sampai ke korban dan mengajak jumpa,” jelasnya.
“Pas jumpa itu dikeroyok dan korban ditikam sama E (menyebut nama pelaku lainnya, red) dipunggung tiga kali,” tuturnya.
Sementara itu, ES cmengaku pada saat itu tersulut emosi atas gambar pornografi yang dikirimkan oleh korban. Hingga timbul niat untuk menikam korban.
”Saya khilaf. Pisaunya itu pisau dapur yang saya bawa dari rumah,” ujarnya singkat.(gie)