PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), berkomitmen untuk mendukung program pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energi melalui optimalisasi pemanfaatan gas bumi di dalam negeri. Hal itu akan diwujudkan PGN melalui pembangunan dan pengembangan berbagai infrastruktur gas bumi yang mampu menjangkau semua segmen pasar.
Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama menjelaskan, sebagai subholding gas, PGN akan mengambil peran di depan dalam program percepatan dan transformasi energi dari minyak bumi ke gas bumi. Kebijakan ini juga menjadi bagian dari perwujudan bauran energi gas bumi sebesar 22% pada 2025 dan 24% pada 2050.
“Bertambahnya populasi, meningkatnya aktivitas ekonomi, dan perubahan gaya hidup ke green energy akan mendorong kebutuhan gas bumi akan semakin besar. Komitmen PGN adalah menyediakan energi baik gas bumi untuk rumah tangga dan para pelaku usaha dari berbagai sektor industri,” jelas Rachmat Hutama usai RUPSLB PGN di Jakarta, Jumat (30/8/2019).
Dalam rangka mewujudkan penyediaan energi gas bumi, program pembangunan infrastruktur yang akan dibangun diantaranya; membangun jaringan pipa distribusi sepanjang 500 km, pipa transmisi 528 km, 7 LNG filling station untuk truk/kapal, 5 FSRU, 3,59 juta sambungan rumah tangga, dan 17 fasilitas LNG untuk mensuplai kebutuhan berbagai segmen konsumen.
Melalui sinergi dengan PT Pertamina Gas (Pertagas) dan entitas anak usahanya, PGN saat ini telah menjadi salah satu perusahaan energi gas bumi terbesar di ASEAN. Melalui upaya pemenuhan pasokan gas berbagai sumber dan dukungan infrastruktur yang akan dibangun, PGN berharap dapat menjadi perusahaan energi kelas dunia yang mampu memenuhi kebutuhan energi dalam negeri secara efisien.
“Strategi PGN ini sejalan dengan program pembangunan pemerintah dengan membangun berbagai infrastruktur untuk membuka akses daerah dan menumbuhkan sentra-sentra ekonomi baru. Gas bumi bukan lagi sebagai komoditas tapi sebagai bagian dari alat produksi yang akan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi ekonomi nasional,” jelas Rachmat.
Rachmat menambahkan, sampai semester I 2019 PGN telah menyalurkan gas bumi sebesar 2.938 BBTUD. Rinciannya, volume gas distribusi sebesar 932 BBTUD, dan volume transmisi gas bumi sebesar 2.006 BBTUD. PGN mjelayani lebih dari 350.000 pelanggan dengan cakupan infrastrukur pipa gas bumi sepanjang lebih dari 10.000 km, termasuk jaringan gas untuk melayani sektor rumah tangga sepanjang lebih dari 3800 km.
“Infrastruktur gas bumi merupakan investasi jangka panjang dengan risiko pasokan dan pasar yang belum terjamin. Namun risiko itu diambil PGN sebagai pionir pemanfaatan gas bumi agar ketahanan energi nasional semakin kokoh,” tambah Rahmat.
Dalam RUPSLB hari ini pemegang saham memutuskan beberapa hal sebagai berikut :
Memberhentikan pengurus Perseroan sebagai berikut :
Komisaris : Mohamad Ikhsan
Direktur Keuangan : Said Reza Pahlevy
Direktur Komersial : Danny Praditya
Direktur Infrastruktur dan Teknologi : Dilo Seno Widagdo
Mengangkat pengurus Perseroan sebagai berikut::
Direktur Infrastruktur dan Teknologi : Redy Ferryanto
Direktur Keuangan : Arie Nobelta Kaban
Direktur Komersial : Dilo Seno Widagdo
Komisaris Independen : Christian H. Siboro
Berikut susunan Komisaris dan Direksi PGN yang baru :
Susunan Direksi
Direktur Utama : Gigih Prakoso Soewarto
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis : Syahrial Mukhtar
Direktur SDM dan Umum : Desima E. Siahaan
Direktur Infrastruktur dan Teknologi : Redy Ferryanto
Direktur Keuangan : Arie Nobelta Kaban
Direktur Komersial : Dilo Seno Widagdo
Susunan Komisaris
Komisaris Utama : IGN Wiratmaja Puja
Komisaris : Luky Alfirman
Komisaris : Mas’ud Khamid
Komisaris Independen : Paiman Rahardjo
Komisaris Independen : Kiswodarmawan
Komisaris Independen : Christian H. Siboro
batampos.co.id – Deputi Pemberantasan Narkoba BNN Irjen Arman Depari, menekankan pihaknya, berkomitmen untuk memiskinkan bos narkoba, Adam.
“Kami miskinkan dia, karena selama masih punya uang, dia dapat mempengaruhi orang sekitarnya,” tegas Arman.
Ia menilai, Adam sangat layak dimiskinkan. Karena selain pemain besar, juga sudah lama berada di pusaran bisnis haram ini, yakni sejak tahun 2000.
Bahkan, aparat penegak hukum telah beberapa kali mengamankan Adam. Namun setelah bebas, Adam tetap mengulangi perbuatannya.
Hingga dia kembali meringkuk di penjara tahun 2016 karena tertangkap saat memasukkan sabu 52 kg melalui Pelabuhan Tanjungpriok.
Adam kemudian divonis mati oleh Pengadilan Negeri Cilegon, Banten dan vonisnya tetap saat banding di pengadilan tinggi.
Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari (tengah) bersama Jajaran menunjukkan barang bukti berupa emas, uang rupiah dan uang asing, buku tabungan dan lainnya yang diamankan dari tersangka Adam saat ekspos di Perumahan Sukajadi, Batam, Kamis (29/8/2019). Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id
Namun, kasusnya berlanjut ke Mahkamah Agung (MA). MA menurunkan hukuman Adam dari hukuman mati menjadi 20 tahun.
Sementara kaki tangannya yang diamakan bersama dia saat itu tetap divonis seumur hidup.
“Dia berencana mengupayakan agar hukumannya turun menjadi 10 tahun, makanya perlu dimiskinkan,” ungkap Arman.
Meski mendekam di Lapas Narkoba Cilegon, Adam masih leluasa hidup mewah dengan pengeluaran Rp 30 juta sebulan.
Bahkan ia leluasa mengendalikan bisnisnya dari balik penjara. Hasilnya dibelikan berbagai aset di Riau, Batam, hingga Jakarta.
BNN memperkirakan Adam memiliki aset triliunan. Sebagian aset atas namanya, sebagian lagi diduga atas nama orang lain.
“Makanya kami mengambil langkah memiskinkan bandar yang memiliki kekayaan dalam jumlah yang luar biasa itu,” ujar mantan Kapolda Kepri itu.
Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Kepri Komisaris Besar Arief Bestari membenarkan aset-aset Adam dititipkan di BNNP Kepri.
“Ada di kantor, tapi sementara saja,” ungkapnya.
Arief mengaku belum mendapatkan arahan lebih lanjut untuk pengawasan aset-aset tersebut karena sepengetahuannya, jajaran BNN pusat masih melakukan penyisiran dan penyelidikan atas kasus tersebut.
“Timnya (BNN) masih kerja. Masih melakukan penyidikan,” ungkapnya.(ska)
batampos.co.id – Meskipun sudah menyita aset senilai Rp 28 miliar milik Muhammad Adam, bandar narkoba yang tinggal di Perumahan Bukit Indah Sukajadi, Kota Batam, Badan Narkotika Nasional (BNN) terus mencari aset lainnya.
Aset-aset tersebut merupakan hasil transaksi haram yang diduga disembunyikan di Adam, di Kota Batam, Riau, Jakarta, hingga luar negeri.
BNN bahkan berkomitmen memiskinkan Adam. Khusus untuk aset bergerak berupa 18 mobil kelas menengah hingga mobil mewah, semuanya akan dikumpulkan di Batam di bawah pengawasan BNNP Kepri.
Begitupun enam kapal cepat milik Adam yang masih ada di Tembilahan akan dibawa ke Batam.
Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari (tengah) bersama Jajaran menunjukkan barang bukti berupa emas, uang rupiah dan uang asing, buku tabungan dan lainnya yang diamankan dari tersangka Adam saat ekspos di Perumahan Sukajadi, Batam, Kamis (29/8/2019). Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id
“Harta bergerak semua akan dibawa ke Batam untuk memudahkan pengawasan,” jelas Brigadir Jenderal Bahagia Dachi, Direktur Tindak Pidana Pencucian Uang BNN kepada Batam Pos, Jumat (30/8/2019).
“Kami percayakan pengawasannya ke BNNP Kepri,” ujarnya lagi.
Selain melakukan pengumpulan aset Adam, Dachi membenarkan jajarannya juga masih melakukan pencarian aset-aset Adam lainnya.
Ia menduga ada beberapa aset Adam yang masih disembunyikan dari pantauan BNN.
“Kami terus melakukan pengembangan ke aset-aset Adam lainnya,” ungkapnya.
Terkait aset Adam yang sudah ditemukan, Dachi berharap seluruhnya disita negara.
Sehingga dapat menyulitkan langkah bandar narkoba yang lolos dari hukuman mati tersebut.(ska)
batampos.co.id – Pasca pelaksanaan Operasi Patuh Seligi 2019, permohonan pembuatan dan perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) di Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas) Satlantas Polresta Barelang maupun di beberapa gerai SIM mengalami peningkatan hingga dua kali lipat.
Kasat Lantas Polresta Barelang, Kompol I Putu Bayu Pati, mengatakan, meningkatnya permohonan pembuatan dan perpanjangan SIM ini kerap terjadi ketika Satlantas Polresta Barelang melakukan banyak penindakan.
Termasuk Operasi Patuh Seligi yang dimulai sejak, Kamis (29/8/2019) lalu mulai ramai didatangi masyarakat.
“Kalau kita lihat dalam beberapa hari kebelakangan ini, memang mengalami peningkatan,” jelasnya.
“Hari biasanya itu ada 50 sampai 60 pemohon, sekarang sudah sampai 100 sampai 150 pemohon setiap harinya,” ujarnya.
Personel kepolisian Satlantas Polresta Barelang melakukan razia di ruas Jalan Ahmad Yani tepatnya di depan stadion Temenggung Abdul Jamal Mukakuning, Jumat (30/8/2019). Foto: Azis Maulana/batampos.co.id
Dikatakan Putu, dalam Operasi Patuh Seligi 2019 ini digelar selama dua pekan mulai 29 Agustus hingga 11 September mendatang.
Operasi ini dilaksanakan secara terpusat yang digelar secara serentak di seluruh Indonesia dengan menyasar pengendara yang tidak taat hukum.
Dimana, dalam pelaksanaannya polisi lebih mengedepankan sanksi penilangan sebesar 80 persen dan sanksi teguran sebesar 20 persen.
“Dalam pelaksanaannya, kami akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap surat-surat yang mereka bawa,” paparnya.
“Baik itu STNK kendaraannya maupun SIM pengendara itu sendiri. Jika tidak ada atau mati, maka kami akan lakukan penilangan,” tuturnya lagi.
Kepada kendaraan roda dua untuk melengkapi kaca spion, TNKB harus sesuai dengan cetakan Polri, melengkapi surat seperti SIM dan STNK serta menghidupkan lampu utama baik siang hari maupun pada malam hari.
Sementara untuk kendaaan roda empat, ia meminta kepada pengemudi maupun penumpang agar selalu menggunakan sabuk keselamatan dan melengkapi surat-surat seperti SIM maupun STNK.
“Kita harapkan masyarakat bisa lebih tertib saat berkendara dan selalu membawa SIM dan STNK,” bebernya.(gie)
Pelan tapi pasti, masyarakat Batam mulai menyadari pentingnya gaya hidup bersih dan ramah lingkungan. Hal itu salah satunya ditunjukkan dalam penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk menunjang mobilitas dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat urban Batam kini ramai-ramai beralih menggunakan energi yang lebih ramah lingkungan. Suatu upaya untuk menjaga keberlangsungan generasi yang akan datang.
RATNA IRTATIK, batampos.co.id
Agus, 46, salah seorang pengusaha kuliner di Batam itu memegang sendiri kemudi mobilnya, Toyota Rush keluaran tahun 2017 lalu. Kala itu, ia hendak menuju ke daerah Batam Centre untuk menemui rekan bisnisnya.
Setelah beberapa menit melaju dengan menjaga kestabilan kecepatan mobilnya, kini ia mulai menekan pedal gas lebih dalam.
Ia ingin menyalip truk kontainer yang berjalan pelan di sisi kanan jalan yang menanjak. Mobil berjenis medium sport utility vehicle (SUV) tipe otomatis yang dikendarainya itu melaju mulus di jalan tanjakan tersebut. Tak terdengar suara mesin mobil yang menderu. Agus tersenyum.
“Itu kelebihan Pertamax, tarikan mesin lebih ringan dan enteng, enak bawa kemudinya,” kata Agus kepada batampos.co.id, yang saat itu diperkenankan naik di dalam mobilnya untuk mengetahui kesannya menggunakan BBM jenis Pertamax.
Sudah sekitar satu tahun belakangan ini Agus mengaku menggunakan Pertamax. Pria dengan dua orang anak itu mengaku awalnya kepincut menggunakan Pertamax karena terpengaruh bujukan kawan-kawannya.
“Mereka bilang enggak bakal rugi pakai Pertamax, soalnya sangat berpengaruh terhadap kinerja mesin yang lebih bagus,” ucap Agus, menirukan omongan rekan-rekannya kala itu.
Jika sebelumnya ia mengisi tangki mobilnya dengan BBM jenis premium atau kadang-kadang Pertalite, kini ia mengaku benar-benar merasakan dan mengetahui perbedaan saat menggunakan BBM jenis Pertamax.
“Selain tarikan mesin enteng, tentu juga ramah lingkungan. Kebetulan anak saya aktif di komunitas yang konsen menjaga lingkungan hidup, jadi dia support banget saya pakai Pertamax ini,” tutur Agus.
Seperti diketahui, Pertamax memiliki kadar RON 92. Bilangan oktan adalah angka yang menunjukkan seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum BBM terbakar secara spontan.
Di dalam mesin, campuran udara dan bahan bakar (dalam bentuk gas) ditekan oleh piston sampai dengan volume yang sangat kecil dan kemudian dibakar oleh percikan api yang dihasilkan busi.
Dua pengendara sepeda motor membeli BBM jenis pertamax plus di salah satu SPBU di Kota Batam, beberapa waktu lalu. Konsumsi BBM dengan RON tinggi di Provinsi Kepri, khusunya Kta Batam terus meningkat sepanjang 2019 ini. Dalil Harahap/foto: batampos.co.id
Dengan kata lain, semakin tinggi oktan suatu bahan bakar, maka akan semakin tahan terhadap kompresi dalam ruang bakar.
Sehingga, hasil pembakaran juga sempurna dan menghasilkan emisi gas buang yang minim. Efeknya, selain kinerja mesin lebih bagus, tentu saja juga lebih ramah lingkungan.
Selain Agus, warga Batam lainnya yang memilih bahan bakar ramah lingkungan adalah Evie.
Ibu dua orang anak itu pilih menggunakan BBM jenis Dexlite untuk bahan bakar mobilnya, Ford Everest yang bermesin diesel.
Menurut Evie, pilihan itu dinilai tepat lantaran performa kendaraannya jauh lebih andal dibanding saat menggunakan Bio Solar.
“Tarikan enteng dan mesin juga lebih awet, soalnya saya ke bengkel hanya untuk tune up rutin saja, tak ada keluhan mesin rewel seperti sebelumnya,” ujar Evie.
Menurut dia, sebagai wanita yang sering berkendara sendirian, performa mobil yang bagus dan tidak gampang rusak sangat dibutuhkan.
Pasalnya, jika sewaktu-waktu mobil rusak apalagi saat perjalanan jauh, dia mengaku langsung panik.
“Saya enggak tahu (merawat) mesin mobil, jadi ya bawaannya cemas saja kalau mobil rewel. Tapi untungnya sekarang enggak rewel lagi,” kata Evie, yang mengaku sudah beralih menggunakan Dexlite sejak sekitar 1,5 tahun terakhir.
Wanita keturunan Tionghoa itu juga mengaku pilihan beralih ke Dexlite lantaran BBM tersebut lebih ramah lingkungan.
Dexlite memiliki cetane number (CN) minimal 51 dengan kandungan sulfur minimal 1.200 part per milion (ppm). Secara kualitas, Dexlite lebih bagus dari Bio Solar yang menjadi varian terendah solar Pertamina yang punya cetane number 48 dengan kandungan sulfur 3.500 ppm.
“Paling tidak, aktivitas kita sehari-hari tidak menyumbang banyak emisi gas buang, sebisa mungkin harus yang ramah lingkungan,” ucapnya sembari tersenyum.
Tak hanya masyarakat umum, pilihan menggunakan BBM dengan mutu yang lebih bagus juga dilakukan oleh pegawai di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Batam. Termasuk, beberapa pejabatnya.
Ardiwinata, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam mengaku menggunakan Pertamax untuk bahan bakar mobil dinasnya yang berjenis Toyota Kijang Innova.
Menurut Ardi, mobil dinasnya yang sudah berumur hampir 10 tahun itu masih terasa nyaman dikendarai.
Tarikan mesinnya juga masih mulus. Salah satu alasannya, kata dia, karena menggunakan bahan bakar Pertamax yang memiliki bilangan oktan lebih baik ketimbang BBM jenis lain.
“Pasti terasa bedanya, akselerasinya juga bagus dan nendang. Pas lah pokoknya,” puji Ardi.
Selain itu, Ardi melanjutkan, menggunakan BBM dengan RON tinggi juga diyakininya merupakan bagian dari kampanye untuk menjaga lingkungan hidup.
“Wali Kota Batam juga selalu menekankan kepada kita semua agar menjaga lingkungan kita bersih dan sehat, dengan memakai BBM ramah lingkungan itu salah satu upaya kita mewujudkan hal tersebut,” imbuhnya.
Lebih dari itu, Ardi juga menyebut penggunaan BBM dengan RON tinggi merupakan upaya untuk menjaga dan merawat lingkungan demi masa depan generasi selanjutnya.
“Makin banyak yang sadar dan pakai BBM ramah lingkungan, tentunya juga makin bagus kualitas hidup kita nanti,” katanya.
Hal senada disampaikan Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah Kota (Setdako) Batam, Efrius. Menurutnya, Pemkot Batam memang menerapkan kebijakan agar para pegawai di instansi pemerintahan tersebut menggunakan bahan bakar dengan bilangan oktan tinggi dan ramah lingkungan.
“Rata-rata Pemkot Batam sudah menggunakan Pertalite untuk operasional mobil dinas, dan untuk pejabat dan pimpinan pakai Pertamax atau Pertamax Turbo,” tutur pria yang akrab disapa Feri tersebut.
Selain diminati pengguna mobil, BBM yang ramah lingkungan juga banyak digunakan para pemilik sepeda motor di Batam.
Bahkan, sebagian di antaranya merupakan generasi muda yang sadar pentingnya menjaga lingkungan dengan BBM yang ramah lingkungan.
Misalnya, Lia, pemilik sepeda motor matic Honda Scoopy. Warga yang tinggal di Tanjungsengkuang, Kecamatan Batuampar ini mengaku mulai beralih dari Premium menjadi Pertalite untuk kendaraannya.
“Rata-rata sekarang sudah Pertalite. Biasanya kalau tanggal muda (setelah gajian, red), sesekali pakai Pertamax, kalau sudah pertengahan atau akhir bulan, balik lagi ke Pertalite,” katanya sembari tertawa.
Menurut dia, menggunakan BBM jenis tersebut punya efek yang bagus terhadap performa sepeda motornya. Salah satunya, pada ketahanan mesin dan daya tarik yang dirasakan.
“Kalau pakai Pertamax jelas pas narik gas terasa ringan banget, Pertalite juga kurang lebih, sih. Selain itu, mesin juga enggak gampang bermasalah. Bagus pokoknya,” ujar wanita berhijab tersebut.
Selain itu, sebagai generasi muda ia mengaku ingin berkontribusi dalam mengurangi pencemaran lingkungan.
Terutama, dari emisi gas buang yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar kendaraan.
“Malahan saya pengaruhi teman-teman saya untuk beralih pakai BBM yang ramah lingkungan, memang lebih mahal sedikit, tapi enggak bakal rugi kok,” tuturnya.
Peningkatan konsumsi BBM RON tinggi atau yang digolongkan sebagai Bahan Bakar Khusus (BBK) seperti Perta Series dan Dex series itu juga berimbas terhadap naiknya permintaan BBK di wilayah Batam dan Kepri.
Pihak Pertamina Merketing Operation Region (MOR) I wilayah Sumatera Bagian Utara membenarkan adanya kenaikan penjualan produk BBK.
Unit Manager Communication and Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina MOR I, Roby Hervindo, mengatakan, untuk wilayah MOR I secara keseluruhan terjadi tren kenaikan penjualan produk BBK atau Perta Series.
Tercatat di Kepri pada periode Januari hingga Juli 2019, penjualan BBK menunjukkan peningkatan 2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Konsumsi 2019 sebesar rata-rata 354 ribu liter per hari, dibanding 2018 sejumlah rata-rata 346 ribu liter per hari,” sebutnya.
Ia menjelaskan, peningkatan ini sinyal positif bahwa lebih banyak konsumen yang menyadari keunggulan BBM berkualitas.
Pertamina juga menyatakan terus mengedukasi konsumen, bahwa BBM berkualitas lebih hemat untuk kantong dan ramah untuk lingkungan.
“Masih perlu kita dorong, karena secara pangsa pasar, Premium masih mendominasi hingga 71 persen dibanding BBM berkualitas 29 persen,” ungkapnya.
Sejauh ini, sambung Roby, kebutuhan konsumen masih dapat terpenuhi dengan baik. Pihaknya juga mengupayakan agar stok yang tersedia di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) mencukupi kebutuhan masyarakat.
“Saat ini, rata-rata stok tersedia cukup memenuhi kebutuhan hingga 13 hari ke depan,” tutupnya.(*)
batampos.co.id – Mengelola air baku yang terbatas menjadi air bersih bukanlah pekerjaan mudah, apalagi penduduk Batam hanya mengandalkan curah hujan yang ditampung di lima waduk buatan sebagai satu-satunya sumber air bersih.
Sebagai pengelola air bersih di Batam, PT Adhya Tirta Batam (ATB) berupaya menjaga suplai air agar bisa berkelanjutan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah memastikan agar Intalasi Pengolahan Air (IPA) dapat berjalan dengan baik, dengan melakukan pemeliharaan secara rutin, khususnya pada area produksi.
“Perawatan area IPA jadi langkah penting untuk dilakukan secara berkala agar produksi air bersih bisa berjalan dengan baik,” ujar Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, Jumat, (30/8/2019).
“Area produksi yang bekerja nonstop menghasilkan air bersih harus memiliki performa yang baik,” paparnya lagi.
“Oleh karena itu, tim ATB rutin melakukan pemeliharaan, hal ini sebagai upaya untuk selalu meningkatkan kuantitas, kualitas, dan kontinuitas pelayanan,” kata Maria.
Adapun enam IPA yang dikelola ATB yaitu IPA Mukakuning, IPA Duriangkang, IPA Sei Ladi, IPA Sei Harapan, IPA Tanjung Piayu, serta IPA Nongsa. Diantara keenam IPA tersebut, IPA Duriangkang sebagai Dam terbesar yang dikelola ATB menjadi perhatian khusus pada saat pemeliharaan.
“IPA Duriangkang memasok hampir 70 persen suplai air bagi pelanggan di Batam, dengan kapasitas produksi 2.200 liter per detik. Oleh karena itu, IPA Duriangkang menjadi tulang punggung suplai air di Batam,” tambah Maria.
Pemeliharaan di area sedimentasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Harapan belum lama ini, hal ini bagian menjaga suplai air ke pelanggan. Foto: PT ATB untuk batampos.co.id
Secara bergantian, jadwal pemeliharaan rutin dilakukan oleh tim teknis ATB. IPA Duriangkang baru-baru ini telah dilakukan pekerjaan pemeliharaan pada area trafo utama 2500 kVA.
Pekerjaan ini penting dilakukan agar kinerja trafo sebagai sumber utama listrik di area IPA bisa berjalan dengan baik.
“Pemeliharaan trafo merupakan bagian utama yang tidak bisa dipisahkan dari area produksi di setiap IPA,” paparnya.
“Apalagi trafo beroperasi dengan beban penuh secara nonstop, pemeliharaan trafo dilakukan untuk meningkatkan performa agar bisa berjalan dengan baik untuk kebutuhan produksi air bersih,” jelas Maria.
Sementara, jadwal dan jenis pekerjaan pemeliharaan disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing IPA.
Pekerjaan pemeliharaan terkadang dilakukan dalam skala yang lebih luas hingga berdampak pada suplai air ke pelanggan.
Seperti pemeliharaan atau penggantian area sedimentasi (bak penampung), pemeliharaan area kelistrikan (trafo) mengharuskan proses produksi air dihentikan.
“Kami berharap agar pelanggan bisa memahami bahwa saat pemeliharaan dilakukan di IPA dalam skala besar, suplai akan terganggu sementara,” kata dia.
“Tentu ini bukan kesengajaan kami untuk mematikan air atau membedakan suplai air antara satu pelanggan ke pelanggan lainnya,” ucap Maria.
Upaya ATB melakukan pemeliharaan IPA merupakan bukti komitmen ATB memberikan pelayanan maksimal.
Proses pekerjaan pemeliharaan yang berjalan dengan baik akan memberikan pelayanan prima kepada pelanggan.
“Tentu ini bagian dari tanggung jawab kami untuk memberikan pelayanan suplai air dengan baik ke pelanggan,” ucapnya.
“Kepada pelanggan, kami juga membutuhkan dukungan agar ATB bisa selalu memberikan yang terbaik,” harap Maria.
Menjaga suplai air ke pelanggan agar dapat meningkatkan kuantitas, kualitas dan kontinuitas, tidak saja sebatas melakukan pemeliharaan berkala.
ATB juga menekan angka kebocoran hingga lebih rendah. Non Revenue Water (NRW) ATB di tahun 2018 menunjukkan bahwa tingkat kebocoran diangka 16,6 persen dan merupakan angka kebocoran terendah di Indonesia.
“Tingkat kebocoran jadi ukuran kinerja perusahaan air, ATB sudah membuktikan itu dengan angka terendah di Indonesia,” tuturnya.
“Apalagi Batam tidak memiliki sumber daya air yang melimpah seperti di tempat lain, yang harus dimanfaakan dengan efisien,” ujar Maria lagi.
ATB juga melakukan inovasi teknologi berbasis informasi yang dibangun oleh internal karyawan ATB.
Mulai dari pengembangan Geographic Information System (GIS), Internet of Things (IoT) untuk hampir semua proses.
Membantu operasional di lapangan mulai produksi, distribusi dan kebocoran, ATB sudah manfaatkan teknologi dan system integrase 4.0.
“Melalui alih teknologi informasi, ATB saat ini jadi benchmark perusahaan air minum terbaik di Indonesia,” tutup Maria.(*)
batampos.co.id – Pemko Batam dalam hal ini Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Batam menyatakan tidak bisa berbuat banyak terkait penurunan pendapatan Retribusi Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA).
Kepala DPM PTSP Kota Batam, Firmansyah, menyebutkan, ada berbagai hal yang berubah terkait peraturan IMTA.
Termasuk hak pendapatan yang akan masuk ke kas daerah.
“Tidak bisa apa-apa, pertama, pengawasan di Disperindag Provinsi, juga sistem (pendapatan IMTA di pemerintah pusat),” kata Firmansyah, Jumat (30/8/2019) siang.
“Kami sifatnya menunggu saja,” ujarnya lagi.
Capaian IMTA tahun ini memang tidak memuaskan. Bahkan kata dia, diketahui target IMTA yang semula Rp 45 miliar di awal tahun.
Kini diturunkan menjadi Rp 12,575 miliar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan. Artinya, turun Rp 32,425 miliar.
“Jadi, targetnya memang berubah (turun, red),” ucap mantan Asisten Administrasi Umum Setdako Batam ini.
Ilustrasi. Target IMTA di Kota Batam turun hingga Rp 32, 425 miliar.
Sementara itu, capaian IMTA berdasarkan data Sistem Informasi Penerimaan Daerah (Siependa) Batam, hingga Jumat kemarin, baru pada angka Rp 8,012 miliar.
Sebelumnya disebutkan, dengan sistem baru yang dikelola langsung Kementerian Tenaga Kerja ini, perpanjangan IMTA tahun kedua, dengan jangka waktu di bawah satu tahun masuk ke Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Ini berbeda dengan tahun sebelumnya masuk ke kas daerah.
“Di bawah satu tahun, seperti satu bulan dua bulan dan seterusnya tetap masuk PNBP,” jelasnya.
“Baru tercatat masuk ke kas daerah jika diperpanjang satu tahun penuh,” kata Firmansyah, Rabu (31/7) lalu.
Sementara, sebagian besar perpanjangan adalah hitungan bulan. Dengan kata lain, yang perpanjangan setahun penuh jarang.
Untuk itu, keadaan ini berpengaruh pada pendapatan, yang biasanya rata-rata per tahun dapat Rp 30 miliar hingga Rp 35 miliar, tahun ini hanya diprediksi belasan miliar.
Turunnya pendapatan IMTA sejatinya sudah mulai terjadi pada tahun 2018 lalu, IMTA hanya tercapai Rp 28 miliar sementara IMTA selalu tercapai pada kisaran Rp 30 miliar hingga Rp 35 miliar.
“Karena sistem itu pada November dan Desember sudah berlaku. Sementara dua bulan terakhir banyak yang urus IMTA,” imbuhnya.(iza)
batampos.co.id – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Batam akan menertibkan lokasi hiburan malam yang berada di sekitar Masjid Mahmud Riayat Syah, Tanjunguncang, Batuaji.
Penertiban akan dilakukan sebelum peresmian dilakukan pada Jumat (20/9/2019) mendatang.
Kepala Bidang Ketenteraman dan Ketertiban Umum (Kabid Trantib), Satpol PP Kota Batam, Imam Tohari, mengatakan, ada beberapa lokasi hiburan malam di sekitar masjid Mahmud Riayat Syah.
Ilustrasi
“Adapun lokasi yang akan kita tertibkan di sekitaran Tanjunguncang dekat PT Hyundai dan Pokok Jengkol arah Pelabuhan Sagulung,” jelasnya, Jumat (30/8/2019).
“Ini sudah ada rangkaian penertiban dari segi jam operasional dan penertiban,” ujarnya lagi.
Kata dia, hal itu sudah rundingkan demi kenyamanan di sekitaran masjid Mahmud Riayat Syah.
“Tujuannya untuk menjaga kenyamanan jamaah pengunjung masjid, sebab pengunjung tak hanya dari masyarakat Batam melainkan luar kota bahkan wisatawan asing,” paparnya.
Kata dia, apabila area di sekitar masjid bersih akan menambah daya tarik wisatawan.(cr1)
batampos.co.id – Operasi Patuh Seligi dari Polda Kepri mulai dilaksanakan di berbagai titik di Kota Batam.
Operasi yang digelar selama 14 hari itu salah satunya digelar di depan Stadion Temenggung Abdul Jamal, Mukakuning.
Pantauan Batam Pos, pengendara roda dua memilih berhenti di bahu jalan tak jauh dari Kawasan Industri Panbil untuk menghindari razia.
Tak sedikit pengendara motor yang hendak menuju ke Batam Center memutar balik, tepatnya di depan Hotel Best Western Panbil, Mukakuning.
Personel kepolisian Satlantas Polresta Barelang melakukan razia di ruas Jalan Ahmad Yani tepatnya di depan stadion Temenggung Abdul Jamal Mukakuning, Jumat (30/8). Foto: Azis Maulana
Dari operasi tersebut, puluhan kendaraan sepeda motor roda dua terjaring razia.
Dalam kegiatan itu juga, polisi langsung memeriksa kelengkapan surat-surat kendaraan serta kelengkapan berkendara.
Bagi yang tak melengkapi surat kendaraan, langsung diberikan surat tilang.
Di lokasi razia, Ayu, 22, salah satu pengendara bermotor pasrah motornya ditilang.
”Soalnya surat-suratnya tak lengkap, lupa tadi bawa dari rumah. Padahal saya mau antar lamaran (kerja),” katanya.
Ipda Viktor Hutahaean, selaku Turjawali Polresta Barelang mengatakan, kegiatan ini baru perdana dilakukan untuk Operasi Patuh Seligi 2019.
Hal ini untuk mengecek kelengkapan berkendara. Lalu untuk pengemudi roda empat dilakukan pengecekan sabuk pengaman dan kelengkapan surat-surat berkendara.
”Masih banyak warga belum sadar kelengkapan berkenda-ra, padahal ini untuk mengingatkan keselamatan mere-ka saat berkendara,” katanya.(cr1)
batampos.co.id – Dishub Kota Batam bersama pengusaha parkir khusus di Batam mengusulkan kenaikan tarif parkir khusus 100 persen.
Jika sebelumnya dua jam pertama kendaraan motor hanya Rp 1.000, maka diusulkan menjadi Rp 2.000. Sementara roda empat dari Rp 2.000 menjadi Rp 4.000.
“Dengan adanya drop off 15 menit di perda parkir memang pajak parkir itu menurun 40 persen. Contoh kecil itu laporan dari bandara satu hari turun Rp 11 juta,” kata kepala UPT Parkir Dishub Batam, Alexander Banik di kantornya, Jumat (30/8/2019).
Alex mengatakan, selain menaikkan pajak parkir ini juga untuk menjaga kelanjutan perusahaan parkir dan karyawan yang bekerja di perusahaan parkir khusus. Di mana UMK setiap tahun, tetapi pendapatan semakin berkurang.
foto: batampos.co.id / cecep mulyana
“Setiap tahun UMK Naik. Lagian kita ini parkir khusus seluruh Indonesia paling murah dibanding kota-kota lainnya padahal kebutuhan hidupnya hampir sama. Misalnya Pekanbaru sudah Rp 5.000. Dengan berlakunya drop off 15 menit ini juga mereka (pengusaha) harus mengurangi karyawan untuk menekan biaya operasional,” katanya.
Bahkan lokasi parkir khusus sering dijadikan perlintasan lewat oleh pengendara.
“Misalnya orang dari Batuaji mau ke Baloi, karena di Simpang Kepri Mall macet, belok saja masuk ke Kepri mall dan keluar dari arah Sukajadi. jadi hanya perlintasan saja, padahal pengusaha harus mengeluarkan kertas dan listrik di portal,” katanya.
Ia mengatakan proposal perubahan tarif ini sudah disampaikan ke Walikota Batam. Di mana dalam UU nomor 28 tahun 2009 tentang pajak dan retribusi daerah, perubahan tarif adalah kewenangan penuh kepala daerah.
“Jadi tidak perlu ubah perda. Jadi hanya diatur dalam Perwako saja. Dan dalam perda juga ada bahwa perubahan tarif bisa lewat Perwako saja,” katanya.
Meski demikian, durasi drop off tetap tidak berubah, tetap 15 menit. Di mana ini nantinya akan berlaku di semua parkir khusus yang ada di Batam baik di pusat perbelanjaan, rumah sakit dan tempat umum lainnya.
“Jadi saya tegaskan yang kami usulkan naik hanya tarifnya artinya yang ada sekarang dikali dua lah. Motor jadi Rp 2.000 dan mobil Rp 4.000,,” katanya.
Tetapi usulan ini belum ada keputusan dari Walikota. Ia berharap dalam waktu dekat ada keputusan terkait ini yang bisa jadi pegangan pengusaha dalam menjalankan usaha parkirnya.
Sementara itu, anggota DPRD Kota Batam Udin P Sihaloho, yang menjadi ketua Pansus Perda Parkir mengaku tidak keberatan dengan usulan kenaikan tersebut. Menurutnya tarif parkir di Batam termasuk yang paling murah di Indonesia.
“Kalau saya tidak keberatan. Di Batam, tarif parkirnya lebih murah. Tetapi ingat pelayanannya juga paling bobrok. Jadi saya mendukung naik, tetapi ingat pelayanan harus ditingkatkan,” Katanya. (ian)