Ramjan siap menyambut Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok keluar dari penjara (Wildan Ibnu Walid/JawaPos.com)
batampos.co.id – Detik-detik menjelang bebasnya Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok dinantikan banyak orang. Tak sedikit warga mengungkapkan kerinduan kepada Mantan Gubernur DKI Jakarta dan Bupati Bangka Belitung tersebut.
Seperti dilakukan pria penyandang disabilitas bernama Ramjan, 49. Meski berjalan dengan kursi roda, dia rela menyempatkan diri ingin melihat sosok Ahok bisa kembali menghirup udara bebas.
Dia tiba di depan pintu masuk Mako Brimob Kelapa Dua Depok sejak pukul 01.30 WIB. Ramjan berangkat seorang diri dari rumahnya di Rawabunga, Jatinegara, Jakarta Timur. Meski tertatih kesulitan menuju Mako Brimob, akhirnya keinginannya bisa terwujud menyambut Ahok bebas.
Bersama kursi rodanya, Ramjan tiba di lokasi depan Mako Brimob diantar dengan angkutan umum. Dia bersyukur bisa ikut menyambut Ahok keluar dari tahanan. Meskipun peluang bertemu Ahok sangat kecil.
“Ahok itu figur yang om sukai. Om kenal baik sama Ahok waktu jadi Gubernur DKI Jakarta,” ungkapnya kepada JawaPos.com (grup batampos.co.id), Kamis (24/1).
Ramjan mengaku beberapa kali sudah bertemu dengan Ahok. Dari saat menjadi Gubernur DKI Jakarta hingga saat mencalonkan diri sebagai gubernur. Bahkan, Ramjan pun berkali-kali diterima oleh Ahok di Balai Kota DKI Jakarta.
Dia menceritakan, kala itu dirinya tengah menyampaikan aspirasi. Aspirasinya diterima Ahok untuk memperjuangkan UU No. 8 tahun 2016 Tentang Penyandang disabilitas.
“Iya, om langsung diterima sama Ahok. Om ketemu Ahok waktu di rumahnya di Menteng, di Balai Kota, sama mencalonkan menjadi Gubernur,” katanya.
Di matanya, Ahok merupakan sosok pemimpin tegas dan berani. Tak hanya itu, selama menjabat pemerintahan Ahok merupakan pemimpin yang transparan dan akuntabel.
Ramjan pun berharap, usai keluar dari Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Ahok bisa kembali memperjuangkan nasib rakyat.
“Ahok orangnya berani membela rakyat, walaupun banyak orang yang nggak suka. Harapannya bisa memperjuangkan rakyat kembali,” tutup Ramjan.(bintang/JPG)
LURAH Pasar Kumandang, Asngari, saat memantau aktivitas para pedagang, Minggu (13/1) lalu. (Dimas Nur Apriyanto/Jawa Pos)
Di tengah hutan dan hanya buka sepekan sekali, Pasar Kumandang mengharamkan segala jenis plastik. Ada kandungan filosofis kenapa bahasa Jawa diwajibkan dan rupiah harus ditukar batok kelapa di sana.
DIMAS NUR APRIYANTO, Wonosobo
SI pembeli itu tampak bingung. Mukanya mengernyit. Lalu mengulangi kembali pertanyaannya kepada si penjual jamu.
’’Berapa, Bu?’’ tanya si pembeli.
’’Sekawan keping nggih, Cah Ayu,’’ jawab si penjual dengan agak menahan tawa.
’’Sekewan. Berapa itu, Bu?’’ tanya si pembeli lagi.
Bhaaa… si penjual pun akhirnya benar-benar tak bisa menahan tawa. ’’Sekawan itu artinya empat, Mbak. Kalau kewan, itu binatang,’’ jawabnya. Kali ini si pembeli dan kawan-kawannya yang giliran gerrr.
Kalau lost in translation kerap terjadi di pasar tengah hutan di Wonosobo itu, harap maklum. Sebab, hanya boso Jowo (bahasa Jawa) yang boleh digunakan di sana. Setidaknya oleh para penjual atau pedagang.
Para pembeli yang tak bisa boso Jowo tetap bisa menggunakan bahasa Indonesia. Namun, jawaban para pedagang bakal tetap dalam bahasa Jawa.
Dan, dari sanalah berbagai momen ger-geran itu bermula.
Ya, selamat datang di Pasar Kumandang, Dusun Bongkotan, Desa Bojosari, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Pasar yang tak hanya meng-haruskan Anda berpisah dari bahasa Indonesia begitu melewati plang di gerbang yang bertulisan ’’Wajib Boso Jowo’’. Tapi juga harus merelakan rupiah di kantong bersalin rupa jadi kepingan batok kelapa.
Ada dua ’’money changer’’ di pintu masuk pasar yang hanya buka tiap Minggu itu. Berupa dua meja yang dijaga karang taruna setempat. Sekeping batok kelapa bernilai Rp 2 ribu.
Dengan kepingan batok itulah Anda bisa jajan beragam makanan dan minuman di sana. Atau membelikan sang buah hati berbagai mainan tradisional.
’’Ada 70 pedagang di Pasar Kumandang. Yang satu sama lain tak boleh menjual makanan yang sama,’’ ujar Asngari, Lurah Pasar Kumandang, kepada Jawa Pos (grup batampos.co.id) pada Minggu (13/1) lalu.
Ada kandungan filosofis di balik kewajiban berbahasa Jawa dan menukar rupiah dengan batok kelapa di pasar tersebut. Yang pertama agar bahasa Jawa, bahasa keseharian warga di sana, tetap lestari. Untuk uang pengganti, tujuannya adalah memunculkan nuansa alam.
’’Kami di sini tidak hanya menjual barang. Tapi juga mengedukasi cinta terhadap alam,’’ tutur Asngari.
Karena itu pula, pasar seluas setengah hektare tersebut, sebagaimana juga tertulis di plang pintu masuk, nirplastik. Lapak berukuran sekitar 1×2 meter terbuat dari bambu, sedangkan kursi dan meja dari kayu.
Besek menjadi pengganti piring. Untuk melapisi besek, para pedagang menggunakan daun pisang. Untuk menyajikan minuman, para pedagang memakai gelas kaca.
Jadi, ya jangan harap bisa membungkus es teh, misalnya. Kecuali kalau pembeli membawa wadah sendiri.
Pasar yang terletak 17 kilometer dari pusat kota Wonosobo itu mulai buka pada Mei tahun lalu. Dilandasi sema-ngat untuk memberikan penghasilan tambahan bagi warga setempat yang mayoritas bekerja sebagai petani atau pekebun. Tidak langsung seramai sekarang, tentu saja. Penjual dan pembeli hanya datang dari desa sekitar.
Geliat Pasar Kumandang baru mulai terasa setelah dibuka resmi oleh Wakil Bupati Wonosobo Agus Subagyo, tiga bulan setelah pasar berjalan. Eksposur dari pembukaan itu mengundang ketertarikan pada pasar dengan berbagai aturan langka tersebut.
Pembeli berdatangan dari berbagai penjuru, termasuk dari luar Wonosobo. Jumlah pedagang yang semua berasal dari Dusun Bongkotan bertambah. Hingga akhirnya mencapai 70 orang.
Muaranya adalah pasar yang menyajikan keanekaragaman makanan dan minuman. Maknyus dan murah-murah pula.
Jawa Pos sempat menjajal mi ongklok. Cuma dua keping alias Rp 4 ribu. Padahal, saat andok mi yang sama di Kota Wonosobo, dua hari kemudian, harganya hampir tiga kali lipat: Rp 10 ribu.
Lebih mahal, tapi tak lebih enak. Di Kumandang, tekstur minya lebih kenyal. Bumbunya sangat nendang. Terutama aroma bawang putihnya. Cuma kalah dari segi banyak-nya suwiran ayam.
Untuk melonggarkan tenggorokan, jamu temulawak yang manis dan segar bisa dinikmati hanya dengan satu keping batok kelapa atau Rp 2 ribu. Sebelum kemudian menjajal sego megono yang dicampur sama tempe kemul.
Tempe kemul ini persis tempe mendoan. Hanya penganan khas Wonosobo itulah yang boleh dijual di semua lapak di Kumandang. Kombinasi sego megono plus tempe kemul itu bisa dinikmati dengan hanya membayar tiga keping batok kelapa atau Rp 6 ribu. Coba, nikmat apa lagi yang kau dustakan?
Dari Kota Wonosobo, untuk menjangkau Pasar Kumandang, jika tak membawa kendaraan pribadi, harus dua kali berganti kendaraan umum. Pertama dengan minibus yang disebut ’’angkot atas’’ oleh warga setempat. Dilanjutkan ojek selama sekitar 7 menit.
Pasar Kumandang buka mulai pukul 07.00 sampai pukul 13.00. Sepanjang durasi itu, Umi, seorang penjual klepon, mengaku rata-rata bisa menjual 30 porsi. Dengan harga seporsi satu keping saja.
Di lapaknya, perempuan 48 tahun itu juga menjual sate telur puyuh dan ati ampela. ’’Yang paling cepat habis, ya sate puyuh ini, Mas,’’ ujarnya.
Menurut Asngari, tak ada biaya sewa untuk lapak. Melainkan iuran. Besarnya 12,5 persen dari hasil penjualan mereka pada hari tersebut. Misalnya, hari ini pedagang A mengantongi pendapatan Rp 200 ribu, dia harus membayar iuran Rp 25 ribu kepada pengurus pasar.
Iuran tersebut digunakan untuk kepentingan fasilitas para pedagang. Misalnya, perawatan lapak dan kebersihan area pasar. Setiap Jumat, para pedagang juga berkumpul di selasar dusun.
Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas berdagang sebelumnya. ’’Apa yang perlu diperbaiki, misalnya, kalau kursi yang rusak. Pada Minggu pagi ketika berdagang, kursi harus sudah benar,’’ ungkapnya.
Semua agar kenyamanan pembeli bisa tetap terjaga. Tapi, yang tetap tak bisa dijamin adalah lost in translation.
Saat antre menunggu makanan di lapak soto kuali, Jawa Pos mendapati Ratih, seorang pembeli dari Jambi, yang mengalami momen-momen membingungkan seperti pembeli jamu tadi.
’’Bu, soto kualinya, ya,’’ kata Ratih. ’’Sekedap nggih, Mbak,’’ jawab si ibu penjual.
Untunglah, Ratih bisa memahami sedikit-sedikit apa yang dimaksud si penjual. Kalau tidak, bisa-bisa dia malah ngamuk, ’’Ngapain saya beli soto saja disuruh sedekap…”.(*/c5/ttg)
WARGA menggunakan perahu karet keluar dari permukiman yang terendam banjir di Blok 10, Perumnas Antang, Makassar, Rabu (23/1). (IDHAM AMA/FAJAR/JPG)
batampos.co.id – Bencana banjir di Sulawesi Selatan (Sulsel) terus meluas. Sudah 31 korban tewas ditemukan. Di Jeneponto, 100 warga bahkan masih hilang.
Korban tewas ditemukan di Maros (4), Jeneponto (4), Gowa (22), dan Pangkep (1). Sementara warga hilang di Jeneponto dari beberapa kecamatan. Itu masih data sementara yang terdata Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, banjir menggenangi 53 kecamatan di sembilan kota/kabupaten. Yakni, Kabupaten Jeneponto, Gowa, Maros, Soppeng, Barru, Wajo, Bantaeng, Pangkep, dan Kota Makassar. Sawah seluas 10.021 hektare juga terendam.
Sutopo mengatakan, banjir membuat beberapa sungai meluap. Yakni, Sungai Topa, Allu, Bululoe, Tamanroya, Kanawaya, dan Tarowang. Hingga kemarin, proses evakuasi masih berlangsung. Begitu pula pencarian, penyelamatan, dan pendistribusian bantuan. Banyak warga yang mengungsi sementara di atap rumah sambil menunggu dievakuasi. ”Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan, dan lainnya saat ini melakukan penanganan darurat,” kata Sutopo.
Sementara itu, harian Fajar melaporkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jeneponto merilis kondisi terakhir bencana banjir. Hingga tadi malam, seratus warga dilaporkan hilang. ”Kita belum perinci. Masih terus mengumpulkan data,” terang Kepala BPBD Jeneponto Anwaruddin.
Titik banjir terparah berada di Desa Sapanang, Kecamatan Binamu. Di desa yang terdiri atas lima dusun dengan penduduk 4.000 jiwa itu, hampir seluruh rumah tenggelam. Bahkan, berdasar pantauan Fajar, tidak sedikit rumah yang hanyut akibat luapan Sungai Sapanang.
Kepala Dusun Sapanang Basoddin menjelaskan, di dusun tersebut 132 rumah rusak parah. Tujuh orang hilang dan tujuh rumah hanyut.
Untuk empat dusun lainnya, belum ada informasi valid. Sebab, jalan masih terputus di Sapanang. Akses yang terputus itu membuat tiga lokasi belum tersentuh evakuasi. Yakni, Desa Jombe, Desa Bonto Matene, dan Desa Bulu Loe. Padahal, menurut BPBD, tiga lokasi tersebut termasuk titik terparah. ”Ratusan rumah di sana tenggelam,” kata Kasi Logistik BPBD Jeneponto Zulfikar.
Di titik parah lainnya, seperti banjir di Belokallong Binamu yang sempat memutuskan jalan Trans-Sulawesi, seluruh warga sudah terevakuasi. Namun, kemacetan masih terjadi akibat tingginya genangan air.
Bupati Jeneponto Iksan Iskandar menjelaskan, korban banjir kini menempati beberapa lokasi pengungsian. Di antaranya, di kantor satpol PP, Gedung Sipatagarri, dan masjid agung. Titik lainnya berada di masing-masing kecamatan dan desa.
Sementara itu, elevasi air di Bendungan Bilibili kemarin terus turun mendekati normal. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang T. Iskandar menyatakan, elevasi bendungan pada Rabu (23/1) menunjuk angka 100.17 dengan total air tertampung 269 juta meter kubik.
”Air yang masuk ke bendungan saat ini mencapai 792,02 meter kubik/detik. Air yang dikeluarkan 792,56 meter kubik per detik,” terangnya.
Akibat dibukanya pintu air di hilir bendungan, banjir menggenangi beberapa daerah di Gowa dan Makassar. Dua wilayah tersebut terhubung langsung dengan aliran Sungai Jeneberang. Sementara itu, banjir yang melumpuhkan akses darat di Kabupaten Maros, kata Iskandar, disebabkan meluapnya Sungai Maros yang tidak berhubungan dengan Bilibili.
Hingga kemarin, banjir meluas kendati hujan tidak lagi mengguyur Kota Makassar. Genangan terjadi di beberapa titik dan melumpuhkan akses transportasi.(ful/ans/gsa/rif/uk/tau/byu/c6/oni/JPG)
Sebuah perusahaan di Tiongkok menumpuk uang senilai Rp 628 miliar yang akan dibagikan sebagai bonus tahunan untuk karyawannya. (Dokumentasi Shanghaiist)
batampos.co.id – Warga Tiongkok sebentar lagi akan merayakan festival musim semi yang menandai datangnya Tahun Baru Cina. Masa-masa itu adalah saat dimana perusahaan-perusahaan di Tiongkok membagikan bonus akhir tahun kepada para karyawannya, biasanya dengan cara semegah mungkin.
Tahun ini, sebuah perusahaan produsen baja di Nanchang, Provinsi Jiangxi mungkin bisa digelari sebagai perusahaan yang melakukan “pamer bonus tahunan” dengan cara terbaik.
Bonus tahunan bagi para karyawan dipamerkan dengan membangun sebuah “gunung” dari tumpukan uang tunai yang jumlah totalnya mencapai 300 juta yuan atau sekira Rp 628 miliar.
Uang itu kemudian dibagikan kepada 5.000 karyawan pabrik, sehingga setiap pekerja mendapat bonus rata-rata 60.000 yuan (sekira Rp125 juta), dua kali lipat dari yang mereka terima tahun lalu. (dka/JPG)
batampos.co.id – Pembayaran Upah Minimum Kota (UMK) dengan kenaikan 8,03 persen wajib ditaati pengusaha, terhitung Januari 2019. Untuk Kota Batam, meskipun saat penetapan UMK Batam 2019 sebesar Rp 3.806.358 ada pengusaha yang keberatan, namun Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam menyatakan belum menerima permohonan penundaan penerapan UMK oleh kalangan pengusaha.
”Belum ada di meja kerja saja permohonannya, itu tandanya perusahaan di Batam siap melaksanakan UMK baru tersebut,” kata Kepala Disnaker Batam Rudi Sakyakirti, Rabu (23/1).
Ia membenarkan UMK tersebut wajib dijalankan pengusaha. Kalaupun ada yang mengajukan penundaan nantinya, bisa saja, namun penundaan itu sifatnya sesaat, harus tetap dibayar saat perusahaan mampu menggaji sesuai UMK.
”UMK baru ini wajib dilak-sanakan, karena ini merupakan ketetapan pemerintah,” sambungnya.
Dalam mengajukan penundaan pembayaran UMK baru, juga tidak mudah. Menurut Rudi, harus dibuktikan dengan audit dua tahun terakhir, serta kesepakatan antara perusahaan dengan pihak pekerja dan persyaratan lainnya.
”Kalau persyaratan tidak lengkap maka permohonan itu bisa ditolak,” tutur Rudi.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam Rafki Rasyid mengatakan, sampai saat ini belum ada perusahaan di Batam yang mengajukan penundaan penerapan UMK baru.
”Sampai hari ini kami juga belum mendapat satupun perusahaan yang tergabung dalam Apindo mengusulkan untuk penundaan,” katanya.
Walaupun berat, sambungnya, keputusan itu tetap harus dijalankan. Ia juga mengaku selalu mengimbau kepada anggota untuk mematuhi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan yang jadi landasan penetapan UMK tersebut.
”Namun yang tidak bisa di terima Apindo adalah UMS (Upah Minimum Sektoral), karena UMK saja sudah berat ditambah lagi UMS yang lebih tinggi untuk beberapa sektor unggulan itu akan lebih berat,” sebutnya.
Ia berharap, pemerintah lebih bijak dalam mengambil keputusan. Pasalnya, dengan kenaikan pertumbuhan ekonomi Batam yang hanya 4 persen, jika pengusaha dibebankan lagi dengan UMS maka akan banyak perusahaan yang tidak sanggup membayar, bahkan diperkirakan bisa kolaps.
”Kita khawatirkan banyak perusahaan yang tutup, terjadi pengurangan karyawan pada perusahaan atau PHK, kasihan juga pekerjanya,” kata Rafki.
Namun, jika nanti Gubernur Kepri menetapkan UMS karena desakan demo dari asosiasi pekerja dan dengan mekanisme yang tidak sesuai aturan, maka Apindo akan menggugat.
Gugatannya tidak hanya pada Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) tapi juga gugatan perdata yakni gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH).
”Jadi, gubernur harus hati-hati,” ujarnya, mengingatkan.(peri)
Pelajar MAN 1 Batam di Sagulung berjalan keluar dari pekarangan sekolah, beberapa waktu lalu. Seluruh madrasah di Batam kini menyelenggarakan UNBK. (Dalil Harahap/Batam Pos)
batampos.co.id – Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Batam yang bernaung di bawah Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Batam tahun ini seluruhnya akan melaksanakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Jumlahnya yakni masing-masing dua MTs Negeri dan 19 untuk MTs Swasta.
”Sama seperti tahun kemarin. Tahun ini UNBK sudah dilaksanakan 100 persen,” kata Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam Erizal Abdullah, Rabu (23/1).
Menurutnya, untuk dua MTs Negeri, ada 417 siswa yang akan melaksanakan UNBK di tahun ini. Terdiri dari 152 siswa laki-laki dan 265 siswa perempuan. Sedangkan untuk 19 MTs Swasta terdata 651 siswa bakal melaksanakan UNBK.
Mereka terdiri dari 363 siswa laki-laki dan 288 siswa perempuan.
”Totalnya 1.068 siswa. UNBK dari tahun kemarin,” tuturnya.
Kepala Seksi Bidang Madrasah Kemenag Kota Batam Muhammad Dirha menambahkan sekolah yang berada di pulau penyangga (hinterland) tetap akan melaksanakan UNBK. Madrasah di hinterland yang sudah bisa melaksanakan UNBK mandiri, di antaranya MTs Negeri 2 yang berada di Pulau Belakangpadang.
”UNBK Karena sudah memiliki sarana dan prasarana memadai,” kata Dirha.
Selain MTs dan MA negeri, juga terdapat 19 MTs swasta dan 13 MA swasta. Madrasah swasta ini sebagian di antaranya melaksanakan UNBK dengan menumpang di madrasah lain.
Seperti MTs Marhamah di Pulau Setokok yang menumpang UNBK di MAN 1 Sagulung. Kemudian madrasah di Pulau Bulan Lintang juga menumpang di MAN 1. Sementara MTs Nurul Iman di Pulau Mongkol menumpang di MTsN 2 Belakangpadang.
”Anak-anak dari pulau nanti diinapkan di rumah warga sekitar madrasah tempat menumpang UN. Agar tidak bolak-balik,” ujarnya.(rengga)
batampos.co.id – Saat terjadi benturan antara MT Eastern Glory dengan tubuh jembatan 2 terdengar suara keras. Ada pula percikan api akibat gesekan antara keduanya.
Sebagian badan kapal masuk ke kolong jembatan. Sementara tiang utama kapal tersangkut di badan jembatan.
Secara kasat mata tabrakan itu tidak berdampak pada bagian atas jembatan. Arus lalulintas dari dua arah berjalan lancar sebagaimana mestinya.
Untuk berjaga-jaga, lokasi jembatan dikosongkan petugas dari parkiran kendaraan apapun. (eja)
batampos.co.id – Empat pemuda ditangkap dan didakwa atas dugaan akan menyerang komunitas Muslim kecil di New York bernama Islamberg. Para tersangka dituduh memiliki bom rakitan dan senjata api guna melakukan aksi kejinya tersebut.
Komunitas Islamberg terletak di sebelah barat Pegunungan Catskill dekat Kota Binghamton. Komunitas Islamberg telah menjadi sasaran teori konspirasi yang menuding mereka memiliki kamp pelatihan teroris.
Keempat pemuda yang ditangkap bernama Andrew Crysel, 18 tahun, Vincent Vetromile, 19 tahun, dan Brian Colaneri, 20 tahun, dan seorang pemuda tak disebutkan namanya, 16 tahun.
Penyelidik mengatakan, pemuda itu dari Kota Greece di barat laut New York. Mereka membuat tiga alat peledak menggunakan selotip dan toples besar serta silinder yang berisi paku dan proyektil lainnya.
Dilansir dari BBC, polisi mengatakan, mereka ditemukan di rumah remaja berusia 16 tahun itu. Sekitar 23 senjata api juga ditemukan di berbagai lokasi.
Kepala Polisi Greece, Patrick Phelan mengatakan, penyelidikan itu diluncurkan setelah komentar yang dibuat oleh anak berusia 16 tahun di sekolah dan didengar oleh seorang siswa.
Kelompok Islamberg yang kebanyakan orang Afrika-Amerika menetap di sana untuk menghindari kejahatan dan kepadatan di New York.
Penduduk setempat menggambarkan komunitas itu damai dan ramah. Namun media massa yang dipimpin oleh konspirasi sayap kanan seperti Infowars menyebut mereka merupakan kamp teroris. (jpc)