Rabu, 29 April 2026
Beranda blog Halaman 11771

Polisi Pelajari Modus Kejahatan Jalanan

0
Anggota Polisi melakukan patroli. Patroli dilakukan demi keamanan masyarakat Kota Batam. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Kasat Sabhara Polresta Barelang, Kompol Ramses Marpaung mengakui kejahatan jalanan selalu terjadi saat pihaknya lengah dan lebih pintar dari polisi. Untuk itu, pihaknya akan selalu mempelajari modus yang digunakan pelaku kejahatan dalam melancarkan aksinya.

“Dari kejadian yang terjadi selama ini, baik pencurian dengan kekerasan atau pencurian dengan pemberatan yang terangkum di Polresta maupun Polsek tetap akan kami pelajari,” kata Ramses.

Dijelaskan Ramses, dari laporan yang diterima di Polresta maupun di Polsek, dirinya bisa mengarahkan tim patroli siang maupun tim patroli malamnya agar lebih efektif dalam menangkal aksi kejahatan jalanan. Untuk upaya pencegahan, Ramses juga akan siap menambah intensitas patroli anggotanya.

“Kami melihat dari tren kejahatan yang terjadi, memang para pelaku kejahatan ini kadang-kadang lebih pintar dari Polisi. Ketika saat kita lengah mereka beraksi, pada saat kami patroli mereka sengaja diam,” tuturnya.

Dilanjutkannya, kawasan yang rawan menjadi kejahatan jalanan di daerah Temiang dan juga di jalan Hang Tuah dari depan perumahan Odessa sampai ke Simpang Bandara. Selain itu, jalan dari Simpang Base Camp sampai Muka Kuning juga dikatakan sebagai lokasi yang rawan dengan kejahatan jalanan.

“Kami dari Sat Sabhara sudah gencar melakukan patroli di dua tempat tersebut, cuma tidak mungkin kita standby 24 jam disana. Jadi, sebelum kejadian, kami pelajari dulu laporan-laporan yang ada,” bebernya.

Ramses menambahkan, pihaknya juga meminta kepada masyarakat untuk segera membuat laporan kepada pihak kepolisian jika menjadi korban kejahatan jalanan. Sebab, dengan cepatnya diterima laporan dari masyarakat bisa memudahkan anggota Sabhara melakukan pengejaran terhadap pelaku kejahatan jalanan tersebut.

“Kadang-kadang juga korban lambat memberikan laporan, kejadian hari ini satu sampai dua hari baru melapor. Dalam setiap kejadian ketika kita cepat melapor maka pencarian juga akan cepat kami lakukan. Kalau satu sampai dua hari baru di laporkan kami pun sudah untuk mencari dan melacak keberadaan pelaku,” imbuhnya. (gie)

2 ASN Natuna bakal Dipecat Tidak Hormat

0

x.batampos.co.id  – Dua aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Natuna bakal dipecat tidak hormat.

Dua ASN tersebut terjerat kasus narkoba, dan sudah mejalani sidang vonis beberapa waktu lalu. Keduanya ASN golongan 2 C, yakni YS dan YH.

Kasubid Pembinaan Pegawai, Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Pemkab Natuna, Herlya Kuryakin mengatakan, keduanya sedang diproses pemecatan tidak hormat. Sebelumnya ASN ini sebagai staf di Dinas pertanian dan staf sekretariat DPRD.

Sesuai ketentuannya sambungnya, YS melanggar undang-undang ASN pasal 7 ayat 4 dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 11 pasal 250. Sanksinya jelas, dipecat dengan tidak hormat.

Sementara YH yang juga golongan 2 C, sambungya, melanggar undang-undang ASN pasal 87 ayat 2 dan PP nomor 11 pasal 9 ayat dengan ketentuan dapat diaktifkan kembali menjadi PNS, jika tersedia dan tegantung keputusan dari Bupati Natuna.

“Jadi YS sudah inkrah keputusan pengadilan selama 6 tahun penjara karena penyalahgunaan narkotika, sementara YH divonis 1 tahun penjara,” jelasnya.

Terhadap YS, katanya, sesuai aturan diberhentikan secara tak hormat. Pemberhentian denga tidak hormat ini telah diatur dalam undang-undang ASN pasal 7 ayat 4 dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 11 pasal 250. BKPP hanya menjalankan amanat undang-undang.

Namun dalam proses pemecatan ASN matan narapidana tindak pidana korupsi, Pemda Natuna belum memprosesnya. Menurut berbagai sumber, sekitar 20 ASN dilingkungan Pemkab Natuna pernah menjalani hukuman tindak pidana korupsi. Bahkan saat ini masih ada yang menjabat di OPD.(arn)

APBD Perubahan Tanjungpinang telah Disahkan

0

x.batampos.co.id – Anggaran perubahan Kota Tanjungpinang akhirnya disahkan pada Jumat (28/9) sore. APBD Perubahan 2018 yang disahkan sebesar Rp 891,52 miliar ini, dipastikan telah mengakomodasi sebagian kecil program Syahrul-Rahma di awal masa pemerintahannya ini.

Kendati tersisa hanya kurang dari tiga bulan ke depan, Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul meyakini segala program yang dilangsungkan pada anggaran perubahan ini, merupakan program prioritas yang dapat terakomodasi, walau dengan anggaran yang terbatas.

Sementara itu, Wakil Ketua I DPRD Tanjungpinang, Ade Angga membenarkan hal tersebut. Ia menyebut, sebagian besar program yang bersifat bantuan sosial langsung dilaksanakan di penghujung tahun ini. Sehingga anggaran dimasukkan dalam pos bantuan tak terduga pada berkas anggaran perubahan ini.

“Seperti program bantuan sosial, uang duka senilai Rp 1,2 miliar, yang diletakkan dalam uang bantuan tak terduga,” papar Ade Angga.

Selain itu, Angga juga menjabarkan beberapa program bersifat bantuan sosial lainnya. Yakni pengadaan satu set tenda beserta seperangkat kursi yang dibagikan masing-masing kelurahan. Sehingga mempermudah masyarakat yang menggelar hajatan dan membutuhkan fasilitas tersebut.

Dan salah satu program unggulannya, yakni, program yang menyasar rumah tangga sasaran. Salah satunya yakni rumah tangga nelayan.

“Yang diberikan bantuan berupa alat tangkap nelayan,” jelas Angga.

Bantuan tersebut dialokasikan dengan memakan dana sebesar Rp 180 juta. Menurut Angga dana itu masih terbilang minim. Namun suatu kemajuan, mengingat vakumnya perhatian pemerintah pada rumah tangga sasaran tersebut, selama tiga tahun terakhir.

“Apalagi kalau berdasarkan data, terdapat 1.500 KK nelayan yang masuk kategori miskin. Program ini akan kami dorong untuk ditingkatkan selanjutnya,” ujar Angga.

Sementara janji politik Syahrul-Rahma yang diakomodasi lainnya ialah, program hotspot. Program ini dimulai dengan pilot project terlebih dulu, yang disebar di beberapa titik di Tanjungpinang.

Meski perencanaannya, akan disebarkan di 100 titik di seluruh Tanjungpinang, pengadaan ini nantinya, menurut Angga, akan didukung dengan dibangunnya fasilitas pendukung. Seperti taman, area bersantai dan penerangan.(aya)

Mulai Hari Ini, Bebas Bayar Parkir untuk 15 Menit Pertama di …

0
ilustrasi

batampos.co.id – Mulai hari ini (1/10/2018), Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam mulai memberlakukan aturan bebas parkir selama 15 menit di kawasan parkir khusus di Kota Batam.

Aturan pembebasan biaya parkir ini mengacu dalam Perda nomor 3 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan dan Retribusi Parkir di Kota Batam.

“Itu berlaku untuk parkir khusus seperti di mal, pelabuhan, bandara dan rumah sakit. Kalau untuk parkir di tepi jalan tidak berlaku, jadi dia hanya untuk parkir khusus,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Lalu Lintas Dishub Batam Edward Purba.

Dijelaskan Edward, dalam Perda nomor 3 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan dan Retribusi Parkir di Kota Batam itu, ada tiga poin penting yang akan mulai diberlakukan hari ini, Senin (1/10). Poin penting dalam Perda terbaru itu yakni, pembebasan biaya parkir selama 15 menit, biaya derek bagi parkir sembarangan dan penambahan batas waktu parkir.

“Batas waktu parkir ini sebelumnya sampai pada pukul 20.00 WIB. Akan tetapi, dalam Perda terbaru ini, petugas parkir akan memintai retribusi parkir di tepi jalan itu sampai pukul 22.00 WIB,” tuturnya.

Ia mengaku bahwa Dishub Batam telah melakukan tahapan sosialisasi Perda parkir terbaru ini selama hampir satu bulan. Dimana, sosialisasi itu dilakukan dengan mamasang spanduk dilarang parkir di beberapa titik serta menyurati pengelola parkir dikawasan parkir khusus. Untuk itu, ia meminta pengelola parkir maupun masyarakat untuk mentaati aturan yang berlaku.

“Kami sudah siap melaksanakannya, tidak ada lagi cerita sosoalisasi terkait dengan Perda ini. Akan tetapi kita langsung penerepan bagi masyarakat yang parkir sembarangan yang mengganggu kelancaran lalu lintas,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya juga akan memberlakukan biaya derek bagi pengendara kendaraan yang parkir di sembarang tempat. Terhadap pengendara yang parkir disembarang tempat akan dikenakan biaya derek sebesar Rp 500 ribu dan biaya inap sebesar Rp 300 ribu per malam untuk kendaran roda empat dan untuk kendaraan roda dua akan dikenakan denda sebesar Rp 175 ribu.

Biaya derek Rp 500 ribu itu merupakan biaya derek dalam sekali jalan. Sementara untuk biaya inap itu dimaksudkan kepada kendaraan yang telah lebih dari 24 jam belum diambil oleh pemiliknya. Adapun biaya derek dan biaya inap itu nantinya akan dibayar oleh pengendara langsung ke Bank Riau Kepri dan masuk ke dalam kas daerah.

“Jadi dalam hal ini, Dinas Perhubungan Kota Batam tidak menerima uang secara langsung atau tidak menerima dana berbentuk tunai. Tapi yang bersangkutan melaksanakan pembayarannya di Bank Riau. Yang kita terima adalah bukti yang bersangkutan sudah melakukan pembayaran dendanya,” bebernya. (gie)

Sungai Lumpur Melanda Kota Palu

0

x.batampos.co.id – Belum selesai dikejutkan dengan gempa bumi dan hantaman gelombang tsunami, warga kota Palu kembali menyaksikan horor saat tanah tempat mereka berpijak berubah menjadi sungai lumpur raksasa. Lumpur tersebut menghisap dan menenggelamkan rumah dan bangunan di atasnya.

Beberapa video beredar menunjukkan kengerian sungai lumpur tersebut. Kapusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengkonfirmasi telah terjadi fenomena pencairan tanah atau soil liquifaction di sebagian wilayah di Palu Selatan dan Tenggara.

Sutopo menyebut, setidaknya ada 4 wilayah yang tanahnya mengalami likuifaksi. Yakni derah sekitar Jalan Dewi Sartika, di beberapa wilayah Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kecamatan Biromaru yang masuk Kabupaten Sigi, serta di Desa Sidera, Sigi.

Kawasan perumahan di sekitar Kelurahan Balaroa bahkan kata Sutopo ambles puluhan sentimeter ke tanah.

Dalam ilmu mekanika tanah, soil liquifaction adalah fenomena saat tanah kehilangan kekuatan dan kepadatannya karena saturasi dan kelembapan air yang meningkat. Konturnya berubah menjadi lembut dan bahkan cair hingga berwujud seperti lumpur.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Sri Hidayati mengatakan likuifaksi merupakan salah satu dari beberapa bahaya dan risiko gempa bumi. Ada setidaknya 4 bahaya gempa bumi, yang pertama guncangan yang menghancurkan bangunan, kemudian keretakan dan deformasi tanah.

”Lalu ada dua bahaya susulan yakni Tsunami dan longsor atau likuifaksi tanah,” jelas Sri.

Likuifaksi ini ternyata sebelumnya sudah terjadi paska gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu. Sri mengatakan, tim PVMBG menemukan fenomena pencairan tanah ini di beberapa desa di Kabupaten Lombok Utara. Desa Tampes, Kecamatan Kayangan, Desa Beraringan, Kecamatan Kayangan dan beberapa desa di Kecamatan Bayan.

Sri menjelaskan, pencairan atau peluluhan tanah terjadi karena kandungan tanah yang tidak cukup solid alias lembut lalu adanya kandungan air.

”Tanah kota Palu sendiri terdiri dari unsur aluvium, semacam pasir halus. Juga mengandung jenuh air,” jelasnya.

Saat terguncang oleh gempa, kata Sri, kandungan saturasi air yang ada di tanah bagian bawah teraduk-aduk dan membuat tanah semakin lembut sehingga kekuatannya untuk menopang bangunan di atasnya semakin berkurang. Sehingga fondasi-fondasi bangunan terlihat seperti tenggelam ke lumpur. Bahkan terlihat terseret aliran lumpur tersebut.

Menurut rekam sejarah, likuifaksi juga terjadi pada gempa dan tsunami Jepang tahun 2011 juga terjadi pencairan tanah di sekitar kota Tokyo.

Warga mengisi air bersih menggunakan galon dikawasan patebo, Palu, Sulawesi tengah, minggu (30/9/2018). Sejumlah pengunsi korban gempa palu tersebut masih belum mendapatkan bantuan kebutuhan makanan dan juga air bersih. HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS

Sementara penanganan korban gempa Donggala-Palu belum merata. Hingga Minggu (30/9) kemarin setidaknya ada beberapa lokasi yang terdampak gempa bumi berkekuatan 7,7 SR di Sulawesi Tengah pada Jumat malam (28/9) yang belum mendapat penanganan. Antara lain Kelurahan Petobo, Kota Palu, dan Desa Jonooge, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi. Proses evakuasi dilakukan seadanya oleh pihak keluarga masing-masing.

Kerusakan di dua wilayah tersebut, berdasar pengamatan Radar Sulteng (grup Batam Pos), cukup parah. Sebab, lokasi tersebut berubah menjadi lautan lumpur dan sebagian besar rumah maupun fasilitas umum tenggelam. Dari lokasi bencana, keluar sumber air bercampur lumpur dan saat kejadian, keluar bunyi ledakan.

Sejak kemarin, tiga korban yang selamat maupun meninggal masih berada di RS Tora Belo Sigi bersama puluhan korban selamat lainnya. Perawatan dilakukan di luar ruangan dengan menggunakan tenda seadanya.

Diperoleh informasi, akses menuju lokasi bencana di Desa Jonooge masih lumpuh. Banyak badan jalan yang terbelah dan berubah jadi gundukan. Jembatan pun ambruk dan rusak berat. Satu-satunya akses harus memutar via pinggiran Pegunungan Paneki.

Pantauan di Kelurahan Petobo, Perumahan BTN dan permukiman penduduk setempat dilumat air bercampur lumpur yang berasal dari perut bumi. Material rumah bercampur kendaraan berserakan hingga menggunung.

Belum diketahui jumlah korban jiwa di wilayah terisolasi tersebut. Yang jelas, hingga kemarin sanak keluarga yang masih hidup, termasuk wartawan koran ini, mencari sanak keluarga yang masih hilang. Para keluarga hanya bisa memandangi tumpukan lumpur bercampur material perumahan sambil menangis. Tidak peduli hujan atau panas, para keluarga bertahan di sekitar lokasi sambil menunggu keajaiban. (tau/JPG)

Upaya Pemimpin Redaksi Memulihkan Radar Sulteng Usai Gempa dan Tsunami

0
KANTOR Radar Sulteng di Graha Pena Palu, Sulawesi Tengah. Inzet Pemred rasar Sulteng, Murtalib

MUSIBAH bencana alam tidak bisa diprediksi. Datangnya tiba-tiba. Pergi meninggalkan derita. Seperti itulah yang dialami tim Radar Sulteng yang kantornya berjarak sekitar 100 meter dari bibir pantai. Pemimpin Redaksi (Pemred) Radar Sulteng, Murtalib, menceritakan saat-saat gempa mengguncang dan selama tiga hari kemudian, dirinya mencari adik, keponakan, tim redaksi, termasuk pemimpin perusahaan yang keberadaannya hingga sekarang belum diketahui.

Waktu itu, Jumat (28/9) pukul 18.10 dan azan Magrib baru selesai berkumandang. Saya bersama anak saya baru selesai pakai sarung dan hendak menuju Masjid Nurul Amin yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah. Tiba-tiba terdengar suara geleduk. Kaki saya terangkat dan terbanting. Suasana gelap gulita.

Sekilat itu, saya langsung menarik anak saya yang berusia hampir 7 tahun tersebut. Tidak ingat lagi berapa kali jatuh bangun untuk bisa keluar dari rumah. Istri saya juga histeris dan lari duluan ke luar rumah. Malam itu suasana Kota Palu kacau. Masing-masing menyelamatkan diri. Isu tsunami seketika membuat orang panik dan lari.

Saya pilih bertahan dan berusaha tidak panik. Kondisi lalu lintas di hampir semua jalan padat merayap dengan bunyi klakson kendaraan. Anehnya, isu tsunami dari dua arah berlawanan. Satu dari pantai dan satunya dari Danau Lindu. Sekitar dua jam berlalu. Wilayah tengah Kota Palu termasuk tidak begitu kena dampaknya. Hanya, gempa terus terjadi dengan intensitas keras dan lemah.

Setelah semua keluarga menurut saya aman, barulah saya berusaha mengontak rekan-rekan di kantor. Termasuk, pimpinan H Kamil Badrun. Semua nomor handphone tidak aktif. Sesekali kawan Jawa Pos (grup Batam Pos) mengontak saya, tapi tidak terdengar suara.
Grup WA internal Radar Sulteng juga tidak aktif. Saya putuskan Radar Sulteng tidak terbit karena kondisi gelap dan jaringan telekomunikasi terputus. Terlebih, kantor Radar Sulteng berlokasi sekitar 100 meter dari pantai.

Keesokan paginya, Sabtu (29/9), saya langsung mendatangi rumah Manajer Umum, Fahmi Laguliga, di Pegunungan Talise. Alhamdulillah, dia sekeluarga selamat. Pagi itu juga kami berdua melihat kantor Radar Sulteng.
Alhamdulillah, puji syukur, kondisi dari luar utuh. Hanya, di bagian dalam, mulai lantai satu hingga tiga, isinya berantakan.

Ada plafon yang jebol. Dinding retak-retak. Hanya kondisi dalam percetakan yang belum saya ketahui karena terkunci.

Di halaman belakang kantor, beberapa mobil tersangkut. Beberapa mayat belum dievakuasi. Ngeri sekali. Sebab, bagian belakang kantor yang sebelumnya ditempati banyak kafe dan rumah penduduk menjadi bersih, bekas disapu tsunami.

Dari pengakuan Sobirin, kru Radar TV yang saat kejadian bertahan di kantor, kawan-kawan dari Radar Sulteng maupun Radar TV langsung semburat dan menyelamatkan diri. Yang lari ke dataran tinggi dipastikan selamat. Untuk yang lari ke jalur pantai, belum diketahui nasibnya.

Hingga kemarin, Minggu (30/9), di antara 25 kru redaksi Radar Sulteng, baru sebagian kecil yang saya ketahui selamat. Saya berdoa, semoga semua selamat. Ada tiga kru yang memiliki rumah di pinggir pantai. Yakni, Sudirman, Taswin, dan Irawati. Tiga rumah kru Radar Sulteng tersebut tersapu tsunami. Bagaimana nasib mereka? Wallahualam.

Keberadaan Mugni Supardi, juru kamera yang suka wara-wiri di kantor, kabarnya, juga belum diketahui. Saya belum sempat mencari ke lokasi pengungsian di dataran tinggi yang ditempati begitu banyak manusia. Sekali lagi, mudah-mudahan semua kawan-kawanku selamat, ikut di antara masyarakat yang mengungsi.

Setelah seharian keliling kota dan mengantar rekan-rekan Jawa Pos ke lokasi-lokasi yang terisolasi, saya juga berusaha mencari jejak adik saya yang bernama Nur Imamah bersama anaknya, Asyifa, 6, yang hilang sejak hari pertama gempa. Kebetulan, adik saya itu bekerja di PT Jasa Raharja Sulteng. Ada juga tim Jasa Raharja yang turut membantu pencarian. Hasilnya masih nihil.

Saat ini yang mendesak diperlukan pengungsi adalah kebutuhan makanan, tenda, listrik, dan jaringan telekomunikasi. Memasuki hari keempat setelah bencana, yakni Senin hari ini, belum ada media lokal yang terbit di Palu. Semoga cepat ada perbaikan sarana dan prasarana umum. Saya juga berdoa, semoga tidak ada gempa susulan. ***

Pembobol Jok Sepeda Motor Intai Warga yang Berolahraga

0
Anak-anak ditemani orangtuanya bermain ditaman terbuka di SP Plaza, Sagulung. Taman terbuka ini selalu ramai dikunjungi oleh warga Batuaji dan Sagulung. fasilitas bermain dan olahraga lengkap membuat semakin ramai warga datang. Warga berharap taman terbuka seperti ini dibuat oleh Pemko Batam. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Lapangan kosong samping kawasan SP Plaza Mall, Sagulung menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar. Lahan tersebut kerap dijadikan lokasi olahraga warga saat pagi dan sore hari.

Warga berbondong-bondong ke sana sebab di Batuaji dan Sagulung minim ruang terbuka hijau atau taman bagi warga untuk berolahraga ataupun sekedar santai. Keramaian warga ini jadi peluang tersendiri bagi pelaku kejahatan untuk menjalankan aksi mereka mulai dari pemalakan hingga pencungkilan jok kendaraan bermotor.

“Yang sering terjadi itu pencungkilan jok sepeda motor. Kalau pemalakan paling malam hari karena banyak juga orang nongkrong hingga larut malam,” Nofri, pedagang kaki lima di lokasi keramaian itu, Minggu (30/9/2018).

Korban terakhir dialami oleh Siska Rauli Butar-Butar. Wanita 36 tahun itu harus kehilangan ponsel dan dompet yang berisikan sejumlah uang dan dokumen pribadi saat dia lari pagi di lokasi lahan kosong tersebut, Sabtu (29/9) pagi. Jok sepeda motornya yang parkir dekat lahan kosong itu dibobol.

“Dompet dan hape saya taruh di jok karena saya jogging takut jatuh kalau koceh di celana,” ujarnya.

Aksi pencongkelan jok sepeda motornya itu tak berlangsung lama sebab saat lari satu putaran dia sudah mendapati jok sepeda motornya kebobolan.

“Sepertinya sudah mantau mereka. Bentar saja ditinggali langsung hilang,” ujarnya.

Kapolsek Sagulung AKP Yudha Surya Wardana saat dikonfirmasi lebih menekan nada himbauan. Dia berharap agar masyarakat lebih waspada lagi kedepannya. Jikapun untuk berolahraga sebaiknya tinggalkan barang berharga dirumah. Begitu juga malam hari agar tidak ngongkrong hingga larut malam yang bisa mengundang aksi kejahatan.

“Lokasi tersebut memang rawan, makanya kami himbau terus agar masyarakat lebih sadar untuk memperhatikan keamanan diri dan barang-barangnya. Kami selalu patroli dan mengawasi tapi tidak setiap saat selalu ada disitu,” ujar Yudha.

Kepada pihak pengelolah pusat perbelanjaan itu Yudha juga berharap agar memperhatikan keamanan pengunjungnya sekalipun itu warga yang berolahraga atau santai di sekitar lokasi tersebut.

“Sekuriti di sana juga sudah kami koordinasi agar lebih maksimal lagi mengawasi keamanan pengunjung mereka,” ujar Yudha. (eja)

Polisi Bekuk Pembobol Rumah Kosong

0
ilustrasi

batampos.co.id – Jajaran Polsek Lubukbaja mengamankan seorang pelaku pembobolan rumah milik Taufik, 23 di kawasan Tanjunguma, Jumat (28/9) lalu. Dalam aksinya itu, Al alias Botak, 31 berhasil membawa kabur barang berharga korban. Dia diamankan Unit Reskrim Polsek Lubukbaja, Sabtu (29/9) sekitar pukul 02.00 WIB.

Kanit Reskrim Polsek Lubukbaja Iptu Awal Sya’ban Harahap mengatakan, saat kejadian itu rumah Taufik dalam kondisi kosong dengan pintu rumah dalam keadaan terkunci. Taufik bersamana dengan istrinya sedang bepergian. Tersangka Al alias Botak mengetahui hal itu dan langsung melancarkan aksinya.

Al alias Botak kemudian mencongkel pintu samping rumah. Setelah pintu berhasil terbuka, pelaku lantas masuk ke dalam rumah dan mengambil lima unit ponsel dan uang tunai sebesar Rp 3 juta yang ada di dalam kamar. Setelah berhasil menjarah barang yang diincar, pelaku langsung kabur lewat jalan semula.

“Korban baru mengetahui kejadian ini pada malam harinya setelah pulang. Saat itu, korban melihat kondisi kamarnya sudah dalam keadaan berantakan dan beberapa barang berharganya hilang,” ujar Awal, kemarin.

Karena ada barang yang hilang, kemudian dilaporkan ke Polsek Lubukbaja. Dalam laporannya itu, Taufik mengaku mengalami kerugian sebesar Rp 4 juta. Usai mendapati laporan dari Taufik, Unit Reskrim Polsek Lubukbaja melakukan penyelidikan di lapangan dengan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Dari hasil penyelidikan itu, akhirnya Unit Reskrim Polsek Lubukbaja mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa ada seseorang yang hendak menjual beberapa ponsel yang diduga hasil curian. Dari informasi itu, selanjutnya petugas menelusuri infromasi itu. Dari penelusuran itu, petugas akhirnya menciduk Al alias Botak di rumahnya, kawasan Tanjunguma.

“Dari tangan tersangka ini, kami amankan lima unit handphone milik korban sama uang tunai sebesar Rp 3 juta. Handphone sama uang itu belum sempat dijual tersangka. Kemudian tersangka dan barang bukti kita bawa ke polsek,” tuturnya.

Awal menambahkan, dari pengakuan Al alias Botak kepada penyidik, ia baru kali ini melakukan pencurian. Namun, pihaknya tidak begitu saja dengan pengakuan tersangka dan masih melakukan penyelidikan. Atas perbuatannya, pria yang bekerja sebagai buruh bangunan itu dijerat dengan Pasal 363 KUH Pidana tentang pencurian dengan pidana kurungan selama tujuh tahun penjara. (gie)

Tertimpa Pipa Baja, Pekerja Galangan Meninggal

0

batampos.co.id – Kecelakaan kerja di perusahaan galangan kapal kembali terjadi. Suranto, 50, warga ruli depan perumahan PGRI, Kelurahan Seilangkai, Sagulung meninggal tertimpa pipa besi saat mengerjakan tongkang di PT LSS, Sabtu (29/9) sekitar pukul 11.00 WIB.

Dia sempat dilarikan ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam di Batuaji namun nyawanya tak tertolong.

“Sudah meninggal saat tiba di IGD (RSUD). Tiba di sini sekitar pukul 11.30 WIB,” ujar dokter forensik RSUD dr Agung, Minggu (30/9).

Informasi yang didapat, kecelakaan kerja itu terjadi saat korban sedang las tongkang bagian atas. Peristiwa naas itu tidak diketahui secara pasti sebab tidak ada yang melihat. Rekan-rekan kerjanya yang lain baru sadar saat mendengar suara pipa yang jatuh diatas badan tongkang.

“Tak ada yang tahu bagaimana pipa itu jatuh. Dengan bunyi besi jatuh saat tengok ke atas dia sudah tergeletak dibawa pipa,” ujar sumber pekerja di lapangan.

Senada diakui oleh Paulus Poka pengawas pekerjaan yang mengaku, baru tahu ada kecelakaan kerja saat melihat banyak karyawan sudah kerumun di lokasi kejadian.

“Saya mendengar suara karyawan meminta tolong di bagian atas kapal tongkang kemudian saya naik dan mendapati korban sudah luka,” ujarnya seperti yang disampaikan ke pihak kepolisian.

Melihat itu Paulus dan sejumlah pekerja lainnya langsung membawa korban ke RSUD. “Tapi tak selamat dia,” ujarnya.

Pihak PT LLS melalui petugas keamanan di gerbang masuk membenarkan adanya insiden kecelakaan kerja itu. Namun demikian mereka enggan memberikan komentar sebab kejadian itu sudah ditangani pihak ke polisian Sagulung.

“Iya ada, tapi sudah ditangani Polsek. Ke Polsek saja lebih lanjutnya,” ujar seorang petugas keamanan yang tak mau namanya disebutkan di gerbang masuk PT LLS.

Kapolsek Sagulung AKP Yudha Surya Wardana membenarkan adanya kecelakaan kerja yang menewaskan Suranto itu. Korban meninggal karena tertimpa pipa besi saat bekerja sebagai welder (tukang las) di PT LLS.

“Iya satu orang meninggal. Jenazah sudah diserahkan ke pihak keluarga dan kasusnya sedang kami dalami,” ujar Yudha.(eja)

Lahan Makam TPU Seitemiang Tinggal Satu Blok

0
Pemakaman umum Sei Temiang.
foto: batampos.co.id / dalil harahap

batampos.co.id – Yayasan Khairul Umma, pengelolah Taman Pemakaman Umum (TPU) Seitemiang prediksi penerimaan makam baru di TPU Seitemiang hanya bertahan hingga akhir tahun saja, Blok Q. Itu karena lahan pemakam seluas enam hektare sudah terisi semuanya.

Sekretaris Yayasan Khairul Uma Zailani menuturkan, lahan pemakaman yang tersedia tinggal satu blok lagi.

“Itupun blok yang baru ditambahkan dekat pinggiran jalan (Ahmad Dahlan). Separuhnya sudah terisi karena sejak pertengahan tahun kemarin dialihkan ke blok baru itu semua,” ujar Jailani, Minggu (30/9).

Ini kata Jailani, menjadi persoalan serius jika pemerintah kota Batam tidak segera mencari lokasi baru maka sepanjang tahun 2019 mendatang, TPU Seitemiang bisa saja tidak bisa melayami pemakaman baru.

“Sistem sisip sudah tak bisa lagi. Memang kehabisan lahan sekarang,” ujar Jailani.

Sebelumnya pihak pengelolah telah menerapkan solusi jangka pendek yakni menerapkan sistem sisip yang mana, lahan kosong yang menjadi pemisa dari satu blok ke blok yang lain kembali dimanfaatkan untuk kuburan baru. Namun itu tak bisa lagi sebab semua lahan kosong diatas lahan pemakaman itu telah terisi penuh.

Begitu juga dengan rencana penimpahan terhadap makam tua yang tak terusus oleh ahli waris dan juga makam mr dan mrs X belum bisa dilakukan karena pertimbangan sosial lainnya.

Lagian untuk makam tua rata-rata sudah diurus sama ahli warisnya, sementara mr dan mrs x hanya sedikit jadi bukan solusi yang tepat juga untuk ditimpah,” kata Zailani. (eja)