Minggu, 17 Mei 2026
Beranda blog Halaman 11777

Teknologi Budidaya Padi Sawah Spesifik Lokasi Kepulauan Riau

0

Pengolahan Lahan dan Pencucian Lahan

Pengolahan lahan dengan pembersihan lahan, pemupukan dasar dan penaburan dolomite/kapur serta pembersihan saluran air. Pengolahan tanah dilakukan dengan cara tebas rumput, bajak tanah dangkal, penyemprotan herbisida dan pengairan selama 7 hari dan dikeringkan 2-3 hari dikeringkan diulang selama 3 kali; lalu dkeringkan 3 hari maka dibiarkan beberapa hari, agar terjadi proses fermentasi untuk membusukkan sisa tanaman dan jerami di dalam tanah.

Dalam pengolahan kedua ini, tanah sawah ditambahkan dengan pupuk kandang dan dolomit. Penambahan pupuk kandang ini dimaksudkan agar bahan organik yang terdapat dalam pupuk tersebut dapat menyatu dengan lapisan olah tanah sedangkan tujuan penambahan kapur yakni untuk menetralisir kandungan besi yang terdapat dalam tanah. Usahakan selama pengolahan ini pasokan air mencukupi.

Penyemaian Benih Padi

Persiapan penyemaian dimulai dengan membuat bedengan dengan lebar 1,0 – 1,2 m dan panjang sekitar 20 m. Luas persemaian untuk 1 ha lahan adalah 400 m2 (atau 4 % dari luas tanam), dan drainase harus baik serta ditambah pupuk kandang/kompos serta sedikit kapur. Persemaian dilakukan ± 15 hari sebelum tanam. Hari pertama sampai hari kedua untuk masa perendaman, hari ketiga dan seterusnya untuk penyemaian di bedengan sampai bibit berumur 21 hari.

Benih padi yang dibutuhkan pada lahan seluas 1 ha yaitu sebanyak 20 kg. Penyemaian benih sebelum dilakukan penyemaian, terlebih dahulu dilakukan perendaman terhadap benih tersebut. Lama perendaman tergantung tebal tipisnya kulit gabah, jika kulit gabah tipis perendaman dilakukan selama 24 jam sedangkan jika kulit gabah tebal perendaman nya selama 48 jam. Setelah direndam selama 24 jam benih kemudian ditiriskan, kemudian dicampur dengan regent (seed treatment) selanjutnya dibungkus rapat (peram) selama satu malam (12 jam).

Benih padi yang sudah berkecambah kemudian disebar di persemaian secara hati-hati dan merata. Hal ini bertujuan agar benih yang tumbuh tidak saling bertumpukan. Pemupukan dan pengendalian hama penyakit persemaian dilakukan setelah ± bibit berumur 1 minggu dengan jumlah pupuk 6 kilo gram NPK dan 2 Kg Karbufuran.

Penanaman Padi

Penanaman setelah bibit berumur 22 hari setelah semai. Terdapat 2 varietas padi yang akan ditanam, yaitu inpara 2, inpara 3 dimana ke-4 varietas berasal dari Balai Penelitian Padi di Sukamandi. Pola tanam yang diterapkan yaitu jajar legowo 2 : 1, legowo 4 : 1 dengan jarak tanam 25 cm per tanaman. Hasil penelitian dari Muyassir (2012) menunjukkan bahwa terdapat penggunaan jarak tanam 30 x 30 cm menghasilkan produksi gabah paling tinggi dibandingkan dengan penggunaan jarak tanam 20 x 20 cm dan jarak tanam 25 x 25 cm yaitu sebesar 8,12 ton/ha.

Pemupukan Tanaman Padi

Pemupukan dasar adalah dengan pupuk kandang sebanyak 2500 kg per hektar diberikan pada dua minggu sebelum tanam. Pemupukan pertama saat padi berumur 7 hari setelah tanam dengan komposisi dosis pupuk SP36 150 Kg perhektar, urea 100 kg perhektar, KCL 50 kg perhektar ditambah 8 kg Karbufuran; pemupukan kedua pada padi berumur empat minggu setelah tanam (umur padi 28 hari setelah tanam) dengan dosis pemupukan, Urea 100 kg per hektar dan KCL 50 kg per hektar serta ditambah Karbufuran 6 kg per hektar, kemudian pemupukan ketiga pada umur padi 7 minggu setelah tanam (49 HST) dengan dosis pemupukan sebesar Urea 100 kg per hektar dan KCL 50 kg perhektar.

Pemeliharaan Tanaman Padi

 

Salah satu bagian dalam pemeliharaan tanaman padi adalah mengatur keluar masuk air dalam areal persawahan dan bagaimana menjaga pertanaman bebas dari gulma. Beberapa lokasi sawah bukaan baru di Kabupaten Bintan, Kabupaten Natuna, dan Kabupaten Lingga tidak diadakan pengatuan air terjadi keracunan Fe (besi) sehingga mengakibatkan gagal panen; sedangkan dampak kurang dalam pengendalian gulma adalah adanya persaingan serapan unsur hara dan sumber inang berbagai hama dan penyakit.

Pengairan Sistem Intermitten Drainase

Pengairan sawah dengan menggunakan sistem intermitten drainase sebagai berikut: 1) pertama 1-5 HST (5 hari) setelah tanam dibiarkan kering agar perakaran mengikat dalam tanam; kedua lahan sawah diairi dengan waktu 5-10 HST( 5 hari), setelah itu dikeringkan selama 4 hari untuk pemupukan kedua atau pertama setelah tanam; masukan air selama 7 hari keringkan 2-4 hari lakukan sampai pemupukan ketiga.

Pada saat bunting dan pengisian bulir air dibiarkan tergenang untuk mendukung pengisian bulir, akan tetapi apabila hujan berturut-turut (3-4 hari) agar dikeringkan silahkan diulangi sampai bulir terisi merata. Menjelang 15 hari sebelum panen agar air dikeringkan untuk membantu percepatan pematangan padi sawah, pintu air dibuka total dan saluran pembuangan air dibuka.

Penyiangan dengan sistem manual dan penggunaan herbisida sistemik.
Penyiangan merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengendalikan gulma. Terdapat 3 macam cara pengendalian gulma langsung yaitu : 1). Penyiangan Gulma dengan Tangan; 2). Penyiangan Gulma dengan cara Mekanis; dan 3). Penyiangan dengan menggunakan Herbisida. Pada umumnya petani di Bintan melakukan penyiangan gulma dengan tangan kosong atau tanpa alat bantu dan menggunakan herbisida selektif.

Jenis Hama dan Penyakit

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan di lapangan, ditemukan beberapa jenis hama yang menyerang padi yaitu penggerek batang, orong-orong, hama putih palsu, sundep, tikus dan beluk; sedangkan penyakit yang menyerang adalah jamur yang menyerang pelepah dan daun. Pengendalian dengan menggunakan berbagai macam dan metode sesuai dengan umur tanaman padi sawah.

Pencegahan pertama adalah dengan menggunakan seed treatmen pada benih, penggunakan pestisida sistemik berbentuk karbufuran pada saat persemaian, dan pemupukan pertama dan kedua setelah tanam, pengaturan jarak tanam, dan pemilihan benih spesifik lokasi (padi rawa untuk lahan rawa dan inpari untuk sawah irigasi). Pengendalian dengan menggunakan pestisida dan fungisida sesuai dengan anjuran setelah terdeteksi dipertanaman ada serangan hama dan penyakit.

Panen

Panen dilakukan apabila sudah kondisi pertanaman di lapangan pada tingkat kematangan optimal, mencegah kerusakan dan kehilangan hasil seminimal mungkin. Panen harus dilakukan bila bulir padi sudah cukup dianggap masak. Padi yang belum matang optimal akan menurunkan kehilangan hasil secara kuantitatif, dan menentukan kualitas gabah dan beras. Produktivitas padi sawah di Kepulauan riau berkisar antara 3,5 ton/ha sampai dengan 6 ton/ha (Sumber: BPTP Kepri, 2018).

Keberhasilan budidaya padi sawah dengan tanpa olah tanah dengan mengikuti rekomendasi budidaya mulai dari pengolahan tanah, pencucian lahan, intermitten drainase, pemupukan berimbang, penerapan model tanam jajar legowo sampai dengan panen dan pasca panen atau dengan kata lainnya penerapan PTT budidaya sawah tanpa olah tanah. (Robinson Putra/BPTP Balitbangtan Kepulauan Riau)

Ekstremnya Jalan Menuju 16 Desa di Kabupaten Kampar, Riau

0
Jalan utama di menuju 8 desa di Kecamatan Kampar Kiri, Riau, tampak berlumpur bahkan berubah jadi sungai saat banjir. (Virda Elisya/ JawaPos.com)

batampos.co.id – Sebanyak 16 desa di Kecamatan Kampar Kiri dan Kampar Kiri Hulu, tak merasakan manisnya saat berkendara di jalanan aspal. Sebab, sebagian besar jalan di desa tersebut merupakan jalan tanah. Jika hujan akan berlumpur dan bila panas akan berdebu.

Hal itu sudah dirasakan sejak tahun 1982 silam. Masyarakat yang mayoritas mencari nafkah dari hasil kebun dan nelayan harus terisolasi akibat jalan utama sepanjang 14 kilometer yang menghubungkan desa-desa tersebut rusak parah.

Bahkan, fasilitas kesehatan seperti ambulans, puskesmas maupun rumah sakit tidak ada di desa mereka. Seperti halnya di Desa Sungai Rambai, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar. Terkadang, jika ingin pergi berobat masyarakat disana lebih memilih ke provinsi tetangga, Sumatera Barat (Sumbar).

“Rumah sakit jauh disini, kalau mau ke rumah sakit ya paling rental mobil orang. Kemarin ibu saya sakit dibawa pakai mobil rental, ke rumah sakit di Sumbar karena lebih dekat kan 3 jam aja bisa sampai,” kata Zulhendri Kepala Dusun IV, Desa Sungai Rambai, Rabu (14/11).

Di desanya, masyarakat masih bergantung hidup dengan sungai sebagai jalur transportasi dan kehidupan sehari-hari. “Kalau bawa sawit atau kayu olahan kami masih di sungai pakai sampan,” sebutnya.

Hal itu dikarenakan jauhnya jarak yang ditempuh dengan menggunakan transportasi darat seperti sepeda motor atau mobil. Untuk keluar dari desa menuju ke Lipat Kain saja, butuh waktu hampir 2,5 jam. Itupun jika cuaca sedang bagus, kalau tidak butuh waktu yang lebih lama lagi.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Desa IV Koto Singkai. Saat memasuki musim penghujan, maka jalanan disana akan berlumpur. “Saat ini kondisi desa kami sama sekali tidak bisa dilewati. Jika bisa lewat, hanya bisa menggunakan alat berat seperti eskavator bantuan perusahaan,” kata Sulaiman Kades Koto Singkai.

Di Kecamatan Kampar Kiri, ada 8 desa yang harus merasakan buruknya akses jalan. Selain itu, 8 desa lainnya berada di Kecamatan Kampar Kiri Hulu. Sulaiman menyebut, para warga desa sudah berupaya meminta bantuan kepada pemerintah setempat dan Pemerintah Provinsi Riau agar jalan dapat disemenisasi. Namun nyatanya, upaya itu hingga kini belum membuahkan hasil.

Selain susahnya mencapai fasilitas kesehatan, harga bahan pokok di desa-desa inipun menjadi mahal. “Kami tak punya pilihan lain. Karena jika harus keluar itu sangat sulit. Motor, mobil tak bisa masuk. Harus menggunakan alat berat atau mobil truk besar meski tak dijamin bisa melintas,” sebutnya.

Persoalan jalan rusak di Kampar Kiri dan Kampar Kiri Hulu terus mencuat setiap tahun, terutama saat musim penghujan tiba. Sulaiman mengatakan dari total 26 kilometer jalan utama desa tersebut, sebagian memang telah diaspal. Namun, sepanjang 14 kilometer lainnya masih dalam kondisi tanah yang pada saat musim hujan tiba dengan mudah akan berubah menjadi tanah lunak seperti bubur.

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Kampar Adi Chandara mengakui bahwa, memang saat ini jalan-jalan di desa tersebut rusak parah. Tetapi pemerintah tak dapat berbuat banyak sebab status sebagian jalan merupakan kawasan Margasatwa Rimbang Baling.

“Ya harapannya agar Pemprov dalam hal ini Gubernur Riau dapat menjembatani persoalan tersebut sehingga ribuan warga di 16 desa itu bisa keluar dari isolasi selama puluhan tahun itu,” harapnya. (ica/JPC)

Mengirim Gas Alam, Mendorong Investasi di Bumi Berazam

0

Komitmen PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) menyebarkan energi baik di wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus berlanjut. Setelah Batam dan Bintan, PGN melalui anak usahanya PT Gagas Energi Indonesia (Gagas), mendistribusikan gas alam untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Bumi Berazam, Kabupaten Karimun.

SUPARMAN, Batam

Sebuah truk berukuran besar keluar dari area Mother Station milik PT PGN di Batam Center, Batam, Kepri, awal Maret 2018 lalu. Menarik gas transport module (GTM) ukuran 20 ft yang berisi 2.200 m3 Compressed Natural Gas (CNG), truk tersebut kemudian bergerak lambat menuju pelabuhan roll-on roll-off (Roro) Sekupang, Batam.

Tiba di Pelabuhan Roro Sekupang, GTM dipindahkan ke kapal pendarat tank (landing craft tank/LCT) yang selanjutnya berlayar menuju Pelabuhan Roro Tanjungbalai Karimun. Perjalanan CNG ini berakhir di Parit Rampak, Pulau Karimun Besar, Kabupaten Karimun, Kepri. Di sana ada pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) yang dikelola PT Karimun Power Plant (KPP) yang sudah menanti.

Pendistribusian gas alam hingga ke Karimun ini merupakan salah satu upaya PGN Grup dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di kabupaten yang dijuluki Bumi Berazam tersebut.

“Sebagai perusahaan milik negara, sudah menjadi tanggung jawab kami untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi suatu daerah, terutama daerah yang potensial mendatangkan investasi,” kata Sekretaris Perusahaan PGN, Rachmat Hutama, dalam rilisnya kepada Batam Pos, Selasa (13/03/2018) lalu.

Petugas mengecek tabung Compressed Natural gas (CNG) yang dikirim PT Gagas saat tiba di Pelabuhan Parit Rampak, Kabupaten Karimun, beberapa waktu lalu. F.Suparman-Batam Pos

Rachmat menyebutkan, pasokan gas alam dari PT Gagas Energi Indonesia (Gagas) ini untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar PLTG yang dikelola oleh PT Karimun Power Plant (KPP). Pembangkit ini nantinya akan memasok listrik ke beberapa pelanggan, khususnya pelanggan industri di Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) Zona II di Meral, Karimun.

Selain lebih hemat, kata Rachmat, bahan bakar dari gas alam yang sudah terkompresi (CNG) ini juga ramah lingkungan. Tentunya hal ini akan menjadi harapan baru dan angin surga bagi industri yang sudah beroperasi di Pulau Karimun. Sebab, selama ini kebutuhan listrik untuk industri sebagian besar masih menggunakan genset tenaga diesel milik masing-masing industri.

Tak hanya menjadi harapan baru bagi industri yang sudah beroperasi, kehadiran pembangkit listrik berbahan bakar CNG ini juga menjadi daya pikat tersendiri bagi calon investor yang tengah menjajaki potensi investasi di Karimun. Sebab keandalan pasokan listrik dan biaya yang efisien akan menjadi salah satu pertimbangan utama investor.

“Investor yang menanamkan modal di Karimun bisa menekan ongkos produksi karena efisiensi dari biaya energi,” ujar Rachmat.

Sementara bagi PGN Grup sendiri, penyaluran CNG hingga ke wilayah kepulauan ini menjadi nilai tambah. Sebab selama ini PGN lebih banyak menyalurkan gas bumi melalui pipa saja. Menurut Rachmat, misi PGN Grup sebagai penyalur energi baik hingga ke wilayah pelosok bisa terealisasi melalui produk CNG dan LNG.

“Sehingga PGN turut berkontribusi terhadap ketersediaan listrik di daerah,” ujar Rachmat.

Area Head PGN Gagas Batam Angga Sumarno menjelaskan, pengiriman CNG awal Maret itu merupakan penyaluran perdana dari PT Gagas untuk KPP di Karimun. Selanjutnya pengiriman akan dilakukan setiap saat sesuai dengan permintaan dan kebutuhan KPP.

Petugas bersiap memindahkan CNG ke kapal landing craft tank atau LCT di Pelabuhan Roro Sekupang, Batam, untuk dikirim ke Karimun, beberapa waktu lalu. F. PT Gagas untuk Batam Pos

Sesuai perkiraan, kata Angga, proyeksi volume gas yang akan disalurkan ke KPP sebanyak 0,5 BBTUD di tahun pertama atau sepanjang 2018 ini. Kemudian di tahun kedua akan meningkat menjadi 0,8 BBTUD, lalu naik menjadi 1 BBTUD pada tahun berikutnya.

“Jadwal pengiriman CNG adalah sehari sekali menyesuaikan kebutuhan pembangkit listrik,” kata Angga, Sabtu (8/9) lalu.

Angga kemudian menceritakan, CNG tersebut diproduksi di Mother Station PGN Gagas yang berada di Batam. Distribusi gas alam ke Karimun ini merupakan bukti komitmen Gagas dalam menyalurkan energi baik, tidak saja di daerah yang dilalui pipa gas seperti Batam, tetapi juga ke pelosok dan wilayah kepulauan.

“Supaya pemanfaatan energi baik ini bisa merata ke seluruh negeri,” kata Angga.

Angga mengakui, sejauh ini penyaluran CNG ke Karimun memang masih fokus ke KPP saja. Namun pihaknya terus menjajaki potensi pemanfaatan gas bumi di Karimun. Sehingga ke depan penyaluran gas alam di Bumi Berazam bisa merambah ke sektor lain selain pembangkit listrik.

Sebab, kata Angga, berdasarkan realisasi penyaluran di Pulau Batam, CNG tidak hanya dimanfaatkan oleh sektor pembangkit listrik, tetapi juga sektor industri, transportasi, dan sektor komersial seperti hotel, restoran, dan kafe.

“Karena gas alam ini terbukti jauh lebih ramah lingkungan dan lebih efisien jika dibandingkan bahan bakar lain. Selain itu gas alam juga dapat lebih menjaga keandalan kinerja mesin pembangkit,” terang Angga.

Pembangkit KPP ini dioperasikan oleh PT Widar Mandripa Nusantara (Widar) yang merupakan anak usaha PT Gagas. Untuk tahap awal, KPP mampu memproduksi strum sebesar 5 Megawatt (MW). Secara bertahap produksi listrik KPP akan terus bertambah sesuai permintaan konsumen hingga kapasitas maksimal sebesar 70 MW.

“Pencapaian ini adalah perwujudan dari komitmen kami untuk terus menyebarkan energi baik ke seluruh wilayah di Indonesia, termasuk wilayah kepualauan,” kata Direktur Utama PT Widar, Rizal Wibisono, saat peresmian operasional PT KPP, beberapa waktu lalu.

Rizal yakin, penambahan daya listrik oleh PT Widar-KPP ini akan memberi kemudahan bagi pelaku industri di Karimun yang selama ini masih menggunakan mesin genset diesel milik industri masing-masing.

“Dengan adanya listrik yang dipasok PT Widar melalui KPP ini sekaligus membantu industri setempat untuk melakukan efisiensi energi,” ujar Rizal.

Daya Tarik Investasi

Kehadiran gas alam berbentuk CNG ini disambut gembira Badan Pengusahaan (BP) Karimun selaku pengelola kawasan FTZ di Bumi Berazam, Karimun. Pasokan gas alam untuk sektor pembangkit listrik ini bisa mendongkrak daya saing kawasan FTZ Karimun sebagai daerah tujuan investasi. Sehingga perekonomian di Bumi Berazam juga bisa terus didorong untuk tumbuh.

“Karena kebutuhan listrik merupakan hal yang vital bagi sektor industri. Gas alam ini memberikan jawaban sekaligus jaminan akan keandalan energi listrik di kawasan industri Karimun,” kata Sekretaris BP Kawasan Karimun, M Iqbal, Kamis (13/09/2018).

Kata Iqbal, pasokan gas alam untuk pembangkit listrik ini akan menambah daya tarik investasi di Karimun, khususnya di zona II FTZ Karimun. Pemanfaatan gas alam, kata Iqbal, akan melengkapi sarana dan fasilitas yang telah disiapkan BP Karimun guna menarik investasi masuk, baik dari dalam maupun luar negeri.

Baru-baru ini, BP Karimun meresmikan jalan menuju kawasan FTZ Karimun Zona II di Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun. Peresmian jalan sepanjang 700 meter dan lebar 15 meter itu dihadiri langsung Gubernur Kepri yang juga Ketua Dewan Kawasan FTZ Batam, Bintan, Karimun (BBK) Nurdin Basirun, Minggu (18/03/2018) lalu.

Dengan kelengkapan sarana dan fasilitas yang ada, Iqbal yakin investasi di kawasan FTZ Karimun Zona II akan terus meningkat. Apalagi, sebagai kawasan perdagangan bebas, FTZ Karimun tentu menawarkan beragam kemudahan dan insentif fiskal yang mampu memikat para penanam modal.

“Memang saat ini kawasan itu belum begitu berkembang, tapi ke depan saya yakin investasi di FTZ Karimun Zona II akan terus tumbuh,” kata Iqbal dengan nada optimistis.

Hal senada disampaikan Kepala BP Kawasan Karimun Cendra Nawazir. Cendra mengakui, saat ini pertumbuhan investasi di kawasan FTZ Karimun, khususnya di zona dua.

“Sekarang memang lagi slow,” kata Cendra, Senin (15/10/2018) lalu.

Meski begitu, kata Cendra, kehadiran pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) ini menjadi harapan baru bagi pelaku industri, investor, dan calon investor di Karimun. Sebab dengan PLTG ini, pasokan listrik akan lebih terjamin dan biayanya tentu akan lebih murah.

Sebelumnya, kata Cendra, listrik di kawasan industri Karimun mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Selain keandalannya yang tidak terjamin, listrik dari PLTD ini lebih mahal.

“Dan tentunya tidak ramah lingkungan,” kata Cendra.

Meski pertumbuhannya melambat, Cendra menyebut saat ini sudah ada beberapa investor yang menyambut positif kehadiran PLTG di Zona II FTZ Karimun. Di antaranya PT Oiltanking yang sudah mulai membangun usahanya di Teluk Paku, Meral, Karimun.

Kemudian ada juga beberapa industri galangan kapal yang selama ini beroperasi di Kawasan FTZ Zona I Karimun berencana melakukan ekspansi ke zona II.

“Artinya kehadiran listrik dari pembangkit gas bumi ini memberi dampak yang sangat positif bagi dunia investasi di Bumi Berazam ini,” kata Cendra.

PGN Jamin Kelangsungan Pasokan Gas

Sementara PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) menjamin pasokan gas ke Batam, Kepulauan Riau. Kepastian ini menyusul ditandatanganinya perpanjangan kontrak dengan ConocoPhillips Indonesia Grissik Ltd (CPGL) pada awal September 2018 lalu.

Sekretaris Perusahaan PT PGN Rachmat Hutama mengungkapkan pasokan gas bumi dari CPGL sebesar 30 BBTUD tersebut berdasarkan surat keputusan Menteri ESDM No 7896/13/DJM.E/2019 yang dikeluarkan pada 10 September 2018.

Gas sebanyak 30 BBTUD itu akan disalurkan kepada pelanggan industri, komersial, UMKM hingga rumah tangga dan SPBG di wilayah Batam. Termasuk yang kemudian diolah menjadi CNG dan dikirim ke Karimun.

“Suplai gas tersebut sepenuhnya untuk pelanggan industri, komersial, hingga rumah tangga dan SPBG di Batam,” kata Rachmat dalam rilisnya kepada Batam Pos, Kamis (27/9/2018).

Sebelumnya, pasokan gas bumi dari ConocoPhillips sepenuhnya diberikan kepada PGN untuk memenuhi kebutuhan gas bumi di Batam termasuk ke sektor kelistrikan. Kemudian, atas permintaan PLN ke Menteri ESDM, mulai minggu pertama bulan Oktober 2018 diputuskan, pasokan gas dari Conocophillips sebesar 40 BBTUD untuk sektor kelistrikan diberikan langsung ke PLN tanpa melalui infrastruktur pipa gas bumi PGN.

Rachmat menjelaskan, dengan kehandalan dan komitmen pengembangan infrastruktur gas bumi PGN khususnya di Batam, industri dan pelanggan PGN lainnya di wilayah Batam akan mendapatkan jaminan kelangsungan pasokan gas bumi melalui infrastruktur jaringan pipa gas yang handal. Karena PGN berkomitmen menyerap seluruh pasokan gas sebesar 30 BBTUD dari ConocoPhillips itu.

Rachmat menambahkan, saat ini PGN telah memasok gas bumi ke 4.842 pelanggan di wilayah Batam. Pelanggan tersebut terdiri atas 93 industri dan komersial, 29 pelanggan kecil, 4.720 pelanggan rumah tangga.

Di sisi lain pengoperasian Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang dioperasikan oleh Anak Usaha PGN yakni PT Gagas Energi Indonesia di Batam adalah bentuk nyata keberpihakan PGN untuk meningkatkan roda perekonomian di Batam dan Kepri secara umum dengan penyediaan gas bumi.

Hingga saat ini, pipa gas bumi yang dimiliki dan dioperasikan PGN di Batam sepanjang 223,57 kilometer (km). Selain jargas, PGN juga telah membangun pipa distribusi gas bumi di kawasan Nagoya, Batam, sepanjang 18,3 km.

“PGN akan terus berkomitmen memperluas jaringan infrastruktur gas bumi di berbagai daerah, termasuk di Batam dam Kepri, sehingga pelanggan mendapatkan jaminan suplai gas bumi yang lebih efisien dan ramah lingkungan dari PGN,” kata Rachmat. ***

Mahathir Kembali Urus Jembatan Bengkok

0

Mahathir ke Singapura membawa dendam lama. Mungkin bahkan membawa kemarahan. Tidak soal diperlihatkan atau tidak. Tidak ada kejengkelan lebih hebat dari ini: soal pembangunan jembatan antara Johor-Singapura, yang diusulkan Mahathir, tapi ditolak Singapura. Itu usul lama Mahathir, tahun 2003. Di akhir masa jabatannya dulu sebagai perdana menteri yang pertama, 22 tahun lalu.

Dengan jembatan itu Mahathir ingin menghidupkan laut antara Johor dan Singapura yang selama ini mati oleh urugan yang melintasi selat itu yang difungsikan untuk jembatan itu, yang disebut Causeway Bay. Satu-satunya (waktu itu) jalan yang menghubungkan Johor-Singapura.

Mahathir mau bongkar Causeway Bay itu. Diganti dengan jembatan yang indah, yang melintas di atas laut agar kapal bisa lewat di bawahnya.
Dengan demikian kapal dari pantai barat bisa lewat bawah jembatan itu untuk ke pantai timur. Tidak perlu memutari Singapura.
Singapura menolak ide itu. Mahathir marah.

Bentuk marahnya unik: akan tetap membongkar Causeway Bay itu sampai tengah laut. Sampai perbatasan. Kalau Singapura tidak mau membongkar sisi Singapuranya gak masalah.

Mahathir akan membangun jembatan sendiri. Jembatan itu akan berakhir di tengah laut. Di ujung jembatan itu akan dibuat muter-muter, menurun menuju Causeway Bay yang tidak dibongkar Singapura itu.

Desainnya sudah jadi. Bentuknya memang jadi tidak masuk akal. Tapi itulah hasil kemarahan.

Masyarakat lantas memberi nama desain itu sebagai ‘Crooked Bridge’. Jembatan Bengkok.

Belum sampai Crooked Bridge dibangun Mahathir sudah lengser. Tapi ia mewariskan proyek itu kepada penggantinya: Abdullah Badawi dengan janji akan merealisasikannya.

Ternyata Badawi tidak melangkah. Mahathir marah besar. Karena itu Badawi tidak lama jadi perdana menteri. Dianggap terlalu lemah.

Mahathir tidak mau mendukung Badawi lagi. Mengalihkan dukungan ke Najib Razak yang dinilai lebih tegas.

Tapi Najib juga tidak kunjung memulai Crooked Bridge. Mahathir menegurnya. Terus-menerus.

Najib berdalih: ada perjanjian baru dengan Singapura. Mahathir mengejar Najib: mana perjanjiannya. Tapi Najib tidak pernah memberikannya. Mahathir pun kian marah. Ia keluar dari UMNO.

Bikin partai sendiri: Pribumi Bersatu. Gabung dengan koalisi Pakatan Harapan. Menggulingkan Najib dalam Pemilu Mei lalu.
Kini Mahathir perdana menteri lagi. Jembatan Tekuk akan dihidupkan lagi.

Saya tidak bisa membayangkan jalannya kunjungan Mahathir ke Singapura kemarin.

Bukan hanya soal Jembatan Tekuk tapi juga soal air. Mahathir sudah lama mempersoalkan harga air dari Malaysia yang dialirkan ke Singapura sebagai sumber air minum utama Singapura.

Air itu hanya dihargai 3 sen per seribu galon. Padahal Singapura menjualnya mahal: USD 3 dolar untuk kapal-kapal yang sandar di pelabuhan Singapura.
Singapura beralasan: itu sudah ada dalam kontrak sejak zaman penjajahan Inggris dulu. Dan ada biaya tambahan mengolahnya. Serta merawat lingkungan air itu di Johor.

Mahathir sangat keras soal jembatan tekuk dan soal air itu. Sampai-sampai Mahathir tidak mengizinkan udara Johor dilintasi pesawat Angkatan Udara Singapura.

Padahal AU Singapura tidak akan bisa latihan kalau tidak ada udara Johor. Gimana coba latihannya.(dis)

Harga Sayur Masih Mahal

0

batampos.co.id – Harga sayur mayur di sejumlah pasar masih terpantau tinggi, Selasa (13/11). Di Pasar Fanindo, Batuaji misalkan, harga syaur lokal seperti bayam, kangkung, dan sawi masih mahal. Harga sayur lokal itu dijual mulai Rp 12 ribu hingga Rp 16 ribu per kilogram (kg). Padahal sebelumnya masih di kisaran Rp 7 ribu sampai Rp 10 ribu per kg.

Murni, penjual sayur di Pasar Fanindo mengatakan kenaikan harga sayur akibat musim hujan. Belakangan ini hujan semakin sering turun, sehingga membuat petani dari Barelang banyak yang gagal panen dan mengakibatkan harga sayur melonjak. ”Banyak sayur yang busuk,” ujarnya.

Tak hanya itu, harga komoditas lain juga masih tinggi, seperti tomat dijual Rp 16 ribu dari harga biasanya Rp 14 ribu per kg, timun naik jadi Rp 12 ribu dari Rp 8 ribu per kg, kol Rp 14 ribu dari Rp 6 ribu per kg, pare Rp 18 ribu dari Rp 14 ribu per kg. ”Modal yang diambil dari distributor sudah mahal, jadi kami jual tinggi, kalau tak kami yang rugi,” jelasnya.

Dia mengatakan musim hujan dan intensitasnya yang cukup sering berpengaruh terhadap harga barang. Apalagi untuk jenis sayuran yang cepat busuk.
Senada diungkapkan pedagang lainnya, Asmawati. Dia mengaku harga sejumlah komoditas di pasar memang sedang tinggi. Terlebih untuk harga sayur, meski kenaikannya tidak terlalu signifikan, namun kondisi itu dikeluhkan pembeli. ”Pembeli pasti merepet. Harga kok naik lagi,” kata Asma.

Kondisi sama juga terjadi di Pasar SP Plaza dan Aviari, Batuaji. Pedagang sayur setempat mengaku harga sayur memang naik. Namun, daya beli masya-rakat tetap tinggi. ”Sudah biasa kalau lagi hujan, kami pedagang bisa apa,” kata Sudirman.

Sementara untuk harga daging ayam juga masih terpantau tinggi. Satu kg harga ayam dijual antara Rp 39 ribu sampai Rp 40 ribu. Demikian juga harga telur per papannya dijual Rp 40 ribu dari harga normal Rp 38 ribu. ”Belum turun. Harganya masih tinggi,” kata Aan, penjual daging di Pasar Fanindo. (une/she)

TSP Jadikan Destinasi Wisata Lebih Nyaman

0

batampos.co.id – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata (Disparbud) Kota Batam, Ardiwinata mendukung penuh program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TSP) Kota Batam. Menurutnya, program TSP sangat mendukung kenyamanan terhadap destinasi wisata alam yang ada di Batam.

”Kita sangat mendukung TSP, dimana memang masih banyak destinasi yang belum tertata dengan baik. Kita yakin dengan kehadiran TSP, destinasi wisata akan lebih ramah dan nyaman,” kata Ardi, Selasa (13/11).

Ardi mengatakan, dalam membangun sektor pariwisata, selain pemerintah juga diharapkan kehadiran pengusaha dan seluruh elemen masyarakat. ”Dari pengusaha mungkin bisa lebih ke penyediaan fasilitas atau atraksi dalam sebuah destinasi wisata,” tuturnya.

Ia menjelaskan, tiga hal penting yang harus dilakukan dalam mengembangkan pariwasata, yakni aksesibilitas, atraksi, dan amenitas. ”Pak Wali Kota sudah memprogramkan pembangunan infrastruktur jalan yang sangat bagus. Inilah faktor utama untuk pariwisata,” ujarnya.

Kemudian, tidak kalah penting adalah pembenahan fasilitas pendukung baik menuju destinasi wisata dan dalam objek wisata itu sendiri. ”Misalnya dengan transportasi yang nyaman, kamar mandi yang bersih, dan sebagainya. Dalam hal inilah pengusaha sangat dibutuhkan,” sebutnya.

Terkait area istirahat yang akan dibangun dan penataan Jembatan Barelang, menurut Ardi, hal tersebut akan membuat pengunjung lebih betah berlama-lama di Batam. Ia berharap turis yang datang ke Batam ketika kembali ke daerahnya akan rindu, sehingga ingin kembali ke Batam.

”Selama ini, kalau ke Pulau Abang atau ke pantai di Galang, banyak wisatawan yang kesulitan untuk mencari kamar mandi atau tempat ibadah. Rest area ini memang sangat membantu,” ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Forum TSP yang dipimpin Johanes Kennedy akan membangun dua tempat peristirahatan atau rest area sepanjang Jembatan I hingga Jembatan 6. Ini ditujukan untuk memanjakan para turis ke daerah Galang yang sering kewalahan untuk mencari kamar mandi atau tempat bersantai sebelum sampai ke tempat tujuan.

Selain kamar mandi, nanti rest area tersebut juga akan dilengkapi dengan musala, tempat makan, tempat bermain anak, dan parkir. ”Ini semua perlu dilakukan untuk membuat turis aman dan nyaman selama di Batam,” Johanes Kennedy.(ian)

3.000 Titik Parkir Belum Dikelola Dengan Baik

0

batampos.co.id – Ketua komisi III DPRD Kota Batam Nyanyang Haris Pratamura mengatakan bahwa saat ini ada sekitar 3.000 titik parkir tetapi yang dipungut retribusi hanya dari 619 titik. Belum lagi masih ada setoran ke oknum-oknum tertentu.

“Sebenarnya yang terdata itu ada 3.000 titik, tetapi yang terdata dan melaporkan itu hanya adasekitar 619 titik. Dan kita akan lihat nantinya apakah semua titik dipungut tetapi yang dilaporkan hanya sedikit,” kata Nyanyang beberapa hari lalu.

Menurutnya, jika dihitung dari jumlah titik yang terdata maka seharusnya PAD dari sektor parkir sangat signifikan. Di mana saat ini setahun hanya sekitar Rp 6 miliar saja ke daerah.

Ia menjelaskan, jika dihitung dengan 3.000 titik maka, setoran Rp 10 ribu sehari maka sudah dapat sekitar Rp 900 juta sebulan. Maka setahun sudah dapat sekitar Rp 10,8 miliar.

“Padahal tak mungkin kan setoran hanya Rp 10 ribu sehari. Kalau Rp 20 ribu saja sudah dapat sampai Rp 21 miliar. Jadi ini yang perlu kita tata,” katanya.

Ia mendukung, pemberlakuan parkir elektronik di Batam. Ada beberapa pilihan yang ditawarkan dinas perhubungan termasuk dengan kartu brizzi dan juga dengan sistem T cash bekerjasama dengan operator selular di Batam.

“Jadi ada yang pakai scan dan ada yang menggunakan ponsel. Yang jelas ini juga akan mendongkrak PAD. Termasuk menghilangkan raja-raja kecil ini,” katanya.

Ia mengatakan, untuk tahun depan Jukir tetap bekerja tanpa digaji bulanan. Penerapan parkir elektronik ini baru sekedar pilot projek yang hanya dterapkan di beberapa tempat saja.

“Jadi ada beberapa titik yang akan dijadikan pilot projec. Tetap yang konvensional tetap diberlakukan,” katanya.

Anggota DPRD lainnya Jurado Siburian juga tegas mengatakan bahwa masih banyak titik parkir yang belum dikelola dengan baik. Yang berpotensi terjadinya kebocoran sangat tinggi.

“kalau angka 600 yang disampaikan Dishub masih perlu dipertanyakan.saat ini banyak ruko yang tidak dipungut parkir secara langsung oleh Jukir. Tetapi kerjasama antara pihak Dishub dan pengelola ruko tersebut,” katanya, Selasa (13/11).

Menurutnya, istilah parkir mandiri juga tidak ada dalam perparkiran di Batam. Di mana parkir manadiri itu termasuk parkir khusus yang harus ada plang dan penjaga parkirnya.

“Berapa banyak hotel di Batam, berapa banyak alfamart dan Indomaret dan pertokoan di Batam yang tidak ada jukirnya. Ini kemana uang parkirnya. Menurut saya tidak ada transparansi di sini,” katanya.

Ia menegaskan bahwa titik parkir di Batam ini jumlahnya ribuan titik. Tetapi belum dikelola dengan baik dan retribusinya belum sepenuhnya masuk ke kas daerah

Sementara itu, kepala UPT Parkir Alexander membantah mengenai jumlah tersebut.Meski memang menurutnya masih banyak belum dikelola seperti mini market yang saat ini sudah banyak di Batam. “Tidak sampai segitulah. Banyak kali itu. Memang misanalny alfamart dan indomaret belum semua miua bisa kita kelola dan memang masih kita lakukan pendekatan,” katanya.

Apalagi menurutnya beberapa minimarket sudah tutup di Batam. Meski demikian pihaknnya masih terus melakukan pendataan real di lapangan.

Menurutnya titik parkir di Batam hanya sekitar 600 titik. Dan ia mengatakan bahwa semua itu menyetor ke Dishub Batam dan diteruskan ke kas daerah.

“Kita itu hanya ada sekitar 600 titik. Dan kita upayakan untuk pendapatan semaksimal mungkin,” katanya.

Ia mengatakan sejak Desember mendatang, pihaknya akan menerapkan parkir elektronik dengan cara menggunakan T cash. Di mana pihak Dishub akan bekerjasama dengan Telkomsel. Ini hanya berlaku untuk warga yang menggunakan ponsel android.

“Jadi warga mendownload aplikasi T cash dan e Parking Batam. Kemudian ini nanti akan dikoneksikan.Dan saat parkir, code parkir di ponsel warga akan discan oleh ponsel milik jukir,” katanya. (gas/eja/ian)

Batuaji dan Sagulung Krisis Solar

0

batampos.co.id – Bahan bakar minyak (BBM) jenis solar semakin langka di Batuaji dan Sagulung. Hampir semua SPBU di sana tidak menjual solar sepanjang, Selasa (13/11) kemarin. Stok solar habis sejak sore hari sebelumnya. Akibatnya banyak kendaraan yang membutuhkan solar harus mencari ke luar wilayah Batuaji dan Sagulung.

Petugas SPBU saat ditemui menuturkan situasi seperti itu rutin terjadi hampir setiap hari selama tiga pekan belakangan ini termasuk premium. Itu terjadi karena stok solar dan premium yang didatangkan Pertamina tidak sebanding dengan permintaan masyarakat.

“Padahal rutin diantar setiap hari, tapi karena cepat habis, makanya terkesan selalu kosong setiap harinya baik itu solar ataupun premium,” ujar pimpinan SPBU Tanjunguncang, Sumardi, kemarin.

Permintaan bahan bakar solar dan juga premium diakui Sumardi meningkat drastis akhir-akhir ini. Ini karena konsumen solar dan premium bukan saja masyarakat Batuaji dan Sagulung tapi juga masyarakat pulau.

Pembelian menggunakan wadah dengan mengantongi izin dari Dinas Perikanan Kota Batam untuk kepentingan nelayan dan masyarakat pulau ternyata jauh lebih banyak ketimbang untuk kendaraan di Batuaji dan Sagulung. “Banyak mas untuk nelayan. Lebih banyak malah yang didarat ini. Mereka punya surat rekomendasi mau tak mau harus dilayani,” ujar Sumardi.

Khusus untuk SPBU Tanjunguncang, jumlah pemilik surat rekomendasi pembelian menggunakan wadah tersebut mencapai 90 an orang. Jatah solar atau premium yang harus dilayani pihak SPBU bervariatif mulai dari 430 liter hingga 2,5 ton untuk setiap pemegang surat rekomendasi. Jangka waktu pembelian jumlah kuata solar tersebut sesuai dengan masa aktif surat rekomendasi yang dipegang yakni mulai 15 hari hingga sebulan.

“Kalau dibawa 430 liter bisa seminggu saja sudah terpenuhi. Tapi kalau yang sampai 2,5 ton itu bisa sebulan. Setelah terpenuhi kuota jatah tersebut, pemegang surat rekomendasi harus urus perpanjang lagi agar bisa digunakan lagi. Kalau tidak diperpanjang tentu kami tak layani,” ujar Sumardi.

Praktek pembelian seperti itu diakui Sumardi menjadi salah satu pemicu cepat habisnya premium atauapun solar di SPBU karena dalam sekali pembelian menyedot banyak solar ataupun premium.

“Kadang kami kewalahan melayani mereka karena terlalu banyak yang memiliki surat rekomendasi ini. Makanya sekarang kami terapkan sistem antre. Kalau yang datang lapor (surat rekomendasi) hari ini, jadwal pengambilan bisa tiga atau empat hari kedepan agar stok solar bisa terbagi dengan masyarakat lainnya. Kalau semua dilayani saat itu juga, bisa-bisa kebutuhan didarat ini tidak terlayani,” kata Sumardi.

Praktek serupa juga berlaku di SPPBU lainnya disana seperti SPBU Tembesi dan Genta III. Untuk melayani permintaan solar atau premium menggunakan wadah, pihak SPBU harus menerapkan sistem antre. Dalam arti bahwa setiap hari dibatasi jumlah pembelian menggunakan wadah sekalipun semuanya mengantongi surat rekomendasi.
(ska/eja)

Bantu Keluarga, Zulfikar Nekat Jadi Kurir Sabu

0

batampos.co.id – Untuk yang kesekian kalinya, petugas Aviation Security (Avsec) Bandara Internasional Hang Nadim dan Bea Cukai Batam mengamankan seorang kurir sabu di Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Penangkapan ini kembali dilakukan petugas saat di pemindai metal pintu masuk Bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Kepala Bidang (Kabid) Bimbingan Kepatutan dan Layanan Informasi (BKLI) Bea Cukai (BC) Batam, Sumarna mengatakan, pihaknya dan petugas Avsec Bandara Internasional Hang Nadim Batam mengamankan seorang penumpang Lion Air dengan nomor penerbangan JT 972 dengan tujuan Batam ke Surabaya, Senin (12/11) lalu.

“Tersangka yang kita amankan ini atas nama Zulfikar, berusia 27 tahun dan bersal dari Aceh Utara. Dari tangan Zulfikar, kita dapatkan barang bukti yang diduga Methamphetamine seberat 509 gram,” ujarnya, kemarin.

Dijelaskannya, sabu itu dibagi menjadi empat bungkus. Dimana, sabu itu disimpan Zulfikar di kedua sepatu yang dikenakannya saat itu. Selain itu untuk mengelabui petugas, narkotika jenis sabu itu dibungkus dengan bungkusan bahan pembuatan kue yang disimpan dalam sepatu kanan sebanyak dua bungkus dan sepatu kiri dua bungkus.

“Penangkapan ini awalnya bermula dari gerak-geriknya yang mencurigakan. Selanjutnya, kita lakukan pemeriksaan lebih mendalam lagi dan kita temukan empat bungkus yang Methamphetamine,” tuturnya.

Atas temuan tersebut, selanjutnya Zulfikar bersama barang bukti sabu seberat 509 gram itu dibawa petugas Bea dan Cukai Batam ke Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Tipe B Batam dan selanjutnya diserahkan ke Direktorat Narkoba Polda Kepri untuk dilakukan pengusutan lebih mendalam.

Ia menambahkan, penangkapan terhadap kurir sabu ini merupakan penindakan yang ke-69 selama tahun 2018 ini. Dalam penindakan itu, sebagian besar merupakan kurir sabu yang tertangkap di Bandara Internasional Hang Nadim untuk dibawa ke berbagai daerah di Jawa, Kalimantan dan Sumatra.

Sementara itu, Zulfikar mengaku diupah oleh seseorang yang berinisial A sebesar Rp 4 juta jika sabu tersebut berhasil dibawanya ke Surabaya. Untuk penerima barang haram itu di Surabaya, ia belum tau dan menunggu informasi selanjutnya dari seseorang yang memperkerjakannya itu.

“Uangnya rencana untuk bantu ibu saya di kampung. Selama ini saya tidak kerja, hanya kerja serabutan. Karena upahnya besar saya terima tawaran untuk bawa sabu ini,” akunya. (gie)

800 Karya Tulis Bung Hatta Dibukukan

0

batampos.co.id – Mohammad Hatta tidak hanya dikenal sebagai Tokoh Proklamator. Sejak muda, dia rajin menulis. Kemarin (13/11) Penerbit Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) meluncurkan 10 seri buku Karya Lengkap Bung Hatta.

Putri pertama Hatta, Mutia Hatta mengaku sangat berbahagia karena tulisan ayahnya dikumpulkan menjadi buku. Dia merasa cara ini untuk mendokumentasikan pemikiran Hatta. ”Pada tahun 1932 Bung Hatta sudah menuliskan desain Indonesia Merdeka dan doktrin kerakyatan,” tuturnya kemarin dalam sambutan.

Lewat buku tersebut dia berharap jika masyarakat Indonesia akan teringat bahwa kepentingan rakyat harus dijunjung tinggi. Seperti keinginan Hatta. Mutia berkata jika pemikiran Hatta selalu relevan dengan kondisi Indonesia. ”Apakah sekarang pemimpin dan wakil rakyat sudah menghormati kedaulatan rakyat?” ujarnya.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud pun mengatakan hal senada dengan Mutia. Dia mengatakan ketika sekarang membicarakan ekonomi maka yang dibeberkan hanya angka. ”Namun pemikiran Hatta, ekonomi untuk banyak orang. Artinya tidak hanya angka-angka saja,” katanya.

Pemikiran Hatta yang selalu relevan ini yang membuat Hilmar segera menyetujui untuk mendukung penerbitan buku. Di sisi lain, Ditjen Kebudayaan juga tengah mendokumentasikan tulisan-tulisan yang sudah jadi arsip di luar negeri, seperti di Belanda. ”Untuk membawa pulang, tidak. Kami dokumentasikan isinya. Aslinya biar tetap di sana (Belanda, Red),” ujar Hilmar.

Hatta memang tokoh yang rajin menulis sejak muda. dia mulai menulis sejak usia 16 tahun. Bahkan diusianya yang senja, 77 tahun, dia tetap menulis. Dalam kurun waktu 61 tahun, Bapak Koperasi Indonesia itu telah menghasilkan 800 karya tulis dalam Bahasa Indonesia, Belanda, Inggris, dan Perancis.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pun memberi apresiasi atas terbitnya buku tersebut. menurutnya, karya tulis Hatta yang dibukukan dalam sepuluh seri belumlah lengkap. ”Kita belum melacak tesis atau penelitian yang berdasar pada pemikiran Hatta,” ujarnya.

Muhadjir megaku jika dia memiliki kenangan dengan tulisan Hatta. Dalam desertasi yang ditulisnya, dia menemukan bahwa Hatta merupakan peletak profesionalisme militer. ”Saya kebetulan meneliti tentang sosilogi militer,” katanya. Muhadjir menceritakan bahwa jika tidak ada pemikiran Hatta, ada kemungkinan Bangsa Indonesia yang baru saja merdeka akan terjadi perang saudara. Sebab banyak laskar hingga kelompok orang yang memiliki senjata. (lyn/jpg)

Play sound