Kamis, 14 Mei 2026
Beranda blog Halaman 11789

Lampu WTB Diperbaiki, Kini Jadi Lebih Berwarna

0

batampos.co.id – Hampir empat bulan lampu Welcome To Batam (WTB) tidak menyala karena digondol maling. Kini, ikon kota Batam tersebut telah hadir dengan wajah baru, dengan tampilan berbagai warna seperti merah, kuning maupun hijau.

“Sekarang sudah warna-warni. Walau demikian, tampilan lama bisa juga, tinggal di-stel atau disetting saja,” kata Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Suhar, kemarin.

Seperti diketahui, lampu, kabel hingga panel WTB di Bukit Clara digondol maling awal Juli lalu. Kerugian mencapai Rp 103 juta, pengerjaan penggantian kembali dianggarkan sebesar Rp 172 juta.

Suhar menambahkan, sistem keamanan di WTB akan ditingkatkan, dari penempatan Satpol PP hingga pemasangan kamera pengintai lokal, kedepan jika tidak ada aral melintang bisa diawasi langsung di Kominfo.

“Untuk sementara kita lokal dulu, guna merecord kalau ada kejadian serupa,” ucapnya.

foto: batampos.co.id / cecep mulyana

Tidak hanya itu, pihaknya juga memasang alat sensor baik pada lampu hingga semua aset berharga terkait WTB, yang dihubungkan ke alarm. Jika ada aktivitas mencurigakan akan terdeteksi dan alarm akan berbunyi. “Ini semua demi keamanan di sana,” imbuhnya.

Rampungnya pemasangan lampu ini, kata Suhar, sesuai dengan target akan dinyalakan seiring gelaran Kenduri Seni Melayu yang akan digelar 1 November hingga 3 November 2018.

“Target kami memang begitu, settingan sudah final pas pembukaan KSM,” imbuhnya.

Soal kehilangan fasilitas publik bukanlah hal baru. Kabel optik lampu lalulintas Simpang Jam (Simpang Laluan Madani) sudah tiga kali hilang. Ironisnya, kehilangan terjadi di lokasi yang sama persis.

Akan hal ini, Sekretaris Daerah Kota Batam Jefridin meminta masyarakat turut sadar menjaga fasilitas publik.

“Kami berharap masyrakat turut andil Medai juga, mungkin lewat tulisan yang baik dapat menyentuh hati mereka yang ingin melakukan tindakan merugikan tersebut,” harapnya.

Ikut menjaga Batam, kini tengah digaungkan Pemko Batam. Wali Kota Batam Muhammad Rudi sudah meluncurkan hastag #BataMiliKita, ini ditujukan agar semua turt menyadari bahwa Batam merupakan milik bersama yang mesti dijaga bersama. (iza)

Berwisata Ternak ke Agromarina Batam

0

batampos.co.id – Peternakan sapi dan kambing saat ini bisa dinikmati di Kawasan Wisata Agromarina, Tanjungriau Batam. Kawasan tersebut dikembangkan untuk menampung para peternak sapi dan kambing sekaligus sebagai sarana wisata edukasi untuk mengenal dua mamalia ini.

“Meski lokasinya cukup jauh dari pusat kota, namun jalan-jalan ke peternakan agromarina tidak akan sia-sia. Karena jumlah peternak di sana cukup banyak, bisa jalan-jalan sekaligus belajar,” kata Kasubdit Pemanfaatan Sarana BP Batam Irfan Widyasa, Rabu (31/10).

Lokasinya tepat berada di Komplek Peternakan Sei Temiang. Sehingga tidak heran kalau gerbang masuknya mirip dengan gerbang masuk desa-desa.

Menurut Irfan, selain dapat membeli hewan ternak, lokasi tersebut juga untuk wisata edukasi anak sekolah. Di kawasan ini, bisa berwisata sambil mengenal aneka jenis sapi dan kambing dengan mengambil paket edukasi agrowisata dan berkunjung ke kandang.

“Sapi di sini keren-keren. Ada yang jenisnya Limousine dari Perancis. Ada Po dan Brahman dari India. Simmental dari Swiss. Dan ada juga yang warga lokal sapi Bali tentu dari Bali,” ujarnya.

Berwisata agro di Batam

Untuk kambing, ada jenis PE dari india, Boer dari Afrika Selatan, Saanen dari Swiss, Kambing Kacang asal Indonesia, dan ada juga Domba Garut.

Irfan mengatakan bahwa saat ini ada 27 Kandang Sapi dan 31 Kandang Kambing di Agromarina. Mulai yang kandangnya masih kayu, bahkan ada juga yang kandangnya baru dari baja.

“Para peternak yang ada di sini selain menjual hewan ternak juga menyediakan catering untuk akikah, kambing guling, kurban dan sebagainya. Harganya kompetitif. katering-katering besar yang baliho nya bertebaran di Batam, ya di sini kandangnya,” paparnya.(leo)

Malam Amal Pemko Batam dan ATB Peduli Palu Kumpulkan Rp 1,3 Miliar

0

x.batampos.co.id – ATB dan Pemerintah Kota (Pemko) Batam berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp 1,3 miliar untuk disumbangkan ke korban gempa di Palu, Donggala dan Sigi.

Dana sebanyak itu diperoleh dalam satu malam di acara Malam Amal Batam Peduli Palu yang dihelat di Hotel Aston Batam, Selasa (30/10) malam.

Presiden Direktur ATB Benny Andrianto mengatakan ATB sangat prihatin dengan musibah gempa di Palu. “Malam ini ATB berbangga karena diberikan kesempatan oleh Pemko Batam lakukan amal mulia menggalang dana,” ungkapnya dalam kata sambutan.

Dalam acara ini, ATB dan Pemko mengundang petinggi-petinggi pemerintahan dan kalangan pengusaha.

Cara yang dilakukan panitia acara untuk menggalang dana sangat efektif. Di masing-masing meja tamu undangan, disediakan formulir yang digunakan untuk mengisi nama, nomor telepon dan jumlah sumbangan. Masing-masing peserta acara harus menyumbang paling kecil sebanyak Rp 2 juta rupiah.

Banyak peserta dalam acara ini yang menyumbang puluhan juta seperti dari Rubicon, ATB dan lainnya.

Koordinator Penggalangan Dana, Asmin Patros mengatakan dana ini akan dikumpulkan dalam satu minggu dari para donatur.

“Dan setelah akun ditutup, maka akan divalidasi terlebih dahulu dari Direktur Keuangan ATB, baru diserahkan ke Pemko Batam,” paparnya.

Malam penggalangan dana ini juga diisi oleh beragam acara menarik, seperti drama teatrikal, paduan suara, puisi dan lainnya.(leo)

Butuh Waktu Kembangkan Pulau Pertanian di Batam

0
Pulau Subang Mas

batampos.co.id – Pengembangan Pulau Pertanian oleh Pemerintah Kota (Pemko) Batam di Pulau Subang Mas dan Pulau Kenon masih membutuhkan waktu.

Waktu ini diibaratkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam Mardanis dengan satu periode kepemimpinan kepala daerah.

”Atau paling tidak tiga sampai empat tahun. Tapi hitungan kami, tiga tahun baru tanahnya saja, belum infrastruktur,” kata dia, kemarin.

Hal ini merujuk pada kondisi keuangan sekarang, sementara jika Pemko Batam komit terkait pendanaan, Mardanis justru memperkirakan dua tahu tuntas.

Ia menerangkan, mempersiapkan lokasi ini tidak semudah membalikkan telapak tangan jika tidak didukung dengan pendanaan yang sesuai.

”Dana yang dibutuhkan sekitar Rp 50 miliar, itu sudah sama pelabuhannya,” imbuhnya.

Kini, di Subang Mas sedang tahap pengukuran. Hitung-hitunganya, tahun ini kajian dan pengukuran, analisa harga tanah untuk keperluan ganti rugi, selanjutnya tahap ganti rugi, selanjutnya pembangunan infrastruktur.

”Untuk dana yang dikeluarkan tak banyak lah sekarang, karena hanya ukur-ukur dulu kan,” ucap dia.

Ditanya keyakinannya, akan program tersebut. Mardanis mengungkapkan, program ini merupakan salah satu program yang sudah masuk rencana strategis Pemko Batam.

”Ini kan program pimpinan. Tentu kita ingin lahan pertanian yang resmi,” ujarnya.

Wali Kota Batam Muhammad Rudi mengatakan kendala kini ada di persoalan lahan yang belum bisa dibebaskan. Susah untuk dibebaskan karena sudah dikuasai warga. Dengan kata lain, Pemko Batam dihadapkan pada persoalan pengakuan warga atas tanah tersebut.

”Rupanya tanah itu sudah dikuasai orang, setengah mati mau dibebaskan,” imbuhnya.

Rudi mengaku tidak pesimis rencana tersebut tidak akan terealisasi. Menurut rencana tersebut akan terwujud dan ini hanya persoalan waktu.

“Pelan-pelanlah. Nanti kalau mau pakai duit negara akan jadi masalah, saya tidak mau terlibat hukum, maka proses-nya pelan-pelan,” paparnya.

Ia mengatakan, proses penyiapan sentra pertanian tersebut akan terus berproses. Menurut dia, yang terpenting pihaknya telah meleltakkan terlebih dahulu ide dasar upaya peningkatan ketahanan pangan tersebut.

”Sambil berjalan saja, punya ide kan boleh, yang penting blue print sudah saya siapkan, perencanaan saya sudah siapkan tinggal menunggu waktu saja,” ucap dia. (iza)

Pemerintah Tetap Mengacu pada PP 78/2015

0
foto: x.batampos.co.id / adil

x.batampos.co.id – Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam menyebutkan tuntutan buruh masih sama yaitu penolakan PP nomor 78 tahun 2015 yang menjadi formula perhitungan Upah Minimum Kota (UMK) Batam.

“Masih sama. Tetap menolak intinya,” kata dia, Rabu (31/10).

Ia mengungkapkan hingga saat ini perhitungan UMK masih mengacu kepada PP nomor 78 tahun 2015. Tahun depan kenaikkan UMK diperkirakan sebesar Rp 300 Ribu.

“Selama belum ada perubahan kami tetap mengacu pada peraturan tersebut,” ujarnya.

Mantan Kepala Dinas Peindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam ini menambahkan dalam pembahasan UMK Kamis (1/11) besok pihaknya berharap berjalan dengan baik. “Ini aksi menyampaikan aspirasi mereka. Besok (hari ini,red) kami rapat lagi bahas UMK. Semoga sudah ada angka,” ujarnya.

Buruh menyampaikan perhitungan UMK tersebut tidak sesuai dengan kondisi Batam saat ini yang kebutuhan hidupnya berubah-rumah.

“Kata mereka Batam sering naik kebutuhan hidupnya seperti listrik dan lainnya. Makanya mereka minta sesuai dengan kebutuhan hidup daerah,” jelas Rudi.(yui)

Warga Seibeduk Kelimpungan Cari Gas 3 Kilogram

0

x.batampos.co.id – Warga kembali mengeluhkan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram. Di Kecamatan Seibeduk misalnya, keberadaan gas melon bersubsidi itu kosong di beberapa pangkalan, kalaupun ada, warga mendapatkannya di pangkalan tak resmi dan harganya cukup mahal yakni Rp 23 ribu dari harga resmi Rp 18 ribu. Mirna, warga Puriagung II, Mangsang mengaku kelangkaan gas bersubsidi itu sudah berlangsung dua minggu belakangan ini.

“Susah sekali dapatnya. Harus keliling dulu,” kata Mirna, Rabu (31/10).

Ia mengatakan sudah mencari kebeberapa pangkalan, namun ternyata tetap kosong. Ia pun baru menemukan gas terrsebut setelah berkeliling cukup lama. Adanya gas itu pun tidak dipangkalan resmi namun di warung kecil pinggir jalan.

“Di warung dengan pangkalan beda harga lima ribu. Mahal memang, tapi karena butuh saya beli saja,” kata ibu rumah tangga ini.

Hal yang sama dituturkan Maryam. Penjual sarapan pagi ini merasakan kelangkaan gas tersebut selama dua minggu belakangan ini. “Di pangkalan perumahan saya ada, cuman itu sudah dipesan sama warga lain,” katanya.

Maryam mengatakan sempat kelimpungan mencari gas, beruntung setelah berkeliling cukup lama, gas melon itu ia dapat di warung kecil pinggir jalan. “Lima hari nyari-nyari. Untung masih ada satu gas yang sengaja di setok,” jelasnya.

Sementara Alfiani, salah satu pemilik pangkalan gas di Seibeduk mengaku kelangkaan gas 3 kilogram cepat habis lantaran diburu warga. “Siang datang sorenya sudah diborong warga,” ucapnya.

Terkait kelangkaan, Alfiani mengaku bukan karena harga gas naik atau pihak Pertamina mengurangi jatah yang diantar ke pangkalan. (une)

9.000 Warga Lapor sebagai Pemilih

0

batampos.co.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Batam menemukan sedikitnya sembilan ribu pemilih baru yang akan masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) pasca membuka gerakan sadar hak pilih di 64 kelurahan yang ada di Batam.

“Sudah selesai semua. Ada kurang lebih sembilan ribu warga yang telah melaporkan diri sebagai pemilih pasca penetapan DPT,” kata Komisioner KPU Batam, Sudarmadi, Selasa (30/10).

Laporan saat ini tengah diproses di tingkat panitia pemungutan suara (PPS) dan akan diunggah oleh panitia pemihan kecamatan (PPK) ke dalam sistem pendataan pemilih (Sidalih).

“Mereka lagi input laporan dalam bentuk microsoft excel,” ucapnya.

Ia menyebutkan, sebelumnya KPU telah menetapkan DPTHP sebanyak 629.668 pemilih. Dengan masuknya data baru tersebut, kemungkinan jumlah pemilih juga akan menga-lami perubahan.

“Dari sembilan ribu itu kami juga harus kroscek. Jangan sampai ada data ganda. DPT pasti berubah dari yang sebelumnya,” ujarnya.

Lanjutnya, masih ada sinkro-nisasi data sebelum diplenokan. Jadi, kita masih bisa koreksi hingga 11 November mendatang. Setelah itu baru diserahkan ke KPU Provinsi untuk pleno.

Selain itu, pihaknya juga tengah menuntaskan 47 ribu data ganda yang terjadi di Batam.

Ia menyebutkan ada empat data ganda yaitu antar tempat pemungutan suara, kecamatan, kota dan provinsi. “Semua masih dalam proses. Mudah-mudah segera selesai,” tutupnya.(yui)

Ada Demo Polisi Tutup Jalan Engku Putri

0
foto: batampos.co.id / adil

batampos.co.id – Pembaca batampos.co.id yang budiman saat ini tengah berlangsung demo pekerja di depan kantor Walikota Batam di jalan Engku Putri.

Polisi menutup jalan itu.

Anda yang hendak melintasi Engku Putri silakan memilih jalan alternatif.

Para pekerja demo untuk memperjuangkan UMK 2019.

foto: batampos.co.id / adil

Dalam aksinya, masa menuntut kebijakan pemerintah agar dicabutnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78/2015 tentang Pengupahan. (cr11)

Wartawan dari Pangkal Pinang Bertandang ke Batam Pos

0

batampos.co.id – 22 wartawan dari Pangkal Pinang berkunjung ke redaksi Batam Pos. Kunjungan mereka dipandu ioleh Kabag Humas Pemko Pangkal Pinang, Hasan Lumata.

Pada pembukanya Hasan menuturkan kunjungan ke Batam Pos ialah untuk bersilaturahmi sekaligus bertukar pikiran.

“Salah satunya hubungan pers dengan pemerintah,” ujar Hasan.

Pernyataan Hasa ini pun disambut oleh Direktur Batam Pos, Guntur M Sunan. Guntur pun membeberkan apa yang biasa dilakukan.

Pada kesempatan ini Guntur didampingi oleh Pimred Batam Pos, M Iqbal. (ptt)

 

Indonesia Protes Arab Saudi

0

x.batampos.co.id – Kabar duka kembali datang dari Arab Saudi. Tuti Tursilawasi, buruh Migran asal Majalengka, Jawa Barat diketahui menjalani vonis hukuman mati di Kota Thaif pada Senin (29/10) lalu. Ironisnya, eksekusi tersebut kembali dilakukan tanpa ada notifikasi oleh otoritas Saudi ke pemerintah Indonesia.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kememterian Luar negeri (Kemlu) RI, Lalu Muhammad Iqbal peristiwa tersebut sangat mengejutkan.

Pasalnya, pada 19 Oktober, Tuti sempat berkomunikasi dengan keluarga. Kemudian pada tanggal 28 Oktober, KJRI Jedah juga melakukan komunikasi.

“Semuanya tidak ada indikasi (akan vonis),” ujarnya di Kantor Kemlu RI, Jakarta, Selasa (30/10).

Pihaknya menyayangkan sikap Saudi. Pemerintah pun sudah menyampaikan protes keras. Baik melalui komunikasi antar-Kemlu maupun dengan memanggil duta besar Arab Saudi untuk Indonesia. Meski eksekusi tanpa notifikasi ini bukan yang pertama, Iqbal menilai upaya yang bisa dilakukan sampai saat ini hanyalah menyampaikan nota keberatan.

“Karena yang dilakukan pemerintah Saudi masih di dalam kewenangan mereka,” imbuhnya.
Iqbal menceritakan, eksekusi Tuti berawal dari penangkapan yang dilakukan pada 2010. Dia diduga melakukan pembunuhan berencana setelah bekerja di Saudi sejak 2009. Pada 2011, kasusnya inkrah. Sejak dinyatakan inkrah sampai 2018, lanjutnya, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya.

Mulai dari pendampingan konsuleran, tiga kali pengangkatan pengacara, tiga kali banding, dan dua kali peninjauan kembali (PK), dua kali surat Presiden ke Raja Saudi, hingga bertemu keluarga, lembaga permaafan, dan wali kota Thaif. Sayangnya, semua upaya itu tidak berhasil.

Sekjen Serikat Buruh Migran Indonesia Bobby Alwi menambahkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, pembunuhan yang dilakukan Tuti merupakan puncak dari kekesalannya. Sebab, selain gaji tidak dibayar, Tuti juga kerap mengalami perlakuan yang tidak pantas. Baik kekerasan fisik ataupun seksual.

“Gak ada pekerja yang punya niat membunuh. Kondisi kerja yang buruk yang refleks melakukan itu,” ujarnya.

Dia menuturkan, lingkungan kerja di Saudi memang buruk. Sebab, keluarga di Saudi hidup tertutup dan bisa melakukan apa saja tanpa bisa diintervensi.

“Banyak pekerja rentan situasi ini. Rentan eksploitasi kekerasan dan penganiayaan,” imbuhnya.

ilustrasi

Di sisi lain, hakim di Saudi juga tidak memiliki perspektif terhadap perempuan pekerja migran yang rentan. Imbasnya, bantahan yang disampaikan Tuti terkait kekerasan dan pelecehan seksual yang diterimanya tidak menjadi bahan pertimbangan hakim.

Oleh karenanya, dia mendesak pemerintah Indonesia untuk melaporkan kasus-kasus yang dialami TKI ke Komisi Migran PBB. Apalagi, sudah beberapa kali, otoritas Saudi melakukan eksekusi tanpa menyampaikan notifikasi kepada Indonesia.

Sementara itu, Tuti bisa saja bukan yang terakhir dieksekusi algojo Saudi. Pasalnya, saat ini, masih ada 13 TKI yang terancam hukuman mati di sana. Terkait hal itu, Iqbal menyebut pemerintah akan melakukan berbagai upaya. Baik pendampingan hukum maupun diplomasi.

Menurutnya, upaya lobi yang dilakukan pemerintah selama ini cukup membuahkan hasil. Selama 2011–2018, ada 103 TKI yang terancam vonis mati. “Dari jumlah itu, berhasil dibebaskan 85. Lima orang dieksekusi,” pungkasnya.

Terpisah, Wakil Presiden Jusuf Kalla turut berkomentar keras terhadap informasi warga negara Indonesia yang dieksekusi di Arab Saudi. JK memastikan pemerintah akan mela-yangkan protes keras bila tidak ada pemberitahuan kepada pemerintah Indonesia melalui pihak kedutaan.

”Kalau memang tidak ada notifikasi tentu kita akan protes ke pemerintah Saudi,” ujar JK di ruang rapat kantor Wakil Presiden, kemarin.

Dia menjelaskan, semestinya ada pemberitahuan bila ada WNI yang dipenjara. Termasuk bila warga tersebut akan mendapatkan hukuman mati.

”Mendapat vonis mati itu diketahui oleh kedutaan,” ujar ketua umum Dewan Masjid Indonesia itu.(far/jun/jpg)

Play sound