Sabtu, 23 Mei 2026
Beranda blog Halaman 12643

Bupati Anambas Rombak Kabinet

0
Ratusan Aparatur Sipil Negara Kabupaten Kepulauan Anambas melaksanakan apel pagi yang dipimpin Wakil Bupati Wan Zuhendra di halaman Sekretariat Pemkab Anambas, Senin (19/2). F. Syahid/Batam Pos.

batampos.co.id – Bupati dan Wakil Bupati Kepulauan Anambas dalam waktu dekat ini merombak sejumlah pejabat di eselon II, III dan IV. Mutasi jabatan ini bertepatan dua tahun masa kepemimpinan Abdul Haris dan Wan Zuhendra.

Wakil Bupati Kepulauan Anambas Wan Zuhendra, mengatakan, mutasi merupakan salah satu langkah untuk percepatan pembangunan. Ia mengimbau kepada seluruh pegawai agar tidak merasa risau terkait perombakan ini.

“Kami ingin ada perbaikan diri dalam membangun daerah ini. Mutasi merupakan hal wajar di setiap instansi untuk penyegaran, memperbaiki dan meningkatkan kinerja,” ujarnya saat memimpin Apel Gabungan di Halaman Sekretariat Pemkab Anambas, Senin (19/2).

Wan juga belum terang-terangan terkait mutasi tersebut. Karena saat ini pihaknya masih melakukan penilaian kinerja pegawai. “Kami meminta pegawai jangan khawatir terkait mutasi ini. Namun fokuskan lah bekerja,” tegasnya.

Ia mengatakan mutasi ini bisa terjadi kapan saja dan tentunya untuk perbaikan kinerja. “Jangan jadi momok jika namanya tercantum dalam pelantikan, yakinlah itu merupakan kehormatan,” ungkapnya meyakinkan pegawai.

Menurutnya, jika menuruti rasa nyaman, maka bekerja di pemerintahan tidak ada yang nyaman. Karena harus memikul beban. “Pegawai sekarang tak seperti beberapa tahun yang lalu,” ungkapnya.

Wan mengakui, dua tahun kepemimpinan Abdul Haris dan Wan Zuhendra masih banyak kekurangan bagi masyarakat. Menurutnya, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bekerjasama untuk mensukseskan visi-misi yang sudah terpapar dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

“Kami mengakui, selama dua tahun ini belum maksimal pembangunan yang laksanakan. Kami ingin sisa masa jabatan kami, visi-misi yang sudah dituangkan pada RPJMD berjalan lancar. Kami berharap OPD meningkatkan kinerja,” ucapnya.(sya)

Ingin Bangun Rumah Panggung Terbalik

0
Pelantar cinta dan Rumah Pohon, salah satu wahana berfoto hasil kreativitas Pokdarwis Penyengat. F. Fara/Batam Pos.

batampos.co.id – Kreativitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Penyengat tidak habis dalam sekadar membangun wahana berfoto di ujung jalan dari Balai Adat. Dalam waktu dekat, mereka berencana akan membangun sebuah wahana berupa rumah panggung terbalik.

Ketua Pokdarwis Penyengat, Mustafa menjelaskan, konsep ini merupakan adaptasi dari rumah terbalik yang kini sedang populer di banyak destinasi wisata di Indonesia. “Bedanya, kami akan buat dalam bentuk rumah panggung,” terang Mustafa, Senin(19/2).

Ada tujuan lain selain semakin mengundang minat wisatawan ke Penyengat. Dengan menyajikan wahana sarat kearifan lokal yang dipadupadankan dengan sentuhan kekinian, kata Mustafa, akan menjadi sarana edukasi bagi pelancong yang datang tentang kebudayaan Melayu.

“Kalau cuma bangun rumah panggung, tentu sudah sangat biasa. Karena konsepnya di balik, tentu akan jadi sangat menarik. Jadi nanti di situ bisa diterangkan mengenai simbol dan makna kearifan lokal mengenai kebudayaan Melayu,” bebernya.

Mustafa optimistis, dalam waktu sebulan dua ke depan, rumah panggung terbalik ini akan selesai dibangun di Penyengat. Kalau sudah begitu, ia yakin pula minat kunjungan akan semakin meningkat. Karena saat ini saja, Balai Adat juga sudah menyedot perhatian wisatawan dalam dan luar negeri lewat fasilitas sewa baju adat yang dikelola Pokdarwis Penyengat.

“Tentu kami juga butuh dukungan masyarakat setempat agar iklim pariwisata ke Penyengat semakin menggeliat,” ujarnya.

Ikhtiar positif ini mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri Buralimar. Menurutnya, sejarah adalah modal besar Penyengat dalam menggaet pelancong datang. “Dan mereka memanfaatkanya dengan sentuhan kekinian, jadi sangat menarik sekali konsepnya,” ungkap Buralimar.

Ke depan dan seterusnya, Buralimar berjanji akan tetap mempromosikan Penyengat sebagai tujuan wisata utama di Kepulauan Riau. Dalam waktu dekat ini, Buralimar akan mengoptimalisasikan jaringan promosi pariwisata yang ada dengan melibatkan penulis, fotografer, dan blogger dengan mendatangkannya ke Penyengat.

“Nanti kami akan atur jadwalnya. Diharapkan dengan begitu Penyengat bisa semakin dikenal orang di Indonesia,” pungkas Buralimar. (aya)

Jadikan Saran dan Kritik sebagai Obat

0
Bupati Bintan Apri Sujadi memberikan potongan tumpeng pertama kepada Ketua DPRD Kabupaten Bintan Nesar Ahmad di acara refleksi 2 tahun kepemimpinan Bupati Bintan Apri Sujadi dan Wakil Bupati Bintan Dalmasri Syam di Aula Kantor Bupati Bintan, Bintan Buyu, Senin (19/2). F. Slamet Nofasusanto/Batam Pos.

batampos.co.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan menggelar acara refleksi 2 tahun kepemimpinan Bupati Bintan Apri Sujadi dan Wakil Bupati Bintan Dalmasri Syam di Aula Kantor Bupati Bintan di Bandar Seri Bentan Bintan Buyu, Senin (19/2).

Turut hadir dalam kesempatan itu, Ketua DPRD Kabupaten Bintan Nesar Ahmad, Sekda Kabupaten Bintan Adi Prihantara, pejabat dan pimpinan TNI Polri dan kalangan pengusaha dan tokoh masyarakat.

Apri menyampaikan, dirinya bersama Wabup Dalmasri Syam berupaya mewujudkan janji politik sewaktu kampanye, meski beberapa janjinya mengalami hambatan karena peralihan kewenangan dari kabupaten ke provinsi.

Salah satu janjinya yang belum terwujud, menurutnya, pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) di Kabupaten Bintan. Ia menjelaskan, ternyata untuk membangun BLK di Bintan harus ada dinas terkait, dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja (Disnaker). “Kami sudah mengusulkan penambahan beberapa SOTK baru termasuk Dinas Tenaga Kerja. Semoga setelah adanya SOTK baru, janji politik itu bisa terealisasi,” kata dia.

Selain hal itu, ia mengatakan, dari semua program yang dilakukan Pemkab Bintan harus mengutamakan kesejahteraan masyarakat Bintan.”Saya bersama Pak Dalmasri membuka diri serta tidak anti kritik, selagi kritikan itu sifatnya membangun. Karena saran dan kritik adalahobat,” kata dia.

Sementara itu, Dalmasri Syam menambahkan, Bintan adalah salah satu daerah yang aman. Hal ini menurutnya, tidak terlepas dari dukungansemua pihak. “Saya sangat berterima kasih kepada masyarakat yang sudah menjaga kondisi Bintan tetap aman dan kami akan berusaha meningkatkan pelayanan bagi masyarakat Bintan,” tukasnya.

Kegiatan itu diakhiri dengan pemotongan tumpeng, di mana pucuk nasi tumpeng berwarna biru. Potongan tumpeng pertama diberikan Apri Sujadi ke Ketua DPRD Kabupaten Bintan Nesar Ahmad. (met)

Polisi Limpahkan Berkas Penyelundupan Barang Impor

0

batampos.co.id – Berkas kasus penyelundupan barang impor yang lolos di Batam dan berhasil diamankan di Pelabuhan ASDP Tanjunguban Januari lalu akhirnya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (kejari)Tanjungpinang, Senin (19/2).

Penyerahan barang bukti berikut tersangka penyelundupan barang impor bernama Edi Yanto alias Edi,34, dilakukan setelah pihak Kejari Tanjungpinang menyatakan perkara tersebut sudah lengkap (P21).

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan pasal 104 atau 113 UU RI Nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan atau Pasal 62 ayat 1 Jo Pasal 8 ayat 1 huruf J UU RI Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. “Kasus ini menjadi atensi pihak kepolisian,” kata Kanit Unit III Satreskrim Polres Bintan Ipda Angga Riatma.

Karena itu, pihaknya akan senantiasa meningkatkan pengawasan beberapa titik yang disinyalir tempat masuknya barang barang selundupan. (met)

Karena Kata-Kata Adalah Senjata (2)

0

LIMA kedai kopi yang tersebar di kawasan kota itu berturut-turut telah disepakati sebagai stasiun pertemuan 1 hingga 5. Pertemuan mingguan dikabarkan lewat pesan dengan jumlah kancing di kotak pos di alamat mereka masing-masing. Apabila ada tiga kancing, artinya pertemuan diadakan di kedai kopi nomor 3. Jam pertemuannya disepakati pada pertemuan sebelumnya.

Adnan mengetahui juga kode itu.

Ia beberapa kali diminta pamannya untuk memasukkan kancing ke kotak pos di beberapa alamat. Ia harus melakukan tugas itu lepas tengah malam, untuk mengurangi kemungkinan diketahui oleh intel PID. Ia tahu itu adalah alamat-alamat para pengurus partai yang sudah dilarang dan dibubarkan oleh penguasa kolonial, tetapi seperti pamannya, mereka tak berhenti bergerak. Malam itu, Adnan harus memasukkan lagi kancing ke dua alamat yang ia sudah tahu sebelumnya, dan sebuah alamat baru.

Masing-masing dua kancing.

Akan ada pertemuan di stasiun nomor 2.

_|_

Kedai Kopi Tak Kie, di Kawasan Glodok, tepatnya di Jalan Pintu Besar Selatan, pagi itu sedang ramai. Di sana memang selalu ramai. Adnan duduk di meja paling belakang, dan menyukai aroma kopi bubuk dan uap kopi yang meruap dari wilayah penyeduhan. Ia teringat pada aroma kopi bubuk di tokonya dulu di Pematang Padang. Oh, berapa tahun sudah kota itu aku tinggalkan?

Kopi susunya yang hangat baru ia nikmati dalam dua-tiga sesapan. Ia menunggu seseorang dari Medan yang dalam surat ayahnya yang datang minggu lalu ia diminta untuk menemuinya. Orang itu disebutkan sebagai anak sahabat ayahnya hendak mulai memperluas perdagangannya ke Batavia.

Adnan dengan cermat mengawasi orang-orang yang datang dan pergi. Ia menebak-nebak saja, sebab ia tak tahu raut wajah orang yang hendak menemuinya itu. Ia membawa surat yang ia terima dari ayahnya. Di surat itu, surat yang ia selipkan di buku catatan kecilnya, ayahnya bilang bahwa foto Adnan telah diberikan pada orang itu agar ia mudah mengenalinya.

Di tengah keasyikan mengamati itu, Adnan justru melihat gadis yang ia ajak berkenalan di trem beberapa waktu lalu. Ia yakin sekali itu adalah dia, tak mungkin dia bisa lupakan wajah cantik itu. Rambutnya kini ditata dengan sederhana, rambut yang panjang, yang terhimpun rapi pada satu ikatan.

Tapi siapa yang bersamanya?

Lelaki tua tegap dengan gaya angkuh seorang ambtenaar atau inspektur polisi itu apakah ayahnya? Mungkin, keduanya ada kemiripan, putih pada kulit, dan bulat telur pada potongan wajah. Wajah seorang priyayi. Dan lelaki muda itu? Dia sama sekali tak mirip dengan si ambtenaar angkuh. Lelaki yang dijodohkan dengan si cantik? Si cantik itu tampak kikuk pada si lelaki. Seperti belum terlalu kenal, dan saling menjaga jarak. Adnan menertawakan dirinya sendiri. Apa urusannya jika gadis itu memang hendak dinikahkan dengan siapapun? Nama si gadis cantik itu pun dia belum tahu.

Si gadis tampak terkejut ketika ia menemukan Adnan dari mejanya mengamatinya. Adnan tersenyum, entah untuk apa, tapi jelas itu senyum untuk si gadis. Si gadis lekas-lekas menunduk.

Si lelaki muda mengikuti arah pandang si cantik. Ia menemukan Adnan, lalu mengeluarkan foto dari saku bajunya. Ia lantas berdiri menuju ke meja di mana Adnan menunggu.

“Adnan? Aku Djamal…” Ia tunjukkan foto Adnan.

“Ya, oh, rupanya kamu orangnya. Maaf, aku tak mengenalimu, ayahku tak menyertakan gambarmu di suratnya.”

“Ah, tak apa. Yang penting kita sudah bertemu toh. Oh ya mari, kukenalkan…”

Djamal membawa Adnan ke meja di mana dia, si gadis, dan ambtenaar tadi duduk. Ia memperkenalkan Adnan sebagai pedagang muda yang sukses di Batavia yang berasal dari kota yang sama dengannya.

“Oh, pedagang? Apakah sekarang pedagang juga dicari-cari sama polisi?”

Si ambtenaar menatap pada Djamal lalu keduanya menoleh pada Adnan.

“Oh, ini orang yang ketemu kamu di trem?” tanya si ambtenaar kepada Naila. “Kenapa kau lari menghindari patroli polisi waktu itu?” kali ini pertanyaan diarahkan kepada Adnan.

“Ah, cuma salah paham…”

“Kau ikut pergerakan? Seperti anak-anak muda itu juga?”

“Saya cuma pedagang. Berjualan batik, kain, tembakau. Yah, dagang apa saja. Kadang mengumpulkan hasil bumi lainnya juga…”

“Ya. Jangan ikut-ikut. Kalau berdagang, berdagang saja. Itu lebih baik. Berhubungan dengan orang-orang pergerakan itupun kalau bisa hindari. Cuma bikin repot kita…. Kita sedang bikin razia dan penangkapan besar-besaran. Orang-orang pergerakan itu mau dibersihkan semua,” ujar si ambtenaar seperti memberi nasihat atau peringatan, bukan kepada Adnan, tapi kepada Djamal.

Perkenalan dan pertemuan yang tidak nyaman.

Tapi setidaknya bagi Adnan, kini ia tahu gadis itu bernama Naila. Naila Bratanata. Nama belakang Naila adalah nama si ambtenaar, ayahnya. Begitupun sebaliknya bagi Naila, setidaknya ia tahu juga, Adnan tidak berbohong soal nama ketika ia memberitahukannya dalam pertemuan buru-buru di trem waktu itu.

Adnan dengan lekas bisa menilai siapa si ambtenaar. Jelas, dia tidak berada di pihak orang-orang pergerakan. Naila kemudian lebih banyak diam. Ia seperti menyesal tadi bicara soal Adnan yang dicari polisi yang membawa pembicaraan mereka menjadikan Adnan seakan terpojok.

“Sukarno sudah ditangkap. Partai Nasional-nya kena verbond. Tak boleh bikin kegiatan politik kecuali kegiatan sosial dan ekonomi. Tapi, orang-orang bodoh dan keras kepala itu mana bisa tak berpolitik? Saya kira bagus sekali ketika Mr. Martono umumkan pembubaran sendiri partai itu. Itu seluruh pengurus Partai Nasional harusnya juga ditangkap dan dibuang. Dengar-dengar mereka diam-diam sudah bikin partai lagi. Parindo? Apa itu namanya?”

“Mungkin…” Adnan tak lagi menyimak ocehan si ambtenaar.

Perhatian Adnan tersita oleh sosok lelaki berpiyama lusuh, dan bertopi seperti pedagang Cina, dan berjalan dengan langkah yang janggal, seperti berpura-pura pincang. Kepura-puraan dan penyamaran yang tak bisa menyembunyikan sosok yang sebenarnya: itu adalah pamannya.

Apakah Kedai Kopi Tak Kie ini yang dimaksud sebagai stasiun 2?

Berarti akan ada pertemuan di sini?

Adnan menanti dengan cemas. Pamannya duduk di meja paling depan tapi merapat ke dinding kiri, sehingga dengan leluasa ia bisa mengawasi semua kendaraan yang datang dari arah kanan kedai. Tak sampai sepuluh menit, seorang lelaki datang, bergabung di meja pamannya. Ia juga tampak seperti seorang pedagang yang lusuh dan bertopi lebar untuk menutupi wajah. Adnan tak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Lalu beberapa menit kemudian seorang lagi menyusul. Harusnya, ada seorang lagi yang datang, mengingat ia semalam mengirim pesan kancing ke tiga alamat.

Kemudian ada sebuah mobil berhenti di depan kedai.

Adnan memperhatikan seseorang turun dan melihat dan melambai ke arah tiga orang yang sudah duduk di meja. Orang ketiga sudah datang. Jika sesekali menginap di rumah pamannya, Adnan kerap melihat sekilas tamu-tamu yang datang pada jam yang janggal untuk bertemu sebagai kolega dagang. Adnan mencoba mengingat, tiga orang itu, rasanya sekilas-sekilas pernah ia lihat. Tiga orang itu, tamu-tamu tengah malam di kantor dagang pamannya.

Belum lagi sempurna duduk si orang ketiga tadi, tiba-tiba beberapa mobil patroli polisi serentak datang dan berhenti, berlompatan menyerbu ke dalam kedai, mengepung meja di mana paman Adnan dan tiga orang temannya tadi berkumpul. Adnan melihat pamannya sempat berusaha untuk lari tapi kepungan itu terlalu rapat. Pamannya terhempas oleh poporan gagang senjata di perutnya.

Ada yang membocorkan tempat dan waktu pertemuan itu, pikir Adnan.

Adnan sempat tergerak untuk menolong pamannya, tapi tarikan lain lebih kuat mengikuti nalurinya untuk menyelamatkan diri. Ia melompat tanpa pamit ke arah dapur kedai kopi diikuti makian dan teriakan dalam bahasa Mandarin yang tak ia mengerti.

Dari pintu belakang ia lantas menghilang di antara rumah-rumah penduduk. Ia sempat melihat Naila yang terkejut dan panik, dan si ambtenaar berseru kepada polisi sambil menunjuk dia yang lari ke arah dapur.

(bersambung)

DPRD Prioritaskan Ranperda Tata Ruang

0
Ribuan unit rumah warga di kawasan Tanjungpinang Barat dan Tanjungpinang Kota. F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tanjungpinang, Suparno menggaransi rancangan peraturan daerah (Ranperda) tentang Tata Ruang akan jadi prioritas dan dibahas secara serius. Hal ini, kata Suparno, lantaran pada tahun sebelumnya ranperda ini gagal mencapai kesepakatan untuk disahkan.

“Mengingat urgensinya juga, memang ranperda ini harus jadi prioritas kami ke depannya,” kata Suparno, Senin (19/2).

Politisi asal Fraksi PDI Perjuangan ini melanjutkan, ranperda tata ruang ini akan bermanfaat bagi Tanjungpinang ke depannya dalam melakukan penataan kawasan serta peruntukan lahan. Termasuk pula di antaranya pengembalian fungsi zonasi agar tidak lagi terjadi tumpang tindih. Hal ini yang kelak, kata Suparno, akan memudahkan kerja-kerja mengundang penanaman investasi di ibu kota.

“Makanya, itu yang pertama akan kami gesa di tahun ini,” tegas Suparno.

Suparno menuturkan, akhir bulan ini seluruh daftar program legislasi daerah (prolegda) sudah selesai. Mengenai ranperda inisiatif DPRD, kata Suparno, juga sedang dalam pembahasan di tingkat komisi. Ia mengharapkan kinerja rekan-rekan di komisi tetap prima di tengah kesibukan hiruk-pikuk Pilkada. (aya)

Ekspor Kepri Turun 15,7 Persen

0

batampos.co.id – Perkembangan nilai ekspor di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada Januari lalu mengalami penurunan mencapai 15,7 persen. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri, Panusunan Siregar menjelaskan, penurunan nilai ekspor di awal triwulan 2018 ini disebabkan turunnya ekspor komoditas migas sebesar 7,29 persen dan nonmigas sebesar 19,19 persen.

“Ekspor migas pada Januari 2018 mencapai 297,55 juta Dollar AS atau turun 7,29 persen dibanding Desember lalu. Sedangkan Ekspor nonmigas Januari senilai 626,30 juta Dollar AS atau turun 19,19 persen dibanding bulan sebelumnya,” sebut Panusunan, Senin (19/2).

Ada pun nilai ekspor ini merupakan sumbangan dari pintu masuk Pelabuhan Batu Ampar sebesar 296,38 juta Dollar AS, disusul Pelabuhan Tarempa 181,27 juta Dollar AS, Pelauhan Kabil Panau sebesar 126,74 juta Dollar AS, Pelabuhan Sekupang sebesar 182,73 juta Dollar AS dan Pelabuhan Belakangpadang dengan raihan 112,54 juta Dollar AS.

Ada pun Singapura masih menjadi negara tujuan utama aktivitas ekspor Provinsi Kepri. Pada Januari 2018 kemarin, tercatat nilai total ekspor ke Singapura mencapai 486,92 juta Dollar AS. Ekspor ke Singapura ini setara dengan kontribusi sebesar 52,71 persen.

Sementara negara kedua tujuan utama ekspor Kepri bukan negara jiran lainnya yang berdekatan. “Tapi ke Amerika Serikat. Nilai totalnya mencapai 65,22 juta Dollar AS,” kata Panusunan.

Selebihnya, negara utama tujuan ekspor Kepri adalah, Malaysia, Tiongkok, Thailand, Jepang, Perancis, India, Jerman, dan Australia. Keseluruhan nilai ekspor pada April 2017 ke 10 negara tersebut berjumlah 802,2 juta Dollar AS. (aya)

Dua Mantan Kades Dituntut Hukuman Berbeda

0
Dua Kades di Bintan, Yusran Munir dan Hamdan digiring petugas Kejaksaan Negeri Tanjungpinang, beberapa waktu lalu. F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Dua Kepala Desa (Kades) di Kabupaten Bintan, yakni Kades Penaga, Hamdan dituntut hukuman 3 tahun 6 bulan penjara dan Kades Malang Rapat Yusran Munir dituntut 3 tahun penjara serta denda masing-masing Rp 50 juta subsider tiga bulan penjara di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Senin (19/2). Keduanya diketahui terlibat korupsi penggunaan Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) Tahun Anggaran 2016.

Kedua terdakwa terbukti melanggar pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Terdakwa Hamdan juga diwajibkan membayar Uang Pengganti (UP) Rp517 juta yang telah dikembalikan terdakwa sebesar Rp70 juta, sedangkan terdakwa Yusran Munir diwajibkan membayar UP Rp 364 juta yang telah dikembalikan terdakwa sebesar Rp 100juta.

“Jika terdakwa Hamdan tidak membayarkan UP tersebut maka akan diganti dengan kurungan penjara 1 tahun 9 bulan, sedangkan terdakwa Yusran jika tidak membayar UP, maka diganti dengan kurungan penjara 1 tahun 6 bulan,” ujar Jaksa Penuntut Umum (JPU) Gustian Juanda.

Usai pembacaan tuntutan tersebut, Hakim yang ketua Iriati Khoirul Ummah menunda persidangan dengan agenda mendengar pledoi kedua terdakwa. “Sidang ditunda hingga pekan depan untuk mendengar pembelaan terdakwa,” tutup Iriati.

Sebelumnya diberitakan, Kades Penaga, Hamdan dan Kades Malang Rapat Yusran Munir, diduga merugikan negara dalam penggunaan DD dan ADD Tahun Anggaran 2016 lalu sebesar Rp 500 juta.

Hamdan diketahui telah merugikan negara senilai Rp 300 juta. Sedangkan Yusran Munir sebesar Rp 200 juta, atas penggunaan Dana Desa lewat Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Malang Rapat sebesar Rp 1,8 miliar.

Modus yang digunakan adalah membuat Surat Pertanggungjawaban (SPj) untuk sejumlah kegiatan sehingga dana cair 100 persen, namun ada beberapa kegiatan fiktif karena tidak adanya SPj. (odi)

Datangkan Barongsai Usir Aura Tidak Bagus

0
Barongsai Citia Vidia Sasana Tanjungbalai Karimun ketika melakukan ritualnya di setiap rumah warga Tionghoa. F. Tri Haryono/Batam Pos.

batampos.co.id – Walaupun tahun baru Imlek sudah berlalu, mulai dari makan bersama hingga open house diadakan oleh warga Tionghoa yang ada di Karimun. Pada hari ke empat, Senin (19/2), banyak warga Tionghoa yang melakukan ritual dengan memangil barongsai untuk mengusir aura tidak bagus dan membawa keberuntungan di rumahnya.

“Kalau istilah secara mendalam saya kurang pahamlah. Yang penting, niat kita memohon agar tahun baru Imlek sekarang bisa membawa keberuntungan di kedai saya. Ya biar ramai pengunjung untuk ngopi disinilah,” kata salah seorang warga Tionghoa asal Karimun, Kodrad.

Dirinya, hanya mempersiapkan beberapa buah jeruk untuk dilakukan ritual oleh barongsai. Selain itu di halaman kedai kopinya, sudah tergantung daun bawang untuk diambil oleh barongsai yang akan dilemparkan ke halaman kedai.
“Ini sudah tradisi kita setiap tahun baru Imlek. Dan, ada sedikit rezeki angpao buat pengurus barongsai,” ujarnya.

Sementara itu Mia Seng, Pembina Barongsai dari Citia Vidia Sasana Tanjungbalai Karimun mengungkapkan, kesenian barongsai hanya tampil untuk kegiatan tertentu saja. Seperti, pembukaan kantor, pernikahan, peresmian klenteng, kuil, vihara dan agenda tahunan yaitu Imlek yang biasanya penutupan tahun baru Imlek atau merayakan festival Cap Go Meh.

“Penampilan barongsai rata-rata mereka berharap, tahun baru Imlek dapat membawa keberuntungan dan kebahagiaan. Mulai dari keluarga, usaha dan sebagainya sesuai permintaan,” ungkapnya sambil mengarahkan anggotanya untuk melanjutkan aktraksi barongsai ditempat yang lain.

Sedangkan pantauan dilapangan, barongsai yang berasal dari Citia Vidia Sasana Tanjungbalai Karimun dengan menggunakan alat peralatannya melakukan ritualnya satu persatu memasuki rumah warga Tionghoa, hotel, kedai kopi yang berada di kota Tanjungbalai Karimun. Dan banyak warga masyarakat yang melintas untuk menyaksikan aktraksi barongsai yang dimainkan oleh anak-anak muda Tionghoa. Dengan memainkan barongsai, yang mengikuti irama musik seperti singa.

“Bagus kok. Saya dokumentasikan dengan telepon pintar buat anak-anak lihat. Kelihaian anak-anak muda itu memainkan barongsai. Ini menjadi tontonan yang menarik bagi saya,” kata Pendi salah seorang warga Karimun. (tri)

Jangan Paksa Wali Murid Bayar Biaya Pelajaran Tambahan

0

batampos.co.id – Biasanya, menjelang pelaksanaan ujian nasional (UN), pelajar yang duduk di kelas terakhir, seperti pelajar SMP kelas 9 akan mengikuti pelajaran tambahan. Atau biasa disebut dengan terobosan yang akan dimulai setelah habis waktu normal belajar disekolah. Hanya saja, ada SMP yang membebankan biaya pelajaran tambahan tersebut kepada pelajar. Dan, ini dianggap memberatkan oleh orang tua siswa.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Karimun, Bakri Hasyim menyebutkan, memang ada sekolah 9 atau kelas tiga SMP yang menerapkan biaya tambahan untuk program pelajaran tambahan. ”Perlu diketahui, disetiap sekolah sudah ada komite sekolah. Melalui komite ini, jika ada hal-hal yang berkaitan dengans ekolah dibahas bersama dengan wali murid,” ujarnya kepada Batam Pos, Senin (19/2).

Artinya, kata Bakri, terkait dengan masalah tambahan pelajaran untuk pelajar SMP kelas tiga dan ada biaya, maka dibicarakan dalam rapat musyawarah komite sekolah. Pihak sekolah tidak boleh menentukan sendiri berapa besarnya biaya untuk pelajaran tambahan tersebut. Karena, sudha tentu akan timbul keberatan dari pihak wali murid. Selain itu, kalau memang ada pelajar yang tidak mampu, maka jangan dikenakan biaya.

”Bahkan, saya juga menghimbau kepada pihak sekolah, jika ada wali muri8d yang mampu membayar dengan cara menyicil, maka hal itu diperbolehkan. Janagn paksa wali murid untuk segera membayar lunas. Cara-cara seperti ini tidak diperbolehkan. Terkait masalah ini, maka dalam waktu dekat kita akan mengadakan rapat dengan para kepala sekoalh. Salah satunya untuk membahas masalah ini,” paparnya. (san)