Jumat, 10 April 2026
Beranda blog Halaman 13167

Sah, Sekolah hanya 5 Hari !

0
Nanda salah satu murid SD 010 Batam Kota, Batam Center. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Para siswa, kalian sekolah hanya lima hari saja ya….

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tinggal menunggu turunnya Peraturan Presiden pengganti Peraturan Menteri (Permen) Nomor 23 Tahun 2017.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan, pihaknya terus mensosialisasikan program tersebut kepada guru maupun lembaga pendidikan lainnya. Nantinya, penerapan kebijakan ini akan diberlakukan secara bertahap.

“Semuanya sudah siap. Mudah-mudahan Permen akan selesai secepatnya,” kata Mendikbud Muhadjir usai acara Penyegaran Instruktur Nasional Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Timur di Surabaya, Minggu (9/7).

Muhadjir menambahkan, adapun persiapan yang dilakukan antara lain mulai dari penataran, sosialisasi hingga mengutus kelompok kerja di tiap daerah untuk membantu pelaksanaan aturan ini.

“Program lima hari sekolah dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kondisi kesiapan dan kemampuan daerah masing-masing,” jelasnya.

Dijelaskannya, penguatan karakter juga diatur dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Sementara untuk penerapannya akan sangat bervariasi di tiap daerah dan sekolah.

“Saat ini sudah ada 11 kabupaten/kota yang menerapkan program itu dikarenakan harus menyesuaikan sarana prasarana yang dimiliki tiap daerah. Di Jatim yang siap antara lain adalah Kota Malang dan Kota Blitar,” pungkasnya.(bon/jpnn/mam/JPG)

Lomba Layang-layang Bikin Turis di Bali, “Melayang”

0

Dengan dukungan Kementrian Pariwisata (Kemenpar) Pulau Dewata itu menggelar Lomba Layang-Layang Bali ke-39 di Pantai Padanggalak, Kota Denpasar, Bali, 8-9 Juli 2017 lalu.

Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Esthy Reko Astuti yang didamping Kabid Wisata Buatan Ni Putu G. Gayatri mengatakan, panitia dan Kemenpar dalam perlombaan tahunan tersebut menargetkan jumlah penonton 1000 orang wisatawan mancanegara (wisman) dan 5000 orang wisatawan nusantara (wisnus).

”Lomba layang-layang ini sebagai wujud  pelestarian tradisi masyarakat di Bali. Orang Bali itu sangat kreatif dan sangat mempertahankan kesenian daerahnya. Lomba ini diwujudkan untuk menyalurkan kreativitas dan melestarikan serta memaknai tradisi-tradisi sebagai pijakan dalam menghadapi tantangan global bagi masyarakat Bali. Serta sebagai atraksi untuk menarik perhatian wisman,” ujar Esthy yang juga diamini Gayatri.
Gayatri menambahkan, Festival ini bisa terlaksana berkat kerjasama dengan Pengurus Persatuan Layang-Layang Indonesia (PELANGI)  yang sudah memastikan jumlah peserta sebanyak 1.000 layang-layang se-Bali, dengan kategori lomba anak-anak dan dewasa.

Tidak hanya itu, imbuh Gayatri, pihaknya juga menargetkan 1000 sekaa (club) layang-layang se-Bali, dan layangan yang dilombakan terdiri dari berbagai jenis kategori seperti  lomba layangan Remaja dan Dewasa, lomba Layang-Layang janggan dan janggan buntut, tradisional Bali dan Kreasi Baru.

“Layang-Layang tradisional Bali memiliki ukuran raksasa dan telah berkembang selama bertahun-tahun,  setiap kategori remaja memiliki 2 sampai 3 meter bentang sayap. Untuk Dewasa 4 sampai 5 meter, big size 5,5 meter keatas (bebas). Yang lebih unik, untuk jenis Janggan ekor pitanya ada yang mencapai hingga 150 meter,” tuturnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi gelaran lomba Layang-Layang ke-39 pada tahun 2017 ini. Menurutnya moment ini bertepatan dengan peak season di Bulan Juli, alias saat Bali sedang ramai-ramainya diserbu wisatawan.

“Momen ini sangat pas untuk digelarnya lomba layang-layang. Karena pasti akan sangat ramai didatangi turis, yang akan memberikan dampak yang sangat positif untuk dunia luar, setelah acara ini, pasti mereka akan mengenang Bali dengan Layang-layangnya, dan kembali ke Bali,” ujarnya.(*)

TdF 2017 Bakal Melirik Keindahan Pulau Pasir Putih Rii Taa

0
foto: indahnyaflores.blogspot.co.id

Tour de Flores 2017 (TdF) 2017 yang akan dilaksanakan pada tanggal 14 hingga 19 Juli 2017, mendatang bakal membuat mata dunia melirik ke Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

”Kami sudah mendapatkan kondirmasi bahwa TdF mengalami penambahan dari sebelumnya 661,5 kilometer menjadi 808 kilometer. Penambahan jarak tempuh itu karena ada rute baru dari Aegela menuju Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo,” kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy reko Astuti didampingi Kepala Bidang Wisata Buatan Ni Putu Gayatri.

Wanita berhijab itu menjelaskan, penambahan jarak itu ditentukan setelah survey yang dilakukan selama seminggu dengan pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pihak Kementerian PU-PR, imbuh Esthy, telah melakukan persiapan untuk perbaikan dan peningkatan kualitas jalan dari Larantuka-Labuan Bajo.

Menurut dia, penambahan jarak tempuh tersebut akan menjadi tantangan tersendiri bagi pembalab sepeda internasional yang saat ini sudah terdaftar sebanyak 13 tim atau lebih dari 100 orang tersebar dari Eropa, Amerika, Asia, dan Australia.

”Terutama para peserta dan pendukung dari luar negri bisa lebih banyak menikmati indahnya alam Flores NTT,” kata Esthy.  Lebih lanjut Esthy mengatakan, telah terjadi perubahan jadwal TdF 2017 yang sebelumnya dijadwalkan 9-14 Mei diundur 14-19 Juli 2017. Pengunduran jadwal itu dikarenakan adanya persiapan perbaikan lintasan dan juga disesuaikan dengan jadwal event internasional di negara lain yang diikuti pula para pebalap sepeda internasional. Menurutnya, TdF tidak semata meraup manfaat ekonomi dari kedatangan wisatawan mancanegara ke provinsi kepulauan itu, namun juga ada nilai-nilai lain yang dibangun terkait diplomasi internasional melalui event balap sepeda itu.

TdF, lanjut dia, akan menjadi perhatian dunia internasional karena akan berkumpul ratusan pebalap dari berbagai belahan dunia sehingga memancing minat para pebalap lain untuk ikut serta dan berwisata.

Salah satunya perhatian tersebut akan tertuju ke destinasi di daerah Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, Pulau Rii Taa. Belum begitu banyak wisatawan yang mengetahui keindahan Pulau Rii Taa, pulau berpantai pasir putih bercampur pink di Kabupaten Nagekeo. Di sembilan kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur memiliki pantai berpasir putih.

Ini merupakan keunikan dan kekayaan pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau Rii Taa berada di Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT.

Wilayah Kabupaten Nagekeo memiliki banyak destinasi wisata yang menarik. Salah satu tempat yang cukup menarik saat ini adalah obyek wisata Pantai Pulau Pasir Putih Rii Taa. Pulau Rii Taa unik karena menawarkan panorama pulau yang hanya dipenuhi hamparan pasir putih.

Bahkan Pulau Pasir Putih Rii Taa berada di tengah laut. Ukuran pulau itu ketika air pasang, hanya sekitar 30 meter persegi. Tetapi kalau surut, pulau ini luasnya menjadi 20 hektar lebih. Lokasi pulau ini terpisah jauh dari daratan Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo.

Dengan  perahu milik para nelayan ke pulau ini bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih 1 jam dari Pelabuhan Maropokot. Tahun-tahun terakhir, masyarakat setempat sangat meminati mengunjungi lokasi ini sekadar untuk bersantai.

Bahkan pada waktu liburan panjang serta liburan-liburan keagamaan, warga lokal dan domestik selalu mengunjungi pulau ini untuk mandi, berjemur. Bahkan turis asing mulai mengunjungi pulau yang sangat indah dengan hamparan pasir putih. Sangat cocok untuk berjemur di pagi hari maupun pada sore hari.

Dahulu kala, tempat ini ditumbuhi ilalang karena itu dinamai masyarakat Tonggurambang Rii Taa atau ilalang segar/mentah.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengucapkan selamat menikmati keindahan alam Flores. Pelaksanaan TdF, imbuh Arief Yahya, selain untuk menunjukkan bahwa kita sebagai bagian dari warga dunia ikut serta menjaga perdamaian dunia melalui balap sepeda internasional dan juga memperlihatkan alam negara Indonesia yang tiada duanya.

“Kita juga mau menunjukkan dunia luar bahwa Indonesia sangat aman untuk melaksanakan event-event internasional dan itu sudah dibuktikan lewat event-event besar seperti di Tour de Ijen Banyuwangi, Tour de Singkarak Sumatera Barat, dan sebagainya,” kata Menpar Arief Yahya.(*)

Menjaring Wisman Malaysia melalui MATTA Fair Johor Bahru 2017

0

“Malaysia adalah pasar potensial bagi pariwisata Indonesia. Selain dekat secara geografis, Malaysia juga dekat secara budaya. Sama-sama rumpun Melayu,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya di Jakarta

Olehkarena itu adalah penting bagi Wonderful Indonesia untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan MATTA Fair Johor Bahru 2017 yang akan dilaksanakan 4-6 Agustus 2017 di Danga Expo City Mall, Johor Bahru, Malaysia.

Kali ini Indonesia akan menawarkan banyak destinasi dan jenis wisata seperti Bahari, Budaya, Belanja, Golf dan lainnya.

Apa saja yang akan dipamerkan di ajang tersebut ? Deputi Pemasaran Mancanegara Kemenpar I Gde Pitana didampingi Asisten Deputi Pasar Asia Tenggara Rizki Handayani mengatakan, wisatawan yang hadir di acara tersebut akan diiming-iming berjemur di pantai yang unik di Lombok, menikmati warisan budaya yang termasuk dalam Situs Warisan budaya UNESCO Candi Borobudur dan Candi Prambanan di Jawa Tengah.

Juga belanja dengan harga yang istimewa di Jakarta dan Bandung, bermain golf yang menantang dengan harga yang terjangkau namun berkelas internasional di Kepri Riau, spa yang mengagumkan dengan perawatan kesehatan dan kecantikan secara tradisional di Bali, dan secara keseluruhan, negara dengan 13.000 pulau ini menawarkan lingkungan yang ramah dan welcome.

“Itu lah wonderful Indonesia. Semuanya ada. Indonesia memiliki begitu banyak hal untuk ditawarkan oleh karena itu akan memaksimalkan partisipasinya kembali pada MATTA Fair Johor Bahru, Agustus 2017. Seiring dengan semakin meningkatnya permintaan atas keragaman aktivitas yang ingin dinikmati oleh Wisman selama berada di Indonesia,” ujar Pitana yang juga diamini Rizki.

Rizki menambahkan, pada partisipasi tahun ini, Booth Indonesia yang terletak di Ground Floor #015-13 & 044-046, akan menampilkan keragaman destinasi wisata Indonesia. Kementerian di bawah komando Arief Yahya itu membawa delegasi yang akan aktif berpartisipasi terdiri dari 12 industri yang berasal dari destinasi pariwisata utama di Indonesia diantaranya DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, Bali, Sumatera Utara, Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Sulawsi Utara, dan Kepri.

“Selain itu ada 12 agen lokal Malaysia yang menjadi partner untuk melakukan penjualan langsung dan bersama-sama mempromosikan pariwisata Indonesia. Seluruh industri tersebut akan memenuhi keperluan konsumen dari Malaysia terkait paket pariwisata ke Indonesia. Apabila Wisman Malaysia melakukan pembelian paket wisata dari agen perjalanan lokal, kami telah menyiapkan hadiah spesial pada counter penukaran hadiah,” ungkap wanita yang biasa disebut Kiki itu.

Untuk acara yang berlangsung selama tiga hari ini, telah disiapkan pula berbagai aktivitas menarik yang dapat anda nikmati apabila mengunjungi booth Indonesia antara lain Peta Digital Interaktif, Coffee dan Refreshment Corner, Games, Gift Redemption, serta penampilan tari tradisional Indonesia dari Tim Wonderful Indonesia.

“Terdapat juga counter pelayanan informasi yang dapat membantu anda memperoleh berbagai informasi Pariwisata Indonesia yang dilengkapi dengan brosur tentang destinasi-destinasi wisata Indonesia,” ujar Rizki menambahkan.

Untuk melihat cuplikan dari seluruh keindahan Indonesia tersebut, datang dan kunjungi booth Indonesia di Ground Floor #015-13 & 044-046, Danga Expo City Mall, Johor Bahru – Malaysia.

Seperti diketahui, untuk tahun 2017, pemerintah sudah mematok target kontribusi Pariwisata terhadap perekonomian (PDB) nasional sebesar 13 persen, devisa yang dihasilkan sebesar Rp 200 triliun, penyerapan tenaga kerja sebanyak 12 juta, jumlah kunjungan wisman 15 juta dan pergerakan wisnus 265 juta, serta indeks daya saing (WEF) berada di ranking 40 meningkat dari posisi saat ini di ranking 50 dunia.

MATTA Fair 2017, merupakan momentum yang paling potensial untuk menjaring lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia terutama dari Malaysia. Pada tahun 2017, Kemenpar menargetkan mampu menjaring wisman Malaysia sebesar 1.772.000 juta orang, dimana sebelumnya tahun 2016 sebanyak 1.225.458.

Menteri Pariwisata Arief Yahya selalu mengatakan bahwa Malaysia itu ibarat tokoh antagonis dalam sinetron. Jauh dicari, dekat dibenci. Peran itu akan selalu dibutuhkan sebagai lawan untuk bersaing, juga diperlukan sebagai kawan untuk mengembangkan pasar bersama.

“Kami bersaing dalam achievement, mengejar capaian turism. Tapi kami juga bekerjasama dalam berbagai travel mart, termasuk di Matta,” ujar Menpar Arief Yahya di Jakarta. Contohnya saja di ITB Berlin, pemasaran bersama kawasan ASEAN dilangsungkan di booth nya Malaysia, atau Di MATTA Fair 2017.

Dimana disana akan menjadi tempat berkumpulnya pasar pariwisata Malaysia di Kuala Lumpur, Wonderful Indonesia juga akan selalu tampil. “Bukan hanya di MATTA 2017, di beberapa kota di Malaysia, kami juga hadir, karena Malaysia adalah pasar utama kami,” ungkap Arief Yahya.

Indonesia akan memaksimalkan keikutsertaan dalam Matta Fair 2016 di Kuala Lumpur dengan menawarkan obyek wisata di sejumlah daerah sebagai destinasi liburan yang menarik untuk dikunjungi. (*)

Konjen RI di Penang dan Chairman MCTA Kompak Promosikan Wonderful Indonesia

0

Para Konjen RI di mancanegara makin lincah mengawal promosi pariwisata. Di sela even Malaysia International Travel Mart (MITM) Penang, Malaysia, Minggu (9/7), Tengok saja Konjen RI di Penang, Malaysia.

Iwanshah Wibisono ikutan turun gunung mempromosikan destinasi-destinasi keren Wonderful Indonesia. Chairman Malaysian Chinese Tourism Association (MCTA) Andy Chuah juga ikutan kompak mempromosikan Indonesia dengan sebutan Prefered Destination.

“Silakan berwisata ke Indonesia. Anda bisa melihat kapal Phinisi asli yang sudah menjelajahi lima benua. Bisa mendapatkan experience baru, culture, kuliner dan destinasi kelas dunia,” ajak Konjen Iwanshah kepada pengunjung yang datang ke booth Wonderful Indonesia.

Kepungan Jepang, Malaysia, Thailand, Australia, Hongkong, Taiwan dan Korea, tak membuat Iwanshah gentar. Dia justru makin bersemangat lantaran Wonderful Indonesia membawa pelaku industri papan atas ke Penang, Malaysia.

Mau cari Bali? Lombok? Batam? Jogja-Solo-Semarang yang akrab disebut Joglosemar? Danau Toba? Bandung? Semua ada.

Mau cari wisata tak biasa? Yang unik-unik? Story telling? Experience baru? Paket menikmati suasana Mangkunegaran di pagi hari? Diiringi suara gamelan? Menjelajah destinasi sambil menikmati kuliner lokal yang benar-benar alami? Menikmati riuhnya Pasar Gede dengan aneka jajanan pasar? Ada triponyu.com (baca: trip on you) yang siap menyapa.

Belum lagi potensi wisata bahari. Ada Raja Ampat Papua yang terpilih menjadi best snorklling site terbaik dunia 2015 versi CNN. Runner up best snorklling site terbaik dunia 2015 versi CNN di Labuan Bajo. Ada juga Bunaken-Lembeh Sulut, Derawan Kaltim-Kaltara, Anambas, Natuna, Banda-Ambon, dan lainnya.

“Surganya dunia itu ada di Indonesia. Naturenya selalu ada di top 20 dunia, culturenya oke, kulinernya lezat-lezat, masyarakatnya ramah, harganya pun sangat murah. Dimana lagi bisa berwisata dengan mendapatkan itu semua?” ucap pria berkacamata itu.

Kebetulan, pasar Penang lumayan seksi. Sangat pas dengan bidikan Chinese market yang dimaui Wonderful Indonesia. Data Penang Institute menyebutkan 2015, jumlah penduduk Pulau Pinang mencapai 1,69 juta jiwa dengan komposisi Melayu (41,6%), China (40,5%), India (9,6%), warga non-Malaysia (8%). Daerahnya merupakan the third most urbanized state di Malaysia setelah Kuala Lumpur dan Selangor dengan dominasi etnis Melayu dan China.

Ekonominya? Sangat bagus. Dari data Penang Institute 2014-2-15, sumbangsih Penang terhadap pertumbuhan ekonomi Malaysia menembus 6,4%. Yang terbesar, datang dari Medical tourism dan properti.

“Khusus Penang, potensinya masih terbuka luas. Kita masih bisa menjual perjalanan wisata ke Bali dan Jogjakarta karena di sini mayoritas penduduknya sangat suka berwisata bahari dan heritage. Kalau semua bergerak cepat dari semua lini, semua pasti akan memperlihatkan progress yang bagus,” tegasnya.

Chairman Malaysian Chinese Tourism Association (MCTA) Andy Chuah juga seirama dengan Konjen Iwanshah. Menurutnya, Indonesia itu adalah sangat indah. Sangat pas untuk dikunjungi warga Penang.

“Wonderful Indonesia adalah preferred destination. Destinasinya banyak yang indah. Terimakasih sudah ikut berpartisipasi di MITM,” terang Andy Chuah.

Menteri Pariwisata Arief Yahya ikut sumringah melihat semangat yang diperlihatkan Konjen RI di Penang dan Chairman MCTA.

“Rupanya tak hanya orang Indonesia saja yang mengibarkan spirit Indonesia Incorporated. Tokoh penting di Penang, Malaysia, juga ikutan kompak mempromosikan Wonderful Indonesia.,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Saat Wonderful Indonesia di endorse orang-orang penting yang punya nama, mantan Dirut Telokm itu yakin pariwisata akan berjalan lebih kencang. Target 20 juta di tahun 2019 itu bukan lagi angan dan mimpi.

“Terima kasih Pak Konjen. Terimakasih juga Chairman MCTA, Salam Wonderful Indonesia,” ucapnya. (*)

Pembaca, Sambutlah……. Samosir International Music 2017

0

Kemenpar mendukung perhelatan musik dengan tajuk “Samosir International Music” pada 12 Agustus 2017, mendatang.

Panggung megah bertaraf internasional dan tatanan lampu yang menawan, akan disiapkan di Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuty mengatakan, upaya ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam pengembangan destinasi prioritas, salah satunya kawasan Danau Toba.

“Event ini merupakan rangkaian dari Horas Samosir Fiesta 2017. Samosir International Music menjadi salah satu event unggulan. Acara ini sekaligus upaya meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara (Wisnus) dan wisatawan mancanegara (Wisman) ke Kabupaten Samosir yang tahun ini ditargetkan lebih dari 200 ribu wisatawan,” jelas Esthy.

Esthy mengungkapkan, kegiatan ini juga bagian mendukung program Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia yang mentargetkan 15 juta kunjungan Wisman dan 265 juta pergerakan Wisnus. Bupati Samosir Rapidin Simbolon mengatakan, Samosir Music International merupakan konsep lanjutan kegiatan pada tahun 2014 yang lalu, yaitu Hermann Delago–Samosir Orchestra yang berhasil menarik minat 15 ribu pengunjung termasuk wisatawan mancanegara.

Rapidin juga menyebut, perhelatan kali ini digelar dengan menonjolkan keagungan musik dan lagu tradisional Batak yang dikemas dengan unsur asing. Event ini akan mengambil tema Wonderful Land Piece of Paradise, dengan menghadirkan Musisi Indonesia dan International.

“Samosir Music International sebagai cara untuk memperkenalkan kekayaan musik dan lagu Batak kepada dunia Internasional. Diharapkan acara ini mampu mempromosikan Kabupaten Samosir sebagai sasaran utama kunjungan wisatawan mancanegara khususnya Eropa,” ucapnya.

Pengunjung pasti akan dibuat happy di acara tersebut. Pasalnya, artis selevel Herman Delago, Nadien Beiler, Tongam Sirait, Alsant Nababan, Bernadeta Astari, Yosephine Madju, Jay Bano Band, Lisa Supadi serta Viki Sianipar.

“Para artis seperti Herman Delago akan menyanyikan beberapa lagu Batak di samping lagu ciptaan mereka sendiri. Performance mereka pasti akan menjadi daya tarik tersendiri untuk menghibur wisatawan yang datang ke Samosir,” tegasnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya berpendapat dengan banyaknya musisi internasional yang manggung di Danau Toba maka semakin berpeluang juga dunia mengenal Danau Toba. “Sambil secara paralel dikebut 3A-nya, Atraksi, Akses, Amenitas-nya di Danau Toba,” ungkap Arief Yahya.

Mantan Dirut Telekom itu mengatakan, event ini merupakan bagian dari cara memperkuat branding, agar orang mengenal Danau Toba dan Samosir. Juga untuk meningkatkan awareness branding Wonderful Indonesia, sekaligus bisa menarik wisman ke destinasi prioritas.

“Musik itu bahasa universal, hal itu juga yang menjadi cara untuk meningkatkan kunjungan wisman asal Malaysia. Selamat menikmati musiknya, nikmati alamnya, Salam Wonderful Indonesia,” kata Menpar Arief Yahya.(*)

Ahai,… Ada Sekolah Negeri Kekurangan Siswa

0
ilustrasi

batampos.co.id – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Batam Muslim Bidin mengatakan kekurangan daya tampung tak sepenuhnya terjadi di sekolah negeri di Batam. Bahkan ada sekolah negeri yang kesulitan mendapat siswa baru.

“(Sekolah) negeri yang peminatnya ada, contoh yang SMA seperti 18 dan 19 di Batuaji itu, kan kurang juga,” sebut Muslim, Minggu (9/7) pagi.

Tak hanya SMA yang notabenenya kini dalam kendali Pemerintah Provinsi, tingakatan SD dan SMP yang merupakan tanggungjawab Disdik Batam juga banyak yang kekurangan murid. Ia mencontohkan di daerah piayu jika ada sekolah yang kekurangan daya tampung malah ada sekolah negeri yang kekurangan siswa. “Selain itu, sekolah-sekolah baru rata-rata begini juga,” katanya.

Ia menilai keadaan ini terjadi lantaran pihak sekolah kurang melakukan sosialisasi terkait program yang ditawarkan sekolah, di samping itu ada kecenderungan wali murid memaksakan kehendak masuk ke sekolah yang diinginkan.

“Sekolahnya kurang greget, ini yang saya lihat. Masyarakat paksa ke negeri unggulan, ini juga salah satunya,” ungkapnya.

Melihat kondisi ini, sejatinya kontras dengan kebijakan Disdik yang akan menambah rasio kelas di sekolah negeri. Di tanya apakah sekolah negeri yang kosng dapat menampung siswa yang disebut-sebut tak tertampung, Muslim akan terlebih dahulu membicarakan hal ini dengan Wali Kota Batam Muhammad Rudi.

“Untuk ini kami perlu petunjuk Pak Wali, hari Senin (hari ini) kami ingin bertemu beliau,” katanya.

Tak hanya kontras dengan keadaan yang ada, kebijakan menambah rasio kelas baru menuai protes dari Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Batam. Sekretaris BMPS Heri Supriyadi bahakn tegas menilai kebijakan ini akan membuat sekolah swasta dinilai akan semakin terpuruk karena kekurangan siswa.

“Ini kebijakan yang sifatnya sporadis,” kata  Jumat (7/7) siang.

Ia menilai, pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan membuat kebijakan yang dapat mengkolaborasikan kepentingan sekolah negeri dan swasta.

“Swasta ini tak cari untung, kami sifatnya bantu pemerintah bantu penyelenggaraan pendidikan. Murid tak tertampung disekolah mana, tinggal lapor mana sekolah swasta yang dekat,” katanya. (cr13)

Ruli Baru Kian Bertambah

0
Rumah liar (ruli). Foto: alfian/batampos.co.id

batampos.co.id – Rumah Liar (Ruli) baru terus bermunculan di samping Dam Mukakuning, Seibeduk. Di lokasi, tampak beberapa ruli baru yang terbangun, bahkan ada titik yang dibuat rata dan rencananya akan dibangun unit baru.

“Yang ku dengar ada yang mau bangun lagi,” kata warga setempat, Abdi, Minggu (9/7).

Walau sudah hampir setahun di lokasi tersebut, pria ini mengaku tak tahu siapa yang akan mendirikan ruli baru, termasuk bagaimana warga baru mendapatkan lahan tempat tinggal di ruli yang berdiri di daerah tangkapan air yang notabenenya adalah hutan lindung.

“Entah dari mana yang datang, tak tahu aku, aku kan numpang di sini,” ucapnya sembari pergi.

Pertumbuhan ruli tersebut cukup disayangkan, apalagi ada oknum warga yang mendirikan ruli untuk disewakan untuk orang lain, ini terlihat dari plang penerimaan penghuni kos yang terpampang diruas jalan R Soeprato yang melintas melewati ruli tersebut.

Dalam hal ini, Badan Pengusahaan (BP) Batam sebagai penanggungjawab lahan di Batam seolah tak berdaya. Bahkan instasi pemerintah yang sebelumnya bernama Otorita Batam (OB) ini melalui Direktur Humas dan Promosi BP Batam, Purnomo Andiantono mengaku sulit menekan pertumbuhan ruli di Batam. Ia berpendapat perlu ada upaya, tak hanya dari BP Batam.

“Ke depan perlu duduk bersama, terus samakan persepesi. Kalau tidak ya sulit atasi ruli ini,” ucapnya.

Ia menilai unsur lain yakni Pemerintah Kota (Pemko) Batam, DPRD Batam, TNI/Polri juga harus terlibat dalam upaya menekan pertumbuhan ruli. “Kalau tidak kompherensif, salah satu tak mendukung atau tak satu suara, ada saja kendala di lapangan,” paparnya.

Ia mengklaim, selain melakukan pendataan,pnedekatan persuasif dan patroli, kini pihaknya punya program unggulan yang disebut one day one target untuk menekan pertumbuhan bangunan liar di Batam. “Setiap hari minimal ada peertiban bangunan liar, entah itu ruli, kandang ternak, keramba atau tambang liar,” imbuhnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemko) Batam melalui Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pertamanan (Disperkintam) Kota Batam kini tengah mendata ruli yang ada di Batam. Kepala Disperkintam Batam, Herman Rozie mengatakan pendataan ini perlu dilakukan agar dapat diketahui warga yang benar-benar penghuni ruli, yang punya ruli lebih dari satu hingga warga yang mendirikan ruli untuk disewakan padahal punya rumah yang layak di luar ruli.

“Data yang ada kita masukkan ke sistem, setelah itukan terpilah. Nah kita lanjut ke verifikasi faktual di lapangan, nanti akan ketahuan cukong-cukong itu,” paparnya

Ia mengatakan, sejauh ini data ruli yang berhasil dikumpulkan oleh pihak RT/RW sebanyak 32 ribu unit dari sembilan kecamatan yang ada di pulau Batam atau sembilan kecamatan yang ada di mainland. Menurutnya, angka ini belum sepenuhnya final karena ada beberapa lokasi yang belum terdata.

“Perkiraan kami ada 40 ribuan ruli,” ucapnya.

Ia menyakini, usaha mendata ruli kelak akan mempengaruhi penurunan jumlah ruli yang ada, karena indikasinya ada warga yang memiliki lebih dari satu ata membangun ruli sebagai lahan pendapatan. Ia berpendapat, jika warga tak mampu yang terjadi hanya memiliki satu ruli.

“Datanya (angka ruli) pasti ramping. Perintah pak wali (Wali Kota Batam Muhammad Rudi), ruli walau tak bisa sekaligus selesai tapi harus ditata secara perlahan,” pungkasnya. (cr13)

Menunggu Langkah Konkret Hatanto – Rudi

0

Pertemuan tertutup Kepala Badan Pengusahaan Batam Hatanto Reksodiputro dan Walikota Batam M. Rudi bisa dimaknai sebagai langkah awal perbaikan hubungan kedua institusi tersebut.

Tidak jelas apa yang dibahas dalam pertemuan itu, namun penulis berkeyakinan kedua tokoh mulai sadar untuk memulai langkah besar dalam mencari solusi terhadap kemerosotan ekonomi yang terjadi sejak setahun terakhir.

Sangat wajar jika publik berharap banyak akan adanya perubahan mengingat perseteruan kedua instansi yang memanas dalam beberapa bulan ini semakin bergeser dari substansi utama yaitu bagaimana mencari solusi atas masalah ekonomi yang melanda Batam. Bahkan kondisi kemerosotan ini dimanfaatkan oleh pihak tertentu dan mengaitkannya dengan kinerja pimpinan BP Batam yang baru.

Baik Pemko dan BP Batam adalah dua lembaga yang harusnya berperan penuh dalam membawa perubahan dan menjawab tantangan pembangunan kawasan pada masa kini dan akan datang. Tanpa ada gebrakan dan langkah strategis yang berarti rasanya pesimis bisa melihat perubahan pada masa depan.

Masyarakat Batam sepatutnya bersyukur Pemko dan BP Batam ibarat dua mesin dalam satu kapal yang bisa membawa laju pertumbuhan kawasan perdagangan bebas Batam. Bukannya dua nakhoda yang justru membuat haluan kapal tidak jelas tujuan.

Opsi mana yang dipilih, dua nakhoda atau dua mesin? Penulis tentu berharap opsi pertama. Dengan dua mesin, mestinya kapal Batam bisa melaju kencang. Krisis global harusnya tidak terlalu berdampak buruk bagi ekonomi Batam jika kedua mesin ini mampu mengantisipasi potensi masalah sejak dini.

Tapi perang wacana di media massa akhir-akhir ini justru menggambarkan kedua institusi itu seperti dua nahkoda yang bertahan dengan ego sektoral masing-masing. Jelas ini sangat tidak strategis dalam konteks kerjasama pengembangan dan pembangunan kawasan.

Melalui tulisan ini, penulis berharap konflik dan perseteruan segera diakhiri, berhenti mencari kambing hitam dan menggugat keberadaan salah satu pihak. Silaturahmi pimpinan BP Batam ke Walikota beberapa hari lalu harus dijadikan momentum untuk menatap masa depan pembangunan Batam yang lebih terencana dan terstruktur.

Lantas, langkah apa yang harus dilakukan kedua pihak untuk menghadapi kondisi kemerosotan ekonomi yang semakin parah ini? Ada dua solusi yang bisa dijadikan pedoman bagi kedua pihak.

Pertama, BP-Pemko membentuk komite bersama (joint committee) yang menyusun rencana strategis pembangunan kawasan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Tim ini yang akan menyusun strategi dan kebijakan sesuai dengan level kewenangan masing-masing institusi.

Dimulai dengan melakukan pemetaan masalah saat ini dan masa datang di semua sektor industri dan perdagangan, sosial dan kemasyarakatan. Membuat prediksi perubahan lingkungan bisnis eksternal dan internal kawasan, pertumbuhan penduduk, arus migrasi, ketersediaan infrastruktur, lahan, dan sarana prasarana pendukung lainnya.

Untuk komite bersama, Pemko bisa mengutus tim Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan BP menugaskan tim Deputi Perencanaan untuk mulai membahas arah pembangunan Batam dalam 5-10-20 tahun mendatang.

Sudah saatnya Batam memiliki milestone dengan visi misi yang jelas dan target yang terukur. Mau dikemanakan arah pembangunan pulau ini pada masa datang, semua tergantung pada BP-Pemko yang menyusun rumusan strategis dengan mempertimbangkan sumberdaya dan kemampuan yang dimiliki saat ini.

BP-Pemko bisa sharing budget and resources allocation khususnya dalam pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana pendukung lain. Semua bisa dikompromikan dalam perumusan perencanaan pembangunan tahunan sehingga setiap rupiah uang rakyat yang digelontorkan bisa bermanfaat dan tepat sasaran.

Kedua, BP – Pemko membentuk gugus tugas (joint task force) untuk memetakan masalah saat ini dan mencarikan solusi jangka pendek dan menengah terhadap kemerosotan ekonomi Batam di semua sektor.

Bahwa masalah Batam saat ini adalah pertumbuhan ekonomi yang berada di bawah 2%, dari sisi penawaran, jelas perlambatan ini disebabkan penurunan kinerja industri dan pertambangan, dan dari sisi permintaan dipicu investasi yang anjlok, belanja pemerintah yang tidak mencapai target dan penurunan net ekspor.

Untuk sektor industri pengolahan khususnya galangan kapal dan industri penunjang migas merupakan sektor yang paling parah terkena dampak krisis global. Melemahnya harga minyak mentah dari US$100 per barel pada 2014 menjadi di bawah US$30 per barel sejak kuartal pertama 2016 memaksa perusahaan migas untuk memangkas biaya eksplorasi dan produksi hingga 25% sejak 2015 lalu.

Pengurangan biaya eksplorasi dan produksi ini terus terjadi dalam tiga tahun terakhir dan terbesar sepanjang sejarah industri migas. Perusahaan jasa pengeboran dan industri penunjang terpaksa menghadapi masa-masa kelam dalam beberapa tahun ke depan.

Akibatnya puluhan perusahaan galangan kapal dan industri penunjang migas di Batam berhenti beroperasi dan merumahkan ribuan karyawan. Efek lanjutan dari kondisi ini adalah daya beli masyarakat turut melemah dan permintaan terhadap barang konsumsi juga menurun.

Prediksi harga minyak saat ini dikisaran US$50 per barel memaksa perusahaan migas untuk mengkalkulasi biaya eksplorasi lebih efisien dengan perkiraan biaya U$35 – US$40 per barel, dengan demikian perusahaan bisa mendapatkan harga yang lebih ekonomis. Namun demikian, beberapa studi belum berani memberi gambaran optimis terhadap masa depan industri ini.

Berbeda dengan galangan kapal, data Lloyd’s List Intelligence Outlook 2016 untuk order kapal baru diperkirakan tumbuh secara global pada angka 3,5% per tahun dalam lima tahun ke depan. Bahkan di beberapa pasar terjadi kelebihan suplai.

Saat ini, total orderbook berlebih hingga 267 juta DWT,  di China mendapat 43% atau 115 juta DWT, Korea Selatan 63 juta DWT, Jepang 50 juta DWT, dan Eropa 7 juta DWT. Sementara itu jumlah kapal yang dipesan dalam kurun waktu 2017-2020 diperkirakan meningkat mulai dari 2.000 unit kapal hingga 3.000 unit per tahun.

Mengacu pada data tersebut, masih ada peluang bagi industri galangan kapal lokal untuk bersaing merebut pasar global yang selama ini masih dikuasai tiga negara kuat Asia yaitu China, Korsel, dan Jepang.

Peran tim gugus tugas ini nantinya bersama dengan Batam Shipyard and Offshore Organization (BSOA) untuk mencari insentif atau stimulus yang bisa membuat industri galangan Batam lebih kompetitif dibandingkan pesaing global lain.

Untuk industri elektronik, juga menghadapi masalah yang kurang lebih sama yaitu kemerosotan utilitas dan tidak adanya investasi baru. Tim gugus tugas perlu memetakan kebutuhan insentif sektor elektronik agar lebih berdaya saing dengan menggesa pembahasan konsep inland-FTA bagi produk elektronik tertentu yang bisa masuk ke pasar domestik.

Pembahasan konsep ini juga harus hati-hati agar tidak resisten dengan produk sejenis yang sudah berkembang di pasar lokal. Namun, ini bisa menjadi solusi bagi penguatan dan peningkatan utilitas industri manufaktur elektronik di tengah minimnya investasi baru.

Untuk sektor properti, tim juga bisa memetakan perkembangan bisnis properti saat ini di tengah isu kenaikan tarif UWT. BP-Pemko perlu membuat sinkronisasi perencanaan pengembangan wilayah pemukiman baru dengan strategi perusahaan pengembang yang tergabung dalam REI.

BP perlu mempertegas mana wilayah yang wajib dibangun bangun tinggi seperti apartemen atau condotel, office building, pertokoan, mall/pusat perbelanjaan, dan sarana pendukung lain seperti sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah.

Kita bisa belajar dari Singapura yang sejak dini sudah mempersiapkan kawasan baru yang akan dikembangkan pada 2030 mendatang ketika satu kawasan sudah jenuh dan penuh sehingga perlu disebar ke kawasan pengembangan baru.

Dengan demikian tidak ada lagi saling tuding ketiadaan lahan untuk bangun sekolah, tempat pembuangan sampah, dan pembangunan sarana infrastruktur dasar lain karena BP-Pemko sudah merencanakan kebutuhannya sejak awal.

Termasuk juga bagaimana kedua instansi berpikir agar ke depan geliat pembangunan properti bisa sejalan dengan sistem drainase yang terintegrasi sehingga banjir di beberapa titik bisa direduksi secara bertahap, serta masalah-masalah sosial kemasyarakatan lain yang berpotensi mengganggu upaya pencapaian target pembangunan kawasan.

BP-Pemko juga harus mengalihkan fokus pada investasi sektor pariwisata yang cukup potensial dan belum optimal dikembangkan. Kota ini masih kekurangan objek wisata karena investor belum tertarik untuk masuk ke sektor ini, sehingga perlu ada stimulan atau insentif yang menarik.

Beberapa insentif jangka pendek yang bisa diformulasikan bagi peningkatan daya saing industri adalah

1) memberikan pembebasan tarif UWT bagi galangan kapal, fabrikasi, industri pendukung migas, elektronik dan pariwisata dengan nilai investasi tertentu selama beberapa tahun,

2) membebaskan segala jenis biaya pengurusan perizinan di BP dan Pemko,

3) memastikan tidak ada biaya siluman di pelabuhan dan jasa logistik,

4) tidak menerapkan aturan pengupahan yang memberatkan (dikecualikan bagi sektor industri yang terkena dampak krisis global),

5) memberikan kepastian hukum dan aturan, dan insentif lain yang bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.

Dalam jangka menengah dan panjang, BP-Pemko bisa mempersiapkan sarana infrastruktur seperti jalan-jalan koridor yang menghubungkan kawasan industri dengan pelabuhan, peningkatan kapasitas pelabuhan utama Batu Ampar, dan menyusun/mengusulkan formulasi insentif fiskal yang menjadi ranah pemerintah pusat agar berdampak bagi penguatan iklim investasi di daerah.

Terakhir, tanpa melupakan peran Pemerintah Provinsi Kepri dan Kementerian Koordinator Perekonomian dalam skema quadro helix (Ampuan Situmeang, Batam Pos 07/2017), bahwa kedua institusi tersebut juga harus ikut berperan serta dengan BP-Pemko dalam akselerasi pembangunan kawasan.

Semua pihak harus bergandengan tangan dalam setiap lini pembangunan pulau ini. Semua kebijakan harus dirumuskan dan dibahas bersama-sama, tidak ada lagi dikotomi, BP hanya mengerjakan ini, Pemko hanya mengerjakan itu. Tidak ada lagi pernyataan BP adalah perpanjangan tangan pusat, Pemko representasi daerah, sehingga keduanya tidak bisa berbaur dan bersinergi.

Ingat, BP dan Pemko adalah agent of development, keberadaan dua institusi itu harus bermanfaat bagi akselerasi pembangunan, tidak hanya fokus pada peningkatan revenue melalui penaikan tarif lahan, bandara, pelabuhan, retribusi dan pajak daerah lain.
Sekarang saatnya untuk membuang pemikiran sempit itu demi Batam masa depan. Kecuali jika BP-Pemko selamanya berpikiran sempit, penulis tak tau lagi nak cakap apa!

 


Oleh Suyono Saputro
Dosen Fak. Ekonomi – Universitas Internasional Batam/Kandidat Doktor Strategic Management Universitas Trisakti

Mengintip Wisata Akhir Pekan di Batam

0
Sejumlah turis memadati pintu kedatangan Pelabuhan Ferry Internasional Sekupang, Sabtu (8/7). Biasanya setiap libur akhir pekan wisman asal Singapura dan Malaysia mengunjungi Kota batam untuk mengisi liburannya. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Ribuan warga negara asing (WNA) kembali balik ke negera asal mereka setelah berlibur di Batam, Minggu (9/7). Rata-rata mereka datang untuk berbelanja sekaligus menikmati massage atau perawatan di Batam.

Seperti Hok Kea, warga asal Singapura ini datang sejak Jumat (7/7) sore ke Batam bersama keluarga. Untuk ke Batam, ia tak menggunakan jasa agen travel karena sudah hafal dengan jalur yang dikunjungi.

“Saya menginap di daerah Nagoya. Tapi balik lewat Pelabuhan Batamcenter,” ujarnya yang saat itu tengah berbelanja di Mega Mall, Batamcenter, Minggu (9/7).

Menurut dia, selama di Batam ia memilih untuk memanjakan diri dengan massage tubuh bersama keluarga. Tak massage, ia juga menikmati kuliner seafood di kawasan Nagoya, serta berbelanja kebutuhan rumah untuk dibawa ke Singapura.

“Saya akui, harga di Batam jauh sangat murah dibanding tempat kita (Singapura). Ke Batam bisa sekali dua bulan atau lebih,” ujarnya.

Sementara, Kasi Operasional Pelabuhan Internasional Batamcenter, Sobri mengatakan arus penumpang hari itu (Minggu, red) tergolong normal. Meski begitu, peningkatan penumpang selalu terjadi pada akhir pekan.

“Kalau Sabtu dan Minggu memang ramai dibanding hari biasa. Naik sekitar 70 sampai 80 persenlah,” kata Sobri.

Dikatakannya, pada hari biasa jumlah penumpang yang keluar Batam paling banyak berkisar 4000 orang. Namun pada akhir pekan, jumlah penumpang meningkat hingga lebih dari 7000 orang.

“Liburan lebaran sudah selesai. Ini merupakan jumlah normal. Kemungkinan penumpang yang keluar dari Batam lebih dari 7000, kalau yang masuk saya tak pegang datanya,” jelas Sobri.

Masih kata Sobri, para penumpang rata-rata warga negara Singapura dan Malaysia. Mereka menikmati akhir pekan di Batam bersama keluarga dikarenakan Sabtu dan Minggu adalah hari libur disana.

“Rata-rata mereka pulang dengan membawa barang belanjaan. Apalagi, disini jauh lebih murah dibandingkan tempat mereka,” ungkap Sobri. (she)