Jumat, 10 April 2026
Beranda blog Halaman 13283

Polisi Belum Temui Petunjuk Siapa Pembuang Bayi

0

batampos.co.id – Jajaran Polsek Tanjungpinang Barat, masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui siapa orang tua yang tega membuang bayi yang baru dilahirkan dan ditemukan tewas, Jumat (2/6) sekitar pukul 10.45 WIB, di bibir pantai Tepi Laut, Jalan Agus Salim, Kecamatan Tanjungpinang Barat.

Kapolsek Tanjungpinang Barat, AKP Yuhendri Yanuar, mengatakan penyelidikan yang dilakukan pihaknya belum membuahkan hasil. Pihaknya, belum mendapatkan petunjuk yang mengarah kepada pelaku.

“Kami belum temukan pelakunya. Penyelidikan juga masih sedang berlangsung,” ujar Kapolsek yang akrab disapa Yuhe itu, Sabtu (3/6).

Dikatakan Yuhe, dari penemuan mayat bayi itu. Pihaknya pun sudah melakukan pemeriksaan terhadap dua orang warga setempat. Kedua warga tersebut merupakan orang yang pertama kali melihat bayi itu di bebatuan dekat bibir pantai depan SMA Negeri 5 itu.

“Untuk mengungkap siapa pelakunya, kami juga dibantu oleh jajaran Satreskrim Polres Tanjungpinang,” kata Yuhe.

Sementara itu, saat ditanya terkait hasil visum terhadap jenazah bayi malang tersebut. Yuhe menjelaskan bahwa bayi itu merupakan korban praktek aborsi. Usianya pun sejatinya lima bulan dalam kandungan.

“Berat badannya satu kilogram dengan panjang 35 sentimeter. Ini aborsi dilakukan karena pelaku tak menginginkan bayi itu dan untuk menutup aibnya,” ucap Yuhe.

Untuk itu, Perwira balok tiga dipundaknya berharap masyarakat untuk menginformasikan kepada pihak Kepolisian jika mingkin mengetahui adanya warga yang sedang hamil, tapi kemudian kandungannya hilang.

“Segera laporkan ke kami jika mengetahui dan melihat wanita yang awalnya hamil, tapi kandungannya hilang,” pungkas Yuhe.

Seperti diketahui sebelumnya, bayi malang tersebut ditemukan dengan kondisi tali pusar yang masih menempel dan ari-ari yang juga masih lengkap di bebatuan di bibir pantai Tepi Laut, depan SMA Negeri 5 Tanjungpinang.

Warga yang melihat bayi tersebut tergeletak dalam posisi telungkup tanpa mengenakan busana pun langsung menutupinya dengan kain.(ias)

Sengkarut Pajak Air Permukaan di Batam

0
Pemandangan dari udara Waduk Duriangkang.
Foto/ATB/Benny Andrianto

batampos.co.id – Kontroversi kenaikan pajak air permukaan (PAP) sebesar 900 persen oleh Pemprov Kepri terus berlanjut. Selain angka kenaikannya yang dianggap fantastis, penggunaan pajak tersebut juga mulai dipertanyakan.

“Apa untuk pengelolaan sumber daya air, pemeliharaan daerah tangkapan air, penanaman pohon, atau untuk pelestarian kapasitas tampung waduk dan lain,” kata Deputi IV Badan Pengusahaan (BP) Batam, Purba Robert Sianipar, Minggu (4/6).

Sebab, menurut Robert, selama ini uang hasil penjualan air baku oleh BP Batam kepada PT Adhya Tirta Batam (ATB) digunakan untuk hal-hal tersebut. Mulai dari pemeliharaan waduk hingga pelestarian kapasitas dan daya tampung waduk.

Dengan menjual air baku seharga Rp 150 per meter kubik ke PT ATB, BP Batam memperoleh pendapatan sebesar Rp 13,5 miliar dalam setahun. Uang tersebut menurut Robert masih belum cukup untuk biaya perawatan dan pemeliharaan waduk dan sumber daya air.

Robert mengakui, jika Pemprov Kepri tetap memaksakan memungut pajak air sebesar Rp 180 atau naik dari Rp 20 per meter kubir air, otomatis tarif air baku BP Batam juga akan ikut terkerek. Namun Robert mengaku belum memiliki perhitungan berapa kenaikan tarif air baku nantinya.

“Kami akan hitung lagi, ada indeksnya kalau soal ini. Kalau ditanya berapa persentasenya dan berapa pengaruhnya, kami belum hitung,” kata dia lagi.

Kenaikan air baku dari BP Batam tentu juga bakal berdampak pada naiknya tarif air bersih dari PT ATB. Namun senada dengan Robert, Manager Corporate Communication ATB, Enriqo Moreno Ginting, juga mengaku belum memiliki prediksi kenaikannya.

“Diusulkan (naik) saja belum, bagaimana naiknya pun kami belum tahu,” kata Enriqo saat dikonfirmasi, kemarin.

Sebelumnya, terkait kenaikan pajak air dan rencana kenaikan tarif air baku ini, ATB menegaskan belum pernah merencanakan untuk mengajukan kenaikan tarif. Meski demikian, Enriqo mengatakan kenaikan tarif air bersih nantinya merupakan konsekuensi logis yang tak bisa dihindari.

Menurut Enriqo, ATB belum pernah menaikkan tarif air bersih sejak 2011 lalu. Padahal, sejak saat ini sejumlah biaya produksi ATB sudah mengalami kenaikan menyusul naiknya harga bahan bakar, tarif listrik, dan komponen lainnya.

“Maka secara keadilan memang ini sudah wajar (jika harus naik),” katanya. (cr13)

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dukung Homestay di Taman Nasional

0
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar., bersama Menteri pariwisata Arief Yahya.

Kabar baik datang dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dipimpin Siti Nurbaya Bakar.

Mereka mempersiapkan homestay di tujuh Taman Nasional itu untuk mengoptimalkan aset dan keindahan bawah laut sebagai atraksi destinasi wisata bahari yang memikat dunia. Niatan itu juga disupport United Nations Development Programme (UNDP).

Langkah KLHK pun semakin meyakinkan. Sebab, ada organisasi multilateral terbesar pemberi bantuan teknis dan pembangunan di dunia yang ikut mem-back up homestay desa wisata itu. Dari paparan Menteri Siti Nurbaya, UNDP siap bekerjasama dan mendukung konservasi laut, salah satunya dengan pembangunan homestay di wilayah Taman Nasional Wakatobi.

“Homestay bisa dilakukan di area Taman Nasional, dan itu sangat mungkinkan. Nantinya homestay dikelola masyarakat setempat, sehingga pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat bisa terbantu. Dan mereka akan menjadi penjaga kelestarian seluruh taman nasional, karena itulah harta yang paling berharga, adalah Taman Nasional itu sendiri, taman yang dilihat wisatawan,” ujar Siti Nurbaya Bakar saat peluncuran buku The Mangnificent Seven: Indonesia Marine National Park di Restoran Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, Jumat (2/6).

Selain bisa menikmati keindahan bawah laut di Taman Nasional, lanjut Siti Nurbaya, Wakatobi sudah mempunyai atraksi kelas dunia. Itu artinya, program homestay yang menjadi program Kemenpar sangat tepat.

Dan itu juga bisa diarahkan untuk mengurangi pencemaran limbah di sana. “Kami dukung pengembangan homestay. Itu sekaligus mendukung konservasi di laut. Tapi jumlahnya tetap harus dibatasi sehingga tidak overload dan menggangu ekosistem dan pencemaran limbah di sana,” ucapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut gembira dukungan KLHK untuk pengembangan homestay di seluruh Taman Nasional di bawah penguasaan KemenLHK. Wakatobi itu contohnya. Untuk menjaring 500 ribu wisatawan mancanegara pada 2019 agar berkunjung ke Kabupaten pemilik taman nasional yang luar biasa itu.

“Jadi kita akan membangun homestay, pemiliknya siapa? Masyarakat setempat jawabannya. kita harapkan taman-taman nasional kita, baik di darat maupun di laut bisa mensejahterakan masyarakat melalui pariwisata, tidak dengan merusak dan merambah hutan,” ucap Menpar Arief Yahya.

Lantas bagaimana strateginya? Menteri asal Banyuwangi itu menjelaskan, ketika akan membangun destinasi, yang dibangun pertama kali yaitu community base tourism dahulu untuk menetapkannya. “Maka di sana bangun homestaynya, kuliner-kuliner masyarakat masuk dulu, sehingga cara yang paling mudah menyakinkan orang dengan membangun community basenya itu. Sebab prinsipnya pariwisata itu mensejahterakan,” ucapnya.

Menpar Arief Yahya mengatakan Wakatobi adalah satu dari 10 destinasi utama pariwisata Indonesia yang menarik perhatian wisatawan mancanegara maupun domestik. Pembangunan homestay di Wakatobi mempunyai nilai strategis. Terutama untuk memperkuat unsur Amenitas dalam teori 3A (atraksi, amenitas, dan aksesibilitas, red).

“Homestay itu dikelola secara korporasi, bukan cara koperasi. ‘Homestay’ ini dijalankan dengan mesin baru, model bisnis baru, berbasis pada digital yanh saya sebut digital sharing economy,” pungkas dia.

Bahkan, lanjut dia, KemenLHK tidak hanya memberikan izin bagi masyarakat yang diatur untuk membangun homestay desa wisata. Tetapi juga menyiapkan skema khusus pinjaman kepada masyarakat yang selama ini juga sudah berjalan. “Ini akan semakin keren!” kata Menpar Arief.

Seperti diketahui, Menteri Pariwisata Arief Yahya sempat dibuat terperangah melihat karya  foto spektakuler yang ditampilkan. Potret 7 Taman Nasional Laut itu antara lain: Kepulauan Seribu – Jakarta, Karimun Jawa – Jawa Tengah, Wakatobi-Sulawesi Tenggara, Takabonerate-Sulawesi Selatan,  Bunaken-Sulawesi Utara, Togian- Sulawesi Tengah dan Teluk Cenderawasih-Papua. “Luar biasa, bagus!” komentar Arief Yahya.

Dan dari rekam jejak yang ada, underwater Indonesia memang langganan juara dunia. Scuba Diving sudah menahbiskan Indonesia di urutan pertama Indo-Pasific kategori Macro Life, Overall Rating of Destination, Health of Marine Environment serta Underwater Photography. Dive Magazine juga tak segan memasukkan Raja Ampat Papua, Alor NTT, Pulau Komodo NTT, Lembongan Bali, dan Lembeh Sulawesi Utara ke dalam Top World Diving Destinations 2017.(*)

Terlambat Bayar THR, Perusahaan Kena Denda

0

batampos.co.id – Kepala Dinas Tenaga Kerja Karimun Hazmin Yuliansyah mengingatkan, kepada seluruh pengusaha yang beroperasi di wilayah Kabupaten Karimun agar wajib membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para pekerja yang beragama islam. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 6 tahun 2016 tentang Tunjangan hari Raya Keagamaan bagi pekerja atau buruh di perusahaan.

”Walaupun masih jauh, tetap saya mengimbau kepada seluruh perusahaan agar menjalankan kewajibannya. Sesuai Permenaker no 6 tahun 2016 pasal 5 ayat 4 yang berbunyi THR keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) wajib dibayarkan oleh pengusaha paling lambat 7 hari sebelum hari raya keagamaan,” jelasnya, kemarin (4/6).

Artinya kata Hazmi lagi, tidak ada kata lain pengusaha harus membayar THR kepada para karyawannya yang telah mempunyai masa kerja satu bulan atau lebih secara terus menerus. Dan tidak ada membedakan status pekerja apakah telah menjadi karyawan tetap, karyawan kontrak atau karyawan paruh waktu.

”Walaupun karyawan itu baru bekerja satu bulan, namun pas memasuki hari raya keagamaan tetap mendapatkan THR. Tapi, tidak penuh sebulan seperti karyawan yang bekerja sudah satu tahun. Disesuaikan dengan UMK di daerah seperti Karimun UMK Rp 2,6 Juta,” ungkapnya.

Sedangkan THR yang dibayarkan dalam bentuk mata uang Rupiah. Artinya, walaupun karyawan tersebut bekerja diperusahaan asing mereka harus tetap membayar THR dalam bentuk rupiah. Sementara apabila pengusahaan tersebut tidak melaksanakan kewajibannya atau terlambat membayar THR, akan mendapatkan denda sebesar 5 persen dari total THR keagamaan dan sanksi administrasi.

”Insya Allah, sekitar 126 perusahaan yang ada di Karimun tetap melaksanakan kewajibannya. Sebab, THR keagamaan ini rutin tiap tahun dan perusahaan yang beroperasi disini sudah berlangsung lama ada yang sudah puluhan tahun dan mereka tetap memberikan kewajibannya,” tuturnya.

Sementara itu Ketua Serikat Pekerja Aneka Industri-Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPAI-FSPMI) Karimun Muhamad Fajar saat dikonfirmasi mengatakan, paling penting pengawasan terhadap perusahaan yang masih membandel tidak mau membayar THR sebagai kewajibannya kepada karyawan.

”Pokoknya, semua pelaku usaha wajib membayarkan THR. Nah, bagaimana pengawasan dari Disnaker Karimun nanti,” jawabnya.

Sebab, biasanya sering terjadi polemik menjelang sepekan memasuki hari raya Idul Fitri ada beberapa perusahaan yang masih membandel. Dengan demikian, mulai dari sekaranglah pengawasan Disnaker harus benar-benar mendata perusahaan yang sedang beroperasi.

”Biasanya sih ada. Tinggal ketegasan dari pihak Disnaker, itu kunci utama dalam penyelesaian polemik THR. Jangan saling lempar sana lempar sini, sehingga buruh yang menjadi korban,” tegasnya. (tri)

Aceh Sukses Promosikan Aceh International Halal Food Festival

0

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh sukses menggelar kompetisi foto bumbu masak dan rempah-rempah 15 Mei 2017 silam. Lomba ini diminati warga.

Karya fotografer peserta lomba ini menjadi promosi yang efektif event Aceh International Halal Food Festival (AIHFF) 2017 yang dihelat Agustus 2017 mendatang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi mengatakan, 30 fotografer yang mengikuti lomba foto ini semuanya telah mengcapture gambar dan men-share di media sosial mereka masing-masing.

“Terima kasih kepada seluruh peserta atas kesediaanya untuk ikut lomba photo challenge festival kuliner ini. Karena memang bagi kami yang penting peserta itu banyak, semakin banyak yang foto tentu akan semakin banyak yang share di medsos serta akan lebih besar terpromosikan even ini dengan baik,” ujar Reza Fahlevi di Aceh, Sabtu (3/6).

Kenapa harus lomba foto? Karena Reza menyadari pentingnya promosi melalui digital, seirama program promosi yang dijalankan Kementerian Pariwisata, di setiap even yang akan diselenggarakan. Menurutnya, dalam mengembangkan pariwisata perlu banyak peran media, komunitas, relawan pariwisata, blogger, fotografer, videomaker dan lainnya.

“Berbagai momentum juga kami bersinergi dengan Kemenpar dalam hal proses digitalisasi ini. Unsur penthahelix ini menjadi bagian penting dalam kesuksean pariwisata. Tentu hal yang sangat tepat bagi kami bersama dengan Kemenpar dalam proses berjuang bersama-sama meningkatkan Go Digital di era promosi sekarang ini,” ujar Reza.

Reza menyebutkan, even kuliner AIHFF ini telah menjadi agenda tahunan, dan pada tahun ini diharapkan bisa lebih istimewa untuk menjangkau peserta-peserta dari negara tetangga.

“Tahun ini kita berharap, agenda kuliner bisa lebih naik tingkat dan istimewa dengan adanya partisipasi dari negara tetangga. Kita juga ingin dalam penyelenggaraan even betul-betul ditunggu oleh masyarakat serta melibatkan banyak orang dan komunitas,” pungkasnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi gelaran pra-event Aceh International Halal Food Festival 2017. Dia mengatakan, gelaran lomba foto tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempromosikan event utama dan tentunya kuliner dan sumber alam aceh berupa rempah-rempah.

“Adanya kompetisi foto bumbu masak ini tentu menjadi media promosi yang efektif dalam mempromosikan ragam kuliner dan rempah-rempah yang ada di Aceh kepada wisatawan mancanegara dan nusantara, terlebih masakan Aceh memang sangat khas cita rasanya,” ujar Arief Yahya.

Menteri asal Banyuwangi itu menyebutkan, gaya hidup masyarakat saat ini bergerak cepat dan bersentuhan langsung dengan internet, sehingga menyebabkan model promosi digital sangat relevan, diaplikasikan baik destinasi wisata maupun pengelola akomodasi pariwisata untuk melakukan pencitraan yang baik.

“Peran media dan para fotografer merupakan ujung tombak pariwisata Indonesia. Di segi lima Penthahelix, mereka adalah community dan media. Dua pihak yang penting untuk memajukan pariwisata termasuk kuliner Aceh. Ini akan menjadi daya tarik tersendiri karena gambar atau visual sangat penting bagi Pariwisata,” ujar Mantan Dirut PT Telkom ini.(*)

Proyek Stadion Rp 10,9 Miliar Dilelang

0

batampos.co.id – Proyek pembangunan stadion senilai Rp 10,9 miliar dilelang pekan ini. Ini disampaikan Bupati Bintan Apri Sujadi usai safari Ramadan di Perumahan Lobam Mas, Kamis (2/6) pekan lalu. “Minggu depan (pekan ini), dilelang,” katanya, saat itu.

Bahkan, Pemkab Bintan akan membeli lahan milik PT. Surya Bangun Pertiwi (SBP), Lobam untuk membangun lahan stadion yang menurut rencana akan dibangun di antara Kecamatan Teluk Sebong dan Kecamatan Seri Kuala Lobam.

Selain itu, Apri mengatakan, Pemkab juga sedang mencari lokasi lahan di sebelah lokasi Masjid Raya Baitul Makmur, Tanjunguban. Menurut rencana, lahan tersebut akan dibangun tower penanda selamat datang Bintan dan untuk pembangunan pujasera.

“Jadi orang dari Batam, mau ke Lagoi tahu tempat makannya di mana,” katanya.

Sementara itu, Kadis PU Kabupaten Bintan, Junirianto belum berhasil dihubungi, untuk ditanya soal mekanisme lelang proyek stadion tersebut.

Ketua Komisi II DPRD Bintan Zulfaefi ketika dimintai komentar mengenai pembangunan lahan dan status lahannya, ia mengaku mendengar soal isu status lahan yang belum pasti. Namun, ia percaya dan menyerahkan sepenuhnya ke Pemkab dan jajarannya.
“Setidaknya sebelum dilelang, sudah selesai (status lahannya), tidak sampai ada gesekan, saat pekerjaan dimulai,” harapnya. (cr21)

Bukit (Ng)ISIS, Bukit yang Instagramable

0

Ada bukit  di atas kebun teh Nglinggo, Pagarhatjo, Samigaluh, Kulonprogo, Jogja. Namanya bukit (Ng)ISIS.

Dengan ditambah “Ng” itu, bacanya menjadi “Ngisis” yang dalam bahasa Jawa artinya tempat mencari semilir angin sepoi-sepoi. Angin yang membikin ngantuk. “Sangat kreatif!” komentar Menpar Arief Yahya melihat ide masyarakat menjuluki destinasi instagramable itu.

Bukit (Ng)ISIS berada di Titik Nol Kebun Teh Nglinggo, Kulonprogo di ketinggian 900an meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari puncak bukit ini, wisatawan bisa menikmati pemandangan memesona. Saat langit cerah, bisa melihat Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro. Beserta gunung-gunung kecil di sekitarnya. Di puncak bukit ini, wisatawan juga bisa menanti matahari terbit (sunrise) atau menikmati matahari tenggelam menuju peraduan.

Bahkan salah satu atraksi unggulan dari pengelola Desa Wisata Nglinggo adalah berburu sunrise sembari menikmati hangatnya teh/kopi di puncak bukit ini. Wisatawan yang menginap di homestay yang ada di Nglinggo akan diajak naik ke lokasi ini pagi-pagi sekitar jam 04.30 WIB.

“Menunggu matahari terbit sambil menikmati sajian teh hangat dan camilan ketela goreng. Teh ini hasil produksi kebun teh di sini. Begitu pula ketelanya,” ujar Melkey Binaro, Tim Kreatif Desa Wisata Nglinggo.

Fasilitas di Bukit ini cukup lengkap. Ada toilet, gazebo untuk pertemuan, kursi dan tempat api unggun, gardu pandang, dan sejumlah spot berfoto. Ada pula bangunan yang disiapkan untuk teropong. Lewat teropong dari tempat itu bisa melihat Borobudur yang berada 15-an kilometer, dengan jelas.

Tak hanya sensasi sunrise, para tamu yang menginap di Homestay Desa Wisata Nglinggo akan banyak merasakan berbagai hal khas desa Nglinggo. Mulai suguhan welcome drink berupa teh lokal atau kopi lokal. Makanan kecil juga khas desa setempat: ketela goreng atau regedeg. Jika ingin bebakaran pun akan disediakan jagung.

Tamu yang menginap di homestay yang berada di Desa Wisata Nglinggo ini juga bisa menikmati atraksi budaya. Untuk rombongan besar, bisa request suguhan Topeng Lengger atau jathilan. Ada pendopo besar dengan halaman luas di dekat gerbang/gapura bertulisan: Selamat Datang di Desa Wisata Nglinggo.

Secara umum, Desa Wisata Nglinggo mengandalkan paket adventure dan sunrise bagi para tamu. Armada jip siap mengantar tamu berpetualang di Kebun Teh, Hutan Pinus hingga ke Air Terjun Watu Jonggol yang berada di kawasan Desa Wisata Nglinggo. Di desa ini tersedia 18 jip.

“Kalau dibutuhkan lebih banyak, kami biasa minta bantuan ke desa di bawah. Kami pernah melayani tamu dengan 70 jip untuk off-road di sini,” tambah Melkey yang juga pemilik homestay Rimbono.

Homestay Rimbono merupakan satu dari 50 homestay yang ada di Desa Wisata Nglinggo. Bangunan Homestay Rimbono begitu menonjol. Berbeda dengan rumah-rumah di Desa Wisata Nglinggo, lainnya. Jika kebanyakan rumah di desa itu menggunakan tembok bata, Homestay Rimbono dominan menggunakan kayu dengan konsep rumah panggung. Kesan natural pun terasa. Apalagi, di belakang bangunan homestay ini tumbuh pepohonan.

Tak heran bila wisatawan Eropa –terutama dari Jerman dan Perancis—selalu memilih kamar yang berada di belakang. Kamar yang menghadap ke pepohonan itu.

“Turis Jerman selalu memilih kamar ini. Mereka menyebut kamar yang menghadap hutan,” jelas Melkey Binaro.

Kamar-kamar di Homestay Rimbono berada pada bangunan sendiri-sendiri. Ada yang satu bangunan satu kamar, ada yang satu bangunan dua kamar. Kamar langganan turis Eropa itu terdiri dari bangunan dengan dua kamar. Di antara dua kamar ada ruang televisi. Kamar ini berada di atas kolam ikan. Kamar mandi ada di dalam kamar. Semuanya ada 11 kamar yang bisa menampung hingga 50 tamu.

Paket standar yang ditawarkan adalah “Paket 24 Jam” senilai Rp 2,5 juta untuk 10 orang. Paket ini mendapatkan fasilitas menginap 3 kamar di Rimbono Homestay, 1 paket bebakaran untuk 10 orang, 3 jip offroad, 3x makan, 3x minum dan snack. Paket ini mendapatkan atraksi offroad dan berburu sunset plus sunrise.

Wisatawan dengan Paket 24 jam ini  mulai check ini pada pukul 14.00 dan mendapat welcome drink. Lalu pada pukul 15.00 meeting point/acara bebas. Baru pada pukul 16.30 persiapan melihat sunset, menuju lokasi sunset untuk  melihat matahari terbenam. Pada 18.00 kembali ke homestay, mandi dan acara bebas. Pada pukul 20.00 makan malam lanjut dengan bebakaran hingga pukul 22.00 untuk kemudian istirahat

Pada pukul 04.45 keesokan harinya, persiapan untuk eksplore sunrise. Sekitar jam 05.00 berangkat melihat sunrise dengan jip di Bukit Ngisis sembari menikmati teh/kopi dan snack. Kemudian lanjut naik ke Gunung Jaran. Berketinggian sekitar 1.000 mdpl.

Lalu pada 07.00 sarapan pagi, lanjut dengan edukasi di Rumah Teh di tengah-tengah kebun teh Nglinggo. Di tempat ini diajari cara memetik daun teh hingga menyangrai dan menyajikannya. Selepas dari sini, sekira pukul  08.00 menuju ke Air Terjun Watu Jonggol. Air terjun yang airnya tak pernah berhenti mengalir. Sejam kemudian, Kembali ke homestay, istirahat dan berganti pakaian.

Lalu pada pukul 10.00 berangkat dengan jip off-road ke Hutan Pinus. Satu setengah jam kemudian, yakni pukul 11.30 kembali ke homestay. Dan pukul 12.00 makan siang pun siap disantap. Dan tepat jam 13.00 tamu bisa check out.

Desa Wisata Nglinggo berjarak sekitar 40 KM dari Kota Jogja. Akses ke Desa Wisata yang berbatasan dengan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Purworejo ini berupa jalan aspal yang mulus. Dari arah Kota Jogja menuju ke arah Pasar Godean. Kemudian lurus ke Barat hingga perempatan Kenteng.

Lalu ke arah kanan (utara) hingga perempatan Dekso belok kiri. Ada petunjuk arah menuju Desa Wisata Nglinggo. Jalan mulai naik turun di sepanjang 10 KM menuju Nglinggo. Pemandangan alam yang indah menemani sepanjang perjalanan. Sawah hijau membentang, aliran kali yang berkelok-kelok, dengan latar belakang deretan pegunungan Menoreh begitu indah dipandang.

Saat sampai di Pasar Tondo, ada penunjuk ke arah Desa Wisata Nglinggo belok kanan sejauh 2 Km. Jalan aspal menuju Desa Wisata Nglinggo mulai titik ini lebih sempit dan menyusuri tebing. Perlu ekstra hati-hati. Apalagi jalan menanjak terus. Ada rambu “Gunakan Gigi Satu” karena naiknya cukup tajam. Pemandangan sepanjang jalan pun cukup indah. Maka begitu 2 Km sampailah ke Loket Masuk Desa Wisata Nglinggo.

Untuk sekadar menikmati Kebun Teh, puncak bukit dan air terjun cukup mengeluarkan uang Rp 5.000. Sedang untuk masuk ke spot berfoto di Bukit (ng)ISIS ada tiket Rp 3.000/orang yang dibeli di depan Gapura Masuk Bukit (Ng)ISIS. (*)

Pada World Street Food Congress 2017, Kuliner Indonesia Diakui memang Top

0

Ketua Tim Percepatan dan Pengembangan Wisata Belanja dan Kuliner Vita Datau Messakh mengaku dapat berbagai masukkan dalam benchmarking untuk mengembangkan wisata kuliner jalanan berstandar global di Indonesia.

“Kami melihat bahwa kekayaan kuliner Indonesia mulai diakui oleh tokoh kuliner dunia karena memang kualitasnya sangat bagus dan karakternya yang unik, ” tutur Vita Datau pada salah satu kesempatan disela-sela World Street Food Congress 2017 di Manila, Filipina pada 1-4 Juni 2017.

Di event ini, ditemukan kualitas bahan makanan lokal khas Indonesia, yang ternyata kini banyak digunakan oleh chef terkemuka di dunia dalam berkarya.

Di salah satu sesi khusus pada konferensi tersebut, Anthony Bourdain tokoh kuliner yang paling berpengaruh di dunia dari Amerika Serikat dan K.F. Seetoh pendiri Makan Sutera dari Singapura yang juga penggagas World Street Food Congress 2017 mendorong Indonesia untuk segera mendaftarkan Rendang sebagai warisan budaya Indonesia ke UNESCO.

Anthony Bourdain juga mengutarakan kekagumannya terhadap kekayaan kuliner Indonesia yang menurutnya telah memberikan pengaruh besar terhadap cita rasa kuliner dari negara-negara lainnya di Asia Tenggara.

Pada sesi lainnya, Malcom Lee seorang chef muda berasal dari Singapura yang memiliki restoran bernama Candlenut bercerita bahwa resep andalan yang menjadi favorit pelanggannya adalah menggunakan kluwek dari Indonesia.

“Ia juga bercerita bahwa ia pernah menjelajahi berbagai kuliner jalanan di Jakarta dan sangat jatuh cinta pada sate ayam Madura yang banyak disajikan oleh pedagang kaki lima. Sate tersebut menjadi inspirasinya dalam mengolah menu yang disajikan di restaurant Candle Nut  miliknya. Lebih hebatnya lagi, restoran Candle Nut tersebut telah mendapatkan penghargaan Michelin Star,” ungkap Vita.

Salah satu cerita hebat yang ditemukan pada World Street Food Congress 2017 lainnya adalah cerita dari Peter Ilyod, chef pemilik restaurant khas Asia Tenggara bernama Sticky Mango di London. Ia bercerita bahwa untuk hidangan pencuci mulut andalannya, ia harus menggunakan kecap manis dari Indonesia karena rasanya tiada tara dan tak dapat tergantikan. Sticky Mango ini merupakan restoran terbaik nomor 1 di London menurut versi TripAdvisor.

“Namun sayangnya kehebatan kuliner Indonesia ini masih kurang dikenal secara luas oleh masyarakat dunia. Oleh karena itu, penting untuk kita semua bersatu padu melestarikan dan mempromosikan kuliner Indonesia ke dunia agar menjadi lebih terpandang!” seru Vita dalam menutup perbincangan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Indonesia sedang menuju destinasi wisata kuliner terfavorit di dunia yang berdaya saing melalui upaya-upaya yang terus dilakukan termasuk promosi ke luar negeri dan di dalam negeri berupaya meningkatkan rasa cinta dan minat masyarakat terhadap kuliner tradisional nusantara.

Menurut dia, kuliner Indonesia terbukti memiliki daya tarik yang besar, apalagi dengan dinobatkannya rendang sebagai salah satu makanan terlezat di dunia.

“Hal ini membuktikan bahwa kuliner Indonesia disukai serta siap menjadi salah satu faktor penggerak ekonomi masyarakat, khususnya dalam hal bisnis skala kecil,” ujar Menpar Arief Yahya.

Ia mencatat sektor kuliner memberikan kontribusi nilai tambah bruto sebesar Rp208,6 triliun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,5%. Sektor kuliner juga menyerap tenaga kerja sebesar 3,7 juta orang dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 0,26%. Unit usaha yang tercipta dari sektor kuliner tercatat sebesar 3,0 juta dengan rata-rata pertumbuhan 0,9%.

“Saat ini wisata kuliner bukan fenomena sesaat namun telah menjadi daya tarik dan tujuan utama berwisata ke suatu destinasi. Oleh karena itu wisata kuliner diyakini mampu menjadi unsur utama yang berfungsi sebagai perekat terhadap rangkaian berwisata, mengingat kepariwisataan merupakan sektor yang multi-atribut dan prospektif sebagai pintu gerbang sekaligus citra pariwisata Indonesia,” tegas Menpar Arief Yahya.(*)

PJB Berbagi Takjil untuk Pengendara

0

batampos.co.id – Belasan wartawan media harian yang terdiri dari cetak, online, serta elektronik yang tergabung dalam Persatuan Jurnalis Bintan (PJB) membagikan ratusan takjil untuk berbuka puasa dengan pengendara motor dan mobil di Simpang Kilometer 16 Kecamatan Toapaya, Minggu (4/6) sore.

Ketua PJB, Mohd Rofik mengatakan kegiatan yang dipelopori ide-ide dari seluruh wartawan yang biasa meliput di Bintan ini merupakan bentuk dedikasi para ‘kuli tinta’ kepada masyarakat.

“Ini ide dari kawan-kawan dalam rangka mengisi kegiatan di bulan suci ramadhan. Mudah-mudahan dengan yang sudah diberikan, bisa bermanfaat bagi yang menerimanya,” ujarnya usai membagikan takjil.

Menurutnya membagikan takjil kepada para pengguna jalan raya sangat tepat.
Sebab, mereka yang biasa berkendara terutama pada saat jelang berbuka puasa terkadang sering mengabaikan waktu untuk berbuka puasa.

“Memang kita menyasar mereka yang masih berada di jalanan, karena mereka yang berpuasa dan masih berkendara juga perlu untuk berbuka. Makanya kegiatan kali ini kita memilih pengguna jalan raya,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan serupa ini hendaknya dapat ditiru kelompok lain. Sebab, dengan berbagi terutama di bulan suci ramadan seperti sekarang ini, apa yang diberikan justru lebih bermanfaat.

Diakui Rofik kegiatan berbagi di bulan puasa kali ini, tentunya menggunakan inisiatif anggaran dari masing-masing rekan jurnalis di Bintan.

“Kita memang dalam berorganisasi senantiasa menyisipkan sedikit rezeki untuk di simpan dalam kas. Jadi setiap ada kebutuhan termasuk untuk kegiatan kali ini, kami menggunakan anggaran dari kas PJB,” terangnya.

Kegiatan para jurnalis ini mendapat apresiasi dari para pengguna jalan raya.

Hendra pengendara sepeda motor jenis bebek mengatakan pembagian takjil semacam ini sangat bermanfaat karena apa yang diberikan benar-benar dibutuhkan.

“Pas mau buka puasa dibaginya, jadi benar-benar bermanfaat bagi kami yang sedang berpuasa,” ucapnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada PJB, menurutnya kegiatan ini bisa menjadi modal dasar sekaligus mendorong organisasi lainnya untuk melakukan kegiatan serupa di bulan ramadan. (cr20)

 

Nelayan Adukan Penimbunan Hutan Bakau

0

batampos.co.id – Nelayan Kelurahan Tanjungpermai dan Kampung Mentigi Kelurahan Tanjunguban Kota marah dan mengadu ke Pemkab Bintan.

Ini diakibatkan penimbunan hutan bakau yang terjadi di Pasar Baru Tanjunguban dan di Lobam Mas.

Salah seorang nelayan Jatoman Purba mengatakan penimbunan hutan bakau yang dilakukan developer di Seri Kuala Lobam dan oknum pengusaha di Tanjunguban itu dinilai sangat merugikan para nelayan yang setiap hari mencari nafkah di wilayah tersebut.

Tak hanya itu, lanjutnya dengan adanya penimbunan tersebut, tentunya membuat biota laut menjadi berkurang dan tangkapan ikan juga menurun jauh.

“Kami selaku nelayan merasa jalur jilir mudik kami terganggu. Puluhan
nelayan yang menyondong udang, menangkap ketam bakau juga terkena imbasnya. Kami menduga penimbunan ini tidak berizin dan minta kepada pemerintah untuk segera menangani ini,” ujarnya di lokasi penimbunan, Minggu (4/6).

Menurutnya selain mengurangi pendapatan para nelayan, diduga penimbunan ini juga tak memiliki izin.

Masih kata Jatoman, diketahui penimbunan bakau tersebut rencananya akan dijadikan perumahan dan juga gudang.

Tentunya ini akan merusak dan semakin memperburuk kondisi pengairan lingkungan.

“Kasihan nelayan kami kalau tidak ada lokasi tangkapan. Sementara saat ini lapangan pekerjaan semakin sempit. Lama-lama kami bisa jadi rampok kalau begini,” ucapnya.

Sementara itu, Dwi Kori, Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup Kabupaten (BLH) Bintan yang meninjau lokasi berjanji akan segera menindaklanjuti persoalan ini.

“Kami akan cek dulu dan pelajari semua data yang sudah kami dapatkan di lapangan. Kami juga akan panggil developer dan pengusaha yang menimbun ini,” ujar Dwi Kori. (cr20)