Senin, 4 Mei 2026
Beranda blog Halaman 14011

Warnet Bandel Buka Sampai Pagi Ditutup Paksa Tim Gabungan

0
Tim gabungan Kelurahan Belian, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas), dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) melakukan razia warnet dikawasan Botania Batamkota, Sabtu (24/9/2016). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Tim gabungan Kelurahan Belian, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas), dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) melakukan razia warnet dikawasan Botania Batamkota, Sabtu (24/9/2016). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Tim gabungan Kelurahan Belian, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas), dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) menutup paksa sejumlah warnet di kawasan Kelurahan Belian, Minggu (25/9/2016) dini hari.

Warnet-warnet tersebut ditutup lantaran melanggar Peraturan Wali Kota (Perwako) nomor 3 tahun 2015 tentang waktu operasional warnet.

“Ketentuannya, di hari biasa, batas buka warnet sampai pukul 21.00 WIB. Sementara di hari Sabtu dan Minggu, batas bukanya sampai pukul 22.00 WIB,” kata Lurah Belian, Aditya Guntur.

Beberapa warnet yang ditutup paksa, antara lain, Warnet Monaco di Ruko Pesona Niaga, Zon.net di Botania, Game City dan Revo Net di Batamcentre. Mereka buka hingga tengah malam bahkan berlanjut sampai pagi.

Untuk mengelabui petugas, warnet-warnet tersebut menutup pintunya rapat-rapat. Dari depan, warnet-warnet tersebut seolah-olah tutup. Namun, banyak motor di parkir di halaman warnet tersebut.

Ketika pintu dibuka, benar saja, warnet tersebut dipenuhi remaja. Sebagian besar masih di bawah umur. Mereka masih bersekolah. Dua di antaranya, putus sekolah.

Mereka sedang asyik bermain game komputer. Seorang remaja ditemukan tengah mengakses internet sambil menenggak minuman keras. Botol minuman keras berada di samping layar komputernya.

“Kami amankan anak-anak itu dan mereka dipulangkan setelah mendapat arahan dari Ketua RW setempat,” ujarnya.

Sementara bagi pengelola warnet, tim meminta mereka menulis surat pernyataan untuk tidak mengulangi hal tersebut dan mematuhi Perwako. Tim juga meminta mereka datang ke Kelurahan Belian, hari ini, Senin (26/9/2016) untuk menunjukkan izin usaha mereka.

Aditya mengatakan, pihaknya akan melaporkan warnet-warnet tersebut ke Badan Komunikasi dan Informasi Batam. Bakominfo diharapkan segera menindaklanjuti dengan surat peringatan.

“Tugas kami hanya melaporkan dan kami akan terus memantau warnet-warnet tersebut,” ujarnya.

Razia tim gabungan ini merupakan kali kedua di pekan ini. Sebelumnya, mereka menggelar razia serupa, Selasa (20/9/2016). Dalam operasi tersebut, mereka menemukan anak-anak di bawah umur sedang bermain di dalam warnet.

Lebih mengejutkan, mereka juga menemukan segerombolan anak sedang duduk-duduk di depan ruko kosong di kawasan Botania 1. Anak-anak yang berusia di bawah 16 tahun itu berkumpul sambil menenggak minuman keras.

“Ada sembilan orang yang kami amankan saat itu. Dua di antaranya perempuan,” ujarnya.

Operasi itu berawal dari laporan masyarakat tentang pelajar yang masih berkeliaran di atas pukul 22.00 WIB. Mereka berkumpul di warnet dan seringkali menimbulkan keributan.

“Keamanan di Belian menjadi fokus utama. Kami dari tiga pilar, yaitu pemerintah, Babinsa dan Bhabinkabtim as turun langsung menelusuri apa yang disampaikan masyarakat, ternyata benar adanya,” pungkasnya. (ceu/bp)

Tertipu Undian Berhadiah Mobil Mercedez, Uang Rp 38,5 Juta Raib

0
contoh kupon penipuan. Foto: istimewa
contoh kupon penipuan. Foto: istimewa

batampos.co.id – Watini, 29, warga Kavling Bukit Kemboja Blok N Nomor 156, mengaku tertipu dengan undian berhadiah dari salah satu produk Kopi. Atas kejadian itu uang sebesar Rp 38,5 Juta milinya raib.

Istri dari Surkarni ini tak banyak berbuat apa-apa, ia hanya bisa melapangkan hati dan menenangkan diri setelah kejadian yang menimpa keluarganya.

Watini menceritakan, kejadian itu terjadi pada, Sabtu (16/9/2016) Pukul 09.00 WIB, ketika itu suaminya menemukan lipatan kecil di dekat pintu rumahnya. Karena penasaran lipatan itu pun dibuka. Ternyata setelah dibaca isi di dalamnya adalah sebuah kupon undian berhadiah dari sebauh produk kopi.

“Hadiah yang tertera dalam kupon tersebut adalah, mendapat satu unit mobi Marcedes Benz C – Class,” ujar Watini, Sabtu (24/9/2016).

Dari dalam kupon tersebut tertera sebuah nomor. Watini pun langsung mencoba menghubungi nomor tersebut.

“Awalanya telepon nggak diangkat, lalau beberapa waktu kita ditelepon balik,” ungkap Watini.

Setelah itu, Watini pun diminta untuk mengirimkan uang kepada orang yang mengaku pihak pengundian hadian.

“Katanya kalau mau mobil harus kirim uang untuk balik nama kendaraan, karena mau dikirim ke Batam” ucapnya.

Merasa yakin, watini pun pergi melakukan transaksi uang melalui ATM BRI, Kantor Pos, dan Bank BTN dengan jumlah pengiriman sebesar Rp 38,5 juta.

“Enam kali transfer lewat ATM BRI dua kali, lewat Kantor Pos satu kali dan lewat Bank BTN tiga kali,” kata Watini.

Proses pengiriman dilakukannya sebanyak enak kali dalam dua hari. “Sabtu (16/9) pertama transper Rp 4,7 juta, kedua Rp 5 juta, ketiga Rp 5 juta, keempat Rp 7,8 juta. Senin (18/9/2016). Minggu (18/9/2016)  Rp 5 juta, dan kedua Rp 10 juta,” tutur Watini.

Proses pengiriman uang tersebut berakhir ketika, Watini merasa ada hal yang aneh ia pun langsung berlari ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian itu.

“Dia minta uang lagi Rp 4 juta, katanya sudah di bandara Hang Nadim mobilnya, saat saya minta lihat melalui foto dia nggak mau kasih,” terangnya.

Ibu dua anak ini tidak menduga ternyata ia sudah ditipu dan sudah terjadi kepada keluarganya. Padahal keluarganya tidak pernah menipu orang lain.

“Kita selalu baik kepada orang, malah kita yang dapat musibah seperti ini,” kata  Watini.

Kini Watini dan keluargnya tidak memiliki uang sepersenpun atas kejaidn yang menimpa mereka. Uang dan emas miliknya sudah digadai untuk mentranspernya. “Sudah lenyap semuanya,” punkasnya.

Watini berharap kejaian itu bisa menjadi pelajaran bagi keluarganya, kedepan tidak terjadi lagi. “Jangan samapi orang lain bernasib sama dengan kami,” harap Watini. (cr14)

Batam Butuh 33 Puskesmas Baru

0
Puskesmas Keliling milik Dinas Kesehatan Kota Batam siap memberikan layanan kepadamasyarakat yang membutuhkan layaknya Puskesmas umumnya. Foto:  yulitavita/batampos
Batam masih kekurangan 33 Puskesmas, untuk sementara mengatasi kekurangan itu, kini Dinkes Batam dilengkapi Puskesmas Keliling yang siap memberikan layanan kepadamasyarakat yang membutuhkan layaknya Puskesmas umumnya. Foto: yulitavita/batampos

batampos.co.id – Dinas Kesehatan Kota Batam menyatakan saat ini Batam masih butuh puluhan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Pasalnya pertambahan penduduk yang tidak sedikit membuat puskesmas yang ada sekarang kewalahan melayani pasien berobat.

“Sekarang kita yang ready baru 17 puskesmas, masih sangat kurang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Chandra Rizal, Sabtu (23/9/2016).

Idealnya dengan jumlah penduduk yang mencapai 1,2 juta jiwa, seharusnya Batam memiliki 40 lebih Puskesmas.

“Harusnya satu puskesmas itu diperuntukkan bagi 30 ribu penduduk, nah kenyataannya lebih. Misalnya di Batuaji dan Sagulung yang merupakan penduduk terpadat,” sebutnya.

Jumlah Puskesmas yang ada sekarang menurutnya belum maksimal untuk melayani pasien di tingkat pertama. Puskesmas sebagai ujung tombak memiliki fungsi yang sangat dibutuhkan pasien.

“Pelayanan berjenjang, jadi sudah pasti pasien berobat ke Puskesmas dulu, baru dirujuk ke rumah sakit, makanya keberadaan Puskesmas sangat penting,” jelasnya.

Beruntungnya, pemerintah terbantu dengan adanya mobil ambulan keliling yang bisa membantu Puskesmas tetap. Dikatakan dia, saat ini pemerintah baru saja membeli empat mobil ambulan yang akan diberikan kepada empat Puskesmas seperti, Rempangcate, Sekupang, Bulang dan Sagulung.

Untuk tahun ini pemerintah tengah membangun dua puskesmas baru yang berada di Rempangcate dan Kampungjabi, Nongsa. Dia berharap Desember nanti bisa selesai dan difungsikan.

Dia menambahkan pemerintah akan terus melakukan pembangunan puskesmas asalkan lahan yang dibutuhkan tersedia.

“Soal anggaran kita selalu siap, tinggal masalah ketersediaan lahan saja lagi,” pungkasnya.

Ketua komisi IV DPRD Kota Batam Riki Indrakari mengakui Batam kekurangan puskesmas. “Kita memang kekurangan puskesmas. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah sebarannya, bukan pada jumlahnya,” katanya.

Menurut Riki, penambahan Puskesmas harus diutamakan di daerah pesisir adn hinterland. Sedangkan di mainland hanya perlu dilakukan peningkatan kualitas pelayanan saja.

“Misalnya di Sekupang ada dua puskesmas berdekatan. Padahal di mainland ini sangat banyak klinik kesehatan yang bisa digunakan warga,” katanya.

Ia mendorong agar pelayanan puskesmas khususnya di pesisir dan hinterland bisa setara dengan pelayanan di rumah sakit tipe B. Di mana selain rawat inap, dokter yang tugas di sana tidak hanya dokter umum saja.

“Kita mendorong agar ada di sana dokter bedah dan dokter spesialis lain. Tetapi ini belum bisa dalam waktu dekat,” katanya.

Anggota fraksi PKS itu berharap agar dinas kesehatan memberikan layanan maksimal di puskesmas. “Jangan sampai ada yang berobat tengah malam tetapi tidak dilayani. Harus siaga 24 jam,” katanya. (cr17)

Cabuli Anak Tiri, Md Digeladang Polisi

0

anakbuayabatampos.co.id – Polsek Batam Kota menangkap Md atas tuduhan pencabulan terhadap anak tirinya pada Sabtu (24/9) lalu. Dugaan pencabulan ini bermula dari gerak gerik pelaku yang mencurigakan. Istri pelaku, sebagai pelapor melihat gelagat yang tak baik dari suaminya saat berada di kamar anak kandungnya, Mr.

“Dari keterangan istri pelaku, ternyata Md sudah melakukan perbuatan tak bermoral ini sebanyak 3 kali,” kata Kapolsek Batam Kota Kompol Arwin kepada koran Batam Pos, kemarin.

Arwin mengungkapkan dari cerita istri pelaku, Intan. Kejadian ini bermula pada Sabtu (17/9) lalu sekitar pukul 23.00. Pelaku terlihat bergegas keluar dari kamar anaknya tidur, dan langsung menuju kamar mandi. Curiga melihat tingkah pelaku, Intan menanyai anaknya.

Dengan polosnya bocah berusia 11 tahun tersebut, bapaknya barusan menggerayanginya. Dan tak hanya sampai disitu, tangan pelaku dimasukan ke dalam kemaluan korban.

Udah sekian kali, tapi korban takut melapor,” ucap Arwin.

Ketakutan korban mengadukan perbuatan bejat bapaknya ini. Disebabkan korban diancam akan dipukul menggunakan hanger, bila mengadukan hal tersebut.

“Setelah mendengar pengakuan anaknya, istri pelaku melihat celana dalam korban. Ternyata benar, sehingga tak berapa lama melaporkan hal ini ke kami,” ungkapnya.

Dari lokasi penangkapan, polisi menyita barang bukti berupa pakaian korban. Polisi juga menunggu hasil visum korban dari rumah sakit dan mengamankan pelaku di Polsek Batam Kota untuk di proses lebih lanjut.

Dan pihak kepolisian juga telah meminta keterangan dari pelaku, korban, istri korban dan tetangga.

“Kami sedang menggesa pemberkasan pelaku cepat selesai. Hingga bisa maju ke pengadilan,” pungkas Arwin. (ska)

Hang Nadim Aset Kementrian Keuangan bukan Kementrian Perhubungan

0

Hang-Nadim-lagibatampos.co.id – Bandara Internasional Hang Nadim Batam akan dikelola oleh BP Batam. Bila Kementrian Perhubungan mengutus Angkasapura II mengelola, hal ini akan membutuhkan waktu yang cukup panjang.

“Perlu diketahui, Bandara Hang Nadim itu adalah asetnya Kementrian Keuangan bukan Kementrian Perhubungan,” kata Direktur Humas BP Batam, Andi Antono pada koran Batam Pos, kemarin.

Ia mengatakan pihak Kemenhub tak bisa serta merta, langsung menunjuk Angkasapura II kelola Hang Nadim. Karena ada harus melalui beberapa proses. Dimana Kemenhub haruslah mengajukan pengalihan aset ke Kementrian Keuangan.

“Jadi tak bisa langsung ujug-ujug begitu saja. Bandara Hang Nadim tak sama dengan bandara yang lainnya,” ungkap Andi.

Mengenai isu ini, Andi menyatakan kemungkinan menteri yang baru tak tahu mengenai status spesial dari Bandara Hang Nadim.

“Tak semua bandara asetnya dibawah kemenhub. Kan menterinya baru di reshufle,” ujarnya.

Mengenai keberadaan Bandara Hang Nadim sendiri. Andi mengungkapkan pihaknya, telah memiliki rencana khusus.Dimana nantinya Hang Nadim menjadi pusat atau sentral pertumbuhan ekonomi Kota Batam.

“Kami akan menjadikan Aerotropolis,” ucapnya.

Aerotropolis adalah konsep kota, dimana pusatnya adalah bandar udara. Konsep ini mirip dengan kota metropolitan, tapi nantinya bandar udara akan memegang peranan yang penting sebagai tempat keluar masuknya barang. Konsep yang baru dicanangkan ini, selain untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Kota Batam. Konsep ini juga mengusung bentuk kota yang makin rapi dan teratur.

Konsep ini nantinya tak hanya diterapkan di Batam saja, tapi dibeberapa kota-kota besar lainnya. Konsep Kota Aerotropolis ini sudah mulai diterapkan di Kualanamu, Medan.

Andi menyebutkan konsep aerotropolis sudah dibahas dalam rapat BP Batam dengan Gubernur Kepri, Pemko Batam, Kementrian Perhubungan, Kementrian Kemaritiman dan berbagai instansi lainnya pada Jumat (23/9) lalu. (ska)

Angkasa Pura II Ingin Kelola Hang Nadim tapi Ditolak

0
Bandara Hang Nadim Batam. foto:yusuf hidayat/batampos
Bandara Hang Nadim Batam. foto:yusuf hidayat/batampos

batampos.co.id – Kementerian Perhubungan akan menyerahkan pengelolaan Bandara Internasional Hang Nadim Batam ke PT Angkasa Pura II. Selain Hang Nadim, ada enam bandara lain yang akan segera dikelola Angkasa Pura I dan II.

Bandara-bandara tersebut adalah

  • Bandara Temindung di Samarinda,
  • Juwata di Tarakan,
  • Kalimarau di Berau,
  • Radin Inten di Lampung,
  • Sentani di Jayapura,
  • Komodo di Labuan Bajo.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, mengatakan penyerahan pengelolaan bandara dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah penumpang yang dilayani. Menurutnya, bandara-bandara yang diserahkan pengelolaannya kepada Angkasa Pura adalah yang melayani penumpang di atas 1 juta orang per tahun.

“Itu akan segera kami lakukan,” ujar Budi di sela-sela kunjungannya ke Papua dan Papua Barat, Kamis (22/9) malam.

Selain pertimbangan layanan, penyerahan bandara-bandara itu juga mempertimbangkan aspek biaya operasional. Sepanjang masih dikelola oleh Kementerian Perhubungan, kebutuhan dana operasional dipenuhi dari APBN.

“Dengan menyerahkan ke Angkasa Pura, akan ada penghematan APBN karena semua kebutuhan biaya operasional dipenuhi oleh BUMN tersebut,” lanjut dia.

Sebagaimana Bandara Sentani di Jayapura, Papua, jumlah penumpang udara yang menggunakan bandara ini sudah cukup banyak dan bandara sudah mampu beroperasi secara komersial. Akan tetapi, bandara ini masih dikelola Kementerian Perhubungan.

Demikian juga Bandara Hang Nadim Batam, volume jumlah penumpang yang menggunakan bandara ini juga sudah cukup padat. Namun, bandara tersebut sampai sekarang masih dikelola oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Sementara itu, Manajer Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) Hang Nadim, Suwarso, mengakui pihaknya sudah menerima proposal dari Angkasa Pura II. Namun Suwarso menegaskan, proposal tersebut ditolak.

“Yang perlu diingat BP Batam belum ada keinginan untuk melepas (pengelolaan bandara) itu,” kata Suwarso, Jumat (22/9).

Lagipula, kata Suwarso, dalam proposal tersebut Angkasa Pura II hanya mengajukan pengelolalaan terminal saja. Sehingga pihaknya mengembalikan proposal itu untuk dibuat secara menyeluruh.

Sebab menurut Swarso, kalaupun BP Batam akan melepas Hang Nadim, maka pengelolaanya tidak hanya di bagian terminal saja. Tetapi juga di bagian lahan, dan semua hal yang terkait dengan Hang Nadim.

Suwarso menegaskan, pihaknya merasa masih bisa mengelola bandara tersebut dengan baik. Apalagi menyusul dibentuknya BUBU Hang Nadim, belum lama ini.

Ia mengatakan, tugas BUBU ini sesuai dengan Peraturan Kepala BP Batam No 9. 2016 yakni melakukan kegiatan pelayanan, jasa kebandarudaraan, jasa yang terkait bandar udara, kegiatan keamanan keselamatan dan ketertiban penerbangan, pelaksanaan kegiatan usaha penerbanagm, usaha non penerbangan dan usaha sarana lainnya di Bandara Hang Nadim sesuai ketentuan UU.

“Jadi kalau ada informasi yang mengatakan Hang Nadim sudah dilepas dan dikelola pihak lain. Saya tegaskan, itu tidak ada. Tetapi saya ulangi, Angkasa Pura hanya baru sekedar mengajukan proposal,” katanya.

Suwarso menambahkan, saat ini pihaknya menggesa pengerjaan pelebaran apron bandara. Pengerjaan dilakukan siang dan malam untuk mengejar target proyek ini rampung sebelum akhir tahun ini.

“Tak hanya siang saja, malam kami juga ada pengerjaan,” kata Suwarso.

Apron seluas 240 x 150 meter tersebut, saat ini kata Suwarso, pengerjaannya sudah mencapai sekitar 10 persen. “Optimis, tepat waktu pengerjaannya,” ungkapnya.

Dengan adanya apron baru ini, Bandara Internasional Hang Nadim dapat menampung 12 pesawat berbadan besar atau 18 pesawat berbadan sedang sekaligus.

Untuk diketahui, jumlah penumpang Hang Nadim terus meningkat dari tahun ke tahun. Sepanjang 2015 lalu tercatat ada 5.030.785 penumpang melalui bandara ini.

Angka tersebut naik sekitar 5,13 persen dibandingkan 2014. Di mana sepanjang tahun itu hanya ada 4.772.873 penumpang.

Dari segi pendapatan juga terus bertambah setiap tahunnya. Pada 2013 lalu, BP Batam membukukan pendapatan sebesar Rp 100 miliar.

Pada tahun berikutnya, angka tersebut naik 10 persen menjadi Rp 110 miliar. Kemudian sepanjang 2015 lalu, BP Batam membukukan pendapatan sebesar Rp 149 miliar dari pengelolaan Hang Nadim. (ian/ska/ant)

Jambret Bersenjata Beraksi di Depan Polsek Batuaji

0
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Suasana riuh terjadi di jalan raya depan Polsek Batuaji di Tanjunguncang, Jumat (23/9) siang sekira pukul 12.00 WIB . Seorang wanita pengendara sepeda motor matik mendadak teriak histeris di sepanjang jalan tersebut. Wanita yang belakangan diketahui nama Sriatun baru saja menjadi korban jambret oleh dua orang pria pengendara sepeda motor metik lainnya.

Sriatun yang membonceng putrinya berusia sekitar empat tahun terus berusaha mengejar pelaku jambret itu sambil berteriak. Teriakan Sriatun menyita perhatian warga dan pengendara lain di sepanjang jalan itu. Warga yang berusaha ikut mengejar kedua pelaku hanya berhasil menyelamatkan dompet Sriatun yang dijambret kedua pelaku.

Kedua pelaku terpaksa membuang dompet Sriatun sebab keduanya sudah sempat terpojok saat mencoba kabur ke arah Marina. Warga berniat akan terus mengejar kedua pelaku namun karena kedua pelaku menenteng senjata tajam warga pun akhirnya mundur. “Bawa pisau mereka. Yang kejar diancam mereka, makanya setelah dompet dibuang warga tak lagi kejar,” kata Damian, warga di jalan raya Marina City.

Warga sempat menyesalkan dengan keberadaan pihak kepolisian di Batuaji yang tidak melakukan upaya pengejaran atas kejadian jambret yang terjadi di depan Polsek tersebut. “Coba kalau polisi yang kejar pasti dapat itu,” kata Damian.

Sementara itu Sriatun sendiri yang sempat mendatangi Mapolsek Batuaji menuturkan penjambretan itu terjadi di simpang dekat Polsek Batuaji. Saat itu dia hendak mengisi bensin eceran ke sepeda motornya.

“Dompet saya pegang, tangan yang satu lagi buka jok, tiba-tiba mereka datang langsung rampas dompet saya dan pergi,” kata Sriatun.

Tidak mau kehilangan dompet yang berisikan sejumlah uang dan kartu identitasnya, Sriatun nekat mengejar meskipun dia sedang membonceng putrinya.

“Sampai jatuh helem saya pak. Untung habis bensin motor saya kalau nggak ku kejar terus mereka. Tak peduli bawa pisau atau apa. Enak saja main rampas-rampas,” tutur Sriatun.

Tidak ada kerugian atas kejadian itu namun putri Sriatun terlihat trauma dengan kejadian itu. (eja)

Reklamasi di Tanjunguncang Berlanjut, Warga Panen Debu

0
Aktifitas reklamasi di belakang Perumahan Glory, Tanjunguncang, Jumat (23/9). Foto: Eusebius Sara/ Batam Pos
Aktifitas reklamasi di belakang Perumahan Glory, Tanjunguncang, Jumat (23/9). Foto: Eusebius Sara/ Batam Pos

batampos.co.id – Aktifitas reklamasi di belakang Perumahan Glori, Tanjunguncang terus berjalan sampai saat ini. Padahal lokasi reklamasi tersebut merupakan satu dari 14 titik lokasi reklamasi yang dihentikan oleh pemerintah untuk sementara waktu, belum lama ini.

Warga di sekitar kembali mempertanyakan ketegasan pemerintah atas instruksi penghentian sementara aktifitas reklamasi itu, sebab akibat berlanjutnya aktifitas reklamasi itu warga yang bermukim di sekitarnya diterpa badai debu setiap saat. Dan yang lebih parah lagi perairan di sekitar kawasan Marina yang menjadi alur berlayar kapal jadi semakin sempit dan dangkal.

“Itulah tak jelas pemerintah ini. Hanya keluar larangan saja, tapi pengawasan tidak ada. Kegiatan (reklamasi) ini berjalan terus kok sejak awal seolah tak ada larangan apapun, kami warga di sini selalu panen debu,” ujar Safrizal, salah seorang warga di dekat lokasi reklamasi tersebut.

Warga setempat sudah berulang kali melakukan aksi protes, namun tidak digubris pihak yang melakukan reklamasi.

“Yang kami protes itu debu yang berterbangan dari lokasi reklamasi itu. Kayak badai debu sampai ke perumahan Marina Garden.

Aksi protes yang sama juga datang dari warga yang berdiam di sekitaran pantai Marina termasuk terminal Ferry di Marina. Akibat reklamasi itu alur pelayaran di lokasi reklamasi jadi sempit dan dangkal. Tanah perbukitan yang dipotong dan dibuang ke laut menyebabkan laut semakin dangkal dari waktu ke waktu.

“Lumpur tanah yang ditimbun itu terbawa sampai ke sini, makanya alur laut jadi dangkal dan sempit,” kata Hendro salah seorang warga di kawasan Marina.

Jika saja aktifitas reklamasi itu tak segera ditindak lanjuti, warga khawatir perairan Marina dan sekitarnya akan tertutup selamanya. Padahal perairan tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran baik untuk kapal ferry, kapal-kapal yang dok ke indusri galangan kapal atau pun kapal nelayan lainnya.

Pantauan di lapangan, siang kemarin (23/9), aktifitas reklamasi yang dikeluhkan warga itu masih berjalan sebagaimana mestinya. Dua alat berat bersama sejumlah truk pengangkut tanah tampak hilir mudik di lokasi reklamasi itu.

Alat berat meratakan tanah perbukitan dekat kawasan PT Book Seng dan truk-truk mengangkut tanah tersebut untuk ditimbun ke laut yang bersebrangan dengan terminal Ferry Marina.

Seorang pekerja saat dikonfirmasi mengaku hanya menjalankan tugasnya sebagai pekerja saja. Sementara bagaimana prosedur reklamasi itu sepenuhnya tanggung jawab pihak pengelola.

“Yang koordinatornya pak Ace. Ke dia saja pak tanyanya,” ujar pekerja pria tersebut.

Sementara Ace sendiri saat dikonfirmasi via telepon mengaku tak tahu menahu lagi dengan kegiatan reklamasi itu.

“Bukan saya lagi penanggung jawabnya pak,” ujar Ace singkat. (eja)

Komplotan Curanmor Ditangkap Polsek Batuampar

0
Empat pelaku Curanmor saat diamankan di Polsek Batuampar. Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos
Empat pelaku Curanmor saat diamankan di Polsek Batuampar. Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos.co.id – Jajaran Polsek Batuampar menangkap komplotan pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Mereka yakni, Sargini, 28, Rijal Sabri, 18, Darmawan Saputra, 18, serta Melki Yanus, 24.

Keempat pelaku memiliki peran berbeda dan beraksi di wilayah Bengkong, Batuampar. Dari tangan pelaku, polisi mengamankan 3 unit motor, kunci keterangan T dan potongan kunci kontak.

Kanit Reskrim Polsek Batuampar, AKP Kahardani mengatakan penangkapan pelaku dilakukan saat unit patroli Batuampar mencurigai keberadaan Sargini dan Darmawan di Kampung Bule, Nagoya. Dari penggeledahan terhadap pelaku, polisi menemukan kunci T yang digunakan untuk mencuri.

“Dari pemeriksaan itu kita lakukan penyelidikan dan diketahui pelaku merupakan pelaku pencurian,” ujar Kahardani, kemarin.

Kahardani menjelaskan ke empat pelaku baru saja melakukan pencurian motor Honda Supra di wilayah Bengkong Laut. Motor tersebut dijual dengan harga Rp 500 ribu.

Dalam aksinya, Sargini bertugas sebagai pemetik, Darmawan dan Rijal sebagai pemantau situasi serta Melki sebagai penadah barang curian.

“Kasus ini masih kita kembangkan. Karena dugaan masih ada laporan dan barang bukti lainnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Sargini mengaku terpaksa melakukan pencurian untuk memenuhi biaya hidup. Ia mengaku sudah melakukan pencurian sebanyak dua kali.

“Sebelumnya pernah mencuri dan tertangkap juga,” ujar resedivis kasus pencurian ini.

Menurutnya, hasil dari penjualan barang curian tersebut dibagi kepada tiga rekannya. “Kami bagi tiga. Ya dapatnya cuma sedikit,” tutur pria lulusan SD ini,” pungkasnya. (opi)

Voffy Andri Tanjung, Kreator Lambang Resmi Pemprov Kepulauan Riau

0
Voffy Indra Tanjung, warga Bintan yang merupakan kreator lambang resmi Provinsi Kepulauan Riau. Foto: Fatih Muftih / Batam Pos.
Voffy Indra Tanjung, warga Bintan yang merupakan kreator lambang resmi Provinsi Kepulauan Riau. Foto: Fatih Muftih / Batam Pos.

Semua tahu tokoh-tokoh yang terlibat dalam pembentukan Provinsi Kepulauan Riau. Semua hapal tanggal resmi berdirinya. Semua ingat sosok gubernur pertamanya. Semua fasih bercerita runut peristiwanya. Satu yang semua lupa; siapa pembuat lambang resminya.

FATIH MUFTIH, Kijang.

Waktu sudah nyaris pukul lima pagi. Ayat-ayat suci dari pengeras suara masjid mulai terdengar. Voffy beranjak dari depan komputer. Semalaman ia terjaga di depan monitor. Mengasah kemampuannya mengoperasikan perangkat lunak Corel Draw. Kata temannya, panitia tidak menerima sketsa lambang yang menggunakan goresan tangan. “Semuanya harus digital,” pesan temannya.

Bukan karena tidak bisa. Tapi Voffy belum terbiasa melukis menggunakan peranti komputer. Pengalamannya selama ini sebatas menggores di atas kanvas maupun kertas. Pekerjaannya saat itu adalah tukang sablon kaos. Namun, keinginan kuatnya untuk belajar menggambar dari komputer melupakan lelah dan kantuknya semalaman. Tenggat pengumpulan karya sudah semakin dekat.

Begadang boleh begadang, asal ada perlunya. Hasil semalaman berkutat dengan Corel Draw di komputer pentium duanya itu mempermudah kerja Voffy menyalin sketsa tangan ke olah digital. Meski tertatih ia mulai mewarnai gambarnya. Sebagian besar bidang dipulas biru. Ada hijau, kuning, putih, dan hitam. Menggambar kapas dan padi. Perahu berlayar. Keris bertangkai burung serindit. Riak gelombang. Satu bintang. Semuanya masuk dalam sebuah bingkai berbentuk serupa perisai.

Setelah rampung, disimpan dalam disket. Dimasukkan dalam amplop cokelat. Dikirimkan ke panitia. Voffy tidak lagi mengingatnya. Kalau memang garapannya dilirik panitia, itu rezekinya. Kalau tidak, ia pun tidak mengapa. “Saya hanya mencoba ikut berpartisipasi saja,” ungkapnya.

Voffy agak nyentrik. Pemuda kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, ini punya rasa cinta dengan daerah di mana ia pernah tinggali. Ia mengoleksi lagu-lagu daerah. Ia menyimpan beragam baju adat. Bahkan, ia juga menguasai bahasa daerah seperti Jawa, Batak, Palembang, Bengkulu, dan sudah pasti Melayu. Cinta ini rupanya yang tidak pernah berkhianat dan salah alamat. Sketsa tangan yang diolah menjadi digital dalam sekotak komputer pentium dua garapan Voffy terpilih sebagai pemenang pertama sayembara.

Hadiah uang tunai yang diterimanya Rp 15 juta. Tapi bukan itu yang bikin girang. “Karya saya bisa memberi manfaat buat orang banyak,” ucapnya.

Sketsa karya Voffy bukan sembarang sketsa. Melalui sebuah sayembara, dua belas tahun lalu, Provinsi Kepulauan Riau yang baru berdiri juga memerlukan lambang resmi sebagai pelengkap administrasi. Melalui pelbagai penyempurnaan, kemudian sketsa Voffy yang terpilih itu ditetapkan sebagai lambang resmi provinsi. Melekat di semua kop surat. Menempel di sebelah kiri pakaian dinas. Tercetak di semua spanduk. Nyaris tidak mungkin semua kegiatan provinsi ada tanpa menyertakan lambangnya, yang merupakan olah kreativitas seorang tukang sablon bernama lengkap Voffy Andri Tanjung itu.

“Karya anak Kijang itu yang paling mendekati dengan apa yang kami cari,” kata Husnizar Hood, perwakilan seniman yang pada sayembara itu menjadi anggota dewan juri.

Setelah lima anggota dewan juri lainnya dari lembaga adat sepakat, tidak ada alasan untuk tidak memenangkan karya Voffy untuk disempurnakan dengan sedikit sentuhan. Dan kemudian diresmikanlah karya Voffy tersebut sebagai lambang resmi Kepri sampai hari ini.
***

Semangat Berbuat untuk Daerah

Batam Pos seolah berjodoh dengan Voffy. Surat kabar ini adalah sumber informasi Voffy tentang sayembara pembuatan lambang resmi Provinsi Kepri. Dari Batam Pos pula ia beroleh kabar kemenangannya. “Dan sekarang, setelah lebih dari sepuluh tahun lomba itu saya diwawancara Batam Pos,” ucap Voffy ditemui di ruang kerjanya di Jalan Hang Jebat, Kijang Kota, Jumat (23/9).

Perbincangan mengenang peristiwa yang telah dua belas tahun berlalu itu bukan hal yang mudah. Ada banyak detil terlupa. Tapi segala yang berkesan masih teringat dalam kepala. Semisal ketika Voffy mesti mengumpulkan bahan-bahan sebagai ide dasar pembuatan lambang resmi Provinsi Kepri.

Ia sadar setiap lambang itu mudah saja menggambarkannya. Namun pemaknaan lain cerita. Sebab itu, ia mesti berkorespondensi dengan tokoh-tokoh adat di dekat tempatnya tinggal. Semisal jumlah ulir keris, model gagangnya, hingga definisi tepak sirih. “Istilah kerennya sekarang riset kali ya. Saya tanya-tanya dengan Pak Saleh dari Lembaga Adat Melayu Bintan,” kenangnya.

Dari diskusi itu kemudian mulai terlintas purwarupa lambang Provinsi Kepri. Untuk keperluan lambang daerah ternyata pertimbangan grafisnya tidak mudah atau seenteng menciptkan lambang komunitas. Kata Voffy, mesti ikut dipikirkan ketebalan setiap garisnya, kemungkinan bila dicetak hitam-putih sebagai kop surat. Termasuk pula saat itu, untuk membentuk bingkainya, Voffy mempertimbangkan keselarasan dan kemenarikan lambang ini bila dilekatkan di seragam dinas.

“Memang kompleks. Ini lambang resmi yang harus bisa digunakan dalam bentuk apapun,” jelasnya.

Tapi semua itu dilakoni Voffy sepenuh hati. Seperti yang diutarakannya berulang kali, betapa cinta ia dengan daerah dimanapun ia tinggali. Kendati kala itu baru setahun menetap di Provinsi Kepri, sudah terniat dalam hatinya ingin berbuat sesuatu untuk provinsi ke-32 ini. Dan tidak pernah terlintas dalam benaknya, bahwa bakti itu terwujud dalam kemampuan tangan dan kreativitas olah pikirnya merancang lambang resmi untuk sebuah provinsi.

Ada jenis kebanggaan yang, kata dia, susah diungkapkan dengan kata-kata. Ke mana pun ia pergi tak pernah terlepas dari matanya lambang Provinsi Kepri melekat dimana-mana. Di tepi jalan, di kantor dinas, kantor gubernur, gedung daerah, spanduk, baliho, pakaian dinas, dan kop surat. Kebanggaan yang cukup baginya disimpan dalam diri dan bisa dikenang hingga nanti dan jadi cerita buat anak-anaknya.

“Karena kalau cuma uang yang dicari, Rp 15 juta itu juga sudah habis untuk sekolahkan adik-adik. Tapi kebanggaan ini akan selamanya ada. Kalau orang tak tahu ya tidak apa-apa. Saya berbuat ini kan buat daerah bukan agar dilihat orang-orang,” ucapnya mantap.

Impiannya hanya satu. Voffy berharap makna lambang yang ia tuangkan bisa terwujud seiring berjalannya waktu. Makna dalam lambang itu diimpikannya sebagai petunjuk mata arah pembangunan provinsi ke depannya.

Voffy ingin melihat Provinsi Kepri ini maju dan sejahtera. Ia ingin berkesempatan merasakan Provinsi Kepri menjadi berani dan terbilang dalam pembangunan ekonomi, kebudayaan, dan pendidikan.

“Setelah 14 tahun berdiri. Saya rasa perkembangan Kepri cukup maju dan pesat. Saya ikut bangga juga dengan itu,” ujarnya.

Sabtu (24/9) pagi ini, Provinsi Kepulauan Riau berulang tahun ke-14. Selama itu pula Voffy tidak pernah mendapat undangan resmi untuk menghadiri perayaan. Namun pada setiap hari jadi provinsi, dalam ingatan dan hatinya ada sejenis kebanggaan yang disimpannya sendiri, yang ia ingat lewat sebingkai lambang provinsi yang ia cetak besar-besar di ruang kerjanya. Juga melalui piagam penghargaan yang masih terpajang di sudut ruang.

Sepaling tidak, Voffy adalah wujud nyata dari petuah Melayu. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Mewakili masyarakat Kepulauan Riau, kami mengucapkan terima kasih. Selamat merayakan Ulang Tahun ke-14 Provinsi Kepri!***