Pustakawan SDN 013 Sagulung, Annisa bersama wakil Kepala Sekolah Syafrizal tengah menyusun buku di taman Bacaan SDN 013 Sagulung. foto: batampos / dalil harahap
Buku adalah gudang ilmu. Dan membaca adalah kuncinya. Pesan itulah yang membuat PT Perusahaan Gas Indonesia (PGN), mendirikan fasilitas taman bacaan dan rumah baca di Kampung Tembesi Tower dan Sekolah SDN 013 Sagulung. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) itu, energi baik PGN digunakan untuk membangun Batam.
YULIANTI, Batam
Siang itu, udara Batam cukup dingin. Di sebuah aula ber-cat biru, dua orang bocah terlihat tengah asyik membaca buku. Kepala mereka tertunduk, sedangkan matanya fokus membaca setiap kata dan kalimat yang tertulis di buku cerita pahlawan bersampul Ki Hajar Dewantara. Dika dan Syahrul, nama kedua bocah itu. Mereka merupakan warga Tembesi Tower, Kelurahan Tembesi, yang cukup rajin menyambangi Taman Bacaan yang diresmikan PT Perusahaan Gas Indonesia (PGN) melalui program CSR-nya pada April 2018 lalu.
“Hari libur atau pulang sekolah rajin ke sini. Baca buku apa saja, mulai cerita rakyat, kisah pahlawan, kisah inspiratif dan penemu,” ujar Dika, saat ditemui di Aula, Jumat, (14/12).
Beragam judul buku terlihat tersusun rapi di dalam rak etalase kaca di sudut aula itu. Etalase itu tidak dikunci, sehingga memudahkan bagi siapa saja yang datang membaca. “Banyak yang di luar sini (Tembesi Tower, red) datang. Apalagi pas kerja kelompok, mereka singgah baca di sini,” kata Dika yang duduk di kelas VII SMP Muhammadyah Batam itu.
Hampir semua buku sudah dibaca mereka. Mulai dari kisah Aristoteles, Soichiro Honda, dan beberapa cerita rakyat lainnya. “Senang kali. Kalau suntuk di rumah bisa datang baca, biar nambah wawasan dan pengetahuan,” kata Syahrul.
Panji, Ketua RW 16, Tembesi Tower mengatakan sejauh ini Taman Bacaan itu dimanfaatkan anak-anak setempat dengan baik. Sejak diresmikan April lalu, anak-anak setempat lebih banyak menghabiskan waktu mainnya di aula tersebut. Tak hanya membaca buku, anak-anak juga kerap mengerjakan tugas di aula itu. “Hari libur atau siap pulang sekolah mereka ke sana. Kalau yang ada tugas sejarah atau yang berkaitan dengan tokoh pahlawan mereka ke sana. Kan di sana banyak buku cerita pahlawan,” katanya.
Ia menilai, fasilitas yang diberikan PGN itu memberikan nilai positif bagi anak-anak. Tak sekedar meningkatkan minat dan budaya baca, melalui Taman Bacaan ini juga, ia ingin anak-anak setempat terus memacu kreativitas dan sensitivitas, karena dengan membaca wawasan akan semakin bertambah. “Kita beri pemahaman kepada anak-anak jika mau jadi orang hebat, harus banyak-banyak baca buku, dan Alhamdulillah, kita diberi PGN fasilitas itu untuk anak-anak kami di sini,” katanya.
Tak hanya warga Tembesi Tower, Program CSR PGN juga menyasar ke sekolah. SDN 013 Sagulung salah satunya yang mendapatkan bantuan CSR berupa Taman Bacaan dan fasilitas pendukung lainnya. Wakil Kepala Sekolah SDN 013 Sagulung, Syafrizal mengatakan Taman Bacaan itu memberikan dampak positif bagi anak didiknya. Pasalnya, sejak diresmikan Oktober 2018 lalu, kunjungan murid ke Perpustakaan cukup tinggi. Artinya minat baca anak-anak juga ikut meningkat.
“Sampai bergilir. Karena ruangannya sempit. Makanya, rencana kami ke depannya mau buat pojok literasi, entah di bawah pohon atau di mana saja dalam area sekolah. Itu untuk memudahkan anak-anak kami mendapatkan akses membaca,” jelasnya.
Selain itu, ratusan buku yang disumbangkan PGN itu juga menjawab semua kebutuhan buku yang selama ini dinilai sangat kurang. Sebelumnya, 1258 muridnya kesulitan mendapatkan informasi melalui bacaan.
“Selama ini sangat kekurangan buku bacaan, baik buku cerita, kurikulum dan lain sebagainya. Tapi sekarang, buku apa saja sudah bisa di akses murid kami. Dan kami harapkan wawasan anak-anak terus tumbuh sehingga mereka bisa meraih cita-cita yang lebih tinggi,” ungkap pria berkacamata tersebut.
Sementara Sales Area Head PGN Batam Amin Hidayat mengatakan PGN, selaku badan usaha rutin memberikan bantuan CSR di setiap wilayah usahanya. Untuk Batam ada empat pilar program yang difokuskan yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan ekonomi kreatif.
“Ada kegiatan UKM, yakni Kelompok Perempuan Kreatif Mandiri (KPKM). Sedangkan kesehatan ada pelayanan mobil sehat serta Posyandu Lansia-Balita. Ditambah dengan pendidikan yaitu taman baca (fun learning) untuk menambah pengetahuan anak-anak setempat,” kata Amin.
Bahkan perusahaan berlabel plat merah tersebut tengah membangun taman tuah melayu di depan Hotel Sydney atau di Jalan H Fisabililah dan yang pertama membuat mural di Simpang Gelael, Batamcenter. Taman yang sudah mulai hijau tersebut dibangun PGN untuk memperindah wajah Kota Batam.
Taman yang dibangun PGN tersebut bukan hanya semata untuk menghiasi wajah kota. Tetapi bisa sebagai sarana untuk menarik wisatawan manca negara. Di mana taman-taman serupa bisa dibangun di objek-objek wisata yang ada di Batam.
“Kegiatan CSR ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat di sekitar wilayah operasi PGN, di mana kehadiran PGN juga diharapkan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” jelas Amin.
Amin menambahkan bahwa taman yang dibangun PGN itu memang merupakan program CSR. Perusahaan tersebut merasa terpanggil untuk ikut dilibatkan dalam memperindah Batam. “Energi baik yang dihasilkan PGN diharapkan berguna bagi pembangunan Batam baik di sektor pendidikan, lingkungan, kesehatan dan ekonomi masyarakat,” tutupnya. (une)
batampos.co.id – Menjelang akhir tahun 2018, Batamindo hanya menyerap 4.552 pekerja. Jumlah tersebut lebih sedikit jika dibandingkan tahun 2017 lalu yang mencapai 12.367 pekerja. Dari data yang diperoleh Batam Pos, tahun 2018, penerimaan terbanyak terjadi pada bulan Mei, yakni 962 orang, kemudian disusul bulan Juli sekitar 758 orang, sementara bulan November hanya menyerap 102 orang. Sedangkan penerimaan yang paling sedikit adalah dibulan October yakni hanya 92 orang.
Selama bulan November ada tiga perusahaan yang merekrut tenaga kerja yakni PT Dynacast, Schneider dan Patlite Indonesia. Masing-masing perusahaan ini merekrut hingga puluhan orang tenaga perempuan. Perusahaan ini juga rutin merekrut tenaga kerja di bulan-bulan sebelumnya.
Manager Admin and General Affair PT Batamindo Investment Cakrawala, Tjaw Hioeng mengaku jika jumlah tenaga kerja yang diambil sesuai dengan kebutuhan masing-masing perusahaan. Sehingga, jumlah pencaker yang diserap setiap bulan tidak menentu.
“Tergantung kebutuhan perusahaan. Kalau memang banyak minta, pasti tenaga kerja juga banyak direkrut,” ujar Tjaw Hioeng yang biasa disapa Ayung ini, Rabu (12/12/2018).
Sebelumnya, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam mencatat ada 25 ribu pencaker yang ada di Batam. Namun setengah dari angka ini sudah terserap di beberapa perusahaan.
Kepala Bidang Penempatan dan Informasi Kerja, Disnaker Batam, Syafrialdi mengklaim jika ketersediaan lowongan kerja mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meski demikian, jumlahnya tidak terlalu signifikan.
“Ada peningkatan walau tak banyak. Ini sangat berdampak bagi pencaker yang setiap hari berusaha mencari pekerjaan,” tuturnya. (une)
batampos.co.id – Kantor Wilayah (Kanwil) Provinsi Kepri memperketat pengawasan terhadap travel atau biro perjalanan ibadah yang beroperasi di Kepri. Hal ini menyangkut keamanan dan kenyamanan calon jemaah.
“Lebih kepada ongkos haji atau umrah yang menjadi pengawasan kami,” kata Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Provinsi Kepri, Mukhlisuddi usai menggelar pertemuan bersama pengusaha travel atau biro perjalanan ibadah di Batam, Kamis (13/12).
Ia mengatakan biaya ibadah harus menjadi perhatian calon jemaah sebelum berangkat. Nilai tukar rupiah terhadap dollar serta fasilitas selama ibadah harus diperhatikan.
“Kalau umrah Rp 14 juta mungkin tak itu. Ke Jakarta saja bisa menghabiskan Rp 5 juta mulai dari biaya perjalanan pulang pergi, penginapan hingga akomodasi,” jelasnya.
Ia menegaskan hingga saat ini memang belum ada ketentuan besaran biaya yang bagi travel yang ditetapkan pemerintah. Kendati demikian calon jemaah tetap harus selektif memilih biro perjalanan haji atau umrah.
“Belum ada batasan. Saat ini rata- rata di atas Rp 20 juta untuk umrah. Kalau ini kan bisa dihitung dan diecermati juga mulai dari nginap dimana dan fasilitas apa saja,” bebernya.
Sebagai instansi yang membawahi perjalanan umrah dan haji, Kemenag memiliki regulasi untuk biro perjalanan ini. Seperti harus jelas keberadaan kantornya di Kepri, memiliki izin pendirian. “Ini bagian dari pengawasan. Selain itu, mau ibadah harus mengantongi surat rekomendasi untuk pembuatan paspor. Jadi kami mengawasi hal ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan saat ini Kepri belum ditemukan travel nakal yang merugikan calon jemaah. Ia berharap ke depan regulasi yang sudah dibentuk ini bisa menghadirkan pelayanan biro perjalanan yang baik bagi calon jemaah.
Ia tak memungkiri masa tunggu yang lama menjadi alasan calon jemaah menggunakan jasa travel. Namun tetap harus diwaspadai dan memilih travel yang sudah mendapatkan legal dari pemerintah.
“Sekarang masa tunggu sudah 18 tahun. Setiap tahun kita hanya dijatah 1.200 jemaah, sedangkan yang daftar di Batam saja sudah mau tujuh ribu orang,” tutupnya.(yui)
batampos.co.id – Sosialiasasi yang dilakukan calon legislatif (caleg) kepada masyarakat masih sangat minim. Padahal pemilihan anggota legislatif daerah tersebut tinggal beberapa bulan lagi. Sejumlah caleg pun mengaku risih dengan pengawasan ketat oleh Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu).
“Susah sosialiasi, Mas. Apalagi kami terus diikuti (Bawaslu). Bagi-bagi hadiah sedikit bisa kena,” kata salah seorang caleg dari wilayah Lubuk Baja Batam Kota, Rabu (12/12).
Menurutnya, bahkan untuk memberikan uang untuk ustad yang hadir mendoakan sosialisasi tidak bisa diberikan karena ketatnya pengawasan Bawaslu. Ia juga mengak, hampir setiap sosialisasi, dirinya diikuti oleh anggota Bawaslu, sehingga membuat risih setiap kali bersosialisasi ke masyarakat.
“Makanya agak malas untuk sosialisasi,” tuturnya.
Caleg di wilayah Sekupang juga mengaku takut setiap kali sosialiasi. Pasalnya, setiap bertemu dengan masyarakat, hanya untuk memberikan barang dalam bentuk baju atau aksesoris lain, ia sudah dilarang bahkan diawasi Bawaslu. Belum lagi adanya permintaan masyarakat pada saat sosialisasi.
“Karena tak dipungkiri setiap kali kami sosialisasi masyarakat minta,” ungkap pria berbadan tegap yang enggan menyebutkan namanya itu.
Selain caleg, keluhan yang sama juga disampaikan anggota DPRD Batam yang mencalonkan diri lagi, Mukriyadi. Menurut dia, minimnya sosialisasi saat ini karena pengawasan ketat banwaslu.
“Agak susah memang. Bagaimana pun masyakat minta kepada caleg yang bersosialiasi. Termasuk dalam bentuk hadiah, baju, maupun dooprise,” sebut Mukriyadi.
Ia mencontohkan sosialiasi yang dilakukan caleg beberapa waktu lalu yang dipergoki Bawaslu saat bagi-bagi hadiah. “Memang sangat terasa kali tahun ini. Buat bagi-bagi hadiah saja kita bisa kena. Gak kasih kepada masyarakat juga kena. Jadi serba salah jadinya,” sesal Mukriyadi. (rng)
Pelabuhan kargo internasional milik Kawasan Industri Kabil. F. Kabil Integrated Industrial Estate untuk Batam Pos
Beberapa kawasan industri di Batam kini banyak menggunakan gas bumi sebagai energi untuk menopang kebutuhan bahan bakarnya. Selain karena aman dan efisien, penggunaan gas bumi nyatanya juga mampu menarik banyak investor asing berbondong-bondong masuk kawasan industri. Dengan banyaknya investasi, maka tak heran pertumbuhan ekonomi Batam kembali menanjak tinggi.
RATNA IRTATIK, Batam
Cerobong asap besar di area pembangkit listrik internal milik Kawasan Industri Batamindo atau Batamindo Industrial Park di Mukakuning, Seibeduk, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) itu berdiri menjulang. Diamati dari jarak sekitar 20 meter, tak ada asap yang mengepul dari cerobong tersebut. Padahal, tepat di gedung sampingnya, terdengar suara bising dari mesin-mesin besar yang dihidupkan. Mesin-mesin itu terhubung dengan pipa cerobong asap tadi. Mesin itu tak lain adalah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG) atau gas engine, pembangkit listrik mandiri milik Kawasan Industri Batamindo.
“Sejak beralih dari BBM (Bahan Bakar Minyak) ke gas bumi, memang tak ada lagi asap hitam di cerobong itu,” kata Brahim Abdullah, Senior Manager Power House PT Batamindo Investment Cakrawala (BIC), pengelola Kawasan Industri Batamindo saat dijumpai Batam Pos, beberapa waktu lalu.
Padahal, kata Brahim, beberapa tahun silam ketika masih menggunakan BBM untuk menghidupkan mesin-mesin pembangkit, kondisi cerobong asap terlihat hitam. Begitu juga dengan asap yang keluar dari mulut cerobong, warnanya pekat saat menyembur ke udara. Namun kini, setelah manajemen memutuskan beralih menggunakan gas bumi sebagai bahan bakar, asap hitam sudah menghilang. “Udara jadi bersih, dan tentunya ramah lingkungan,” kata dia.
Menurut Brahim, Batamindo memang tidak menggunakan suplai listrik dari PT Pelayanan Listrik Nasional Batam (bright PLN Batam), yang merupakan anak usaha dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN Persero). Itu karena, mereka sudah memiliki pembangkit listrik sendiri yang berjenis Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Gas (PLTDG) atau gas engine. Jumlahnya ada 18 unit, masing-masing berkapasitas kurang lebih 6 Mega Watt (MW). Selain itu, ada satu unit mesin turbin gas kapasitas 10 MW. Total kapasitas semuanya 124 MW.
Untuk menghidupkan pembangkit listrik tersebut, Batamindo menggunakan energi dari bahan bakar gas bumi yang disuplai oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Batam.
“Sejak pakai gas, pembakarannya sempurna sehingga tidak menyisakan asap hitam. Berbeda ketika dulu masih pakai solar atau minyak bakar yang biasa disebut HFO (heavy fuel oil), cerobong itu dulu berasap dan hitam,” paparnya.
Menurut General Manager Batamindo, Mook Sooi Wah, penggunaan gas bumi sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik di Kawasan Batamindo membawa beberapa keuntungan sekaligus. Selain tak menyisakan limbah dan ramah terhadap lingkungan, gas bumi juga dinilai lebih efisien ketimbang BBM seperti solar maupun HFO. Dari hitungan bisnis, gas bumi lebih hemat.
“Kita hemat bisa sampai 18 persen setelah beralih ke gas bumi,” kata Mook.
Menurut dia, dalam sebulan Kawasan Industri Batamindo membutuhkan suplai energi dalam jumlah yang cukup besar hingga mencapai 3,1-3,3 juta kilowatt jam (kilowatt hour/kWh). Energi itu digunakan untuk menyuplai kebutuhan listrik yang besarnya mencapai 57 MW saban harinya. Karena itu, kawasan industri seluas 320 hektare (ha) itu mengklaim butuh pasokan bahan bakar yang stabil dan berkelanjutan. Pilihan itu telah jatuh pada gas bumi.
Rata-rata, kata Mook, setiap bulan kawasan industri Batamindo butuh suplai gas bumi sebanyak 360 Million Metric British Thermal Unit (MMBTU). Sedangkan kebutuhan per hari mencapai 11,5 MMBTU.
“Kita butuh yang aman, dan menghasilkan tegangan dan frekuensi yang stabil. Sejauh ini pakai gas bumi cukup bagus,” katanya.
Selain untuk pembangkit listrik, Mook juga menyebut pihaknya telah bekerja sama dengan PGN Batam untuk menyediakan suplai gas bumi bagi kebutuhan operasional masing-masing perusahaan yang berada di kawasan industri tersebut. Misalnya, untuk menunjang kegiatan produksi suatu perusahaan.
“Mayoritas tenant (penyewa) kita merupakan industri manufaktur, jadi ada sebagian yang sudah pakai gas bumi untuk membantu proses produksi,” tuturnya.
Tak hanya itu, lanjut Mook, sebagai kawasan industri di Kota Batam yang harus menunjukkan daya tarik bagi investor asing lantaran berhadapan langsung dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, Batamindo juga mengklaim berupaya menerapkan standar internasional. Antara lain, terkait standar ramah lingkungan dalam penggunaan energi.
“Karena bisa saja satu perusahaan melakukan audit terkait lingkungan. Terlebih bagi perusahaan dari negara-negara Eropa, mereka ada aturan yang harus diikuti, termasuk penggunaan energi ramah lingkungan. Maka itu, Batamindo wajib mendukung standar tersebut,” paparnya.
Dengan pemenuhan kebutuhan energi yang sesuai standar internasional tersebut, pihak pengelola kawasan industri berharap makin banyak investor, terutama arus modal dari mancanegara yang mengalir masuk ke Batam, khususnya ke dalam kawasan industri tersebut.
“Karena efeknya untuk menggerakkan ekonomi. Makin banyak investor masuk, tentu tenaga kerja yang terserap juga makin banyak, ekonomi tumbuh,” ujarnya.
Lantaran begitu pentingnya penggunaan gas bumi bagi Kawasan Industri Batamindo, Mook berharap PGN Batam juga terus menjamin keberlanjutan pasokan gas. Termasuk, jika suatu waktu permintaan gas meningkat lantaran adanya peningkatan kebutuhan, baik itu dari kawasan industri sendiri maupun dari para tenant di dalam kawasan.
“Sejauh ini memang belum pernah ada kendala, suplai masih oke. Ke depan saya harap terus begitu,” kata dia.
Selain Kawasan Industri Batamindo, kawasan industri lain di Kota Batam yang juga menggunakan gas bumi sebagai bahan bakar energi yakni Kawasan Industri Terpadu Kabil atau Kabil Integrated Industrial Estate di Kabil, Nongsa, Kota Batam.
Presiden Director Kabil Integrated Industrial Estate, Peters Vincen mengatakan kawasan industri tersebut telah beralih dari BBM ke gas bumi sejak PGN masuk ke Batam.
“Bahkan grup usaha kita, PT Citra Tubindo Tbk termasuk salah satu pionir yang berlangganan gas bumi di Batam,” kata Peters, beberapa waktu lalu.
Menurut dia, penggunaan gas bumi untuk menopang kebutuhan energi di Kawasan Industri Kabil merupakan suatu keharusan. Pasalnya, kata dia, kawasan industri tersebut mayoritas diisi oleh tenant yang bergerak di bidang industri penunjang minyak dan gas (migas), baik dari dalam dan luar negeri.
“Jadi kita juga harus mengikuti standar HSE (Health Safety Environtment/Keselamatan Kesehatan Kerja Lingkungan Hidup) untuk oil and gas (minyak dan gas), terutama dalam hal penggunaan energi,” paparnya.
Di kawasan industri terluas se-Batam dengan luas area 520 ha tersebut, sambung Peters, gas bumi juga digunakan untuk menghidupkan pembangkit listrik. Saat ini, Kawasan Industri Kabil bekerja sama dengan bright PLN Batam telah memiliki power plant atau pembangkit listrik mandiri yang khusus digunakan untuk kebutuhan listrik di kawasan, dengan kapasitas mencapai 28 MW.
“Bahan bakarnya sudah pasti menggunakan gas bumi,” katanya.
Penggunaan gas bumi juga diklaim lebih hemat dan ekonomis dibanding saat menggunakan BBM, baik itu solar maupun HFO.
“Berdasarkan pengalaman PT Citra Tubindo, penggunaan gas untuk pembangkit listrik lebih efisien 25 persen,” sebutnya.
Selain untuk pembangkit listrik, sambung Peters, gas bumi juga digunakan untuk kebutuhan bahan baku dan penunjang produksi para tenant yang ada di dalam kawasan industri.
“Misalnya PT Natgas (National Industrial Gases) Indonesia, itu bahan bakunya memang gas bumi untuk diolah jadi berbagai variasi produk. Begitu juga beberapa tenant besar yang beralih ke gas untuk menunjang proses produksinya, seperti Bredero Shaw dan Yokohama,” sebutnya.
Menurut Peters, para tenant yang kebanyakan merupakan investor asing memang menghendaki penggunaan energi yang bersih dan ramah lingkungan sesuai standar internasional. Bahkan, beberapa waktu sebelumnya, Peters menyebut calon investor besar yang akan masuk ke Batam dan tertarik untuk menyewa area di Kawasan Industri Kabil mengajukan syarat agar kawasan industri itu menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan. Karena itu, gas bumi jadi pilihan.
“Karena kan memang hampir semua dituntut agar menggunakan yang emisi gas buangnya ramah lingkungan. Makanya kita penuhi itu, sehingga makin banyak yang tertarik masuk ke sini,” ujarnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, kata Peters, deretan investor baru yang juga berkomitmen masuk ke Kawasan Industri Terpadu Kabil antara lain PT Enerco RPO Internasional, PT Agri Energi Nusantara, PT Petro Papua Energi, PT Torrefaction Bioenergy Indonesia, dan PT PTEC Research & Development.
Peters menjelaskan, PT Enerco RPO International saat ini sedang membangun kilang treated distillate aromatic extract (TDAE) dan diestimasikan beroperasi secara komersil sekitar Januari atau Februari 2019. TDAE merupakan produk turunan hasil pengolahan minyak mentah, yang dimanfaatkan untuk bahan baku utama industri ban dan karet sintetis.
“Investasinya mencapai 90 juta US dolar (Sekitar Rp 1,3 triliun, dengan kurs 1 US dolar=Rp 14.500),” sebut Peters.
Selanjutnya, sambung Peters, PT Agri Energi Nusantara bergerak di bidang CPO dan akan membangun pabrik minyak goreng. Sementara PT Petro Papua Energi bergerak di bidang jasa penambangan minyak dan gas alam. “Saat ini menggunakan lahan di Kawasan Industri Terpadu Kabil sebagai open storage untuk reparasi dan maintenance module,” terangnya.
Berikutnya, adalah PT Torrefaction Bioenergy Indonesia, merupakan anak perusahaan dari DSJ Holding Inc di Jepang, yang saat ini menggunakan warehouse di Kawasan Industri Terpadu Kabil dengan luas 10.000 meter persegi. Sebagai tahap awal, untuk pembangunan pabrik cangkang sawit yang digunakan sebagai bahan utama untuk menghasilkan biofuel.
Selanjutnya, ujar Peters, PT PTEC Research & Development adalah anak perusahaan TESS Engineering Jepang dan merupakan grup yang sama dengan PT Torrefaction Bioenergy Indonesia.
“Perusahaan ini akan menjadi perusahaan penelitian dan pengembangan untuk industri kimia organik. Saat ini PT PTEC menggunakan fasilitas warehouse seluas 5.000 meter persegi,” jelas Peters.
Selain penyediaan energi yang ramah lingkungan, Peters juga menyebut kawasan industrinya juga dilengkapi dengan pelabuhan kargo internasional terbesar di Batam, yang terdapat di dalam Kawasan Industri Terpadu Kabil dan dikelola oleh PT Sarana Citranusa Kabil.
“Pelabuhan ini dapat disandari kapal 50.000 dwt dengan draft sedalam 12,5 meter,” jelasnya.
Bagi para investor baru tersebut, lanjut dia, pihak pengelola Kawasan Industri Kabil juga mengaku turut menyampaikan informasi terkait ketersediaan suplai gas bumi di dalam kawasan. Sehingga, sewaktu-waktu para tenant membutuhkan sambungan gas bumi, akan lebih mudah dan cepat.
“Kerja sama kita dengan PGN bagus sekali, jadi kalau ada yang butuh informasi soal gas, kita undang PGN untuk memberikan informasi secara langsung,” ujarnya.
Meski begitu, Peters berharap agar harga gas bumi untuk industri juga mengalami penyesuaian. Mengingat, kata dia, harga gas di negara tetangga yang juga memiliki kawasan industri dan berlomba menarik investor seperti Malaysia dan Vietnam, tergolong kompetitif.
“Harga gas ke tenant-tenant kami sesuai rate resmi dari PGN adalah 7,20 US dolar per MMBTU sampai dengan 7,38 per MMBTU,” sebut Peters.
Selain kawasan industri Batamindo dan Kabil, PGN juga telah mengalirkan energi gas bumi ke beberapa kawasan industri lain di Batam. Antara lain, Panbil Industrial Estate, Taiwan International Park, Tunas Industrial Estate, Cammo Industrial Park, Executive Industrial Park, Latrade Industrial Park, dan Bintang Industri.
PGN juga telah memasok gas bumi untuk 4.842 pelanggan di wilayah Batam. Rinciannya, 93 industri dan komersial, 29 pelanggan kecil, serta 4.720 pelanggan rumah tangga. Sementara, pipa gas bumi yang dimiliki dan dioperasikan PGN di Batam sepanjang 223,57 kilometer (km).
Sebagai kota yang menjadi sentra penggerak ekonomi di Provinsi Kepri, Batam memang menjadi tumpuan harapan. Banyak industri maupun kawasan industri yang beroperasi di kota ini. Tak heran, Batam kemudian mendapat predikat sebagai kota industri.
Namun sayangnya, ekonomi Batam dan Kepri pada umumnya sempat terempas saat krisis global menghantam sejak sekitar dua tahun terakhir. Data dari Badan Pusat Statistik Kepri menyebut, pada triwulan I tahun 2017 lalu, ekonomi Kepri hanya tumbuh 2,02 persen (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,24 persen (yoy). Bahkan, di triwulan II-2017, pertumbuhan ekonomi Kepri terseok-seok di angka 1,04 persen (yoy), terburuk sepanjang sejarah provinsi ini terbentuk.
Tercatat, tiga sektor andalan Kepri mengalami keterpurukan, yakni industri pengolahan, konstruksi dan pertambangan-penggalian yang turun sangat signifikan. Bahkan, industri pengolahan dan pertambangan mengalami kontraksi (pertumbuhan minus), terburuk dalam tujuh tahun terakhir. Imbasnya, banyak terjadi pemutusan tenaga kerja dan meningkatnya jumlah pengangguran dalam kurun dua tahun terakhir.
Namun, kondisi itu perlahan-lahan berubah. Pertumbuhan ekonomi Batam dan Kepri kembali pada trek positif dan menunjukkan peningkatan dalam setahun belakangan ini. Salah satu penyebabnya, karena banyaknya investasi yang masuk.
Merujuk data dari Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kepri, setelah mengalami perlambatan yang cukup signifikan pada 2017, ekonomi Kepri menunjukkan kinerja yang membaik pada 2018. Secara kumulatif Triwulan I sampai dengan III tahun 2018, ekonomi Kepri tumbuh sebesar 4,24 persen (yoy), lebih baik dibandingkan kumulatif Triwulan I sampai dengan III tahun 2017 sebesar 1,82 persen (yoy).
Dari sisi pengeluaran, penguatan ekonomi Kepri terutama disebabkan oleh penguatan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB), yang memiliki porsi sebesar 43,18 persen terhadap perekonomian Kepri. Pertumbuhan investasi Triwulan I sampai dengan III tahun 2018 tercatat sebesar 10,12 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya tumbuh sebesar 3,84 persen (yoy).
“Sejak 2013 hingga Triwulan III tahun 2017, pertumbuhan investasi cenderung menurun sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi Kepri. Tapi pada 2018, investasi mulai tumbuh menguat dibandingkan periode 2013-2015,” kata Kepala BI Kepri, Gusti Raizal Eka Putra.
Karena itu, untuk menarik makin banyak investasi, beberapa kawasan industri di Batam terus bersolek dan melengkapi persyaratan yang diperlukan agar investor tertarik menanamkan modalnya di Batam. Salah satunya, dengan menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan dan sesuai standar global.
Sementara itu, pihak PGN Batam menyambut baik makin banyaknya kawasan industri di Batam yang menggunakan gas bumi untuk mendukung operasional maupun memenuhi kebutuhan energi di dalam kawasan industri di seluruh Batam.
Sales Area Head PGN Batam, Amin Hidayat mengatakan PGN Batam berkomitmen untuk menyediakan pasokan gas bumi bagi seluruh pelanggan di Batam. Menurut dia, penyediaan energi bagi sektor industri merupakan amanat dari sisi bisnis perusahaan. Karena itu, PGN juga menjamin kecukupan pasokan, termasuk jika terjadi kenaikan jumlah pelanggan dari kawasan industri di Batam.
“Kita akan layani berapapun kebutuhan pelanggan. Bahkan, kita sanggup melayani suplai dua kali lipat dari jumlah pelanggan saat ini,” kata Amin.
Selain untuk kawasan industri, PGN uga menyatakan komitmennya untuk mengakomodir kebutuhan pelanggan gas untuk sektor industri umum baik itu yang berskala besar maupun kecil. Begitu juga untuk sektor komersial, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) serta bagi kalangan rumah tangga di Batam.
Meski begitu, pihak PGN Batam menyatakan keinginan besarnya agar dapat menjangkau lebih banyak lagi pelanggan di seluruh Batam. Mengingat, belum semua kalangan bisa menikmati gas bumi karena keterbatasan infrastruktur pipa gas bumi.
“Kita memang hari ini belum menjangkau seluruh calon pengguna gas, itu memang terkait layanan jangkauan penggunaan pipa, makanya kita sediakan SPBG (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas),” katanya.
SPBG yang berlokasi di Belian, Batam Center, Kota Batam itu memang digadang untuk memenuhi kebutuhan gas bagi sektor yang belum terlayani sambungan pipa gas PGN Batam.
“Dari SPBG itu, kita siap menyediakan gas untuk kebutuhan transportasi kendaraan. Kita juga siap untuk mengirimkan gas terkompresi untuk kebutuhan lainnya, seperti komersial dan industri,” ujar Amin.
Terkait harga, Amin mengatakan PGN Batam menerapkan harga yang standar bagi kawasan industri. Harga tersebut dinilai sudah mencerminkan harga keekonomian.
“Harga gas industri di Batam masih lebih kompetitif dibanding daerah lain di luar Batam,” kata dia. (*)
Sebagai operator air kelas dunia, ATB mampu menunjukan eksistensinya dari berbagai hal. ATB mengelola air bersih bagi penduduk Batam, jadi percontohan banyak perusahaan air di Indonesia. Tidak hanya dari sisi teknis, transparansi pelayanan berjalan dengan baik.
Berbagai bidang dan kategori di level nasional di peroleh ATB, yang terbaru ATB mendapatkan SNI ISO/IEC 17025:2017 untuk laboratorium kalibrasi meter. Lab kalibrasi meter ATB mendapat pengakuan Sistem Manajemen Laboratorium (SML) sesuai standar internasional.
“Ini murni dari komitmen pimpinan ATB untuk memastikan proses maupun hasil lab kalibrasi memenuhi standar yang dipersyaratkan. Lab kalibrasi ATB memperoleh SNI ISO/IEC 17025:2017 yang merupakan versi terbaru,” jelas Maria Jacobus, Head of Corporate Secretary ATB, Jumat (14/12).
Maria melanjutkan, sertifikasi ini adalah bentuk bukti legal bahwa lab ATB diakui melalui hasil penilaian audit Komite Akreditasi Nasional (KAN) dari Badan Standarisasi Nasional (BSN). Memperoleh upgrade lanjutan ISO/IEC 17025:2017 menjadikan proses operasional laboratorum kalibrasi ATB akan lebih efektif dan efisien.
“ISO/IEC 17025:2017 ini jadi bagian penting yang harus dipenuhi, sekaligus memberikan jaminan bahwa ATB memiliki laboratorium kalibrasi yang telah diakui dan akurat secara internasional, untuk meter air yang digunakan pelanggan. Begitu juga untuk metode kalibrasi dan hasil kalibrasi tertelusur ke standar internasional” ujar Maria.
Secara pencapaian sertifikasi ISO/IEC 17025:2017 tidak di dapat dengan mudah. ATB yang sebelumnya telah mendapatkan SNI ISO/IEC 17025:2008 melakukan beberapa rangkaian proses audit lanjutan. Dorongan ini juga diperkuat oleh kewajiban yang telah ditentukan KAN bagi lab yang sudah terakreditasi untuk segera melakukan upgrading.
“Hasil dari audit pada November lalu Laboratorium Kalibrasi kita dinyatakan memenuhi syarat untuk mendapatkan SNI ISO/IEC 17025:2017. Keberhasilan ATB memanuhi syarat tidak lepas dari kerja keras semua tim lab kalibrasi,” ucapnya.
Selain itu, persyaratan baru dalam penerapan IISO/IEC 17025:2017 juga mensyaratkan ketidakberpihakkan dan kerahasiaan terhadap perusahaan. Kondisi ini jadi tantangan bagi tim yang ada di lab kalibrasi ATB untuk melakukan kajian secara komprhensif.
“Melalui sertifikasi ISO/IEC 17025:2017 ini juga menentukan resiko dan peluang apa yang mempengaruhi lab kalibrasi mulai dari kepala lab, supervisor maupun manajemen. Kevalidasian hasil pengujian termasuk kerahasiaan terkait dengan hasil kalibrasi meter yang kita punya,” jelas Maria.
Mendapat pengakuan teregister di KAN, sertifikasi lab kalibrasi ATB berdampak positif pada reputasi perusahaan. Beberapa parameter yang telah melalui masa audit berkontribusi untuk penilaian pencapaian yang di terima ATB, yang terbaru ATB mendapat penghargaan Platinum di SNI Award 2018.
Pada sisi lain manfaat sertifikasi lab kalibrasi ATB tentunya akan dirasakan pelanggan. Penggunaan meter air yang telah melalui proses lab kalibrasi, akan memberikan hasil yang akurat. Hal ini akan berpengaruh kepada tingkat kepercayaan pelanggan pada pelayanan ATB. Kalibrasi sendiri bagi ATB merupakan sebuah investasi dalam memberikan service excellence kepada pelanggan.
“Secara performa Lab Kalibrasi ATB sudah memenuhi syarat yang ditentukan, jadi sebuah jamian kepada pelanggan, pembacaaan meter pelanggan jadi lebih akurat,” ucap Maria.
Sertifikasi ISO yang di peroleh ATB merupakan sebuah fenomena yang menggembirakan, mengingat ISO/IEC 17025:2017 merupakan sebuah standar yang diakui secara internasional. Hasil kalibrasi yang dilakukan oleh laboratorium ATB yang telah memiliki sertifikasi ISO/IEC 17025 dapat dengan mudah diakui oleh berbagai pihak diseluruh dunia. (*)
ANGGOTA UMKM binaan PT PGN mengemas keripik singkong, beberapa waktu lalu. Melalui Program Bina Desa, PGN mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi PGN. f.Dalil Harahap/Batam Pos
Energi baik PT PGN mengalir hingga ke Pulau Lance, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. Bukan dalam rupa gas bumi, kali ini PGN menyalurkan energi kewirausahaan untuk meningkatkan ekonomi dan kualitas hidup warga di pulau yang dihuni sekitar 50 kepala keluarga (KK) itu.
SUPARMAN, Batam
Setelah satu jam lebih menempuh jalur darat dan laut, akhirnya sampai juga perjalanan ke Pulau Lance, Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung, Kota Batam, Sabtu (8/12) pagi. Meski hari masih pagi, namun aktivitas warga di pulau kecil itu sudah mulai ramai.
Di pelabuhan, terlihat sejumlah pekerja tengah menggesa pembangunan dermaga baru. Sementara beberapa perempuan sibuk membersihkan jaring dari karang dan sampah yang menempel.
Kesibukan juga terlihat di kediaman Manaf Ismail, Ketua RT 004 Pulau Lance. Pagi itu, sejumlah ibu-ibu tengah membuat keripik singkong. Mereka berbagi tugas. Ada yang bertugas memotong singkong, menggoreng, dan membungkusnya ke dalam kemasan plastik transparan.
Sebelum dibungkus, keripik singkong itu diberi varian rasa. Ada yang dibumbu sambal balado, ada yang rasa barbeque, rasa jagung bakar, dan ada juga yang original.
“Sudah setahun ini kami jalani kegiatan ini,” kata Nurni, istri Ketua RT 004 Pulau Lance, Sabtu (8/12) lalu.
Nurni menceritakan, pembuatan makanan ringan berupa keripik singkong aneka rasa ini merupakan kegiatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Snack Lance yang dibina PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk melalui Program Bina Desa. Selain memberikan pelatihan kepada para ibu rumah tangga di Pulau Lance, PGN yang menggandeng Kelompok Perempuan Kreatif Mandiri (KPKM) juga memberikan modal dan peralatan usaha.
Ada beberapa ibu rumah tangga di Pulau Lance yang dilibatkan. Kediaman Ketua RT 004 dijadikan rumah produksinya.
“Hasil produk kami dijual hingga Pulau Batam,” kata Nurni yang merupakan Ketua UMKM Snack Lance ini.
Wanita yang akrab disapa Nur ini mengatakan, hasil penjualan UMKM Snack Lance ini tidak menentu dalam sebulannya. Namun ia menyebut sudah cukup untuk membantu menambah penghasilan para ibu rumah tangga di pulau tersebut.
“Lumayan untuk membantu suami,” kata Nur.
Hal ini diamini Manaf Ismail, suami Nur yang juga Ketua RT 004 Pulau Lance. Menurut Manaf, melalui Program Bina Desa PGN ini, para ibu rumah tangga di Pulau Lance kini bisa menghasilkan uang. Mereka bisa membantu keuangan keluarga.
“Selama ini mereka hanya ibu rumah tangga biasa, tidak punya penghasilan,” kata Manaf.
Kehadiran Program Bina Desa ini, kata Manaf, sangat membantu perekonomian warga Pulau Lance. Sebab selama ini keuangan keluarga warga Pulau Lance hanya mengandalkan penghasilan dari para suami yang semuanya bekerja sebagai nelayan.
Padahal penghasilan seorang nelayan tidak menentu. Apalagi semua nelayan di Pulau Lance merupakan nelayan tradisional.
Selain melakukan pendampingan dan pembinaan UMKM, Program Bina Desa PGN juga menggelar beberapa kegiatan di Pulau Lance. Mulai dari posyandu untuk balita dan manula hingga koperasi simpan pinjam.
Di koperasi ini, warga bisa menabung dan meminjam uang untuk kebutuhan sehari-hari atau keperluan yang sifatnya mendadak. Manfaat dari kehadiran koperasi ini sangat dirasakan warga, terutama di saat musim angin utara antara bulan November hingga Maret.
“Kalau musim angin utara tiba, nelayan tak bisa melaut. Otomatis penghasilan warga tidak ada. jadi bisa dibantu dari hasil penjualan snack dan pinjaman dari koperasi,” kata Manaf.
Program Bina Desa PGN ini tidak hanya dijalankan di Pulau Lance. Ketua KPKM Verawati mengatakan, ada tiga lokasi pelaksanaan Program Bina Desa ini. Yakni di Pulau Lance, di Tanjung Gundap, dan di Tembesi Tower.
Jenis kegiatannya sama. Yakni pendampingan dan pelatihan UMKM, posyandu manula dan balita, dan koperasi simpan pinjam. Khusus di Tembesi Tower, ada program taman bacaan dan rumah baca dan kegiatan pelestarian lingkungan.
Untuk jenis produk yang dihasilkan berbeda-beda. Jika di Pulau Lance menghasilkan keripik singkong aneka rasa, UMKM binaan PGN di Tanjung Gundap menghasilkan aneka kerupuk olahan hasil laut. Seperti kerupuk sotong, kerupuk ikan, kue layar, dan lain sebagainya.
Di Tanjung Gundap ada tiga kelompok UMKM binaan PGN-KPKM. Produk dari ketiga kelompok UMKM ini berebeda-beda. Hasil produk mereka dipasarkan ke beberapa wilayah di Batam.
“Program ini baru jalan setahun. Tapi manfaatnya sudah cukup dirasakan warga,” kata Verawati, Senin (10/12) lalu.
Menurut Verawati, program ini sengaja menyasar kaum perempuan. Terutama para ibu rumah tangga yang selama ini memang tidak memiliki usaha ataupun pekerjaan yang bisa menghasilkan uang.
“Melalui program UMKM ini, mereka bisa membantu para suami meningkatkan pendapatan keluarga,” kata dia.
Sementara Sales Area Head PGN Batam Amin Hidayat mengatakan, Program Bina Desa ini merupakan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PT PGN. Awalnya, program ini hanya berupa pemberian modal usaha bagi warga Pulau Lance dan sekitarnya.
“Kenapa kami pilih Pulau Lance, karena pulau ini dekat dengan kegiatan operasional kami, yakni stasiun gas Panaran,” kata Amin, Kamis (14/12).
Selain itu, sejumlah fasilitas dan infrastruktur milik PGN juga melintas di perairan laut di sekitar Pulau Lance. Seperti jaringan pipa gas bumi dari Sumatera Selatan, juga jaringan fiber optic milik PGN.
Selama ini, kata Amin, warga di Pulau Lance turut menjaga fasilitas tersebut. Mereka juga sering menginformasikan jika ada kegiatan labuh jangkar kapal di sekitar Pulau Lance yang dianggap membahayakan fasilitas PGN.
“Makanya, kami mengadakan Program Bina Desa ini di Pulau Lance. Supaya warga di sana bisa merasakan langsung manfaat dari kehadiran PGN,” kata Amin.
Namun Program Bina Desa ini kemudian berkembang dalam empat pilar kegiatan. Yakni ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.
Melalui pilar ekonomi, Program Bina Desa menjalankan sejumlah program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Di antaranya berupa pembinaan UMKM dan pemberian modal usaha serta perlengkapan usaha bagi warga di Pulau Lance, Tanjung Gundap, dan Tembesi Tower.
Di pilar kesahatan, Bina Desa PGN mengadakan posyandu gratis bagi kaum lanjut usia dan balita di tiga wilayah itu. Sementara pada pilar pendidikan, program ini menghadirkan taman baca di Tembesi Tower.
Sedangkan pada pilar lingkungan, Bina Desa PGN menjalankan sejumlah agenda pelestarian lingkungan. Antara lain melakukan penanaman bakau atau mangrove di sejumlah titik di pesisir pantai di Batam.
Melalui Program Bina Desa ini, lanjut Amin, PGN ingin berkontribusi nyata dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Juga meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah operasi PGN. Terutama warga pesisir yang selama ini jauh dari akses kesehatan, pendidikan, dan program pemberdayaan perekonomian.
“Ini energi baik yang lain dari PGN. Wujudnya bukan gas bumi, tapi semangat dan komitmen meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” kata Amin. ***
Mansar, 55, warga Tanjungriau menangkap ikan menggunakan bubu di kelongnya di karangtumpuk, Pulau Seloko, Tanjungriau, Sekupang. F Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Menjelang Natal dan Tahun Baru, inflasi akan menghantui Batam. Penyebabnya adalah semakin langkanya pasokan ikan segar dan sayuran di Batam.
“Mencermatposi perkembangan inflasi terkini, Desember 2018 diperkirakan akan mengalami inflasi. Ada sejumlah potensi risiko pendorong inflasi di Kepri,” kata Wakil Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kepri, Gusti Raizal Eka Putera, Rabu (12/12/2018).
Sejumlah faktor yang akan mendorong inflasi menjelang akhir tahun antara lain curah hujan dan gelombang tinggi yang secara musiman akan berlanjut sampai dengan awal tahun 2019 dapat memicu kelangkaan pasokan ikan segar, menghambat jalur distribusi bahan makanan serta berdampak pada produksi sayuran.
“Faktor lainnya adalah peningkatan permintaan komoditas bahan kebutuhan pokok menjelang Natal dan Tahun baru, sehingga harus dijamin ketersediaan dan kelancaran pasokan distribusinya,” katanya.
Makanya, untuk mencegah agar inflasi tidak naik dengan tajam, TPID akan mencoba membuat studi kelayakan bisnis pertanian bayam menggunakan greenhouse, sehingga keberlangsungan produksi bayam dapat lebih terjamin.
“Kemudian melakukan pemantauan pasokan secara berkala untuk menjamin ketersediaan bahan makanan serta menghindari penimbunan,” ucapnya.
Langkah berikutnya melakukan inspeksi mendadak (sidak) bersama dengan BP POM dan distributor untuk mencegah peredaran makanan kadaluarsa. Lalu mengintensifkan kerja sama antar daerah yang telah disepakati untuk memenuhi peningkatan kebutuhan pasokan bahan makanan menjelang akhir tahun dan menggelar operasi pasar dan pasar murah untuk stabilisasi harga.(leo)
batampos.co.id – Bandara Hang Nadim Batam akan membangun sejumlah posko pengamanan untuk menyambut Natal dan Tahun Baru 2019. Tujuannya adalah untuk menjaga kelancaran arus mudik.
“Sesuai dengan rapat di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dua minggu lalu, maka Kemenhub perintahkan Hang Nadim bangun posko,” kata General Manager Umum Badan Usaha Bandara Udara (BUBU) Hang Nadim, Suwarso, Rabu (12/12) di Mediacentre BP Batam.
Suwarso mengatakan pihaknya akan membangun dua posko yakni di depan pintu keberangkatan dan kedatangan dan satu lagi di dalam bandara.
“Posko di depan pintu nanti dikomandoi Polsek Bandara. Disana nanti ada polisi, TNI AU, pramuka, BMKG dan lain-lain,” ungkapnya.
Sedangkan posko di dalam bandara berfungsi untuk melaporkan pergerakan situasi terkini, antara lain laporan harian penumpang, penambahan extra flight dan lainnya.
“Posko ini akan dimulai pada 20 Desember nanti dan akan berlangsung sampai dengan 6 Januari 2019,” ungkapnya.
Selain itu, pihak bandara juga akan memindahkan ruangan Bea Cukai dan Avsec dari ruangan check-in menuju ke lokasi pintu kedatangan. Tujuannya adalah untuk mempermudah pengawasan penumpang.
Untuk penerbangan tambahan, Suwarso mengatakan Sriwijaya Airlines akan mengagendakannya.
“Untuk arus mudik Natal dan Tahun Baru ini, hanya Srwijaya yang tambah penerbangan. Tapi masih menunggu izin Kemenhub,” paparnya.
Sriwijaya akan menambah satu kali penerbangan di jam malam setiap hari Sabtu dengan tujuan Batam-Jakarta-Batam.
“Penambahan ini diperlukan karena diperkirakan penumpang akan padat di H-2 sekitar tanggal 22 dan 23 Desember. Serta arus balik pada 4 atau 5 Januari nanti,” ucapnya. (leo)
batampos.co.id – Bu Menteri Keuangan, Sri Mulyani geram.
Ia menyebut masih banyak pejabat pemerintah daerah (pemda) yang menjadikan perjalanan dinas ke Jakarta untuk mencari tambahan pemasukan melalui surat perintah jalan (SPJ). Hal itu tercermin dari rutinnya pejabat itu datang ke Ibu Kota.
“Ini saya sampaikan ke pemda agar pemda tidak harus selalu datang ke pusat hanya untuk mencari tahu, untuk mengurus (dokumen), dan melobi. Saya punya statisitiknya ada beberapa pemda yang rajin banget ke pusat. Saya suspect supaya dapet SPJ,” ujarnya di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (10/12/2018).
Menurutnya, sebanyak 23 persen dari total belanja pemda digunakan untuk jalan-jalan. Kondisi itu semakin diperkuat ketika dirinya menyebutkan ada pejabat daerah yang datang ke Kementerian Keuangan hingga 46 kali dalam setahun.
“Saya mencatat siapa yang datang ke Kementerian Keuangan untuk urusan apa, ketemu siapa, dan dalam rangka mengurus isu apa. Mereka rajin ke sini dalam setahun dan datengnya tidak sendiri atau berdua, tapi rombongan. Ini yang di atas 40 kali sudah nggak make sense,” jelas dia.
Menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu, anggaran perjalanan dinas yang dilakukan oleh pejabat daerah dengan berlebihan merupakan pemborosan anggaran. Padahal, uang itu bisa digunakan untuk meangun infrastruktur dan meningkatkan pelayanan.
“Jadi ongkos 46 kali ke pusat itu bisa dipakai untuk bangun jembatan, memperbaiki pasar, air bersih dan itu semua sangat berguna bagi masyarakat. Saya mohon pemda untuk mengurangi ke pusat,” pungkasnya.