Sabtu, 2 Mei 2026
Beranda blog Halaman 11707

5 Ribu Orang Nyanyi Bareng

0

batampos.co.id – Ribuan masyarakat Batam memadati Bundaran BP Batam untuk mengikuti acara Nyanyian untuk Negeri, Sabtu (10/11). Acara ini digelar untuk menyambut Hari Pahlawan sekaligus membangkitkan jiwa nasionalisme gene-rasi muda Batam.

”BP Batam mendapat ide dari Kowan Batam Pecinta NKRI. Acara ini penting karena dapat membangkitkan rasa nasionalisme. Batam akan menyanyi untuk Indonesia,” kata Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo.

Batam terdiri dari masyarakat multietnik. Lukita mengungkapkan bahwa karena hal itulah Batam menjadi unik. Meskipun beragam suku dan bahasa, Batam tetap menjadi kota yang nyaman bagi masyarakatnya.

”Kita akan nyanyikan lagu perjuangan yang diaransemen Addie MS. Untuk menunjukkan harapan bahwa Indonesia itu aman dan bersatu,” paparnya.

Menurut Lukita, ada 5.000 orang yang bernyanyi. Dan acara ini semakin menarik karena juga dimeriahkan oleh Andra The Backbone. ”Ini semangat BP Batam untuk Indonesia,” imbuhnya.

Khusus untuk BP Batam, ada nilai tambah yang diperoleh dari penyelenggaraan acara ini.

”Pertama dari segi kekompakan panitia, karena persiapannya tidak lama. Dan kedua ingin menyampaikan bahwa Batam itu aman,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, komposer terkenal Addie MS yang memimpin acara ini mengatakan menjadi suatu kehormatan bagi dirinya untuk mengikuti gelaran ini.

”Saya terharu saat dihubungi Kowan untuk pimpin lagu perjuangan. Saya tidak sangka akan ke Batam, karena ini unik. Saya berdiskusi dan ternyata punya visi dan misi yang sama,” katanya.

Adapun nyanyian yang ditampilkan ada lima, antara lain Indonesia Raya, Berkibarlah Benderaku, Rayuan Pulau Kelapa, Mars Pancasila dan Syukur.

”Anak-anak sekolah zaman sekarang jarang yang tahu lagu perjuangan. Kita berharap setelah malam ini akan menjadi viral dan menjalar kesana kemari. Tidak hanya untuk malam ini saja,” tegasnya.

Momen ini akan menjadi momen yang langka karena sangat jarang sekali lagu perjuangan di-nyanyikan secara massal.

”Langkah ini sangat nyata bukan seperti teori di sekolah saja. Orang belum pernah menyanyikan lagu perjuangan secara bersama-sama,” ungkapnya.

Selain acara Nyanyian untuk Negeri, BP juga mengundang Andra The Backbone untuk menghentak panggung musik Batam.

Acara ini juga dikemas sepaket dengan acara Car Free Night (CFN), dimana ada ratusan stan bazar kuliner. Dan terakhir ada juga kegiatan amal yakni malam peduli Batam untuk Palu dan Donggala.(leo/jpg)

Nelayan Aceh Ditangkap Angkatan Laut Myanmar

0

batampos.co.id – Total 16 orang awak kapal Nelayan KM Bintang Jasa asal Aceh ditahan oleh Kantor Kepolisian Kota Kawthaung, Provinsi Tanintharyi di selatan Myanmar setelah disergap oleh Patroli Angkatan Laut Myanmar pada Rabu (7/11) lalu.

KBRI Yangon yang menerima informasi tersebut segera mengirimkan tim beranggota-kan 3 orang yakni 1 orang diplomat dan 2 orang staf lokal dari Ibukota Myanmar Yangon ke Kawthaung. Namun, tim menemui kendala karena penerbangan ke Kawthaung penuh karena sedang peak season.

“Akhirnya kami menempuh jalur darat. Jarak Yangon-Kawthaung sekitar 850 kilometer,” kata Dubes Indonesia untuk Myanmar Iza Fadri, Sabtu (10/11).

Iza mengatakan, tim melaporkan mereka telah sampai di Kawthaung tadi malam (10/11). Hari ini, mereka akan bergerak menuju kantor kepolisian dimana 15 dari total 16 ABK diperkirakan sedang ditahan.

Iza mengatakan, para nelayan tersebut kedapatan memasuki perairan Myanmar tanpa izin. Kemungkinan ada permasalahan dengan imigrasi. Namun Iza belum bisa memastikan apa tujuannya. Kebetulan saat itu sedang ada patroli Angkatan laut Myanmar sehigga mereka disergap dan dibawa ke Kawthaung. AL kemudian menyerahkan mereka ke Kantor Kepolisian untuk diproses.

Melalui kontak radio terak-hir sempat terdengar suara letusan senjata sebelum putus kontak. Iza belum bisa mengkonfirmasi. Namun ia mengatakan bisa jadi itu adalah tembakan peringatan dari AL Myanmar saat mereka mendekat.

Dari 16 awak kapal, 1 orang dipastikan telah meninggal. Namun Iza juga belum menerima laporan siapa namanya. Informasi sementara, ke 16 kru mencebur ke laut saat tentara AL Myanmar mendekati mereka.

“Mungkin karena takut, jadi nyebur nah 1 orang yang meninggal ini katanya tidak bisa berenang,” kata Iza. Korban meninggal ini diketahui sudah dikuburkan di Kawthaung.

Ia mengatakan, KBRI Yangon telah melakukan komunikasi dengan Kepala Polair Ka­wthaung, yang membenarkan penahanan kapal dan awaknya namun belum memberikan informasi secara detail. KBRI juga telah melakukan koordinasi dengan pihak Kepolisian Laut Myanmar dan Kementerian Luar Negeri Myanmar untuk mendapatkan akses kekonsuleran. Pada Jumat (9/11) KBRI telah menyampaikan nota verbal ke Kemlu Myanmar.

Sambil menunggu konfirmasi dari Kemlu Myanmar, KBRI Yangon menugaskan tim untuk mencari informasi ke kantor Kepolisian kota Kawthaung melalui jalan darat. Perjalan ditempuh sekitar 21 jam.(tau/jpg)

Tergiur Hadiah Utama

0

batampos.co.id – Pencinta gowes dari kawasan Piayu terbilang banyak. Hampir setiap perumahan di kawasan tersebut memiliki komunitas gowes. Bahkan, para komunitas gowes peru­mahan di Piayu ini membuat satu komunitas gabungan bernama Group Gowes Piayu (GGP).

“GGP gabungan dari semua komunitas gowes yang ada di Piayu, anggotanya lebih dari 300 orang,” kata Adi Susanto, koordinator GGP, Sabtu (10/11).

Untuk acara funbike night yang akan digelar Batam Pos dan BP Batam, Sabtu (24/11) nanti, GGP tidak mau ketinggalan. Saat ini, sudah ada lebih 50 peserta yang mendaftar.

“Kemungkinan besar peserta dari kami akan bertambah lagi. Berkaca dari kepesertaan di event funbike sebelum-sebelumnya sering ratusan peserta yang ikut dari GGP,” terangnya.

Di samping itu, Adi juga mengaku banyaknya peserta yang ikut didorong dengan adanya doorprize yang disediakan. “Tidak dipungkiri, hadiah itu juga berpengaruh. Apalagi ini ada mobil, mana tahu satu dari kami bisa bawa pulang hadiah utama itu,” ujar Adi.

Ia juga mengharapkan, dalam pengundian doorprize dapat dilakukan di pertengahan acara. Agar tidak membuat peserta menunggu terlalu lama, bahkan hingga larut malam.

“Kami datang cukup jauh. Ini juga menyangkut keselamatan masyarakat,” tuturnya.(nji)

Sejauh Ini Hanya 121 Peserta Lolos SKD

0
Para peserta tes CPNS di Batam.
foto: batampos.co.id / cecep mulyana

batampos.co.id – Mendekati berakhir-nya waktu pelaksanaan tes Computer Assisted Test (CAT) calon pegawai negeri sipil (CPNS), jumlah peserta yang lolos masih jauh dari kuota yang disediakan oleh pusat.

Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Batam, Sahir mengatakan kesempatan masih sangat terbuka bagi peserta yang belum mengikuti tes CPNS. Data terakhir yang diterima baru ada 121 peserta yang berhasil lolos tahap seleksi kompetensi dasar (SKD) dari 3.345 peserta.

Pemko Batam sendiri diberikan kuota 363 formasi dengan total pelamar mencapai 5.339 peserta. Melihat situasi saat ini, kesempatan bagi pelamar lainnya masih terbuka lebar.
Tes akan digelar hingga 17 November mendatang. Selanjutnya peserta yang lolos tahap SKD akan mengikuti tes kemampuan bidang (SKB) sesuai de-ngan formasi yang mereka pilih.

Sahir menambahkan untuk materi soal yang disediakan sesuai dengan grade peserta. Penyebab banyaknya peserta yang gagal hanya masalah waktu yang menurut mereka terlalu singkat.

”Itu saja kendalanya. Kalau isi soal menurut saya tak ada masalah,” sebutnya.
Pemko Batam juga masih menunggu kebijakan dari Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) jika yang lolos SKD kurang dari kuota.

”Proses masih berjalan. Kami tunggu arahan Panselnas saja. Karena kami sudah infokan kepada mereka jumpa peserta yang lolos hingga saat ini,” bebernya.

Sementara itu, Wali Kota Batam Muhammad Rudi sudah menyurati Kementerian Aparatur Sipil Negara, Birokrasi dan Reformasi untuk penurunan passing grade jika yang lolos seleksi tidak memenuhi kuota yang disediakan.

”Ya itu tergantung mereka nanti kebijakannya seperti apa. Yang jelas kami berusaha formasi yang disediakan ini terisi penuh,” ujarnya.

Solusi apa yang akan diberikan nantinya. Sebagai pelaksana tentu Pemko Batam mendukung. Kebijakan seperti menerapkan sistem rangking atau sepeti apa nantinya.

”Yah kita tunggu saja dari pusat. Sekarang kita selesaikan dulu tahap tes pertama ini. Mudah-mudahan hingga batas akhir yang lolos melebihi atau sesuai dengan kuota yang tersedia,” tutupnya.(yui)

Wow, dengan Rp 25 ribu Bisa Dapat Mobil!

0

Percaya enggak, hanya dengan mengeluarkan uang Rp 25.000, berpeluang mendapatkan mobil. Bisa saja…

Ini bukan hoax!

Ikuti Funwalk Batam Pos pada 25 November 2018. Dengan Rp 25.000, anda mendapatkan jersey dan snack. Bahkan berpeluang membawa pulang mobil, motor, sepeda atau hadiah menarik lainnya. Tak hanya itu, pada 24 November 2018 malam atau bertepatan dengan malam minggu, juga digelar Funbike Night.

Pendaftaran Funbike Night sebesar Rp 75.000. Free tiket, jersey, snack, dan tentu saja lampu LED USB.

INFORMASI: 0778 460 000 (hotline), 0818 701 609 (Admin WA), atau kunjungi kantor Batam Pos di Gedung Graha Pena lantai 2 Batam Center.

Kandungan Bu Bidan Kontraksi saat Mengerjakan Soal Tes CPNS

0

batampos.co.id – Kandungan ibu bidan kontraksi saat mengerjakan tes seleksi kompetensi dasar (SKD).

Adalah Cahyani peserta tes CPNS itu. Ia melamar untuk formasi bidan untuk Kabupaten Indramayu.

Hebatnya SKD yang ia kerjakan dalam waktu 60 menit berhasil melampauai passing grade.

Artinya ia lulus.

Cahyani pun segera dilarikan ke rumah sakit.

Demikian kisah dari Kantor Regional III Badan Kepegawaian Negara.

Selepas Akad Nikah Langsung Ikut Tes CPNS

0
Stephanie Lumban Tobing ketika menjalani SKD dengan pakaian pengantin di Tilok UPT BKN Batam. Kehadirannya menghadirkan nuansa berbeda di SKD hari ini. (Istimewa)

batampos.co.id – Ada yang unik pada tes CPNS di Batam, Kepulauan Riau (Kepri) Sabtu (10/11/2018).

Pada seleksi kompetensi dasar (SKD) untuk formasi umum kelompok dua di sesi 73, seorang peserta hadir dengan pakaian pengantin.

Perempuan yang diketahui bernama Stephanie Lumban Tobing itu ternyata langsung menjalani SKD sesaat setelah melakukan akad nikah. Ia saat itu juga datang dengan ditemani lelaki yang baru menjadi suaminya.

Lukmanul Hakim, 26, Panitia SKD Tilok UPT BKN Batam mengatakan, sedari awal Stephani datang perhatian selalu tertuju padanya yang nampak sangat berbeda dengan peserta lain. Namun demikian, ia tetap diperbolehkan menjalani prosesi SKD.

Kejadian unik ini pun langsung diviralkan oleh akun BKN.

“Sekitar pukul sembilan (09.00 WIB) dia datang, langsung ramai di sini,” kata Lukman.

Selama keberadaannya di lokasi,suasana tes terlihat berbeda. Ketegangan yang biasanya terlihat pada SKD sebelumnya, hilang berganti dengan senyum dari peserta maupun panitia.

Namun demikian, status istri yang baru saja disandang Stephanie, tidak lantas memuluskannya langkahnya mengejar status sebagai guru PNS. Perempuan yang nampak cantik dengan kebaya putih ini harus mengulang lagi di masa mendatang karena nilai Tes Karakteristik Pribadi (TKP) sedikit di bawah standar yang ditentukan.

Nilai TKP Stephanie berada di angka 122, sementara untuk lulus ia harus mempunyai skor sebesar 143. Sementara untuk TWK dan TIU, Stephanie masing-masing memperoleh nilai 85 dan 80.

Meskipun belum lulus, hadirnya nuansa lain dari Stephanie memberi hikmah lain dalam pelaksanaan SKD di Tilok UPT BKN Batam. Dia telah mencoba dan membawa kegembiraan pada proses seleksi.

Lukmanul menambahkan, di sela kesibukannya melayani peserta, Stephanie sempat berceloteh perihal menjalani tes dengan pakaian pengantin itu. Yang ia ingat bahwa Stephanie mengaku kepalanya berat karena hiasan di kepalanya masih lengkap.

“Dia bilang nyaman-nyaman aja, cuma sanggulnya besar, jadi agak berat kepala,” kata Lukmanul lagi.

(bbi/JPC)

Gairahkan UMKM dan Start up, OJK Dorong Pertumbuhan Industri Fintech Lending

0

Kepala OJK Kepri Iwan M.Ridwan(kanan) saat memaparkan berbagai program OJK di Kantor OJK Bantam Centre, Batam, Kepri. F. Febby Anggieta Pratiwi/Batam Pos

Persoalan finansial selalu menjadi alasan klasik untuk tidak membuka usaha atau mengembangkan usaha. Apalagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang cenderung kurang dilirik perbankan karena profil usaha yang unbanked. Namun, upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong tumbuh kembang layanan jasa keuangan dari lembaga keuangan non bank yang berbasis teknologi (financial technology) alias fintech peer to peer lending menjadi oase bagi UMKM maupun pebisnis pemula (start up).

MUHAMMAD NUR, Batam

LISYA Anggraini menarik nafas panjang, sejurus kemudian ia hembuskannya kencang-kencang. Ia lakukan beberapa kali sembari menatap lagit-langit ruang kerjanya di Lantai 5 Gedung Graha Pena, Batam Centre, Batam, Kepulauan Riau.

“Saya mentoring ibu-ibu penjual kuliner skala mikro dan kecil. Mereka punya semangat berusaha, tapi terkendala modal, sementara mereka tak dilirik bank,” ujar Lisya, 3 Oktober 2018 lalu.

Direktur Al Ahmadi Entrepreneurship Center (binaan Ciputra Entrepreneur University awal pendirian, red) ini pun mengaku prihatin minimnya perhatian terhadap pelaku UMKM ini. Padahal kalau mereka dibina dengan baik, bisa memperkuat ekonomi keluarga mereka. Bahkan memperkuat ekonomi suatu daerah dan negara.

Apalagi di Batam dalam dua tahun terakhir ini ada 200 ribu lebih pekerja sektor galangan kapal yang kehilangan pekerjaan akibat lesunya industri ini. Membuka usaha kecil-kecilan hingga menengah adalah jalan yang kerap ditempuh untuk bertahan hidup.

Diakui Lisya ada banyak pelaku UMKM yang tak bisa mengembangkan usahanya karena terkendala modal. Ada banyak juga start up yang punya rencana bisnis bagus tapi tak bisa mewujudkan usahanya karena terkendala modal. Ada juga yang start up yang sudah menjalankan usahanya namun sulit berkembang karena keterbatasan modal.

“Memang ada juga yang bisa tumbuh dan berkembang dari modal yang terbatas kalau dibina dengan benar, tapi untuk UMKM akses modal memang sangat penting sekali,” ujarnya.

Selama ini, sejumlah UMKM maupun start up mau mengajukan pinjaman ke perbankan, namun tidak memiliki aset untuk dijadikan agunan. Kalau pun ada aset yang bisa dijadikan agunan, bank masih berfikir beberapa kali karena melihat kemampuan bayar.

Apalagi jika omzet belum berbanding lurus dengan besaran biaya angsuran pinjaman yang harus dikembalikan setiap bulannya.

“Kalau di Batam Pemda memang menyediakan dana pinjaman lunak berupa dana bergulir untuk UMKM, namun nilainya masih kecil dan hanya menjangkau beberapa UMKM saja. Itu pun yang memiliki aset untuk dijadikan agunan,” ujarnya.

Namun Lisya tak menafikan saat ini perbankan konvensional maupun syariah ramai-ramai membuat program pinjaman lunak dengan suku bunga yang rendah untuk UMKM. Apalagi Bank Indonesia (BI) juga mendorong hal itu. Namun tetap saja sangat selektif sehingga UMKM maupun start up banyak yang tak mampu memenuhi persyaratan yang diminta bank.

“Di satu sisi bank tidak salah karena tentu mereka tak ingin ada kredit macet karena menyangkut reputasi bank pemberi pinjaman. Namun di sisi lain menjadi masalah bagi start up maupun UMKM karena sulit mengakses pinjaman modal,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Sekretaris Asosiasi Digital Entrepeneur Indonesia (ADEI) Kepri, Ammar Satria. Ia menyebut potensi start up khususnya di sektor ekonomi digital di Kepri sangat besar.

Apalagi Batam telah ditetapkan sebagai hub digital dari luar negeri ke berbagai wilayah di Indonesia oleh Presiden Jokowi beberapa bulan lalu, saat bertemu dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong di Singapura.

Dari sisi infrastruktur digital dan SDM, Batam memang tergolong mumpuni. Namun, diakui atau tidak, faktor modal menjadi persoalan serius. Mengakses pinjaman modal ke perbankan bukan sesuatu yang mudah, termasuk mereka yang bergerak di sektor usaha berbasis digital. “Umumnya terbentur di persyaratan,” ujar Ammar.

Ia bahkan mengungkapkan, di Batam saat ini ada lebih dari 20 startup yang bergerak di bisnis berbasis digital (aplikasi) yang menjadi anggota ADEI. Persoalan yang dihadapi relatif sama, yakni kesulitan mengakses permodalan dari perbankan. Industri kreatif berbasis digital bagi beberapa bank dianggap belum bankable. Itu sebabnya, industri digital yang kaya ide di Kepri belum berkembang pesat.

“Makanya memang penting adanya instrumen akses layanan jasa keuangan dari lembaga keuangan non bank yang memiliki legalitas yang jelas dan mendapat pengawasan dari otoritas jasa keuangan (OJK) agar tidak liar,” ujar Ammar, Sabtu (10/11).

Selama ini diakui Ammar memang banyak tawaran pinjaman modal dengan syarat tak ribet yang ditawarkan berbagai pihak yang mengaku lembaga keuangan non bank berbasis teknologi. Dengan kata lain Fintech Ilegal. Penawaran mereka masif di jejaring sosial maupun platform digital lainnya. Namun legalitasnya diragukan.

“Bayangin, tak perlu syarat ribet, tak perlu agunan, tak perlu BI checking, cukup bermodal KTP dan Kartu Keluarga dan foto peminjam, uang bisa cair dalam hitungan menit. Tapi ini berpotensi menimbulkan masalah karena legalitasnya tak jelas. Bisa jadi mereka menggunakan kekerasan saat menagih, terutama saat angsuran macet,” ujar Ammar.

Apalagi jika dilihat dari sisi bunga yang tampak kecil, sehingga berpotensi menjebak konsumen karena umumnya fintech ilegal itu menawarkan bunga rendah dengan syarat dan kondisi tertentu.

“Ada terms and condition. Syaratnya memang mudah, tak pake ribet dan pelayanan yang cepat, bunga juga kecil, namun ternyata setelah dicermati itu bunga harian, kalau diakumulasikan besar sekali, bisa sampai 30 persen,” ujar Ammar.

Namun Lisya maupun Ammar kini mengaku bahagia setelah OJK membuat instrumen dan aturan hukum di bidang industri jasa keuangan dari lembaga keuangan non bank. Salah satu wujudnya OJK mendorong lahirnya fintech peer to peer lending yang legal dengan mewajibkan fintech tersebut mendaftar dan mengurus perizinan ke OJK.

“Ini harapan besar di era digital seperti ini. UMKM maupun para start up baik di industri digital maupun bukan, sangat merindukan layanan jasa keuangan dari lembaga keuangan non bank yang bisa memberikan pinjaman dengan syarat yang tak ribet namun teotorisasi oleh OJK. Jadi legalitasnya jelas,” ujar Ammar.

Ketika terotorisasi di OJK, Ammar yakin instrumen regulasi sudah disiapkan oleh OJK sehingga tidak merugikan nasabah atau konsumen jasa keuangan dari lembaga keuangan non bank itu. Kalaupun ada masalah di kemudian hari, ada instrumen hukum yang mengatur sehingga bisa diselesaikan tanpa merugikan satu sama lain.
“Tentu tidak ada regulasi yang sempurna, apalagi fintech lending bisa dikatakan “mainan” baru di ranah legalitas layanan jasa keuangan non bank, maka tentu OJK akan terus melakukan perbaikan regulasi sampai pada tahap ideal dimana fintech lending bisa tetap eksis tanpa merugikan konsumennya,” ujar Ammar.

Lisya juga menilai sama. Hadirnya OJK mengatur regulasi dan mengawasi keberadaan fintech lending ini membuka pintu penghalang kemajuan UMKM maupun Start up untuk mengembangkan usaha yang selama ini terbentur tembok sulitnya mengakses modal perbankan. Apalagi selain persyaratan yang tak ribet, nominal pinjaman juga bervariasi, tergantung kebutuhan dan kemampuan usaha yang membutuhkan suntikan modal. Dengan begitu, ruang UMKM maupun para start up di berbagai lini usaha untuk tumbuh lebih besar semakin terbuka lebar.

“Kalau persoalan modal sudah selesai, maka tugas selanjutnya memberikan edukasi yang benar bagaimana mengelola usaha yang benar agar bisa bertahan, tumbuh, dan berkembang menjadi lebih maju. Itu tugas OJK juga, tugas BI, dan kami-kami yang bergerak di bidang pendidikan entrepreneurship. Juga tugas fintech lending untuk edukasi lebih mendalam,” ujar Lisya.

Sementara itu, OJK sendiri memang memberikan perhatian serius industri fintech tanah air. Keseriusan itu tampak pada upaya mendorong lahirnya regulasi yang mengatur secara khusus soal fintech lending ini. Salah satunya, lahirnya Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016, tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.

Salah satu poin penting dari regulasi itu adalah kewajiban fintech mendaftar dan mengurus perizinan di OJK (pasal 7). Hasilnya, terhitung 6 Juli 2017 hingga 16 Oktober 2018 sudah ada 73 fintech lending yang terdaftar di OJK. Satu di antaranya sudah mengantongi izin, yakni fintech Danamas.

Fintech lending lainnya yang terdaftar di OJK yakni Koinworks, Amartha, Investree, Modalku, Danacepat, AwanTunai, KlikACC, Crowdo, Akseleran, dan lainnya. “Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan sosialisasi yang terus kita lakukan,” ujar Kepala OJK Kepri, Iwan M Ridwan, Senin (27/8/2018) dalam kunjungannya ke Batam Pos.

Kehadiran fintech lending ini diakui Iwan sebagai salah satu solusi memenuhi kebutuhan dunia usaha akan keuangan melalui jasa keuangan di luar lembaga perbankan. OJK mewajibkan fintech lending ini terdaftar dan mengurus izin ke OJK selain karena perintah UU maupun regulasi turunan lainnya, juga dalam rangka memudahkan pengawasan. Tujuannya, agar konsumen maupun mitra fintech lending ini bisa terlindungi.

OJK juga tidak serta merta mengeluarkan izin fintech lending yang sudah terdaftar. OJK melakukan serangkaian kajian mendalam, agar fintech yang diberikan benar-benar mematuhi regulasi yang telah ditetapkan.

“Jadi kita mendorong tumbuh kembang fintech lending ini agar sektor usaha bisa bergerak, namun tetap dalam pengawasan agar tidak merugikan konsumen,” tegasnya.

Sebelumnya, Humas OJK Pusat, Ahmad Iskandar menyebutkan, OJK mendeteksi ada lebih dari 407 entitas fintech ilegal atau tanpa izin di Indonesia. Jumlah ini juga tak menutup kemungkinan terus bertambah. 407 entitas fintech tanpa izin itu dideteksi OJK dari hasil penelusuran di website dan aplikasi Google Playstore.

Praktiknya, fintech ilegal ini menawarkan kemudahan mendapatkan pinjaman modal, baik untuk kebutuhan konsumtif maupun usaha dengan sitem pinjaman kecil jangka pendek (pay day loan). Tawaran bunganya pun dibuat tampak rendah, yakni 1-3 persen, sehingga calon konsumen mudah tertarik.

“Padahal itu bunga harian, begitu macet, bisa bermasalah karena fintech ilegal ini bisa melakukan penagihan paksa hingga mempermalukan konsumennya. Ini yang kita wanti-wanti ke masyarakat, jangan mudah tergiur, pilih fintech yang sudah diakui OJK,” ujarnya di Turi Beach Resort, Nongsa, Sabtu (15/9/2018) silam.

Lalu apa upaya yang dilakukan OJK melindungi masyarakat dari fintech ilegal ini? Iskandar menegaskan saat ini OJK menggandeng Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk memblokir segala aktivitas perusahaan fintech ilegal.
Mulai dari memblokir website-nya hingga aplikasinya bekerjasama dengan Google.

Di Kepri sendiri sejauh ini belum ditemukan fintech lending baik ilegal maupun telah terdaftar di OJK. Hal ini dibenarkan Kabag Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Kepri, Abdullah Fahmi Lubis di Turi Beach Resort, Nongsa, 15 September 2018 lalu.

“Meski pengawasan di OJK pusat, namun kami di daerah juga melakukan pengawasan untuk melindungi masyarakat dari kejahatan pelaku industri jasa keuangan digital, termasuk dari praktik fintech ilegal ini,” ujar Fahmi.

Di tempat terpisah, Rimba Laut selaku Head of Public and Government Relation PT Akseleran, salah satu fintech peer to peer lending yang sudah terdaftar di OJK dalam perbincangan santai di Kantor Batam Pos, Kamis (13/9/2018) lalu membenarkan saat ini banyak fintech yang menggunakan sistem pinjaman jangka pendek dengan bunga harian.

“Bunganya memang tampak kecil, tapi kalau diakumulasikan sebulan, luar biasa tingginya. Makanya memang masyarakat harus diedukasi agar bijak memilih fintech,” ujarnya.

Namun ia menjamin Akseleran tak menerapkan konsep itu.

“Kami bahkan fokusnya ke UMKM, pinjaman modal yang kami berikan akan kami kabulkan kalau tujuannya untuk usaha, bukan konsumtif,” ujarnya.

Ia mengakui sejauh ini peminjam atau pencari pinjaman (borrower) belum ada dari Batam maupun Kepri. Masih berpusat di wilayah Jawa. Namun untuk pemberi pinjaman (investor), cukup banyak dari Batam dengan nilai investasi yang cukup besar.

Sebagai perusahaan Peer to Peer lending, Rimba menyebut Akseleran transparan kepada investor maupun nasabahnya. Bahkan, Akseleran memberi ruang investor bertemu dengan pencari pinjaman, sehingga ada transparansi dan kenyamanan antar investor dan peminjam. “Tapi kita bukan broker, kita perushaan fintech peer to peer lending,” ujarnya.

Sementara itu, Lisya Anggraini dari AL-Ahmadi Entrepreneurship Center berharap OJK mencermati betul sistem yang digunakan oleh fintech lending itu. Jangan sampai sistem pinjaman jangka pendek dengan bunga harian dilegalkan, itu menjebak konsumen.

“Kasihan konsumennya, sama saja mereka terjebak rentenir modern. Yang ada nantinya, bukan usahanya maju, malah bermasalah dengan fintech yang bisa berujung ke kasus hukum,” ujarnya.

Namun Lisya yakin OJK akan terus memantau dan mendalami fintech yang mendaftar. Kehati-hatian OJK itu dilihat Lisya dari jumlah fintech yang terdaftar sudah 73, namun yang sudah mengantongi izin baru satu. “Pasti OJK mencermati secara ketat,” ujarnya.

Hal senada diharapkan Sekretaris Asosiasi Digital Entrepeneur Indonesia (ADEI) Kepri, Ammar Satria. Ia berharap regulasi yang ada di OJK tak memberi peluang fintech lending untuk melakukan praktik jebakan bunga rendah namun sesungguhnya bunga tinggi karena bersifat bunga harian.

“Kami pelaku usaha menaruh harapan besar regulasi yang dikeluarkan OJK benar-benar melindungi konsumen,” ujar Ammar.

Baik Lisya maupun Ammar juga berharap aktivitas fintech lending ini tak hanya berpusat di Jawa. Juga para fintech landing jangan hanya mencari investor di Kepri khususnya Batam, sebab masih banyak yang membutuhkan pinjaman di Kepri.

“Kami juga berharap ada fintech lending yang legal lahir dari Kepri,” ujar Lisya.

Bahkan, Lisya berharap OJK mendorong lahirnya fintech lending berbasis syariah di Kepri, khususnya Batam. Sebab, diakui atau tidak, ada komunitas masyarakat yang terjun ke dunia usaha yang ingin bebas dari riba. “Mereka ini juga harus diakomodir,” ujar Lisya.

Sejauh ini, dari 73 fintech yang terdaftar, Lisya melihat sudah ada yang berbasis syariah. Tapi belum banyak.

Ammar menambahkan, karena ada konsumen yang menginginkan fintech berbasis syariah dan ia yakin ke depan akan semakin banyak. Maka ia berharap OJK bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga bisa menghasilkan regulasi yang menunjang fintech yang berbasis syariah itu.

“Bisa nanti lahir fatwa-fatwa dari MUI tentang fintec syariah itu,” ujarnya.

Sementara itu, Supriyono selaku Chairman & CO-Founder PT Ammana Fintek Syariah (Ammana), perusahaan fintech peer-to-peer lending berbasis syariah pertama di Indonesia dalam lawatannya ke Batam Pos, Jumat (14/9/2018) lalu mengatakan, pihaknya benar-benar menerapkan sistem bagi hasil.

“Ini jawaban dari keinginan masyarakat mendapatkan pendanaan di luar bank yang berkonsep syariah,” ujar Supriyono.

Untuk itu, pihaknya juga fokus ke UMKM dan usaha produktif, inovatif, dan Kreatif lainnya. Bahkan, keberadaan Ammana Fintek Syariah juga memungkinkan masyarakat umum untuk berwakaf, berinvestasi, dan ikut mengembangkan UKM dengan lebih mudah.

“Paling penting, menghindarkan masyarakat dari bahaya riba,” ujarnya.

Sementara itu, selain fintech yang menggunakan konsep peer to peer lending, Kepala OJK Kepri Iwan M. Ridwan menegaskan, pihaknya juga terus mendorong pertumbuhan industri jasa keuangan.

Ia menyebutkan di Kepri saat ini ada 160 industri keuangan. Sekitar 75 persen berada di Batam, 20 persen di Tanjungpinang, dan sisanya di wilayah Kepri lainnya.

Menariknya, di Kepri industri keuangan cukup lengkap. Mulai dari perbankan, pembiayaan, asuransi, dan lainnya. Perbankan saja, total aset yang diawasi mencapai Rp 5,5 triliun. Belum yang lainnya.

“Kita tetap berharap masyarakat bijak memahami sebuah produk keuangan yang ditawarkan. Jangan mudah tergiur bunga rendah dan keuntungan berlipat ganda. Jangan sampai terjebak investasi bodong. Kami akan terus awasi untuk mencegah hal itu,” ujarnya. ***

Golden Age, Waktu Terbaik Membentuk Karakter Si Buah Hati

0

Golden Age merupakan masa keemasan anak-anak. Momen tersebut harus dimanfaatkan oleh orang tua untuk membentuk karakter pribadi anaknya. Namun sayangnya, masih banyak orang tua yang mengabaikannya.

RIFKI SETIAWAN LUBIS, BATAM

In, remaja wanita putus sekolah harus berurusan dengan Polsek Bengkong, Kota Batam, 24 Agustus 2017 lalu. Gadis berusia 14 tahun ini ditangkap polisi karena menganiaya dan membegal sejumlah siswa dan murid di wilayah Batuaji dan Sagulung, Batam.

Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah berurusan dengan hukum. Masa depannya kemudian dipertanyakan karena masyarakat sudah menganggapnya seperti sampah.

Setelah ditelusuri penyebabnya, In rupanya terpengaruh teman-teman sebayanya yang merupakan komplotan begal. Mereka sangat meresahkan warga Batam.

In dan teman-temannya ini merupakan gambaran umum dari anak-anak di Batam. Mereka tidak mendapat kasih sayang yang cukup dari orang tuanya sehingga memilih mencari perhatian di lingkungan yang lain agar keberadaan mereka diakui.

Batam memang dikenal sebagai kota industri sehingga mayoritas masyarakatnya adalah pekerja. Jam kerja yang cukup panjang membuat waktu untuk berkumpul bersama keluarga menjadi lebih sedikit. Kalaupun ada waktu, maka akan digunakan untuk beristirahat penuh atau melaksanakan hobi yang tertunda.

Kebutuhan anak untuk mendapatkan kasih sayang menjadi terabaikan dan tidak dianggap penting. Anak-anak dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa peran serta dari orang tua.

Bahkan banyak anak-anak yang dititipkan ke kerabat dekat atau ke tempat penitipan anak sejak masih kecil sekali. Hal tersebut menyebabkan disparitas hubungan antara anak dan orang tuanya semakin lebar. Anak-anak tidak kenal orang tuanya dan tidak memiliki panutan atau role model bagi perkembangan psikisnya.

Hal ini sangat memprihatinkan karena anak-anak merupakan penentu masa depan bangsa. Jika sejak usia dini saja tak diperhatikan, bagaimana kedepannya.

Padahal usia dini anak yang biasa dikenal sebagai masa Golden Age merupakan saat yang tepat untuk membentuk karakter dasar dari anak. Baik atau buruknya anak ketika dewasa ditentukan oleh peran serta orang tua dalam mendidiknya ketika mencapai masa Golden Age.

Mengenal Golden Age dan Manfaatnya

Golden Age merupakan merupakan masa-masa dimana pertumbuhan fisik dan psikis anak tumbuh sangat cepat. Masa tersebut berada dalam rentang usia nol hingga lima tahun.

Di masa Golden Age, anak-anak mampu menyerap dan merekam apa yang dilihatnya secara cepat dan tepat ke alam bawah sadarnya.

Saat itu, pembentukan sistem saraf secara mendasar sudah terjadi. Jaringan saraf saling berinteraksi. Dan kualitas serta kuantitas dari interaksi itulah yang menentukan kecerdasan anak. Makanya anak-anak dapat meniru dengan baik segala tingkah pola laku yang dilakukan orang sekitarnya.

Menurut hasil penelitian Osbora, White dan Bloom, perkembangan intelektual manusia pada usia empat tahun sudah mencapai 50 persen, usia 8 tahun mencapai 80 persen, dan pada usia 18 tahun bisa mencapai 100 persen.

Berdasarkan penelitian tersebut maka masa usia dini adalah masa golden age yang harus dioptimalkan karena sebagian besar perkembangan otak anak didominasi pada masa tersebut.

Sehingga pada usia Golden Age, orang tua harus memberikan perhatian maksimal. Hal itu wajib dilakukan jika menginginkan anak tumbuh berkembang menjadi pribadi berbudi luhur.

ilustrasi siswa siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Batam
F Cecep Mulyana/Batam Pos

Masa Golden Age merupakan masa yang menjadi awal mula, landasan dan fondasi bagi anak-anak untuk berkembang. Kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, agama dan moral bisa dibentuk disini.

Psikolog Anak Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, Maryana MPSi mengatakan memiliki anak yang cerdas dan aktif bersosialisasi selalu menjadi dambaan tiap orang tua. Namun, tidak semudah itu mewujudkannya. Orang tua harus bekerja keras untuk menanamkan pendidikan karakter kepada anak-anak sejak usia Golden Age.

Caranya yakni memberikan pengalaman kepada anak-anak, stimulasi secara maksimal serta memperkenalkan mereka pada aktivitas yang disukainya.

“Di usia 0-5 tahun merupakan saat dimana banyak perkembangan anak terlihat. Mulai banyak makan, omong dan merangkak,” kata Maryana.

Pendidikan karakter merupakan hal yang terpenting untuk ditanamkan kepada anak-anak pada masa Golden Age.”Pendidikan karakter terpenting adalah membentuk kemampuan sosial anak,” ungkapnya.

“Fokus pendidikan harus pada pembentukan karakter anak. Dan orang tua khususnya ibu idealnya juga tidak kerja untuk ikut mendidik anaknya saat usia Golden Age. Ibu adalah madrasah pertama dan terbaik untuk anak-anaknya,” paparnya.

Anak-anak di usia Golden Age seperti mesin fotokopi hidup. Apa yang dilihat dan didengar akan dicontoh.”Perkembangan otak dan psikisnya sangat cepat. Dan di usia seperti itu, anak-anak butuh pendamping sebenar-benarnya pendamping dan sebaik-baiknya adalah orang tua,” katanya.

Pola asuh dan pola didik dari orang tua di usia Golden Age benar-benar menentukan karakter. “Karena anak-anak yang pertama mempengaruhi adalah keluarga kecilnya. Pola asuh ditanamkan di rumah, dan berpengaruh jadi karakternya dan kemudian akan menjadi dasar dari kehidupan selanjutnya,” katanya lagi.

Kemampuan sosial yang patut diajarkan kepada anak yakni kemampuan berinteraksi dengan lingkungan, berinteraksi dengan teman-teman sebaya dan bagaimana cara mengendalikan serta mengungkapkan emosi.

Jika diajarkan sejak dini, maka ketika tumbuh menjadi dewasa, anak-anak akan memiliki tingkat Emotional Quotient (EQ) yang bagus.

“Anak-anak akan supel dalam bergaul. Lebih punya simpati dan mudah beradaptasi dengan sekitarnya,” katanya.

Selain itu, pendidikan disiplin dapat juga diajarkan saat masa Golden Age. Orang tua dapat mengajarkan aturan-aturan yang ada di dalam keluarga, norma-norma dalam masyarakat dan batas-batas lingkungan.

Kedisiplinan sejak dini akan membentuk pribadi yang konsisten dengan pendiriannya. Maka orang tua diminta untuk tidak setengah-tengah dalam menetapkan peraturan dalam keluarga.

Contohnya jika waktu bermain ditetapkan hanya dua jam per hari, maka harus dipatuhi. Kalau tidak diindahkan, maka harus ada sanksi.

“Meskipun anaknya nangis sampai cecugukan, peraturan tetap peraturan, orang tua jangan sampai terbawa emosi. Kalau sudah ngomong A, maka harus A. Tidak boleh ada negosiasi,” kata Maryana.

Ketika anak-anak sudah mampu memahami peraturan, maka boleh ada sedikit negosiasi. “Contohnya, ketika usianya bertambah, mungkin jam bermain bisa ditambahkan sedikit. Tapi tetap saja harus dipatuhi. Atau kalau tidak bisa kena sanksi seperti uang jajannya dipotong,” ungkapnya.

Maryana kemudian mengutarakan bahwa disiplin juga merupakan elemen penting dalam pembentukan karakter anak.

“Ini semua diperlukan baginya sebagai skill dasar untuk berinteraksi dan mencapai jenjang karir yang tinggi. Jadi orang tua dituntut untuk meluangkan waktunya agar bisa berkomunikasi secara intens dengan anaknya di usia Golden Age,” paparnya.

Orang tua yang menaruh perhatian besar akan membuat anak merasa benar-benar disayangi dan tidak akan mencari perhatian diluar. Anak-anak akan senantiasa akan selalu meminta saran dan bermanja-manja di sekitar orang tuanya.

Kemudian ketika sudah dewasa, maka akan menularkan kepedulian dan kasih sayangnya kepada keluarganya kelak dan orang-orang di sekitarnya. Ia akan dihormati dan mencapai puncak karir dengan mudah.

“Ibarat pepatah dari Jepang, anak-anak akan tumbuh dengan melihat punggung orang tuanya. Maka jadilah orang tua yang baik agar anak juga bisa menirunya dengan baik,” ungkapnya.

Pendidikan karakter lain yang perlu diutamakan adalah kemandirian. Pribadi yang mandiri akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tidak manja dan tidak akan mudah bergantung kepada orang lain dalam menyelesaikan persoalannya.

“Caranya mudah. Contohnya Ketika sudah diajarkan untuk mengikat tali sepatu. Maka untuk kedua kalinya, biarkan si anak mengikat sendiri. Jangan dibantu supaya ia terbiasa menyelesaikannya sendiri,” katanya.

Anak-anak yang orang tuanya terlalu sering ikut campur dalam menyelesaikan masalahnya akan membuat anak menjadi tidak percaya diri ketika dewasa kelak.

“Karena apa-apa selalu dibantu orang tuanya. Anaknya jadi manja dan tidak bisa jika tidak dibantu orang lain,” katanya.

Kemampuan berinteraksi, kedisiplinan dan kemandirian merupakan elemen fundamental yang perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak di usia Golden Age. Ini akan membuat anak-anak memiliki tingkat EQ yang baik.

Untuk mencapai jenjang sosial dan jenjang karir yang baik butuh EQ atau kecerdasan sosial yang bagus dibanding Intellegence Quotient (IQ) atau kecerdasan akademis.

Sayangnya, mindset orang tua di Indonesia termasuk di Batam masih mengutamakan pendidikan akademis anaknya sejak dini.

“Mungkin gengsi atau takut anaknya tak akan hidup layak nanti. Banyak orang tua mengacuhkan pendidikan karakter dan lebih banyak menekan anaknya untuk belajar keras agar menjadi orang pintar,” katanya.

Meskipun anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dalam akademis, namun jika tidak memiliki kecerdasan sosial, ia akan terhambat. Mengapa. Tentu saja karena tidak pantai berinteraksi dengan rekan sejawat.

“Para pemimpin itu cakap dalam berkomunikasi, sedangkan mereka yang hanya pintar dalam akademis hanya memiliki posisi itu-itu saja,” ungkapnya.

Orang tua yang mengutamakan pendidikan akademis lebih peduli pada kemampuan membaca dan menulis serta nilai rapor tinggi. Mereka mengabaikan pendidikan karakter dan kebutuhan anak akan kasih sayang.

“Dampaknya sangat variatif. Mulai dari anak-anak yang selalu cemas. Ia takut nilainya dikalahkan orang lain karena takut membuat orang tuanya kecewa. Rasa cemas itu akan membuatnya sulit beradaptasi dengan lingkungan,” katanya.

Anak-anak yang selalu hidup dibawah tekanan akademis seperti ini juga tidak akan bisa berpikir kreatif. Ia jadi takut mengambil risiko karena takut gagal dan mengecewakan orang tuanya. Anak-anak juga akan menjadi pribadi pendiam karena tak punya kecakapan dalam interaksi sosial.

“Saya sering liat di media sosial, orang tua sering posting nilai anaknya yang bagus. Jadi seakan-akan anak-anak itu hanya menjadi pelampiasan obsesi pribadinya,” katanya lagi.

Idealnya pendidikan akademis bisa diberikan orang tua ketika anaknya sudah mengerti prinsip sosial lewat pendidikan karakter yang telah diberikan sebelumnya.

IQ yang bagus harus dikendalikan oleh EQ yang baik. Orang pintar yang pandai menjalin interaksi sosial akan dengan mudah menggapai keinginannya.

“Tidak ada korelasi kepintaran akademis dengan kesuksesan. Jika punya interaksi sosial bagus, maka akan survive di lingkungan kerja,” ujarnya.

Maryana kemudian menekankan masa Golden Age jangan sampai diabaikan begitu saja. Orang tua harus benar-benar rela berkorban waktu demi masa depan anaknya.

Ketika orang tua gagal memenuhinya, maka anak-anak akan mencari jati dirinya diluar keluarganya. Contohnya bisa mencari kasih sayang ke pembantu di rumah.

“Tapi jika pembantunya baik, maka baguslah. Tapi kalau buruk, maka itu juga yang akan ditirunya. Dan kemungkinan lebih buruk lagi, anak-anak akan mencarinya keluar dari lingkungan keluar. Dan bisa terpengaruh lingkungan yang buruk.

“Anak-anak yang kurang perhatian dan kasih sayang orang tua akan mencari perhatian di lingkungan luar. Jika salah memilih pergaulan, maka itu gawat. Kurangnya kasih sayang orang tua yang menjadi penyebab kenakalan anak remaja,” jelasnya.

Jangan Katakan Jangan Pada Anak

Masa Golden Age erat kaitannya dengan pendidikan karakter anak dari tingkat dasar. Nilai-nilai positif bisa dengan mudah ditanamkan dalam memorinya. Dan tentu saja dengan penyampaian kata-kata yang positif juga.

Namun, sering ditemui orang tua yang selalu melarang anaknya melakukan ini dan itu. Dan biasanya dimulai dengan kata “Jangan”. Meskipun bermaksud baik agar anaknya terhindar dari masalah, tapi kata “Jangan” akan membatasi pilihan anak. Atau lebih buruk lagi, ia akan takut untuk mencoba hal-hal baru.

Konsultan Pendidikan Anak dari Batam Dr. Sarmini, S.Pd, MM.Pd mengatakan otak manusia dirancang untuk tidak menyetujui kata-kata dengan konotasi negatif.

“Jadi jika orang tua bilang ‘Jangan Nakal’, anak-anak malah menanggapinya beda. Kata ‘Jangan’ itu tak terdengar oleh otak anak-anak. Mereka sulit untuk menyimpulkan apa artinya,” katanya.

Banyak artikel dan tulisan yang sudah terbit membahas hal ini, tapi pada kenyataannya memang sulit untuk diterapkan. Karena kata “Jangan” sangat mudah terucap atau orang tua yang sering mengabaikannya.

Anak-anak tumbuh dengan pengalaman yang dirasakannya. Kata “Jangan” hanya membatasi ruang gerak dan pilihan yang ingin dilaluinya.

“Otak itu perekam yang luar biasa. Jadi apa yang terus terngiang-ngiang di telinganya bakal jadi memori abadi baginya,” ungkap Sarmini.

Melansir dari buku pengasuhan orang tua berjudul Hello! Moonella karangan Moonella Sunshine Jo diungkapkan bahwa selain menimbulkan keraguan, menggunakan kata “Jangan” dapat membuat anak semakin melawan ketika dilarang.

“Jika diucapkan kata ‘Jangan’ secara berulang-ulang, maka ketika kelak dewasa akan tertanam dalam benaknya dan akan membuatnya tidak percaya diri,” katanya lagi.

Sarmini menjelaskan sebagai langkah awal pengasuhan anak, gantilah kata “Jangan” dengan kata-kata lain yang lebih mudah dimengerti anak.

“Contohnya saat anak mencoret dinding orang tua bisa ucapkan kalimat seperti ‘Nak, coret-coretnya di kertas saja, nanti mama sulit membersihkannya loh,” jelasnya.

Pemilihan kata sangat penting. Orang tua harus mempelajarinya jika tidak ingin anak-anak tercintanya kelak menjadi pribadi yang inkonsisten, peragu dan tidak percaya diri.

“Biarkanlah anak-anak mencoba pengalaman baru. Karena anak-anak akan lebih mengerti ketika merasakannya secara langsung,” ungkapnya lagi.

Selain itu, alangkah baiknya jika orang tua lebih banyak membanjiri anak-anaknya dengan kata-kata penyemangat atau pujian untuk memotivasi anaknya. Itu jauh lebih bagus daripada melarangnya melakukan ini dan itu.

“Pujian juga bisa menjadi semacam reward ketika ia melakukan hal baik. Itu akan memotivasinya. Jadi seperti sebuah reward untuk edukasi, kan tak mesti dalam bentuk benda atau nominal,” jelasnya.

Banyak orang tua yang tak memperhatikan itu dan menganggap pujian hanya akan menimbulkan rasa sombong bagi anak-anak. Padahal itu bisa memotivasinya untuk berkarya lebih baik lagi.

Orang tua harus menanamkan keberanian pada anak lewat kata-kata positif dan memberikan rasa aman dan nyaman sejak usia Golden Age.

Sampaikanlah kasih sayang lewat ucapan yang lembut dan rangkullah anak-anak ketika mereka merasa tidak aman.

Jika sebaliknya yakni membentaknya, maka itu akan membuatnya tidak bisa menuntaskan emosi yang tengah dirasakannya.

“Anak-anak itu tidak bisa ungkapkan emosinya dengan baik. Sehingga terkadang mereka menangis. Tapi banyak orang tua yang tak tahan menyuruhnya berhenti atau malah membentaknya supaya diam,” katanya.

Karena takut dimarahi lagi, maka anak akan berhenti. Tapi itu akan menimbulkan kegiatan emosi yang tidak tertuntaskan dan akan tertanam dalam alam bawah sadarnya hingga ia dewasa.

“Ketika dewasa, emosi yang tidak tertuntaskan tersebut akan membuat si anak terkadang suka sedih, marah atau murung yang tak terungkapkan mengapa bisa seperti itu,” jelasnya. (*)

Sebagian Kemampuan Pemko Batam Diberikan untuk Beri Perhatian kepada Veteran

0
Wali Kota Batam HM Rudi ketika menyalami veteran yang hadir dalam upacara Hari Pahlawan, Sabtu (10/11). (Bobi Bani/JawaPos.com)

batampos.co.id –  “Kami layani mereka (veteran) sesuai kemampuan daerah. Saat ini keadaan kami biasa-biasa saja. Jadi kami layani dengan kemampuan itu,” kata Wali Kota Batam HM Rudi saat menjadi inspektur upacara peringatan Hari Pahlawan di Mako Lanal Batam, Kecamatan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Sabtu (10/11).

Pada kesempatan ini, Rudi membacakan sambutan dari Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita. Dia menyampaikan bahwa siapa pun dapat menjadi pahlawan dengan berinisiatif melakukan hal yang bermanfaat bagi lingkungan.

Semangat kepahlawanan harus terus ditularkan dengan cara menginspirasi masyarakat. Tidak ada kata akhir untuk berjuang. Harus membangkitkan ide dalam mentransformasikan perjuangan para pahlawan dalam bentuk pembangunan.

Sekaligus memperkuat bangsa dalam menghadapi tantangan global. “Indonesia butuh pemuda yang kokoh. Sehingga pelayanan bisa diberikan kepada mereka yang membutuhkan,” ucap Rudi.

Prosesi upacara peringatan Hari Pahlawan sendiri dimulai pukul 08.00 WIB. Kemudian ditutup dengan tabur bunga sekitar pukul 09.00 WIB. 15 Veteran turut mengikuti upacara tersebut. Mereka tampak khidmat mengikuti seluruh rangkaian acara.

Salah satu veteran yang hadir adalah R JH Jhony BL. Geraknya yang pelan namun pasti ketika mengikuti instruksi narator, memperlihatkan keseriusannya menjalani upacara.

Demikian pula saat prosesi mengheningkan cipta. Dengan kepala tertunduk, bibir Jhony terlihat bergerak mengucapkan kata-kata. Sebuah pemandangan yang menyentuh bagi siapa pun yang melihatnya.

(bbi/JPC)