Senin, 27 April 2026
Beranda blog Halaman 11734

Cari Kepiting, Malah Ketemu Mayat

0

batampos.co.id – Warga Batubesar, Mulyadi bermaksud mencari kepiting di Pantai Tanjungbemban, tapi malah menemukan sesosok mayat mengapung, Kamis (11/10) pukul 17.50. Dari penyidikan polisi, mayat laki-laki ini diketahui bernama Nova Endria Ardian Nugraga, 23.

“Kami sedang melakukan penyelidikan atas temuan mayat ini,” kata Kapolsek Nongsa Kompol Albert Sihite, Jumat (12/10).

Penemuan ini bermula ketika Mulyadi memasang bubu (alat penangkap kepiting) sekitar 1 kilometer dari bibir pantai Tanjungbemban. Setelah selesai memasang bubu tersebut, Mulyadi melihat sepasang kaki manusia yang mengapung.

“Jadi saksi mendekati objek itu, untuk memastikan. Ternyata memang mayat manusia, saksi lalu melaporkan kejadian ini ke Ketua RT dan polisi,” ucap Albert.

Albert mengatakan pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi yang ada, serta menghubungi keluarga korban di Ponorogo.

“Tapi belum ada jawab dari keluarganya. Dari informasi sementara kami dapat, korban ini pekerja las di Batam,” ucapnya.

Pemeriksaan sementara, penyebab kematian Nova akibat lemas karena kekurangan oksigen. Albert mengatakan kesimpulan sementara Nova meninggal akibat tenggelam.

“Itu baru dari pemeriksaan luar saja, untuk otopsi masih menunggu konfirmasi dari pihak keluarga,” ungkapnya.

Albert berharap orang-orang yang mengenal Nova, dapat mendatangi Polsek Nongsa. Saat ditemukan mengapung, pria berambut lurus ini menggunakan baju lengan panjang berwarna hitam, lalu memakai celana pendek bermotif kotak-kotak warna hitam.

“Apabila ada masyarakat yang mengenal korban, dapat segera mendatangi Polsek Nongsa,” pungkasnya. (ska)

Bangun Kepribadian Napi Anak Lewat Kegiatan Keagamaan

0
Sejumlah anak binaan di LKPA Baloi mengikuti acara kerohanian di masjid LKPA, Kamis (11/10) lalu.

batampos.co.id – Anak Binaan di LPKA Baloi Batam dalam seminggu terakhir diwajibkan mengikuti acara kerohanian setiap hari. Ini untuk membentuk akhlak dan kepribadian dari setiap anak sehingga kelak sudah bebas dari penjara, maka anak tidak akan pernah lagi masuk ke dalam lapas.

“Jadi kebetulan bertepatan dengan hari dharmakarya Dhika, jadi kita membuat pembinaan melalui ibadah baik muslim maupun nasrani,” ujar kepala LKPA anak Novriadi melalui Kasi Pembinaan Ady Purwata, Kamis (11/10).

Ady mengatakan, LKPA sudah bekerjasama dengan beberapa majlis taklim dan gereja yang ada di Batam. Di mana bisa bergantian memberikan pemahaman kepada setiap anak.

“Memang anak sangat antusias untuk mengikuti kegiatan ini. Dan ini memang rutin kita lakukan setiap minggu. Tetapi di minggu ini, kita lakukan tiap hari,” ujarnya.

Selain itu, kepada anak juga diberikan pembinaan kemandirian dan kejar paket A,B, dan C. Selain itu ketrampilan anak juga terus diasah khususnya untuk membuat kerajinan tangan.

“Kita berharap, meski anak-anak ini di dalam (LKPA,red) tetapi hak mereka untuk mendapatkan pendidikan tidak terabaikan. Mereka terus kita didik agar punya masa depan nantinya,” tambahnya.

Selain itu, di tanah-tanah yang kosong, para napi anak ini juga dibina untuk bercocok tanam. Ini juga dinilai penting untuk kesehatan si anak itu sendiri.

“Kalau bercocok tanam ini bukan untuk orientasi penjualan. Tetapi lebih ke kesehatan. Hasilnya di konsumsi bersama kok,” ujarnya.

Saat ini ada sekitar 47 anak yang dibina di LKPA. Sebagian besar adalah anak yang bermasalah dengan kasus pencurian dan tindakan asusila. (ian)

Mendulang Rupiah dari Serbuk Kayu Terbuang

0
Melukis biasanya dengan tinta / cat tapi tidak dengan Sugeng Wahyudi. Ia melukis gambar Presiden Soekarno menggunakan serbuk kayu yang diracik sedemikian rupa.
Di galeri RI Kangga, miliknya, di Perumahan Puri Selebriti Blok C2 Nomor 55, Batam Kota, Batam, Kepulauan Riau.
Dari serbuk kayu terbuang itu, Sugeng mampu mendulang rupiah sekaligus menuangkan imajinasi melukisnya menggunakan media serbuk kayu yang dipungut dari sisa- sisa tempat-tempat pembuatan furnitur di Batam.
teks / foto: Iman Wachyudi / Batam Pos

Terus Berjuang, Taklukkan Keterbatasan

0
Lagalo meracik cangkang kerang laut menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi di rumahnya yang disulap menjadi galeri di Simpang Batu Besar, RT 03 RW 01 Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.
Ia memiliki kondisi fisik yang tak sempurna akibat kecelakaan yang dia alami saat remaja. Kakinya harus diamputasi. Namun itu tak membuatnya patah semangat.
Tekad kuat yang dimilikinya justru mengalahkan keterbatasannya. Kini berkat semangatnya mengeluti usaha kecil itu ia mampu mendulang untung untuk menghidupi istri dan tiga anaknya.
teks / foto: Iman Wachyudi / Batam Pos

Bagi Hasil ala Ahmadi & Co

0
Kopra menjadi salah satu komiditi Midai di Kabupaten Natuna. Nurmin menjadi salah satu bagian dari proses bisnis kopra. Sejak suaminya meninggal Nurmin harus bekerja mengupas kelapa. Ada yang unik pada sistem penggajiannya . Setiap panen, hasil penjualan akan dibagi lima. Dua bagian diberikan kepada pemilik kebun Ahmadi & CO.
Ahmadi & CO ialah koperasi pertama di Nusantara lahir di sana. Usaha putra bangsa ini sangat melegenda bagi dunia bisnis tanah air. Bahkan Muhammad Hatta, Wakil Presiden pertama RI sekitar tahun 1949, pernah berkunjung ke sana, ke Midai.
Nah, tiga bagian hasil usaha diberikan pada pekerja yang memanjat kelapa, pekerja pengupas kelapa, dan pekerja yang mengasapi dan mengeringkan kopra seperti Nurmin.
Meski sebuah pulau kecil, Midai menjadi salah satu wilayah bisnis di Natuna.
teks / foto: Iman Wachyudi / Batam Pos

Jalan Ini Ada di Kota Batam

0
foto: batampos.co.id / dalil harahap

batampos.co.id – Penghuni Rusun Mukakuning II, Seibeduk merasa tak nyaman selama musim hujun ini. Pasalnya, kondisi jalan menuju tempat tinggal mereka sungguh memprihatinkan. Untuk keluar atau masuk ke lingkungan rusun mereka harus berjibaku dengan genangan air dan tebalnya lumpur.

Menurut Frendy, salah satu penghuni rusun, kondisi itu dialami mereka setiap musim hujan tiba. Itu karena jalan masuk ke rusun belum tersentuh aspal ataupun semenisasi sama sekali. Warga tak punya pilihan lain sebab jalan yang berupa ratahan tanah itu satu-satunya akses keluar masuk ke tempat tinggal mereka.

“Beginilah kondisinya setiap hujan (becek dan berlumpur). Kalau panas tanahnya berdebu,” kata Frendy, Jumat (12/10/2018).

Frendy menuturkan kondisi jalan yang tak nyaman itu sudah berlangsung lama, namun dua hari belakangan ini akses jalan itu benar-benar tidak bisa dilewati. Warga yang memiliki kendaraan terpaksa memarkirkan kendaraanya di luar rusun atau di rumah warga Kampung Salak dan kemudian menempuh jarak 200 meter lagi untuk sampai ke rusun.

“Mau tak mau harus jalan kaki. Kalau dipaksa naik motor takutnya jatuh, karena jalannya licin dan berlumpur,” kata warga blok A ini.

Penghuni lain, Darmanto mengaku situasi jalan benar-benar tak memberikan pilihan kepada penghuni di sana. Setiap musim hujan harus berhadapan dengan persoalan yang sama setiap musim hujan. “Sebenarnya sedang dalam pengerjaan, tapi kadang dikerjakan kadang berhenti. Karena itu jalannya semakin parah,” jelasnya.

Darmanto mengaku sudah satu tahun menjadi penghuni rusun tersebut. Selama itu juga ia dan penghuni lainnya harus berhadapan dengan lumpur setiap musim hujan.

“Agak heran juga saya, rusunnya sudah bisa ditempati tapi jalannya begini. Harusnya aksesnya dulu dibangun, baru tempat tinggal,” keluhnya.

Saat ini penghuni rusun benar-benar mengeluhkan kondisi itu, termasuk pihak Batamindo yang merasa dirugikan lantaran pengerjaan jalan itu membuat dinding pembatas BIP dua kali jebol. Itu terjadi karena tidak adanya drainase di sepanjang dinding pembatas kawasan BIP. Akibatnya saat hujan turun, tanah akan longsor dan menjebol dinding BIP.

“Memang sudah diperbaiki, tapi itu tidak menyelesaikan masalah, kita sudah capek menyurati Perkimtan. Bahkan kita juga menembuskan ke Baharkam Mabes Polri. Karena kawasan BIP merupakan kawan objek vital” kata Tjaw Hioeng, Manager Admin dan General Affair BIP.

Ayung berharap, Perkimtan mengintruksikan kontraktor untuk segera membangun drainase, agar ke depannya tidak menimbulkan masalah.

“Kita tidak mempermasalahkan pemerintah membangun Rusunawa. Tapi jangan meninggalkan masalah,” tutupnya. (une)

Akhir Pekan, Batam Padat Acara

0

batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam akan mengisi waktu luang masyarakat di akhir pekan dengan sejumlah acara hiburan dan tentu saja bakti sosial (baksos).

“Akhir pekan ini, BP menggelar pesta komunitas dan wisata kreatif di kawasan wisata Mega Ocarina,” kata Plt Kasubdit Humas BP Batam Muhammad Taofan, Jumat (12/10) di Batamcentre.

Setelah itu, akan ada final pemilihan dai cilik (pildacil) di Kepri Mall pada hari ini, Sabtu (13/10). Selain itu, ada acara baksos operasi bibir sumbing di Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Badan Pengusahaan (BP) Batam di hari yang sama.

Rangkaian kegiatan baksos ini terdiri bantuan sosial, kegiatan bakti kesehatan dan kegiatan bakti kebersihan dan penghijauan.

Kegiatan Bakti Sosial ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Batam, mulai dari anak-anak hingga lansia.

Operasi Bibir Sumbing diyakini dapat meningkatkan kepercayaan diri pasiennya. Selama ini, bibir sumbing dinilai mampu menurunkan kepercayaan diri anak, sehingga dapat mempengaruhi kondisi psikis anak hingga dewasa nanti. Sehingga atas dasar itulah RSBP mengadakan kegiatan operasi ini.

“RSBP akan bekerja sama dengan tenaga medis dari Alumni Fakultas Kedokteran UGM ’84, PERHATI Batam dan PGPKT Batam untuk pelaksanaan kegiatan Bersih-Bersih Telinga. Sedangkan untuk Operasi Bibir Sumbing kami bekerjasama dengan Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.” ujarnya.

Dan terakhir, BP akan kembali lagi menggelar acara gotong royong membersihkan fasilitas umum warga. Sebelumnya BP bergotong royong di Batuaji dan Piayu, maka pada Minggu (14/10) nanti, gotong royong akan dilakukan di Bengkong Sadai.(leo)

Kakek 58 Tahun Cabuli Bocah 11 Tahun

0
ilustrasi

batampos.co.id – Wu, 58, bertindak asusila terhadap Vn, 11 warga Rumah Liar (Ruli) Jalan lumba-lumba, Batuampar, Kota Batam, Provinis Kepri.

Aksi cabul ini, diketahui pertama kali oleh orangtua korban.

Kapolsek Batuampar AKP Ricky Firmansyah mengatakan, awalnya orangtua korban melihat anaknya keluar dari rumah dan kelihatan murung. Karena ada yang aneh dengah tingkah anaknya, selanjutnya orang tua Vn menanyakan apa yang terjadi. Setelah dimintai untuk berterus-terang, Vn mengatakan bahwa Wu sering memegang kemaluannya.

“Setelah anaknya ini cerita sama orang tuanya, selanjutnya orang tua korban melaporkan kejadian ini kepada kita, Sabtu kemarin (6/10) dan malamnya langsung kita tangkap,” ujarnya Jumat (12/10/2018) sore.

Dijelaskan Ricky, korban mengatakan jika Wu telah mencabulinya sejak bulan Juni lalu hingga dilaporkan pada awal Oktober kemarin. Selama hampir empat bulan itu, Wu telah melakukan pencabulan terhadap Vn sebanyak empat kali. Aksi bejat itu, dilakukan Wu di rumahnya Vn pada saat orangtua laki-laki Vn keluar untuk menjemput ibunya pulang kerja.

“Saat keluar itu, tersangka ini datang ke rumah korban. Diduga, aksi itu dibawah ancaman pelaku dan korban ini anaknya juga penurut. Aksi ini dilakukan dia dalam rentang waktu Pukul 22.00 WIB sampai 00.00 WIB,” tuturnya.

Ia menambahkan, kasus ini menjadi atensi pimpinannya karena memiliki dampak yang buruk kepada korbannya. Untuk itu, sejauh ini penyidik Unit Reskrim Polsek Batuampar terus mendalami keterangan dari Wu, apakah ada dugaan korban lainnya. Dalam keterangan Wu, tidak ada korban lainnya selain Vn. Namun, pihaknya akan terus mendalami kasus ini dengan mengumpulkan barang bukti.

“Selain menjadi atensi pimpinan karena memiliki dampak buruk terhadap anak, kepada orangtua juga kita imbau untuk lebih ketak dalam menjaga dan memberikan pengawasan kepada anaknya,” imbuhnya. (gie)

Dilarang Tersenyum Lebar

0

JADI petugas keamanan itu harus (terlihat) galak. Dan, agar (terlihat) galak, jangan suka mengumbar senyum.

Itu perintah yang dikeluarkan Dirjen Central Industrial Security Force (CISF) Rajesh Rahan kepada anak buahnya. Yang jumlahnya mencapai 144 ribu. Yang menjaga 60 bandara di India.

Boleh sih senyum. Tapi, jangan terlalu lebar. ”Petugas itu harusnya waspada, bukannya ramah,” ungkapnya seperti dikutip The Telegraph.

Rahan bahkan memakai insiden serangan 11 September pada 2001 di Amerika Serikat sebagai contoh. Katanya, petugas yang ramah membuat teroris lolos.

Masalahnya, sebelum perintah itu dikeluarkan, para anak buah Rahan dilatih instruktur dari Kementerian Pariwisata India untuk senyum tiga jari. Tujuan awalnya supaya turis merasa pelayanan umum India baik. Jadi, siapa yang harus dipatuhi? (bil/c10/ttg)