Senin, 20 April 2026
Beranda blog Halaman 11736

Meniru Jorong Tabek Nagari Talang Babungo, Tidak Dilarang

0

Salah satu dari puluhan halte Bergonjong ala Rumah Gadang Minangkabau di Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo (Riki Chandra/JawaPos.com)

Barang kali, Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo menjadi satu dari sedikit nagari (desa) yang terus mempertahankan keaslian alamnya. Masyarakat setempat tak hanya sekadar menjaga kultur, mereka pun mampu menyulap kampungnya yang semula lebih dikenal kumuh kini menjadi indah.

Semak belukar yang puluhan tahun ‘membingkai” kampung Tabek menjelma menjadi kawasan “seribu bunga”. Jorong yang berada di Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar) itu laksana taman bunga yang mengitari lekuk kaki bukit Talang Babungo.

Nyaris, tak sejengkal pun tanah yang kosong dari tanaman bunga di daerah tersebut. Terutama di sepanjang ruas jalan kampung berpenduduk sekitar 2.000 jiwa itu.

Siang hari di pekan ketiga September 2018, JawaPos.com berkesempatan mengelilingi setiap sudut-sudut kampung yang memiliki luas hampir 5.000 meter persegi itu. Jalan kampung ini hanya berkonstruksi beton dengan lebar tak lebih 2,5 meter. Sebagian di antaranya masih beralas tanah.

Topografi Jorong atau Kampung Tabek bergelombang. Ada jalan yang menurun dan ada yang menanjak. Kondisi ini dimanfaatkan bagi pengendara sepeda motor jenis trial untuk adu kebolehan. Setiap halaman rumah warga selalu dilengkapi dengan berbagai macam jenis bunga.

Ada jenis piladang merah (nama yang diberikan warga kampung), mawar, kertas, dan sebagainya.

“Kalau nama bunga ini saya kurang hafal. Yang jelas, mayoritas ditanam warga itu jenisnya piladang merah,” kata tokoh masyarakat Jorong Tabek, Kasri Satra saat mendampingi JawaPos.com mengitari kampung.

Setiap pinggiran jalan juga ditumbuhi tanaman tebu. Sisi kiri jalan dipenuhi tanaman tebu. Sebelah kanannya disesaki bunga. Ada juga yang menggabungkan tebu dan bunga di satu sisi jalan. Di sela-sela hamparan sawah, puluhan batang aren pun tak kalah indah dipandang mata.

“Ini lambang kehidupan. Warga Jorong Tabek mayoritas petani tebu dan aren. Sebagian kecil ke sawah dan ladang,” kata Kasri.

Kasri merupakan putra asli Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo yang lahir 40 tahun silam. dia pernah 3,5 tahun merantau ke Malaysia dan bekerja sebagai operator sebuah perusahaan. Lantas, pada 2004 lelaki yang juga mempersunting gadis Jorong Tabek itu memutuskan untuk kembali ke tanah air.

Selain cinta kampung, juga karena semangat kakaknya (almarhumah Ainismar) sang penggagas Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Muallimin Tabek yang membuat dia harus meninggalkan tanah rantau. Apalagi MIS Muallimin Tabek yang dulu didirikan almarhum kakaknya berupa “kandang kuda”, kini sudah bertransformasi menjadi sekolah terbaik”.

“Sayang umur beliau ditakdirkan pendek. Saya pulang karena pesan beliau meminta saya melanjutkan perjuangan MIS Muallimin,” kata Kasri yang pengajar mata pelajaran Bahasa Arab plus Penjaskes di MIS Muallim Tabek.

Sampai di tanah kelahiran, Kasri tak lantas sekedar aktif di lingkup madrasah. Dia juga aktif sebagai penggerak sosial pemuda di Jorong Tabek. Berbagai gerakan digagasnya. Mulai dari pembersihan kampung, bakti sosial terhadap penduduk kampung.

Kasri menyadari bahwa mengubah kampung tak segampang membalik telapak tangan. Selain pola hidup, minimnya sokongan dana juga penghalang terdepan baginya untuk berbuat lebih. Sehingga, yang diselenggarakan di Jorong Tabek, itu ke itu saja.

“Tapi saya tak putus asa, terus berjuang bagaimana kampung ini bisa indah dan nyaman,” katanya.

“Darah baru” penambah semangat itu datang di akhir 2015 silam. Program Kampung Berseri Astra (KBA) menyentuh Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo. Bahkan, Jorong ini satu-satu KBA di wilayah Provinsi Sumbar.

Kasri Satra pun didaulat menjadi Ketua KBA Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo. Menurutnya, hadirnya KBA di Jorong Tabek ini bukan tanpa penolakan. Sebagian warga bahkan menyangsikan, program sosial Corporate Social Responsibilty (CSR) Perusahaan internasional itu akan berdampak negatif pada generasi kampung pelosok yang selama ini kuat menjaga kultur.

“Yang mendukung awalnya tentu pemerintah Nagari. Sedangkan yang mau aktif mengembangkan KBA kala itu, hanya tiga orang. Tapi kami terus berjalan. Kita ajak dan beri pemahaman pada pemuda dan tetua kampung,” bebernya.

KBA menyentuh program empat pilar. Seperti pendidikan, kesehatan, kewirausahaan dan lingkungan. Bidang pendidikan, KBA fokus membina MIS Muallim dan satu unit TK Al-Makmur. Bidang kesehatan difokuskan ke Posyandu Kecubung. Bidang kewirausahaan, KBA membantu pembelian mesin kilang penyuling tebu menjadi gula.

“Bidang lingkungan, kami mengonsep seluruh kampung ditanami bunga, apa pun jenisnya. Ini untuk mengubah citra kampung yang puluhan tahun lamanya selalu dililit semak belukar,” sebutnya.

Sengsara Membawa Nikmat
Parabola usang disulap dengan atap ijuk menjadi tempat peristirahatan warga Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo. (Riki Chandra/JawaPos.com)

Menyalurkan KBA, Astra tidak memberikan penggerak secara finansial alias gaji. Program ini hanya menfasilitasi Jorong Tabek dengan sarana dan bantuan untuk berkegiatan. Seperti kemauan menanam bunga, tidak dibantu penuh dengan dana.

Misalnya, KBA dibantu beli bunga, masyarakat setelah itu gotongroyong bersama menata letak bunga, sekaligus mencarikan tempat-tempat bunga yang menarik pandangan.

“Kampung ini punya rasa kebersamaan yang masih terjaga. Sesulit apapun ekonomi, saat waktunya goro, mereka akan datang. Jadi, bunga yang sudah subur di setiap ruas jalan Tabek lahir karena kerjasama masyarakat yang didukung pihak Astra,” katanya.

Hasil nyata program empat pilar KBA ini juga membuka mata masyarakat yang semula mencemooh. Tak lama setelah memulai, KBA ini pun mendapat tempat di hati warga. Bahkan hari ini, pegiat KBA Jorong Tabek mencapai 413 orang.

“Selain pemuda, emak-emak mendominasi. Karena yang paling senang dengan bunga ya emak-emak. Jumlah penggiat kita juga paling banyak dari seluruh KBA di Indonesia,” sebut Kasri meyakinkan.

Selain membentuk empat koordinator di empat pilar program KBA, Kasri juga membagi wilayah kerja masing-masing penggerak. Hal ini tak lain untuk memudahkan jalannya kegiatan KBA Jorong Tabek. Paling tidak, ada 11 zona yang dibentuk di Jorong Tabek. Sedikitnya, setiap zona membawahi sekitar 40 KK.

“Nah, dengan ada zona ini, apa yang kita lakukan itu jadinya serentak dan terarah. Sekarang kampung ini sudah lazim sebut tinggal di zona satu, empat, delapan,” bebernya melempar senyum.

Fauza, 25, salah seorang pemuda Jorong Tabek mengatakan, sebelum menggeliatnya program KBA ini, Jorong Tabek cukup kumuh. Selain semak-belukar, sampah juga berserakan dimana-dimana.

“Kini tak ada lagi yang buang sampah sembarangan. Kalau jalan kotor, disapu. Nah, yang nyapunya terserah saja. Semua warga sekarang sadar bersih, dan mau menyapu jalan,” kata Fauza yang juga bergabung jadi pegiat KBA sejak setahun terakhir.

Sementara itu, Wali Nagari Talang Babungo Zulfatriadi mengatakan, cikal bakal hadirnya program KBA ini bermula dari peristiwa kebakaran besar yang menghanguskan 27 unit rumah warga Nagari Talang Babungo di 2015 silam.

Pasca kabakaran, otomatis pemerintah daerah hingga provinsi dan berbagai perusahaan berbondong-bondong datang ke Talang Babungo dengan maksud menyalurkan bantuan kepada korban bencana. Termasuk pihak Astra Padang datang ke Talang Babungo.

“Saya tanya ke pihak Astra, ada nggak program yang bisa untuk kampung ini. Dia bilang, ada dana CSR dengan program KBA bisa disalurkan dengan syarat yang telah jelas ketentuannya,” kata Zulfatriadi.

Singkatnya, sekitar 14 hari usai perbincangan itu, datanglah tim survei dari Jakarta. Tim itu memaparkan tentang kriteria dan tengah mencari nagari yang akan dijadikan KBA.

“Jadi, yang disurvei tim Astra di Sumbar tidak kami saja. Tapi, karena tertarik dengan Jorong Tabek, tim ini balik setelah survei dan menyatakan Jorong Tabek terpilih,” kata Wali Nagari berumur 43 tahun itu.

Beberapa syarat KBA antara lain, kehidupan masyarakat masih original. Belum tercampur virus gaya hidup modern. Lalu, sifat kebersamaan masih kuat. Sehingga, setiap program KBA nantinya, bisa dilaksanakan dengan cara gotongroyong.

“KBA datang pasca kampung kami ditimpa bencana. Saya sering sebut, inilah yang dinamakan sengsara membawa nikmat,” katanya.

Zulfatriadi memaparkan, Nagari Talang Babungo memiliki 7 Jorong dengan jumlah penduduk lebih dari 8 ribu jiwa. Pemilihan Jorong Tabek sebagai binaan KBA bukan tanpa alasan kuat. Pertama, karena letaknya lebih strategis. Persis berada di lekuk bukit selingkaran kebun tebu.

Mayoritas penduduk di sini berprofesi sebagai petani tebu dan aren. “Tanpa mengecilkan Jorong lain di Nagari ini, Jorong Tabek memang masih asri. Masyarakatnya masih original. Kondisi itulah yang memikat KBA hadir di Tabek,” terang Wali Nagari tingkat Kabupaten Solok tahun 2016 itu.

Selain soal keasrian lingkungan, KBA juga memberikan perhatian kepada petani, khususnya tebu. Sebab, sebagian besar warga Jorong Tabek menggantungkan hidup dari tetesan tebu yang diolah menjadi gula. Bahkan, luas peladangan tebu masyarakat di Talang Babungo mencapai 1.000 hektare.

“Kampung ini termasuk penghasil gula tebu terbesar di Sumbar. Sudah puluhan ton produksi gula tebu setiap bulan dari sini,” kata Wali Nagari.

Selama ini, petani mengolah tebu secara tradisional dengan cara dibakar. Kondisi ini memakan biaya produksi yang cukup tinggi. Atas keprihatinan itu, KBA juga memberikan bantuan mesin penggilingan tebu yang sudah disempurnakan. Sehingga, petani bisa mengolah lebih cepat dan tidak lagi berpanas-panasan depan di tungku.

Paling tidak, pabrik industri gula tebu Koperasi Serba Usaha (KSU) Tabek mampu menghemat biaya produksi hingga 70 persen. Jika diolah secara tradisional, biaya produksi bisa mencapai 50 persen dari keuntungan yang akan diraup. Bahkan saat ini, pihak Astra tengah menyiapkan gula tebu menjadi gula semut menuju pasar internasional.

“Sangat membantu. Ampas tebu juga diolah menjadi makanan ternak. Tapi, masih ada juga yang mengolah tabu secara tradisional,” sambung Ketua KBA Jorong Tabek, Kasri Satra.

 

Destinasi Wisata Budaya Minang Tua

Kampung Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo, Kabupaten Solok dikelilingi ribuan bunga dan tebu. (Riki Chandra/JawaPos.com)

Tranformasi Jorong Tabek dari kawasan semak belukar dan dipenuhi sampah tidak setengah-setengah. Selain menyulap setiap ruas jalan dengan ribuan bunga, kampung ini juga membangun puluhan halte berkonsep Minang tua. Tak berlebihan rasanya, pengunjung yang datang ke Tabek, betul-betul diajak kembali merasakan keindahan alam Minangkabau 100 tahun lampau.

Paling tidak, di setiap 11 zonasi yang dibentuk KBA berdiri 2 hingga 3 halte yang terbuat dari kayu. Mulai dari betung hingga batang aren yang sudah tak terpakai dimanfaatkan untuk halte. Semua atapnya terbuat dari ijuk dan bergonjong laksana rumah adat Minangkabau. Ada juga yang memanfaatkan parabola usang yang dibungkus dengan atap ijuk.

“Itulah bedanya halte di kampung kami dari halte di kota besar. Bahannya tidak dari semen. Tapi memanfaatkan semua batang kayu dan ijuk. Satu halte menghabiskan biaya pembuatan sampai Rp3 juta,” kata Ketua KBA Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo Kasri Satra.

Bedanya lagi, lanjut Kasri, halte di kota-kota difungsikan untuk persinggahan penumpang menunggu angkot atau bis kota. Di Jorong Tabek, fungsi halte untuk duduak bersama (baiyo-baiyo) menunggu malam selepas pulang bekerja sore hari. Semua kegiatan kini, biasanya dibincangkan sembari duduk di halte yang dikelilingi sawah dan kebun tebu.

“Kami juga tengah mengkonsep bagaimana pengunjung nanti ke sini tidak pakai sepeda motor atau mobil. Cukup jalan kaki, dan bersepeda. Ini demi menjaga keasrian alam Tabek,” kata Kasri.

Secara tidak langsung, konsep asri yang digiatkan sejak tiga tahun silam juga membawa perubahan siginifikan dikalangan masyarakat. Tak ada lagi sampah berserakan di kiri-kanan jalan. Nyaris tak ditemukan semak- belukar di setiap sudut kampung Jorong Tabek.

“Kalau jalan kotor, kami tak segan menyapu jalan. Ini sudah mengakar di tengah masyarakat,” terang Pelni, 35, salah seorang warga Jorong Tabek.

Wali Nagari Talang Babungo Zulfatriadi mengatakan, kecenderungan pihak Nagari dalam memanfaatkan program KBA memang lebih kepada lingkungan. Apalagi, letaknya Jorong Tabek sangat strategis dan alamnya masih asri. Paling utama sekali, bibit kebersamaan masih kuat di setiap individu penghuni Jorong Tabek.

Kondisi Tabek yang kian mempesona membuat semangat Nagari Talang Babungo kian bergelora. Dalam waktu dekat, Nagari ini akan mempersiapkan Jorong Tabek sebagai destinasi “Minang Tua”. Artinya, setiap paket wisata yang akan ditawarkan akan mengangkat tradisi Kemingkabauan yang kini jarang dijumpai di lokasi objek wisata Sumbar.

“Kami sedang siapkan paket wisata berbeda dengan daerah lain, bahkan dunia. Semuanya nanti original serupa Minangkabau tempo dulu. Biarkan zaman kian maju, kami tetap memegang konsep Keminangkabauan,” ucap Zulfatriadi.

Wali Nagari terbaik di Kabupaten Solok itu mencontohkan, pulau Dewata Bali saja sebagai cerminan objek wisata dunia, masih memanfaatkan potensi sawah. Bahkan, ada sawah yang sengaja untuk memanjakan mata pengunjung di tengah kota.

“Kok kita yang punya segini banyak sawah dengan alam indah tak mampu seperti itu? Makanya kami tergerak menuju ke arah wisata budaya,” bebernya.

Saat ini, pihaknya tengan menyiapkan sebanyak 40 home stay yang siap melayani wisatawan lokal, nasional hingga Mancanegara. “Sekarang saja sudah banyak yang ingin ke sini, tapi kita pending dulu. Sebab, kita belum lauching,” sebut Wali Nagari.

Zulfatriadi membocorkan sedikit konsep paket wisata budaya yang akan diterapkan di Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo. Diantaranya, saat wisatawan datang, siang harinya diajak berkeliling Jorong berjalan kaki. Lalu, diperkenalkan dengan cara menebang tebu hingga menjadi gula.

Wisata sawah, pengunjung diajak ikut bertanam padi, membajak hingga memanen. Ada juga nanti wisata memanjat batang aren. Lalu, sore harinya, wisatawan disilahkan mandi ke aliran sungai (seperti kebiasaan masyarakat tempo dulu). Malam harinya, wisatawan diperkenalkan dan diajak berlatih silat, randai dan segala jenis tradisi Minang.

“Jadi, pengunjung datang tak sekedar selfie dan balik lagi. Kami ingin jadikan Jorong Tabek destinasi budaya yang dirindukan. Sehingga pengunjung datang dan lagi-lagi datang,” bebernya.

Ketua Kampung Berseri Astra (KBA) Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo Kasri Satra . (Riki Chandra/JawaPos.com)

Terpisah, Koordinator KBA Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo Nur Imansyah Tara mengatakan, muara dari program KBA adalah melahirkan kemandirian terhadap Nagari yang dipilih. Hal itu diterapkan melalui pola edukasi, pelatihan, dan sokongan dana untuk pemenuhan konsep yang diusulkan.

Bidang pendidikan misalnya, KBA membantu kelengkapan sarana sekolah. Mulai dari MCK, UKS hingga proyektor, laboratorium dan beasiswa. “Pilar kesehatan, lingkungan, pendidikan dan kewirausahaan itu masing-masing kita edukasi. Semangat dan kebersamaan untuk menerapkannnya tetap berada di diri masyarakat,” kata Nur Imansyah Tara.

KBA sendiri akan terus memberikan pendampingan berlanjut pada Nagari (desa) terpilih hingga betul-betul mandiri. Namun, hingga tahun ini, KBA di Provinsi Sumbar hanya menyentuh Jorong Tabek, Nagari Talang Babungo.

“Sekarang fokus mewujudkan kemandirian Jorong Tabek dulu. Mungkin kedepannya jumlah KBA untuk wilayah Sumbar ditambah,” tutur Kepala Cabang Auto 2000 Khatib Sulaiman Padang itu.

(Riki Chandra, Sumatera Barat/JPC)

207 Titik Alat Peraga Kampanye di Batam

0

batampos.co.id- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Batam menetapkan 207 titik pemasangan baliho maupun spanduk atau alat peraga kampanye (APK) selama masa kampanye berlangsung. Sebanyak 47 titik digunakan untuk pemasangan baliho dan 160 titik untuk spanduk peserta pemilu.

Komisioner KPU Batam, Zaki Setiawan mengatakan masing-masing partai politik (Parpol) bisa mencetak lima baliho dan 10 spanduk, selain itu KPU juga akan memfasilitasi APK sebanyak 10 baliho dan 14 spanduk untuk masing-masing Parpol.

“Nanti lokasinya dibagi daerah mana yang spanduk dan mana yang baliho,” sebutnya, Sabtu (22/9)

Untuk lokasi pemasangan APK ini, KPU juga telah berkoordinasi dengan Pemko dan BP Batam. Hal ini bertujuan agar baliho maupun spanduk yang terpasang tidak mengganggu estetika kota maupun spanduk atau baliho yang sudah terpasabg sebelumnya.

Zaki menyebutkan pemasangan baliho boleh dilakukan diantaranya Simpang Jam- Pelabuhan Batuampar, Simpang Underpass, Simpang Indomobil, Simpang bengkong Aljabar sedangakn untuk spanduk bisa di Pasar Melcem, lapangan bola Tanjungsengkuang, jalan protokol Bengkongindah, Lytech Home dan beberapa titik lainnya.

“Jadi untuk APK ini memang dibatasi,”‘ sebutnya.

Tahapan kampanye akan berlangsung 23 September-13 April 2019 mendatang. Baliho maupun spanduk boleh memuat Partai, nomor urut, hingga visi misi peserta pemilu. “Yang penting tidak mengandung unsur sara,” ujarnya.

Ia menabahkan selain baliho dan spanduk, Parpol juga diperbolehkan memasang stiker di mobil hingga posko pemenangan. KPU berharap seluruh pemangku kepentingan di pemilihan 17 April nanti bisa menjaga kampanye damai.

“Iya kemarin kan sudah deklarasi damai. Peserta sudah tahu bagaimana berkampanye yang santu dan bersama-sama memerangi hoaks,” tutupnya.(yui)

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni belum Berjalan

0
ilustrasi

batampos.co.id – Dinas Sosial dan Pemberdayaan (Dinsos-PM) Batam masih belum memulai pengerjaan rumah tidak layak huni (RTLH) memasuki bulan kesembilan di tahun ini.

Bahkan rencana untuk mengganti material dari kayu menjadi rangka baja juga urung dilakukan sepenuhnya pada pengerjaan RTLH ini.

Kepala Dinsos PM Batam, Hasyimah mengatakan proses lelang masih berjalan saat ini. Pihaknya tetap optimisi pengerjaan bisa selesai sebelum tahun ini dan tidak gagal lelang.

“Kan lagi lelang. Masih ada tiga bulan lagi,” sebutnya, Jumat (21/9).

Mengenai pergantian material bangunan dari kayu menjadi rangka baja ringan, Hasyimah menyebutkan tidak bisa sepenuhnya diterapkan terutama mereka yang tinggal di hinterland atau pesisir. Sedangkan untuk yang di maindland semua setuju menggunakan rangka baja ringan tersebut.

“Itulah kendalanya. Mereka yang dipesisir tetap minta kayu,” ujarnya.

Untuk itu mekanisme proses perbaikan rumah ini akan mengggunakan dua material yakni kayu dan rangka baja ringan. Tahun ini ada 100 rumah yang mendapatkan bantuan perbaikan dengan anngaran mencapai Rp 3 miliar lebih.

“40 mainland dan 60 hinterland,” ucap mantan Kepala SDN 007 Batam ini.

Dia berharap perbedaan penggunaan material ini bisa mempermudah peserta lelang dalam menyediakan bahan baku dan perbaikan rumah yang tak layak bisa segera terealisasi.

“Ya mudah-mudahan bulan depan sudah bisa mulai pengerjaannya,” lanjutnya.

Meskipun tetap menggunakan kayu, proses diharapkan lebih cepat dari tahun lalu. Meskipun hingga saat ini belum ada realisasi dalam pengerjaan RTLH.

“Pokoknya tetap sebelum akhir tahun selesai,” tutupnya.(yui)

Pemko Batam Gesa Capai target 100 Wajib Pajak Gunakan Sistem Pajak Online

0
Server data pajak online.
foto: cecep mulyana / batampos

batampos.co.id – Penerapan sistem pajak online (Tapping Box) di Kota Batam terus digesa. Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Batam menargetkan pemasangan di 100 wajib pajak di tahun ini.

“Makanya untuk mengejar target tersebut kita akan undang 50 wajib pajak restoran dan 39 wajib hotel pada Senin, 24 September 2018 nanti,” kata Kepala BP2RD Kota Batam, Raja Azmansyah, Jumat (21/9).

Diakuinya, dari 100 wajib pajak yang telah dilakukan survey kelayakan pemasangan Tapping Box, 30 persen diantaranya, atau 31 wajib pajak sudah bisa langsung dipasang. Sementara 11 diantaranya masih menunggu jadwal pemasangan. “Kebetulan tim IT ke luar Batam, sehingga mereka minta waktu untuk menyelesaikan 11 wajib pajak ini,” tambah Raja.

Ia menambahkan, target 100 wajib pajak memasang Tapping Box ini merupakan target minimal di tahun ini. Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya wajib pajak di Batam yang belum memasang peralatan berbasis online tersebut. Pemilihan wajib pajak yang memasang peralatan ini dilihat dari omset penjualan, sehingga dirasa mampu mendongkrak PAD Batam.

“Kita maksimalkan di wajib pajak potensinya masih bisa ditingkatkan. Sehingga pelaporan juga lebih akurat,” tuturnya.

Penerapan sistem pajak online juga bagian dari RPJMD untuk menjadikan Batam sebagai smart city. Pemasangan juga bukan hanya pada wajib pajak hotel dan restoran, melainkan juga pada pengelola parkir, hiburan dan sumber pajak lainnya. Raja menegaskan, pemasangan bersifat wajib, artinya wajib pajak tidak bisa menolak jika sudah ditetapkan pemerintah.

BP2RD mengingatkan wajib pajak untuk tidak menghalangi proses survey dan pemasangan Tapping Box. Mengingat hal ini sudah diatur dalam perwako 25 Tahun 2016 tentang tata cara pembayaran Dan pelaporan pajak secara online. Selain itu wajib pajak juga wajib memberikan akses ke BP2RD, menyediakan mesin cash yang sesuai dengan alat perekam elektronik.

Pelanggaran atas ketentuan pasal 11 perwako dimaksud akan dikenakan sanksi administrasi, dan sanksi lain sesuai ketentuan perundang undangan,” tegas Raja. (rng)

Bagi Hasil Cukai Penyokong PAD Batam

0
ilustrasi foto: bank indonesia

batampos.co.id – Pemerintah Kota (Pemko) Batam memproyeksikan Rp 2,28 miliar dari bagi hasil cukai hasil tembakau pada APBD Perubahan 2018. Angka tersebut naik 100 persen bila dibandingkan target pada APBD murni lalu.

“Memang APBD murni tidak ada kita targetkan, dan baru masuk di APBD-P perubahan,” kata anggota Komisi II DPRD Kota Batam, Mukriyadi, Jumat (21/9).

Diakuinya, jumlah tersebut merupakan hasil dari cukai rokok, sesuai dengan aturan UU nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai. Dana bagi hasil cukai hasil tembakau ini nantinya diperuntukan untuk menambah sumber pendapatan daerah.

“Masuk ke PAD, yang selanjutnya diarahkan untuk kegiatan 2018,” tutur dia.

Ia menambahkan dana bagi hasil ini sangat dibutuhkan daerah, mengingat kondisi defisit saat ini. Untuk itulah ia tidak sepakat jika dana tersebut kembali dialihkan untuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Jelas kami tidak sepakat, karena kalau sempat dialihkan tentu akan berpengaruh terhadap pencapaian APBD Perubahan kita,” tegas Mukriadi lagi.

Dana bagi hasil cukai hasil tembakau tersebut juga menjadi satu kesatuan dari pendapatan daerah yang bersumber dari bagi hasil bukan pajak atau sumber daya alam yang diproyeksikan Rp 16,01 miliar pada APBD Perubahan.

“Selain cukai disana ada namanya bagi hasil sumber daya alam kehutanan, bagi hasil sumber daya alam perikanan, bagi hasil dari pengembangan gas alam bumi, dan bagi hasil sumber daya alam, mineral dan batuan,” jelas Mukriyadi.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelolaan pajak dan retibusi daerah (BP2RD) Batam, Raja Azmansyah membenarkan jika di APBD perubahan pemko menargetkan Rp 2,28 miliar. Dana ini masuk di dana perimbangan bagi hasil bukan pajak.

“Khusus ini bukan di BP2RD, tetapi di BPKAD,” kata Raja. (rng)

Banyak Destinasi Wisata Hiterland belum Disentuh Pemerintah

0

batampos.co.id – Objek wisata diyakini berpotensi mengenjot pendapatan asli daerah. Anggota Komisi IV DPRD Batam, Suhardi Tahirek mengatakan, banyak objek wisata di hinterland Batam yang berpotensi meningkatkan pendapatan, namun sayangnya belum tersentuh pemerintah.

“Pengembangan wisata tak hanya di mainland. Namun juga hinterland,” katanya, Jumat (21/9).

Suhardi mengatakan di hinterland Batam, masih banyak destinasi yang belum diketahui khalayak umum. Promosi, juga diperlukan agar penikmat wisata bisa menjelajah seluruh Batam.

Jembatan 3, 4, 5, misalnya banyak sekali pulau wisata. Ada yang namanya pulau penyabung. Sejarahnya lanjut dia, di sana dulu pulau yang dipakai jadi arena pertarungan sampai mati.

Begitu juga di Galang. Ada Kampung Aceh, dan di sana juga banyak ditemukan makam masyarakat Aceh. Di pulau ini juga ditemukan sumur tua peninggalan Belanda. Destinasi-destinasi ini diyakini mampu menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara bila dikelola dengan baik.

Suhardi melanjutkan, banyak sekali destinasi di hinterland yang belum tersentuh. Padahal, bila dibangun apik, wisata hinterland atau pulau penyangga, akan sangat banyak peminatnya. Terbukti, beberapa kali wisatawan yang datang ke sana, merasa puas dan ingin kembali lagi.

“Mengapa tidak kita manfaatkan. Kemarin ada yang ke hinterland warga Australia 20 an orang. Mereka senang dan ini kesempatan mengembangkan pariwisata daerah,” katanya.

Suhardi mengharapkan ada action pemerintah dalam mengembangkan pariwisata di Batam. Selain mainland sebagai wisata modern, pemerintah juga harus melihat hinterland sebagai wisata bahari dan sejarah.

Di 2019 nanti, ia berharap ada anggaran untuk pembangunan pulau-pulau.

“Harus ada action dari pemerintah. Infrastruktur kita bangun, destinasi objek wisata di hiterland kita kembangkan. Jadi dua hal ini sejalan dan saling mendukung,” jelasnya. (rng)

Lomba Menulis untuk Pelajar

0
ilustrasi

batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam menggelar lomba menulis opini untuk kategori pelajar SMA dan mahasiswa perguruan tinggi se Batam serta kategori khusus untuk pegawai BP Batam.

“Saya yakin generasi muda di Batam punya potensi menulis yang baik. Kami juga mengharapkan dari setiap SMA sederajat dan perguruan tinggi dapat mengirimkan wakilnya untuk mengikuti lomba menulis opini ini,” kata Koordinator Lomba Yudi H Purdaya, Jumat (21/9).

Lebih lanjut ia mengatakan tujuan pelaksaan perlombaan ini untuk memberikan pemahaman seputar potensi Batam sebagai kota pariwisata dan industri, serta memberikan masukan konstruktif kepada pemerintah dalam mengembangkan potensi tersebut secara optimal.

“Melalui lomba ini selain untuk membudayakan semangat menulis juga diharapkan diperoleh gagasan, ide dan masukan untuk kemajuan daerah, khususnya pada sektor pariwisata dan industri,” harapnya.

Ia menyebutkan tema yang diusung pada perlombaan, yakni “Mengembangkan Potensi Pariwisata Batam yang Optimal” untuk kategori Pelajar SLTA, dan “Mengembangkan Potensi Batam sebagai Daerah Industri” untuk kategori mahasiswa.

Sedangkan untuk ketegori khusus pegawai BP Batam temanya adalah “Meningkatkan Peran BP Batam Dalam Menghadapi Era Globalisasi”.

“Perlombaan ini terbuka bagi para pelajar dan mahasiswa, serta pegawai BP Batam dengan tema yang telah ditentukan panitia,” ungkapnya.

Pendaftaran dan penyerahan naskah dimulai dari 17 September hingga 13 Oktober 2018 di Perpustakaan BP Batam yang berada di Gedung IT Centre BP Batam.(leo)

Batam Pos Auto Show ke-6 Berakhir

0

batampos.co.id – Enam hari pelaksanaan Batam Pos Auto Show ke-6 di Kepri Mall, ditutup dengan kemeriahan acara. Dimana selain pameran otomotif, kegiatan tersebut dirangkai dengan beragam lomba serta pemberian penghargaan kepada para peserta pameran, Minggu (23/9).

“Kami mengapresiasi kegiatan Batam Pos Show ke-6, karena sangat positif dalam meningkat penjualan,” kata Andi Fermana, Sales Eksekutif Mitsubishi Batam.

Melalui pameran ini, pihaknya berhasil memasarkan produk terbaru mereka yakni Mitsubishi Xpander. “Harapan kami dengan mengikuti pameran ini menjadikan Mitsubishi tidak hanya dikenal warga Batam. Tetapi juga merangkup seluruh Kepri melalui pemberitaan di Koran Batam Pos,” ujarnya yang menilai suksesnya acara Batam Pos Auto Show ke-6.

Direktur Batam Pos Guntur Marchista Sunan, mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mensukseskan Batam Pos Auto Show ke-6, khususnya pada para peserta pameran. “Alhamdulillah kegiatan ini berakhir dengan apresiasi yang luar biasa,” ungkapnya.

Ia mengharapkan, ke depan Batam Pos mampu mengembangkan dan meningkatkan gairah di sektor otomotif melalui event Batam Pos Auto Show. “Semoga kegiatan ini tetap menjadi agenda rutin tahunan Batam Pos dalam mendukung pertumbuhan pasar otomotif di Kota Batam,” harap Guntur.

Manager EO Batam Pos Herman Mangundap menambahkan bahwa sektor otomotif diyakini masih potensial di Kota Batam. Walaupun kondisi perekonomian belum sepenuhnya pulih, namun penjualan otomotif tahun ini masih menunjukan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Diakuinya, event Batam Pos Auto Show menjadi kegiatan rutin dilakukan untuk menunjukkan bentuk partisipasi menyemangati para produsen otomotif.

“Dengan suksesnya Batam Pos Auto Show ke-6 ini dapat memberikan yang terbaik pada Batam Pos Auto Show yang ke tujuh, tahun depan,” ujar Herman. (rng)

DPR Setujui Rp 1,820 Miliar untuk BP Batam

0
ilustrasi

batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam mendapatkan alokasi anggaran untuk tahun 2019 sebesar Rp 1,820 triliun dari APNB. Meskipun begitu, angka ini masih belum sesuai dengan usulan semula yakni Rp 2 triliun.

“Itu untuk anggaran BP. Dan sudah disetujui Menteri Keuangan (Menkeu). Tapi kami masih usulkan tambahan Rupiah murni lagi,” kata Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo, Jumat (21/9) di Gedung Marketing Centre BP Batam.

Lukita mengatakan anggaran ini diperlukan untuk mendukung pembangunan dan pengembangan infrastruktur di Batam.

“Dan membenahi jalan-jalan akses ke kawasan industri (KI) yang belum terbanugn dengan baik. Alhamdulillah kalau bisa diberikan, kalau tidak bisa diupayakan dari sumber dana Penerimaa Negara Bukan Pajak (PNBP),” jelasnya.

Terpisah, Ketua Komisi VI DPR RI Teguh Juwarno menyetujui pagu anggaran BP Batam tahun 2019 sebesar Rp 1,820 triliun, yang selanjutnya akan disingkroninasikan Banggar DPR RI.

Dana tersebut, dialokasikan untuk program dukungan manajeman dan pelaksanaan tugas teknis sebesar Rp 793,055 miliar dan utuk program pengelolaan dan penyelenggaraan kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam sebesar Rp 1.027 triliun

“Komisi VI DPR RI juga menerima usulan tambahan anggaran BP Batam tahun 2019 yang bersumber dari rupiah murni sebesar Rp 225 miliar, untuk pengembangan Bandara Hang Nadim sebesar Rp 200 miliar dan pengembangan jalan kolektor kawasan strategis nasional sebesar Rp 25 miliar,” papar Teguh.

Dalam mengembangkan Batam, BP Batam membagi proyeknya ke dalam empat tahapan, yakni proyek jangka pendek tahap satu, proyek jangka pendek tahap kedua, proyek jangka pendek tahap ketiga dan proyek masa depan.

Untuk proyek jangka pendek tahap satu, BP akan mengembangkan Bandara Hang Nadim. Tujuannya adalah membangun terminal dua dan terminal cargo. BP merencakan proyek yang disebut Proyek Brownfield ini mulai diluncurkan pada 2019. Nilai investasinya sebesar 191 Juta Dolar Amerika.

foto: dalil harahap / batampos

Kemudian setelah itu membangun kota logistik Hang Nadim. Luasnya diperkirakan mencapai 1.782 hektar dengan nilai investasi mencapai 1,3 Miliar Dolar Amerika.

Untuk proyek jangka pendek tahap dua, BP akan berfokus pada sektor pariwisata. BP akan mengembangkan Kawasan Agrowisata Marina dengan luas 116 hektar. Nantinya akan diisi oleh wisata agrikultural, kemudian perikanan dan juga rekreasi serta eksibisi.

Berikutnya adalah pengembangan Kawasan Tanjungriau Fisherism dengan luas mencapai 3,93 hektar terdiri dari 2,23 hektar lahan di laut dan 1,7 hektar lahan di darat.

Tanjungriau Fisherism ini direncanakan menjadi pusat atraksi snorkeling dan pusat dari kuliner makanan laut. Dan terakhir mengembangkan Camp Vietnam di Galang.

Luas Camp Vietnam mencapai 80 hektar. Pengembangan baru nanti akan menambahkan area rekreasi, restauran dan kebun binatang mini.

Sedangkan untuk proyek jangka pendek tahap ketiga, BP akan berfokus kepada pembenahan utilitas air. Pertama, BP akan melelang pengelolaan Dam Tembesi. Investasinya mencapai 20 juta Dolar Amerika dan proses lelangnya akan dimulai pada kuartal keempat tahun ini.

Dalam proses lelang, ada sejumlah ketentuan dari BP yang harus disetujui peminat lelang, seperti pembangunan pipa transimisi air bersih dari reservoir menuju jaringan pipa distribusi yang menghubungkannya dengan masyarakat.

Selanjutnya adalah memperbaiki sistem suplai air dari dam-dam yang ada di Batam. Proyek ini diperlukan untuk mempersiapkan Batam dalam menghadapi pengakhiran masa konsesi dengan ATB pada November 2019 nanti.

BP Batam akan melelang proyek perbaikan sistem suplai air ini pada semester pertama 2019 dengan nilai invesasi capai 68 juta Dolar Amerika.

Dan terakhir adalah proyek masa depan. Ada tiga yang masuk kategori ini yakni pengembangan Pelabuhan Batuampar, pengembangan Light Rail Transit (LRT) dan pembangunan resort budaya patung elang di Sekupang.

Untuk Batuampar akan dimulai dari proses modernisasi alat-alatnya hingga pengembangan dermaga utara. Nilai investasinya mencapai 2 Miliar Dolar Amerika.

Selanjutnya adalah pembangunan LRT yang akan terdiri dari dua jalur. Jalur pertama dari Batamcentre menuju Tanjunguncang dan jalur kedua dari Batuampar menuju Bandara Hang Nadim. Nilai investasinya diperkirakan mencapai 600 juta Dolar Amerika.

Dan terakhir pembangunan resort budaya patung elang di Tanjungpinggir Sekupang. Lokasi ini akan menjadi pusat pariwisata karena BP akan membangun hotel, plaza, galeri seni, pusat konvensi dan lainnya. Seperti sebuah kota mandiri. Nilai investasi untuk area seluas 100 hektar ini mencapai 0,6 Miliar Dolar Amerika.(leo)

Aturan Pajak Belum Berubah, BP2RD Tetap Jalankan Tarif Lama

0
ilustrasi foto: bank indonesia

batampos.co.id– Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) tetap memungut pajak daerah sesuai dengan Peraturan Daerah (perda) Nomor 17 tahun 2017 tentang Pajak Daerah.

“Tetap jalan saja sesuai perda itu,” Kepala BP2RD Kota Batam Raja Azmansyah, Jumat (21/9) siang.

Ia mengatakan, hal ini tetap dilakukan karena belum mendapat keputusan terbaru terkait penundaan kembali pajak yang pernah ditunda tiga bulan tersebut.

“Belum ada keputusan baru. Maka, secara de jure, materi Perda 7 tahun 2017 itu yang kami jalankan,” tambah dia.

Menurutnya, pungutan perda ini akan dihentikan atau ditunda hingga ada kebijakan baru berdasarkan kesepakatan bersama. “Kami ini hanya pelaksana perda,” imbuh dia.

Sebelum permintaan penundaan oleh berbagai asosiasi usaha hiburan, Perda tersebut pernah di tunda selama tiga bulan pajak dari Desember 2017 hingga Februari 2018.

Penundaan ini tertuang dalam Peraturan Wali Kota Batam Nomor 72 tahun 2017 tentang Pemberian Keringanan Pajak Daerah Berupa Penundaan Kenaikan Tarif Pajak.

Permintaan penundaan kembali mencuat setelah Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Batam meminta Pemko Batam meninjau kembali kenaikan pajak tersebut. Alasanya karean ekonomi Batam masih lesu.

“Keputusan dari DPRD Batam kami tunggu,” ucap dia.

Keputusan yang dimaksud Raja terkait surat yang diajukan oleh Wali Kota Batam. Ada dua opsi yang disampaikan dalam surat tersebut. Pertama, menurunkan tarif pajak hiburan dari 35 persen berdasar Perda 7 tahun 2017 menjadi 25 persen sampai tanggal 31 desember 2018. Selanjutnya terhitung 1 januari 2019 kembali 35 persen.

Kedua, menunda kembali penerapan kenaikan tarif pajak hiburan direncanakan 1 Maret 2018. Selanjutnya dapat diberlakukan tanggal 1 januari 2019 dengan ketentuan tarif pajak hiburan tetap mengacu sesuai peraturan sebelum Perda 7 tahun 2017 yakni sebesar 15 persen.

“Yang diminta asosiasi adalah penurunan tarif,” ucap Raja di lain kesempatan. (iza)