Seorang warga berjalan di bangunan kios sementara yang berada di dekat Pasar Induk Jodoh, Selasa (7/8). Kios-kios itu nanti akan ditempati para pedagang yang berada di Pasar Induk Jodoh. F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos.co.id – Beberapa kios yang dipersiapkan oleh Pemerintah Kota Batam di samping Pasar Induk Jodoh untuk para pedagang yang terkena penertiban masih tampak kosong. Beberapa pedagang masih enggan menempati kios tersebut karena merasa keberatan dengan harga sewa yang dinilai cukup tinggi.
Salah satu pedagang Dani mengatakan, kios yang disediakan oleh Pemko Batam itu hanya berukuran 3×4 meter. Dimana, dengan ukuran itu dianggap kecil dan tidak dapat menampung barang-barang milik pedagang. Selain itu, kios tersebut juga masih belum ada pintu rolling door dan itu menjadi tanggung jawab pedagang.
“Kalau dipikir-pikir berat, karena kami harus mengeluarkan uang lagi sedikitnya Rp 7 juta untuk beli pintu dan merapikan kiosnya lagi dengan ngecor lantainya,” katanya.
Ia mengatakan, sebelumnya telah setuju untuk pindah ke kios yang baru beradasarkan rapat yang dilakukan di Kantor Camat. Namun sejauh ini ia masih menunggu biaya untuk bisa pindah ke kios yang sudah disediakan oleh Pemko Batam itu dengan tetap bertahan di kiosnya yang lama.
“Kalau ada biaya untuk merenovasi kiosnya sudah dari kemarin kami pindah,” bebernya.
Sementara itu, salah satu pedagang yang telah menempati kios baru itu mengatakan bahwa ia terpaksa segera pindah. Karena selama ini banyak barang-barang seperti besi maupun kabel tembaga dicuri oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Untuk itu, ia memilih untuk segera pindah ke kios yang baru.
“Saya harap semuanya bisa pindah kesini. Supaya pembeli kesini semua nanti. Selain itu, pemerintah juga bisa menyelesaikan jalan maupun bangunan yang belum jadi,” ujarnya. (gie)
batampos.co.id – Badan pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Batam terus aktif melakukan penagihan Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB P2).
Hingga kemarin, capaian pajak andalan penerimaan daerah Kota Batam ini baru Rp 121,9 miliar dari target tahun 2018 ini Rp 158,5 miliar.
Kepala BP2RD Batam Raja Azmansyah menyebutkan salah satunya yakni menurunkan tim untuk melakukan penagihan langsung ke Wajib Pajak (WP), terutama ke WP yang besar.
“Kami datangi, menagih ke WP yang punya tunggakan. Turun bersama tim, ke hotel-hotel juga perusahaan-perusahaan,” ucap dia, Selasa (11/9).
Sekadar diketahui, jumlahnya WP besar sekitar 7 ribuan dari total 290an ribu WP, sebagian besar WP perorangan atau warga.
Selain itu, pihaknya juga telah bersurat ke bank mitra BP2RD untuk membuka kembali konter-konter serupa di mall ataupun pusat keramaian lai seperti yang dilakukan menjelang jatuh tempo, 31 Agustus lalu.
“Tinggal menunggu respon mereka,” imbuhnya.
Permintaan tersebut akan disampaikan lagi dalam rapat koordinasi yang dilakukan, pekan depan. “Rapat koordinasi ini juga membahas bagaimana mekanismenya (kemungkinan pembukaan konter),” tambahnya.
Menurut dia, tidak hanya dua cara tersebut, pihaknya juga terus melakukan imbauan melalui program yang dilaksanakan oleh BP2RD, juga kegiatan. “Ini kami lakukan sembari melakukan penagihan aktif,” sebut dia.
Tim penagihan PBB P2 BP2RD Kota Batam selain menyasar WP besar, kegiatan ini dijalan bersama dengan verifikasi data piutang.
“Kami turun langsung didampingi oleh Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan,” kata ketua tim, Vivit, Kamis (30/8).
Dalam hal ini, tim membagi tugas pada semua wilayah Batam. Adapun yang akan diverifikasi seperti nomor objek pajak (NOP) ganda, objek pajak yang sudah beralih fungsi menjadi fasilitas umum atau fasilitas sosial hingga terkait objek pajak tak ditemukan.
“Ketika tim turun dan menemukan wajib pajak yang menunggak, langsung diimbau untuk segera lakukan pembayaran,” sebut dia. (iza)
Wisatawan luar negeri dan nasional berfoto berlatar belakang Jembatan I Barelang, Rabu (4/7). Jembatan I Barelang ini adalah tempat wisata faforit. Bila belum ke Jemabatan ini belum sah ke Batam. F Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwasata (Disbudpar) Kota Batam Pebrialin mengatakan, membangun pariwisata ditengah keterbatasan anggaran perlu ada kolaborasi dan sinergi bergabagai elemen.
Dari masyarakat maupun stakeholder (pemangku kepentingan) kepariwisataan, seperti asosiasi pariwisata, lembaga pendidikan kepariwisataan juga pemerintah, baik daerah maupun pusat.
“Tentunya kolaborasi dan sinergi. Kami dorong semua pihak berpartisipasi menggelar kegiatan nasional maupun internasional di Batam,” kata dia, Selasa (11/9).
Menurutnya walau ada kegiatan yang tidak teranggarkan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Batam. Ia mengaku ada sumbangsih dari pihak non pemerintah baik berskala nasional maupun internasional.
“Contoh yang Miss Tourism Worldwide kemarin, oleh lisensi dari Singapura bekerjasama dengan Hotel Pasific dan Radisson,” ucapnya.
Ia mengatakan, asosiasi pariwisata juga punya jaringan untuk mengelar kegiatan di Bata. kegiatan lain seperti lomba sepeda Singapura Championship yang dikerjasamakan dengan even organiser dan federasi sepeda Singapura dan ISSI Kepri, Juni lalu. Juga ada kegiatan Nongsa Regata.
“Disbudpar kepri dan Kemenpar juga dukung. Batam salah satu daerah yang dapat program hot deals dari Kemenpar, tiketnya diskon tapi khusus saat weekday,” katanya.
Kami mengenal stilah, Aksesbilitas, Amenitas dan atrakasi. Aksesbilitas seperti yang dilakukan oleh Pemko Batam pelebaran jalan adalah salah satunya, yangs aat ini sedang dikerjakan, ini tak terlepas membangun pariwisata.
Ia memaparkan, ada tiga hal yang erat kaitannya dengan pariwisata, yakni aksesbilitas, amenitas dan atraksi. Aksesbilitas salah satunya yakni yang tengah digenjot Pemko Batam yakni pembangunan jalan.
“Ini merupakan bagian dari pengembangan pariwisata,” ucapnya.
Sementara untuk amenitas yakni ketersedian sarana seperti hotel. Dalam hal in, ia menyebutkan di Batam cukup mumpuni.
Soal atraksi seperti iven yang diharapkan dikembangkan bersama stakeholder pariwisata dan pengembangan destinasi. “Kita kembangkan pulau Ranoh. Terus ada juga Kampung terih Nongsa, Tebing Langit Sekupang yang melibatkan masyarakat dan komuniotas,” paparnya. (iza)
Ilustrasi mobil otonom Mercedes-Benz Jadi angkutan penumpang dan kargo tanpa sopir (Istimewa)
batampos.co.id – Dalam beberapa tahun belakangan, beberapa raksasa otomotif seperti Tesla, Volvo, hingga Mercedes-Benz telah berhasil mengembangkan mobil prototipe otonomous atau mobil tanpa pengemudi.
Salah satu merek Eropa yang paling getol dengan mobil tanpa awak ini adalah Mercedes-Benz. Mengutip Leftlanenews, Senin (10/9), merek asal Jerman ini telah mengungkap desain bernama Vision Urbanetic, yaitu konsep modular untuk mendukung kebutuhan transportasi pribadi maupun komersial.
Konsep yang ditawarkan pada platform Vision Urbanetic ini adalah mobil listrik otonom yang akan diintegrasikan dengan kereta luncur dengan tenaga penggerak sistem baterai. Artinya ia bisa meluncur pada rel khusus sekaligus melantai di jalan raya beraspal secara mandiri.
Mobil ini juga didesain sebagai model mini dari model transportasi massal yang punya kapasitas muat yang mumpuni untuk bisa mengangkut barang juga manusia. Ia dibangun dari model multifungsi dengan konsep modular penumpang maupun kargo.
Jadi ketika ingin difungsikan sebagai angkutan orang, mobil Vision Urbanetic dapat membawa penumpang hingga 12 orang dalam layanan angkutan atau transportasi umum. Begitu pun ketika ingin digunakan untuk muatan kargo, ia siap dengan ruang muat seluas 12 kaki yang mampu menampung banyak barang.
Mobil yang dikembangkan Mercedes ini, nantinya secara teknologi dapat diintegrasikan dengan sistem manejemen transportasi lainnya. Seperti sistem manajemen transportasi kereta modern juga mekanisme infrastruktur perusahaan lainnya. Model ini masih dalam pengembangan dan akan segera mendapat uji coba di beberapa negara Eropa.
Ilustrasi Prajurit Amerika yang sedang ikut menjalani penelitian DARPA terkait penegndalaina mesintempur lewat pikiran. (SecondNexus)
batampos.co.id – Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) memiliki ambisi untuk mengendalikan mesin tempur hanya dengan pikiran saja. Badan Proyek Penelitian Lanjutan Pertahanan milik Amerika Serikat (AS) ini sedang fokus meneliti teknologi Next Generation Nonsurgical Neurotechnology (N3) program.
Sebagaimana JawaPos.com kutip dari laman TheNextWeb, Senin (10/9), lembaga pemikir untuk Departemen Pertahanan AS yang terletak di Pentagon itu sedang menyelenggarakan simposium selama tiga hari dalam perayaan ulang tahun ke-60 pekan ini.
Banyak sorotan dari acara tersebut, termasuk diskusi tentang beberapa proyek yang paling mencengangkan, yakni berusaha membangun Brain Computer
Interface (BCI) atau komputer otak yang tidak memerlukan operasi atau prosedur invasif (konvensional) untuk menggerakan benda-benda. Pada dasarnya teknologi BCI saat ini, yang sebagian besar dirancang untuk membantu penyandang cacat.
Namun, DARPA menginginkan sesuatu yang ringan, tahan lama, dan mampu melakukan di lingkungan yang tidak bersahabat dengan melakukan modifikasi. Dalam kasus ini, ada program pelatihan yang menyertai untuk membantu anggota militer dalam mengembangkan keterampilan khusus yang diperlukan untuk mengoperasikan BCI secara optimal.
Pelatihan tersebut dikenal dengan Pelatihan Neuroplastisitas Bertarget. Dari sana ada banyak perangkat proof-of-concept yang sudah dalam pengembangan mutakhir.
Dr. Al Emondi, manajer program di Kantor Teknologi Biologi DARPA mengatakan, DARPA meminta tim peneliti multidisiplin untuk membangun pendekatan yang memungkinkan interaksi yang tepat dengan area otak yang sangat kecil, tanpa mengorbankan resolusi sinyal atau memperkenalkan latensi yang tidak dapat diterima ke dalam sistem N3.
Berdasarkan siaran pers dari DARPA. Badan tersebut mengharapkan untuk memberikan perangkat yang berfungsi penuh yang dapat digunakan dalam tugas yang relevan dengan pertahanan yang dapat mencakup interaksi manusia-mesin dengan kendaraan udara tak berawak, sistem pertahanan cyber yang aktif, atau sistem Departemen Pertahanan lainnya yang terdokumentasi dengan baik.
“Kami akan menggunakannya untuk membuat robot menari dan membawakan bir. Tetapi pertahanan nasional juga terdengar penting,” ujar Emondi.
Kendati begitu, proyek ini masih belum memiliki kemungkinan besar untuk melihat perkembangan lebih lanjut. DARPA mengatakan bahwa ide ini tidak terikat pada misi untuk menghasilkan hasil yang nyata. Melainkan berfungsi sebagai tempat uji untuk gagasan saja.
batampos.co.id – Pembahasan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2018 hanya meneruskan kegiatan yang ada di APBD murni 2018. Tidak ada proyek baru yang akan dikerjakan. DPRD memprediksi pengesahan APBD Perubahan akan selesai akhir September ini.
Ketua DPRD Kota Batam, Nuryanto mengakui saat ini Badan Anggaran (Banggar) DPRD Batam dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Pemko Batam tengah melakukan pembahasan terkait pendapatan daerah dari setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemko.
“Kita rencanakan akhir bulan ini selesai dibahas,” kata Nuryanto, Selasa (11/9).
Diakuinya, pengesahan APBD Perubahan tahun ini sedikit terlambat dibandingkan tahun lalu. Selain baru diserahkan pemko, ada beberapa pertimbangan lain dalam melakukan pembahasan seperti kehati-hatian di dalam estimasi anggaran pendapatan dan belanja lebih tepat.
“Faktor-faktor lain seperti realisasi anggaran di semester pertama. Ada beberapa pos yang tidak bisa tercapai,” tuturnya.
Anggota Banggar DPRD Batam Bobi Aleksander Siregar membenarkan jika saat ini pihaknya tengah membahas APBD perubahan 2018.
“Masih dalam proses pembahasan. Teruma mengenai pendapatan dan realisasi penerimaan daerah di setiap OPD penghasil,” kata dia.
Aman anggota Banggar menambahkan, untuk Kebijakan Umum Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD Perubahan 2018 sudah mulai dibahas. Pembahasan KUA-PPAS diawali rapat Banggar bersama eksekutif dan dilanjutkan rapat pra pembahasan komisi dengan OPD.
Sebelumnya, APBD Kota Batam yang semula ditargetkan di APBD Murni tahun 2018 sebesar Rp 2,8 triliun (Rp 2.629.396.713.455) turun menjadi Rp 2,5 triliun (Rp 2.537.306.459.521) pada KUA-PPAS Perubahan. Terjadi pengurangan Rp 92 miliar atau sebesar 3,5 persen.
Wali Kota Batam, Muhammad Rudi mengatakan, asumsi yang mendasari penyusunan Rancangan KUA dan Rancangan PPAS Perubahan APBD 2018 diantaranya terjadinya perubahan di komponen pendapatan. PAD yang awalnya diproyeksi Rp 1,25 triliun (Rp 1.258.164.857.350) menjadi Rp 1,23 triliun (Rp 1.235.323.069.020). Begitu juga dengan dana perimbangan dari awalnya Rp 934,6 miliar menjadi Rp 926,4 miliar, sedangkan lain-lain pendapatan yang sah dari Rp 348,2 miliar jadi Rp 309,6 miliar.
“Perubahan asumsi dasar kebijakan umum APBD kota Batam 2018 diakibatkan oleh terjadinya perubahan asumsi dan proyeksi pendapatan daerah, alokasi belanja daerah, sumber dan penggunaan pembiayaan yang semula ditetapkan dalam APBD kota Batam 2018,” kata Rudi dalam paripurna penyampaian Rancangan KUA-PPAS Perubahan APBD Batam tahun 2018, Senin (3/9).
Berkenaan dengan terjadinya perubahan penerimaan, lanjut dia, belanja pada perubahan APBD Kota Batam 2018 dilaksanakan melalui kebijakan. Salah satunya mengevaluasi dan rasionalisasi kegiatan dan sub kegiatan pada SKPD dalam hal daya serap, identifikasi permasalahan yang dihadapi dilapangan, proses pengadaan barang/ jasa serta memperhatikan ketentuan peraturan yang berlaku.
Pihaknya juga melakukan revisi dokumen pelaksanaan anggaran yakni revisi sasaran dan target, dengan melakukan pergesaran anggaran dan rekening belanja. Menggunakan alokasi belanja dari hasil evaluasi dan rasionalisasi kegiatan, serta hasil evaluasi pengadaan barang dan jasa, sehingga hal tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran anggaran belanja dalam dan antar SKPD.
“Untuk belanja tidak langsung diarahkan untuk pos-pos dana yang merupakan ketentuan dari pemerintah pusat dan kebijakan pemerintah daerah sesuai ketentuan yang berlaku,” sebut Rudi. (rng)
batampos.co.id – Bandar Udara Hang Nadim akan segera ditenderkan mulai Bulan Desember mendatang.
“Ini kami mundurkan dari Bulan Oktober ke Desember,” kata Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo, Senin (10/9).
Dalam mengembangkan Bandara Hang Nadim, BP Batam Butuh dukungan dari Kementerian Keuangan. Pasalnya kebijakan yang diterapkan BP Batam dengan pememang tender adalah memakai konsep kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).
“Bentuk dukungannya adalah sebagai transaction advisor dan memberikan garansi dari perusahaan penjamin infrastruktur,” kata Lukita.
Dengan dukungan seperti ini, maka BP dapat membuka tender dengan lancar. Karena mendapat kepastian hukum dan kenyamanan dari pemerintah.
Setelah mendapatkan dukungan dari Kemenkeu, maka BP akan membuka tender tersebut. BP mengadopsi konsep KPBU karena memiliki banyak keuntungan.
Keuntungan pertama adalah pemerintah dalam hal ini BP Batam tetap memegang kendali proyek. Kedua percepatan pembangunan infrastruktur tanpa membebani APBN maupun APBD.
Ketiga pemanfaatan keahlian teknis dan komersial dari badan usaha. Keempat pembagian risiko dilakukan dengan badan usaha dan terakhir adalah value for money (VFM) yang lebih baik melalui proses pengadaan yang transparan dan kompetitif.(leo)
batampos.co.id – Empat anak di bawah umur di Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau, mengonsumsi ineks yang dikira permen.
“Ya, menemukan ineks di mobil bapaknya, dikira permen,” ujar Kapolres Bengkalis AKBP Yusup Rahmanto saat dikonfirmasi JawaPos.com, Selasa (11/9).
Adapun keempat anak laki-laki itu berinisial J, 7, dan F, 7, yang masih duduk di bangku kelas 1 SD. Kemudian MAM, 9, serta Z, 8, yang duduk di bangku kelas 3 SD.
Kejadian bermula ketika seorang balita perempuan berinisial N, 2, anak dari H alias Wel, menemukan pil warna hijau di dalam mobil ayahnya pada Senin (10/9) siang. Awalnya, N mengira kalau itu adalah permen. Kemudian dia memberitahukan kepada kakaknya berinisial R, 8.
Oleh R, obat yang dikira permen itu dipotong menjadi empat bagian. Kemudian R memberikan kepada empat korban. Namun setelah mengonsumsinya, tiga dari empat anak mengalami pusing.
Mereka langsung dilarikan ke Puskesmas Bukit Batu. Ketiga anak itu ialah J, MAM, dan Z. Sedangkan F tidak mengalami efek pusing setelah membuang ineks tersebut karena dirasa pahit.
“Kami mendapatkan informasi itu langsung membawa H dan mobilnya ke Polsek Bukit Batu. Di sana, ia diinterogasi dan dilakukan penggeledahan. Kami temukan diduga pil ekstasi warna hijau. Mirip dengan yang dibagi-bagikan anaknya,” jelas Yusup.
Polisi kemudian melakukan tes urine terhadap H. Hasilnya positif mengonsumsi zat amphetamine. “Dia diamankan guna proses penyidikan lebih lanjut,” ujarnya.
Sementara itu, pil ekstasi akan dikirim ke Puslabfor di Medan. Tujuannya untuk membuktikan apakah pil itu memang ekstasi atau bukan.
Keterangan Foto; Suasana stan pameran pada Pekan Industri Kreatif di TCC Mal, Tanjungpinang pada akhir pekan kemarin. F/fara
batampos.co.id – Kepri memiliki potensi yang tepat untuk menjadi salah satu basis industri ekonomi kreatif di Indonesia.
“Untuk Batam menjadi ladang subur bagi start up. Karena start up dapat berkolaborasi dengan bisnis internasional dengan mudah,” kata Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Sungkari belum lama ini.
Berdasarkan indikator kegiatan ekonomi kreatif menurut Provinsi pada tahun 2016, Kepri sudah memiliki 100,9 ribu usaha ekonomi kreatif.
“Dan dari jumlah tersebut mampu memberikan pekerjaan pada 229,7 ribu orang. Untuk total ekspornya sudah mecapai 98,7 juta Dolar Amerika,” tambahnya.
Namun jumlah tersebut masih kecil dari persentase ekspor Indonesia untuk industri ekonomi kreatif. Hanya 1,45 persen.
Hari mengatakan industri kreatif cenderung berkembang pesat.
“Selama tahun 2015-2016, jumlah penduduk yang bekerja di sektor ini cenderung meningkat dari 15,95 juta pada tahun 2015 menjadi 16,90 juta orang pada tahun 2016,” ucapnya.
Imbasnya adalah nilai Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor ekonomi kreatif ikut terpacu. Dari 852,56 triliun Rupiah pada tahun 2015 menjadi 922,58 triliun Rupiah pada tahun 2016.
Hari mengatakan prospek positif tersebut menjadi kesempatan bagi Kepri khususnya Batam untuk meningkatkan geliat industri kreatif.
Sehingga ia menyarankan sejumlah sektor potensial agar digandeng oleh pelaku usaha industri kreatif.
“Potensi baru tersebut yakni logistik, industri digital, pertanian, pariwisata dan talent solutions,” katanya lagi.
Terpisah, Badan Pengusahaan (BP) Batam menyambut kebangkitan sektor ini dengan sumringah.
Kenyataan tersebut dapat dilihat dari niat BP yang tengah menggodok rencana pembentukan Biro Pengembangan Ekonomi Kreatif.
Disamping itu, BP juga telah menandatangani kerjasama dengan Bekraf terkait pengembangan ekonomi kreatif di Batam.
“Di Batam akan mulai dirintis, karena kulinernya cukup banyak. Kita kembangkan dan persiapkan kemasan yang bagus,” jelas Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo.
Ia meyakini dengan kerjasama ini pihaknya dapat mendukung dan memberikan fasilitas bagi pelaku UMKM Batam yang senantiasa ingin menjangkau pasar luar. (leo)