batampos.co.id – Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kepri, Irwansyah mengatakan defisit APBD Kepri kian mengkhawatirkan. Data sementara dari Januari hingga Juni 2018 besaran defisit sudah sampai pada angka Rp 307 miliar. Jumlah tersebut belum ditambah dengan kebutuhan belanja Pemprov Kepri, sehingga masih berpotensi bertambah besar.
“Defisit sebesar Rp 307 miliar tercatat sampai tanggal 8 Juni 2018. Tentu ini harus menjadi atensi bagi Gubernur, Wakil Gubernur dan Sekda Kepri tentunya,” ujar Irwansyah, Minggu (15/7).
Legislator Komisi III DPRD Kepri tersebut menjelaskan, berdasarkan penjelasan Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kepri, realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kepri sampai semester pertama sebesar Rp 576 miliar atau sekitar 50 persen dari target sebesar Rp 1,223 triliun.
Disebutkannya, PAD tersebut bersumber dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN KB), Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB KB), Pajak Air Permukaan (PAP) dan Pajak Rokok. “Dari sumber-sumber tersebut, hanya dari sektor kelautan atau labuh jangkar yang belum ada kontribusinya,” tegasnya.
Mantan Dewan Batam itu juga mengatakan, BP2RD Kepri sudah pesimis untuk mencapai target tersebut. Sehingga ada wacana akan melakukan perubahan target pada APBD Perubahan nanti. Adapun target yang akan disesuaikan adalah dari sektor Pajak Air Permukaan (PAP) sebesar Rp 8,84 miliar. Satu sektor lainnya adalah labuh jangkar sebesar Rp 60 miliar. “Target PAP 2018 sebesar Rp 20 miliar. Artinya akan dirubah menjadi Rp 11,16 miliar,” sebutnya.
Masih kata Irwansyah, untuk sektor dana perimbangan dari target Rp 2,262 triliun. Realisasinya sampai Juni 2018 adalah sebesar Rp 1,067 triliun. Bahkan target dana perimbangan juga akan dirasionalisasi pada APBD Perubahan nanti sebesar Rp 248 miliar. Sehingga pada Tahun Anggaran (TA) 2018 ini target dana perimbangan adalah Rp 2 triliun.
“Pengurangan ini tentu dari berbagai sumber dana perimbangan. Baik itu pajak pendapatan, minyak dan gas, maupun cukai tembakau,” jelasnya.
Lebih lanjut katanya, seharusnya di APBD 2018 ini, Pemprov Kepri juga mendapatkan tambahan sebesar Rp 5 miliar dari dana insentif daerah. Akan tetapi, karena pengesahan APBD Tahun 2016 lalu mengalami keterlambatan, sehingga dana insentif tersebut batal didapat. Apa yang menjadi evaluasi, kata Irwansyah adalah kemampuan PAD Kepri hanya bergantung pada sektor pajak.
Artinya penerimaan yang didapat hanya bergantung diaktivitas darat. Padahal Kepri adalah daerah kelautan yang luasnya adalah 96 persen laut, tetapi kontribusinya belum terlihat,” tegasnya lagi.
Pihaknya melihatkan APBD Kepri memang tidak sehat. Karena tiga tahun belakangan ini terus dilanda defisit anggaran. Persoalan ini harus menjadi atensi khusus. Karena Kepri masih punya ketergantungan yang besar dengan dana perimbangan. Peningkatan pendapatan adalah merupakan sesuatu yang harus diperbaiki.
“Ironis tentunya, Kepri daerah kepulauan. Tetapi dari sektor pendapatan bergantung pada sumber-sumber yang ada di darat. Perlu dicatat, pertumbuhan kendaraan terbatas, karena kita daerah kepulauan,” tutup Irwansyah.
Belum lama ini, Gubernur Kepri, Nurdin Basirun mengatakan defisit anggaran adalah merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Atas dasar itu, ia meminta setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kepri berhemat dalam menggunakan anggaran. Kegiatan-kegiatan seremonial sebaiknya jangan dilaksanakan.
“Begitu juga dengan studi banding. Untuk apa menghabiskan anggaran yang tidak faedahnya. Apa yang terpenting adalah kita menjaga rencana kerja strategis yang sudah dirancang,” ujar Gubernur di Kantor Gubernur Kepri, Tanjungpinang belum lama ini. (jpg)
Era pemilu langsung saat ini menimbulkan sejumlah konsekuensi bagi para calon kepala daerah maupun calon legislatif (caleg). Di antaranya tingginya biaya politik. Namun sejumlah caleg di Batam tetap nekat maju meskipun dengan modal yang tidak banyak.
Dua pekan menjelang Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 lalu, Aman baru mendapat persetujuan cuti dari pekerjaan. Dari pimpinan di salah satu bank swasta ternama di Batam. Aman harus cuti karena maju sebagai caleg pada Pileg yang berlangsung 9 April 2014. Segera setelah mendapatkan surat cuti, ia pun sibuk mempersiapkan diri untuk berkampanye.
Waktu yang sudah mepet membuat Aman harus pintar-pintar membagi waktu. Jangan sampai ada yang tertinggal. Kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mendatangi rumah-rumah warga, nyaris setiap hari. Mendatangi kelompok majelis taklim. Bersosialisasi dan berdiskusi dengan masyarakat.
“Saya turun ke masyarakat door to door untuk melakukan penguatan. Dua minggu sebelum pencoblosan karena baru dapat cuti,” ungkap Aman kepada Batam Pos, Kamis (12/7).
Waktu dua pekan untuk bersosialisasi dan menyampaikan gagasan kepada masyarakat sebenarnya jauh dari kata cukup. Hanya saja, Aman punya modal sosial yang sudah ditabung sejak lama. Jauh sebelum bergabung dengan PKB, Aman banyak bergabung di organisasi dan paguyuban.
Ia menceritakan, saat kuliah ia sudah aktif berorganisasi di kampus. Salah satunya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Begitu pula ketika merantau tahun 1998 dan menetap di Batam naluri berorganisasinya tidak pernah luntur. Ia menyadari dalam dirinya selalu ada dorongan untuk berkontribusi pada masyarakat. Pada lingkungan sosialnya. “Naluri itu tidak pernah hilang,” tegas alumni IKIP Surabaya ini.
Aman bergabung dengan Ikatan Dai Muda Batam tahun 2000. Maka ia semakin sering bertemu langsung dengan masyarakat Batam. Berdakwa dan bersosialisasi. Sampai suatu hari, Ahmad Dahlan, Wali Kota Batam kala itu, berkunjung ke masjid di tempat tinggal Aman. Di Perumahan Marcelia, Batam Center.
“Saya amir masjid kala itu dan memberikan sambutan. Kemudian berdialog (dengan Wali Kota). Tiba-tiba teman bisikin untuk terjun ke politik,” ungkap Aman.
Ajakan teman untuk bergabung ke partai politik kemudian disambut Aman. Ia bergabung PKB pada tahun 2012. Berselang dua tahun kemudian ia maju sebagai caleg. “Saya maju dengan modal sosial yang selama ini saya bangun. Modal interkasi dengan masyarakat, dengan teman organisasi,” lanjut pria asal Bawean, Jawa Timur, ini.
Teman-teman di organisasi dan komunitas ini malah menjadi ‘marketer’ bagi Aman saat masa kampanye. Mereka mensosialisasikan Aman kepada teman yang lain. “Jadi tidak terlalu banyak biaya (kampanye) waktu itu,” ujar dia.
Menurut Aman, biaya terbesar memang muncul ketika bersosilisasi atau kampanye. Sebab perlu membuat baliho, perlu menyiapkan biaya konsumsi ketika terjun ke masyarakat, dan akomodasi untuk diri sendiri. “Namun memang saya sama sekali tidak mengajari politik yang tidak benar. Hanya sampaikan ide dan gagasan,” katanya.
Warga melihat umbul-umbul yang dipsang oleh KPU Kota Batam di halaman kantor Lurah Tanjunguncang, Batuaji, Senin (14/5). KPU Kota Batam mensosialisasikan ke[ada masyarakat supaya mengenal partai peserta pemilu atau sadar pemilu. F Dalil Harahap/Batam PosMeski begitu, ketika berkampanye, tidak sedikit ada juga yang menanyakan apa yang ia akan berikan kepada masyarakat untuk memilihnya. Apakah ada uang atau barang. “Saya jawab, saya tidak dengan modal cara itu (money politic), tapi aspirasi. Saya akan kawal dan jadi riil,” ungkap Aman.
Biaya lainnya yang relatif besar kala mengikuti pemilihan legistlatif, lanjut Aman, adalah biaya saksi-saksi di tempat pemungutan suara (TPS). Seorang saksi paling tidak diberikan Rp 50 ribu-Rp 100 ribu. Itu hanya di TPS saja, belum lagi ketika penghitungan suara di tingkat kecamatan hingga di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun Aman mengakui total biasa yang dihabiskan selama proses pemilihan legislatif tidak sampai ratusan juta rupiah.
“Nominalnya saat itu hanya kisaran Rp 50 juta,” aku politisi yang pernah juga mengajar di sekolah menengah atas (SMA) ini.
Dengan nominal yang tidak sampai ratusan juta atau sampai miliaran rupiah, Aman pun akhirnya terpilih sebagai anggota DPRD Batam periode 2014-2019. Kini, setelah hampir lima tahun duduk di kursi dewan, Aman akan kembali mecalonkan diri pada Pileg 2019. Sama seperti ketika mengikuti pileg pertama kalinya, Aman lagi-lagi mengaku tidak akan menghabiskan biaya sampai miliaran rupiah.
Beberapa waktu lalu, Aman mengaku tidak mengeluarkan biaya besar untuk menjadi seorang caleg. Anggota DPRD Kota Batam ini mengaku hanya menyiapkan biaya Rp 300 juta saja. Namun kemudian ia memperkirakan biaya yang dihabiskan tidak sampai Rp 300 juta. “Palingan habis Rp 150 juta,” katanya.
Menurut dia, biaya tersebut akan digunakan nanti jika ia sudah masuk dalam DCT Pileg 2019. Sementara saat ini, Aman mengaku belum memerlukan biaya apapun. Kata Aman, saat ini pemilih sudah cerdas. Uang bukanlah alat utama untuk meraih simpati pemilih.
Pengalaman sebagai anggota dewan dan interaksi dengan masyarakat yang semakin intens menjadi modal bagi Aman. Selama menjadi anggota dewan, aku Aman, hati dan fisiknya 70 persen bersama masyarakat. Ia rajin menghadiri setiap kegiatan apapun yang digelar masyarakat. Bahkan tanpa diundang pun ia mau datang.
“Kemudian setiap reses pasti turun ke masyarakat. Mulai tingkat kecamatan sampai kota. Selalu hadiri musrenbang. Kawal aspirasi masyarakat dan berkomitmen mewujudkannya,” beber Aman.
Anggota dewan lainnya, Bommen Hutagalung juga mengungkapkan meski mengharap dukungan rakyat, ia tetap menyiapkan sejumlah dana untuk sosialisasi. Tidak banyak untuk ukuran elit politik. Hanya Rp 300 juta.
“Terbuka saja. Ngapain ditutup-tutupi. Sama rakyat tidak perlu rahasia-rahasiaan, yang penting kita ada saat mereka membutuhkan. Jangan sudah duduk, lalu lupa,” ungkap politisi PDI-Perjuangan ini ketika ditemui di ruangannya di Komisi II, kantor DPRD Batam, Jumat (13/7) lalu.
Bommen sendiri menjadi anggota DPRD melalui proses Pergantian Antar Waktu (PAW) menggantikan almarhumah Rekaveny pada Maret 2017 lalu. Seperti diketahui, pada Pemilu 2014 lalu, PDIP mendapat dua kursi dari Dapil Lubukbaja dan Batam Kota. Posisi pertama diduduki Rekaveny dengan perolehan 4.845 suara. Disusul Ganda Tiur Maritje Simorangkir dengan 2.537 suara. Keduanya duduk sebagai anggota DPRD Kota Batam periode 2014-2019.
Warga melihat papan pengumand i Kantor KPU Kota Batam di Sekupang, Kamis (5/7). F Dalil Harahap/Batam Pos
Namun Rekaveny meninggal, sehingga posisinya digantikan oleh Bommen di Komisi II DPRD Kota yang membidangi ekonomi dan keuangan. Setelah lebih dari satu tahun menduduki kursi dewan, Bommen ingin kembali mencalonkan diri pada Pileg 2019 mendatang.
“Pemilihan legislatif 2019 mendatang, saya mencalonkan kembali dari Dapil serupa, yakni Dapil Lubukbaja dan Batam Kota,” jelas Bommen.
Ayah dari Tomuli Hutagalung ini mengaku, ia terjun ke politik sejak 1998 lalu, bergabung dengan PDI-P hingga sekarang. “Tidak akan pernah ganti partai. Sudah seperti keluarga sendiri. Satu kesatuan yang didasari keakraban,” ungkapnya.
Sama seperti Pemilu 2014 lalu, ia tetap memakai model pendekatan keakraban dan sosialisasi kepada seluruh konstituennya. “Diawali panggilan untuk melayani sebenarnya. Maju ke partai karena senang berorganisasi. Bisa menjadi wakil rakyat, berarti kita bisa masuk ke sistem untuk menjawab apa yang menjadi keluhan dan kebutuhan masyarakat saat ini,” ungkapnya.
Sebelum dan sesudah menjadi wakil rakyat, Bommen juga aktif menjadi penasihat kelompok pemuda gereja, dan juga aktif di paguyuban, serta suka bersosialisasi. Baru-baru ini, ia bertemu muka dengan kelompok pesepakbola remaja di Tanjunguma. Mereka membutuhkan seragam sepakbola. Ia pun memberikannya.
“Saking senangnya mereka, mereka tidak mau memakai seragam tersebut. Katanya nanti dipakai kalau ada pertandingan saja. Sayang kalau dipakai latihan. Waduh, saya pun mengutarakan ke mereka, ya sudah pakai itu saja untuk latihan, nanti untuk pertandingan saya belikan lagi saja. Ini utang saya ke mereka yang akan segera saya lunasi. Anak-anak remaja itu sangat bahagia, saya pun bahagia bisa berbagi berkat terhadap sesama,” beber suami dari Erida Tampubolon ini.
Ketika mendengarkan aspirasi rakyat, Bommen mengaku tidak pandang bulu. “Bukan berarti karena mereka belum mempunyai hak pilih, lantas saya tak mau bantu. Yang punya hak pilih saya mau bantu biar nanti saya dipilih di pemilihan selanjutnya. Bukan seperti itu. Namanya wakil rakyat, ya tidak memandang toh, semua rakyat harus diayomi,” jelasnya.
Nekat mengandalkan jaringan, bukan berarti tanppa materi untuk dikeluarkan. Bommen menyebutkan saat mencalonkan kembali ini, partainya tidak meminta biaya mahar. “Tidak pernah ada seperti itu. Tapi biaya gotong royong untuk kampanye, ya kita masing-masing caleg ada. Itu pun tidak ada paksaan dari romo. Seadanya saja,” ujarnya.
“Ini tidak ada mengandalkan uang, tapi demikian, pasti ada cost-lah yang keluar. Saya ketemu konstituen harus ada biaya minum bersama kala ada sosialisasi kan,” lanjutnya.
Saat ini, Bommen sendiri sudah mempunyai tim relawan yang disebut dengan Sahabat Bommen. Mereka memanfaatkan teknologi linimasa untuk menjaring dukungan didasari keakraban. “Termasuk pemilih loyal mereka ini. Berdasarkan pengalaman, banyak juga yang tidak saya apai kala kampanye sebelumnya, tapi karena sudah kenal mereka dari dulu, eh di TPS itu malah banyak suara buat saya. Mereka memilih saya. Terharu sekali. Harapanku, semoga seperti itu juga di Pemilu 2019 mendatang,” ungkapnya.
Di level lebih tinggi, ada Yudhy Sanjaya. Yudhy, salah satu sosok muda Batam yang mencalonkan diri menjadi caleg pada Pemilu 2019 mendatang. Ia maju menjadi caleg DPRD Provinsi Kepri dengan kendaraan politik Partai Nasdem. “Saya mencalonkan diri jadi caleg Kepri melalui Dapil Batam A,” ujarnya.
Pada pelaksanaan Pemilu 2019 mendatang, ada sejumlah perubahan pada pembagian dapil di Provinsi Kepri dan Batam. Hal ini berdasarkan SK KPU RI Nomor 237/PL.01.3-Kpt/06/KPU/IY/2018 tentang penetapan dan pemilihan alokasi kursi anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dalam Pemilu 2019. Untuk provinsi, Batam memiliki tiga dapil. Masing-masing 4 kecamatan per dapil.
Pembagian Dapil Batam A untuk DPRD Kepri terdiri dari Kecamatan Batuampar, Bengkong, Lubukbaja, dan Batam Kota, dengan jumlah kursi 10. Kemudian Dapil Batam B, meliputi Nongsa, Seibeduk, Bulang, Galang, dengan lima kursi. Sedangkan Dapil Batam C meliputi Kecamatan Sagulung, Batuaji, Sekupang, dan Belakangpadang, dengan jumlah kursi 10 kursi.
Yudhy, pria kelahiran Jakarta, 5 Juni 1974 lalu, ini mengaku percaya diri maju menjadi caleg karena partai yang menaunginya saat ini konsisten dengan politik tanpa mahar. “Saya tidak mengandalkan uang untuk meraup suara, tapi lewat pergaulan dan jaringan,” ujar ayah dari Josephine, Jesica, dan Joel ini.
Ia mengungkapkan, awal 2014 lalu, untuk pertama kali ia terjun ke dunia politik. Kala itu, ia aktif di organisasi sayap Partai Gerindra, Pemuda Kristen Indonesia Raya. Oleh partai, ia diajukan menjadi caleg, tapi ia tidak bersedia karena mengaku saat itu ia belum mempunyai ilmu mumpuni di bidang politik. Empat tahun berkecimpung di bidang politik dan organisasi kepemudaan, dan melihat kinerja perpolitikan saat ini yang terkotak-kotak, ia memutuskan dan bergabung dengan Partai Nasdem.
“Gabung ke Nasdem pada 2017. Saya melihat partai ini berbasis demokrasi dan nasionalis. Tidak ada mahar bagi para caleg yang mengajukan diri. Saya termasuk orang yang tidak suka money politic. Nasdem mewakili itu dengan politik anti maharnya, makanya memutuskan pilihan ke sana,” ungkapnya.
Yudhy yang kini kuliah doktoral di STT Real Batam jurusan Teologi Kepemimpinan ini, sangat aktif di organisasi kepemudaan mulai 2008. Ia bahkan pernah menjadi Youth Leader Gathering pada 2015, aktif di kerohanian, dan hingga kini menjadi Ketua Organisasi Merah Putih Jaya (MPJ). Organisasi ini merupakan organisasi independen yang memberikan edukasi politik. Bukan politik praktis.
“Bermodalkan itu, dengan percaya diri mengungkapkan target konstituen saya adalah para pemilih pemula, generasi milenial,” ungkapnya.
Yudhy mengklaim, basis massanya kini adalah anak muda di berbagai kampus, sekolah, dan juga komunitas pekerja muda.
Berpolitik praktis untuk saat ini, Yudhy mengungkapkan, meski caranya menjaring suara di berbagai organisasi kepemudaan, dan baru pertama mencalonkan diri lewat politik relasi, tapi Yudhy realistis mengungkapkan telah menyediakan dana untuk sosialisasinya menuju Pemilu 2019 ini. Ia tak mau mengungkapkan nilai nominalnya, tapi ia mengamsumsikan setara dengan harga satu rumah di Batam.
“Jadi bukan dibangun dengan politik duit. DPRD itu harus benar-benar menjadi wakil rakyat. Kalau ia benar-benar terpilih atas dasar pilihan rakyat, bukan politik beli suara, maka yakinlah keuntungannya jangka panjang,” jelas dia.
Menurut dia, wakil rakyatnya akan benar-benar bekerja jika tidak menggunakan money politic. Tidak ada lagi pemikiran mengembalikan modal besar yang telah keluar selama kampanye karena beli suara. Karena niatnya tulus, maka saat tak terpilih pun, tidak ada penyesalan.
“Tapi seenggaknya kita sudah memberikan edukasi politik kepada masyarakat saat kampanye, karena kebaikan itu bukan hanya ada saat kampanye, tapi saat setelah terpilih nanti,” ungkap pria yang kini berprofesi sebagai dosen ini.
Saat ini, sembari bersosialisasi, ia juga fokus menjalankan usahanya sebagai pemilik workshop pabrikasi di Seipanas, serta masih aktif sebagai kontraktor properti di PT Dinamic Mitra Sukses. “Tujuan saya, kalau secara pribadi saya sudah selesai. Fokus kepada keluarga yang takut akan Tuhan, dan bisa membantu orang lain. Hidup ini adalah kesempatan untuk saling membantu,” ujar suami dari Trie Wahjuni ini.
***
Kontras dengan sejumlah politikus di atas, beberapa politikus lainnya menyebut ongkos politik di Batam cukup tinggi. Untuk mendapatkan satu kursi di DPRD Batam saja, seorang calon anggota legislatif (caleg) rata-rata menghabiskan biaya Rp 1 miliar hingga Rp 1,5 miliar.
Ketua DPC Partai Gerindra Kota Batam yang juga wakil ketua DPRD Kota Batam periode 2014-2019, Iman Sutiawan, menyebutkan idealnya seorang caleg baru bisa bersaing jika punya modal uang Rp 1,5 miliar.
“Idealnya segitu. Kalau seratus juta atau dua ratus juta, tidaklah,” kata Iman Sutiawan, Selasa (3/7).
Berdasarkan pengalamannya, lanjut dia, biaya terbanyak diperlukan saat masa sosialisasi atau kampanye. Para caleg harus pandai meraih simpati calon konstituen saat masa sosialisasi.
“Misalnya dengan ngopi-ngopi dengan masyarakat. Kita harus keluar duit,” kata dia.
Mahalnya ongkos politik ini juga diakui kader Partai Gerindra lainnya, Werton Panggabean. Anggota DPRD Kota Batam yang menyatakan akan kembali bersaing pada Pileg 2019 mendatang mengatakan, ia harus menyiapkan modal yang cukup besar untuk menjadi seorang caleg.
Mobilitas seorang caleg harus tinggi saat sosialisasi. Di sinilah butuh biaya yang besar. Menurutnya, seorang caleg yang berpotensi untuk lolos harus memiliki modal minimal Rp 1 miliar. “Kalau menurut saya, harus kita siapkan Rp 1 miliar. (Biaya) Itu paling banyak saat bersosialisasi,” katanya.
Hal senada disampaikan Sekretaris DPC Perindo Kota Batam Tonny Siahaan. Menurut dia, saat ini para bakal caleg (bacaleg) yang serius ingin maju dalam Pileg 2019 nanti harus sudah menyiapkan dana. Sebab mulai saat ini, biaya politik sudah berjalan.
“Kalau sekarang belum terlalu besar. Tapi sudah pasti keluar. Untuk biaya pengurusan berkas. Bahkan mungkin sudah ada yang mulai sosialisasi,” kata Tonny, Selasa (3/7).
Menurut dia, biaya paling besar akan dikeluarkan para bacaleg saat proses penetapan daftar caleg tetap (DCT) di KPU Kota Batam. Sementara untuk penetapan nomor urut caleg tidak ada biaya. Tonny menyebutkan Perindo menggunakan sistem penilaian, bukan melalui jual beli nomor. Jadi bukan uang yang berperan.
“Ada beberapa indikator yang kita gunakan. Tetapi intinya kita dalam menentukan nomor urut ini harus objektif,” katanya.
Nomor urut satu, lanjut Tony, biasanya diberikan kepada pengurus partai yang memang sudah turut serta membesarkan partai. Berikutnya adalah bacaleg yang memang memiliki ketokohan dan terkenal di tengah masyarakat.
“Tapi intinya, nomor urut kan bukan jaminan. Semua punya kesempatan sama untuk duduk di DPRD,” katanya.
Begitu pula dengan Partai Gerindra. Selama proses penetapan nomor urut, kata Werton, caleg Gerindra tak perlu keluar uang. Sebab Gerindra tidak memungut biaya kepada calegnya untuk menentukan nomor urut.
***
Pengamat anggaran politik dari Center For Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menegaskan, saat ini biaya politik untuk menjadi calon legislatif semakin mahal. Jika caleg itu benar-benar menginginkan kemenangan di pertarungan perebutan kursi DPRD dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), maka si caleg harus mengeluarkan pundi-pundi hingga miliaran rupiah.
Dilansir Jawapos.com, untuk DPRD provinsi saja, bisa Rp 2 – 5 miliar. Sementara untuk DPR, bisa lebih besar lagi, Rp 4 – 10 miliar. Biaya itu sebagian besar untuk alat peraga kamapnye, seperti baliho, spanduk dan biaya lainnya. “Itu cost politic kalau mau menang,” kata Uchok saat kepada JawaPos.com, Rabu (14/3/2018).
Menurut Uchok, biasanya untuk caleg yang berasal dari kader partai, biaya itu akan dikeluarkan untuk mendanai saksi di TPS. Dengan estimasi satu TPS dananya Rp 100 ribu.
Sementara itu, Uchok mengungkapkan, untuk caleg yang bukan dari kader partai justru biaya politiknya akan lebih mahal. Pasalnya, kata dia, harus memperebutkan nomor urut dalam caleg partai.
“Nomor urut satu dalam caleg partai, dan dapil yang bagus (karena perolehan suara tinggi) harus mengeluar cost yang besar dan mahal,” ucapnya.
“Dan untuk memperoleh Nomor urut pertama ini, caleg harus mendekati orang orang yang punya kuasa agar dapat nomor pertama. orang yang kuasa yang didekati, bukan hanya satu. minimal ada tiga orang, biayanya (untuk orang itu) bisa miliaran rupiah,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Uchok mengungkapkan, bagi caleg yang tidak menginginkan biaya yang besar alias caleg yang miskin, tidak bisa menduduki nomor urut pertama. Sebaliknya, caleg itu akan mendapatkan nomor urut paling terakhir atau hanya sekadar pelengkap partai.
“Tetapi ini untuk partai partai yang sudah punya kursi di Parlemen. kalau partai baru, biasa masih idealis, kalau ingin jadi caleg diuji dulu kapasitas intelektualnya,” pungkasnya.
***
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Batam Syahrul Huda mengatakan setiap caleg sebenarnya bisa mengukur elektabilitas mereka, sehingga jika bicara soal ongkos politik mereka yang tahu secara pasti. “Kalau selama ini mereka sudah merasa berbuat untuk masyarakat dan memang masyarakat sudah mempercayai mereka selaku orang yang bisa membawa aspirasi nanti, tentunya untuk kemakmuran,” katanya saat ditemui di kantor KPU Batam di Sekupang, Jumat (13/7).
Untuk transparansi dana kampanye, setiap caleg melalui partainya harus melaporkan dananya. Sesuai pasal 329 Undang-Undang 7/2017, lanjut Syahrul HUda, kegiatan kampanye pileg didanai dan menjadi tanggung jawab parpol peserta pemilu masing-masing. Dana kampanye pemilu tersebut bersumber dari parpol, caleg, dan sumbangan yang sah menurut hukum dari pihak lain. Dana kampanye tersebut bisa berupa uang, barang, dan jasa.
Dana kampanye dicatat pada pembukuan yang terpisah dari pembukuan keuangan parpol.
“Dana kampanye berupa uang ditempatkan di rekening khusus dana kampanye parpol pada bank. Rekening khusus yang harus didaftarkan sebelum tahapan kampanye,” jelasnya kepada Batam Pos.
Lebih lanjut Syahrul Huda menjelaskan, dana kampanye pileg yang bersumber dari pihak lain bersifat tidak mengikat dan dapat berasal dari perseorangan, kelompok, perusahaan, dan atau badan usaha non-pemerintah. Dana kampanye dari pihak lain berupa sumbangan perseorangan tidak lebih dari Rp 2,5 miliar. “Kalau dari perusahaan atau usaha nonpemerintah tidak lebih dari 25 miliar.
Pemberi sumbangan harus mencantumkan identitas jelas,” ujar dia.
Kemudian seorang calon terpilih wajib menyerahkan tanda terima LHKPN terbaru dalam rangka Pemilu Legislatif 2019 kepada KPU. Paling lambat tiga hari setelah pengumuman calon terpilih. Seluruh caleg diimbau mulai mengisi LHKPN secara online melalui elhkpn.kpk.ho.id setelah daftar calon tetap (DCT) diterbitkan oleh KPU. “Pengisian LHKP dilakukan setelah caleg dinyatakan terpilih sebagai daftar calon tetap (DCT),” katanya.
Sementara itu, Komisioner Bidang Teknik Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Batam, Zaki Setiawan, mengatakan ada 16 parpol peserta Pileg 2019. Di Batam ada enam dapil dengan 50 kursi DPRD. Jadi setiap partai mendapatkan kuota 50 bakal calon anggota legislatif (bacaleg). Jika masing-masing parpol mengajukan jumlah bakal caleg sebanyak 100 persen dari jumlah kursi yang ditetapkan di setiap dapil, maka akan ada total 800 bacaleg.
“Itu maksimalnya. Tapi sampai sekarang sudah memasuki hari ke-10, tepat 13 Juli, hingga pukul 11 ini, belum ada satupun parpol mendaftarkan bacalegnya,” ungkap Zaki yang mengungkapkan pendaftaran bacaleg hingga 17 Juli 2018.(cha/uma/ian)
Nelayan langsung menjual hasil tangkapan kepada pengepul untuk dijual lagi di pasar ikan Siantan. F. Syahid/batampos.co.id
batampos.co.id – Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas berencana membangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Tujuannya mengatur dan mengontrol harga ikan di pasar Anambas. Selain itu juga memberikan kontribusi untuk daerah melalui retribusi.
Kepala Bidang Pelelangan Ikan Dinas Perikanan Pertanian dan Pangan Kabupaten Kepulauan Anambas Febriosa, menjelaskan, untuk realisasinya kemungkinan 2019 mendatang. “Tidak bisa dikejar di APBD Perubahan tahun ini,” ungkapnya kepada wartawan kemarin.
Dijelaskannya, untuk pembangunan TPI di Anambas itu tidak gampang, karena harus melalui kajian teknis dari tim ahli dalam bidang tersebut. Supaya keberadaan TPI benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. “Kajian ini fungsinya sangat mendasar dan harus dilakukan,” jelasnya.
Tanpa kajian, pemerintah daerah belum bisa menetapkan lokasi TPI. Semuanya ditentukan oleh tim ahli tersebut. Bukan hanya penentuan lokasi saja tapi layak atau tidaknya dibangun TPI juga dari hasil kajian. “Semua tergantung tim ahli, kalau layak untuk dibangun baru ditentukan lokasinya,” ungkapnya.
Diketahui, selama ini tidak ada TPI di Anambas. Nelayan yang baru pulang melaut, langsung menjual ikan hasil tangkapan kepada penampung. Kemudian penampung ikan baru mengecer di pasar ikan Siantan. (sya)
Bupati Karimun, Aunur Rafiq menyalami ratusan santri se-Pulau Kundur saat acara wisuda, Sabtu (14/7). F. Sandi/batampos.co.id
batampos.co.id – Bupati Karimun, Aunur Rafiq mewisuda 769 santri dan santri di Pulau Kundur, Sabtu (14/7). Ratusan santri ini berasal dari lima Taman Pendidikan Quran (TPQ) di lima kecamatan, yakni dari Kundur, Kundur Barat, Kundur Utara, Belat, dan Ungar.
”Alhamdulillah dari tahun ke tahun jumlah santri selalu bertambah. Ini akan menambah semangat anak-anak untuk terus giat membaca Al Quran,” ujar Rafiq.
Tahun ini wisuda digelar di masing-masing pulau seperti sebelumnya wisuda santri digelar di Pulau Karimun yang berasal dari beberapa kecamatan. Dengan semakin banyaknya anak-anak yang mahir baca Quran, lakan memberikan dampak positif terhadap daerah, khususnya bagi pertumbuhan SDM islami sebagai modal membangun Karimun.
Aunur mengimbau orang tua untuk selalu mengingatkan anak-anaknya tetap rajin membaca Alquran. Sebab bukan berarti setelah di wisuda, tak perlu lagi membaca Alquran.
”Tetap harus baca Quran meskipun sudah diwisuda, agar ilmu itu tetap diingat dan lebih bagus lagi diamalkan ke yang lainnya,” pesan Aunur Rafiq. (san)
Warga antre mengurus e-KTP di Kantor Disduk Capil Kabupaten Karimun, Jalan Poros, Jumat (29/6). F. Sandi Pramosinto/batampos.co.id
batampos.co.id – DINAS Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Karimun saat ini akan melayani pencetakan e-KTP untuk masyarakat yang belum pernah merekam atau memiliki e-KTP.
”Kami memberlakukan pencetakan e-KTP hanya untuk masyarakat yang belum pernah memiliki e-KTP. Mudah-mudahan sampai dengan pertengahan bulan depan, kondisi sudah normal kembali. Sebab blanko e-KTP yang ada tidak banyak sekitar seribu lembar saja,” ujar Kadisdukcapil Karimun, M. Tahar kepada Batam Pos, Sabtu (14/7).
Berdasarkan data yang ada, masih ada seribu lebih warga Karimun yang belum mengantongi e-KTP. Tahar menyarankan ke masyarakat yang sudah wajib ber e-KTP untuk sesegera mungkin melakukan perekaman terlebih dahulu.
”Untuk masyarakat pemohon penggantian e-KTP seperti merubah alamat, nama ataupun e-KTP yang sudah rusak atau hilang, sementara akan diganti dengan surat keterangan. Karena surat keterangan yang kami keluarkan itu merupakan dokumen yang sah dan diakui,” terang Tahar.
Jika nantinya persediaan blanko e-KTP dari pusat sudah ada, lanjutnya, permohonan penggantian e-KTP akan kembali dilayani normal. ”Jika sudah normal dan blanko tersedia, surat keterangan yang sudah kami keluarkan, dapat dibawa kembali oleh masyarkat pemohon ke Disdukcapil untuk dicetakkan e-KTP,” katanya.
Disinggung tentang permohonan pembuatan akta lahir, Tahar menegaskan, untuk akte lahir juga mengalami peningkatan permohonan. Apalagi saat ini untuk pembuatan akta lahir yang sudah dewasa, tidak perlu lagi adanya putusan pengadilan untuk bisa mendapatkan akta lahir bagi pemohon yang sudah berusia dewasa.
”Rata-rata dalam satu hari ada 200 akta lahir yang saya tandatangani. Akta lahir tersbut bukan hanya untuk balita yang baru lahir saja, tapi juga ada orang dewasa bahkan orang tua yang baru mengurus akta lahirnya,” ujarnya.
Dalam sebulan terakhir ini, lanjut Tahar, jumlah pemohon pembuatan akta lahir meningkat. Hal tersebut kemungkinan untuk syarat melengkapi berkas pendaftaran masuk sekolah. (san)
PETUGAS PLN mulai memasang jaringan kabel listrik di dua wilayah zonasi yang selama ini belum teraliri listrik, Minggu (15/7). H. Tri Haryono/batampos.co.id
batampos.co.id – PLN Karimun berkomitmen mengalirkan daya listrik di dua zonasi milik PT Soma Daya Utama (SDU) dan PT Kariun Power Plant (KPP). Langkah ini diambil PLN setelah dua pemilih area itu sepakat.
”Walaupun kewenangannya di provinsi, tapi kami tetap terus mendesak agar segera dicari solusi. Setelah rapat di Kementerian ESDM beberapa waktu lalu, diputuskan bahwa PLN bersedia menyalurkan listrik ke pelanggan rumah tangga yang masuk dalam daftar tunggu. Termasuk perumahan bersubsidi di dua zonasi dan fasilitas umum Puskesmas Meral Barat, serta Penerangan Jalan Umum (PJU),” ujar Kadis Perdagangan dan Koperasi Karimun, M Yosli, Minggu (15/7).
Saat ini daftar tunggu pelanggan listrik sudah ada sebanyak 969 rumah yang terdapat di dua zonasi yang dikelola oleh PT SDU serta PT KPP. Terbanyak berada di zona dua yang dikelola PT KPP yakni sebanyak 816 pelangan. Sementara untuk di zona satu yang dikelola PT SDU hanya ada sebanyak 153 pelanggan.
”Yang jelas dalam waktu dekat ini daftar tunggu pelanggan listrik sudah dapat teraliri listrik. Artinya kesepakatan semuanya sudah disetujui termasuk kedua perusahaan pemegang wilayah usaha penyedia tenaga listrik,” terang M Yosli.
Sementara Manajer PLN Karimun, Chrisman Ariando saat dikonfirmasi membenarkan pihaknya akan segera menyalurkan listrik ke dua wilayah zonasi yang dikelola PT SDU dan PT KPP. Hanya saja menunggu finalisasi administrasi sebagai acuan payung hukum untuk menyalurkan listrik ke pelanggan yang sudah masuk daftar tunggu. ”Kami masih menunggu surat resmi kesepakatan yang sudah direvisi,” ujar Chrisman.
Kabar PLN akan menyuplai listrik di dua wilayah, disambut suka cita beberapa pengembang perumahan yang mendirikan perumahannya di dua wilayah yang saat ini belum teraliri listrik di Karimun. Seperti pengembang perumahan subsidi, Supriyanto. Ia mengaku senang mendapat kabar kepastian akan dialirinya listrik di dua wilayah.
”Alhamdulillah sudah ada jawaban pasti terhadap polemik zonasi kelistrikan di Karimun. Saya selama ini kasihan dengan masyarakat yang sudah terlanjur membeli rumah subsidi di dua wilayah yang belum teraliri listrik. Masak tiap hari rumah tak pernah ada listrik, jadinya aktivitas sehari-hari warga terganggu,” terang Supriyanto.
Pantauan Batam Pos di lapangan, sejumlah tiang listrik milik PLN yang sudah berdiri, saat ini sudah mulai dipasang peralatan jaringan kabel listriknya di dua wilayah yang belum teraliri listrik.
Sementara di tiga zonasi saat ini, zonasi pertama PT (SDU) ada 3 titik PJU yang dipasang, kemudian di zonasi dua PT KPP ada 22 titik PJU baru dan zonasi ketiga yang dikelola PT PLN ada 57 titik PJU baru. (tri)
batampos.co.id – Kabupaten Karimun mendapatkan anggaran untuk desa mencapai Rp 84,5 miliar lebih yang terbagi dalam dua pendanaan. Pertama dari pemerintah pusat melalui Dana Desa (DD) sebesar Rp 35 miliar lebih, dan Alokasi Dana Desa (ADD) Rp 49 miliar lebih melalui APBD Karimun 2018 yang terbagi dalam 42 desa.
Sayangnya, realisasi DD yang mencapai Rp 25 miliar tersebut, hingga kini belum menyentuh sektor pendidikan di desa-desa, seperti untuk membantu anak-anak yang kurang mampu mapun penyesuaian paket C maupun paket A bagi anak-anak putus sekolah.
”Bisa dilihat sendiri, setiap desa pasti terdapat anak kurang mampu. Sekarang hanya dibantu infrastruktur di masing-masing desa. Tapi untuk membangun manusia yang cerdas, di desa tidak ada,” ujar pemerhati pendidikan di Karimun, Raja Zurantiaz, Minggu (15/7).
Salah satunya, lanjutnya, melalui DD itulah yang bisa membangun dunia pendidikan diawali dari pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui lembaga-lembaga pendidikan yang ada di desa-desa.
”Yang jelas, setiap desa pasti ada sekolah PAUD. Kenapa DD tak bisa disalurkan ke operasional sekolah sebagai penunjang untuk anak-anak yang kurang mampu,” tanya Zurantiaz.
Kepala Desa Pangke, Efendi menegaskan, pihaknya tidak dapat mengalokasikan DD untuk pendidikan. Sebab, pendidikan sudah ada alokasi tersendiri dari dana CD perusahaan. (tri)
batampos.co.id – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bintan kembali mengalokasikan anggaran di APBD 2018 untuk pembelian perlengkapan sekolah gratis bagi siswa SD/MI dan SMP/MTs se-Kabupaten Bintan.
”Perlengkapan seragam sekolah yang diterima siswa masih sama dengan tahun yang lalu,” ujar Kadisdik Kabupaten Bintan Tamsir, Ahad (15/7).
Tamsir menyebut siswa akan menerima lima jenis seragam. Selain itu siswa juga akan mendapatkan sepatu, kaos kaki, topi, dasi, tas, serta buku tulis. Soal bantuan ini, Tamsir mengatakan, Disdik Bintan telah menganggarkan Rp 5 miliar melalui APBD Kabupaten Bintan Tahun 2018.
Di antaranya Rp 2,7 miliar untuk siswa baru jenjang SD/MI dan Rp 2,3 miliar untuk siswa baru jenjang SMP/MTs. Di samping itu, Tamsir juga mengatakan pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SD dan SMP se Kabupaten Bintan tahun 2018 berjalan lancar, baik sekolah yang menerapkan PPDB secara online maupun PPDB manual.
”Alhamdulillah seluruh siswa baru SD dan SMP tertampung, meski awalnya beberapa sekolah terbatas daya tampungnya, tetapi sudah bisa diarahkan ke sekolah lain yang daya tampungnya masih cukup,” tukasnya.
Sedang Bupati Bintan Apri Sujadi menuturkan bantuan perlengkapan sekolah gratis merupakan sebuah komitmen dari pemerintah daerah untuk mendukung sektor pendidikan. ”Seperti tahun lalu, tahun ini kita juga akan memberikan bantuan perlengkapan sekolah gratis bagi murid-murid baru,” ujarnya.(met)
Warga bersama polisi mengevakuasi sepeda motor yang terlibat tabrakan di Jalan Raya Indunsuri, Seri Kuala Lobam, Minggu (15/7). F.Slamet/batampos.co.id
batampos.co.id – Dua wanita masing-masing bernama Derisa Simarmata, 14, dan Ezra Sariyuni Saragih, 21, menjadi korban kecelakaan di Jalan Raya Indunsuri Simpang Tiga Perumahan Lobam Mas Asri Tahap II, Kelurahan Tanjungpermai, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Ahad (15/7) sekitar pukul 10.00 WIB. Korban bertabrakan dengan truk bermuatan kayu yang dikemudikan Herry Pujianto.
Akibat kecelakaan itu, sepeda motor BP 4055 YX yang dikendarai oleh korban hancur. Sedangkan Truk Dyna BP 8339 BY yang dikemudikan Herry Pujianto, 39, ringsek.
Informasi yang dikumpulkan di lapangan, saat itu Ezra yang mengendarai sepeda motor berwarna biru metalik membonceng Derisa. Keduanya melaju dari Perumahan Lobam Mas Asri Tahap II dan keluar di jalan tanjakan Simpang Tiga LDII.
”Kedua korban kelihatannya keluarga. Keduanya menuju ke gereja yang terletak di Desa Teluk Sasah,” kata Sukardi, warga setempat.
Di lain pihak, truk bermuatan kayu yang dikemudikan Herry Pujianto dengan membawa penumpang Sandi Pratama, 17, dan Dwy Ara Hersan, 12, melaju dari Kawasan Lobam menuju Simpang Busung. Karena kaget melihat kedua korban membuat sopir truk tersebut berusaha untuk membanting setir ke kanan. ”Sopir truk sempat banting setir ke kanan jalan,” ujar Waldi, warga lainnya.
Sementara itu pemilik warung makan Pecel Pincuk, Daryani mengatakan suara tabrakan terdengar cukup keras sampai ke warungnya. ”Keras sekali. Sudah macam atap seng rumah yang roboh,” katanya sesaat lalu mencari sumber suara keras tersebut.
Dirinya tidak tega melihat kondisi kedua korban karena mengalami luka yang cukup parah. ”Satunya keluar darah dari mulut dan bagian belakang kepalanya, sedangkan yang satu lagi luka di pahanya,” katanya.
Sesaat setelah kecelakaan itu, Sukardi mengatakan dirinya langsung menghentikan mobil yang kebetulan melintas untuk membawa ke rumah sakit. Kaur Bin Ops (KBO) Satlantas Polres Bintan Iptu Junaidi membenarkan kejadian ini. Ia menjelaskan, truk yang dikemudikan Herry membawa penumpang Sandi Pratama dan Dwy Ara Hersan datang dari Kawasan Lobam menuju Simpang Busung.
Di pertigaan Simpang Tiga LDII, datang sepeda motor yang dikendarai kedua korban.
Dari jarak 15 meter sebenarnya sopir truk sudah melihat motor yang dikendarai korban dan membuat sopir tersebut berhenti.
”Sopir sempat menurunkan kecepatan 40 kilometer, sepeda motor BP 4055 YX menyebrang dengan tiba-tiba ke arah truk dan reflek sopir truk menghindar dan membanting setir ke kanan tetapi tabrakan tidak dapat di hindarkan,” katanya.
”Keduanya kritis,” katanya. Sementara sopir dan truk yang terlibat tabrakan telah diamankan.(met)
Calon TKI yang akan diseludupkan ke Malaysia diamankan petugas Lantamal IV Tanjungpinang, Sabtu (14/7). F. Yusnadi/batampos.co.id
batampos.co.id – Intelijen Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) IV Tanjungpinang berhasil menggagalkan upaya penyelundupan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal ke Pulau Ijuk, Malaysia. Sebanyak 12 orang calon TKI asal Lombok dan dua orang pengurus TKI diamankan di jalan Pasir Rumit, sungai Gentong, Tanjunguban, Jumat (13/7).
Danlantamal IV Tanjungpinang Laksamana Pertama Ribut Eko Suyatno menjelaskan penangkapan tersebut berdasarkan hasil pengintaian tim intelijen darat dan laut selama dua hari. Saat melakukan pengintaian, pihaknya melihat kurang lebih 30 calon TKI akan diselundupkan menggunakan dua buah speed boat.
Saat dilakukan penyergapan oleh tim laut, dua buah speed boat berhasil lolos menuju muara sungai dengan kecepatan tinggi. Namun tim darat berhasil mengamankan 12 calon TKI yang belum sempat menaiki speed boat bermesin 200 PK tersebut.
”Kapal yang digunakan petugas sempat ditabrak oleh speed boat yang berhasil melarikan diri itu. Dan saat ini petugas sedang melakukan pengejaran,” kata Ribut di Mako Lantamal IV Tanjungpinang, Minggu (15/7).
Berdasarkan hasil pemeriksaan, kata Ribut, tekong penyelundupan TKI tersebut diketahui bernama Acing. Sedangkan pengemudi boat yang berhasil lolos bernama Agus dan Ahmad. ”Acing melarikan diri dengan terjun ke sungai, petugas sedang memburunya,” ujarnya.
Sementara itu menurut pengakuan Hartawan, 36, salah seorang calon TKI, ia bersama calon TKI lainnya diharuskan membayar Rp 5 juta kepada tekong untuk bisa berangkat ke Malaysia. Ia dijanjikan untuk bekerja di kebun sawit dan digaji sebesar 500 ringgit.
Menurutnya, calon TKI tidak perlu lagi mengurus paspor dan dokumen lainnya. Semua dokumen tersebut, diakuinya, telah diurus tekong. ”Kalau sudah bayar, tinggal berangkat aja,” kata Hartawan.
Hartawan yang sudah dua kali masuk ke Malaysia secara ilegal mengaku tergiur dengan iming-iming gaji besar yang ditawarkan. Menurutnya mencari pekerjaan di kampung halamannya di Lombok sangat sulit. ”Saya terpaksa ngutang ke rentenir untuk jadi TKI,” akunya.
Selanjutnya, 12 calon TKI akan diserahkan pihak Lantamal IV ke Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Tanjungpinang untuk diproses lebih lanjut. (odi)