Rabu, 15 April 2026
Beranda blog Halaman 12304

Peserta BPJS Kesehatan Senang Layanan di AwalBros Dibuka Lagi

0
foto: suprizal tanjung / batampos

batampos.co.id – Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) langsung diserbu peserta JKN-KIS pasca diaktifkan pelayanan Badan Pelayananan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan cabang Batam. Hal itu dikatakan Humas RSAB Batam Chintya.

“Sudah ada beberapa yang menggunakan pelayanab rumah sakit dengan BPJS,” terang Chintya.

Menurut dia, untuk pelayanan masih didominasi peserta rawat jalan. Mereka sudah antre dari pagi untuk mendapat pelayanan beberapa dokter spesialis.

“Kalau rawat jalan sudah beberapa, tapi kalau rawat inap belum ada data” ujar Chintya. (she)

Dua Perusahaan Belum Mampu Pasok Listrik

0
Suasana di PT Karimun Power Plant, salah salah satu perusahaan listrik yang berada di zona II. F. Tri Haryono/batampos.co.id

batampos.co.id – Pembagian tiga zona kelistrikan di wilayah Pulau Karimun Besar kini masih menimbulkan persoalan. PT Soma Daya Utama yang diberi kuasa di zona I, PT Karimun Power Plant di zona II ternyata belum mampu memasok listrik ke warga dalam zona masing-masing. Hanya PT PLN Persero di zona III yang sudah melayani pelanggan di zonanya.

Tiga zona tersebut meliputi empat kecamatan yakni, Karimun, Meral, Tebing dan Meral Barat. Sementara saat ini banyak masyarakat yang tak teraliri listrik berada di dua zona yang nantinya dikelola oleh PT Soma daya Utama di Zona 1 dan  PT Karimun Power Plant di zona II.

Bupati Karimun Aunur Rafiq ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya sudah menerima jawaban dari pihak PLN terhadap zonasi kelistrikan terutama di zona 1 yaitu Soma Daya Utama, dan zona 2 PT Karimun Power Plan yang saat ini belum bisa melayani pemasangan listrik baru di zona tersebut.

“Untuk PT KPP sudah menyetujui, dikarenakan belum dapat memasang jaringan. Tapi, saya sudah disposisikan kepada Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM dan ESDM untuk ditindaklanjuti,” jawabnya.

Ini berarti, di sektor pelanggan rumah tangga yang berlokasi di zona satu dan dua bisa dialiri listrik oleh pihak PLN saat ini. (tri)

Sarana Minim, Belasan Sekolah Pilih UN Manual

0

batampos.co.id – Pada pelaksanaan ujian nasional tingkat SLTA yang akan dilaksanakan pada bulan depan, jumlah SLTA menggunakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) pada tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tiga sekolah setingkat sekolah menengah kejuruan (SMK).

”Data yang kami terima ada 9 sekolah yang akan menerapkan UNBK,” ujar Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) tingkat SLTA Kabupaten Karimun, Alta Fetra kepada Batam Pos, Sabtu (24/3).

Sembilan sekolah tersebut adalah terdiri dari 4 SMA, yakni, SMAN 2 Karimun, SMAN 2 Kundur, SMA Maha Bodhi dan SMA Darul Furqon. Kemudian diikuti dengan dua madrasah aliyah (MA), seperti MA Unit Sekolah Baru (USB) dan MA Yaspika. Sedangkan, tingkat SMK masih sama seperti tahun lalu. Yakni, SMK Yaspika, SMK Budi Mulia dan SMK Vidya Sasana,”

Total SLTA yang akan mengikuti UN di Kabupaten Karimun, Alta, ada 26 sekolah seluruhnya. Yang melaksanakan UNBK ada 9, maka sisanya masih menggunakan sistim manual atau ujian nasional kertas dan pensil (UNKP). Masih banyaknya sekolah-sekol;ah yang belum melaksanakan UNBK tahun ini disebabkan sara pendukung belum mencukupi. Namun, pada tahun depan kemungkinan sudah lebih banyak lagi.

Insya Allah, SMAN 1 Karimun dan sekolah lainnya tahun depan sudah mulai UNBK. Hal ini bukan keenganan pihak sekolah untuk melaksanakannya. Melainkan, karena sarana pendukung untuk UNBK masih terbatas atau belum cukup. Sehingga, mau tidak mau tahun ini masih banyak sekolah UNPK. Dan, untuk soal-soal UN sendiri baru akan kita terima dari provinsi pada Jumat (30/3),” jelasnya.

Menyinggung tentang hasil try out, Alta menyebutkan, setelah dua kali seluruh siswa SLTA se Kabupaten Karimun melaksanakan try out, hasilnya cukup menggembirakan. ”Kalau kita lihat hasilnya nilai yang didapat rata-rata 80 sampai 90. Ini menunjukkan kemampuan untuk menjawab sudah bisa. Apalagi, try out yang dilakukan sebaguian besar soalnya essa. Karena, mengacu pada rencana pemerintah yang akan menyertakan soal essay dalam UN tahun ini. Yang perlu diingat bahwa UN bukan penentu kelulusan. Melainkan, juga ada tambahan nilai dari sekolah,” paparnya. (san)

Empat Barang Antik Gagal Diselundupkan ke Batam

0
Empat buah barang antik yang diduga dari Dinasti Yuan dan Sun diamankan Lanud Raden Sadjad saat akan diselundupkan ke Batam. F. Aulia Rahman/batampos.co.id

batampos.co.id – Otoritas bandara Ranai mengamankan empat peaces barang antik jenis keramik yang akan dikirim ke Batam, Sabtu (24/3) kemarin.

Barang antik yang diduga benda cagar budaya yang diamankan berupa tiga piring dan satu peaces tempat membakar dupa tersebut langsung ditahan pihak Lanud Raden Sadjad dan diserahkan ke polres Natuna.

Penyerahan barang antik dilakukan Danlanud Raden Sadjad Kolonel Pnb Azhar Aditama kepada Kapolres Natuna AKBP Nugroho Dwi Karyanto dan disaksikan Danlanal Ranai Letkol laut (P) Harry Setyawan dan ketua Museum Sri Serindit Natuna Zaharudin.

“Kita masih menduga barang ini sebagai keramik kuno atau yang dilindungi. Tapi prosesnya kami serahkan kepada kepolisian,” ujar Danlanud.

Danlanud mengatakan, sesuai undang undang tengang Bandar Udara, TNI Angkatan Udara berkewajiban membantu pemerintah daerah dalam upaya menjaga benda cagar budaya yang akan diselundupkan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab keluar daerah.

“Barang antik ini terdekteksi mesin X-Ray, kemudian oleh petugas dilakukan pengecekan yang lebih detail dengan cara membuka bungkusnya. Barang tersebut, dikirim melalui jasa JNE dengan tujuan ke Batam,” ujarnya.

Kemasan paket tersebut katanya, terdapat modus dengan memalsukan identitas alamat pengirim dan tujuan. Bahkan seolah-olah, barang tersebut dikirim dari Batam ke Natuna. Padahal jelas jelas barang dikirim dari Natuna ke Batam.

Kapolres Natuna, AKBP Nugroho Dwi Karyanto yang menerima empat barang antik menyatakan, sudah mulai penyelidikan. Mendalami motif pengiriman barang yang alamatnya di palsukan.

Selain itu pihaknya akan memastikan, barang antik akan dilengkapi dengan keterangan ahli, apakah barangnya asli atau palsu. Langkah ini untuk melengkapi proses penyelidikan.

“Jika barang antik ini asli, akan dikenakan pasal penyeludupan barang cagar budaya yang dilindungi. Sekarang pihak pihak terkait masih akan dipanggil,” ujarnya.

Sementara ketua Museum Sri Serindit Natuna Zaharudin memberikan apresiasi kepada Lanud Ranai menggalakan penjualan barang antik keluar daerah. “Kita sangat bersyukur, barang antik itu bisa digagalkan diseludupkan ke luar daerah,” ujar Zaharudin.(arn)

KAL Pulau Siantan Perkuat Lanal Tarempa

0
Kapal Angkatan Laut (KAL) Pulau Siantan saat akan sandar di Pelabuhan Pemkab Anambas, Sabtu (24/3). F. Syahid/batampos.co.id

batampos.co.id – Lanal Tarempa memiliki armada baru yakni Kapal Angkatan Laut (KAL) Pulau Siantan II – 4 – 52. Kapal ini memiliki panjang 28 meter dan lebar 5,85 meter, kecepatan ekonomis 17 knot, kecepatan jelajah 22 knot dan maksimal bisa sampai sampai 30 knot.

Selain itu KAL dipersenjatai Oerlikon MK IV kaliber 20 mm, SM 50 M2 HB QCB kaliber 12,7 mm, AK 47 Kaliber 7,62 mm dan Pistol G-2 combat kaliber 9 mm. Kapal ini berada di bawah kendali Kapten Laut (P) Adi Poetra Parlindungan, dibantu oleh palaksa Letda Laut (P) Ari Gunawan, KKM, Letda Laut (T) Makmum P. Dan masih banyak personil di dalamnya yang memiliki fungsi dan tugas pokok masing-masing.

Sebelum sandar di pelabuhan Pemda Anambas, kapal tersebut sempat melakukan manuver di perairan Tarempa. Kapal dikawal oleh kapal patroli keamanan laut (Patkamla) dan sejumlah speedboat yang mengiring kapal itu.

Komandan Lanal Tarempa Letkol Laut (T) Arie Cahyo Nugroho, mengatakan, penyambutan dan pengukuhan KAL Pulau Siantan ini merupakan bentuk penghormatan kepada daerah. Kapal ini pun diharapkannya dapat bekerja dengan baik, sehingga dapat memberi rasa aman bagi masyarakat. Khususnya para masyarakat nelayan di Kabupaten Kepulauan Anambas.

“Termasuk, masyarakat yang menggunakan aktivitas di laut,” ujarnya singkat Sabtu (24/3).

Bupati Kepulauan Anambas Abdul Haris, mengakui Kapal Pulau Siantan lebih besar dan terlihat kokoh. Dirinya berharap dengan body yang kokoh ini dapat difungsikan setiap saat tidak terkecuali pada saat musim angin barat yang selama ini terkenal dengan cuaca yang ekstrem.

“Mudah-mudahan kapal ini bermanfaat bagi masyarakat Anambas khususnya nelayan. Mudah-mudahan kapal ini dapat melaksanakan fungsi pengawasan dengan baik,” ungkapnya.

Dikatakannya jika belakang ini sering mencuat kabar mengenai pengeboman ikan, ilegal fishing bahkan ada juga kapal dari daerah lain yang memiliki izin resmi dari pemerintah pusat tapi melanggar aturan dalam melakukan penangkapan ikan. “Dengan adanya kapal ini, mudah-mudahan nantinya pencurian ikan, pengeboman dan pelanggaran lain dapat berkurang. Sehingga nelayan menjadi nyaman saat melaut,” jelasnya.

Usai dilakukan proses tepung tawar, rombongan pun kemudian dipersilahkan untuk masuk ke dalam kapal termasuk menjajal ketangguhan kapal ini. (sya)

Polisi Siap Tingkatkan Keamanan

0

batampos.co.id – Kapolres Anambas AKBP Junoto, beserta jajaran, Bupati Kepulauan Anambas Abdul Haris, Wakil Bupati Kepulauan Anambas Wan Zuhendra meresmikan Polsubsektor Nyamuk di Kecamatan Siantan Timur. Minggu (25/3) posisi Polsubsektor ini terletak pada dataran tinggi, sehingga bisa maksimal dalam melakukan pengawasan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan.

Kapolres Kepulauan Anambas AKBP Junoto, mengatakan, hadirnya Polsubsektor Nyamuk ini kelak akan ditingkatkan menjadi Polsek Siantan Timur. Meski masih kelas subsektor, tapi diakuinya bangunan Polsubsektor sedikit lebih ‘mewah’ dibandingkan dengan Mapolsek yang sudah ada bahkan lebih mewah dibandingkan dengan Mapolsek Siantan sekalipun.

Di Mapolsek tersebut terdapat beberapa ruangan seperti ruang Kapolsubsektor, administrasi dan sebagainya bahkan ada juga tiga sel di Mapolsek tersebut. “Polsubsektor ini menginduk di Polsek Siantan,” ujarnya Minggu (25/3).

Diakuinya jika di Anambas saat ini baru ada tiga polsek ditambah satu Polsubsektor. Namun ke depan pihaknya menargetkan Polsek akan hadir pada tiap-tiap kecamatan yang ada di Anambas. Dikatakan juga ke depan Anambas memiliki 10 kecamatan. Ini yang menjadi tantangan. Namun meski masih banyak keterbatasan seperti kekurangan personil dan sebagainya, pihaknya akan tetap meningkatkan keamanan yang sudah menjadi visi misi kepala daerah.

“Terimakasih kepada masyarakat yang telah membantu serta memberikan kontribusi dalam pembangunan Polsubsektor ini,” ungkapnya dengan tegas.

Junoto, mengimbau kepada masyarakat untuk ikut serta menjaga keamanan. Perlunya pengawasan bersama sangat diperlukan terlebih dengan kondisi geografis kabupaten yang merupakan kepulauan dan mayoritas terdiri dari lautan. “Dengan adanya pos ini, mari sama-sama seiring sejalan dalam menjaga keamanan. Utamakan musyawarah dengan mufakat dan mengedepankan upaya pendekatan,” bebernya. (sya)

Anambas Miliki Tempat Wisata Baru

0
Bupati Kepulauan Anambas Abdul Haris bertukar cendramata dengan Kepala Bagian Humas SKK Migas Bagian Sumbagut Harianto Syarif di lokasi pembangunan Taman Terbuka Hijau Batu Lepe, Desa Tarempa Timur, Kecamatan Siantan, Sabtu (24/3). F. Syahid/batampos.co.id

batampos.co.id – Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas, Medco E&P Natuna dan Premier Oil kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas untuk membangun Taman Terbuka Hijau Batu Lepe di Desa Tarempa Timur, Kecamatan Siantan. Taman terbuka hijau ini merupakan tempat untuk bersantai bagi masyarakat Anambas dan menjadi salah satu destinasi wisata baru.

“Kami berharap dukungan semua elemen masyarakat selama pembangunan taman terbuka ini berjalan,” kata Kepala Departemen Humas SKK Migas Bagian Sumbagut, Harianto Syarif saat acara peletakan batu pertama pembangunan taman terbuka Batu Lepe, Sabtu (24/3).

Dijelaskannya, karena Pembangunannya dilakukan bersama, maka antara pemerintah daerah, Medco Premier Oil dan SKK Migas memiliki tugas tersendiri. SKK Migas bersama Medco E&P Natuna dan Premier Oil yang akan membangun konstruksi sementara Pemda yang bertugas untuk membebaskan lahan.

Jika semua berjalan lancar, maka diperkirakan tahun 2018 ini pembangunan taman ini akan selesai. “Kami rasa untuk pembebasan lahan sudah tak masalah, sehingga pembangunan taman terbuka ini sudah bisa dilaksanakan, mudah-mudahan akhir tahun ini selesai,” ujarnya.

Harianto, meminta agar pemerintah daerah dan masyarakat Anambas nanti bisa sama-sama menjaga taman ini. Dirinya juga berharap pembangunan taman ini bisa berbuah kebaikan kedepan. “Mudah-mudahan pembangunan taman ini lancar,” ungkapnya lagi.

Namun demikian ketika ditanya mengenai total anggaran pihaknya enggan menjelaskan. “Nanti kan ada papan plang di area pembangunan taman,” jelasnya.

Sementara itu Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas Abdul Haris, sangat berterimakasih atas dukungan SKK Migas dalam pengembangan bidang pariwisata di Anambas. “Kita sangat mengapresiasi komitmen SKK Migas yang mendukung program pengembangan sektor pariwisata di Anambas,” ungkapnya.

Pihaknya bersedia menjaga taman terbuka ini jika sudah jadi kelak. Dirinya berharap taman ini bermanfaat bagi masyarakat dan menambahk ikon wisata Anambas. Menurutnya, semua elemen bertanggungjawab untuk menjaga kelestarian lingkungan.?

Haris menerangkan pengembangan sektor pariwisata akan dapat meningkatkan sektor ekonomi. “Kita berharap apabila sektor wisata ini berkembang, tentu akan berdampak pada perekonomian masyarakat,” tegasnya.

Jika sektor wisata Anambas maju, bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Mari kita jaga dan pelihara bersama tempat-tempat wisata ini serta menjaga kebersihan lingkungan,” katanya. (sya)

Batam Jalur Perdagangan Narkoba

0

batampos.co.id – Direktorat V Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri mengidentifikasi sedikitnya ada 28 pelabuhan tikus di Batam yang kerap dijadikan pintu masuk para penyelundup narkoba. Banyaknya pelabuhan ilegal ini membuat Batam menjadi jalur perdagangan narkoba internasional

“Itu adalah jalur-jalur favorit yang sering digunakan para mafia (narkoba),” ungkap Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Daniyanto, beberapa waktu lalu.

Eko juga menilai, maraknya penyelundupan narkoba ke Indonesia tak terlepas dari tingginya permintaan barang haram tersebut di dalam negeri. Eko menyebut, kebutuhan sabu di Indonesia mencapai 1 ton per hari. Sebab saat ini sekitar 2 persen dari 250 juta penduduk Indonesia, atau sekitar 5 juta warga Indonesia, menjadi pecandu narkoba.

Jika setiap satu gram sabu dipakai lima orang pecandu per hari, maka 5 juta pecandu tersebut membutuhkan 1 juta gram atau 1 ton sabu per hari.

Tak hanya permintaan yang tinggi, Indonesia juga menjadi pasar utama jaringan narkotika internasional karena besarnya keuntungan yang diperoleh para bandar. Sebab di negara produsen, misalnya Tiongkok, harga sabu hanya sekitar Rp 40 juta hingga Rp 60 juta per kilogram (Kg). Namun di Indonesia, harganya mencapai Rp 1,5 miliar per Kg.

Berdasarkan rekapitulasi empat tahun terakhir, jumlah tangkapan narkoba di Kepri meningkat. Pada 2014 misalnya, BNNP Kepri berhasil mengungkap 28 kasus dengan 24 tersangka. Dari tangan para tersangka, diamankan 764,9 gram ganja, lalu 5.685,84 gram sabu-sabu, 186 butir ekstasi, dan 0,22 heroin.

Pada 2015 ada 57 kasus dengan 91 tersangka berikut bukti kepemilikan 64,15 gram ganja, 8.980,53 gram sabu-sabu, dan 315 ekstasi.

Sedangkan 2016 terjadi peningkatan pengawasan, dimana BNNP Kepri berhasil menangkap 88 tersangka dengan 62 kasus. Dari mereka diamankan 22,11 kilogram ganja, 17,65 kilogram sabu-sabu, dan 27.797 butir ekstasi.

Tahun 2017 lalu BNNP Kepri berhasil mengungkap 21 kasus penyalahgunaan narkoba dengan jumlah tersangka 92 orang. Barang buktinya sabu 37,74 kilogram, ganja 14,41 kilogram, dan ekstasi 398 butir.

“Jumlah kasus itu bukan ukuran kesuksesan, ukurannya berapa banyak BB yang diamankan karena berkaitan langsung dengan jumlah warga yang diselamatkan,” kata

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, fenomena ini membuktikan ancaman dan tingkat kerawanan Batam sebagai jalur penyeludup narkoba semakin tinggi. Dia pun mengaku prihatin karena maraknya tangkapan tersebut justru menunjukkan betapa ancaman narkoba untuk Indonesia begitu besar.

“Coba lihat ini, tahun 2017 saja kami menanganni 342 kasus dengan jumlah barang bukti 2,132 ton sabu. Tapi tahun ini, tak sampai dua bulan kami sudah menangani 57 kasus. Dan barang bukti sabunya 2,532 ton,” kata Sri Mulyani saat ekspos penangkapan 1,6 ton sabu di Pelabuhan Sekupang, Batam, Jumat (23/2) lalu.

Pasukan Brimob Polda Kepri mengawal para tersangka yang membawa sabu 1,6 ton saat ekspos di Pelabuhan Logistik Sekupang, Jumat (23/2). Ekpos pengungkapan narkoba langsung oleh Mentri Keuangan Sri Mulyani bersama Kapolri Jendral Tito Karnavian dan sejumlah Muspida. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Sementara data dari Ditersnarkoba Polda Kepri dan Satresnarkoba di jajaran Polda Kepri menunjukkan bandar narkoba makin berani dan nekad untuk menyelundupkan narkotika ke Indonesia. Akhir-akhir ini atau awal tahun 2018, narkoba yang berhasil ditangkap jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Jumlah tindak pidana narkoba tahun 2016 sebanyak 531 kasus dengan penyelesaian 481 kasus atau 91 persen dan jumlah tersangka 685 orang. Sementara jumlah barang bukti yang diamankan, ganja 18,169 kilogram, sabu 83,481 kilogram, ekstasi 58.400,5 butir, heppy five 111 butir dan heroin 942 gram.

Tahun 2017 sebanyak 355 kasus dengan jumlah tersangka 502 orang. Barang bukti 15,043 kilogram ganja, sebanyak 52,36 kilogram sabu, ekstasi 67.797 butir dan 238.14 gram, dan 175.01 gram heroin, happy five 2256 butir, 2 Drum 7008 butir dextro, Pil MM 891 butir, Pil PCC 434 butir, kosmetik dan obat berbahaya 65 jenis, dan Extro 378 Drum.

Adapun tahun 2018 (Januari-Maret) ada 96 kasus, dengan 146 tersangka. Barang bukti ganja 26,57 kilogram, sabu-sabu 109,60 kilogram, ekstasi 27.352 butir, katitona 50.100, kosmetik dan obat berbahaya 158 jenis. Jumlah barang bukti ganja dan sabu-sabu sudah mengalahkan total barang bukti selama tahun 2017 lalu.

Seperti diketahui, awal tahun ini aparat menggagalkan penyelundupan 2,97 ton sabu melalui perairan Batam dan Kepri. Penangkapan terjadi di waktu yang berbeda.

Penangkapan pertama pada Kamis (8/2). Sebuah kapal asal Tiongkok, Sunrise Glory, tertangkap membawa 1 ton dan 30 kilogram sabu di perairan perbatasan Batam-Singapura. Penangkapan dilakukan TNI AL dan Bea Cukai.

Kemudian pada Selasa (20/2) dini hari, giliran tim dari Mabes Polri dan Bea Cukai menggagalkan penyelundupan sabu seberat 1,6 ton di perairan Karang Helen Mars, Batam. Lagi-lagi, sabu tersebut dibawa kapal asal Tiongkok, Penuin Union. (uma/ska)

Pramuka Bisa Cegah Narkoba

0

batampos.co.id – Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti mengatakan, upaya menyelamatkan generasi muda untuk mempersiapkan pembangunan masa depan merupakan salah satu strategi yang harus diambil dan menjadi tanggungjawab bersama.

Upaya itu dapat melalui program kerja gerakan pramuka yang menyajikan proses pembelajaran dan pembekalan mental generasi muda berkarakter. Dan diharapkan mampu menangkal berbagai pengaruh negatif dari dampak kemajuan pembangunan, seperti pengaruh penyalahgunaan narkoba yang sudah pada tahap bahaya dan mengancam nasib bangsa.

“Program kerja gerakan pramuka sangat diharapkan dapat mencegah pengaruh penyalahgunaan narkoba kepada kalangan pelajar dan pemuda di Natuna,” kata Ngesti saat menutup perkemahan besar di bumi perkemahan Sebayar kemarin.

Ngesti menekankan, bahwa dewasa ini bangsa Indonesia sudah menyatakan perang terhadap Narkoba. Karena dampak negatif yang dapat merusak sudah sangat dirasakan. Untuk itu, Pemerintah Daerah telah mengambil beberapa kebijakan melalui kerjasama dengan berbagai pihak bagi memutus mata rantai peredaran Narkoba, terutama yang berusaha masuk di Kabupaten Natuna.

Dihadapan 300 an peserta perkemahan Ngesti mengatakan, melalui berbagai kegiatan pramuka yang diterapkan di setiap Gugus Depan, hendaknya pembiasaan terhadap peningkatan kedisiplinan dapat dilakukan sejak anggota Pramuka pada tingkat Siaga.

“Peran gerakan pramuka sangat besar kepada generasi muda yang berkarakter, mandiri dan berakhlak mulia. Pemerintah Kabupaten Natuna sangat mendukung, dan sudah menghibahkan lahan seluas 15 Hektare yang saat ini menjadi Bumi Perkemahan Sebayar. Kedepan, berbagai aktifitas kepramukaan dapat lebih digiatkan lagi,” sebut Ngesti.(arn)

Kisah para Mantan Pecandu Narkotika

0

batampos.co.id – Orang sehat yang mencari sakit. Begitulah ungkapan yang kerap disematkan kepada para pemakai narkotika. Tidak hanya rugi secara materi, mengonsumsi narkoba juga akan membuat kesehatan dan masa depan pemakainya masuk ke dalam jurang yang mengerikan. Sejumlah mantan pecandu narkotika berbagi kisahnya kepada Batam Pos.

Suara motor trail yang meraung terdengar mendekati rumah Josua. Ia segera bangkit dan mengintip lewat jendela. Matanya awas. Mencari-cari motor yang tadi terdengar mendekat. Tetapi Josua tak melihat motor atau seorang pun di depan rumahnya.

Lain waktu, suara motor yang serupa terdengar lagi oleh Josua. Ia pun semakin ketakutan. Josua was-was polisi akan datang menangkapnya. Ia menancapkan pandangannya ke depan rumah. Rupanya hanya suara motor yang dikendarai warga sipil sedang melintas.

“Saya paranoid kala itu karena memakai narkoba. Jadi setiap dengar suara motor trail kayak punya polisi itu, muncul rasa takut akan ditangkap,” ujar Josua, 26, di kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepulauan Riau di Jalan Hang Jebat, Batu Besar, Nongsa, Batam, Jumat (23/3).

Itu pengalaman Josua ketika masih mengkonsumsi narkoba beberapa tahun lalu. Kini, sehari-hari ia bekerja sebagai konselor di Loka Rehabilitasi Batam yang terlekat di belakang kantor BNNP Kepri. Josua mengungkapkan, paranoid itu muncul karena rasa bersalah. Selain menggunakan narkoba, ia juga banyak melakukan tindakan kriminal lainnya.

“Begal, ngejambret, merampok, mencuri, menipu. Semua itu saya lakukan supaya bisa mendapatkan uang untuk beli narkoba,” aku Josua.

Pria asal Jakarta ini menceritakan, perkenalannya dengan narkoba ketika masih remaja. Ia remaja yang gaul. Banyak teman. Teman-temannya itu kebanyakan pemakai narkoba dan mengkonsumsi minuman beralkohol. Josua yang masih siswa sekolah menengah atas (SMA) kala itu, terbiasa menemani temannya yang sedang menggunakan ganja atau sabu-sabu.

“Awalnya saya hanya menemani saja. Kadang juga temani dan antarkan beli narkoba. Tapi lama-lama lihat, ingin coba juga,” ujar dia.

Ia pun mencoba untuk menuntaskan rasa penasarannya. Namun berawal hanya coba-coba, Josua remaja ketagihan. Mula-mula hanya konsumsi ganja, ekstasi, kemudian meningkat ke sabu-sabu. Saat awal mengkonsumsi narkoba, ungkap dia, muncul rasa bangga, berani, dan rasa puas. Ia juga mendapatkan lebih banyak teman.

Untuk membeli narkoba, ia menggunakan uang jajan. Lama-lama, uang jajan dari orang tua tidak cukup. Sementara ia mulai ketagihan dan semakin sering menggunakan narkoba. Untuk mendapatkan narkoba, ia melakukan berbagai cara. Mulai mendapatkan uang secara halal hingga yang tak halal. Ia mencuri, menipu, menjabret, hingga merampok.

“Pokoknya ketika ingin pakai narkoba tetapi tidak ada uang, apa pun yang dilihat dan bisa diuangkan diambil. Berteman pun, niatnya apa yang bisa diambil dari dia,” tutur Josua.

Hidup Josua semakin liar. Berawal dari mengkonsumsi narkoba, ia juga mengkonsumsi minuman beralkohol. Main perempuan. Meski begitu, sekolahnya tetap ia perhatikan. Gaya hidup liar seperti itu terus berlanjut hingga tamat SMA. Ia sempat bekerja di supemarket. Namun ia sudah tidak punya semangat. Sering muncul rasa malas, mengantuk, dan badannya sakit-sakit.

Rasa percaya dirinya juga lama-lama menipis. Merasa tidak dianggap oleh teman-teman dan keluarga. Tidak dipercaya karena hidupnya yang liar. Puncaknya, ia menderita paranoid. “Pokoknya memakai narkoba itu banyak dampaknya. Seminggu tidak habis diceritakan dampak (negatif) dan efeknya,” kata dia.

Pengalaman serupa juga diceritakan Arif, 30. Rekan Josua di Loka Rehabilitasi Batam. Arif justru lebih dini mengenal narkoba. Saat ia masih siswa sekolah menengah pertama (SMP). Hidup terpisah dari orang tua membuat ia bebas bergaul. Berteman dengan pemakai narkoba. Melihat temannya mengkonsumsi narkoba, muncul rasa ingin tahu.

“Saya pakai macam-macam (jenis narkoba). Mulai ganja, pil ekstasi, sabu-sabu. Awalnya karena diajak teman dan ingin tahu,” ujar Arif.

Seperti Josua, untuk mendapatkan narkoba ia membeli dengan uang jajan dari orang tua. Namun lama-lama karena narkoba sudah seperti kebutuhan, uang jajan tidak cukup. Arif nekat berbohong kepada orang tuanya. Ia selalu meminta uang dengan alasan untuk membeli berbagai kebutuhan. Rupanya uang itu untuk membeli narkoba.

“Ya pokoknya pintar-pintar meminta uang. Bilang mau beli ini, beli itu,” tutur Arief.

Sebanyak 57 orang yang terjaring razia diamankan oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepri, Senin (9/10). Mereka dinyataksn positif menggunakan narkoba dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut di BNNP Kepri. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Mula-mula berbohong kepada orang tua, perilaku Arif kian liar. Ia bahkan nekat mencuri untuk mendapatkan uang dan membeli narkoba. Bagaimana tidak, seiring waktu, kebutuhan narkoba terus meningkat. Pada tahap mencoba, katanya, ia hanya sesekali mengkonsumi narkoba. Tetapi kemudian menjadi dua kali sepekan. Bahkan meningkat dan nyaris setiap hari.

“Kerugian materi itu tidak bisa dihitung. Bayangkan saja, satu hari sekali pakai (narkoba) Rp 200 ribu. Itu belum termasuk minumnya. Bisa juga beli dua kali sehari,” ujar dia.

Hidup yang liar karena penyalahgunaan narkoba berdampak pula pada pendidikannya. Arif beberapa kali harus pindah sekolah. Pola hidupnya tak teratur dan membuat fisiknya lemah, tubuhnya tak berisi, dan berpikiran pendek. “Tubuh saya kurus, pipi kerempeng. Penampilan tak karuan,” ungkap Arief yang sepuluh tahun hidup dengan narkoba.

Hidup Arif dan Josua yang liar membuat keluarga mereka prihatin. Mereka diintervensi keluarga untuk menjalani rehabilitasi. Josua perlu tiga kali dan butuh berbulan-bulan untuk bisa lepas dari ketergantungan narkoba. Pada rehabilitasi pertama ia menjalaninya delapan bulan. Kemudian dua bulan rawat jalan.

“Tetapi saat itu, saya belum benar-benar bebas dari narkoba. Saat rawat jalan kadang-kadang masih pakai (konsumsi),” ujar Josua.

Pada rehabilitasi ketiga, Josua menjalaninya selama enam bulan. Sejak itulah muncul kesadaran untuk lepas dari narkoba. Ia ingin meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih baik. “Karena saya menyadari saya sudah tertinggal dari teman-teman. Mereka sudah seperti ini, saya masih di bawah,” kata Josua mengangkat tangannya lebih tinggi.

Arif juga dimasukkan ke panti rehabilitasi untuk melepaskannya dari pengaruh narkoba. Prosesnya cukup pendek. Arif menghuni panti rehabilitasi selama enam bulan dan ditambah 50 hari hari. “Saya tidak terlalu lama karena saya punya tekad untuk lepas dari narkoba,” ujar dia.

Setelah dinyatakan bebas dari ketergantungan narkoba, Arif dan Josua mengikuti pelatihan konselor. Mereka ingin hidupnya produktif dan bermanfaat bagi orang lain. Kini, Arif dan Josua sudah bekerja di Loka Rehablitiasi Batam sebagai konselor. Penampilannya sudah klimis dan badannya semakin berisi.

***

Kepala Badan Narkotikan Nasional Provinsi (BNNP) Kepri, Brigjen Pol Ricard Nainggolan, mengakui dampak penyalahgunaan narkoba memang sangat buruk. Tidak hanya terhadap diri si pemakai, tetapi dampaknya juga akan dirasakan keluarga, masyarakat, bahkan negara.

Dampak negatif kepada diri sendiri atau pengguna narkoba adalah menjadi kecanduan, kemudian kesehatannya akan sangat rentan untuk sakit. “Bisa kena sakit hepatitis, AIDS, penyakit jantung, dan paru-paru. Itu merupakan dampak dari penyalahgunaan narkoba tadi,” ujar Brigjen Pol Ricard Nainggolan di ruang kerjanya, Kamis (22/3) lalu.

Tak hanya itu, pengaruh narkoba juga akan sangat mengganggu konsentrasi belajar dan bekerja. Sehingga tak heran jika banyak pelajar putus sekolah karena menjadi pecandu narkoba. Juga tak sedikit karyawan yang kehilangan pekerjaannya karena dampak buruk barang haram tersebut.

“Itu dampak bagi diri sendiri,” tegas Ricard.

Dampak bagi keluarga, kata Ricard, bagi yang sudah menikah akan mengakibatkan keluarga tidak harmonis dan bahagia. Sebab bila sakit, tentunya perlu pengobatan dan bagi kepala keluarga tidak bisa bekerja untuk menghidupi keluarga. Ini bisa memicu ketidakharmonisan dalam keluarga. Akhirnya tidak bahagia. Bila pelajar atau belum menikah dan masih dihidupi oleh orang tua, akan menjadi beban orang tua.

“Sebab kalau ia kecanduan narkoba, kemudian sakit, tentu orang tuanya harus mengeluarkan biaya untuk pengobatan. Akhirnya menjadi beban keluarga,” jelas Ricard.

Sementara dampak bagi lingkungan, lanjut Ricard, bisa lebih kompleks. Biasanya orang yang menyalahgunakan narkoba akan ketergantungan atau addicted. Ketika ketergantungan narkoba, dimanapun dan kapanpun si pemakai ingin mengkonsumsi narkoba terus menerus. Sementara ia tidak memiliki uang untuk membeli narkoba, akibatnya akan mencari ke tempat-tempat lain. Bisa saja melakukan tindak kejahatan.

“Bahkan bisa membuat keonaran di masyarakat. Kemudian dia tidak bisa membantu lingkungannya kalau dia sudah kecanduan. Karena dia pasti berpikirnya hanya pakai narkoba,” kata dia.

Kemudian dampak kepada bangsa dan negara, kata dia lagi, lebih mengerikan lagi. Sebab negara akan kehilangan generasi penerus bangsa. Menurutnya, bangsa dan negara tidak bisa mengharapkan pemimpin dari seseorang terjerat pengaruh narkoba. Pecandu narkoba yang putus sekolah, tentu tidak bisa bekerja, sehingga tidak produktif.

“Nah ini kerugian bagi negara tentunya,” katanya.

Melihat dampak-dampak itu, lanjutnya, kerugian secara ekonomi atau materil tidak bisa dikalkulasi secara pasti. Sebab, sulit menghitungnya. Ia mencontohkan, bila seorang remaja menjadi pengguna narkoba, kemudian mengidap HIV/AIDS dan meninggal, tentu sulit menghitung kerugian materi.

Contoh lainnya, bila si pemakai mengendarai mobil dan kecelakaan yang berujung pada kematian, itu tidak bisa dibandingkan dengan materi. “Hilang nyawa, sulit menghitungnya. Jadi besar sekali dampaknya. Tidak bisa kita menghitungnya,” tegas Ricard.

Direktur Ditresnarkoba Polda Kepri Kombes Pol Yani Sudarto mengatakan kejahatan narkoba sangat merusak bangsa Indonesia. Ia juga sependapat bahwa saat ini Indonesia seperti tengah menghadapi perang candu. Karena narkoba dengan derasnya masuk ke Indonesia.

“Dulu mendapatkan sabu satu atau dua kilogram saja sudah prestasi luar biasa. Kini sabu masuk ke Indonesia sudah hitungan ton, lihat saja tangkapan beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, kejahatan narkoba tidak lagi mengenal sekat-sekat. Pengguna narkoba tidak hanya profesi tertentu saja, tapi sudah lintas profesi. “Siapa saja bisa terlibat,” kata Yani kepada Batam Pos, Sabtu (24/3).

ilustrasi Narkoba

Yani mengungkapkan dari pengalamannya menangani pecandu-pencandu narkoba. Saat seseorang masuk dalam kategori berat, maka ia tidak akan takut lagi akan hukuman penjara atau mati. “Orang di tahapan ini lebih takut tidak mendapatkan barang, dari pada dihukum. Saya pernah tanya itu ke salah seorang pecandu,” ucap Yani.

Dia menuturkan gampang mengenali orang-orang yang sudah menggunakan narkoba. Hal itu terlihat dari penampilan fisik, sikap dan gerak geriknya. “Dulunya bersih, gemuk, sekarang kurus tak terurus. Bisa dicurigai,” katanya.

Orang terdekat pecandu, kata Yani, haruslah segera mengantarkan ke Loka Rehabilitasi atau Rumah Sakit Daerah yang berwenang. “Kalau dibiarkan, kecanduannya akan lebih berat. Tak perlu malu, karena ini hanyalah penyakit yang harus disembuhkan segera,” ujarnya.

Yani berharap masyarakat lebih aktif dalam pemberantasan narkoba. “Baik itu segi informasi bandar, atau pecandu. Kalau bandar laporkan ke kami, pecandu bawa ke Loka Rehab. Narkoba tidak akan membuatmu keren, tapi hanya membodohimu,” pungkasnya.

Berani Menolak Narkoba

Penyalahgunaan narkoba sebenarnya bisa dicegah secara dini. Caranya dengan memiliki daya tangkal. Seseorang harus berani menolak saat ditawari mengonsumsi narkotika.

Untuk memiliki imunitas dan daya tangkal ini ada prosesnya. Pertama, seseorang harus memahami dampak narkoba bagi semua aspek kehidupan. Jika sudah tahu itu, maka seseorang akan menghindarinya.

“Setelah sadar, kita akan jadikan masyarakat terampil. Artinya terampil menjaga lingkungannya. Ini yang kita harapkan dan setelah itu dia menjadi imun,” kata Kepala BNNP Kepri, Brigjen Pol Ricard Nainggolan.

Menurut Ricard, selama ini banyak warga terperangkap jerat narkoba karena berawal dari coba-coba. Itu karena mereka tidak tahu akan bahaya narkotika.

Karenanya, BNNP Kepri membentuk relawan dan penggiat anti narkoba. Setiap lingkungan bahkan instansi ada relawan dan penggiat anti narkoba. Mereka lah yang bertugas menjaga lingkungan dari bahaya narkoba, memberi penyuluhan, bahkan mendeteksi dengan melakukan tes urine.

Untuk meningkatkan daya tangkal terhadap bahaya narkoba, BNNP Kepri juga berupaya memasukkan materi bahaya narkoba ini masuk kurikulum sekolah. Ini tentunya perlu dukungan pemerintah daerah, baik bupati maupun gubernur. Karena sesuai amanah Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009, pasal 60, bahwa pencegahan itu salah satunya melalui kurikulum pendidikan dasar dan menengah/atas.

“Jadi seharusnya sekolah sudah menerapkannya,” ujar Ricard.

Di Kepri sudah dimulai. BNNP Kepri menemui beberapa kepala daerah. Harapannya bupati/walikota mau mengeluarkan regulasi untuk menyelamatkan masyarakat dari bahaya narkoba. Dengan memasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, siapapun yang sekolah di Kepri ini tahu bahaya narkoba.

Sementara Direktur Ditresnarkoba Polda Kepri Kombes Pol Yani Sudarto, mengatakan agar penanganan terhadap penyalahgunaan narkoba ini semakin baik, ia berharap instansi yang terkait dapat saling berkoordinasi untuk penindakannya. Selama ini, ia merasa koordinasi antar lembaga di Kepri cukup baik. Terbukti beberapa gabungan dari beberapa instansi di Kepri mengungkapkan kasus narkoba besar.

Penindakan terhadap bandar nakroba, kata Yani, juga harus dibarengi pencegahan. Karena walau penindakan terus gencar dilakukan, namun permintaan akan narkoba semakin tinggi. “Hasilnya juga sama saja, bandar akan makin berusaha menyelundupkan barang haram itu. Bayangkan, kalau tak ada permintaan. Pasti bandar-bandar tak akan menyelundupkan narkoba,” ucapnya.

26 Ribu Warga Kepri Pakai Narkoba

Sejak tahun 2011 hingga kini penyalahgunaan narkoba di Kepri masih tergolong tinggi. Bahkan dari tahun 2011 sampai tahun 2016, Kepri masuk sepuluh besar penyalahguna nrakoba terbesar di Indonesia. Hal itu diketahui dari hasil penelitian BNN bekerjasama dengan Universitas Indonesia. Penelitian ini tiap tiga tahun sekali.

Pada penelitian tahun 2011, Kepri berada di posisi kedua dengan prevalensi 4,26 persen atau jumlah penyalahguna narkoba sebanyak 55.888 orang. Kemudian hasil penelitian tahun 2014, Kepri berada di peringkat ke empat dengan jumlah 41.767 orang atau prevalensi 2,94 persen dari jumlah penduduk.

Terakhir, hasil penelitian tahun 2017 lalu, Kepri berada di posisi 16 penyalahguna narkoba dengan jumlah 26.540 orang atau prevalensi 1,71 persen dari jumlah penduduk. “Jadi di bawah nasional yang 1,77 persen. Peringkat Kepri juga menurun ke 16,” tegas Ricard.

Meski begitu, Kepri mesti waspada. Sebab tahun ini dibuka dengan penangkapan penyelundup narkoba yang membawa berton-ton sabu-sabu. Karena itu, Ricard mengatakan penanganan penyalahguna narkoba tidak boleh berhenti. Harus terus menerus. Bisa saja saat mengetahui hasil penelitian penyalahguna narkoba menurun di Kepri, para bandar narkoba memborbardir dengan mengirim berton-ton narkoba.

“Bisa saja (bandar berpikiran) wah ini kok turun, akhirnya didrop lagi banyak-banyak. Ini kan bisnis. Jadi kita harus tetap waspada,” katanya.

Meski penyalahguna narkoba di Kepri masih tinggi, Ricard mengakui kesadaran masyarakat untuk menjalani rehabilitasi begitu rendah. Tahun 2015, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kepulauan Riau merehabilitasi 617 orang. Pecandu yang direhabilitasi ini terdiri dari berbagai kalangan, termasuk pegawai negeri sipil. Tahun 2016, BNNP Kepri hanya merehabilitasi 403 orang. Sementara tahun 2017, pengguna narkoba yang direhabilitasi 618 orang. Tahun ini (Januari-Februari) baru 17 orang.

Program rehabilitasi di BNNP Kepri berkelanjutan. Jadi selain rehabilitasi, BNNP juga punya program pascarehabilitasi. Rehabilitasi ini bagaimana supaya pengguna narkoba pulih. Namun pengguna narkoba, tidak cukup dipulihkan saja, sebab pengguna narkoba juga dipengaruhi faktor lingkungan. Baik lingkungan tempat tinggal maupun karena tidak produktif.
“Karena biasanya orang yang tidak produktif kembali lagi menggunakan narkoba atau jadi pengedar,” katanya.

Kepala Seksi Pascarehabilitasi dokter Arnina Emmilia M menambahkan, pada program pascarehabilitasi ada pascareguler dan pascaintensif. Pada pascareguler, klien yang ditangani adalah orang yang bekerja dan keluarganya mendukung dia untuk bisa berinteraksi sosial lagi. Sementara pascaintensif dalam bentuk rumah damping. Jadi klien dirawat selama 50 hari.

Di rumah damping, klien digembleng dengan berbagai kegiatan dan melibatkan instansi lain seperti Dinas Pertanian dan Dinas Peternakan. Kemudian bekerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja untuk kegiatan dalam bentuk vokasional. “Kalau dengan Dinas Pertanian itu kemarin, kita melatih klien membuat pupuk bokasi. Kalau dengan Dinas Peternakan klien kita latih pembibitan ikan lele. Supaya mereka produktif,” jelas dokter berkacamata ini.

Pascarehabilitasi ini tujuannya bagaimana para pecandu yang telah pulih menjadi produktif dan berfungsi sosial. Jadi mereka dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat dan tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama. (ahmadi sultan)