batampos.co.id – Sebagai rangkaian kegiatan HUT ke 15 Batam TV, tahun ini panitia kegiatan dari stasiun televisi lokal pertama di Batam itu, mengggelar kegiatan senam Zumba bersa di dataran Engku Puteri, Batam. Ada nerbagai hadiah doorprize menarik yang disiapkan panitia.
Sebagai media audio visual pertama dan terbesar di Kepulauan Riau, Batam TV yang genap berusia 15 tahun pada tanggal 17 januari 2018 lalu, Batam TV sudah menggelar beberapa acara sebelumnya. Seperti kegiatan sosial santunan panti asuhan di beberapa lokasi di kota batam.
Untuk memeriahkan hari jadi salah satu stasiun televisi di Batam yang memiliki pengaruh dan peran dalam gerak dan denyut nadi kehidupan berpolitik, ekonomi, sosial dan budaya di kepulauan riau ini, Batam TV bertekad memperbanyak dan memperbaiki kualitas programnya.
Selain dapat di akses melalui frekuensi 51 UHF, ke 15 tahun ini, Batam TV juga dapat di akses melalui media social serta JPM STREAM dari smartphone android bersama dengan puluhan TV Jawa Pos group yang tersebar di seluruh Indonesia. Semua ini dikarenakan Batam TV merupakan salah satu TV jaringan Jawapos Group.
Memiliki komitmen untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan di batam khususnya dan Kepulauan Riau pada umunya. Batam TV juga berencana melaksanakan beberapa kegiatan lainnya untuk lebih dekat dengan pemirsa dan masyarakat.
Salah satunya dengan mengadakan kegiatan yang akan dilaksanakan pada minggu tanggal 11 februari 2018 ini yaitu kegiatan senam sehat zumba .
“ Semoga dengan kegiatan perayaan HUT Batam TV ke 15 kami ini, masyarakat kota batam dapat hadir beramai-ramai mengikuti senam “ ungkap Fahrudin selaku ketua panitia pelaksana HUT Batam TV.
Adapun senam zumba ini dimulai dari pukul 6 pagi hingga selesai pada minggu (11/2) ini di dataran engku putri batam centre kota batam.
“ Senam ini gratis dan terbuka untuk umum, trus akan banyak doorprize dan hadiah menarik bagi yang beruntung, datang ya”, tambah Fahruddin. (*)
Seorang pekerja toko sembako Multi Sukses dipasar Mega Legenda mengangkat karung beras saak akan disusun , Rabu (7/2). F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos.co.id – Komisi VI DPR RI mendukung dibukanya kran impor beras. Impor beras harus dilakukan dengan tujuan untuk menjaga kepastian cadangan beras pemerintah pada rangka yang aman.
“Sehingga tidak lagi dipermaikan spekulan. Saya dengar saat ini banyak ibu-ibu rumah tangga termasuk istri saya sendiri mengeluhkan sulitnya mencari beras di pasar,” kata Ketua Komisi VI DPR RI, Teguh Juwarno usai meninjau Mall Pelayanan Publik (MPP), Kamis (8/2).
Saat ini kata Teguh, kenyataan di lapangan mengatakan sebaliknya. Beras saat ini sulit didapat dan harganya cukup tinggi.
“Saya tahu betul dengan impor beras ini KPK juga sekarang sudah turun tangan untuk memastikan impor beras ini bukanlah permaian para pemburu rente,” katanya.
Teguh juga memaparkan faktor lainnya yang menyebabkan terjadinya impor beras adalah ketidaksinkronan antara data produksi dan data suplai. Selama ini Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman selalu mengklaim bahwa Indonesia sudah bisa melakukan swasembada.
Namun kenyataannya di bahan dasar nasi itu justru kerap kosong di pasar-pasar dan menyebabkan harganya menjadi relatif fluktuatif. “Ditengah situasi seperti ini Kementerian Pertanian mengambil inisiatif untuk melakukan impor beras,” katanya.
Teguh mengatakan beras merupakan komunitas strategis, karena permasalahan tersebut pemimpin sebelumnya lengser dari kursinya. Makanya saat ini Presiden Joko Widodo tidak mau mengambil resiko apabila terjadi kelangkaan beras di pasar karena sangat berbahaya terhadap kestabilan politik.
Teguh menambahkan perhatian saat ini terfokus kepada para petani lokal yang akan panen raya pada Februari dan Maret mendatang. “Panen raya produksi petani akan tetap diserap, ada atau tidak ada impor beras,” katanya.
Sedangkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam Zarefriadi berharap Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau mendapatkan beras impor dikarenakan harga komoditas tersebut di kota industri itu masih sangat tinggi.
“Kita berharap adalah yang dikirim ke sini (Kota Batam),” kata Zarefriadi, di Batam, Kamis. Menurutnya hingga saat ini pihaknya bersama Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Batam masih melakukan operasi pasar guna menekan harga beras di pasar.
Zarefriadi menambahkan kebutuhan beras di Kota Batam mencapai 10 ribu ton per bulan. Operasi pasar seharusnya sudah berakhir pada akhir Januari kemarin. Namun dikarenakan harga beras yang kian melonjak dinasnya dan Bulog memutuskan untuk memperpanjang jadwal operasi pasar hingga Maret mendatang.
Menurut Zarefriadi sampai saat ini pihaknya belum mendapat informasi berapa jumlah beras impor yang akan diberikan ke Kota Batam. Dia juga memprediksi pada perayaan hari raya imlek nanti tidak ada peningkatan konsumsi beras.
Karena beras di Batam langka, maka Bulog Sub Divre Kota Batam beberapa waktu lalu memasok beras medium kepada para pedagang di pasar-pasar tradisional. Antara lain di Pasar Jodoh Kecamatan Lubuk Baja, Aviari Kecamatan Batuaji dan Sagulung Kecamatan Sagulung.
Tiga wilayah tersebut dinilai paling banyak membutuhkan pasokan beras karena jumlah penduduknya lebih besar dibandingkan kecamatan lainnya. Bulog terus berkoordinasi dengan satuan tugas (Satgas) Pangan guna mengontrol harga beras khususnya di Kota Batam dan Kabupaten Karimun.
Bulog juga sudah melakukan operasi pasar cadangan beras pemerintah (OPCBP) sebanyak 144.500 kilogram. Pada Januari lalu Bolug sudah melakukan operasi pasar dengan jumlah 47.500 ton beras di Batam.(leo)
batampos.co.id – PT Palindo Marine, Batam, kembali membuktikan diri sebagai perusahaan galangan kapal yang mampu membangun kapal-kapal berkelas dunia. Kali ini, perusahaan shipyard yang berlokasi di Sagulung tersebut sukses menyelesaikan dua kapal patroli canggih pesanan TNI Angkatan Laut (AL).
Kedua kapal tersebut masing-masing kapal patroli keamanan laut (Patkamla) Pulau Yapen dengan nomor lambung I-10-21 dan kapal Patkamla Pulau Langkai I-6-63. Kapal-kapal sudah melalui uji coba berlayar (sea tried) dan diserahkan secara resmi ke pihak Badan Keamanan Laut (Bakamla), Jumat (9/2) siang. Serah terima dilakukan di lokasi galangan kapal PT Palindo Marine dari manajemen PT Palindo Marine kepada TNI Al yang dipimpin oleh Asisten Logistik (Aslog) Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) laksamana muda TNI Mulyadi.
Mulyadi mengatakan, kedua kapal patroli tersebut merupakan tipe kapal patroli perang (combat boat) yang pengoperasiannya lebih cenderung ke tingkal Lanal. Kapal dengan panjang 18,85 itu bertugas untuk mendukung kinerja kapal patroli keamanan laut lainnya yang panjangnya 40 meter ke atas.
“Penyerahan dan pertanggung-jawabannya tetap tingkat Lantamal, namun operasinya cenderung ke tingkat Lanal nanti. Kapal patroli kecil ini lebih cenderung untuk Lanal tipe C. Tugasnya ya mendukung kapal-kapal patroli besar lainnya,” jelas Mulyadi.
Dua kapal tersebut akan ditempatkan di wilayah kerja Lamtamal VI Makasar dan Lamtamal X Papua. Pengadaan dua kapal Patkamla tersebut, kata Mulyadi, merupakan upaya TNI AL untuk melengkapi armada kapal patroli di seluruh wilayah perairan Indonesia. Diakui Mulyadi, secara umum jumlah kapal patroli pendukung memang masih kurang. Dari 14 Lantamal yang ada baru memiliki 20-an unit kapal serupa. Padahal kebutuhan ideal kapal tersebut sekitar 60-an unit sebab ada 50 pangkalan dari 14 Lantamal yang ada.
“Minimal satu lantamal itu tiga unit. Kurangnya masih banyak karena pengoperasiannya ke juga harus merata ke tingkat pangkalan. Pangkalan yang ada termasuk Lanal diatas 50 an,” tuturnya.
Selain kapal patroli jenis combat itu kekurangan serupa kata Mulyadi juga terjadi pada jenis kapal patroli 40 meter. Saat ini pihaknya baru memiliki 24 unit kapal patroli 40 meter. Jumlah tersebut memang belum ideal sebab ditambah dengan kapal patroli tua lainnya baru mencapai angka 80 persen.
“Memang masih banyak kekurangan. Tapi bagaimanapun kita tetap maksimal menjalankan tugas dan fungsi sebagai pengaman wilayah peraiaran. Mudah-mudahan tahun-tahun berikut ada pengadaan lagi sebab target pengadaan kapal-kapal pertahanan ini sampai tahun 2024,” tuturnya.
Terkait dua kapal yang baru dibangun PT Palindo Marine itu, diakui Mulyadi merupakan tipe kapal patroli kecil yang lincah dan tangguh. Kapal dengan kecepatan mencapai 40 knot itu dipastikan mampu mendukung kinerja kerja kapal-kapal patroli besar lainnya.
Keunggulan lainnya, kapal tersebut dibangun dengan bentuk yang lebih ramping hasil mofifikasi dari desain kapal-kapal patroli sebelumnya. Selain peralatan terbaru yang lebih canggih, tentunya kapal ini juga dilengkapi persenjataan yang mutakir.
“Untuk senjata nanti ada dinas kami sendiri yang pasang,” ujarnya.
Rampungnya pembangunan dua unit kapal Patkamla diapresiasi oleh Mulyadi. Dia mengaku bangga karena PT Palindo Marine mampu menyelesaikan kapal-kapal tersebut sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan dan tepat waktu.
“Itu kami apresiasi dan harapan kami agar ke depannya tetap berkomitmen seperti ini. Mutu dan waktu (pengerjaan) tidak boleh diabaikan agar kita semakin dipercaya,” harap Mulyadi kepada pihak PT Palindo Marine.
Menanggapi itu, Presiden Direktut PT Palindo Marine Hermanto mengaku sudah menjadi komitmen PT Palindo Marine untuk selalu profesional dalam menjalankan amanah dan kepercayaan yang diberikan pemerintah tersebut.
“Sudah banyak kapal negara yang kami kerjakan dan tak pernah mengecewakan. Ini sudah komitmen kami untuk memberikan yang terbaik buat negara ini,” tutur Harmanto.
Lebih lanjut Harmanto menyebutkan, bahwa kedua kapal yang sudah diserah-terimakan itu sudah dikerjakan dengan baik sesuai spesifikasi yang ditentukan. Rampungnya dua kapal negara itu merupakan kebanggan tersendiri, sebab dikerjakan oleh putera puteri bangsa.
“Ini 100 persen buatan anak bangsa. Ini bukti bahwa kita tak lagi bergantung dengan negara lain,” tuturnya.
Untuk itu Harmanto berharap agar segala kebutuhan kapal negara ke depannya harus dipercayakan kepada perusahaan-perusahaan lokal yang ada khususnya PT Palindo Marine sendiri. (eja)
Saya sabar menunggu pencernaan saya istirahat. Tidak makan apa pun. Dada dan punggung memang masih sakit tapi sudah turun. Dari skala 9 (saat menuju rumah sakit) ke skala 6 (antara 1-10). Dengan rasa sakit skala 6 saya tidak mengeluh. Sudah jauh lebih ringan dibanding skala 9.
Sambil berbaring lemas, saya ingat. Sekarang sudah pukul 15:00. Saatnya berangkat ke Makkah. Dengan bus besar. Sejauh 450 km. Lima jam perjalanan.
Saya timbang-timbang kondisi badan saya. Berangkat? Kuat? Tidak? Kesimpulan: tidak kuat.
Memang bus besar itu hanya akan diisi 12 orang keluarga kami saja tapi badan ini lemas rasanya. Kepala juga masih berat. Akibat morphin dan suntik obat tidur.
Saya minta agar istri mengumpulkan keluarga. Di kamar saya. Saya putuskan: saya, istri dan anak wedok saya, Isna Fitriana tetap di Madinah. Sambil menunggu perkembangan kesehatan saya.
Selebihnya harus berangkat ke Makkah. Terutama Azrul yang belum pernah ke Makkah. Tidak boleh gagal. Ivo, istri Azrul, memang sudah dua kali ke Makkah tapi kali ini harus mendampingi suaminya.
Tatang, suami Isna, yang juga sudah beberapa kali ke Makkah menjadi bapak asuh untuk enam cucu. Sekaligus menjadi tour guide umroh mereka. Saat ini bus besar mestinya sudah siap. Besok pagi, kalau keadaan membaik kami bertiga menyusul ke Makkah.
Mereka pun bergegas menyiapkan diri. Terutama perlengkapan ihram untuk enam cucu. Pasti tidak mudah mengatur mereka. Tidak bisa cepat.
Bus besar tidak boleh ngebut. Mereka baru tiba di Makkah tengah malam. Langsung ibadah umroh. Saya melihatnya dari kiriman foto dan video yang diperlihatkan istri saya. Saya hanya bilang ya ya ya.
Sakit saya masih datang pergi. Pergi datang.
Melihat kondisi saya yang tidak membaik, Isna mengajukan usul. Malam ini ada penerbangan langsung dari Madinah ke Jakarta. Bisa beli tiket baru. Tiba di Jakarta bisa masuk RS di Jakarta atau ke Surabaya dan langsung ngamar di rumah sakit Surabaya. Isna siap untuk tidak ke Makkah. Kalau ya berarti dua jam lagi harus ke bandara.
Saya coba bangun semangat. Saya kumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada. Tidak bisa. Turun dari tempat tidur pun masih sulit.
“Tidak mungkin kalau malam ini,” jawab saya. “Tidak kuat.”
Isna kembali utak-atik handphone.
“Besok malam ada?” tanya saya.
“Ada juga,” jawab Isna.
“Beli. Untuk abah dan ibu,” kata saya. “Anda nyusul ke Makkah.”
Isna kelihatan ragu. Mungkinkah saya berdua bisa pulang dengan kondisi seperti ini?
Selfi dengan latar belakang istri, anak, menantu, enam cucu di depan masjid Kubah, Madinah, sebelum ke kebun kurma.
Berulang-ulang saya yakinkan bahwa saya akan bisa sampai Surabaya dengan selamat. Entah dari mana datangnya keyakinan itu. Kenyataannya saat itu saya belum bisa duduk. Masih sesak.
Isna mencoba ngotot untuk ikut pulang. Tapi saya tolak. Tiga anak kecilnya lagi di Makkah. Sedang saya, seberapa sakit pun, adalah ‘’anak besar’’.
Malam itu Isna mencari kontak. Siapa tahu ada kenalan yang besok malam juga pulang dari Madinah ke Jakarta. Tidak berhasil.
Tapi Isna menemukan kontak lain: rombongan dokter dari Surabaya yang lagi berada di Madinah. Mereka adalah Prof Teddy Ontoseno, dr Raditya Bagus Parama Bambie, dr Dian Arumdini, dr Azwin Mengindra Putera Lubis.
Besan mereka juga tergabung dalam rombongan umroh itu: Prof Rowena G. Hoesin,
dr Rozalina Loebis SpM, dr Amir Hasan Loebis dan dr Irfani Prajna Paramita.
Mereka bergegas menengok saya. Dengan peralatan dokter seadanya yang mereka bawa. Malam itu saya lebih tenang. Dikelilingi banyak dokter. Aman.
Saya pun minta Isna menyusul suami dan anak-anaknya ke Makkah.
Rupanya Isna juga mengabarkan sakit saya itu ke Robert Lai. Teman baik saya di Singapura. Robertlah yang paling tahu riwayat kesehatan saya. Robertlah yang paling gelisah saat saya sakit. Maka Robert memaksa Isna untuk menerbangkan saya ke Singapura.
Robertlah yang merawat saya hampir dua tahun saat saya sakit kanker hati dulu. Robertlah yang menjadi polisi atas kesehatan saya. Dia tinggalkan kesibukannya sebagai lawyer perusahaan internasional. Hanya untuk menjaga selama saya menjalani transplantasi hati.
Dialah yang mengurus semuanya: rumah sakit, dokter, mencari hati baru dan seterusnya. Kini dia memaksa saya untuk langsung ke Singapura.
Tentu saya tidak mau. Tidak mungkin. Toh ini, seperti kata dokter di Madinah, hanya soal pencernaan yang harus ditunggu agar kembali normal.
Malam itu, saat Isna berangkat ke Makkah, saya sabar menunggu pencernaan saya kembali normal. Saya masih begitu percaya pada keterangan dokter bahwa ini hanya soal menunggu normalnya pencernaan.
Saya tidak mengira ada bencana besar yang tidak diketahui dokter. (*)
batampos.co.id – Jajaran Pangkalan TNI AL (Lanal) Batam mengklaim menemukan sekitar 1 ton sabu di kapal asal Taiwan, Sunrise Glory, Jumat (9/2/2018). Kapal tersebut sebelumnya ditangkap oleh jajaran Gugus Keamanan Laut Wilayah Barat (Guskamlabar) pada Rabu (7/2) lalu sebelum akhirnya diserahkan ke Lanal Batam pada Kamis (8/2).
Kabar penemuan sabu seberat satu ton itu cukup mengagetkan. Sebab saat ekspos pada Kamis (8/2) lalu di Pelabuhan Batuampar, Batam, petugas mengaku hanya menemukan jaring dan bola pelampung. Bahkan patugas tidak menemukan ikan, meskipun awalnya empat kru turut diamankan menyebut Sunrise Glory merupakan kapal tangkap ikan.
Terkait hal ini, Komandan Guskamlabar Laksamana Pertama Bambang Irwanto memiliki penjelasan. Kata dia, sabu seberat satu ton itu disembunyikan di bagian palka bawah kapal. Sehingga saat pemeriksaan pada Rabu dan Kamis lalu, petugas tidak melihatnya.
“Awalnya tidak kelihatan. Lalu kami menggunakan anjing pelacak untuk menemukannya,” kata Bambang, Jumat (9/2).
Irwanto mengatakan, sebenarnya sejak awal jajarannya sudah curiga bahwa kapal yang menggunakan sejumlah bendera dari negara yang berbeda (multi-flag) itu membawa narkoba. Namun pihaknya perlu memastikannya.
Karenanya, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepri. “Sore (Jumat, red) baru kami temukan, bersama dengan BNN,” tuturnya.
Irwanto mengakui, penemuan sabu seberat satu ton di kapal asing ini menjadi perhatian serius di instansinya. Bahkan ia memastikan, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto akan langsung terbang ke Batam untuk mengecek sendiri sabu satu ton tersebut, Sabtu (10/2) hari ini.
“Panglima akan ke sini. Besok akan kami ekpose,” ujarnya, tadi malam.
Penemuan sabu satu ton ini dibenarkan juga oleh Danlantamal IV Tanjungpinang Laksamana Pertama (Laksma) Eko Suyatno. Namun ia enggan menjelaskan secara detil.
Anggota TNA AL sedang menjaga satu kapal bernama Sunrise Glory yang diduga melalukan pemalsuan identitas yang ditangkap oleh Guskamla Armabar saat ekpos di Pelabuhan Batuampar, Kamis (8/2). F Cecep Mulyana/Batam Pos
“Besok (hari ini, red) saja untuk penjelasan lengkapnya. Barang buktinya sekitar segitulah (satu ton),” ucapnya.
Danlanal Batam Kolonel Laut Iwan Setiawan menyampaikan hal senada. Ia bahkan mengatakan penangakapan sabu satu ton ini merupakan prestasi besar. “Rekor, rekor. Jangan lupa datang besok ya…,” tuturnya.
Sementara itu Kepala BNNP Kepri Brigjen Pol Ricard Nainggolan juga membenarkan penemuan sabu satu ton di kapal Sunrise Glory. Namun ia enggan berkomentar banyak.
“Iya, tapi itu TNI AL yang akan sampaikan besok,” tuturnya.
“Ini menyalahi aturan,” kata Komandan Guskamlabar Laksamana Pertama Bambang Irwanto saat ekspos di Pelabuhan Batuampar, Batam, Kamis (8/2) siang.
Petugas juga curiga, sebab saat didekati kapal tersebut berusaha menghindar dan berusaha kabur. “Dari situlah, kami diamankan petugas karena gerak-geriknya mencurigakan,” ujarnya.
Setelah dihentikan dan diperiksa, ternyata seluruh dokumen yang dibawa palsu dan hanya berupa dokumen foto-kopian. Dokumen tersebut menyatakan bahwa kapal tersebut adalah kapal tangkap ikan.
Tak itu saja. Kepada tim Guskamlabar, keempat awak kapal yang kesemuanya orang Taiwan ini mengaku kapal tersebut merupakan kapal Indonesia. Setelah dicek, ternyata mereka memasang empat bendera yakni Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Taiwan.
Hal tersebut dilakukan untuk mengelabuhi petugas patroli laut di beberapa negara nantinya. “Kapal multi flag atau beragam bendera itu sudah menyalahi hukum laut internasional atau disebut UNCLOS. itu sudah masuk kategori kejahatan transnasional,” terang jenderal bintang satu ini.
Saat diamankan, kondisi kapal memang lagi kosong, tidak ada ikan hasil tangkapan kapal. Hanya ada tumpukan peralatan pencari ikan seperti bola pelampung di jaring ikan. Selanjutnya keempat awak kapal beserta kapalnya diserahkan ke Lanal Batam. (gas/ska)
Ustaz Abdul Somad saat memberikan tausiah di Masjid Baitul Makmur Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara, Jumat (9/2). F. Slamet/batam Pos.
batampos.co.id – Ribuan jamaah memadati Masjid Baitul Makmur Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara, Bintan. Jumat (9/2) subuh. Mereka antusias datang ke masjid terbesar di kecamatan itu untuk mendengarkan langsung tausiah yang disampaikan oleh ustaz asal Riau yang wara wiri di media sosial, Ustad Abdul Somad.
Turut hadir dalam tausiah itu, Bupati Bintan Apri Sujadi dan Wakilnya Dalmasri Syam, Sekdakab Bintan Adi Prihantara dan Mantan Bupati Bintan Ansar Ahmad juga terlihat, bahkan Gubernur Kepri Nurdin Basirun dan Sekdakab Bintan Arif Fadillah menyempatkan waktunya untuk hadir di pagi itu.
Suasana salat subuh berjamaah pagi itu seperti Salat Id. Kapasitas jamaah di dalam masjid sekitar 3 ribu penuh, bahkan di luar masjid panitia harus menyediakan sajadah untuk ribuan lagi jamaah yang tidak tertampung di dalam masjid. Masyarakat yang datang untuk salat subuh berjamaah bukan hanya penduduk dari Tanjunguban, namun masyarakat Tanjungpinang juga ikut hadir pada pagi itu untuk mendengarkan ceramah
ustaz Abdul Somad.
Usai memberikan tausiahnya, terlihat masyarakat berusaha mengapai tangan ustaz asal Riau tersebut. Bahkan, ustaz yang sudah bermalam di Tanjunguban itu terlihat tidak bisa bergerak. Ia memilih duduk untuk menerima salaman dari masyarakat. Sesekali ia melempar senyum dan menjawab salam dari masyarakat yang terus berusaha mendekatinya.
Eduar, salah seorang jamaah yang ikut salat subuh berjamaah pagi itu mengatakan, masyarakat sangat antusias hadir di masjid Baitul Makmur untuk mendengarkan tausiah dari ustaz Abdul Somad. “Subuh tadi itu sudah seperti Salat Id,” katanya.
Sementara itu, dalam tausiahnya, ustaz Abdul Somad mengagumi program Pemerintah Kabupaten Bintan yang mengembangkan rumah tahfids. Karena itu, program yang baik dari pemerintah ini harus didukung bersama untuk mewujudkan Kabupaten Bintan yang lebih baik.
Ia menambahkan, apabila ada pemimpin yang peduli terhadap tegaknya agama dan kecintaatnya dalam membangun masa depan generasi penerus bangsa, maka wajib hukum didukung.
“Allah SWT akan selalu melimpahkan rahmat bagi kepada daerah yang masyarakatnya melaksanakan perintah agama dan juga Allah akan jauhkan bencana kepada umat yang selalu berdzikir,” katanya.
Sementara itu, Bupati Bintan Apri Sujadi menyampaikan kebahagiannya atas kedatangan ustaz Abdul Somad. karena kehadirannya merupakan hal yang positif dan menandakan masyarakat Bintan memiliki kecintaan yang besar terhadap ulama.
Terkait pengembangan rumah tahfids, Apri mengatakan, dirinya semakin yakin bahwa langkahnya dalam mencetak para hafidz muda di Bintan adalah tepat. Karena, membangun masa depan daerah bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga mempersiapkan generasi gemilang yang akan mengisi kepemimpinan di masa yang akan datang.
“Kita ingin anak-anak kita nanti memiliki akhlak yang baik dan juga pengetahuan agama yang komprehnsif. Semoga apa yang telah dilakukan dapat memperoleh amalan dan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat Bintan,” tukasnya.
Usai memberikan tausiah, ustaz Abdul Somad langsung meresmikan 212 Mart Bintan Madani di Tanjunguban. Selanjutnya, rombongan ustaz bertolak ke Batam melalui pelabuhan Bulang Linggi Tanjunguban. (met)
batampos.co.id – Batam akan menuju era pemukiman vertikal. Ketua Badan Diklat DPP REI, Priyanto mengatakan tahun ini pembangunan perumahan tapak akan dibatasi. Sehingga pengembang harus mulai belajar untuk mengembangkan rumah keatas.
“Untuk bisa memberikan pengetahuan kepada pengembang pemula, maka kami memberikan pembekalan bagaimana membangun apartemen yang sesuai peraturan,” ujar Priyanto saat membuka Diklat DPD REI Batam bersama BTN di Ibis Hotel, Kamis (8/2).
Proses pembekalan tersebut meliputi pemahaman mengenai aturan perizinan, aturan konstruksi, aturan perpajakan, jual beli, dan pengelolaan termasuk mengenai tata ruangnya.”Sehingga pemukiman yang dibangun nanti sesuai keinginan pemerintah,” ucapnya.
Dalam diklat ini, REI Batam menghadirkan sejumlah pembicara yang handal di dunia properti khususnya pemukiman vertikal seperti apartemen atau rumah susun. “Jadi pembicara yang datang ini, benar-benar sudah menguasai. Misalnya dari sisi pemilihan lokasi, ada Dirut PP Properti pak Taufik, untuk perhitungan bangunan kami undang dari Ciputra Grup, untuk pengelolaan dari Podomoro. Sementara dari sisi marketingnya, kami undang grand marketing Andi Natanael. Jadi mereka-mereka ini yang betul menguasai dan bergerak di bidang apartemen,” tuturnya.
Batam yang merupakan kawasan khusus juga menjadi perhatian dari pemerintah sehingga mereka mengundang pihak dari BP Batam dan BPN Batam untuk memberikan pemahaman mengenai aturan khusus pertanahan di Batam.
“Batam itu beda dengan daerah lain. Makanya ada juga kami undang notaris. Di Batam undang-undang yang digunakan sama, tapi memiliki karakteristik berbeda,” ungkapnya.
Salah satu anggota REI yang sudah memulai pembangunan apartemen Puri Kahyangan. Selain itu, menurut dia beberapa anggota REI yang juga punya lahan landed sudah mulai bersiap-siap untuk pembangunan proyek apartemen. “Kemungkinan mereka juga tidak hanya mengembangkan di Batam, tapi juga di daerah lain,” imbuhnya.
?Diklat ini berlangsung selama tiga hari dan peserta akan mengikuti diklat sesuai dengan materi yang disiapkan panitia. Ia pun berharap para peserta bisa secara aktif bertanya dan sharing bersama para pembicara. “Tanyalah sebanyak mungkin. Kita bukan melakukan seminar, tapi seperti teman. Supaya Anda tahu dan memahami materi-materi yang ?diberikan. Kita akan coba memecahkan kendalanya bersama-sama,” katanya.(leo)
Rumah Imaji, wahana baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Wisata Bintan Resorts Lagoi segera dibuka di lantai 2 Lagoi Bay, Bintan. F. Slamet/Batam Pos.
batampos.co.id – Bintan Resorts Cakrawala (BRC) memanjakan pengunjungnya yang gemar berswafoto dengan membuka rumah imaji di Kawasan Pariwisata Bintan Resorts Lagoi, Bintan. Sebuah ruangan luas yang disulap menjadi spot terbaik dengan pemandangan alam yang memesona.
Tidak hanya spot pemandangan alam dan budaya, namun ada spot permainan rakyat,
Masjid Penyengat, rumah adat, hingga kehidupan nelayan di pulau Bintan, bahkan
mata pengunjung akan dibuat terpanah karena ada spot tiga dimensi yang mengangkat pesona alam bawah laut Pulau Bintan.
Yang tidak kalah serunya adalah objek wisata rumah terbalik di dalam rumah imaji ini. Objek wisata satu ini dikemas dalam ruangan dengan minim pencahayaan dan ditata sedemikian rupa sehingga semua barang dan kegiatan di dalam ruangan itu dibuat terbaik. Sehingga pengunjung yang ada di dalamnya seolah olah berjalan di atas.
Wahana lainnya adalah wahana Food Gram. Wahana ini merupakan pusat kuliner dengan segudang makanan dan minuman dengan cita rasa lokal maupun luar. Tak hanya itu, dalam wahana Food Gram juga disediakan spot spot foto yang menarik.
General Manager (GM) Administrasi PT BRC Aditya Laksamana menyampaikan pihaknya terus menghadirkan sesuatu yang baru di Kawasan Pariwisata Bintan Resorts Lagoi. Setelah Lantern Park Lagoi, Odong odong, Kereta Api Keliling, dan Safari Lagoi, kali ini pihaknya akan segera menghadirkan wahana Rumah Imaji serta Food Gram di Plaza Lagoi Bay, Lagoi.
“Di rumah imaji ini terdapat lebih 50 spot dengan latar belakang pemandangan alam dan budaya maupun kesenian di Pulau Bintan sehingga pengunjung akan dibuat nyaman dan betah ketika berada di dalamnya. Yang menarik, katanya, semua budaya dan kesenian maupun keindahan alam di Pulau Bintan ada di dalam rumah imaji.
“Yang mau menjelajah Bintan cukup datang ke rumah imaji tiga dimensi karena semua ada di sini dan seperti nyata,” katanya.
Setelah berkeliling di Rumah Imaji, pengunjung akan dibuat berdebar ketika akan keluar. dari wahana in karena pengunjung harus melewati jembatan kayu yang sedikit melengkung. “Tak panjang, tetapi dapat membuat pengunjung sedikit merinding, namun setelah itu pengunjung bisa mencicipi kuliner dengan cita rasa lidah nusantara dan luar
negeri,” katanya.
Kedua wahana ini, katanya, untuk semua pengunjung. Tidak hanya wisatawan mancanegara namun wisatawan nusantara. Oleh karena itu, masyarakat Bintan, Tanjungpinang dan Batam maupun daerah lainnya bisa menjajal wahana baru yang dijamin seru karena bisa berfoto ria di Rumah Imaji sembari mencicipi kuliner khas Indonesia maupun luar negeri. (met)
batampos.co.id – Koordinator Nasional LSM Destructive Fishing World (DFW) Indonesia Moh Abdi Suhufan mengungkapkan, Kementerian Kelautan dan Perikanan mesti meningkatkan kerjasama dengan institusi pengawasan laut lainnya untuk mengamankan dan mengawasi aktivitas pencurian ikan oleh kapal asing yang terjadi di Laut Natuna Anambas.
Mengingat Laut Natuna Anambas merupakan bagian dari laut China Selatan dan merupakan Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 711 yang memiliki potensi ikan lestari yang cukup besar. Selain itu, belum selesainya kesepakatan batas laut Indonesia dengan beberapa negara tetangga di sekitar Laut China Selatan menyebabkan laut ZEE dan Laut Teritorial Indonesia rawan dimasuki kapal ikan asing.
“Indonesia perlu mendorong peningkatan kerjasama ASEAN, mengintensifkan forum bilateral dengan negara-negara di kawasan Laut China Selatan agar penanganan kejahatan sektor perikanan bisa diatasi secara bersama-sama,” ungkapnya melalui press release yang dikirimkan kepada sejumlah wartawan Anambas, Jumat (9/2).
Selain Ilegal fishing, meningkatknya aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan asal Pantura berpotensi memicu konflik horizontal dengan nelayan lokal. Kewenangan pengawasan sumberdaya laut yang ditarik dari kabupaten/lkota ke provinsi menyebabkan melemahnya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah provinsi pada zona 12 mil laut.
“Ini terjadi karena minimnya sarana prasarana pendukung seperti kapal patroli, Penyidik Pegawai Negeri Sipil dan minimnya biaya operasional pengawasan,” ungkapnya lagi.
Dalam 6 bulan terakhir nelayan Anambas resah dengan aktvitas nelayan dan kapal ikan asal Tegal, dan Kijang yang menggunakan alat tangkap mini purseine (mayang) dan melakukan penangkapan di zona 12 mil. “Ada 2 hal sensitif yang kini terjadi di laut Natuna Anambas yaitu penangkapan ikan oleh kapal ikan asing dan aktivitas kapal dari daerah lain yang melakukan penangkapan di zona 12 mi,” kata Abdi.
Berdasarkan hal tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan perlu meningkatkan pengawasan di Laut Natuna melalui kerjasama patroli dengan Angkatan Laut dan Polairud untuk pengawasan di Laut Teritorial untuk mencegah masuknya kapal ikan asing.
Selain itu, KKP juga perlu memberikan dukungan teknis dan alokasi anggaran yang mencukupi agar Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau segera memiliki sarana dan prasarana pengawasan untuk menjaga sumberdaya perikanan yang menjadi kewenangan provinsi. Terutama di Laut Anambas “Kapasitas pengawasan sumberdaya laut oleh pemerintah provinsi masih sangat lemah sehingga perlu mendapat prioritas untuk ditingkatkan,” kata Abdi. (sya)
Selain ikan dingkis, kue bakul atau kue keranjang, salah satu hidangan khas perayaan imlek. F. Aulia Rahman/Batam Pos.
batampos.co.id – Suasana menjelang perayaan Imlek 16 Febuari mendatang sudah terlihat di Ranai. Rumah-rumah warga keturunan Tionghoa mulai berhias lampion-lampion warna merah.
Tidak hanya hiasan lampion yang digantung didalam rumah maupun di teras, kue has Imlek sudah mulai dijual. Salah satunya adalah kue bakul atau kue keranjang.
Kue bakul ini hanya dibuat warga satu tahun sekali, yakni untuk hidangan perayaan Imlek.
Doni Rinaldo, seorang warga Tionghoa di Ranai mengaku, kue bakul sudah jauh hari disiapkan sebelum malam perayaan Imlek. Mengingat proses pembuatannya tidak mudah. Kue tersebut salah satu hidangan utama. Selain menu masakan lain yang dinilai mewah-mewah.
Doni mengaku, cara membuat kue bakul adalah warisan keluarga yang turun temurun diajarkan. Karena tidak semua warga Tionghoa bisa meraciknya.
“Kue bakul ini dibuat dari bahan beras ketan, gula, dan dimasak cukup lama. Perlu kesabaran dan ada pantangannya. Supaya rasanya lebih istimewa disaat Imlek,” ungkap Doni, di restorannya di Ranai,” Jumat (9/2).
Selain kue bakul, tradisi perayaan Imlek di Natuna juga menghidangkan menu ikan Dingkis yang sedang bertelur. Menurut warga Tionghoa, merupakan satu hoki atau keberuntungan menyambut tahun baru Cina.
“Menyambut Imlek, kami sengaja memesan ikan Dingkis kepada nelayan, spesialis Dingkis yang lagi bertelur. Di Ranai harganya pun tidak mahal. Kalau di luar bisa Rp 1 jutaan per kilo,” tutur Doni.
Kemeriahan menyambut perayaan Imlek tahun 2018 di Natuna juga disambut warga kampung Penagi. Kelenteng dan jalan pelantar mulai dihiasi lampion warna merah. Nuasa menyambut perayaan Imlek juga terlihat di jalan pelantar kota terapung Sedanau.(arn)