Sabtu, 2 Mei 2026
Beranda blog Halaman 12435

Motor Standar Gunakan Ban Intermediate

0

batampos.co.id – Kestabilan laju sepeda motor ditentukan oleh ban. percaya deh.

Kondisi jalan yang berlainan menghendaki jenis ban yang berbeda pula. Ada tiga jenis ban yang bisa dipilih. Yaitu ban basah, kering, dan intermediate. Tiap jenis ban tersebut punya fungsi yang berbeda-beda.

Business Development TDR, Benny Rahmawan mengatakan, meski dari jenis ban peruntukannya berbeda-beda, ia menyarankan agar tetap memakai ban standar atau intermediate.

“Tidak perlu terlalu ekstrim seperti itu lah. Untuk motor standar cukup memakai ban motor harian atau inermediate. Itu sudah cukup. Cuma untuk balapan baru dilihat bannya, apakah memakai ban basah atau ban kering,” katanya, di TDR Technology Center, Kamis (15/3).

Fungsi ban basah dan yang kering itu berbeda. Ban basah, didesain agar sepeda motor tidak mengalami aquaplaning (kondisi ban yang mengambang karena terbelah atau terangkat oleh genangan air). Desain ban basah, memungkinkan ban tetap menempel di permukaan jalan. Meskipun jalan dalam keadaan basah. Genangan air akan terbelah oleh ban basah.

“Tapi kalau memakai ban kering di jalan basah, maka akan licin dan terjadi aquaplaning,” tuturnya.

Sebaliknya ban basah yang diaplikasikan di jalan kering, maka ban tersebut akan menjadi cepat habis. Sebab ban basah memiliki tekstur lunak.

“Kalau ban basah dipakai di jalan kering, itu akan sangat cepat habis atau botak secara ekstrim. Kenapa? Karena komponennya cenderung sangat lunak, dan kembangan atau pattern-nya juga berbeda. Tapi, untuk motor harian, tidak perlu memakai ban basah atau lunak. Cukup yang intermediate saja karena bukan balapan,” tegasnya.

(sab/JPC)

Pelayanan BPJS di AwalBros belum Efektif

0
ilustrasi

batampos.co.id – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kota Batam akan kembali bermitra dengan Rumah Sakit Awal Bross (RSAB) Batam. Meski sudah menandatangani komitmen bersama, pelayanan di RSAB belumlah efektif.

Humas RSAB Kota Batam Chintya membenarkan RSAB akan kembali bekerjasama dengan BPJS Kesehatan Cabang Batam. Hal itu dimulai dengan penandatanganan komitmen bersama yang juga diikuti 20 Faslitas Kesehatan (Faskes) lainnya di Batam.

“Komitmen memang sudah saat kami diundang bersama 20 Faskes lainnya. Namun untuk pelayanan BPJS di RSAB masih menunggu (belum efektif, red),” kata Chintya, Sabtu (17/3).

Menurut dia, pelayanan BPJS di RSAB tengah menunggu intruksi dari BPJS Kesehatan cabang Batam. Dimana masih ada hal-hal yang akan disosialisasikan oleh BPJS sebelum menandatanganan kontrak kerjasama.

“Intinya kapan dimulai pelayanan menunggu intruksi BPJS,” terang Chintya.

Disisi lain, Chintya mengaku RSAB sudah siap memberi pelayanan kepada peserta JKN-KIS. Apalagi melihat sarana dan prasana di RSAB sudah cukup lengkap.

“Kami siap melayani, kalau bisa dalam bulan ini. Soalnya sudah banyak yang nanya juga,” imbuh Chintya lagi.

Sementara Kepala Bidang SDM, Umum dan Komunikasi Publik BPJS Kesehatan Cabang Batam, Irfan Racmadi membenarkan pelayanan BPJS di RSAB belum efektif. Sebab, masih ada persyaratan kerjasama yang harus dipahami oleh RSAB.

“Masih komitmen, untuk pelayanan masih belum. Masih ada persyaratan yang harus dipahami RSAB,” terang Irfan.

Persyaratan yang diberikan BPJS ke RSAB tak jauh beda atau hampir sama dengan Faskes lainnya. Hanya saja, sebelum melayani RSAB harus mengerti persyaratan yang akan dilampirkan dalam kontrak kerjasama.

“Syaratnya sama saja dengan Faskes lainnya, tak ada beda. Hanya saja mereka masih menyiapkan sarana dan prasana sebelum melayani peserta BPJS,” jelas Irfan.

Menurutnya, dalam hal pelayanan BPJS Kesehatan Cabang Batam telah menegaskan agar RSAB tidak lagi membeda-bedakan pelayanan antara pasien umum dan JKN-KIS. Dimana dulunya, RSAB sempat membeda-bedakan pelayanan dan hal itu sebenarnya diharamkan oleh BPJS Kesehatan.

“Dulunya memang dibedakan, tempat daftarnya juga beda. Namun kedepannya kami harap tidak begitu, makanya dalam komitmen kemarin kami tegaskan tak boleh adanya perbedaan pasien umum dan JKN-KIS,” tegas Irfan.

Disinggung kapan waktu pelayanan di RSAB efektif, Irfan belum bisa memastikan. Namun jika kontrak kerjasama sudah selesai hal itu akan diumumkan ke publik.

“Saya belum bisa memastikan, nanti kalau sudah ada rilis akan saya kabari. Begitu juga dengan pelayanan peserta JKN-KIS di RSAB kedepannya,” pungkas Irfan. (she)

Nasib Kongres PSSI Kepri Kian Buram

0
ilustrasi

batampos.co.id – Jika sebelumnya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonseia (PSSI) Assosiasi Provinsi (Asprov) Kepri menyatakan siap untuk menggelar Kongres di akhir Maret, kini rencana itu semakin buram. Kongres itu akhirnya diputuskan untuk ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Kepastian itu didapatkan dari surat pemberitahuan PSSI Pusat dengan nomor 990/PGD/165/III-2018 mengenai penundaan kongres. Surat yang ditanda tangani oleh Sekretaris Jenderal PSSI Pusat Ratu Thisa dan ditujukan pada Pelaksana tugas (Plt) Ketua PSSi Asprov Kepri Johar Ling Eng.

Ada dua hal yang mendasariu keputusan PSSI Pusat untuk menunda gelaran kongres PSSI Asprov Kepri. Pertama adalah kurangnya sosialisasi kepada anggota tentang rencana pelaksanaan konmgres dengan agenda pemiliha Ketua PSSI Asprov Kepri ini, Dan kedua adalah tidak terpenuhinya persyaratan kelengkapan administrasi calon anggota executive commite (exco) hingga batas waktu yang ditetapkan, yakni 12 Maret lalu.

Dua lasan ini akhirnya membuat PSSI Pusat untuk menunda Kongres pemilihan Asprov PSSI Kepri hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

Plt Ketua PSSI Asprov Kepri Johar Ling Eng saat diminta keterangan menyatakan keputusan ini diambil oleh PSSI Pusat tidak dengan maksud yang buruk

“PSSI ingin melihat Kongres Pemilihan Asprov Kepri bisa berjalan dengan baik dan sukses,” bebernya, Sabtu (17/3).

“Dasar pengambilan keputusan adalah persiapan yang tidak meyakinkan untuk menggelar kongres. karenanya Saya mengambil keputusan untuk tidak berspekulasi atau gambling menggelar kongres,” tutur Johar.

Terkait dengan pelaksanaan kompetisi bagi klub-klub yang berada bawah PSSI Asprov Kepri, Johar mengatakan solusi bagi penyelenggaraan kompetisi masih ada. ” Kompetisi tetap harus berjalan karena ini adalah bentuk pembinaan cabang olahraga sepakbola di Kepri,” tegasnya.

“Demi persiapan yang baik dan terlaksananya kompetisi Liga 3 dan Piala Soeratin, sosialisasi kompetisi harus segera dilakukan,” tambah Johar.

Sementara itu untuk menunggu pemberitahuan mengenai pelaksanan kongres, Johar meminta agar klub sepakbola di bawah naungan PSSI Asprov Kepri, PSSI Askab/Askot untuk memberikan masukan terkait dengan pelaksanaan kongres.

“Saya meminta klub-klub sepakbola, PSSI Askab/Askot dibawah PSSI Asprov Kepri untuk memberikan masukan dalam pertemuan yang akan diselenggarakan dalam waktu singkat,” tegasnya. (yan)

Pemko Batam akan Bangun Embung Untuk Petani

0
Ketua Kelompok Tani Wanita Barokah, Tri Sakti Setia Budi memperlihatkan cabe setan yang ditanam di Fasilitas Umum Perumahan Griya Piayu Asri.
Foto: Wahyudin Nur/Batam Pos

batampos.co.id – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKP) Kota Batam tahun ini akan membangun empat embung untuk komunitas tani dan melengkapi peralatan untuk rumah potong unggas Pemko Batam yang berada di Tanjungriau.

Kepala DKP, Mardanis mengatakan pembangunan embung yang berukuran 500 M3 ini untuk membantu petani yang ada saat ini. Selain empat embung tersebut anggaran sebesar Rp 948.052.000 ini juga akan digunakan untuk pembelian peralatan untuk RPU.

Dia menyebutkan semula ada tujuh embung yang akan dibangun yakni di Pulau Tanjungkubu, Bulangkebam, Pemping, Airraja, Kepalajeri, Karas dan Galang baru.

“Namun karena alat potong juga urgent jadi hanya empat yang dibangun tahun ini. Untuk yang empat ini saya lupa yang mana saja,” terangnya.

Embung ini akan dikelola oleh kelompok tani yang merupakan binaan DKP Batam. Jadi ini tidak perorangan sistemnya swakelola. “Nanti pembangunannya kami serahkan kepada kelompok tani penerima,” sebut mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) ini.

Ia menambahkan untuk jenis pertanian sementara ini masih didominasi tanaman jagung, sayura, ubi dan cabe. Dana yang bersumber dari Dana Alokasi Khsusus (DAK) ini diharapkan bisa membantu kelancaran proses tanam menanam di sana terutama dari segi pengairan.

“Ya, setidaknya ini upaya yang bisa dilakukan untuk membantu mereka yang bekerja sebagai petani. Karena seperti diketahui semuanya lagi lesu. Semoga hasil tani mereka juga meningkat” ungkap Mardanis.(yui)

Bersuka Ria bersama NonaRia

0

NONARIA mendapat sambutan hangat dari pengunjung saat tampil di Java Jazz Festival (JJF) 2018 pada 2 Maret lalu. Penonton yang memadati panggung gazebo JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara, tersebut begitu menikmati penampilan mereka.

Penikmat NonaRia yang digawangi tiga personel -Nesia Ardi (vokal dan snare), Nanin Wardhani (keyboard, piano, akordeon), dan Yasintha Pattiasina (biola)- bukan hanya kalangan dewasa muda. Ada anak-anak, remaja, paro baya, hingga lansia. Sebagian ikut bernyanyi karena hafal lagu mereka. Sisanya, ada yang berjoget riang karena asyik mengikuti irama.

Ada pula yang tersenyum melihat para personel bertingkah atau menyeletuk jenaka. Musik khas tempo dulu NonaRia ternyata sanggup menarik minat berbagai kalangan usia NonaRia terbentuk pada 2012. Awalnya, band pengusung gaya retro itu terdiri atas Nesia, Nanin, dan Rieke Astari yang memainkan akordeon.

Ketiganya merupakan sahabat karib yang sama-sama menggemari musik. Tapi, masing-masing punya kesibukan dan proyek sendiri-sendiri. “Katanya, kami bertiga mukanya mirip,” kata Nesia saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (8/3).

Berbekal kecintaan pada musik, tiga sahabat itu akhirnya membentuk band. Awalnya mereka mencoba jazz karena masing-masing akrab dengan genre tersebut. Namun, untuk bisa eksis, Nesia, Nanin, dan Rieke butuh sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak dimiliki grup musik lain. “Kalau cuma jazz standar doang, ya buat apa,” kata Nesia.

Nesia mengaku bahwa dirinya dan dua kawannya tidak jago-jago amat dalam bermusik. Maka, mereka ingin kuat atau unik dalam hal konsep. Pilihan mereka lantas jatuh pada konsep retro. Namun, bukan asal retro karena cukup banyak band atau musisi yang mengadaptasi gaya itu. Misalnya, band Naif yang mengadaptasi musik era 1970-an atau Clubeighties dengan gaya 1980-an. Ketiga personel ingin spesifik ke sebuah era.

NonaRia mengaku kagum pada lagu-lagu pop Indonesia era 1940 hingga 1950. Era saat musisi dan penyanyi seperti Ismail Marzuki, Bing Slamet, dan Sam Saimun berkibar lewat lagu yang mereka ciptakan atau bawakan. Akhirnya, untuk memberikan keunikan bagi gaya bermusik mereka, era 1940-1950 dipilih.

Ketiga personel sendiri memang tertarik pada konsep musik tempo dulu. Menurut mereka, segala musik vintage atau retro tak lekang oleh waktu. Nuansa tempo dulu bisa dinikmati di era kapan pun dan tidak kehilangan daya tariknya. Musiknya pun dinilai lebih harmonis dan rapi. “Dari segi lirik juga sederhana dan mudah dinikmati,” kata Nanin.

Tak hanya musik dan lagu, gaya retro pun juga diterapkan ke busana. Ketiga personel NonaRia suka dengan desain busana tempo dulu yang manis, sederhana, namun tetap berkelas. Dress yang terinspirasi dari busana tahun 1940 hingga 1950 menjadi kostum kebanggaan NonaRia ketika tampil. “Desainnya kami buat sendiri,” kata Nesia.

Karena belum memiliki lagu sendiri ketika awal terbentuk, NonaRia lebih sering meng-cover lagu-lagu pop Indonesia era 1940 hingga 1950-an. Sebut saja Sabda Alam, Tamasya, Juwita Malam, atau Kopral Jono. Saat tampil kali pertama di Klab Jazz Bandung pada 2013, NonaRia mendapat sambutan hangat. Dugaan mereka benar. Musik dan lagu khas era 1940 hingga 1950-an masih diminati. “Rata-rata mereka tahu lagunya, tapi sudah lama nggak dengar,” ujarnya.

Formasi NonaRia yang hanya tiga orang pun merupakan daya tarik tersendiri. Menurut mereka, komposisi tiga orang dengan alat musik mempertahankan kesederhanaan musik dan lagu. Malah, awalnya, Nesia tidak memainkan snare alias menyanyi saja. Sesekali, mereka mengajak additional player untuk instrumen lain. Atau, NonaRia juga berkolaborasi dengan grup atau musisi lain yang memainkan instrumen berbeda.

Dari penampilan perdana di Bandung, nama NonaRia langsung tenar. Mereka mengaku sudah lupa berapa banyak gig atau show yang melibatkan mereka sejak 2013. Sayang, di tengah popularitas dan banyaknya tawaran manggung, NonaRia ditinggal salah seorang personelnya. Pada 2014 Rieke menikah dan harus ikut sang suami pindah ke Papua.

NonaRia sempat kehilangan arah. Mereka bingung bagaimana bisa tampil memukau dengan formasi dua orang saja. Ditambah lagi, kesibukan Nesia dan Nanin menyita waktu. NonaRia sama sekali tidak tampil, menciptakan lagu, ataupun merilis single dan album. Mereka vakum alias mati suri.

Walaupun vakum, keinginan Nesia dan Nanin untuk tetap bermusik bersama tetap kuat. Akhirnya, pada 2016, sebagai pengganti Rieke, mereka menggandeng Yasintha, pemain biola NonaRia hingga kini. Sebelumnya Yasintha sempat menjadi additional player.

“Kalau ditambahin biola, musik NonaRia bisa lebih oke,” kata Nesia.

Kembali ke belantika musik pada 2016 dalam formasi tiga orang, NonaRia tampil lagi di event Sisterhood Gigs. Yakni, event musik untuk mewadahi para musisi perempuan dalam berkarya. Namun, untuk bisa tampil di acara itu, NonaRia harus punya lagu ciptaan sendiri. Ketiga personel pun bingung. Mereka baru saja bangun dari tidur panjang dan sama sekali belum pernah membuat lagu lantaran vakum.

Akhirnya, sebuah lagu pun diciptakan Nanin. Judulnya Antri Yuk, lagu dengan irama ragtime retro. Isi liriknya seputar ajakan untuk lebih tertib saat berlalu lintas atau antre guna mengurangi kemacetan dan kekacauan.

Rupanya, Antri Yuk sukses membuat banyak orang antre untuk menyaksikan penampilan NonaRia. Rupanya, comeback NonaRia setelah dua tahun vakum disambut baik oleh penggemar musik. Dari situ, Nanin, Nesia, dan Yasintha semakin bersemangat menciptakan lagu baru. Apalagi, cukup banyak yang bertanya kapan NonaRia akan merilis album.

Mereka pun berniat serius mengembangkan NonaRia dan merilis album perdana. Dengan bantuan Hendrawan Revianto, mantan drumer band Notturno dan Beben Jazz Quartet yang kini menjadi manajer NonaRia, ketiga personel mulai fokus. Di bawah arahan dan bimbingan Hendrawan, NonaRia mulai mengerjakan album pertama.

“Awalnya mau bikin minialbum saja, tapi katanya nanggung,” tambah Yasintha.

Dimulai proses pembuatan lagu oleh ketiga personel. Mereka konsisten memasukkan ciri khas lagu-lagu pop lawas Indonesia dalam album perdana yang dirilis pada Januari lalu. Dari segi lirik, lagu-lagu ciptaan NonaRia sangat beragam. Ada yang jenaka, filosofis, puitis, bertutur tentang sebuah pengalaman, memberikan nasihat, hingga mengajak bersukaria.

Menurut Yasintha, salah satu daya tarik lagu dengan langgam lawas adalah bisa dinikmati banyak kalangan lantaran liriknya beragam. Kisah lirik yang diangkat dari kehidupan sehari-hari juga bikin orang nyambung dengan lagu.

“Temanya bukan soal cinta melulu, yang hanya bisa dinikmati kalangan tertentu,” ujar Yasintha. Karena itu, setiap kali NonaRia tampil, penontonnya berasal dari berbagai golongan usia.

Gaya musik yang digunakan untuk mengiringi lirik pun mengingatkan pendengar pada lagu-lagu lawas. Ditambah lagi, efek suara gemerisik yang muncul ketika lagu diputar membuat seolah album diputar di gramofon atau pemutar piringan hitam. Benar-benar terasa sekali nuansa tempo dulunya. Irama musik juga dibuat bervariasi. Ada yang lambat, sedang, dan cepat.

Album perdana yang diberi nama NonaRia mendapat sambutan hangat. Mereka pun melakukan tur untuk mempromosikan album yang juga mendapatkan respons positif dari para Kawan Ceria -fans mereka- di enam kota. Yakni, Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, dan Malang.

Kesuksesan NonaRia menunjukkan bahwa musik dengan langgam tempo dulu masih menjadi idaman dan tren di masyarakat. Mereka juga menjadi bukti bahwa musisi perempuan juga mulai diakui.

“Sebenarnya kami membentuk band hanya untuk iseng, bukan karena minimnya band perempuan,” sahut Nanin.

Kini, setelah meluncurkan album perdana dan tampil di JJF 2018, NonaRia semakin banyak menerima tawaran manggung. Keinginan mereka adalah membawa “Hari Bahagia” dan memberi “Sebusur Pelangi” yang indah untuk para penikmat musik. Persis seperti dua judul lagu di album perdana mereka. Juga, memberikan keceriaan bagi banyak orang. Sama dengan nama NonaRia. Tiga nona yang selalu ceria.

(GLANDY BURNAMA, Jakarta)

Bupati Lingga, Laporkan Rencana Bangun Industri Gula Bit ke Menteri Perindustrian

0
Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto (tengah) didampingi Dirjen Industri Agro Kemenperin, Panggah Susanto (kiri) menerima Bupati Lingga, Alias Wello (kanan) di ruang kerjanya, Jumat (16/3/2018).

batampos.co.id – Bupati Lingga, Kepulauan Riau (Kepri), Alias Wello menemui Menteri Perindustrian (Memperin) RI, Airlangga Hartarto, Jumat (16/3/2018).

Ia melaporkan rencananya untuk membangun industri gula pasir dan gula merah berbahan baku dari umbi tanaman bit di Bumi Bunda Tanah Melayu itu.

“Kemarin, saya dan tim sudah menemui pak Menperin. Saya melaporkan dan minta dukungan atas rencana Pemerintah Kabupaten Lingga membangun industri gula dari umbi tanaman bit,” ungkap Awe, sapaan akrab Bupati Lingga, Sabtu (17/3/2018).

Awe mengaku tak sendirian untuk mewujudkan cita – cita besarnya itu. Namun, Ia didampingi salah seorang putra terbaik Indonesia yang sudah berpengalaman selama 40 tahun menangani industri gula bit di negara Jerman.

Hanya bermodalkan sekitar Rp35 Miliar, kata Awe, industri gula bit yang akan dibangunnya di Lingga itu, mampu memproduksi gula pasir sekitar 12 ton dan gula merah sekitar 9 ton per hari. Sementara lahan yang dibutuhkan, hanya sekitar 150 hektar.

“Ini sebuah terobosan yang mampu menjawab tantangan masa depan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada gula impor. Apalagi, lahan yang dibutuhkan tak perlu terlalu luas dan hasilnya bisa sampai 100 ton umbi bit per hektar” bebernya.

Ketika ditanya bagaimana respon Menperin atas gagasannya membangun industri gula bit itu, Awe hanya mengumbar senyum dan berharap suatu saat industri gula bit ini dapat terealisir, sekaligus mampu memberi kontribusi terhadap kebutuhan gula nasional yang dikabarkan masih mengalami defisit sekitar 3 juta ton per tahun.

“Pak Menteri masih ragu – ragu, karena belum ada bukti tanaman bit ini bisa hidup di Indonesia dan dapat dibudidaya secara massal. Padahal, sejumlah ujicoba sudah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Tanaman bit ini bisa hidup di daerah tropis dan bisa panen hingga 2 kali dalam setahun,” jelasnya. (wsa)

Camat Sekupang Turun Tangan Perangi Nyamuk di Marina

0

Camat Sekupang, M. Arman menyerang nyamuk dengan asap di Perumahan Rabayu Regency, Marina.| Eusebius

batampos.co.id – Camat Sekupang M Arman beserta jajarannya turun melakukan pengasapan atau fogging di sejumlah perumahan di Marina, Kelurahan Tanjungriau, Sekupang, Minggu (18/3) pagi. Pengasapan untuk membasmi nyamuk itu juga dihadiri oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kota Batam Gintoyono Batong.

Pantauan di lapangan sedikitnya ada tiga perumahan yang difogging oleh petugas dari kecamatan itu yakni perumahan Oase Marina, Rhabayu Regency dan Laguna Regency. Arman yang memimpin kegiatan tersebut juga turut menggeledah rumah-rumah warga dengan alat penyemprot asap.

Saat melakukan pengasapan Arman mengaku prihatian dengan kondisi lingkungan warga di sana. Dia menilai kesadaran warga untuk menjaga kebersihan lingkungan masih minim. Genangan air yang menjadi wadah berkembang biar nyamuk masih terlihat di dalam atau di halaman rumah warga.

“Wah ini berbahaya, banyak genangan air di rumah-rumah warga ini. Pak RW tolong ingatkan lagi warganya untuk tidak membiarkan ada genangan air termasuk di dalam parit,” ujar Arman disela-sela kegiatan pengasapan itu.

Kepada Batam Pos Arman menuturkan, fogging tersebut merupakan tindak lanjut laporan perangkat RT/RW sekecamatan Sekupang terkait mewabahnya penyakit Deman Berdarah Dangue (DBD).

“Kemarin (fogging) di pulau Seraya. Alhamdulilah sudah teratasi wabah nyamuk di sana. Sekarang di sini di RW 19. Ada laporan dari pak RW bahwa ada warga yang terjangkit DBD makanya kami turun,” ujar Arman.

Sejauh ini kata Arman, wilayah kecamatan Sekupang sedikitnya ada dua kelurahan yang mulai mewabah penyakit DBD yakni kelurahan Tanjungriau dan Tiban Indah. “Baru dua kelurahan tapi hampir merata ada di setiap perumahan. Ini jadi fokus perhatian kami kedepannya. Bagaimanapun ini harus secepatnya dicegah,” ujar Arman.

Selain rutin melakukan fogging, Arman juga menghimbau masyarakat di Sekupang pada umumnya untuk memperhatikan kebersihan lingkungan. Dia memintah perangkat RT/RW peran aktif menyadarkana warganya untuk biasakan hidup bersih dan sehat.

“Terutama genangan air. Itu yang harus diperhatikan. Percuma kalau foggging saja, sementara jentik-jentik nyamuk dibiarkan berkembang biak di dalam rumah. Habis fogging muncul lagi mereka,” tegas Arman.

Ketua RW 19 Marina Suwardi dalam laporannya mengakui adanya persoalan itu. Beberapa warga di bawa naungan RW 19 kelurahan Tanjungriau sudah positif terjangkit DBD.

“Banyak sebenarnya pak. Cuman yang ada bukti laporan baru satu di perumahan Oase Marina. Sekarang masih sakit anaknya. Makanya kami sangat berterima kasih pak camat mau merespon kelurahan kami disini,” ujar Suwardi.

Suwardi juga mengakui jika mewabahnya DBD itu karena masyarakat masih minim menyadari pola hidup sehat. Untuk kedepannya dia bertekad akan lebih maksimal lagi menyadarkan warga untuk menjaga kebersihan lingkungan masing-masing.

“Ini jadi program kerja kami kedepannya biar rutin melakukan gotong royong membersihkan parit dan lingkungan,” ujar Suwardi. (eja)

DutaMas Gunakan Palang Pintu

0

batampos.co.id – Pengoperasian empat palang pintu parkir otomaris, atau barrier gate berbasis digital FRID system card reader di Taman Dutamas, di resmikan oleh tokoh masyarakat Kepulauan Riau HM Soerya Respationo, Minggu (18/3). Keempat palang pintu tersebut ialah gate pungguwo, gate dutamas, gate roma dan gate sudirman.

Soerya mengatakan, beroperasinya barrier gate Taman Dutamas, diharapkan dapat lebih menjamin keamanan dan kenyamanan warga, khususnya warga Perumahan Taman Dutamas.

“Barrier gate ini merupakan saran dan masukan dan warga Dutamas. Mudah-mudahan kedepan kita rawat bersama kenyamanan dan keamanan di lingkungan kita,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris RW 02 Taman Dutamas Sudirman menuturkan, pemasangan empat barrier gate di Taman Dutamas, bertujuan untuk pembenahan dan penertiban lingkungan hunian nyaman penuh keakraban. Karena di Taman Dutamas bukan hanya terdiri dari komplek Perumahan, namun juga terdapat Sekolah, serta hunian komersil.

“Dengan palang pintu otomatis ini bisa memisahkan daerah komersial dengan lingkungan warga. Sehingga lebih tertib dan rapi,” katanya.

Melaui sistem ini memungkinkan petugas keamanan untuk mengontrol siapa yang masuk dan keluar kedalam perumahan. Sistem cluster ini juga cukup membentengi kemungkinan buruk jika terdapat pihak yang tidak bertanggungjawab, ingin melakukan kejahatan.

“Warga yang keluar masuk juga akan lebih mudah teridentifikasi,” papar Sudirman. (rng)

2018, Batam Mendapatkan Kuota 667 Orang jamaah Calon Haji

0
ilustrasi

batampos.co.id – Kementerian Agama Batam hingga saat ini masih menunggu hasil Peraturan Presiden (Pelpres) terkait kenaikan ongkos haji untuk embarkasi Batam.

“Calon jamaah haji (Calhaj) sudah banyak yang bertanya-tanya juga soal kenaikan ini, namun kami informasikan ongkos masih sama hingga Pelpres turun,” kata Kepala Kantor Kemenag Batam, Erizal Abdullah, Sabtu (17/3).

Ia menerangkan saat ini ongkos haji di Batam sebesar Rp 32.465.450 dan termasuk nomor tiga termurah seluruh Indonesia. Karena melihat jarak dari tanah suci. Kebijakan nantinya tentu akan berdampak terhadap ongkos haji embarkasi Batam, namun berapa besarnya pihaknya hanya bisa menunggu.

“Bisa saja tetap ataupun naik,” imbuhnya.

Erizal menyebutkan tahun ini Batam mendapatkan kuota sebanyak 667 orang. Nama-nama calhaj ini belum final karena jelang keberangkata itu ada yang sakit atau meninggal sehingga memberikan kesempatan calhaj lain untuk berangkat.

“Ganti kursi itu bisa saja terjadi,” sebut Erizal.

Untuk saat ini daftar tunggu calhaj sudah mencapai tahun 2035 mendatang. Jadi mereka yang daftar tahun ini akan diberangkatakan 2035, dengan masa tunggu mencapai 17 tahun

“Sekarang yang daftar sudah lebih dari enam ribu orang,” ucapnya.

Ia berharap keputusan nanti tidak terlalu memberatkan calhaj yang akan menunaikan ibadah haji. “Kalaupun naik jangan terlalu banyak itu saja,” tutupnya.(yui)

Pusat Promosi Wisata Akan Dibangun di Batam

0
Kepala Dinas Parawisata Kepri Buralimar bersama Deputi 5 BP Batam Bambang Purwanto memberikan pemaparan saat pertemuan dengan pelaku parawisata di kantor BP Batam, Jumat (16/3/2018). | Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Batam akan segera memiliki pusat promosi wisata dan informasi bertajuk Batam Promotion Centre. BP Batam bersama sejumlah asosiasi pengusaha pariwisata akan segera merancangnya sebagai bagian dari pengembangan pariwisata di Batam.

“Batam perlu semacam Batam Promotion Centre yang bisa dibangun bersama-sama. BP bisa dukung disana,”jelas Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo di Gedung Marketing BP Batam, Jumat (16/3).

Tolak ukur mengapa pembangunan Batam Promotion Centre perlu dilakukan adalah karena wisman yang berkunjung ke Batam sangat membutuhkannya.

“Pada saat dunia mengalami krisis global, tapi kunjungan wisatawan tidak menurun. Jadi pariwisata inilah yang dapat mendorong pembangunan ekonomi Batam,” katanya.

Selain membangun Batam Promotion Centre, BP Batam juga akan menata kembali berbagai elemen yang dibutuhkan untuk mendukung pariwisata.

“Banyak kali unsur harus disiapkan seperti mempersiapkan atraksi, infrastruktur dan dukungan layanan seperti hotel, transportasi, rumah makan dan sebagainya. Jasa travel agent juga penting. Sehingga kita optimis bahwa pariwisata memang dapat menjadi unggulan,” katanya.

Sedangkan Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kepri Denny Rade Situmeang menambahkan a sangat berharap agar pemerintah daerah turun tangan dengan membuat pusat informasi pariwisata di pelabuhan internasional dan juga bandara.

Pemerintah daerah juga harus menyediakan sarana transportasi publik beserta pemandu wisata supaya menyambut turis yang datang. Mereka akan sangat mendukung pembangunan sarana pendukung pariwisata tersebut.

“Agar mereka mendapatkan informasi yang jelas dan tidak menjadi korban dari oknum-oknum tersebut,” jelasnya.(leo)