Kapolsek Sagulung AKP Hendrianto saat memberikan sambutan.
batampos.co.id – Polsek Sagulung mengadakan pengajian rutin Majelis Taklim Al-Hikmah Permata di Masjid Jihadul Muharom Polsek Sagulung, Sabtu (31/3/2018) sekira pukul 14.00 Wib.
Pengajian dihadiri oleh ibu-ibu majelis taklim Kelurahan Sei Langkai sekira 100 orang.
Nampak hadir pada pengajian itu ialah Kapolsek Sagulung AKP Hendrianto; Ketua Majelis Taklim, Sri Sulastri; serta Ustad Idris serta Ketua Bhayangkari Sagulung beserta anggota. (ali)
Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo. Foto: Cecep Mulyana / batampos
batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam mendukung penuh pembangunan Pelabuhan Tanjungsauh yang akan dimulai pada bulan depan. BP Batam akan mempersiapkan akses menuju lokasi pembangunan serta akan menentukan titik lokasi jembatan dari Batam menuju Pulau Tanjungsauh.
“Jika bicara dari porsi BP, maka kami akan mendukung pembangunan Tanjungsauh lewat Batuampar. Nanti peralatan dan barang-barang masuk lewat sana,” kata Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo, Senin (26/3) di Gedung BP Batam.
Setelah itu, keberadaan Pelabuhan Tanjungsauh yang berada di sebuah pulau membuat BP Batam akan menentukan titik jatuhnya lokasi jembatan.
“Kami juga akan bangun jaringan akses menuju jembatan tersebut,” paparnya.
Lalu setelah Tanjungsauh selesai dibangun, maka BP Batam akan menjadi fasilitator antar kedua pelabuhan yakni Tanjungsauh dan Batuampar. Fasilitator dalam hal pengembangan bersama antara kedua pelabuhan penting ini.
“Kesepakatan kita jadi komplemen antar Batuampar dan Tanjungsauh. Keduanya harus tumbuh sama-sama. Itu juga akan ditekankan BP batam agar bisa dimanfaatkan meskipun Tanjungsauh nanti tumbuh menjadi lebih besar,” katanya.
Keberadaan Tanjungsauh bagi BP Batam dapat mendorong pemanfaatan potensi lokasi strategis yang dimiliki oleh Batam.
“Tanjungsauh bisa manfaatkan potensi lalu lintas besar yang tidak terlalu kita manfaatkan dengan kapasitas terbatas di Batuampar. Jadi kita akan dukung upaya yang bisa mempercepat pembangunan Batam,” harapnya.
Menanggapi rencana pembangunan Pelabuhan Tanjungsauh, pengusaha yang berkecimpung di dunia maritim menyambut dengan sukacita.
“Pembangunan pelabuhan tersebut akan memotong alur transportasi ekspor dan impor yang selama ini harus melalui Singapura,” kata Ketua INSA Batam Osman Hasyim.
Tanjungsauh akan menjadi tempat berlabuh bagi kontainer-kontainer yang menuju Indonesia dengan kapasitasnya yang besar. Dengan demikian maka akan terjadi efisiensi besar-besaran dalam urusan biaya logistik.
“Jika 360.000 Teus saja berlabuh di Tanjungsauh maka bisa menghemat biaya sekitar 1,8 triliun. Perhitungan tersebut dihitung karena biaya pengiriman 1 kontainer dari Singapura bisa mencapai Rp 5 juta,” katanya lagi.
Efisiensi biaya logistik ini juga akan menyumbang kontribusi signifikan bagi perkembangan industri di Batam. Mereka akan semakin kompetitif dan berani melakukan ekspansi dan banyak membuka lowongan kerja.
“Memang ada juga sisi lainnya seperti armada kapal menuju Singapura akan berkurang. Tapi memang semuanya harus siap untuk menghadapi era baru yang terjadi,” katanya.
Sedangkan Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam, Daniel Burhanudin mengatakan pembangunan Pelabuhan Tanjungsauh sangat bagus, tapi juga harus diiringi dengan upaya menciptakan situasi perdagangan yang kondusif di seputar perairan Kepri.
“Kapal itu mengikuti perdagangan. Jadi investor asing yang ada dalam pembangunan pelabuhan tersebut harus bisa menarik kapal-kapal asing ke Tanjungsauh,” jelasnya.
Disamping menciptakan situasi perdagangan yang kondusif, pemerintah juga harus giat memberikan insentif kepada pelabuhan tersebut.”Harus disertai dengan insentif agar uang yang dihabiskan untuk membangunnya tidak percuma,” paparnya.
Jika digarap secara serius, ia yakin Pelabuhan Tanjungsauh akan memberikan kontribusi besar bagi Kepri. Pelabuhan ini tidak akan mematikan Pelabuhan Batuampar karena lokasi Tanjungsauh berada di luar area kawasan perdagangan bebas Batam.
“Saya juga menyarankan agar setiap kegiatan pengembangan pelabuhan, orang-orang yang terlibat di dunia maritim harus diajak,” harapnya. (leo)
Seorang petugas SPBU Regata, Kota Batam, Kepri sedang mengisi bahan bakar minyak Pertalite, Selasa (23/01/2018). Konsumsi BBM jenis Premium di Batam terus meningkat seiring semakin tingginya tingkat kesadaran konsumen akan BBM berkualitas yang ramah lingkungan. F Cecep Mulyana/Batam Pos
Lebih irit, nyaman, dan ramah lingkungan. Itulah tiga alasan utama Susanto Putra, 35, soal keputusannya menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite untuk motor matic-nya, sejak setahun terakhir. Sebelumnya, ia konsumen setia Premium.
Warga Batamcenter, Batam, ini kemudian membandingkan tingkat efisiensi antara Premium dan Pertalite. Dalam kondisi sama-sama tangki penuh, biasanya Premium di motornya akan habis dalam tiga hari. Namun jika diisi penuh dengan Pertalite, ia baru akan kembali mengisinya setelah empat hari kemudian.
“Rata-rata bedanya sehari. Pertalite lebih irit,” kata bapak dua anak ini, Kamis (29/03/2018) lalu.
Pria asal Medan, Sumatera Utara, ini memang tidak pernah menghitungnya berdasarkan catatan jarak tempuh sepeda motornya. Ia hanya membandingkan tingkat efisiensi Premium dan Pertalite berdasarkan jumlah hari pemakaian.
“Karena rata-rata aktivitas saya dengan motor ini tiap hari sama. Jadi saya bisa mengukur mana yang lebih irit,” kata dia.
Selain lebih irit, Susanto juga merasa lebih nyaman menggunakan Pertalite. Menurut dia, secara kualitas Pertalite lebih baik dibandingkan dengan Premium. Sehingga ia yakin, BBM berkualitas ini akan berdampak positif pada mesin motornya.
“Secara psikologis nyaman dan yakin mesin motor akan lebih awet,” kata dia.
Asisten supervisor di sebuah perusahaan oleokimia (oleochemicals) di Batam ini menambahkan, ia memutuskan untuk migrasi ke Pertalite karena BBM tersebut lebih ramah lingkungan dibandingkan Premium. Sehingga menurutnya, memakai BBM yang lebih ramah lingkungan seperti Pertalite adalah salah satu bentuk kepeduliannya terhadap kampanye perang melawan pemanasan global (global warming).
Lulusan Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara (USU) ini menjelaskan, di antara penyebab utama terjadinya efek rumah kaca dan pemanasan global adalah emisi gas buang yang dihasilkan dari sisa pembakaran kendaraan bermotor. Selain itu, emisi gas buang ini juga memicu terjadinya pencemaran udara.
Pertalite, kata dia, memiliki kandungan hidrocarbon (HC) dan carbondioksida (C2) yang lebih rendah dibandingkan Premium. Sehingga proses pembakaran mesin dengan bahan bakar Pertalite akan lebih sempurna dibandingkan mesin dengan bahan bakar Premium. Sehingga emisi gas buangnya juga semakin rendah.
“Mirip di tempat kerja saya, emisi gas buangnya dibatasi untuk mengurangi global warming,” kata Susanto sambil menyebut nama perusahaan tempat ia bekerja.
Susanto tak sendirian. Di Batam khususnya dan di Kepulauan Riau pada umumnya, migrasi konsumen BBM dari Premium ke Pertalite, atau BBM dengan kadar oktan yang lebih tinggi lainnya, sudah berlangsung cukup lama. Setidaknya dalam setahun terakhir.
Hal ini dibuktikan dengan perbandingan data realisasi distribusi BBM oleh PT Pertamina (Persero) di Batam selama 2016 dan 2017. Khususnya untuk Premium dan Pertalite.
Tahun 2016, distribusi atau pasokan Premium untuk wilayah Batam mencapai 332.293 kiloliter (KL). Namun sepanjang 2017, jumlahnya turun menjadi 264.523 KL. Dengan kata lain, distribusinya berkurang sebesar 67.770 KL.
Berbeda dengan Premium, konsumsi Pertalite di Batam terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2016, konsumsi Pertalite di Batam hanya mencapai 33.216 KL. Namun pada 2017 lalu, angkanya melonjak menjadi 104.872 KL atau bertambah 71.656 KL.
Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR I Sumbagut, Rudi Arifianto, mengatakan turunnya pasokan Premium ke wilayah Batam ini dikarenakan berkurangnya permintaan konsumen di wilayah tersebut. Begitu juga dengan meningkatnya jumlah pasokan Pertalite, Rudi menyebut hal itu karena menyesuaikan permintaan dan kebutuhan konsumen.
“Saat ini Premium sudah mulai ditinggalkan,” kata Rudi, Jumat (30/03/2018) malam.
Rudi membenarkan, jika dibandingkan dengan Premium, Pertalite memang lebih berkualitas. Dari segi kandungan oktan (Research Octane Number/RON), Pertalite memiliki kandungan oktan lebih tinggi, yakni 90. Sedangkan RON Premium hanya 88.
Begitu juga dengan kandungan komponen penyusun lainnya. Pertalite jauh lebih unggul dibandingkan Premium.
Dengan kandungan oktan yang lebih tinggi, Pertalite juga lebih ramah lingkungan sehingga penggunaannya akan berdampak pada pengurangan pencemaran lingkungan, khususnya udara. Selain itu, BBM berkualitas ini juga akan memberikan banyak keuntungan lain bagi konsumen, termasuk mesin kendaraan.
“Mesin jadi awet, tarikan enteng, dan jarak tempuh lebih jauh,” katanya.
Rudi menambahkan, pihaknya terus berupaya menghadirkan BBM berkualitas sesuai dengan standar emisi internasional. Selain Pertalite, saat ini Pertamina juga memiliki sejumlah produk BBM berkualitas dengan RON tinggi.
Sebut saja Pertamax RON 92, Pertamax Plus RON 95, Pertamax Turbo RON 95, dan Pertamax Racing RON 100. Pertamina, kata Rudi, juga terus berupaya mendorong konsumen bermigrasi ke BBM berkualitas dangan RON lebih tinggi untuk membantu mengurangi pencemaran udara di dalam negeri, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta atau Medan.
“Dengan mengonsumsi BBM ramah lingkungan, kita akan membantu menjaga dan melestarikan lingkungan,” kata Rudi.
Komitmen Pertamina ini sejalan dengan tuntutan dan kebijakan pemerintah Indonesia yang akan segera menerapkan standar emisi Euro IV. Sesuai dengan standar tersebut, maka BBM yang boleh digunakan minimal harus memiliki RON 92.
Terkait hal itu, Rudi mengatakan Pertamina akan terus berbenah. Sehingga ke depan semua BBM yang beredar di masyarakat adalah BBM yang sesuai standar emisi gas buang internasional.
“Pertamina terus melakukan upaya inovasi dan perbaikan sehingga lebih baik dalam melayani masyarakat. Kami juga mengimbau kepada masyarakat yang punya masukan, kritik, dan saran untuk langsung menghubungi ke 1 500 000,” kata Rudi lagi.
Sementara itu, data di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina di Batam juga menunjukkan adanya peningkatan konsumsi Pertalite. Sebaliknya, pembelian BBM jenis Premium mengalami tren penurunan dalam dua atau tiga tahun belakangan.
Di SPBU PT Sinar Agung Kencana, misalnya. Penjualan Premium sepanjang Januari 2018 lalu mencapai 344 kiloliter (KL). Sedangkan penjualan Pertalite selama Januari 2018 mencapai 346 KL.
“Sekarang sudah lebih banyak yang pakai Pertalite dibandingkan Premium,” kata Foreman SPBU PT Sinar Agung Kencana, Edward, Sabtu (31/03/2018) siang.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2017, terjadi peningkatan penjualan Pertalite yang cukup drastis. Dimana pada Januari 2017, SPBU tersebut menjual Premium sebanyak 648 KL. Sedangkan Pertalite hanya 192 KL.
Apalagi jika dibandingkan dengan penjualan Premium dan Pertalite sepanjang Januari 2016. Perubahannya sangat siginifikan. Penjualan Premium di SPBU yang berada di Simpang KDA, Batamcenter, itu mencapai 778 KL. Sedangkan Pertalite saat itu hanya terjual 48 KL.
Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Kapital Raya, Batamkota. Menurut Foreman SPBU Kapital Raya, Yanto, penjualan Pertilite di SPBU tersebut saat ini terus meningkat. Menurut dia, peningkatan itu terjadi murni karena adanya kesadaran konsumen yang memang ingin bermigrasi ke BBM yang lebih berkualitas.
Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah antrean konsumen di jalur pengisian BBM (dispenser) di SPBU tersebut. Kata Yanto, meskipun Premium dan Pertalite sama-sama tersedia di waktu yang bersamaan, konsumen tetap cenderung memilih antre di jalur pengisian Pertalite.
“Kalau mau lihat datang sore pas jam pulang kerja. Konsumen cenderung tetap memilih Pertalite,” kata Yanto, Sabtu (31/03/2018) siang.
Ramah di Kantong, Semua Jadi Untung
Selain ramah lingkungan, BBM dengan RON tinggi seperti Pertalite, Pertamax, dan sejenisnya ternyata juga ramah bagi kantong para konsumennya. Dari beberapa kali hasil pengujian, konsumsi Pertalite dan Pertamax ternyata jauh lebih hemat dibandingkan Premium.
“Untuk satu liter Premium hanya cukup untuk jarak tempuh 11 kilometer,” kata Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR I Sumbagut, Rudi Arifianto, belum lama ini.
Sementara satu liter Pertalite cukup digunakan untuk jarak tempuh 13 kilometer. Dan dengan volume yang sama, Pertamax cukup untuk perjalanan sejauh 14 kilometer.
Jika untuk perjalanan jarak pendek, secara ekonomis menggunakan Premium memang lebih hemat. Karena harga Premium memang lebih murah dibandingkan dengan Pertalite atau Pertamax. Namun untuk jarak jauh, penggunaan Pertalite dan Pertamax ternyata justru jauh lebih efisien.
Dalam hal ini, Pertamina bersama sejumlah pakar juga telah melakukan pengujian untuk menghitung berapa kebutuhan BBM selama perjalanan. Sehingga bisa diketahui berapa jumlah rupiah yang dibutuhkan.
Saat pengujian dilakukan, harga Premium masih 6.450 per liter, Pertalite Rp 7.100, dan Pertamax Rp 7.550. Pengujian dilakukan untuk perjalanan mobil dengan jarak tempuh 550 kilometer.
Hasilnya, kendaraan yang menggunakan BBM Premium akan menghabiskan 50 liter Premium. Jika dirupiahkan, nilainya mencapai Rp 322.500. Sedangkan jika menggunakan Pertalite, kendaraan tersebut hanya membutuhkan 42,3 liter atau Rp 300.330.
Sementara dengan Pertamax, akan lebih hemat lagi. Sebab untuk jarak tempuh yang sama, yakni 550 kilometer, hanya akan membutuhkan 39,2 liter Pertamax atau Rp 295.960.
Bukan hanya bagi konsumen, dari sisi bisnis penjualan Pertalite dan BBM dengan RON tinggi lainnya juga jauh lebih menguntungkan bagi pengusaha SPBU. Sebab Pertamina memberikan margin yang lebih besar untuk Pertalite dan Pertamax.
“Kami lebih untung jualan Pertalite daripada Premium,” kata Foreman SPBU PT Sinar Agung Kencana, Edward, Sabtu (31/03/2018) siang.
Sayangnya, Edward enggan menyebutkan berapa margin dan keuntungan tersebut. “Itu rahasia perusahaan,” kilahnya. (Suparman)
batampos.co.id – Pernyataan Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek yang menyebut cacing anisakis pada produk ikan makarel kaleng tidak berbahaya ditanggapi DPR. Untuk membuktikan pernyataan itu, Menkes diminta memakannya.
Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan mengatakan, jika memang Menkes yakin cacing tersebut tidak berbahaya bagi kesehatan atau bahkan mengandung protein, ia meminta Menkes harus membuktikannya sendiri. Misalnya dengan demo makan makarel kalengan mengandung cacing itu di depan publik.
“Sehingga masyarakat yakin dengan pernyataan Menkes,” ujar Taufik dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/3).
Taufik mengatakan, Menkes seharusnya memberikan pernyataan yang bisa memberikan ketenangan kepada masyarakat soal temuan cacing di dalam kemasan makarel kalengan itu. Atas pernyataan Menkes itu, Taufik menilainya sebagai blunder atau bumerang bagi Menkes sendiri.
“Apalagi katanya mengandung protein. Seharusnya tidak perlu keluar statement itu. Seharusnya tetap mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai produk-produk itu,” ujarnya.
Tafik mengatakan pernyataan itu tak mencerminkan sikap seorang Menteri Kesehatan. Ia menyarankan, daripada mengeluarkan pernyataan itu, lebih baik Menkes mengimbau masyarakat membantu pemerintah melaporkan 27 produk ikan makarel itu jika masih ada di pasaran.
“Ini bukannya masyarakat menjadi tenang, justru malah mempertanyakan kompetensi Menkes,” ungkap Taufik.
Selain itu, pernyataan Menkes itu dirasakannya kontradiktif dengan langkah yang diambil oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yang meminta produsen maupun importir dan distributor menarik produk tersebut.
Sebelumnya, dalam kesempatan seusai rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Menteri Nila menyebut kandungan cacing anisakis dalam 27 merek makarel kalengan itu tak terlalu bermasalah bagi tubuh manusia. Asalkan, makarel instan itu dimasak dengan benar.
“Cacing itu sebenarnya isinya protein,” ujar Nila ketika ditemui sebelum rapat, Kamis (29/3) lalu.
Nila menyebutkan selama makarel kaleng tersebut kembali diolah sebelum dikonsumsi, maka cacing yang ada akan akan mati. Sehingga makanan tersebut aman untuk dikonsumsi.
“Setahu saya itu kan enggak dimakan mentah, kita kan goreng lagi, atau dimasak lagi, cacingnya matilah,” jelasnya.
Masih Dijual Bebas
Satnarkoba Polresta barelang bersama Disperindag Kota Batam, BPOM melakukan pengecekan produk ikan makarel kemasan kaleng saat kegiatan berupa himbauan kepada supermarket dikawasan Batamcenter, Kamis (29/3). BPOM yang mengeluarkan pengumuman bahwa 27 produk ikan Makarel kemasan kaleng yang mengandung cacing parasit. F Cecep Mulyana/Batam Pos
Sementara di Kepri, sejumlah toko dan minimarket masih menjual berbagai merek produk ikan makarel kalengan yang dinyatakan mengandung cacing, Jumat (30/3). Di Batuaji, Batam, misalnya masih banyak toko yang menjual makarel kaleng merek Ranesa, Maya, Naraya, Botan, dan TLC. Padahal produk tersebut merupakan sebagian dari 27 merek makarel kaleng yang dinyatakan dilarang edar oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Kami belum dapat info. Yang kami tahu cuman merek Hoki, Farmer Jack, dan IO saja yang dilarang,” ujar pedagang di kawasan Fanindo, Batuaji, kemarin.
Selain belum mendapatkan informasi, kata dia, hingga kemarin belum ada pihak-pihak yang melakukan razia atau penarikan. Misalnya dari pihak distributor maupun dari Balai POM Kepri.
“Orang BPOM tak datang ke sini. Makanya kami tak tahu,” katanya.
Di daerah Bengkong, Batam, juga sama. Sejumlah toko masih menjajakan makarel kaleng merek Botan, ABC, Fiesta Seafood, Gaga, King’s Fieher, Naraya, dan Pronas.
Menurut karyawan supermarket di Bengkong, Ayu, sebenarnya ia sudah mengetahui jika produk tersebut dilarang. Namun, kata dia, pemilik supermarket tersebut belum mau menurunkannya dari etalase toko.
“Menunggu distributor menarik dulu, baru dikeluarkan,” ujarnya.
Tak hanya di supermarket, beberapa produk ikan kaleng yang mengandung cacing juga masih banyak dijual di toko kelontong. Pemilik toko kelontong yang enggan disebut namanya juga masih memajang produk tersebut sambil menunggu ditarik distributor.
Selain di Batam, berbagai merek makarel bercacing juga masih beredar di Kabupaten Karimun, Jumat (30/3). Namun tak sedikit pula pedagang yang dengan sukarela tidak lagi menjual produk makarel tersebut.
“Kami mematuhi aturan, jika memang dilarang, kami tidak akan jual,” kata Rahim, pemiliki toko kelontong di Karimun, kemarin.
Langsung Disita
foto: dalil harahap / batampos
Sementara Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mengerahkan tim dari 19 puskesmas se-Batam untuk merazia 27 merek makarel tersebut. Razia digelar mulai dari pasar, minimarket, hingga ke wilayah hinterland.
Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi mengatakan, hingga kemarin memang masih banyak toko dan minimarket di Batam yang menjual beberapa di antara 27 merek makarel kaleng yang dilarang BPOM.
“Yang masih ada pajang, kami minta mereka turunkan dan tidak dijual hingga distributor menariknya,” kata Didi, Jumat (30/3).
Ia menyayangkan lambannya respon pedagang maupun distributor atas larangan terhadap 27 merek makarel kaleng tersebut. Menurut dia, pihak distributor cepat melakukan penarikan. Demikian juga dengan pedagang, mestinya dengan sukarela tidak menjual lagi makarel bercacing itu.
“Setiap ada yang pajang, kami akan paksa turun. Hingga kami akan sita dan serahkan ke BPOM,” ucap dia.
Ia mengaku leading sector penarikan makarel bermasalah ini memang di BPOM. Namun pihaknya juga berkewajiban untuk turun tangan. Apalgi ini sudah diperintahkan oleh Wali Kota Batam Muhammad Rudi. “BPOM juga kan sudah meminta distributor menarik,” kata dia.
Ia menambahkan, penarikan makarel bercacing oleh petugas 19 puskesmas akan digelar hingga awal Minggu (1/4) besok. Hari pertama turun pada Jumat (30/3) kemarin, pihaknya juga bersama Satpol PP, Babinsa, hingga petugas kecamatan.
“Hari libur tetap turun, setiap puskesmas ada tiga tim. Satu tim rata-rata lima orang,” kata dia.
Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam juga menurunkan tim. Melalui Surat Perintah Tugas tertanggal 29 Maret, Kepala Disperindag Batam Zarefriadi menugaskan lima orang untuk turun ke pusat-pusat perbelanjaan, hingga Minggu (1/4) nanti.
“Secara prinsip makanan yang ada tidak diinginkan keberadaannya jangan dikonsumsi dulu. Dengan informasi 27 ikan kaleng itu, sekarang bisa kita berpikir tidak ada ikan berkaleng itu yang steril,” ucap dia.
Tak hanya itu, sejumlah kelurahan di Batam juga menurunkan petugasnya untuk memantau makarel bercacing. “Kami imbau dan data pedagang-pedagang yang masih menjual makarel bercacing. Untuk penarikan itu wewenangnya Disperindag,” ucap Lurah Belian, Kamarul Azmi.
Terpisah, Kepala Balai POM Kepri Yosef Dwi Irwan mengajak seluruh instansi terkait di Provinsi Kepulauan Riau untuk bersama-sama mengawal penarikan 27 merek makarel bercacing. “Kami tidak bisa jadi single fighter, jadi butuh bantuan,” kata Yosef, Jumat (30/3).
Menurut dia, sejauh ini respon di lapangan cukup baik. Sejumlah instansi langsung bergerak membantu menarik 27 merek makarel bercacing itu dari pasaran.
Anggota Komisi II DPRD Batam, Uba Ingan Sigalingging meminta BPOM meningkatkan pengawasan terhadap pangan dan minuman yang beredar di masyarakat, khususnya produk-produk impor. Mestinya, kata dia, semua produk yang telah mendapat izin edar itu adalah produk yang layak komsumsi.
“Selain kualitas, masa berlaku juga penting,” paparnya.
Ia menambahkan, pemerintah harus segera menyikapi hal ini. Karena di dalam praktiknya banyak manipulasi produk makanan yang tidak sesuai standar. Apalagi produk-produk yang berasal dari Tiongkok yang memang sudah banyak dikeluhkan oleh beberapa negara.
“Kalau perlu semua produk yang berasal dari Cina diuji lab lagi,” jelasnya. (she/adi/une/atm/rng/ska/san/JPG)
batampos.co.id – Jenazah bayi berusia 3,5 bulan yang diduga meninggal akibat dianiaya oleh ayahnya sendiri dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sei Panas, Jumat (30/3) siang. Di TPU Sei Panas, tampak sejumlah warga ikut mengantarkan bayi. Sementara ayah dari bayi itu, Yudi, 27, tidak tampak disekitar pemakaman.
Sementara, ibu bayi, Nia, 22, tampak histeris saat di pemakaman. Ia seperti belum ikhlas kehilangan bayi perempuannya itu. Ia beberapa kali jatuh pingsan. Beberapa warga yang hadir pun tampak mencoba menenangkan Nia.
Salah seorang warga, Jumiati yang ditemui di TPU Sei Panas mengatakan bahwa awalnya bayi bernama Yuni Sintia itu sempat dibawa ke Rumah Sakit Harapan Bunda karena mengalami kejang-kejang. Setelah dua hari menjalani perawatan di Rumah Sakit Harapan Bunda, akhirnya bayi itu meninggal dunia.
“Di bibirnya itu ada bekas berdarah sama seperti bekas luka dibagian (punggung) sini,” ujarnya sembari memegang bagian punggung belakangnya.
Usai bayi itu dinyatakan meninggal dunia, selanjutnya bayi itu dibawa pulang ke rumah duka dan dimandikan di masjid yang tidak jauh dari tempat tinggalnya di kawasan Komplek Jodoh Square. Namun, saat dimandikan itu, warga merasa curiga dengan beberapa luka lebam di tubuh bayi. Sehingga warga melaporkan kejadian ini ke Polsek Batuampar.
“Sekitar jam dua malam bayinya langsung dibawa sama polisi ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk di visum,” tuturnya.
Jumiati menambahkan, ia sangat yakin bahwa Yudi telah melakukan penganiayaan terhadap anaknya itu, hingga meninggal dunia. Ia berharap, dengan kejadian ini Yudi bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya dan sadar atas kesalahan yang telah dibuatnya kepada anaknya sendiri.
“Kita sebagai ibu pasti merasa kesal. Menurut saya jangan terlalu tega sama anak-anak, apalagi sama anak sendiri. Mudah-mudahan dengan kejadian ini dia bisa sadar,” imbuhnya.
Sementara itu, Kapolsek Batuampar AKP Ricky Firmansyah yang ditemui di pemakaman belum bisa bicara banyak terkait pemeriksaan terhadap Yudi. Menurutnya, sejauh ini pihaknya baru melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan melakukan pemeriksaan terhadap beberapa orang saksi.
“Kita masih menunggu hasil visumnya. Saat ini, kami hanya mendampingi pengambilan jenazah dan mengantarkan ke pemakaman. sejauh ini masih melakukan pemeriksaan saksi dan nanti hasil visumnya sudah keluar, akan kita sampaikan,” ujarnya singkat. (gie)
batampos.co.id – Kapal patroli milik PT Pertamina terbakar di perairan Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu, (31/3). Kebakaran itu dipicu dari tumpahan minyak berjenis solar sejak subuh tadi.
“Memang betul ada kapal terbakar akibat tumpahan minyak,” ujar Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Ade Yaya Suryana kepada JawaPos.com, Sabtu, (31/3).
Kejadian tersebut memakan korban jiwa. “Dua orang meninggal dunia, saat ini masih proses evakuasi,” ujar Ade.
Kejadian ini bermula pada pukul 04.00 WIB. Ditemukan tumpahan solar di sekitar jetty 2 hingga dumping area. Lalu, sekitar pukul 06.00 WIB, kapal patroli PT Pertamina melakukan penyisiran di perairan. Dimulai dari Pelabuhan Chevron atau Pelabuhan Semayang sampai dengan Kampung Atas Air Kelurahan Baru Ilir, Balikpapan Barat.
Pertamina mendapat musibah, kapal patrolinya terbakar, dua orang tewas
Pertamina mendapat musibah, kapal patrolinya terbakar, dua orang tewas (Jawa Pos)
Dari hasil patroli, disampaikan tumpahan minyak ada di arah utara Kampung Atas Air hingga arah selatan Pelabuhan Speed Chevron arah Lawe-lawe, di batas pertengahan antara kilang dan kapal tanker berlabuh.
Sementara asal usul tumpahan minyak diduga dari kapal tanker yang sedang berlabuh di Pelabuhan Semayang dari MT. LAMIWURI 01. Solar yang tumpah, menyebar sekitar 300 meter dari pelabuhan.
Rencana awal, solar yang tumpah akan dimusnahkan dengan cara dibakar di tengah laut namun dikarenakan kesalahan prosedur kapal juga mengalami kebakaran.
Kemudian, kapal pandu dari Pelindo lantas melakukan pemutusan jalur solar yang tumpah dengan cara berputar-putar di radius 200 meter dari titik api dan kapal yang terbakar.
batampos.co.id – Gubernur Kepri Nurdin Basirun ingin Kepri dengan budaya Melayu yang kuat dan peradaban Islam harus semakin dipertegas. Pulau Penyengat salah satu tempat yang tepat untuk mempertegas semua itu.
“Harus terus kita kembangkan agar Kepri punya ciri khas yang melekat di bidang keagamaan,” ujar Nurdin saat meninjau Pulau Penyengat usai melaksanakan safari subuh di Masjid Sultan Pulau Penyengat, Jumat (30/3).
Banyak hal yang harus dilakukan dalam menjaga kegemilangan Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata tersebut. Salah satunya kebersihan baik di darat maupun disekitar lautnya.
“Penyengat harus terus kita jaga kebersihan lautnya, kebudayaanya serta tempat-tempat bersejarahnya,” lanjut Nurdin.
Selain itu, Nurdin juga ingin promosi daerah harus terus digalakkan, agar para wisatawan dari dalam maupun luar tertarik untuk datang kesini. Dalam peninjauannya Nurdin diajak salah satu tokoh pemuda setempat untuk melihat lokasi yang rencananya akan dibangun pondok tahfiz qur’an.
Nurdin menyambut baik lokasi yang dulunya merupakan bekas kompleks perumahan kerajaan itu dijadikan pondok tahfiz. Hal ini sebagai upaya menjadikan Penyengat sebagai Pulau Penghafal Al-Qur’an.
Di tepi lautnya Nurdin juga ingin diperbaharui. Rencanaya akan dibangun jalan lingkar yang mengelilingi Pulau Penyengat.
“Pakai tiang pancang saja jangan ditimbun,” tegas Nurdin.
Hal itu dilakukan karna ia tidak ingin membangun tapi malah merusak lingkungan sekitar. Nurdin ingin penambahan tanpa menghilangkan jejak asli di lokasi tersebut.
Tokoh Pemuda Penyengat Adi mengatakan bahwa nantinya jika jalan lingkar tersebut jadi maka panjangnya akan kurang lebih tiga kilometer. Lebar jalan sendiri di proyeksikan dapat memuat 3 becak.
“Target kita ingin menjadikan Kepri maju seperti di Bali,” kata Adi.
Peninjauan selanjutnya ditujukan di tempat yang akan dibangun mini museum dan rumah singgah. Di sana Nurdin juga setuju akan dibangun gedung tersebut karna akan menambah daya tarik wisata setempat.
Sebelum kembali ke Tanjungpinang, berjalan menuju pelabuhan Nurdin juga berencana akan memperbaharui gapura masuk Pulau Penyengat.
Hadir pada peninjauan tersebut, Sekretaris Daerah TS. Arif Fadillah, Penjabat Walikota Tanjungpinang Raja Ariza, Kadis Kelautan Eddy Sofyan, Kadis Perdagangan Burhanuddin dan Karo Humprohub Nilwan. (bni)
batampos.co.id – Pintu bagi bank asing untuk masuk ke Indonesia terbuka lebih lebar. Dalam aturan single presence policy, bank asing hanya boleh menguasai saham bank dalam negeri maksimal 40 persen.
Kendati demikian, ada celah bagi asing untuk mengakuisisi bank lokal lebih dari 40 persen. Syaratnya, bank bersedia dimerger atau melakukan penggabungan usaha.
’’Aturannya memang seperti itu,’’ kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Heru Kristiyana, saat diskusi bersama media, Kamis (29/3).
Menurut dia, konsolidasi perbankan lebih baik jika bank bisa dimerger. Hal tersebut akan merampingkan jumlah bank yang saat ini mencapai 112 bank. Merger dengan asing pun diperbolehkan.
Heru mengungkapkan, sejauh ini, ada dua bank yang melakukan pembahasan mengenai hal itu. PT Bank Danamon Indonesia Tbk rencananya dikuasai The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd (MUFG) asal Jepang.
Untuk akuisisi tahap awal, MUFG menyediakan dana Rp 15,9 triliun untuk pembelian 19,9 persen saham Bank Danamon. Selanjutnya, MUFG menyusul dengan pembelian 20,1 persen saham. Dengan begitu, kepemilikan MUFG di Bank Danamon menjadi 40 persen.
Kemudian, MUFG berencana melanjutkan akuisisinya hingga menguasai 73,8 persen saham Bank Danamon. Untuk dapat menguasai lebih dari 40 persen saham Bank Danamon, harus ada merger antara Bank Danamon dan entitas MUFG di Indonesia, yakni PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (BBNP).
Ada juga PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) yang akan dikuasai Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) Jepang. Hal tersebut dilakukan melalui merger BTPN dengan entitas SMBC di Indonesia, yaitu PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI).
’’Rasanya sudah right track-lah BTPN itu. Mereka melaporkan kepada kami kok setiap saat. Mereka melaporkan bahwa SMBC mau mengambil alih BTPN,’’ ujar Heru.
Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK, Slamet Edy Purnomo, menambahkan merger BTPN-SMBCI dan Bank Danamon-Bank BNP diharapkan dapat terealisasi tahun ini.
’’Tapi, kami juga kalau asing masuk tidak langsung iya begitu. Kami harus tanya maksud dan tujuan mereka ke sini. Visi-misinya apa. Apakah bermanfaat bagi bangsa atau tidak,’’ ungkapnya.
Sementara itu, Head of External Affairs Bank Danamon, Abraham Sihaloho, dalam siaran persnya menyatakan rencana akuisisi saham perseroan oleh MUFG telah disetujui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPS-LB).
’’Rencana aksi tersebut adalah memastikan bank sistemik telah menerapkan opsi-opsi pemulihan (recovery) yang kredibel dan wajar,’’ ucapnya.
Bank Danamon juga mengangkat Takayoshi Futae sebagai komisaris Bank Danamon. Pria yang berdomisili di Singapura itu juga menjadi senior managing executive officer & CEO MUFG Asia & Oceania. Di sisi lain, BTPN saat ini dalam proses due diligence dengan SMBCI dalam rangka merger dua pihak. (rin/c22/fal/JPG)
batampos.co.id – Cacing parasit yang ditemukan pada ikan makarel adalah jenis parasit Anisakis sp yang merupakan anggota Anisakidae.
Anisakis sp dapat menginfeksi manusia dan menyebabkan anisakiasis. Anisakiasis adalah infeksi akibat parasit pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh konsumsi makanan laut mentah atau kurang matang yang mengandung larva nematoda Anisakis sp. Seperti apa wujud parasit tersebut?
“Parasit cacing yang besar itu sekitar 2 centimeter. Warnanya kayak cacing umumnya lah kemerahan,” papar Ahli Endoskopi Gastrointenstinal Dr.dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB. kepada JawaPos.com, Jumat (31/3).
Pria yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut menjelaskan selama 18 tahun dia menjadi ahli endoskopi belum pernah menemukan pasien dengan keluhan terkontaminasi cacing parasite tersebut. Banyaknya adalah temuan cacing lain dalam tubuh pasien.
“Selama ini saya belum pernah menemukan ada yang terinfeksi cacing ini di perutnya. Adanya cacing gelang dalam tubuh manusia, cacing cambuk juga,” kata Ari.
Lalu mengapa bisa ada cacing di dalam tubuh manusia? Ari mengungkapkan penyebabnya adalah seringkali mengonsumsi makanan mentah.
“Ya pokoknya mengonsumsi makanan mentah itu, seperti sayur lalapan atau lainnya. Cacing parasit dalam makarel larvanya hanya membesar, tidak beternak dalam tubuh,” jelas Ari.
Ari menegaskan tak boleh ada sama sekali cacing atau parasit di tubuh kita. Sedangkan bakteri baik yakni probiotik tak masalah ada di dalam tubuh untuk menjaga daya tahan tubuh.
“Sebab jika cacingan maka keluhannya nyeri perut, atau gatal pada dubur itu yang kermi ya. Wajah pucat, Hb turun, pucat. Maka wajib konsumsi obat cacing bagi yang bekerja di ladang misalnya. Khawatir tertular, menempel,” papar Ari.
batampos.co.id – Aguan Suryanto, warga Batam, ialah pecinta durian. Sayang harga durian di batam amatlah mahal.
Aguan protes.
Caranya, unik.
Dia memposting foto dan video tumisan kulit durian.
Kepada JawaPos.com, Aguan mengaku memang benar-benar memasak kulit durian. Meski demikian, masakan hasil kreasinya tersebut tidak benar-benar dikonsumsi.
“Cuma pajangan saja, ini protes karena harga durian mahal di Batam,” kata Aguan, Sabtu (31/3).
Ketika itu, Aguan hendak membeli durian Jenis Musang King. Harganya Rp 250 ribu per kilogram. Sementara satu buah durian yang dia beli seberat 2 kilogram. Artinya, Aguan harus membayar Rp 500 ribu untuk satu buah durian.
Meskipun memprotes mahalnya harga durian jenis Musang King, Aguan mengaku tidak tahu pasti berapa harga pasaran di daerah lain. Dalam postingan gambar dan video tumisan kulit durian, Aguan turut menuliskan sebuah keterangan.
“Durian mahal di Batam jadi sayang kalau kulitnya dibuang, jadi kulit durian kita tumis saos sambal buat makan malam…ha…ha..ha.. ini sebagai protes harga durian di Batam,” tulis Aguan.
Dari postingan yang diunggah, beragam tanggapan mengalir mengisi lini kolom komentar. Setidaknya ada 6.900 komentar dan 83.000 kali postingan itu dibagikan.
Sebagai informasi, Musang King adalah jenis durian unggulan yang berasal dari Malaysia. Durian ini dikenal memiliki rasa yang lezat melebihi durian lainnya. Bentuk khasnya adalah memiliki biji yang kecil dengan tekstur isi (daging buah) yang tebal.
Dalam situs artikel yang diposting di situs urbania.com, harga Musang King di pasar Singapura berada di kisaran Rp 250 ribu per buah. Sementara durian jenis lain dijual dengan harga tertinggi hanya mencapai Rp100 ribu per buah. Sedangkan harga jenis durian yang sama di pasar indonesia jauh lebih mahal. Yakni, mencapai Rp 300 ribu per buah.
Berat durian Musang King antara 1,5-2 kilogram. (bbi/JPC)