Sabtu, 9 Mei 2026
Beranda blog Halaman 12601

Indonesia Jadi Target Pasar Narkoba

0
Kapal MV Sunrise Glory yang ditangkap Angkatan Laut yang sandar di Dermaga Lanal Batam, Batuampar, Sabtu (10/2). Kapal ini membawa satu ton sabu-sabu. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Penangkapan kapal Sunrise Glory dengan 1 ton 29 kilogram sabu-sabu di perairan Batam Kamis (8/2) makin menguatkan fakta yang memprihatinkan. Bahwa Indonesia semakin menjadi jujukan (tujuan) bandar narkoba internasional dalam memasarkan barang haramnya.

Apalagi, penangkapan kapal Sunrise Glory yang berbendera Singapura hanya berselang tujuh bulan dari pengungkapan penyelundupan 1 ton sabu-sabu lewat laut dengan kapal Wanderlust yang terungkap di Hotel Mandalika di Anyer, Banten, 13 Juli 2017. Rentetan penangkapan itu sangat meresahkan. Sebab, dengan hitungan kasar, setiap 1 ton sabu-sabu tersebut memiliki daya rusak hingga 2 juta pemakai bila masing-masing mengonsumsi 0,5 gram saja.

Deputi Penindakan Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Pol Arman Depari menjelaskan, maraknya penyelundupan narkoba lewat laut sudah terjadi dalam dua tahun terakhir. Menurut dia, hal itu terjadi karena gencarnya penindakan narkoba di beberapa negara di Asia. ”Tiongkok menindak, Filipina juga,” ujarnya kepada Batam Pos (Jawa Pos Group) di jumpa pers penangkapan kapal Sunrise Glory di Batam kemarin (10/2).

Akibatnya, sabu-sabu yang seharusnya dipasok untuk dua negara tersebut kini dialihkan masuk ke Indonesia. Dari pantauan BNN, para bandar sabu-sabu internasional menilai Indonesia sebagai pangsa pasar yang potensial. ”Penduduk 200 juta lebih dan sebanyak 40 persennya adalah generasi muda yang sangat mudah terpengaruh dan berpotensi menjadi pecandu,” ucapnya.

Sesuai data BNN, pasar narkotika di Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Pada 2015 jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai 5,2 juta orang. Jumlah itu terus naik pada 2016 dengan pengguna diprediksi mencapai 5,7 juta jiwa. Pada 2017 kenaikan tetap terjadi dengan jumlah pengguna 5,9 juta orang.

Juru Bicara Divhumas Polri Kombespol Slamet Pribadi menambahkan, selain jumlah pengguna, yang lebih menggiurkan adalah harga narkotika di Indonesia yang berlipat-lipat dari harga di negara produsen seperti Tiongkok. ”Maka, bila bisa menjual ke Indonesia, mereka akan untung besar. Ya menambah menjadi incaran,” jelasnya.

Terkait penangkapan kapal Sunrise Glory, Arman Depari menyatakan, BNN sedang menyelidiki apakah pemilik kapal Sunrise Glory dan kapal Wanderlust merupakan satu jaringan yang sama. ”Dari barang bukti itu bisa terekam. Apakah ada kesamaan barang bukti Wanderlust dengan Sunrise Glory. Jadi, narkoba ini memiliki sidik jari. Kalau sama, satu jaringan mereka,” terangnya.

Dugaan pemilik kapal Sunrise Glory tersebut satu jaringan dengan kapal Wanderlust dikatakan Wakil KSAL Laksamana Madya TNI Achmad Taufiqoerrochman. ”Melihat modus kapal ini mencoba memasuki perairan Indonesia, mengungkapkan kemungkinan itu,” ujarnya dalam jumpa pers di Batam kemarin.

Kapal Sunrise Glory yang membawa 1 ton 29 kilogram narkoba jenis sabu-sabu, ternyata sudah menjadi target operasi (TO) TNI AL sejak Desember tahun lalu. Diduga kapal ini semula membawa sabu-sabu seberat 3 ton. Namun diduga sebagian isinya sudah dibongkar terlebih dahulu.

Mereka ini mencoba masuk dengan menyisir melalui Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Lalu coba-coba masuk, tapi saat akan dikejar mereka akan keluar dari ZEE. Masuk ke perairan internasional,” kata Wakasal Laksamana Madya TNI Achmad Taufiqoerrochman, Sabtu (10/2).

Achmad menerangkan sejak Desember tahun lalu, pihaknya menerima informasi ada kapal Sundemen 66 yang akan mencoba menyelundupkan sabu ke Indonesia. Sejak saat itu, TNI AL memerintahkan jajarannya untuk memantu setiap pergerakan kapal di perairan Indonesia. “Kami tidak bekerja sendirian, tapi bersama dengan BNN,” tuturnya.

Kemudian, Rabu, (7/2), kapal yang memiliki ciri-ciri yang sama saat melintasi Selat Philip. TNI AL mengerahkan KRI Siguror. Kapal tersebut akhirnya ditangkap di titik kordinat 01/08.722U/103.48.022T. Saat ditangkap kapal itu menggunakan bendera Singapura.

“Danguskamla melapor ke Pangmabar, meminta kapal bersama empat krunya itu ditarik ke Batam. Walau nama kapal itu bukanlah, sesuai dengan informasi yang kami dapat. Kami bawa dulu, karena secara siluet kapal itu memiliki ciri yang sama dengan kapal yang diinformasikan ke kami,” tuturnya.

Anggota TNI AL mengawal sabu dan empat tersangka dengan bersenjata lengkap saat ekspos di Lanal Batam, Batuampar, Sabtu (10/2). Sabu seberat satu ton ini dibawa oleh kapal MV Sunrise Glory. F. Dalil Harahap/Batam Pos

Kapal itu masuk ke Batam, Kamis (8/2) dinihari. Dari awal, kata Achmad pihak TNI AL sudah mencurigai kapal ini adalah kapal yang selama ini jadi target operasi mereka. Oleh sebab itu, TNI AL segera berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional. “Pak Arman (Irjen Pol Arman Depari selaku Deputi Penindakan BNN) mengirimkan anggotanya ke kami. Bea Cukai menurunkan unit anjing pelacaknya,” ungkapnya.

Butuh waktu satu hari lebih, untuk pihak TNI AL, BNN dan Bea Cukai menemukan sabu tersebut. “Kami temukan itu, Jumat (10/20 pukul 18.00,” tuturnya.

Sabu itu ditemukan di dalam palka bagian buritan kapal. Sebanyak 41 karung sabu ditemukan di bawah tumpukan karung beras. “Kami menduga itu beras semua, soalnya bagian atas kami lihat isinya beras semua. Berasnya banyak banget, bisa untuk persedian beberapa bulan,” tuturnya.

Namun saat tim anjing pelacak diturunkan. Anjing-anjing tersebut langsung mencium keberadaan sabu-sabu tersebut. Saat berada di atas kapal, anjing pelacak itu menuju bagian buritan kapal. “Setelah dicek, benar ada sabu. Saat ini anjing pelacaknya sedang dalam kondisi yang tak baik. Bisa jadi karena ombak, atau mencium sabunya. Kami menduga masih ada lagi sabunya disembunyikan di kapal,” ungkapnya.

Achmad menuturkan pihaknya akan menunggu kondisi anjing pelacak pulih kembali, agar bisa kembali bekerja mengendus narkoba lainnya yang disembunyikan komplotan ini.

Melihat sindikat ini, ia menduga jaringan ini memiliki mother ship atau kapal yang menyuplai sabu-sabu ke kapal-kapal kecil. “Itu bisa jadi, melihat persedian makanan mereka,” ungkapnya.

Dari pantauan Batam Pos di kapal itu berisikan berkarung-karung beras yang sudah dibongkar oleh tim Satgas gabungan. Tidak hanya beras saja. Ada juga rokok, tius, dan berbagai jenis minuman kaleng. Selain itu juga ada sampo bertuliskan huruf Thailand. Lalu juga ada air mineral dalam kemasan merek Swirzer, yang berasal dari Pasir Panjang, Singapura. Selain itu, ada air mineral dalam kemasan merek En Pure buatan Malaysia.

Bagian haluan kapal, terdapat dua pintu tingkap dan satu pintu geser. Pintu geser ini menuju sebuah ruangan yang berada di bagian kiri haluan. Sedangkan dua pintu tingkap ini, menuju ke bagian palka kapal. Tempat menuju ke palka kapal, juga bisa melalui bagian tengah kapal. Dari tempat untuk istirahat bagi kru kapal, ada jalan menuju ke bagian palka.

Untuk menuju ke palka yang lainnya, juga bisa melalui buritan. Di tempat inilah sabu itu disembunyikan oleh komplotan ini.

Di lihat secara sekilas, Sunrise Glory mirip dengan kapal-kapal penangkap ikan milik nelayan Thailand. Berjejer di sisi kiri dan kanan kapal, pancing besar untuk menangkap ikan. Kamuflase kapal ini sangat sempurna, dengan memiliki izin menangkap ikan yang dikeluarkan pejabat Indonesia tahun 2014. “Terkait dokumen ini, kami rasa dipalsukan,” tuturnya.

Terkait dugaan Kapal Sunrise Glory dan Wonderlust merupakan satu jaringan yang sama, Deputi Penindakan BNN Irjen Pol Arman Depari menuturkan akan melakukan pemeriksaan atas barang bukti. “Dari barang bukti itu bisa terekam. Apakah ada kesamaan barang bukti wonderlust dengan Sunrise Glory. Jadi narkoba ini memiliki sidik jari. Kalau sama, satu jaringan mereka,” tuturnya.

Maraknya peredaran narkoba dalam dua tahun terakhir ini, menurut Arman karena gencarnya penindakan narkoba di beberapa negara di Asia. “Cina menindak, Filipina juga,” ujarnya.

Akibatnya apa, sabu-sabu yang harusnya jadi pasokan untuk dua negara ini masuk ke Indoensia. Para bandar sabu menilai, Indonesia adalah pangsa pasar yang cukup memiliki potensi. “Bayangkan penduduk dua ratus juta lebih. Sebanyak 40 persennya adalah generasi muda yang sangat mudah terpengaruh dan berpotensi menjadi pencandu,” ucapnya.

Hal ini, haruslah menjadi acuan seluruh instansi di Indonesia. Arman mengatakan dirinya telah mengandeng berbagai instansi, termasuk TNI AL dalam memberantas narkoba. “Indonesia memiliki garis pantai yang panjang. BNN tidak memiliki kapal. TNI AL punya, kami koordinasi dengan mereka. Agar penindakan narkoba menjadi lebih optimal,” ujarnya.

Saat ini, katanya hampir sebagian besar narkoba masuk ke Indonesia melalui laut. Oleh sebab itu, ia berharap seluruh stakeholder dapat bersinergi memberantas peredaran narkoba. (ska)

Dokumen BAP Novel Hilang

0
Novel Baswedan seusai disiram air keras.

batampos.co.id – Proses penanganan kasus penyiraman air keras Novel Baswedan masih belum menunjukan hasil positif hingga saat ini. Sebaliknya, kejanggalan justru terendus dalam perkara yang terjadi 11 April tahun lalu tersebut. Salah satunya terkait dengan pemeriksaan Novel di Singapura pada medio Agustus tahun lalu.

Kejanggalan itu diungkapkan komisioner Ombudsman RI (ORI) Adrianus Meliala. Dia mendapati dokumen berita acara pemeriksaan (BAP) Novel yang hilang. Padahal, pada saat pemeriksaan itu, Novel diperiksa dan sudah di-BAP penyidik Polda Metro Jaya.

“Hanya (dokumen) pemberian keterangan saja dari Novel (yang ada di kepolisian). Ada tanda tangan dan cap KBRI,” ujarnya kepada Jawa Pos, Sabtu (10/2).

Dokumen yang tidak mirip BAP itu ditengarai menjadi akar lambatnya penanganan teror terhadap penyidik KPK tersebut. Adrianus mengatakan, kepada Ombudsman, penyidik Polda Metro Jaya memang mengatakan bahwa Novel belum pernah di-BAP.

“Ini sesuai dengan perkataan penyidik (Polda Metro Jaya) bahwa Novel belum pernah di-BAP,” ungkapnya.

Adrianus pun menyarankan agar dilakukan pemeriksaan ulang terhadap Novel yang kini sedang menjalani perawatan mata di Singapura. Dia juga mengusulkan kepada polisi untuk mendalami keterangan Novel yang sebenar-benarnya.

“Keterangan Novel bisa didalami dibawah sumpah, bukan karena katanya si A, katanya si B,” ucapnya.

Menanggapi hal itu, Novel menegaskan bahwa dirinya sudah pernah di BAP oleh penyidik Polda Metro Jaya di Singapura. Pemeriksaan itu dilakukan di kantor Kedutaan Besar RI (KBRI) Singapura yang terletak di Jalan Chatsworth 7.

“Tidak benar juga bahwa saya pernah menandatangani suatu tulisan dengan format seperti BAP dan diberi cap KBRI. Itu aneh lagi,” ungkap suami Rina Emilda itu.

Novel mengatakan, pemeriksaan di Singapura itu juga disaksikan pegawai dan pimpinan KPK. Karena itu, dia meminta Ombudsman untuk menanyakan secara kelembagaan kepada KPK terkait dengan temuan dokumen kepolisian tersebut.

“Untuk lebih jelas bisa ditanyakan ke KPK, karena setiap proses saya selalu didampingi dari KPK,” tegasnya.

Sementara Karopenmas Divhumas Polri Brigjen M. Iqbal menuturkan, Polri berupaya semaksimal mungkin untuk menemukan pelaku penyiraman Novel. Yang sketsa orang yang diduga menjadi pelaku juga sudah tersebar.

”Kami berupaya sekuat tenaga,” ujarnya. (tyo/idr/jpg)

Rakus Lentil dan Kurma Mentah Beku

0

Semua itu bermula di hari kedua saya berada di Madinah. Sehari sebelumnya kami tiba dari Surabaya setelah matahari tenggelam. Enam cucu yang masih kecil membuat kami tidak bisa bergegas langsung ke masjid Nabi untuk ikut berjamaah salat isya. Kami ke hotel dulu.

Jam 2 dini hari saya bangun. Sengaja. Untuk kembali ke masjid Nabawi. Hanya satu blok dari hotel. Saya ketok dulu kamar Azrul Ananda, anak sulung saya. Ternyata dia juga sudah bangun. Lagi makan burger. Saya ajak dia ke masjid. Untuk sholat malam. Mumpung Raudlah mestinya masih lebih sepi.

Tempat sholat di sebelah makam Nabi Muhammad SAW itu biasanya penuh sesak. Sulit sekali mencapai area itu. Apalagi memasukinya.

Beberapa jam yang lalu, habis makan malam di hotel, kami sudah rame-rame ke masjid Nabawi yang megah dan besar itu. Untuk sholat isya dan beberapa sholat sunnah lainnya. Saat itu niat ke area Raudlah juga ada. Tapi hil itu akan mustahal.

Kami pilih segera tidur saja. Agar bisa bangun jam 2 dinihari. Untuk ke masjid lagi. Pada jam 2 seperti itu saya dan Azrul bisa masuk Raudlah. Sholat sendiri-sendiri. Diselang seling dengan membaca Quran.

Saya lirik Azrul sholat dengan tingkat kekhusukan yang tinggi. Saya tahu dia sulit duduk dalam posisi takhiyat akhir. Ada besi di dalam lututnya. Sejak cedera saat main sepakbola dulu. Ini untuk pertama kalinya Azrul mau diajak umroh. Sehingga baru kali ini saya bisa umroh sekeluarga lengkap. Istri, anak-anak, menantu-menantu dan enam cucu.

Habis subuh, setelah matahari terbit, kami janjian untuk bertemu seluruh keluarga di Starsbuck. Tidak mungkin kami saling mencari di dalam masjid yang begitu besar dan begitu penuh.

Sambil menunggu matahari terbit saya duduk-duduk di plaza depan makam Nabi. Ratusan payung raksasa di plaza itu mulai dimekarkan serentak. Membuka secara otomatis. Gerakan yang sangat masif dan indah. Banyak yang menyaksikannya. Banyak pula yang minta foto bersama. Kadang saya malu dilihat orang saat mereka maksain minta foto bersama di dalam masjid.

Ternyata Starbuck tutup sepagi itu. Kami pun kembali ke hotel. Sarapan prasmanan di coffee shop. Saat itulah rakus saya muncul. Rakus yang akan membawa bencana.

Di prasmanan itu saya lihat disajikan masakan India yang lezat. Lentil. Yang dibuat seperti bubur tapi kental. Saya ambil satu mangkok penuh. Lentil yang lezat. Bumbu daal Indianya terasa nendang. Lentil adalah sejenis kacang-kacangan yang tumbuh di daratan India, Pakistan sampai ke Timteng dan Italia. Orang Italia sangat bangga dengan sup lentil. Karena enaknya, gizinya dan… satu-satunya biji-bijian yang namanya disebut dalam Alkitab Injil. Seperti zaitun, tin dan kurma yang disebut dalam Quran.

Pagi itu lentil satu mangkok ludes. Saya ambil masakan India lainnya. Juga satu mangkok. Habis. Di meja saya lihat ada satu gelas juice yang belum diminum. Agar tidak mubazir saya minumlah juice itu. Kecutnya bukan main.

Perut mulai terasa penuh dan sesak.

Komando berikutnya datang: sudah tiba waktunya berangkat ziarah. Ke masjid Qubah, Kiblatain, gunung Uhud dan lainnya. Lalu saya bertanya ke cucu-cucu: apakah sudah pernah lihat kebun kurma? Mereka menjawab serentak: beluuuum!

Usai ziarah kami pun ke kebun kurma. Kurang menarik. Tidak lagi musim kurma. Tapi di toko kami melihat ada kurma kesukaan saya: kurma mentah. Kok ada kurma mentah di luar musim kurma. Ternyata itu kurma mentah yang dibekukan. Jadi es. Lebih enak. Kriuk-kriuk.

Sepanjang perjalanan kembali ke hotel saya terus mengeremus kurma mentah itu. Sêpêt tapi enak. Enak tapi sêpêt. Saya suka makan kurma mentah di Jakarta. Meski carinya sulit. Kini, di Madinah, ini ada dua kilo kurma mentah beku. Saya tidak berhenti menggayangnya. Saya pernah makan kurma mentah saat di Tucson, Arizona, dua tahun lalu. Tapi tidak beku. Enak sekali. Istri saya tidak mau. Anak-anak tidak mau. Cucu-cucu apalagi.

Sampai di hotel kami istirahat. Menunggu adzan dhuhur yang masih dua jam lagi. Saat itulah tiba-tiba saya merasa sesak nafas. Tambah lama tambah sesak. Sampai saya tidak tahan lagi. Dada sakit. Punggung nyeri. Nafas tersengal berat. Saya pun berteriak kepada keluarga bahwa saya lagi terkena serangan jantung. Agar dibawa ke dokter. Segera.

Mengapa saya berkesimpulan kena serangan jantung? Saya terlalu terpengaruh atas meninggalnya sepupu kami yang baik hati. Seminggu sebelumnya. Kyai Ridlo Tafsir di Takeran Magetan. Gejalanya sama.

Saya coba duduk di ranjang. Menenangkan diri. Tidak bisa. Begitu posisi duduk justru lebih tidak bisa bernafas. Saya coba berbaring. Lebih gak bisa bernafas lagi. Saya hanya bisa bernafas kalau posisi saya berdiri. Itu pun wajah harus menengadah. Dan mulut harus terbuka. Bernafas lewat mulut.

Saya muter-muter panik di dalam kamar. Sambil terus berteriak “saya kena serangan jantung… saya kena serangan jantung”. Wajah mayat Kyai Ridlo Tafsir terus terbayang.

Saya tidak menyalahkan RS di Madinah itu: mengapa tidak memeriksa kemungkinan sakit yang lain. Saya terlalu dominan mendekte dokter. Pertama soal kena serangan jantung itu. Yang sebagian saya maksudkan sebagai trik agar segera ditangani. Kedua soal cerita berbagai makanan yang saya lahap sepanjang pagi itu. Yang membuat dokter fokus pada pencernaan saya.

Mungkin juga karena saat itu pasien terus berdatangan. Banyak yang lebih tua dan wanita. Ruangan penuh. Sudah jam makan siang pula.

Mungkin juga karena rumah sakit ini gratis. Milik pemerintah. Begitu dokter minta saya meninggalkan RS, kami meininggalkan begitu saja. Tidak ada urusan administrasi discharge atau administrasi pembayaran.

Yang jelas saya lega: bukan serangan jantung. Hanya pencernaan yang harus bekerja normal dulu. Dengan cara harus diistirahatkan. Artinya jangan makan dulu. Saya pegang dan ikuti kata-kata dokter itu. (*)

 

oleh: Dahlan Iskan

 

Curi Ginjal Istri untuk Bayar Mas Kawin

0

Rita Sarkar, perempuan asal Benggala, India, melaporkan suaminya, Biswajit, ke pihak berwajib karena menjual satu ginjal milik Rita tanpa sepengetahuannya. Suami menjual ginjal Rita karena Rita tidak mampu membayar mas kawin yang diminta keluarga suaminya.

Dilansir Hindustan Times, Kamis (8/2), kejadian yang menimpa Rita itu berawal pada 2016. Saat itu, Rita mengeluhkan sakit pada perutnya setelah meminum minuman ringan yang diberikan adik iparnya.

Ia pun menceritakan keluhannya kepada sang suami, Biswajit. Saat itu suaminya mengajak Rita untuk berobat di sebuah klinik di Kolaka. Di sana Rita diberitahu suaminya bahwa dirinya di diagnosa sakit usus buntu. Ia pun diminta Biswajit untuk menjalani operasi untuk membersihkan ususnya.

“Dia dan perawat mengatakan bahwa saya akan baik-baik saja setelah mengeluarkan usus buntu saya yang meradang melalui operasi.” kata Rita.

Setelah operasi, Biswajit meminta Rita untuk tidak menceritakan operasi itu kepada orang lain atau keluarganya. Sakit pasca operasi yang sering dialami Rita juga diminta oleh Biswait untuk ditahan dan diabaikan. Hal itu sempat membuat Rita heran.
Rita yang tak tahan dengan sakitnya itu akhirnya dibawa oleh keluarganya ke Rumah Sakit North Beengal untuk memeriksakan perutnya tersebut lewat USG.

Rita terkejut saat mendengar sang dokter mengatakan salah satu ginjalnya sudah tidak ada. Ia kemudian menyadari mengapa suaminya melarang dirinya untuk menceritakan operasi di Kolkata.

“Suami saya telah menjual ginjal saya karena keluarga saya tidak mampu memenuhi permintaan mas kawin,” ujar Sarkar.

Saat menikah dengan Biswajit, Rita dimintai mahar oleh keluarga Biswajit sebesar 200.000 rupee India atau sekitar Rp 42 juta. Namun saat itu keluarga Rita tidak mampu memenuhi mahar tersebut. Sehingga diam-diam setelah menikah, Biswajit dan keluarganya menjual ginjal Rita.

Rita melaporkan suaminya dan keluarga suaminya ke polisi karena telah menjual ginjalnya kepada seorang pengusaha di Chhattisgarh. Polisi sudah menangkap Biswajit dan adiknya. Sementara ibu Biswajit masih dalam pencarian polisi.

Pemberian mas kawin dari keluarga perempuan ke keluarga pihak laki-laki di India sebenarnya telah dilarang sejak 1961. (jpg)

Disduk Pemko Batam Kejar Penyelesaian e-KTP di Enam Kecamatan

0
Seorang pegawai Kecamatan Batuampar sedang melayani perekaman e-KTP Foto: Cecep Mulyana-Batam Pos

batampos.co.id – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disduk-capil) Kota Batam membutuhkan sedikitnya 60 ribu blanko Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) di enam kecamatan.

“Enam kecamatan kan sudah siap termasuk yang hinterland, sisa enam lagi,” kata Kepala Disdukcapil Batam, Said Khaidar, Kamis (8/2).

Ia menyebutkan enam kecamatan yang belum tercetak diantaranya, Sekupang, Sagulung, Seibeduk, Lubukbaja, Bengkong dan Batamkota.

“total semua ada 60 ribu lebih blanko yang masih kami butuhkan untuk menyelesaikan penumpukan ini,” ujarnya.

Ia menyebutkan hal ini sudah disampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), agar bisa diberikan dalam waktu dekat ini.

“Minggu ini kami sudah merampungkan Batuaji, dan segera didistribusikan,” imbuhnya.

Said menambahkan, saat ini Disduk harus menyelesaikan pencetakan agar diberikan blanko yang baru. “Sistemnya seperti itu, jika sudah selesai cetak kami langsung lapor, nanti diminta untuk menjemput blanko,” tambahnya.

Ia berharap bisa diberikan blanko yang lebih banyak lagi dari yang sebelumnya. Terakhir Batam mendapatkan 20 ribu keping blanko yang sudah dialokasikan di tiga kecamatan.

“Ya kalau bisa langsung dikasih 60 ribu biar semua selesai, jadi mereka pemegang e-KTP juga bisa berpartisipasi dalam pemilihan tahun depan,” tutupnya.(yui)

Sagulung Ajukan 11 Ribu Blanko e-KTP

0
ilustrasi

batampos.co.id – Kecamatan Sagulung akan segera mendapatkan jatah 11 ribu blanko e-KTP dari pusat. Camat Sagulung, Reza Khadafi mengatakan ribuan blanko tersebut sengaja diajukan untuk Kecamatannya, agar masalah penumpukan berkas dapat diselesaikan.

“Sudah diajukan ke pusat. Semoga bisa,” ujar Reza saat dikonfirmasi, Kamis (8/2).

Dia mengatakan saat ini terdapat lebih dari 11 ribu berkas e-KTP yang menumpuk. 10 ribu diantaranya sudah siap untuk dicetak.

“Kalau pengajuan itu diterima, maka masalah KTP akan diselesaikan tahun ini,” kata Reza.

Sebelumnya, Kecamatan Batuaji juga sudah mendapatkan jatah 10 ribu blanko e KTP dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Batam. Kepala Disdukcapil Said Khaidar mengatakan pihaknya memang tengah fokus menyelesaikan masalah penumpukan berkas dengan melakukan pencetakan untuk per kecamatan. Hal itu dimulai dengan menyelesaikan pencetakan untuk tiga kecamatan di Hinterland.

“Di Bulang, Galang dan Belakang sudah selesai. Ada 8 ribu berkas yang telah dicetak,” kata Said belum lama ini. (une)

ISPA, Penyakit Tertinggi yang Ditangani Puskesmas Batuaji

0
ilustrasi

batampos.co.id – Puskesmas Batuaji mencatat penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyakit yang paling banyak diderita warga Batuaji. Kepala Puskesmas Batuaji, Fitriati mengatakan Januari 2018, ada ratusan warga yang berkunjung ke Puskesmas untuk berobat penyakit ISPA.

“Jumlah pasti saya belum terima, namun sejauh ini Ispa masih peringkat pertama penyakit yang diderita warga Batuaji,” ujar Fitriati saat ditemui diruangannya Kamis (8/2).

Pada tahun 2017 saja, terdapat 16.613 Kasus Ispa yang mereka tangani. Ia mengatakan penyakit ini Ispa menyerang kepada kelompok umur yang bervariasi, yakni anak-anak hingga dewasa.

“Penyakit ini rawan menyerang warga yang memiliki kondisi lingkungan yang kurang bersih, seperti polusi,” katanya.

Puskesmas Batuaji juga mencatat beberapa penyakit lain yang masih tergolong 10 besar penyakit yang paling banyak diderita warga Batuaji yakni Commond Cold, Dispesia, faringtis akut, demam tanpa sebab, diare dan gastroenteris, arthritis rematoid, tonsilitis akut, sindrom-sindrom sakit kepala dan myalgia.

“Penyakit ini rata-rata kami tangani 256 hingga 410 pasien per bulannya,” ucapnya.

Penyakit ispa juga menjadi penyakit peringkat tertinggi ditangani Puskesmas Seilekop, Sagulung. Kepala Puskesmas Seilekop Erizal mengatakan mereka biasa menangani pasien Ispa mulai 200 hingga 300 orang perbulannya.

“Angkanya fluktuasi. Tapi sejauh ini angkanya masih tetap sama seperti bulan-bulan yang lalu,” ujar Erizal, belum lama ini. (une)

Kadis Pariwisata Harus Mampu dan Berbasis Program

0

batampos.co.id – Anggota Komisi II DPRD Batam, Uba Ingan Sigalingging mengatakan, dinas pariwisata merupakan posisi vital untuk mengembangkan Batam sebagai Kota Pariwisata. Untuk itulah ia meminta pada Wali Kota Batam untuk mengisi jabatan ini pada pejabat yang memiliki kapasitas dan kapabilitas.

“Memang haknya wali kota. Namun minimal benar-benar mengusai ilmu pariwisata. Sehingga apa yang akan dikembangnya menjadi terukur dan terencana dengan baik,” kata Uba, Kamis (8/2).

Selama ini ia melihat jabatan kepala dinas pariwisata hanya sebatas berbasis fungsi, yang penting menjalankan tugas tanpa adanya program apa saja yang akan dikembangkan. Hal ini tentu saja tak sejalan dengan tujuan pemerintah daerah untuk menjadikan Batam sebagai daerah tujuan kunjungan wisatawan.

“Artinya program dan kemana akan dibawa pariwisata harus jelas,” sebut Uba.

Pariwisata sendiri lanjut Uba, saat ini sudah menjadi program prioritas utama di setiap negara. Mereka berlomba-lomba menggaet wisatawan lewat program-program yang mereka sediakan. “Nah di Batam sebenarnya banyak destinasi yang bisa kita dikembangkan. Hanya saja itu yang belum bisa kembangkan,” paparnya.

Bahkan, kata Uba, data kunjungan wisatawan di Batam yang hanya 1-2 hari menujukan minimnya destinasi serta infrastruktur yang bisa membuat mereka lebih lama jadi lenght of staynya menjadi sangat terbatas.

Kadis pariwisata harus bisa membuat orang berpikir untuk berlibur lama ke Batam, Jika hanya 1-2 hari mereka merasa rugi.

“Inikan sama seperti di Bali. Kalau kita pergi ke Bali sehari dua hari rugi. Karena begitu banyak lagi yang bisa jalani. Tetapi waktu habis. Itu yang saya pikir paling penting,” katanya.

Ia berharap nanntinya orang-orang yang ditunjuk menjadi Kadis Pariwisata itu harus memiliki sensor tourism yang memang benar-benar baik. Bukan hanya torism kuliner, view pemandangan dan lain sebagainya. Perlu juga membuat misalnya sport tourism, extrim sport.

“Mungkin di daerah lain sulit, di Batam bisa. Artinya tidak lagi meniru daerah lain. Harus ada semacam unggulan yang bisa kita jual,” imbuhnya.

Ia mengakui Kadis Pariwisata harus memiliki kemampuan untuk menerobos batas-batas wilayah atau sektoral yang sangat diperlukan. Harus memang punya kemampuan manejerial yang mampu melintasi tingkat sektoral.

“Pariwisata ini memang lintas sektor. Contoh kemarin keributan taksi online yang sudah memberikan image yang kurang baik. Saya melihat pemerintah disini aneh karena responnya lambat,” ujar Uba.

Begitu juga Batam memiliki badan ekonomi kreatif, hal ini juga harus bisa direspon oleh kepala dinas budaya dan pariwisata. Mereka punya anggaran, dan kegiatan yang sifatnya kreatif.

“Meraka juga harus melihat ke arah sana. Tidak lagi sebatas hanya menjalankan tugas,” jelasnya. (rng)

1 Ton Narkoba Tangkapan TNI AL Itu Dibungkus dalam 41 Karung Beras

0
Suasasana press relase di Mako Lanal Batam yang menghadirkan barang bukti.

batampos.co.id – Sukses besar menangkap penyelundup Narkoba ke Indonesia buah dari kerjasama antara BNN dengan TNI AL.

Seperti diberitakan, TNI Angkatan Laut unsur KRI dari Komando Armada RI Kawasan Barat KRI Sigurot-864 berhasil menggagalkan penyelundupan Narkoba ke Indonesia.

Barang bukti yang berhasil diamankan yaitu Narkoba berjenis sabu-sabu seberat 1,1 ton.

Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Arman Depari mengatakan operasi ini telah dilakukan sejak Desember 2017. BNN menjalin kerjasama dengan TNI AL tentang info yang mereka terima.

Saat jumpa pers di Mako Lanal Batam siang ini, WaKasal Laksamana Muda (Laksda) Achmad Taufiqoerrochman mengatakan dari dari BNN mereka olah dengan data – data lain lalu disinkronkan.

Hasilnya….

Rabu (7/2/2018) KRI Sigurot-864 Koarmabar berhasil menangkap MV Sunrise Glory di Perairan Selat Philips, pada koordinat 01.08.722 U/103.48.022 T karena melintas diluar Traffic Separation Scheme (TSS) masuk perairan Indonesia dengan mengibarkan bendera Singapura, sehingga pergerakannya mencurigakan.

Pemeriksaan awal seluruh dokumen yang ada di kapal diindikasikan palsu karena hanya terdapat Foto Copy dokumen bukan dokumen asli.

Saat pemeriksaan Tim berhasil menemukan barang bukti Narkoba berupa Sabu-Sabu sebanyak 41 Karung Beras, dengan perkiraan berat lebih dari 1.000 Kg, barang-barang tersebut ditemukan di antara tumpukan karung beras dalam palka bahan makanan. Proses pemeriksaan di kapal tersebut masih terus dilaksanakan untuk mengantisipasi masih ada barang-barang terlarang lainnya.


WaKasal Laksamana Muda (Laksda) Achmad Taufiqoerrochman (kiri) berbincang dengan Arman Depari (baju biru).

Arman Depari seperti yang dilansir Kompas TV, mengatakan info awal yang BNN terima ialah kapal tersebut memuat 3 ton narkoba.

“Kami menduga mereka sudah menurunkan sebagian di Australia juga negara lain,” ujar Arman Depari.

Arman menambahkan akan melakukan cek laboratorium.

Cek lab ini untuk mengetahui apa kandungan sabu yang ditangkap. Apabila sama dengan yang ditangkap di Serang, Banten  maka bisa dipastikan pabriknya sama, sindikatnya sama. (ptt)

 

Dishub Pemko Batam Harus Serius Kelola Parkir

0

bat

Ratusan mobil terparkir di halaman Parkir Pelabuhan Internasional Batam Center. F.Rezza Herdiyanto/Batam Posampos.co.id – Target Retribusi parkir di 2018 ini hanya sekitar Rp 10 miliar. Meski jauh dari potensi parkir di Batam, anggota DPRD Batam pesimis target ini akan tercapai oleh dinas perhubungan.

“Jujur saja kalau terkait retribusi parkir ini, saya pesimis ini akan tercapai. Kalau pengelolaannya masih seperti sekarang ini,” kata anggota komisi III DPRD Kota Batam Werton Panggabean.

Padahal menurut Werton, target parkir ini masih sangat jauh dari potensi parkir yang ada yakni Rp 30 miliar. Ia berharap ada terobosan yang dilakukan Dishub untuk menngagli PAD parkir ini.

“Dihub bisa menggandeng atau bekerjasama dengan pihak ketiga. Kalau tidak PAD dari parkir ini, tidak akan banyak berbeda dengan tahun sekarang,” katanya.

Selain itu ia berharap Dishub terus membenahi parkir. Melakukan penertiban termasuk jukir liar di Batam.

Menurutnya, ada beberapa pengaduan warga yang selama ini meresahkan. Salah satunya adalah adanya jukir yang memungut uang parkir hingga tengah malam.

Sebelumnya kepala dinas perhubungan Kota Batam Yusfa Hendri mengatakan bahwa target Rp 10 miliar di 2018 akan diupayakan terealisasi. Ia mengatakan semua tim akan bekerja keras untuk memenuhi target tersebut.

“Sama seperti yang saya katakan sebelumnya, kalau misalnya ada Jukir yang tidak berseragam, warga jangan memberikan uang parkir,” katanya.

Ia mengatakan penataan dan penertiban parkir ini terus dilakukan. Dan dalam beberapa waktu kedepan Dishub juga akan melakukan razia jukir liar. (rng)