Selasa, 26 Mei 2026
Beranda blog Halaman 14029

H Jamhuri Wafat Saat Jadi Imam Salat Jumat

0
H Jamhuri yang berpulang saat memimpin salat Jumat di Masjid Baitutthaharah, Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Simpang Tiga, Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, Kaltim.
(SAMARINDA POS)

batampos.co.id – Terik mentari yang cukup menyengat, tak menyurutkan niat H Jamhuri melangkahkan kakinya ke Masjid Baitutthaharah, Jumat (6/1) siang. Lantaran jarak antara rumahnya dan masjid kurang dari 1 kilometer, penceramah ini memilih berjalan kaki menuju tempat ibadah di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Simpang Tiga, Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, Kalimantan Timur itu.

Mengenakan baju gamis cokelat panjang, serban putih yang diselempangkan di bahu dan kopiah putih sederhana, pria bertubuh ceking ini melangkah pasti melaksanakan kewajibannya Salat Jumat berjamaah.

Gang 17 menjadi jalan utama baginya menuju masjid dua lantai itu. Sembari menuju masjid, pria berusia 71 tahun ini pun sempat menyapa beberapa warga yang ditemuinya di sepanjang jalan dengan senyum ramahnya. Bahkan sejumlah warga menyebut, Jamhuri sempat berbincang bersama jamaah lain saat menuju ke masjid.

Waktu menunjukkan pukul 11.30 Wita. Seperti biasa, Jamhuri menghabiskan waktunya untuk berzikir di saf paling depan, sembari menanti azan Salat Jumat berkumandang yang jatuh pada pukul 12.18 Wita. Dia terlihat tenang, menanti rangkaian salat wajib itu dilaksanakan sembari memetik sulaman biji tasbih di tangan kanannya.

Tak berselang lama, azan pertama pun berkumandang. Jamhuri menghentikan zikirnya untuk mendengarkan setiap lantunan panggilan salat dari muazin yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya. Hal yang sama juga dilakukan para jamaah lain.

Azan kedua pun rampung dikumandangkan. Ustaz Abdul Kadir naik ke mimbar untuk menyampaikan ceramah. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan makna di balik tahun baru, hingga mengingatkan kepada jamaah untuk melaksanakan lima perkara sebelum lima perkara.

“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang, Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, yakni waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu,” ceramah Abdul Kadir dari atas mimbar. Selain itu, Kadir juga menyampaikan keutamaan seseorang untuk menjadi figur yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Ceramah pertama pun usai, dan langsung dilanjutkan ceramah singkat kedua Kadir. Tak sampai 10 menit, muazin yang duduk di saf paling depan pun kembali berdiri untuk mengumandangkan iqamah atau seruan melaksanakan salat.

Berdasarkan jadwal, imam Salat Jumat siang itu diisi H Pardiansyah, yang juga pengurus masjid Masjid Baitutthaharah. Namun kesempatan itu diberikan kepada Jamhuri, karena dia menganggap orang yang duduk di sebelahnya jauh lebih pantas memimpin ibadah tersebut.

“Pak Haji Pardi – sapaan Pardiansyah— mempersilakan beliau (Jamhuri, Red) untuk menjadi imam. Waktu itu, saya bersebelahan dengan Haji Pardi yang juga berada di depan mimbar,” kata Agus, salah seorang jemaah.

Dengan tenang, Jamhuri pun berdiri dari duduknya untuk memimpin salat. Mikrofon kecil bergagang jepit, yang diletakkan di stand mic diselipkannya di antara kancing baju gamis bagian atasnya. Tujuannya agar ayat yang dibacakan saat salat bisa terdengar seluruh jamaah melalui sepiker masjid.

“Rapikan dan rapatkan safnya. Karena itu bagian dari kesempurnaan salat…!” kata Jamhari mengingatkan jamaah.

“Allahuakbar…!” takbiratul ikhram pun dilafazkan Jamhuri. Seketika itu pula, sekitar 250 jamaah Salat Jumat itu serentak mengangkat tangan mereka dan kemudian bersedekap. Hal itu langsung dilanjutkan Jamhuri dengan membaca Surat Alfatihah.

“Kemudian beliau membaca surat yang cukup panjang yang bagian depannya ‘sabbihis ma rabbikal a’laa,” jelas Agus.

Surat Al A’la menjadi surat yang dibacakan Jamhuri di rakaat pertama. Suaranya mulai serak kala itu. Namun ia berusaha menuntaskan membaca surat berisi 19 ayat tersebut.

“Waktu rukuk pun baik-baik saja. Saya tahu karena posisi saya tepat di belakang sebelah kanannya,” ujar Agus menjelaskan.

Setelah i’tidal, atau berdiri usai rukuk, Jumhari kembali mengucapkan takbir untuk mengajak seluruh jamaah sujud di rakaat awal. Dengan pelan dan sangat lembut, ia menempelkan dahinya ke ujung sajadah. Suara masjid pun seketika itu pula hening. Situasi itu sempat terjadi 90 detik atau sekitar satu setengah menit.

“Saya sempat heran, kenapa beliau tidak bangkit dari sujud. Akhirnya saya bangun, dan saya dapati beliau sudah tidak bergerak,” jelasnya menggambarkan situasi kala itu.

Agus pun menjawil Pardiansyah yang ada di sebelahnya. Hal itu dilakukannya, karena posisi pengurus masjid itu tepat di belakang Jamhuri. Merasa ada yang janggal dan meyakini sang imam tak lagi mampu memimpin salat itu, Pardiansyah mengambil alih peranan imam.

“Kemudian Pardiansyah mengucapkan takbir dan maju satu langkah untuk memimpin salat,” kata pria berusia 48 tahun tersebut.

Selama Pardiansyah membacakan Surat Alfatihah, Agus terus memerhatikan posisi Jamhuri. Menurutnya, kala itu posisi almarhum masih sujud sempurna. Ketika imam pengganti membacakan Surat Alikhlas, Jamhari terdengar menahan sakit. Napas terakhirnya berhembus tertangkap mikrofon, sehingga terdengar jelas oleh para jamaah.

“Setelah itu, baru beliau terlungkup ke depan. Posisinya sudah tidak sujud lagi,” urainya.

Tak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Jamhuri, Pardiansyah pun berusaha menyelesaikan salat itu dengan cepat. Usai membaca takhiyat akhir dan salam, ia langsung memeriksa kondisi Jamhuri yang sudah tersungkur di sebelahnya. Sebagian jamaah yang melihat kondisi tersebut langsung menghubungi tim medis dari puskesmas setempat. Akhir Salat Jumat itu sempat dramatis. Raut wajah beberapa jamaah terlihat murung hingga sedih melihat jasad Jamhari tergolek tak berdaya di mihrab.

Jasad Jamhuri ditelentangkan. Beberapa dari jamaah ada yang memegang pergelangan tangannya, hingga leher di bawah dagu untuk memeriksa denyut nadi pria kelahiran 17 Agustus 1946 itu. Setelah dinyatakan sudah wafat, beberapa para jamaah berkumpul dan langsung membacakan doa uuntuk almarhum.

“Sebelum dokter datang, ada beberapa jamaah yang sempat memeriksa kondisinya. Melihat dari beberapa denyut nadi, memang kala itu beliau sudah dinyatakan tidak ada (wafat, Red),” ulasnya.

Jamaah pun membawa jasad Jamhari ke kediamannya di RT 17, Gang 17, Kelurahan Simpang Tiga, Loa Janan Ilir. Almarhum disemayamkan di rumah panggung sederhana, berukuran sekitar 5×8 meter. Sejumlah warga pun langsung berbondong-bondong ke rumah tersebut untuk melayat. Rencananya, Jamhari akan dimakamkan hari ini di kuburan muslim setempat.

Tak ada yang menyangka bahwa tugas menjadi imam Salat Jumat di Masjid Baitutthaharah menjadi pengabdian terakhir bagi pria empat anak tersebut menjadi khalifah di muka bumi. Jangankan tetangga, saudara hingga keluarga, Jamhari sekalipun mungkin tidak tahu bahwa Malaikan Izrail tiba-tiba menjemputnya siang itu dalam posisi sujud memimpin ratusan melaksanakan ibadah. (BAGIUS ARYA SUSANTO, Samarinda/nha)

Duriangkang Dulu dan Sekarang (2)

0
Pemandangan dari udara kondisi Waduk Baloi. Foto/DOK/ATB/Benny Andrianto

Dam Baloi sempat menjadi tulang punggung sumber air bersih di Pulau Batam. Dam Baloi kini tinggal cerita. Cerita sedih itu menjadi catatan penting bagi Pemerintah.

Mengingat ‘tragedi’ yang terjadi pada Waduk Baloi ini, kiranya jangan sampai dialami oleh waduk lainnya.

Sejak dibangun pada tahun 1977 oleh Otorita Batam, Waduk Baloi memiliki kapasitas sebanyak 30 liter per detik dan melayani pelanggan ATB di kawasan Pelita, Jodoh, Nagoya dan sekitarnya.

Namun, waduk ini akhirnya ditutup pengoperasinya akibat kondisi air baku yang sudah tidak ekonomis untuk diolah menjadi air bersih dan berubah menjadi Septic Tank massal yang berasal dari rumah liar dan banyak ditumbuhi enceng gondok.

Ironisnya kondisi tersebut juga sudah mulai dialami oleh beberapa waduk lainnya yang dimiliki oleh BP Batam.

Selain oleh limbah rumah tangga, alih fungsi lahan sekitar waduk untuk perumahan juga menjadi penyebab menurunnya kapasitas waduk.

President Director ATB, Ir Benny Andrianto MM pernah mengingatkan bahwa ATB tidak dapat melakukan pengembangan bila tidak ada penambahan air baku.

Dan sehebat-hebatnya ATB dalam mengelola air, tidak akan bertahan tanpa adanya air baku.

Oleh karena itu, sebuah tantangan yang sangat besar bakal dialami Batam dalam hal ketersediaan air bersih. Dan semuanya kembali kepada Pemerintah.

Pemerintah harus lebih bijak lagi dalam hal pengawasan terhadap pembangunan rumah liar, kerambah dan peternakan, serta pengaturan alokasi lahan dan mekanisme pembuangan limbah juga perlu diperhatikan agar waduk tidak terkontaminasi oleh zat-zat yang berbahaya, yang pada akhirnya menurunkan kualitas dan kapasitas waduk.(*)

APBD 2017 Hampir Rampung

0
Ilustrasi

batampos.co.id – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam Jefriddin  mengatakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kota Batam tahun 2017 hampir rampung. Saat ini, APBD 2017 tengah dibahas dan dalam proses finalisasi (selesai).

“Kami harap minggu ini sudah diketuk, kalau perlu hari ini (kemarin, red),” kata Jefriddin usai bertemu dengan tim banggar DPRD Kota Batam, kemarin siang.

Dikatakannya, keterlambatan pengesahan APBD hanya masalah keterbatasan anggaran. Banyak yang mengajukan kegiatan untuk masuk dalam APBD 2017, namun anggaran untuk Kota Batam tak bisa memenuhi. Karena itu dalam pembahasan, ada tarik menarik kegiatan yang menjadi prioritas. Sehingga sesuai dengan APBD 2017 yang hanya Rp 2,5 triliun.

“Finalisasi hanya masalah keterbatasan anggaran. Kalau semuanya ditampung, harus ada anggaran Rp 6-7 triliun, padahal anggaran kita hanya Rp 2,5 triliun,” terang Jefriddin.

Menurut dia, finalisasi untuk APBD 2017 masih berpatok pada kerangka yang dibuat tim anggaran Pemko Batam. Karena semua kegiatan yang diajukan dalam kerangka APBD 2017 itu sudah sesuai dengan mekanisme dan ketentuan.

“Kita memakai anggaran dari Pemko, usulan baru tidak boleh masuk lagi. Tak boleh ada kegiatan baru, harus sesuai dengan RKPD,” tegas Jefriddin.

Jefriddin juga menegaskan, dalam pembahasan APBD tak ada kegiatan yang dikurangi. Hanya saja, pihaknya menyamakan pokok pikiran dengan tim banggar DPRD Kota Batam. Apalagi beberapa waktu lalu, tim banggar DPRD Kota Batam sempat meminta bukti dari mana kerangka RKPD didapat oleh tim anggaran Pemko.

“Kita sudah serahkan buktinya, makanya APBD dalam minggu ini bisa diketok. RKPD kita yang jelas sudah melalui musrembang kelurahan, kecamatan, kota hingga DPRD,” beber Jefriddin.

Tak hanya itu, Ia juga menegaskan prioritas penggunaan APBD 2017 difokuskan untuk infrastruktur, yang hampir mencapai 30 persen dari APBD. Sedangkan  bidang pendidikan sekitar 21-23 persen.

“Infrastruktur paling ditinggikan, karena itu sesuai dengan tujuan RPJMD Pemko Batam,” sebut Jefriddin mengakhiri. (she)

KUA-PPAS APBD Batam 2017 Akan Segera dirampungkan

0
ilustrasi

batampos.co.id – Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2017 Kota Batam akan segera disahkan. Mengingat Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Pemko Batam dan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Batam sudah menyelesaikan pembahasan pagu anggaran.

“Sudah selesai kita bahas (TAPD dan Banggar). Kebijakan Umum Anggaran Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) ini akan segera kita finalisasi (rampungkan),” ujar Aman, anggota Banggar dari Komisi II DPRD Batam, Senin (9/1).

Menurut Aman, perampungan KUA-PPAS ini berdasarkan beberapa kesepakatan terkait kebijakan umum anggaran. Konsentrasi pemerintah daerah ke depan serta menetapkan pagu anggaran di setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sesuai konsentrasinya.

“Selesai merampungkan KUA-PPAS dilanjutkan paripurna. Namun demikian tak menutup kemungkinan akan terjadi sedikit pergeseran-pergeseran. Karena inilah yang menjadi hasil akhir pembahasan,” terang politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ia mencontohkan, berbicara pendidikan apakah sudah sesuai anggarannya 20 persen dari APBD. Atau kesehatan 10 persen dari APBD. Termasuk konsentrasi Pemko 2017 ini, apakah sudah masuk di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)nya.

“Kita satu per satu. Kalau semuanya sepakat, sesuai RPJMD dan tidak melanggar undang-undang, insallah paripurna nota kesepakatan segera dilaksanakan,” ucapnya. (rng)

Tidak Taat Lalu Lintas, Penyebab Utama Kecelakaan

0
Anggota Satlantas Polresta Barelang mengevakuasi motor korban tabrak lari yang mengakibatkan tewas ditempat depan Perumahan Yose Sade, jalan Brigjen Katamso, Tanjunguncang, Batuaji, Minggu (20/11/2016). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Pola berkendara masysrakat Batuaji dan  sekitarnya masih terlihat sangat semrawut.  Pasalnya, sebagian dari masyarakat di sini masih  banyak melanggar peraturan lalu lintas.

Pantauan Batam Pos, ada  beberapa titik jalan ataupun simpang lampu merah yang kerap semrawut akibat pola berkendara yang tidak beraturan maupun kacau. Kondisi ini mulai terlihat di Simpang Panbil, Simpang Tembesi, Simpang Putri Hijau  hingga Simpang Basecamp.

Tidak hanya itu, pengendara yang semrawut juga terlihat di Simpang lampu merah Fanindo dan simpang lampu merah Polsek Batuaji, Tanjung Uncang.

Banyak  masyarakat yang tidak peduli dengan keselamatan saat berkendara, akibatnya lokasi ini sangat rentan terjadi kecelakaan. Ada berbagai macam pelanggaran yang dilakukan, mulai dari menerobos lampu lalu lintas, tidak memakai helm, hingga melawan arus jalan.

“Jalan  protokol Batuaji memang seram. Mulai  masuk simpang Panbil hingga ke Tanjung  uncang sana,” ujar Albi, warga perumahan Buana Raya, Sagulung, Senin (9/1).

Menurutnya, banyak  pengendara sekarang yang tidak peduli dengan nyawanya sendiri. “Tidak ada aturan. Semau-maunya mereka saja,” ujarnya saat ditemui di Tanjung Uncang.

Senada juga dikatakan Saiful, warga Tembesi ini  mengatakan sangat berhati-hati saat melewati jalan protokol tersebut saat mengantar anaknya ke sekolah.  Apalagi, sambungnya, bukan hanya pengendara motor yang tidak peduli dengan aturan, namun mobil angkutan juga sering melanggar aturan tersebut.

Ia  sendiri sangat mengeluhkan pola berkendara yang dilakukan para sopir mimbar maupun carry. “Bisa-bisa jantungan. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba mobil ini berhenti di depan kita,” ungkap Saiful.

Seperti yang terjadi siang tadi, sekitar pukul 12.00 WIB, salah satu pengendara motor menabrak angkutan mimbar yang berhenti secara tiba-tiba di depannya di Komplek Graha Nusa Batam, Sagulung. Pengendara yang di ketahui bernama Rio tersebut mengaku kaget, karena angkutan tersebut berhenti dengan tiba-tiba, tanpa lampu rating.

“Baru pulang jemput anak sekolah. Saya kaget dan langsung nabrak mimbar,” katanya.

Sementara itu, dari kejadian tersebut, Rio mengalami luka ringan di tubuhnya, sedangkan anaknya tidak sadarkan diri. Sementara bagian depan motor ringsek. (cr19)

Mancing 2 Juta Wisatawan, Dispar Pemko Batam Undang Pelaku Wisata

0
Sejumlah wisatawan saat tiba di Pelabuhan Internasional Sekupang, Sabtu (10/12). menjelang akhir tahun wisatawan yang berkunjung ke Batam mengalami peningkatan untuk menikmati liburan. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Pebrialin akan mengundang para pelaku wisata untuk membicarakan kemajuan dunia pariwisata di Batam.

Selama ini menurutnya, masih banyak potensi pariwisata yang dimiliki Batam belum dipromosikan. Selain itu banyak hal yang harus dibenahi dalam upaya mendatangkan dua juta kunjungan wisatawan ke Batam.

“Ya, ini salah satu langkah dalam mendatangkan wisatawan ke Batam, Senin (9/1).

Batam yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, harusnya bisa mendapatkan jumlah kunjungan yang lebih besar dari target yang telah ditentukan. Tentunya pemerintah sebagai pemegang kendali harus melengkapi beberapa fasilitas pendukung untuk mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan.

Saat ini, menurutnya memang kebanyakan pelaku wisata dipegang oleh pihak swasta. Namun pemerintah memiliki peran yang penting sebagai penghubung.

“Semua harus besinergi,” ujarnya.

Beberapa destinasi wisata yang akan dikelola seperti wisata Pulau Abang. Dalam waktu dekat ini, pihaknya akan memanggil seluruh guide lokal untuk mendapatkan materi cara memandu

Hal lainnya adalah melengkapi sarana wisata seperti transportasi menuju pulau, dan peralatan wisata yang nantinya digunakan oleh wisatawan seperti perlengkapan snorkling, baju pelampung, termasuk penginapan di sana.

“Inikan tidak bisa selesai kalau kerja sendiri, makanya kita butuh juga pihak swasta,” sebut mantan Kepala Dinas UKM Kota Batam ini. (cr17)

Suami Istri Libatkan Adik Kandung Jadi Kurir Sabu

0

batampos.co.id – Peredaran narkotika yang terus berkembang, kini tidak hanya di lingkungan pribadi saja tapi sudah ikut melibatkan keluarga. Seperti yang dilakukan terdakwa Ahmad Junaidi (suami) dan Yulia Suriani (istri), terhadap adik kandung Yulia, M.Fahur Rozy serta dua rekan adiknya, Dana dan Ardika.

Kelima terdakwa ini disidangkan di Pengadilan Negeri Batam atas barang bukti narkotika jenis sabu seberat 4,2 kilogram lebih, Senin (9/1).

Dalam sidang beragendakan pemeriksaan terdakwa itu, kelima terdakwa juga disidangkan bersama Rahmat bin Mansur yang merupakan terdakwa pertama kali ditangkap oleh petugas BNNP Kepri di depan Masjid Baiturrahman Baloi, Juli lalu.

Rahmat mengatakan, ia mendapat perintah dari Natsir (DPO) di Malaysia untuk mengambil barang dari Hafiz (DPO) di Sei.Harapan dan dibawa ke Hotel Formosa. Barang itu diketahui berupa sabu seberat 4,2 kilogram.

“Hanya dengan menjemput dan mengantar paket itu, saya dijanjikan upah RM 5.000 atau Rp 15 juta. Maka saya bersedia,” ujarnya.

Dalam perjalanan menuju Hotel Formosa, Rahmat dihentikan oleh petugas BNNP Kepri dan ditemukan barang bukti tersebut. Ditelusur lebih lanjut, terdakwa Dana dan Rozy sudah menunggu kedatangan Rahmat di Hotel Formosa. Namun Rahmat datang bersama petugas yang menangkapnya.

Diakui Dana dan Rozy, mereka mendapat perintah dari Yulia untuk menjemput sabu itu di Formosa. Sementara Yulia menjelaskan, perintah itu atas arahan suaminya (Junaidi) yang sedang berada di Palembang.

“Yang menjemput seharusnya adik saya (Rozy), Dana dan Ardika. Tapi karena Ardika kurang enak badan, mereka berdua saja yang pergi ke Formosa,” sebut Yulia.

Direncanakan, barang bukti sabu itu akan diteruskan ke Palembang oleh Rozy, Dana dan Ardika, sebagaimana sebelumnya pernah ketiga terdakwa lakukan. “Ini untuk yang kedua kalinya. Sebelumnya berhasil dibawa ke Palembang, dimana sabu itu disimpan dalam telapak sepatu,” ungkap Junaidi, sebagai dalang yang memerintahkan istri dan adik terdakwa.

Sementara bagi Junaidi, pekerjaan ini sudah untuk yang ketiga kalinya dilakukan bersama istrinya. “Setiap berhasil sampai di Palembang, saya dapat upah Rp 250 juta,” ujar Junaidi yang bekerja dalam jual-beli mobil di salah satu showroom di Batam.

Jumlah barang bukti yang berhasil dibawa ke Palembang itu mulai dari dua sampai empat kilogram.

“Di Palembang, barang itu akan saya serahkan ke Kak Cik (DPO). Dia yang memerintahkan dan memberikan upah kepada saya,” terang Junaidi lagi.

Ketika ditanyakan kepada istri terdakwa kenapa mau membantu pekerjaan suami yang jelas melanggar hukum ini, Yulia beralasan kebutuhan materi dapat terpenuhi. Sedangkan adik Yulia bersama dua rekannya mengaku, karena hidup bergantung pada kakaknya tersebut. Padahal, mereka tidak dijanjikan untuk mendapatkan upah. “Kami numpang di tempat kakak. Jadi mau tak mau ikuti perintah saja,” jawab Rozy.

Atas pemaparan keenam terdakwa, majelis hakim yang dipimpin Syahrial meminta JPU Ryan Anugrah untuk menyiapkan nota tuntutan. Dijadwalkan, tuntutan dibacakan setelah dua pekan. “Karena masing-masing terdakwa punya peran yang berbeda-beda, saya minta waktu dua minggu untuk menyelesaikan tuntutan para terdakwa yang mulia,” pinta JPU Ryan. (cr15)

Lia Dihipnotis, Uang 13 Juta Raib

0

batampos.co.id – Lia, 18 mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Mapaolresta Barelang setelah merasa dihipnotis dalam transaksi jual beli kamera DSLR miliknya, Senin (9/1) pagi.

Saat ditemui, Lia menceritakan kronologis kejadian ini bermula dari dirinya memposting kameranya untuk dijual dalam forum jual beli di media sosial pada Sabtu, 31 Desember 2016 kemarin.

Setelah beberapa jam memposting penjualan kameranya, Lia kemudian ditelepon oleh seorang pria yang mengaku bernama Fendi sekitar pukul 21.00 WIB dan berniat akan membeli kamera miliknya itu.

Dalam percakapan antara korban dan pelaku di telepon itu, pelaku meminta korban menuju ke Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk mengecek uang yang telah ditransfer oleh pelaku.

Namun, sesampainya di ATM, Lia kemudian dituntun oleh pelaku untuk menuju ke menu transfer. Beruntung, pada saat dituntun pelaku untuk melakukan transfer, saldo di dalam rekeningnya dalam keadaan kosong.

“Saya diminta untuk tranfer uang ke rekeningnya dia. Tapi tidak bisa, karena saldo saya kosong,” katanya.

Dikarenakan saldo di dalam rekeningnya kosong, kemudian pelaku merayu korbannya dengan menggunakan kartu ATM lain atau meminjam ATM orang lain.

“Oh gak apa-apa itu, mungkin uangnya masih mendam. Besok aja lah kirim, tapi kirim pakai ATM ibumu. Bilang aja pinjam untuk transfer uang ke rekening mu, karena rekening kamu kosong,” ujarnya meniru perkataan pelaku malam itu.

Setelah pulang dari ATM, kemudian besoknya korban kembali mendapatkan telepon dari pelaku pada Minggu (1/1) malam dan memintanya untuk menggunakan ATM milik ibunya.

Lia yang diduga terhipnotis oleh pelaku, kemudian menuruti perintah pelaku dan mengambil ATM ibunya untuk menuju ke ATM di kawasan Aviari Batuaji.

“Sampai disana kemudian dia mengarahkan lagi sama saya ke menu transfer dan saya melakukan transfer sebanyak tiga kali,” tuturnya.

Dari tiga kali transfer itu, uang tunai sebesar Rp13.832.000 raib dari dalam rekening ibu korban. “Saya transfernya dari ATM BNI ke Bank Mandiri,” katanya.

Setelah berselang beberapa hari atau tepatnya pada Minggu (8/1) sore akhirnya kasus ini terungkap setelah ibu korban mengecek saldo di ATM nya dan menanyakan kepada anaknya.

“Setelah ditanya oleh ibu itu, saya baru teringat lagi dan membuat laporan ke polisi,” imbuhnya. (cr1)

Kapolda Kepri : Lebih Baik Ditutup Saja Gelper Itu

0
Mesin gelper yang diamankan polisi saat penggerebekan di Kampung Aceh, Rabu (10/8/2016) lalu. Foto: eggi/batampos.co.id

batampos.co.id – Gelanggang permainan (Gelper) selama ini dinilai selalu menjadi permasalahan. Dimana gelper ini dinilai banyak menyalahi izin, buka sampai malam hari hingga adanya indikasi judi. Menanggapi hal ini, Kapolda Kepri Irjen Pol Sam Budigusdian menyerahkan hal ini sepenuhnya ke Pemko Batam. “Kalau perlu ditutup saja,” katanya pada Senin (9/1).

Ia merasa dengan diperjelasnya status gelper ini dilarang dan ditutup, maka permasalahan serta gonjang ganjing akibat permainan ketangkasan ini bisa sirna. Namun selama masih buka, permasalahan dan indikasi judi masih tetap ada.

“Diperjelas saja, tak usah diberikan izin,” ungkapnya.

Hingga saat ini, Sam mengatakan pihaknya sudah menangani puluhan kasus gelper. Walau banyaknya penindakan, gelper ini masih tetap ada. Dengan izin diberikan Pemko Batam. Sam meminta pihak kepolisian, jangan hanya dijadikan tempat sampah saat ada masalah di gelper tersebut.

“Kami juga tak ingin seperti ini terus,” tuturnya.

Ia berharap permasalahan gelper ini bisa diselesaikan secepatnya. Dan ia meminta Pemko Batam bisa bertindak tegas dan menentukan sikap atas gelper yang selam ini dicurigai terjadinya tindak pidana judi. (ska)

Dishub Kota Batam Dapat Tiga Kapal dan Dua Pelabuhan Baru

0

batampos.co.id – Pemerintah Kota Batam mendapat bantuan tiga kapal penumpang dari Pemerintah Pusat. Sekaligus mendapat jatah pembangunan dua pelabuhan. Anggarannya berasal dari dana alokasi khusus (DAK).

“Kapal penumpang itu khusus mengangkut penumpang dari pulau ke pulau,” kata Dinas Perhubungan Batam, Yusfa Hendri.

Setiap kapal berkapasitas 25 penumpang. Kapal itu dapat digunakan sebagai alat transportasi masyarakat kepulauan. Baik itu orang dewasa maupun anak-anak sekolah.

Yusfa mengatakan, hal itu digunakan untuk meratakan sistem transportasi massal yang dikelola Dishub. Terlebih dengan kondisi Batam yang merupakan wilayah kepulauan. Tentu membutuhkan banyak transportasi laut.

“Kami mencoba memberikan perhatian yang cukup pada masyarakat hinterland,” tuturnya.

Sementara itu, untuk pembangunan dua pelabuhan laut, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad mengatakan, Pemko akan membangun dua pelabuhan di Subang Mas dan Batubesar. Saat ini, para konsultan tengah melakukan kajian.

Amsakar, namun demikian, belum membeberkan besar anggaran yang diterima untuk membangun pelabuhan dan pengadaan kapal penumpang tersebut. “Kami masih menunggu. Anggarannya dari pusat semua,” ujarnya. (ceu)