batampos.co.id – Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas pada tahun 2020, menerapkan Nomor Pokok Wajib Pajak-Cabang (NPWPC). Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Anambas Azwandi, Kamis ( 19/03/2020), mengatakan hal tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan daerah yang bersumber dari pajak PPh 21.
Dikatakanya, Perusahaan yang memiliki NPWP di luar Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tanjungpinang, akan diberlakukan wajib NPWP-Cabang.
“Jika NPWP di luar KPP Pratama Tanjungpinang, maka PPH 21 itu tidak masuk ke daerah, meskipun melalui dana bagi hasil. Di Kepri kalau tak salah saya ada 3 KPP dan itu beda blok. Untuk Anambas dan Natuna masuk pada wilayah KPP Partama Tanjungpinang. Jadi di luar itu wajib tahun 2020 ini melampirkan NPWP-Cabang, bukan NPWP baru ya,” paparnya.
Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Anambas, Azwandi, saat diwawancarai. (19/03). (Foto:Faidillah/Batampos.co.id)
Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan pendapatan pajak melalui bagi hasil dari pemerintah pusat, seperti dari DBH pajak yang berasal dari konsorsium migas di Kabupaten Kepulauan Anambas, ada peningkatan. “Sejak tahun 2018 terjadi peningkatan DBH migas sebesar 15 miliar dan itu lebih besar dari Kabupaten Natuna,” sebutnya.
Azwandi kembali menegaskan untuk kegiatan fisik yang bersumber dari APBD pada OPD, persyaratan tersebut hanya diwajibkan untuk pencairan, bukan sebagai syarat dalam dokumen lelang. Kebijakan ini kata Azwandi telah ditetapkan oleh Peraturan Dirjen Keuangan dan disertai Perbup.
“Semuanya sudah ada mekanisme terkait hal itu, dan Peraturan Bupati Kepulauan Anambas nomor 37 tahun 2019 tentang pendaftaran Wajib Pajak Cabang/Lokasi Bagi Pelaku Usaha Yang Melakukan Usaha Dan/Atau Pekerjaan di Kabupaten Kepulauan Anambas, telah kita sosialisasikan kepada OPD,” tuturnya.
Saat ini, yang baru menerapkan wajib NPWP-Cabang baru dua Kabupaten di Provinsi Kepri yaitu, Kabupaten Bintan dan Kabupaten Kepulauan Anambas, sebut Azwandi. (fai)
batampos.co.id – Kabar mengejutkan datang dari Kota Bogor. Orang nomor satu di kota itu, Bima Arya Sugiarto, dinyatakan positif terinfeksi virus korona (Covid-19). Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu mendapatkan hasil itu setelah melakukan tes di Bogor Senior Hospital pada Selasa (17/3).
Hasil tes yang dilakukannya itu keluar pada Kamis sore, 19 Maret. ’’Hasilnya, menujukkan kalau beliau positif korona,’’ terang Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Sri Nowo Retno dalam keterangan pers yang dikeluarkan pada Kamis malam.
Bima sendiri sebelumnya melakukan kunjungan kerja ke Eropa, tepatnya ke Turki dan Azerbaijan. Dia kembali pada Senin (16/3), kemudian berinisiatif untuk melakukan tes korona pada keesokan harinya. Setelah dinyatakan positif menjadi pasien korona, orang nomor satu di Kota Hujan itu kemudian dirawat di RSUD Kota Bogor.
’’Dia akan menjalani isolasi di sana selama 14 hari ke depan, terhitung sejak Kamis, saat dia menerima hasil tes,’’ papar Sri.
Dia menambahkan, RSUD Bogor memang sejak jauh-jauh hari mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk mengantisipasi wabah Covid-19 di Kota Bogor. Sri juga memohon doa kepada warga Bogor dan masyarakat Indonesia agar Bima dan orang-orang lain yang kini menjadi pasien korona bisa segera sembuh dan kembali beraktivitas seperti sedia kala.
’’Demikian juga wali kota selalu mendoakan kesehatan dan keselamatan seluruh warga Kota Bogor,’’ jelasnya.
Sementara itu, untuk tugas-tugas yang berkaitan dengan pemerintahan serta penanganan wabah korona, untuk sementara waktu akan dikoordinasikan di bawah pimpinan Wakil Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim. Sedangkan warga yang ingin memperoleh kabar tentang korona di Kota Bogor, bisa mengakses laman www.covid19.kotabogor.go.id(jpc)
batampos.co.id – Kebijakan belajar jarak jauh atau dari rumah belum berjalan mulus. Urusan akses internet jadi keluhan paling banyak. Hal tersebut disampaikan pengamat kebijakan publik Lina Miftahul Jannah. Menurut dia, kebijakan Kemendikbud supaya proses sekolah dan kuliah dijalankan di rumah secara online tidak berjalan efektif.
Bahkan, di kampus Universitas Indonesia (UI) tempat dia mengajar, banyak mahasiswa yang kesulitan akses internet untuk menjalankan perkuliahan jarak jauh berbasis online. Lina juga menyoroti proses belajar anak-anak di rumah. ’’Saya sudah lapor ke ketua KPAI,’’ kata dia, Kamis (19/3).
Laporan tersebut berkaitan dengan adanya guru yang semena-mena memberikan tugas ke anak-anak. Padahal, guru yang bersangkutan tidak mengajarkan materi kepada anak-anak. Menurut dia, belajar di rumah itu tidak berarti setiap hari siswa dikirimi tugas tanpa ada proses pengajaran.
Susahnya akses internet disampaikan orang tua murid Mualifah, 45. Menurut dia, saat awal kegiatan belajar mengajar (KBM) online dimulai, dirinya berinisiatif mengunduh aplikasi belajar online untuk sang putra Fachrizal, 15. Dengan begitu, pelajar MTSN Tlasih, Sidoarjo, tersebut tak akan tertinggal pelajaran. ”Tapi, internetnya kadang lemot. Jadi, videonya putus-putus,” ujarnya.
Untung, pihak sekolah mengambil kebijakan lain. Yakni, memberikan tugas melalui aplikasi WhatsApp. Penyelesaian tugas juga wajib dilaporkan dalam grup aplikasi itu. ”Jadi, memang kan ada grup antara guru dan wali murid. Lebih enak koordinasinya,” paparnya.
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi mengatakan, belajar jarak jauh tidak hanya melalui aplikasi belajar online. Aplikasi WhatsApp pun dapat dimanfaatkan. ”Di sini memang baru terasa bahwa kita belum punya sistem online yang kredibel. Tapi, menurut saya, saat ini yang penting semua berjalan dulu,” ujarnya.
Bagi dia, yang utama saat ini bukan sekadar efektivitas belajar mengajar. Tapi, bagaimana menjaga siswa dari persebaran virus Corona. Memastikan mereka aman di rumah dan tidak menganggap momen ini sebagai liburan. ”Guru juga dimohon agar tetap kerja dari rumah. Yang paling penting, kepala sekolah dan dinas punya SOP bahwa tetap ada pembelajaran,” ungkapnya.
Guru dan murid yang kesulitan dengan jaringan internet untuk mengakses aplikasi khusus untuk belajar online tak perlu khawatir. Banyak jalan menuju Roma. Lewat telepon, guru bisa memberikan tugas seperti project base learning yang dapat dikerjakan anak dan orang tua.
Tentunya, dengan memperhatikan kompetensi dasar dan usia anak. Misalnya, anak kelas I SD bisa diminta untuk menanam kacang hijau yang kemudian diamati setiap hari.(jpg)
batampos.co.id – Serangan virus corona atau Covid-19 memukul sektor ekonomi Tanah Air. Nilai tukar rupiah terpuruk. Indeks harga saham gabungan (IHSG) juga terjerembap dan finis di zona merah. Kemarin (19/3) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sempat menembus Rp 16 ribu per USD. Bahkan sempat menyentuh level 16.179,50 ada pukul 14.10 WIB.
Namun, perlahan tapi pasti, mata uang garuda menguat kembali. Tadi malam, kurs terpantau Rp 15.777,50 per USD. Anjloknya nilai rupiah hingga level Rp 16 ribu per USD tersebut merupakan yang terendah sejak krisis moneter 1998.
Menurut Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, rupiah melemah karena kepanikan investor asing di tengah merebaknya wabah Covid-19. Mereka tertekan lantaran ketidakpastian ekonomi global yang sangat tinggi. Sebab, saat ini virus tersebut sudah menyebar di 159 negara.
“Kami memantau bagaimana Dow Jones (Index) anjlok. Premi risiko meningkat sangat-sangat tinggi,” jelas Perry dalam live streaming konferensi pers paparan hasil rapat dewan gubernur BI, kemarin. “Kita (Indonesia) menghadapi dan semua negara menghadapi. Semua investor global melepas asetnya, baik saham maupun SBN (surat berharga negara, red),” lanjutnya.
Menurut Perry, dalam kondisi saat ini, berlaku prinsip cash is the king. Meski demikian, bank sentral memastikan bahwa mekanisme pasar tetap berjalan. Likuiditas di pasar uang dan pasar valuta asing (valas) dijaga. Selain itu, triple intervention dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Baik di mekanisme pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), maupun pembelian SBN dari pasar sekunder.
“Yang kami pastikan adalah bagaimana penentuan nilai tukar di pasar, baik melalui broker maupun antarbank itu, konvergen. Kami pastikan dari pagi sampai sore Bank Indonesia selalu ada di pasar,” tegas pria kelahiran Sukoharjo itu.(jpg)
batampos.co.id – Jumlah pasien positif virus corona (Covid-19) di Kepulauan Riau (Kepri) bertambah menjadi tiga orang. Dua penderita terbaru adalah satu di Batam dan satu di Karimun. Sebelumnya satu orang di Tanjungpinang.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan penderita corona di Batam, seorang perempuan. Ia masih dirawat intensif di ruang isolasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam, Batuaji. Wanita berusia 51 tahun itu memiliki riwayat perjalanan keluar daerah, yakni Jakarta, Bogor, dan Yogyakarta.
Didi mengungkapkan, wanita ini melakukan perjalanan pada 21 Februari hingga 3 Maret ke tiga daerah itu. Ia baru kembali ke Batam pada 4 Maret. Sehari setelah di Batam, ia mengeluh demam dan batuk berdahak. Ia sempat memeriksakan diri ke puskesmas.
Karena kondisi sudah membaik, ia kembali ke rumahnya di kawasan Batuaji. Tapi pada 10 Maret, ia kembali lagi ke puskesmas dengan keluhan demam. Pihak puskesmas kemudian merujuknya ke Rumah Sakit Graha Hermine, Batuaji.
“Iya, pada 10 Maret dia berobat karena mengeluh demam. Tapi di situ belum ada batuk dan lain-lain. Pasien dirujuk ke Graha Hermine dan sempat disebut mengidap demam berdarah dengue (DBD),” kata Didi, Kamis (19/3), saat memberikan keterangan bersama Wali Kota Batam Muhammad Rudi, di Gedung Pemko Batam, Batam Center.
Wali Kota Batam, Muhammad Rudi; Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad; Kepala Dinkes Kepri, Tjetjep Yudiana, saat memberikan keterangan terkait satu orang warga Batam positif terpapar virus corona di kantor Pemko Batam, Kamis (19/3). (F. Cecep Mulyana/Batam Pos)irus Korona
Setelah dirawat selama empat hari, kondisi semakin membaik dan pasien “Lalu tanggal 14 Maret datang lagi dengan keluhan sesak napas, batuk berdahak, mual, dan muntah. Di situ, baru ketahuan terkena pneumonia, lalu dirujuk ke RSUD. Dari situ, ia dinyatakan sebagai PDP (pasien dalam pengawasan) Covid-19 dan dirawat di ruang isolasi Gedung Kirana RSUD. Kondisinya relatif stabil,” jelasnya.
Setelah diisolasi, sampel darahnya dikirim ke Balai Besar Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) di Jakarta. Hasilnya keluar pada Kamis (19/3) dan dinyatakan positif mengidap Covid-19. “Dari hasil penelusuran, pasien ini banyak kegiatan di Bogor dan Jakarta. Ada penderita corona yang meninggal di sana (Bogor). Keduanya terkonfirmasi berkaitan,” ungkapnya.(leo/yui)
batampos.co.id – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta pengelola Masjid Istiqlal untuk tidak melakukan ibadah salat Jumat selamat dua pekan. Imbauan ini bukan hanya untuk Masjid Istiqlal, tapi juga seluruh masjid yang ada di wilayah Jakarta.
“Anjuran ini untuk seluruh masjid yang ada di wilayah DKI Jakarta,” kata Anies di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (19/3).
Anies menyampaikan, peta sebaran pasien yang terinfeksi korona di DKI Jakarta sudah meluas. Makanya, penutupan Masjid Istiqlal dinilai menjadi salah satu langkah yang harus dilakukan untuk meminimalisasi aktivitas kerumunan dan kontak langsung di tengah masyarakat yang memiliki risiko tinggi penyebaran virus Korona.
“Angka pertumbuhannya termasuk yang paling tinggi maka fatwa MUI itu bisa diterapkan,” ucap Anies.
Terpisah, Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal, Laksamana Pertama TNI (Purn) Asep Saepudin menyatakan, Masjid Istiqlal tidak menggelar salat Jumat selama dua pekan. Hal ini berdasarkan imbauan dari Pemprov DKI Jakarta.
“Mengingat perkembangan situasi COVID-19 di DKI Jakarta khususnya dan intruksi Imam Besar Masjid Istiqlal yang merujuk kepada Keputusan Gubernur DKI Jakarta tanggal 19 Maret 2020 jam 17.50 WB, diputuskan di Masjid Istiqlal tidak melaksanakan salat Jumat selama dua minggu, diganti dengan salat dzuhur masing-masing,” ucap Asep.
Asep pun berharap hal ini dapat dilakukan oleh masjid lainnya yang ada di wilayah DKI Jakarta. “Seluruh masjid di DKI Jakarta diminta untuk tidak melaksanakan salat Jumat maupun salat berjamaah harian selama dua minggu ini. Demikian untuk menjadi perhatian,” pungkasnya.(jpc)
batampos.co.id – Presiden Joko Widodo beserta Ibu Negara Iriana Joko Widodo mengumumkan hasil tes virus korona, Kamis pagi di Istana Bogor, 19 Maret 2020. Keduanya dinyatakan negatif COVID-19.
“Saya dan Ibu Iriana sudah melaksanakan tes deteksi COVID-19 empat hari yang lalu, dan sudah keluar hasil tesnya. Alhamdulillah saya dan Istri dinyatakan negatif,” ucap Presiden Jokowi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/3).
Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada tenaga medis yang sedang bekerja dan merawat para pasien yang terinfeksi COVID-19.
“Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada para dokter, para perawat dan seluruh jajaran rumah sakit, yang sedang bekerja keras penuh dedikasi dalam melayani dan merawat para pasien yang terinfeksi Covid-19,” kata Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi juga kembali mengimbau masyarakat untuk mencegah penyebaran Covid-19 dengan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, dan ibadah di rumah.
“Semoga kita semua diberikan kesehatan yang prima,” pungkas Jokowi.(jpc)
Masih banyak tenaga medis yang tak mendapat alat pelindung diri dan keterbukaan data pasien. Keberanian dr Handoko Gunawan yang telah berusia 80 tahun tak mengagetkan mantan pasien yang mengenalnya.
—
UNTUK kali kesekian dr Anggraini Alam SpA(K) harus menghadapi pertanyaan itu. Dan, untuk kali kesekian pula dia harus memberikan penjelasan.
”Saya terangkan ke pasien tentang kenapa kami memakai APD (alat pelindung diri) lengkap. Itu juga agar dia tidak takut karena tidak semua kasus yang diperiksa akan berujung konfirmasi positif,” kata ketua Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia tersebut.
Pengalaman itu dialami Anggraini saat menangani kasus pasien Covid-19 di sebuah rumah sakit di Bandung. Si pasien yang berusia 17 tahun itu, seperti banyak pasien lain dalam kasus serupa, heran mengapa semua tenaga medis yang menanganinya memakai APD lengkap.
Padahal, APD itulah ”senjata” andalan para tenaga medis yang berada di garis depan dalam perang melawan virus korona penyebab penyakit Covid-19. Sebab, mereka termasuk kelompok yang sangat rentan tertular.
Itu pun tidak semua tenaga medis yang berjibaku menangani penyakit yang telah merenggut 19 nyawa di tanah air beruntung mendapatkan fasilitas tersebut.
Dokter Trimaharani MSi SpEM mengaku tak kuasa menahan kesedihan mengenang minimnya APD di rumah sakit tempat dirinya bertugas di Kediri, Jawa Timur. ”Tadi malam (17/3) kami stres karena ini artinya kami ada di ambang maut. Terlebih, pihak RS bilang tidak punya uang,” kata dia ketika dihubungi Jawa Pos (grup Batampos Online), Rabu (18/3).
Maha –sapaan akrab Trimaharani– mengungkapkan bahwa APD memang dijual dengan harga mahal belakangan. Baju hazmat, misalnya, dijual Rp 800 ribu akhir-akhir ini.
Akhirnya Maha dan sejawatnya sesama tenaga medis menyiasati kondisi tersebut. Caranya, memakai jas hujan sekali pakai sebagai baju hazmat.
Dilengkapi dengan helm safety yang biasa dijual di toko pertukangan atau industri. Semua dibeli dengan biaya sendiri. ”Kami tahu bahwa semua (barang pengganti) itu fungsinya bukan untuk kesehatan. Tapi, ini kan nyawa kami sebagai taruhan,” katanya.
Dokter Handoko Gunawan (kiri), Handoko saat bertugas di RS Graha Kedoya, Jakarta. (Twitter dr Tri Maharani)
Ketua Umum IDI Daeng Mohammad Faqih mengaku menerima banyak keluhan terkait kurangnya alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan yang saat ini bertugas menangani wabah Covid-19. Akibatnya, tidak sedikit tenaga medis yang menjadi korban. Bahkan sampai meninggal dunia.
”Ya, kami akui jumlahnya kurang. IDI sangat concern membahas itu karena peran APD bagi tenaga kesehatan seperti kami sangat strategis,” ucap Faqih di kantornya di Jakarta Senin (16/3).
Karena itu, IDI memohon kepada pemerintah agar kelengkapan APD disiapkan lebih. Sebab, saat ini tenaga kesehatan adalah ujung tombak untuk mengontrol wabah virus asal Wuhan, Tiongkok, itu.
Apalagi, jumlah tenaga kesehatan juga terbatas. Tentunya, akan membebani pelayanan jika ada tenaga kesehatan yang terinfeksi.
Faqih juga memperoleh kabar tenaga kesehatan sampai menyiasati kurangnya APD dengan mengenakan plastik seadanya. Termasuk, memodifikasi jas hujan plastik dan hanya memakai masker biasa, bukan N95.
Melihat kondisi itu, pria asal Madura itu merasa miris. Bahkan, juga tidak sedikit tenaga medis yang harus rawat inap lantaran positif Covid-19.
Dia khawatir jika tidak dilindungi optimal, akan semakin banyak petugas kesehatan tertular dan diobservasi selama 14 hari atau diisolasi. ”Praktis itu akan menimbulkan efek domino yang imbasnya tentu ke masyarakat,” katanya.
Anggi –sapaan akrab Anggraini– juga merasa tak dapat dukungan dari pemerintah. Misalnya, untuk keterbukaan data pasien. Dokter tak mendapat langsung hasil pemeriksaan laboratorium.
Tenaga medis, menurut dia, hanya mengambil sampel. Selanjutnya, sampel tersebut dikirim ke Badan Litbang Kesehatan (Balitbangkes) milik Kementerian Kesehatan.
Hasil pemeriksaan laboratorium tidak diterima dokter jika positif. Namun, diumumkan kepada pasien. Itulah yang membuat dokter sulit menjelaskan kepada pasien kenapa diberi tindakan tersebut.
Selain itu, dia merasa pemeriksaan Covid-19 di Indonesia kaku. Salah satunya diperlihatkan laboratorium yang ditunjuk untuk memeriksa sampel dari pasien. ”Saya yakin Balitbangkes juga kewalahan,” ujarnya.
Aturan yang rigid tersebut juga membuat banyak yang seharusnya tertangani medis, tetapi tidak mendapatkannya. Dia mengilustrasikan, hanya 14 persen pasien yang tertangani. Itu pun yang tergolong sudah parah. Sedangkan 86 persen lainnya tidak ditangani. ”Sebanyak 86 persen hanya menunjukkan gejala yang batuk pilek biasa,” tuturnya.
Di tengah berbagai kendala itu, Anggi mengaku punya senjata jitu menangkal Covid-19. Dia mengandalkan sinar matahari.
Untuk itu, dia mendorong agar jendela dibuka. Syarat lainnya adalah udara yang bersih. ”Matahari Indonesia yang tropis tidak disukai Covid-19,” tuturnya.
Salah seorang tenaga medis di garis depan yang ramai jadi sorotan adalah dr Handoko Gunawan SpP. Meski sudah berusia 80 tahun dan rentan terpapar, dia tak gentar untuk merawat pasien.
Tidak main-main, dokter spesialis paru itu rela bekerja merawat pasien hingga pukul 03.00. Kisah tersebut dibagikan Novia Kusumawardhani melalui akun medsosnya. Bahkan, disebutkan pula, sang dokter sejatinya sudah dilarang anak-anaknya karena faktor usia. Namun, dia bersikeras dan berujar mati pun tidak apa-apa karena sudah tua.
Gaya slebor itu, menurut salah seorang pasien Handoko, Akbarry Noor, 27, merupakan gaya khasnya. Sejak dulu sang dokter memang suka bercanda dengan gaya-gaya nyentrik. ”Pertama lihat beritanya viral itu, kalimat beliau yang kalau mati nggak papa, saya sudah tua, itu dia banget emang,” ujar dia saat dihubungi kemarin (18/3).
Akbarry sudah hafal dengan guyonan-guyonan tersebut karena pernah dirawat intensif oleh sang dokter. Kala itu dia divonis TB dan pneumonia.
Kisah itu bermula ketika mudik pada 2011 dia tiba-tiba mengalami demam tinggi dan batuk parah. Dia pun sempat diopname di Surabaya selama tiga hari. Namun, hasilnya tetap sama.
Ketika kembali ke Jakarta, dia sempat pindah rumah sakit. Namun, dia didiagnosis tifus. Sampai akhirnya dia pindah ke rumah sakit tempat Handoko praktik. Momentum itu jadi awal perkenalannya dengan sang dokter nyentrik tersebut.
Dari sana dia langsung dirontgen. Dan, betapa kagetnya dia ketika tiba-tiba dipukul dadanya.
Ternyata, itu dilakukan untuk menjelaskan bahwa ada cairan di paru-parunya. ”Intinya, bunyi paru ada cairan dan enggak. Penjelasan santai, tapi bikin paham. Dan, dia bilang kalau aku TB dan pneumonia,” jelas dia seperti yang ditulis di akun Twitter-nya, @akbarry.
Dari situ muncul kedekatan antara keduanya. Apalagi ketika sang dokter visit dan membagikan joke-joke khasnya. Joke itu pun masih berlanjut saat dia menjalani checkup.(jpg)
batampos.co.id – Kasus baru virus korona COVID-19 di Indonesia terus bertambah. Virus gangguan pernapasan ini membuat 25 jiwa meninggal per Kamis (19/3). Dari data itu, 17 kasus di antaranya terjadi di Jakarta.
“Perkembangan kasus baru terhitung tanggal 18 Maret pukul 12.00 sampai dengan tanggal 19 Maret pukul 12.00 ada beberapa penambahan kasus baru yang konfirmasi positif,” kata Juru Bicara Pemerintah Untuk COVID-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers, Kamis (19/3).
Penambahan kasus meninggal tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Ada 17 jiwa di DKI Jakarta, Jawa Tengah 3 jiwa, Bali 1 jiwa, Banten 1 jiwa, Jawa Barat 1 jiwa, Jawa Timur 1 jiwa, dan Sumatera Utara 1 jiwa.
“Maka total kasus kematian 25. Ini adalah sekitar 8 persen dari kasus yamg kami rawat. Ini angka tinggi tapi dinamis yang setiap saat akan berubah. Semoga tak ada lagi kasus yany meninggal,” katanya.
Beberapa kasus meninggal yang didapatkan terjadi pada rentang usia 45-65 tahun. Ada kasus meninggal juga yang terjadi pada seseorang 37 tahun. “Faktor lain hampir seluruhnya memiliki penyakit pendahulu dan sebagian besar diabetes, hipertensi, dan jantung kronis,” jelasnya.
Ada 309 Kasus Positif dan 15 Sembuh
Beberapa kasus positif tambahan juga terjadi lagi. Sehingga total pasien positif virus korona menjadi 309 kasus. Paling banyak masih dijuarai oleh DKI Jakarta dengan tambahan kasus baru sebanyak 52 kasus. Dan kasus positif lainnya sudah cenderung menyebar meluas ke seluruh provinsi di Indonesia.
Bali tambah 1 kasus, Banten tambah 27 kasus, DIY tambah 5 kasus, DKI Jakarta tambah 52 kasus, Jawa Barat tambah 2 kasus, Jawa Tengah tambah 4 kasus, Jawa Timur tambah 1 kasus, Kalimantan Barat tambah 1 kasus, Kalimantan Timur tamhah 2 kasus, Kepulauan Riau tambah 2 kasus, Sumatera Utara tambah 1 kasus, Sulawesi Tengah tambah 3 kasus, Sulawesi Selatan tambah 2 kasus, Riau tambah 1 kasus.
Artinya dibanding Rabu (18/3) yakni 227 kasus, hari Kamis (19/3) bertambah 82 kasus baru hanya dalam 24 jam. Sedangkan kasus sembuh hanya 15 orang.(jpg)
batampos.co.id – Korlantas Polri untuk sementara menutup pelayanan pembuatan dan perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) dan SIM Internasional sejak 19-30 Maret 2020. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencagahan penyebaran virus korona yang kian meluas.
“Kita sementara tidak melayani pembuatan SIM. Untuk mencegah penyebaran virus korona,” kata Kakorlantas Polri Irjen Pol Istono dikonfirmasi, Kamis (19/3).
Istiono belum mengetahui sampai kapan pelayanan pembuatan dan perpanjangan SIM akan ditutup. Namun, akan kembali dibuka setelah pihaknya menjalani rapat.
“Nanti akan kita rapatkan lagi untuk kelanjutannya,” ucap Istiono.
Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengimbau masyarakat untuk tidak banyak beraktivitas di luar. Jokowi juga memerintahkan agar masyarakat dapat bekerja, belajar dan beribadah di rumah untuk meminimalisasi penularan virus korona.
Hingga Rabu (18/3) kemarin, sebanyak 227 orang dinyatakan positif terinfeksi virus korona. Sedangkan, sebanyak 19 orang meninggal dan 11 orang dinyatakan sembuh.(jpg)