Senin, 11 Mei 2026
Beranda blog Halaman 11063

Mengintip Menara ATC

0

Mengintip menara ATC Bandara Hang Nadim dari jendela pesawat, Jumat (30/8/2019).

AirNav Indonesia, memiliki kewenangan untuk memberikan layanan navigasi penerbangan di seluruh Indonesia.

AirNav berperan untuk menjaga keselamatan dan mengatur lalu lintas penerbangan di udara.

ATC Bandara Hang Nadim memiliki wilayah ruang udara hingga ketinggian 1.500 kaki. Sedangkan untuk ketinggian di atasnya lalu lintas udara dikendalikan oleh Approach Centre Unit (APP) di Tanjungpinang

Foto/teks: Dalil Harahap/Batam Pos

ATC Tower

0


Bus Damri melintas dekat menara ATC Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Baten, Jumat (30/8/2019).

ATC adalah kunci utama mengatur arus lalu lintas pesawat di udara.

Foto/teks: Dalil Harahap/Batam Pos

Lepas Landas

0

Pesawat Lion Air lepas landas di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepri, Jumat (30/8/2019)

ATC Bandara Hang Nadim memiliki wilayah ruang udara hingga ketinggian 1.500 kaki. Untuk ketinggian di atasnya lalu lintas udara dikendalikan oleh Approach Centre Unit (APP) di Tanjungpinang.

AirNav Indonesia, merupakan satu-satunya perusahaan yang memiliki kewenangan untuk memberikan layanan navigasi penerbangan di seluruh Indonesia. Perannya sangat dibutuhkan untuk menjaga keselamatan dan mengatur lalu lintas penerbangan di udara.

 

Foto/teks: Dalil Harahap/Batam Pos

AirNav Hang Nadim, Batam

0

AirNav Indonesiadi Bandara Hang Nadim, Batam, Kepri bekerja selama 24 jam. Rata-rata sekira 120 pesawat yang mereka layani.

Bandara udara ini paling padat lalu lintasnya di Batam karena berbatasan dengan Singapura dan Malaysia.

AirNav Indonesia, memiliki kewenangan untuk memberikan layanan navigasi penerbangan di seluruh Indonesia. Perannya sangat dibutuhkan untuk menjaga keselamatan dan mengatur lalu lintas penerbangan di udara.

Foto/teks: Dalil Hraahap/Batam Pos

Satlantas Udara, ATC

0

Sebuah pesawat melintas dekat tower ATC di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepri, Jumat (30/8/2019).

ATC Bandara Hang Nadim ini mengatur lalu lintas udara. Lalu lintas udara paling padat di Batam.

Foto/teks:  Dalil Harahap / Batam Pos

Peresmian Pasar Dengan Harga Termurah di Kota Batam Ditunda

0

batampos.co.id – Peresmian Pasar Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau yang dikenal dengan Pasar TPID diundur.

Jika sebelumnya peresmian dijadwalkan hari ini, Senin (2/9/2019), diundur hingga Senin (16/92019) mendatang.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Gustian Riau, mengatakan peresmian ditunda untuk menyesuaikan jadwal Dirjen Perdagangan Dalam Negeri dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI, Tjahya Widayanti.

”Tanggal 16 September dipastikan sudah terkonfirmasi kehadirannya,” kata Gustian.

Sembari menunggu, pihaknya akan melengkapi dengan berbagai penyempurnaan, terutama perihal interior pasar.

Dengan demikian, pasar ini tidak seperti pasar pada umumnya namun memiliki kekhasan dan nyaman untuk dikunjungi.

”Tiangnya kami kasih ornamen motif Batik Batam, lalu kami siapkan untuk spot foto tiga dimensi,” jelasnya.

Baca Juga: Di Sini Pasar yang Harganya Termurah di Kota Batam

“Ini kami lakukan supaya pasar ini enak untuk dikunjungi,” papar dia lagi.

Kabid Pasar Disperindag Batam Zulkarnain (tengah) bersama Ketua Asosiasi Distributor Bahan Pangan, Aryanto (kiri) mengecek kesiapan pasar TPID, Kamis (22/8) lalu. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Pasar itu kelak akan diresmikan Wali Kota Batam, Muhammad Rudi. Selain pejabat dari Kemendag, dijadwalkan hadir Deputi Bidang Pelayanan Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), Diah Natalisa.

”Karena ini terkait inovasi pelayanan publik, deputi akan hadir,” paparnya.

“Selain itu Pak Gubernur Babel (Bangka Belitung, Erzaldi) juga direncanakan hadir,” katanya lagi.

Tidak hanya itu, sejumlah perwakilan daerah lain juga akan hadir guna menyaksikan peresmian sekaligus melihat pasar TPID terlengkap karena diisi puluhan distributor pangan ini.

Baca Juga: Begini Kondisi Pasar TPID yang Akan Menjual Komoditi Termurah di Kota Batam

”Dari daerah lain juga akan hadir, seperti Jambi. Mereka ingin tahu bagaimana cara mengumpulkan distributor dalam satu pasar seperti kita,” imbuh dia.

Ia menyampaikan, distributor sendiri sudah siap. Kemarin, mereka mulai memasukan bahan pangan ke pasar yang mengambil tempat di Pasar Grand Niaga Mas Batam Centre tersebut.

”Kalau distributor sudah siap semua,” ucap dia.

Setidaknya sudah ada 60 distributor yang bergabung. Termasuk pengelola hasil tani dari Galang, serta bahan pokok dari Jambi.

Ia menerangkan, pasar ini diperuntukkan bukan untuk pedagang yang akan menjual kembali, namun masyarakat umum.

”Kami batasi hanya untuk konsumsi pribadi, dengan ini dapat membantu masyarakat ekonomi ke bawah,” imbuhnya.

Harga yang masyarakat dapatkan adalah harga distributor dan dipastikan lebih murah.

”Contohnya jika satu komoditas Rp 10 ribu per kg, ya yang dia dapat segitu, kalau di pasar lainkan malah ada yang Rp 15 ribu atau Rp 13 ribu per kg. Tentu harga distributor lebih murah,” kata dia.(iza)

Gagasan Pramoedya tentang Pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan

0

DIASINGKAN, dengan kata lain dibungkam di Pulau Buru (sejak 1965 hingga 1974), pikiran Pra­moedya Ananta Toer justru bergema panjang dan nyaring.

Dalam buku “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”, kumpulan tulisan yang bisa kita baca sebagai sebuah memoar, Pram menuangkan banyak gagasan. Termasuk soal pemindahan ibukota ke Kalimantan.

Dan dia setuju gagasan itu.

Kepada para buangan, di Pulau Buru, didatangkan penceramah agama dan propagandis yang mencecoki dengan doktrin-doktrin Orde Baru, penguasa kala itu.

Kritik Pram: ceramah agama yang ia dengar tak beranjak dari bahan-bahan yang sudah ia dengar di surau-surau di kampung pada masa kecilnya. Soal surga dan neraka. Dan dia bosan. Sesekali tak tahan juga dia untuk tak mengingatkan pengkhotbah yang disebutkan Pram “lebih tua sedikit dari anakku”.

Adapun terhadap indoktrinasi pembangunanisme Orde Baru Pram diam-diam mencatat gagasan tandingan.

Banyak hal menarik dari gagasan Pram. Ia menulis bahwa sudah sejak lama punya gagasan bahwa sedikitnya sebanyak dua puluh juta penduduk Jawa harus pindah ke luar Jawa setiap sepuluh tahun.

Pram memang mempersoalkan kependudukan di Jawa. Penyebaran penduduk yang tidak merata. Tapi ia tak setuju transmigrasi.

ilustrasi

Katanya, “…cara mentransmigrasi yang kurang manusiawi, kurang human, dan kurang bermartabat bagi suatu bangsa yang merdeka, yang pernah berevolusi, semestinya dihentikan.”

Cara itu, kata Pram, mengganggap orang yang harus ditransmigrasikan sebagai orang yang sudah tidak mampu cari penghidupan di Jawa, dianggap sebagai buangan sosial, kemudian disekop dan dilemparkan ke seberang got.

Menumpuknya penduduk di Jawa adalah ekses dari ratusan tahun ma­sa penjajahan. Pram mengkritik ke­ras kebijakan yang terpusat di Jawa, alias Jawa-Centris. Itu warisan Hindia Belanda, katanya.

Belanda kala itu menganggap Jawa adalah penentu. Ketika Pram menuliskan pendapatnya itu, di tahun-tahun akhir pengasingannya, 1975, Indonesia sudah tiga puluh tahun merdeka.

Dan warisan kesalahan Hindia Belanda itu tetap dipakai.

Padahal di akhir kekuasaan Hindia Belanda itu sendiri sudah ada koreksi. Jika Maluku adalah masa lalu, Jawa masa kini, maka Sumatera adalah masa depan.

Jawa menanggung beban berat dan semakin berat, jika tak ada kebijakan radikal untuk melepaskannya dari tekanan perkembangan yang tak tertanggungkan pulau yang hanya meliputi 6,8 persen luas wilayah Indonesia ini.

Kalkulasi Pram benar. Penduduk Indonesia berjejal di satu pulau. Sekitar 57 persen orang Indonesia ada di Jawa (sensus 2010).

Berdasarkan proyeksi penduduk Indonesia (2015-2045) menurut hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015, jumlah penduduk Indonesia pada 2019 akan mencapai 266,91 juta jiwa.

Sekitar 150 juta orang (56% lebih) berada di Pulau Jawa. Persentase yang tak bergeser banyak setelah sembilan tahun.

Pramoedya Ananta Toer

Artinya, beban ekologis-demografis Jawa semakin berat. Semua urusan bisa jadi soal besar. Urusan mudik orang di Jawa tiap tahun menguras energi dan perhatian nasional. Kehilangan lahan produktif akibat tekanan pertumbuhan penduduk semakin melaju.

Maka, kata Pram, untuk mengatasi kependudukan di Jawa hanya bisa ditempuh dengan pemikiran, sikap dan cara revolusioner.

“Bila tidak, dalam setengah abad mendatang, biar gunung-gunung tidak meledak dan banjir-banjir tidak mengamuk, Jawa sudah sulit ditinggali lagi, karena kompleknya persoalan,” ujar Pram.

Ketika Pram menulis gagasannya itu, dalam pembuangannya di Pulau Buru, 30 tahun sudah Indonesia merdeka. Ia menilai saat itu pun Sumatera sudah menjadi “masa lalu”, bukan “masa kini”, apalagi “masa depan”.

Masa depan itu, bagi Pram, adalah Kalimantan. Keluasannya. Kekayaan sumber alamnya. Tapi yang penting, apabila ibukota dipindahkan ke Kalimantan, pikiran yang Jawa-Centris akan lenyap.

“Bukan hanya membuka kemungkinan baru, juga akan membuka dimensi baru, meninggalkan kesempitan ruang, pandangan dan sikap jiwa yang sempit, dan menggantikannya dengan yang lebih besar dan luas,” ujar Pram.

Kita tahu, Kalimantan itu pulau dengan wilayah terluas di Indonesia, meliputi 28,5 persen wilayah Indonesia.

Jika ibukota dipindahkan, maka perpindahan penduduk pun akan terjadi dengan sendirinya. Mengikuti pusat pertumbuhan baru itu.

Saya setuju dengan apa yang dipikirkan oleh Pram, 44 tahun lalu itu.

Pusat pertumbuhan baru harus dikebut, diciptakan di luar Jawa. Termasuk dengan keputusan besar memindahkan ibukota.

Selain itu, kita juga sudah membaca kabar pemerintah yang menetapkan sepuluh kota (enam di luar Jawa, empat di Jawa) sebagai pusat pertumbuhan baru.
Demi meralat Jawa-Centrisme, warisan penjajah itu. Demi memeratakan kemajuan di Indonesia (hah)

Dirazia, Kesadaran Pajak Meningkat

0

batampos.co.id – Kegiatan operasi patuh seligi yang digelar gabungan oleh Polres Natuna mendapat respon positif dari pemilik kendaraan. Tidak hanya memberikan kesadaran tertib berlalu lintas, sadar pajak kendaraan pun meningkat.

Kepala Kantor Pelayanan Pajak Daerah (KPPD) Natuna, Alpiuz Zamri mengatakan, kegiatan operasi ini sangat membantu pemerintah meningkatkan penerimaan pajak kendaraan. Dan kantor pajak siap jemput bola membantu masyarakat mengurus pajak kendaraan.

”Melalui operasi patuh seligi ini kami ingin mempermudah masyarakat membayar pajak kendaraan. Kalau wajib pajak tidak sempat, kita siap membantu dengan cara menguruskannya langsung. Mereka bisa membayar di lokasi operasi,” ujarnya, Jumat (30/9).

Seperti diketahui, Polres Natuna sudah melaksanakan operasi patuh seligi dengan sasaran ketertiban lalu lintas di jalan raya dengan melibatkan TNI AD, AL, AU, KPPD dan Dishub Kabupaten Natuna.

Kasat Lantas Polres Natuna, Iptu Zubaidah mengatakan, kegiatan operasi berjalan lancar.

Bahkan petugas dilapangan tidak menemui kendala, karena pengendara cukup tertib berlalu lintas.

”Operasi ini untuk penertiban pengendara di jalan raya agar meminimalisir angka kecelakaan jalan raya,” ujarnya.

Target Operasi Patuh Seligi 2019 diantaranya, pengemudi di bawah umur, pengemudi melawan arus, pengendara bermotor roda dua yang berboncengan lebih dari satu. Tidak gunakan helm SNI, pengendara di bawah pengaruh alkohol atau narkoba, dan pengendara menggunakan ponsel serta sabuk pengaman.

”Kendaraan kebut-kebutan di jalan raya juga menjadi sasaran operasi. Sebelumnya ada beberapa kendaraan ditilang karena tidak gunakan helm,” sambungnya.(arn)

Nizar Kagum Keindahan Pulau Napau

0

batampos.co.id – Wakil Bupati Lingga M Nizar berencana akan mendesain Pulau Napau sebagai salah satu destinati wisata di Kabupaten Bunda Tanah Melayu. Diharapkan pulau ini menjadi pendongkrak kunjungan wisata ke depan. Hal ini disampaikan Nizar saat menghadiri kegiatan Festival Napau Beach (FNB) di Kecamatan Singkep Selatan, Sabtu (31/8/2019) pagi.

Kesempatan itu, Nizar memuji keindahan pantai dan alam di Pulau Napau. Tentu hal ini akan menjadi perhatian pemerintah daerah. Di mana harus dikelola secara lebih baik lagi, sehingga menjadi salah satu destinasi wisata yang diperhitungkan di Pulau Singkep.

“Pemandangan batu-batu disini begitu indah, pantainya bagus dengan hamparan yang luas, jika telah dilakukan pembangunan objek wisata ini, tentunya akan dapat meningkatkan PAD,” kata Nizar.

Untuk itu, Nizar juga memberikan apresiasi kepada panitia FNB yang telah bersusah payah mengadakan kegiatan ini. Melalui kegiatan ini menjadikan Pulau Napau dikenal banyak orang, serta memikat minat para pelancong untuk mengunjungi Pulau Napau.

Wakil Bupati Lingga M Nizar bersama FKPD melepasliarkan tukik, pada kegiatan Festival Napau Beach (FNB) di Kecamatan Singkep Selatan, Sabtu (31/8) pagi.

Kegiatan FNB ini telah berlangsung sejak 24-31 Agustus 2019, diisi dengan beragam kegiatan maupun perlombaan. Untuk perlombaan, mulai dari panjat pinang, mencari remis hingga perlombaan rakyat lainnya yang juga disejalankan memeriahkan hari kemerdekaan ke-74 RI.

Sedangkan pada puncak perayaan, digelar sejumlah perlombaan yakni, lomba layang-layang, lomba menembak, lomba sampan layar, lomba melukis dan kegiatan melepaskan tukik oleh sejumlah pejabat seperti Kapolres Lingga, Wakil Bupati Lingga, Danlanal Dabo Singkep, Letkol Laut (P) Arif Rahman, OPD, serta masyarakat.

Kegiatan tersebut dibuka dengan ditandai pemukulan gong oleh Kapolres Lingga AKBP Joko Adi Nugroho dan disambut dengan tepuktangan meriah dari seluruh pejabat dan warga yang turut menyaksikan pembukaan kegiatan tersebut. (wsa)

Batam Butuh 200 Bin Container

0

batampos.co.id – Sarana persampahan di Batam masih sangat kurang. Padahal sebagai daerah yang kini dikembangkan pariwisatanya, Batam perlu didukung jaminan kebersihan kota.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam Herman Rozie menyebutkan, salah satu sarana yang kini masih kurang adalah bin kontainer. Data dari bidang persampahan DLH Batam kini hanya ada sebanyak 145 bin container. Sementara Herman menyebutkan, idealnya Batam membtuhkan sekitar 200 bin container.

“Kami di APBD Perubahan 2019 ini rencana tambah 20 bin lagi. Ini masih sangat kurang. Itu saya bilang butuh sekitar 200an unit,” kata Herman, kemarin.

Selain pengadaan bin, DLH juga berencana mengadakan satu unit buldozer untuk ditempatkan di TPA Telaga Punggur. Pengadaan dua jenis sarana ini bersumber dari anggaran tambahan di APBD Perubahan sebesar Rp 4,3 miliar.

foto: batampos.co.id / sapna

“Anggaran ini cukup termasuk operasional buldozer, kalau harga buldozer Rp 3 miliar dan 20 bin container cuma berapa ratus juta,” papar dia.

Kepala Bidang Persampahan Faisal Novrieco menyebutkan, 145 bin kontainer yang kini dioperasikan disebar di sembilan kecamatan mainland. Artinya tidak ada di kecamatan hinterland seperti Bulang, Galang dan Belakangpadang.

“Ini jumlah yang laik pakai dan laik jalan,” kata dia.

Lanjut dia, selaibn bin yang laik, ada 20 bin kontainer yang rusak berat dan tidak bisa dioperasikan. Rusak berat seperti sudah bolng, pintu rusak serta roda bin yang sudah patah.

“Yang ini kami masukkan ke workshop TPA untuk direparasi,” pungkasnya. (iza)