batampos.co.id – Thailand berencana menjadi negara pertama di Asia yang melegalkan ganja untuk keperluan medis dan sekaligus memanfaatkan pasar ganja yang sedang berkembang, demikian Agence France-Presse melaporkan seperti dikutip TIME.
Menurut seorang pejabat Thailand, rancangan RUU sekarang di bawah pertimbangan mengusulkan memungkinkan ganja untuk tujuan pengobatan, perubahan yang cukup besar di negara dengan undang-undang perdagangan narkoba yang ketat.
Jet Sirathraanon, ketua komite kesehatan masyarakat dari Majelis Legislatif Nasional Thailand, menekankan bahwa mariJuana akan legal “untuk pengobatan saja, bukan untuk rekreasi.”
Namun dia menambahkan bahwa melegalkan obat itu bisa menjadi keuntungan ekonomi dan “kesempatan bagi orang Thailand.”
Pasar ganja medis global bisa mencapai $ 55,8 miliar pada 2025, menurut analisis yang diterbitkan tahun lalu oleh Grand View Research.
Jet mengharapkan Thailand bisa meraih pangsa pasar multi-miliar dolar dengan apa yang ia sebut sebagai “ganja terbaik di dunia.”
Selama tahun 1980, Thailand adalah salah satu eksportir terbesar di dunia ganja, Bloomberg melaporkan.
Langkah ini akan memungkinkan Thailand untuk mengambil keuntungan dari industri yang berkembang pesat, yang menjanjikan untuk membantu pasien yang menderita kondisi seperti radang sendi, migrain dan kanker.
Thailand akan bergabung dengan kelompok bangsa yang sedang berkembang adalah obat ini legal untuk penggunaan medis, termasuk Australia, Jerman, Israel dan Kanada. Tetangga utara Amerika baru-baru ini melegalkan ganja untuk penggunaan rekreasi,dan memaafi mereka yang dihukum karena kepemilikan ganja di masa lalu. Ganja medis saat ini legal 31 negara bagian AS, Distrik Columbia, Guam dan Puerto Riko, menurut Konferensi Nasional Negara Legislatif.
Untuk saat ini, ganja tetap ilegal di Thailand, dengan hukuman berat bagi mereka yang dihukum karena perdagangan narkoba. Seorang penyelundup terkemuka dari negara tetangga Laos dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di Bangkok pada Maret, AFP melaporkan. Dia awalnya telah menghadapi hukuman mati.
Junta militer Thailand yang berkuasa sebelumnya telah memperdebatkan reformasi narkoba tanpa banyak keberhasilan, dan penjara negara itu penuh sesak dengan orang-orang yang dihukum karena pelanggaran narkoba kecil.
Thailand juga bukan satu-satunya negara di kawasan itu yang mengamati reformasi ganja dan mungkin memiliki persaingan di Korea Selatan.Seoul juga telah mulai mengamandemen undang-undang narkotika untuk melegalkan impor produk marijuana medis, Korea Herald melaporkan pada bulan Juli. (*)
Sejumlah pesawat dari beberapa maskapai penerbangan menurunkan dan menaikkan penumpang di Bandara Hang Nadim Batam, Selasa (30/10/2018). F. Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos.co.id – Tender revitalisasi Bandara Internasional Hang Nadim beberapa kali tertunda, akibat masih banyaknya kontraktor yang berminat dan meninjau ke Hang Nadim.
Namun, akhir Desember ini direncanakan kembali pelaksanaan tender tersebut. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) Hang Nadim, Suwarso.
“Rencananya memang Desember ini kami laksanakan tendernya,” katanya, Kamis (1/11/2018).
Ia mengatakan dari data terakhir yang didapatnya, terdapat sebanyak 12 perusahaan yang berminat membangun Bandara Internasional Hang Nadim. Sebanyak 10 perusahaan berasal dari luar negeri dan 2 perusahaan dari dalam negeri.
“Kalau luar negeri itu ada dari Korea, Jepang dan Prancis,” ucapnya.
Pembangunan Hang Nadim, kata Suwarso masih sesuai dengan rencana semula dari BP Batam. Dari semua rencana itu, ada dua prioritas yang akan dilaksanakan BP Batam yakni pembangunan Terminal II dan pergudangan Bandara Internasional Hang Nadim.
Saat ditanya, kapan waktu pelaksanaan pembangunan Hang Nadim. Suwarso menuturkan masih belum mengetahui jadwal pastinya.
“Bisa awal tahun, pertengahan, atau akhir. Pokoknya tahun 2019,” tuturnya.
Pembangunan Terminal II Hang Nadim ini, nantinya dioperasikan untuk penerbangan domestik. Sementara itu terminal lama dioptimalkan melayani penerbangan internasional. Pembangunan terminal ini memakan biaya sekitar Rp 448 juta dolar Amerika. Terminal II Hang Nadim direncanakan memiliki 8 garbarata atau belalai gajah. Sehingga dapat mengakomodir pesawat lebih banyak dibandingkan terminal lama, yang hanya memiliki 6 garbarata saja.
Selain pembanguan terminal, BP Batam juga berencana membangun kargo (pergudangan). Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan kargo yang canggih serta modern itu sekitar 228 juta dollar Amerika.
Pembangunan ini, diharapkan Hang Nadim menjadi Kota Logistik. Sehingga meningkatkan perekonomian Batam khususnya, Indonesia umumnya. (ska)
Perhelatan Berkelas Perkenalkan Beragam Fashiondan Kuliner Khas Indonesia. (Bobi/JawaPos.com)
batampos.co.id – Batam International Fashion & Food (BIFF) 2018 diselenggarakan di Mal Pelayanan Masyarakat Batam yang berlokasi disebelah pelabuhan internasional, Batam Center pada tanggal 2-4 November 2018.
Kegiatan ini menampilkan beragam kekayaan budaya Indonesia serta menghadirkan festival Mode dan festival Makanan terbesar. Ajang BIFF 2018 merupakan ajang yang menampilkan tren fashion baik lokal maupun Internasional sekaligus memperkenalkan kuliner khas Indonesia yang ada di Kepri.
Ajang yang telah memasuki penyelenggaraan tahun ke-4 ini juga memiliki tujuan mendorong promosi untuk Indonesia agar masyarakat Internasional maupun ASEAN semakin mengenal dengan beragam fashion dan kuliner khas Indonesia.
Melalui ajang ini juga diharapkan merangsang pertumbuhan industri kreatif yang menopang pariwisata makin hidup, sektor
pariwisata juga semakin bergairah dan ujungnya pendapatan masyarakat ikut terangkat.
Christine Besinga perwakilan PT. ENCRO selaku Panitia Penyelenggaraan BIFF 2018 mengatakan, ajang ini menampilkan beberapa perancang busana ternama dari tanah air Indonesia maupun negara lain, yang bertujuan untuk meningkatkan minat para negara tetangga kepada Indonesia dan wisatawan internasional khususnya datang ke kota Batam.
Selain ingin mengangkat brand lokal tanah air, juga diharapkan bisa mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara untuk datang ke Indonesia melalui Batam.
“Ajang ini menyajikan berbagai fashion dan kuliner yang memiliki cita rasa yang khas sehingga dapat menarik perhatian para fashionista, penggemar kuliner serta seluruh pengunjung yang hadir,” kata Christine di sela acara pada Jumat (2/11/2018).
Ajang BIFF 2018 menampilkan tren terbaru di bidang mode dan koleksi dari desainer terkemuka Indonesia serta aneka ragam kuliner Nusantara, ajang BIFF 2018 juga dikemas dengan berbagai kegiatan menarik seperti talkshow, fashion show, festival hijab, pameran, kompetisi model, lomba make up, bazaar makanan, pertunjukan seni budaya dan lainnya.
batampos.co.id – Tim SAR gabungan belum berhasil menemukan bagian pesawat Lion Air PK-LQP yang utuh. Hingga hari kelima pencarian, bagian pesawat berukuran besar yang didapat baru berupa satu roda dan satu mesin turbin.
“Sampai saat ini belum ditemukan yang utuh bagian pesawat itu. Semua berkeping-keping. Turbin sama roda ini saja yang termasuk besar. Turbin baru satu, roda juga baru satu,” kata Dansatgas SAR Lion Air JT 610 Kolonel Laut (P) Isswarto saat dikonfirmasi, Jumat (2/11/2018).
Menurutnya, roda pesawat yang ditemukan kemarin telah diangkat ke Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Banda Aceh-593 hari ini. Sedangkan, turbin pesawat yang baru ditemukan hari ini sedang dalam proses koordinasi pengangkatan menggunakan alat berat dan telah ditandai lokasi penemuannya.
“Baru ketemu tapi pengangkatan belum karena berat. Ini tinggal angkat saja ini,” tutur dia.
Isswarto menerangkan, proses pencarian di area yang sudah dipersempit tidak mengalami kendala yang begitu berarti. Meski ombak cukup tinggi jika dibandingkan hari-hari yang lalu, kondisi tersebut masih aman dan baik untuk dilakukan penyelaman.
“Ini biasa, masih aman, bagus, untuk menyelam. Hanya sebentar lagi kan gelap, matahari sudah mau tenggelam. Dihentikan mungkin setengah lima (sore),” jelasnya.
Sebelumnya, kotak hitam pesawat Lion Air JT 610 telah berhasil ditemukan. Proses pengevakuasian kotak hitam tersebut telah dilakukan dan sudah diserahkan ke pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Kotak hitam tersebut merupakan flight data recorder (FDR). Sedangkan kotak hitam lainnya, cockpit voice recorder (CVR), masih dalam proses pencarian.
Tiga Sukhoi dari Skuadron 11 Makassar saat parkir di Bandara Internasional Hang Nadim, Selasa (301/10). Pesawat Sukhoi yang berada di Bandara Internasional Hang Nadim ini dalam rangka Operasi Tangkis Petir. F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos.co.id – Komandan Lanud Raja Haji Fisabilillah, Kolonel Pnb Dadan Gunawan menyiapkan tim taktis untuk menghadapi aksi forcedown pesawat asing selama pelaksanaan Operasi Pertahanan Udara Tangkas Petir dari 29 Oktober hingga 7 November.
Dadan mengatakan tim taktis yang disiapkan terdiri dari unsur Pom AU, Paskhas, PLLU, Intel, Kesehatan, serta bekerja sama dengan Bea Cukai, Imigrasi, Karantina, serta Pemadam Kebakaran Bandara.
“Tim taktis ini disiapkan untuk mendukung tindakan forcedown,” kata Kolonel Pnb Dadan Gunawan, Kamis (1/11/2018).
Namun sejauh ini, Dadan menuturkan hingga kini masih belum ada tindakan forcedown. Selama tiga hari pelaksanaan operasi, pesawat tempur dari Skuadron 11 Makassar hanya melakukan pengusiran untuk menghalau pesawat asing keluar wilayah Indonesia.
“Tanggal 30 Oktober itu satu, lalu kemarin (31/10) satu juga. Untuk kemarin kami berhasil identifikasi, pesawat sipil milik India. Mereka kami halau keluar,” ungkapnya.
Pelaksanaan Operasi Pertahanan Udara Tangkis Petir di melibatkan 2 unit pesawat tempur Sukhoi SU-30, 1 unit Sukhoi SU-27 dari Skadron 11 Lanud Sultan Hassanudin Makasar, 1 Unit Helicopter EC 725 Caracal dari Lanud Atang Sendjaja Bogor, 1 Pleton Paskhas, tim teknik, PLLU, Satrad 213 Bintan, serta tim Pendukung dari Lanud Raja Haji Fisabilillah.
Sebelumnya, Asissten Operasi Kohanudnas Kolonel Pnb Yosta Riza mengataka operasi ini kegiatan rutin yang diadakan TNI AL setiap tahunnya.
“Operasi ini mulai dari 2 Januari hingga 31 Desember. Namun, setiap periodenya lokasi operasi dilaksanakan di daerah yang berbeda-beda,” ucapnya.
Sasaran operasi ini mengamankan wilayah Indonesia dari objek-objek asing yang tidak memiliki izin dan melanggar prosedur.
“Ini bentuk TNI AU menjaga kedaulatan wilayah NKRI,” ungkapnya. (ska)
batampos.co.id – Dian Marjuko, nelayan yang ditabrak kapal Patroli Singapura karena melewati wilayah perbatasan masih terbaring di Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam.
”Korban menderita patah tulang akibat hantaman kapal patroli Singapura,” kata Lurah Sekanak Raya, Amirkasim, Kamis (1/11).
Ia menjelaskan, Dian ditabrak saat memancing dan melewati perbatasan beberapa meter. Kapal patroli langsung mengejar, korban sempat lari namun ditabrak.
”Kami sudah lapor ke AL (Angkatan Laut) dan sudah ditindaklanjuti. Namun seperti apa itu kami tetap menunggu,” sebutnya.
Amir menyebutkan warga Pulau Lengkang memang sering memancing di daerah perbatasan, namun kemarin merupakan kejadian yang tidak sengaja sampai nelayan melewati batas hingga beberapa meter dan dianggap melanggar perbatasan.
”Saya sudah imbau warga untuk memperhatikan perbatasan saat memancing. Saya tidak mau warga Pulau Lengkang menjadi korban serupa,” harapnya.
Amir mengaku belum bisa membezuk korban karena terbentur jam bezuk. Namun, menurut keterangan keluarga saat ini kondisinya sudah mulai membaik karena perawatan.
”Sore (kemarin, red) saya rencana mau bezuk lagi. Nanti kami juga ada rencana ke perwakilan Singa-pura yang ada di Batam,” ujarnya.
Direktur Polisi Perairan (Dirpolair) Polda Kepri, Kombes Benyamin Sapta membenarkan seorang nelayan Indonesia ditabrak kapal Singapura. Menurutnya, setelah mendapatkan informasi terkait dengan laka laut itu, anggotanya telah melakukan pengecekan ke lokasi tabrakan itu. Namun, sesampai di lokasi korban kecelakaan sudah dibawa ke RSBP oleh beberapa orang nelayan lainnya.
”Akhirnya anggota ke situ (RSBP, red). Setelah dicek oleh anggota, lokasinya (tabrakan) itu masuk ke wilayah Singapura. Wilayah dia (korban, red) mancing itu di wilayah Singapura dan ada korbannya atas nama Dian Marzuki,” tuturnya.
Saat di RSBP, pihaknya juga meminta keterangan dari beberapa orang saksi. Dari keterangan yang didapatkan, Dian tidak sendiri saat memancing di perairan Singapura, melainkan bersama tujuh orang nelayan lainnya dengan menggunakan speed boat kecil.
”Setelah kami mintai keterangan, ditanya-tanya dan diinterogasi, mereka itu ternyata tahu kalau mereka itu mancing di wilayah Singapura,” jelasnya.
Dilanjutkannya, dari keterangan beberapa nelayan lainnya yang berada di lokasi mengatakan bahwa mereka sebelumnya sudah dihalau oleh kapal Marine Police Singapura karena dianggap masuk ke wilayah Singapura dan lari ke perairan Outer Port Limit (OPL).
Setelah diusir oleh kapal Singapura, para nelayan ini kembali lagi masuk ke perairan Singapura.
”Yang lainnya kabur, salah satunya ini mungkin ketinggalan atau gimana, akhirnya tertabrak. Yang bawa kapal atas nama Dian. Kawannya juga yang bawa Dian ini ke rumah sakit,” bebernya.
Benyamin menegaskan pihaknya tidak punya kewenangan untuk menangani kasus ini. Untuk itu, ia meminta kepada nelayan untuk selalu memperhatikan batas wilayah dalam melakukan pencarian ikan dan jangan sampai masuk ke dalam wilayah orang lain.
”Sebetulnya mereka (nelayan, red) tahu wilayahnya. Cuma karena tidak ada yang jaga dan tak ada polisi di sana, mungkin ikan lebih banyak di sana jadi mereka ambil ikan di sana. Sama seperti kapal Vietnam yang kita tangkap di perairan kita, jadi yang berlaku hukum di wilayah sini,” bebernya.
Ia menambahkan, mengenai kejadian ini pihaknya akan menyurati atau memberikan pemberitahuan ke Konsulat Singapura yang ada di Batam maupun langsung ke pemerintah Singapura untuk tidak menabrak kapal nelayan Indonesia yang masuk ke wilayah teritorial mereka. Masih banyak cara manusiawi yang bisa dilakukan, salah satunya menghalau agar kembali ke perairan Indonesia.
”Kalau ada kejadian seperti ini atau kalau misalnya ada nelayan kita yang masuk wilayah mereka diusir sajalah. Kira-kira seperti itu,” imbuhnya. (gie/une/yui)
batampos.co.id – Kenaikan harga ayam potong segar hingga mencapai Rp 40 ribu per kilogram (kg) dalam dua pekan terakhir, ternyata juga diikuti komoditas lainnya seperti sayur mayur. Kenaikannya cukup tinggi, Rp 4 ribu hingga Rp 8 ribu per kilogram (kg)-nya.
Pantauan Batam Pos, sejumlah komoditas sayur mayur yang mengalami kenaikan seperti kol, wortel, tomat, timun, terong, dan buncis. Murni, pedagang sayur mayur di Pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji, menyebutkan komoditas sayur mayur tersebut rata-rata dijual Rp 14 ribu hingga Rp 18 ribu per kg. Padahal, sebelumnya ia masih bisa menjual di bawah Rp 10 ribu kg.
Tidak hanya itu, harga cabai merah keriting juga terus merangkak naik. Saat ini dijual di kisaran Rp 46 ribu hingga Rp 52 ribu per kg, tergantung kualitasnya. Sedangkan harga cabai setan mencapai Rp 70 ribu per kg, cabai rawit hijau Rp 40 ribu per kg.
”Untuk harga cabai merah masih sangat mahal. Harganya masih di kisaran Rp 52 ribu per kg,” kata Murni, Kamis (1/11).
Murni mengatakan kenaikan sejumlah komoditas sayur mayur tersebut sudah terjadi tiga minggu belakangan ini. Untuk harga cabai sendiri sudah satu bulan harganya tidak pernah turun. ”Pembeli banyak yang marah-marah karena harga selalu naik,” keluh Murni.
Terkait tingginya harga sayur mayur, ia mengaku tidak mengetahui penyebab pasti. Hanya saja ia menduga faktor cuaca karena musim hujan jadi pemicu kenaikan sejumlah kebutuhan tersebut.
”Barang yang naik ini dikirim dari Jawa, Mataram, dan Medan. Mungkin karena cuaca sedang musim penghujan, pengirimannya jadi terlambat dan imbasnya harganya naik. Sebab harga sayur lokal hijau seperti kangkung, bayam, dan sawi tidak ikut naik, masih normal saja,” ungkapnya.
Wahyuni, pedagang sayur lainnya juga mengaku jika beberapa komoditas di pasar alami kenaikan.
”Musim hujan memang pengaruhi harga barang. Contohnya cabai, lama saja di dalam kapal barangnya pasti busuk dan itu yang bikin harganya naik,” jelasnya.
Seorang warga saat memilih sayuran yang dijual di Pasar Mega Legenda Batamcenter. F Cecep Mulyana/Batam Pos
Edi, yang juga berdagang sayur mayur dan cabai di Pasar Fanindo mengatakan, sejak sebulan terakhir harga sayuran tidak menentu. Memang, kata dia, harga dari pemasok juga mengalami kenaikan.
Ia menduga kenaikan harga ini dipengaruhi oleh rendahnya tingkat panen petani karena saat ini sudah memasuki musim hujan.
”Harga sayur dan cabai memang tidak menentu, dari pemasok Jawa dan Medan itu harganya selalu tinggi,” ujarnya.
Sementara itu, untuk harga ayam potong segar hingga kemarin juga masih terpantau mahal. Di Pasar Fanindo Batuaji, harga ayam potong lokal ini dijual Rp 40 ribu per kg.
Tidak hanya di Pasar Fanindo Batuaji, kenaikan harga komoditas tersebut juga terpantau naik di sejumlah pasar tradisional lainnya di Batam, seperti di Sagulung. Semua jenis cabai rata-rata mengalami kenaikan harga sekitar Rp 10 ribu setiap kilogramnya.
Di pasar basah SP Plaza, misalnya, cabai merah kriting dijual Rp 55 ribu per kg atau naik sebesar Rp 10 ribu dari sebelumnya yang hanya Rp 45 ribu per kg. Sedangkan cabai setan naik menjadi Rp 70 ribu per kg dari sebelumnya Rp 60 ribu per kg. Begitu juga cabai rawit hijau yang kini harganya naik menjadi Rp 35 ribu-Rp 40 ribu per kg.
Izul, pedagang sembako di pasar basah SP Plaza mengatakan, kenaikan tertinggi terjadi sejak dua pekan terakhir. Dia meyakini harga cabai akan semakin pedas di bulan November ini.
”Harga cabai kriting yang selalu naik. Kalau cabai merah setan sekarang Rp 70 ribu per kilonya, orang beli paling ya satu ons saja,” ujar Izul
Terkait harga cabai yang tidak pernah stabil itu, Izul mengaku tidak tahu penyebabnya. Yang jelas, kata dia, harga dari pemasoknya sudah tinggi. Kebanyakan cabai tersebut kiriman dari Jawa dan Sumatera seperti Medan.
Menurut Izul, tingginya harga cabai ini berdampak pada tingkat daya beli masyarakat. Kata dia, rata-rata pembeli mengurangi konsumsi cabai karena harganya dinilai terlalu mahal.
”Yang biasa beli setengah kilo, kini hanya seperempat kilo saja,” sebutnya. (yui)
batampos.co.id – Ditaburnya bunga rampai oleh Wali Kota Batam, Muhammad Rudi sebagai tanda dimulainya Kenduri Seni Melayu (KSM) ke-20, Kamis (1/11/2018) malam di Dataran Engku Putri.
Rudi bersama istri, Marlin Agustina Rudi, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad beserta istri, Erlita Sari Amsakar, Ketua LAM Kota Batam, Nyat Kadir, Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata RI, Esthy Reko Astuti, Wakil Ketua DPRD Kota Batam, Zainal Abidin bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) Kota Batam, dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemko) Batam turut menaburkan bunga rampai sebagai bentuk dukungan terselenggarannya KSM ke-20 tahun 2018.
KSM yang digelar Pemko Batam ini merupakan rangkaian acara Hari Jadi Batam (HJB) ke-189 yang jatuh pada 18 Desember 2018. Perhelatan akbar ini diikuti oleh peserta dari Negara Serumpun seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, Brunei Darusalam, Thailand, Jerman, India dan Tiongkok.
Wali Kota Batam Muhammad Rudi bersama istri Marlin Agustina Rudi, Wakil Wali Kota Amsakar Achmad dan istri Erlita Sari Amsakar, Ketua LAM Batam Nyat Kadir, Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kemenpar Esthy Reko Astuti, Wakil Ketua DPRD Batam Zainal Abidin, FKPD Kota Batam, dan OPD Pemko Batam, menabur bunga rampai menandai dimulainya KSM ke-20 di Dataran Engku Putri, Kamis (1/11/2018) malam.
Tampilkan Keindahan Seni Budaya Serumpun
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata menyampaikan KSM menampilkan keindahan seni budaya Melayu serumpun yang diramu bertonggak Melayu. Peserta hadir untuk merajut kebersamaan dan gemilang budaya serumpun.
”Terima kasih setinggi-tingginya kepada Wali Kota, Wakil Wali Kota, DPRD Kota Batam, Kementerian Pariwisata dan Provinsi Kepri yang mendukung sehingga terlaksananya kegiatan tahunan ini yang di tahun 2018 ini merupakan KSM ke-20,” sebut Ardi.
KSM 2018 yang berlangsung sejak Kamis (1/11) hingga Sabtu (1-3/11) besok menampilkan gasing, puisi, lukis, tari, dan sebagainya.
Menteri Pariwisata, Arief Yahya yang diwakili Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural, Esthy Reko Astuti mengucapkan terima kasih atas terlak-sananya KSM ke-20 tahun 2018 ini. Ia mengatakan KSM meru-pakan salah satu calender of event pariwisata Kota Batam yang masuk ke dalam kalender event nasional dari Provinsi Kepri.
Kata Esthy, yang membuatnya bangga adalah KSM menjadi trending topic yang dibahas melalui Twitter dan sudah berada di urutan ketiga.
”KSM ini sangat luar biasa karena dari enam kalender wisata di Kepri, salah satunya KSM berhasil masuk menjadi trending topic pesona wisata Indonesia. Untuk masuk calender event ini seleksinya cukup selektif, karena di sana ada budayawan, media, dan enam kurator nasional,” sebutnya.
Esthy juga mengucapkan selamat HJB ke-189. Meski usia Batam sudah tidak muda namun dia memuji tampilan Kota Batam yang tampil muda.
Kepada peserta ia mengucapkan selamat datang di Kota Batam dan selamat berkompetisi. Harapannya target kunjungan wisatawan mancanegara yang dicanangkan Presiden RI, Joko Widodo pada tahun 2019 sebanyak 20 juta bisa tercapai.(ryh)
batampos.co.id – Dikisahkan seorang nelayan Batam mengalami kecelakaan di laut.
Adalah Dian Marzuki, 28, asal Pulau Lengkang, Kelurahan Sekanak Raya, Kecamatan Belakangpadang, Batam, Kepulauan Riau (Kepri) yang kecelakaan.
Dian mengalami patah kaki kiri setelah perahu kecilnya ditabrak Marine Police Singapura. Insiden terjadi di perairan internasional atau Out Port Limit (OPL), Rabu (31/10/2018).
Saat ini korban telah mendapat perawatan di Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam (RSBP), Kecamatan Sekupang, Batam. Perahu milik korban yang mengalami rusak berat juga telah dibawa menuju Belakangpadang.
Camat Kecamatan Belakangpadang Asraf Ali mengaku tidak mengetahui secara pasti kenapa perahu milik Dian sampai ditabrak. Namun apa yang dilakukan petugas negara tetangga itu sangat disayangkan karena mengancam keselamatan orang lain. “Kapal milik nelayan kami pecah. Korban juga mengalami patah kaki. Untung bisa diselamatkan,” kata Asraf ketika dihubungi, Kamis (1/11/2018).
Kapolsek Belakangpadang AKP Ulil Rahim menjelaskan, korban bersama beberapa nelayan memancing ikan di daerah Pulau Sekijang sebelum ditabrak. Perairan tersebut sudah memasuki wilayah laut Singapura.
Melihat adanya kapal patroli Singapura, korban bersama nelayan lain kemudian bergeser menjauh menuju kawasan OPL. Namun kapal patroli tetap melakukan pengejaran hingga akhirnya menabrak perahu berbahan fiber milik Dian yang ketika itu telah berhenti.
Karena mengalami benturan keras, bagian kiri kapal milik Dian rusak parah. Sementara korban terpental ke laut dengan luka di bagian punggung dan mengalami patah di kaki kirinya. Beruntung ada nelayan lain yang langsung menolong Dian.
“Karena sudah berada di OPL, korban berhenti. Tapi tetap ditabrak,” beber Ulil.
Polisi Singapura Menyangkal
Police Coast Guard Singapura (PCG) menyangkal kabar itu.
“Kapal PCG dilengkapi dengan CCTV, yang tidak menangkap tabrakan. Pemeriksaan teknis kapal PCG juga sama sekali tidak menunjukkan indikasi tabrakan,” kata polisi dalam sebuah pernyataan seperti dilansir channel news asia.
Menurut polisi, perahu PCG mengejar “sekelompok sampan” setelah mendeteksi mereka pada pukul 3.04 malam pada hari Rabu. Sampan secara ilegal masuk ke wilayah Singapura dan orang-orang di kapal itu sedang memancing di perairan Singapura, tambah polisi.
“Kapal PCG kemudian menyadari bahwa salah satu sampan telah terbalik di perairan Singapura. Petugas PCG mengamati bahwa seorang pria diselamatkan oleh orang-orang dari sampan lain dan bahwa sampan terbalik itu ditarik menjauh, sebelum perahu PCG bisa menjangkau mereka,” kata polisi.
“Para petugas PCG kemudian melanjutkan untuk memperingatkan orang-orang di sampan yang tersisa untuk tidak memasuki Singapura secara ilegal.” (bbi/JPG/cna)
Usianya belum genap setahun. Tapi pesona destinasi wisata digital Kampung Terih di Nongsa, Batam, sudah mendunia. Tak hanya di wilayah Asia, Kampung Terih juga dikenal sejumlah turis dari negara-negara di Eropa.
Suasana di Kampung Terih terlihat ramai, Minggu (28/10) pagi. Sejumlah remaja dengan seragam pramuka lengkap berbaris rapi di pantai Kampung Terih. Bukan di hamparan pasirnya, melainkan di perairan laut yang kedalamannya setinggi lutut para remaja itu.
Meski berbaris di air, mereka terlihat tetap khidmat menirukan kata demi kata yang diucapkan oleh seorang senior yang berdiri di bibir pantai. Kata-kata itu seperti sebuah ikrar-janji.
“Ini sedang ada pelantikan Saka Pariwisata Batam 2018,” kata Nunung Sulistiyanto, pengelola destinasi wisata digital Kampung Terih, Minggu (28/10) lalu.
Pria yang karib disapa Inung ini mengatakan, pihaknya membuka lebar-lebar pintu Kampung Terih untuk lokasi kegiatan dari pihak luar. Khususnya kegiatan yang berbau kepariwisataan dan pelestarian lingkungan hidup.
Inung kemudian menceritakan awal mula terciptanya destinasi digital Kampung Terih. Bersama komunitas Penjelajah Alam Kepri (Pari), Inung menemukan Kampung Terih ini pada awal 2017 lalu.
Kampung Terih sebenarnya merupakan satu dari 36 titik kampung tua yang di Batam. Namun kampung tua Kampung Terih ini terlihat istimewa karena posisinya yang menghadap langsung ke pusat pemerintahan Kota Batam di Batam Centre. Sehingga dari kampung ini terlihat pemandangan Kota Batam lengkap dengan gedung-gedung tingginya.
Warga mendayung sampan untuk menuju tepian pantai Terih Nongsa. F Cecep Mulyana/Batam Pos
Tak hanya itu, di Kampung Terih sendiri juga terdapat beberapa daya tarik. Seperti hutan bakau yang masih rimbun, air laut yang jernih, dan kekayaan kuliner khas Melayu dari warganya.
“Sehingga tercetus niat mengembangkan kampung tua ini menjadi destinasi wisata kekinian. Yakni jadi destinasi wisata digital,” kata Inung yang juga Ketua Umum PARI Kepri ini.
Niat Inung dan PARI ini berjalan mulus karena mendapat respon positif dari warga setempat. Kebetulan, lahan seluas 12 hektare yang kini dikelola menjadi destinasi wisata digital itu milik satu keluarga yang terdiri dari empat orang.
Setelah melalui berbagai pendekatan dan perundingan, akhirnya para pemilik lahan itu merelakan lahan mereka dijadikan daerah wisata. PARI dan para pemilik lahan kemudian bersepakat menandatangi perjanjian kerja sama. Isi perjanjian itu antara lain soal bagi hasil omset dari tiket masuk ke Kampung Terih.
Pengembangan desa wisata Kampung Terih makin pesat karena mendapat dukungan penuh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI. Dengan bantuan dana sebesar Rp 68 juta, Inung dan rekan-rekannya di PARI kemudian mulai membangun sejumlah fasilitas di Kampung Terih.
Mulai dari pelantar kayu di antara rerimbunan hutan bakau, spot-spot foto yang instagramable, hingga sarana pendukung lainnya seperti toilet dan pondok-pondok tempat bersantai pengunjung.
Singkat cerita, tepat pada 10 Desember 2017 lalu desa wisata Kampung Terih diluncurkan. Ini merupakan destinasi wisata digital ke-7 dari 30 destinasi digital di seluruh Indonesia.
Sejak saat itu, kata Inung, Kampung Terih banyak dikunjungi wisatawan. Bukan hanya turis lokal, Kampung Terih juga banyak dikunjungi turis mancanegara.
Inung mencatat, sepanjang Desember 2017 hingga Oktober 2018, sudah ada ratusan turis dari 16 negara yang berkunjung ke Kampung Terih. Mulai turis dari Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Rusia, Thailand, India, Korea, Trinidad Tobago, Polandia, hingga Ukraina.
Kemudian ada juga turis asing dari Tiongkok, Brasil, Italia, Prancis, hingga turis asal Inggris. Dari hasil ngobrolnya dengan tamu-tamu asingnya itu, kata Inung, rata-rata mereka mengetahui Kampung Terih dari media sosial.
“Ternyata Kampung Terih ini dikenal sampai Inggris,” kata Inung.
Sejumlah pengunjung saat menikmati sauasana pantai Terih Nongsa. F Cecep Mulyana/Batam Pos
Pengembangan wisata Kampung Terih memang menggunakan konsep wisata digital. Yakni wisata yang mengandalkan publikasi melalui media sosial yang tentunya didukung dengan fasilitas kekinian yang Instagramable. Sehingga tak heran jika pesona Kampung Terih ini cepat tersebar hingga ke mancanegara.
Bahkan, kata Inung, ada turis asal Korea yang datang ke Kampung Terih karena terpikat dengan foto-foto yang diunggah para netizen di sejumlah media sosial, khususnya Instagram. Turis tersebut, kata Inung, tengah liburan di Batam dan nekat mencari sendiri lokasi Kampung Terih melalui aplikasi di Google.
“Artinya konsep digital yang kami kembangkan di sini udah kena banget. Karena banyak pengunjung yang tertarik untuk datang setelah melihat postingan di Instagram dan Twitter,” katanya.
Menurut catatan Inung, dalam sebulan rata-rata pengunjung Kampung Terih mencapai 3.000 orang. Bahkan pernah dalam sebulan jumlah kunjungan mencapai 8.000 orang.
“Pernah dalam sebulan omset kami sampai Rp 40 juta. Artinya ada sekitar 8.000 pengunjung selama sebulan itu,” katanya.
Inung menjelaskan, tiket masuk ke Kampung Terih sangat terjangkau. Yakni hanya Rp 5.000 untuk turis lokal, dan Rp 10 ribu untuk turis asing.
Sementara sejumlah pengunjung yang ditemui Minggu (28/10) lalu mengaku terkesan dengan konsep wisata di Kampung Terih. Selain nuansa alamnya yang masih sangat natural, wisata Kampung Terih dilengkapi dengan fasilitas dan spot foto yang Instagramable.
Selain itu, di sepanjang pelantar kayu yang membelah hutan bakau Kampung Terih terdapat ornamen-ornamen yang kreatif. Mulai dari tulisan di papan kayu yang bernada jenaka, hingga hiasan topi dan payung yang digantung di ranting-ranting bakau.
“Ini perpaduan antara kekuatan natural dan konsep digital yang sangat sempurna,” kata Susanto, pengunjung dari Batamkota.
Pria asal Sumatera Utara ini berharap pengelola menambah atraksi lain di lokasi desa wisata Kampung Terih. Sehingga pengunjung memiliki pilihan lain selain menikmati hutan bakau dan spot-spot berfoto ria.
Mendorong Ekonomi Warga Lokal
Kehadiran desa wisata digital Kampung Terih menjadi harapan baru bagi warga setempat. Mereka ikut merasakan dampak positifnya dari banyaknya pengunjung ke Kampung Terih.
Di antaranya dampak bagi perekonomian. Sebab pengelola Kampung Terih sengaja menyediakan sarana Pasar Mangrove bagi warga setempat. Di Pasar Mangrove itu, pengelola menyediakan lapak-lapak untuk berjualan warga.
“Sewanya sangat murah. Hanya Rp 50 ribu per lapak per bulan,” kata Nunung Sulistiyanto, pengelola destinasi wisata digital Kampung Terih, Minggu (28/10) lalu.
Di lapak Pasar Mangrove ini, warga bisa berjualan aneka dagangan. Mulai dari souvenir, jajanan tradisional, hingga kuliner khas Melayu yang identik dengan masakan hasil laut (seafood).
“Kami ingin kehadiran destinasi wisata digital ini bisa ikut mendorong ekonomi warga sekitar,” kata pria yang akrab disapa Inung ini.
Berharap Dukungan Pemerintah
Inung mengakui, saat ini pengembangan dan pengelolaan destinasi wisata digital Kampung Terih masih belum maksimal. Masih banyak sarana umum yang perlu dibangun. Seperti toilet yang memadai, musala, dan bangunan permanen lainnya untuk lokasi berjualan warga.
Karena itu, Inung berharap ada campur tangan pemerintah daerah dalam pengembangan Kampung Terih. “Karena kalau kami sendiri yang membangun, progresnya sangat lambat. Biayanya sangat tinggi,” kata Inung.
Pria yang juga menjadi Ketua Genpi Kepri ini mengatakan, saat ini memang sudah ada beberapa pihak yang menyalurkan dana CSR-nya ke Kampung Terih. Misalnya Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kepri yang telah menyumbang sejumlah peralatan. Seperti life jacket, hammock, sound system, speed boat, tenda, dan lainnya.
“Totalnya Rp 126 juta,” katanya.
Namun bantuan dari pemerintah daerah, Inung menilai sejauh ini masih minim. Khususnya dari Pemko Batam.
Menjawab hal ini, Plt Kadis Pariwisata Kota Batam Ardiwinata mengatakan, pihaknya sangat mendukung kehadiran wisata digital Kampung Terih. Menurut dia, dukungan tidak harus berupa bantuan dana tunai.
“Konsep pengembangan wisata itu ada tiga. Yakni atraksi, aksesibilitas, dan amenitas,” kata Ardi, Rabu (31/10).
Sejauh ini, Ardi mengaku pihaknya sudah mendatangkan atraksi di Kampung Terih. Sebulan sekali, Dinas Pariwisata Kota Batam menggelar atraksi budaya di Kampung Terih. Mulai dari tarian tradisional, pertunjukan seni musik daerah, dan lain sebagainya.
Dari segi aksesibilitas, menurut Ardi saat ini akses ke Kampung Terih sudah sangat baik. Dimana jalan sudah berupa aspal yang dibangun pemerintah.
Kemudian dari sisi amenitas atau segala fasilitas pendukung di kawasan Kampung Terih, Ardi mengaku juga akan memberikan dukungan. Jika tidak bisa melalui anggaran daerah, kata dia, pihaknya bisa mengusahakan ke pihak lain. Baik dari swasta atau ke pemerintah pusat melalui Kemenpar.
“Silakan diajukan ke kami. Kalau tidak ada anggaran di APBD, kami bisa mendorong dari CSR perusahaan atau Kementerian Pariwisata. Karena pengembangan destinasi digital ini menjadi perhatian serius dari Pak Menteri Arief Yahya,” kata Ardi. (suparman)