Sabtu, 16 Mei 2026
Beranda blog Halaman 12078

Dua Nelayan Hilang Kembali ke Desa Kelong

0

Haidan (kaos merah) dan Deri (kaos biru), dua nelayan saat dijemput di Pelabuhan Kijang, sebelum menuju ke Desa Kelong, Selasa (24/7) sore. F. M Kurniawan untuk batampos.co.id

batampos.co.id – Dua nelayan Desa Kelong, Haidan, 28, dan Deri, 26, yang sempat hilang kontak di Perairan Berakit dan ditemukan di Perairan Anambas, akhirnya kembali ke keluarganya.

Babinkamtibmas Desa Kelong Brigadir M Kurniawan saat dikonfirmasi, Rabu (25/7) membenar-kan dua nelayan yang terombang ambing di laut selama 15 hari telah kembali ke Pulau Bintan. Kedua nelayan tersebut tiba di Pelabuhan Sri Bintan Pura (SBP) Tanjungpinang pada Selasa (24/7) sekitar pukul 16.15 WIB.

“Saya bersama Pak Taufik, Kepala SPK Polsek Bintan Timur dan keluarga kedua nelayan menjemput di Tanjungpinang,” katanya.

Dikatakannya, kedua nelayan tersebut bertolak dari Kecamatan Jemaja, Kabupaten Anambas menaiki kapal feri cepat VOC Batavia sekitar pukul 09.00 WIB dan tiba di Tanjungpinang sekitar pukul 16.15 WIB.

“Setelah kami jemput di Pelabuhan SBP Tanjungpinang, kami langsung menuju ke Pelabuhan Kijang,” kata lelaki yang akrab disapa Frengky.

Sekitar pukul 17.15 WIB, kedua nelayan menaiki boat pancung untuk berlayar ke rumahnya di Desa Kelong. Diberitakan sebelumnya, boat yang dinaiki ke-duanya rusak saat mencari ikan di Perairan Berakit sehingga membuat keduanya terombang ambing ke Perairan Malaysia dan Laut Cina Selatan.

Setelah dibantu perbekalan dan perbaikan mesin yang rusak oleh nelayan Thailand, keduanya bisa kembali ke perairan Indonesia tepatnya di Perairan Jemaja, Kabupaten Anambas.(met)

Sesak Napas, Napi Meninggal

0
Ronny Widiatmoko. F.Yusnadi/batampos.co.id

batampos.co.id – Narapidana Rumah Tahanan (Rutan) Tanjungpinang Marius Yahya, 58, dilaporkan meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tanjungpinang, Rabu (25/7). Napi kasus pencurian tersebut mengalami sesak nafas.

Kepala Rutan Tanjungpinang Ronny Widiyatmoko mengatakan, sejak Selasa (24/7) sore, Marius sudah mengalami sesak napas saat berada di dalam sel. Petugas langsung membawanya ke klinik rutan untuk mendapatkan pengobatan. Namun, saat diberi pertolongan, yang bersangkutan menolak untuk diberi pengobatan oleh petugas.
”Kami beri oksigen dan infus, dia tidak mau, berontak melawan petugas,” katanya.

Pihaknya, kata Ronny, terpaksa mengambil tindakan dengan cara mengikat tangan yang bersangkutan agar dapat diobati. Hal tersebut dilakukan karena darurat. ”Terpaksa dilakukan untuk memberikan pertolongan,” ujarnya.

Setelah diberi pertolongan, kata Ronny, kondisi napi tersebut semakin menurun. Pihaknya meng-ambil tindakan membawa napi tersebut ke RSUD untuk diberikan pertolongan medis lanjutan. ”Setelah diberi pengobatan dokter, nyawanya tidak tertolong lagi,” kata Ronny.

Ronny meyakinkan pihaknya telah menangani dan memberikan pelayanan sesuai prosedur yang berlaku. Menurutnya, rutan sudah menyediakan fasilitas yang memadai seperti air bersih, klinik kesehatan, fasilitas olahraga dan fasilitas lainnya. ”Semuanya sudah sesuai prosedur dan standar pelayanan di rutan,” pungkasnya.(odi)

Hewan Kurban Wajib Laik dan Sehat

0

batampos.co.id – Jelang Hari Raya Idul Adha, Dinas Pertanian Kabupaten Bintan menerjunkan Tim Kesehatan Hewan untuk memeriksa kesehatan hewan kurban. Semua hewan kurban harus dinyatakan laik dan sehat sebelum disembelih.

”Saat ini, tim intens menyisir ke sentra-sentra peternakan hewan untuk mengecek dan memeriksa hewan kurban,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bintan Supriyono, Rabu (25/7).

Disebutkannya, hingga 20 Juli 2018, sudah enam kecamatan yang telah ditelusuri, yakni Kecamatan Bintan Utara, Kecamatan Bintan Timur, Kecamatan Telok Sebong, Kecamatan Toapaya, Kecamatan Teluk Bintan dan Kecamatan Gunung Kijang.

Sedangkan sisa empat kecamatan lainnya sedang dalam tahap pengumpulan data, yaitu Kecamatan Bintan Pesisir, Kecamatan Mantang, Kecamatan Tambelan dan Kecamatan Sri Kuala Lobam.

Ditegaskannya, pengawasan kesehatan hewan kurban difokuskan pada pemberantasan penyakit parasiter atau cacingan, penyakit BVD (bovine viral dearhea) dan antisipasi jembrana pada hewan ternak sapi Bali. Jika nanti Tim Kesehatan Hewan menemukan sapi yang tidak layak dan tidak sehat untuk kurban, maka tidak akan diberikan surat keterangan layak dan sehat.

”Jika ditemukan sakit diare dan parasit, maka tidak boleh untuk hewan kurban,” jelasnya sembari mengimbau kepada panitia pelaksana hewan kurban agar menyembelih hewan kurban yang sehat, layak, cukup umur dan jantan.

Sementara Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Bintan drh Iwan Beri Prima mengimbau kepada peternak dan panitia pelaksana hewan kurban di setiap masjid agar mengusahakan tidak memotong hewan sapi dan kambing betina produktif untuk kurban.

Selain itu, ia juga mengimbau kepada panitia pelaksana hewan kurban sebaiknya menyembelih hewan kurban yang cukup usia. Jika hewan kurban sapi, maka usia layak minimal 2 tahun, sedangkan hewan kurban kambing minimal usia 1 tahun.

Sementara itu, Bupati Bintan Apri Sujadi menuturkan, stok hewan kurban per 20 Juli 2018 di Kabupaten Bintan yang telah dilakukan pelayanan kesehatan hewan di 6 kecamatan berjumlah 440 ekor sapi. Sedangkan kebutuhan hewan kurban sapi di Kabupaten Bintan tahun lalu berkisar 243 ekor sapi.

”Stok jumlah kebutuhan daging sapi masih level aman. Biasanya kebutuhan akan meningkat menjelang Hari Raya Idul Adha. Tapi melihat kondisi, tidak akan ada kendala, karena suplai hewan kurban sudah tercukupi,” ujarnya.(met)

29 Warga Terserang DBD

0

batampos.co.id – Warga Tanjungpinang diimbau tetap waspada dan siaga dari persebaran nyamuk aedes aegyptie yang menjadi pembawa virus yang menyebabkan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya, Juli ini tercatat ada 29 warga Tanjungpinang terserang DBD yang tersebar merata di seluruh kelurahan yang ada.

Kepala Dinas Kesehatan Tanjungpinang Rustam mengimbau agar warga lebih peduli terhadap kebersihan lingku-ngan di sekitar tempat tinggalnya masing-masing.

“Perhatikan genangan air yang ada di sekitar rumah. Termasuk juga alas vas bunga, buangan air dispenser, bawah kulkas, kaleng atau botol plastik dan ban bekas yang bertakung air, pastikan dibersihkan,” imbaunya, kemarin.

Sekurang-kurangnya, kata dia, dalam seminggu sekali setiap keluarga memantau pada bak-bak air, drum penampungan air, kolam-kolam yang lantainya semen atau keramik, talang air yang bertakung, pastikan agar dapat dikuras dan dibersihkan atau diberikan bubuk abate.

“Untuk keperluan penaburan bubuk abate, bahannya bisa diminta ke puskesmas setempat. Atau bisa sendiri-sendiri atau kolektif melalui RT dan RW,” terangnya.

Sementara itu, berkenaan dengan lokasi persebaran kasus DBD di Tanjungpinang, Rustam menyebutkan, Kelurahan Pinang Kencana 7 kasus, Melayu Kota Piring 6 kasus, Batu Sembilan 4 kasus, Air Raja 3 kasus, dan Kampung Bulang 2 kasus.

“Sedangkan 7 kelurahan lainnya masing masing 1 kasus yaitu Tanjungpinang Barat, Kamboja, Kampung Baru, Bukit Cermin, Tanjungunggat, Sei Jang dan Tanjung Ayun Sakti,” pungkasnya. (aya)

Suami Temukan Istri Tewas dengan Leher Terikat Kabel Warna Merah

0
ilustrasi

batampos.co.id – Maria Magdalena ditemukan tewas di kediamannya,
Perum Cipta Asri tahap I Blok F, Rabu (25/7/2018) sekira pkl 22.30 wib.

Maria ditemukan dengan posisi leher terikat kabel warna merah yang diikat di bagian pegangan tangan tangga menuju lantai 2.

Kala itu, Maria mengenakan kaos warna abu-abu dan celana pendek warna putih.

Kakinya menginjak lantai.

Adalah suami Maria, yang mendapati kondisi korban.

Suami Maria keluar rumah pukul 19.30 wib, sendiri, untuk menengok istri temannya yang melahirkan di RSBK Batam.

Pukul 22.30 wib suami korban pulang. Ia berteriak.

Rosintan Sidabutar, asisten rumah tangga, terbangun lalu berusaha menenangkan suami korban

Tim Inafis Polresta tiba di lokasi kejadian. Lalu membawa jenazah korban ke RS Bhayangkara Polda Kepri.

Sehari-hari Maria berdinas di bagian Reskrim (Unit PPA), Polsek Batuaji. (ptt)

 

 

Batam Tambah Tujuh Emas dan Empat Perak pada Popda Lingga 2018

0

batampos.co.id – Kota Batam masih memimpin dalam klasemen sementara perolehan medali Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) 2018 yang dilaksanakan di Lingga, mulai Selasa (24/7). Batam memimpin dengan 27 emas, 22 perak, dan 15 perunggu.

Sementara itu peringkat kedua klasemen sementara perolehan medali diduduki oleh Kabupaten Lingga dengan 19 emas, 12 perak, dan 15 perunggu. Sedang peringkat tiga diduduki oleh Kota Tanjungpinang dengan raihan 15 emas, 19 perak, dan 21 perunggu.

Ketua kontingen Kota Batam Muhammad Ali menjelaskan untuk Rabu (25/7) Kota Batam mendapat tambahan tujuh emas dan empat perak. Medali itu didapatkan dari tiga cabor yang telah selesai dilaksanakan.

“Tiga cabor itu adalah tenis lapangan yang menyumbang medali emas di nomor putri. Selain itu cabor tenis maja juga berhasil menyymbang dua medali emas dan dua medali perak,” jelas Ali (25/7).

Sementara itu, lanjut Ali, cabor bulutangkis juga sukses menyumbangkan medali bagi Kota Batam “Cabor bulutangkis berhasil menyumbangkan enam medali emas dalam gelaran Popda di Lingga ini,” papar Ali.

“Enam medali emas itu terdiri dari empat medali emas dan dua medali perak,” tegas Ali.

Sementara itu, dari cabor sepakbola, Kota Batam harus rela gagal melaju ke babak selanjutnya. Batam harus mengakui keunggulan Natuna dengan skor 0-2.

“Pemain Kota Batam terus mengurung pertahanan Natuna. Tapi gagal mencetak gol. Ball possesion 80:20 untuk Kota Batam. Semua gol tercipta dari tendangan bebas,”keluh Ali.

Karenanya Ali tetap meminta doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Batam agar kontingen Kota Batam bisa meraih hasil maksimal. “Mohon doa dan dukungan agar para atlet bisa berlaga demgan maksimal dan meraih hasil terbaik,” pintanya.

“Juga agar Kota Batam bisa mengamankan gelar juara umum keempat kalinya dalam Popda 2018 ini,” tutup Ali. (yan)

Narkoba Coba Diselundupkan dengan Disimpan di Anus

0
ilustrasi

batampos.co.id – Andre Sulaiman, dibidik Polisi. Ia rencananya akan berangkat ke Lombok dan transit di Jakarta menggunakan pesawat Lion Air.

Andre diduga membawa narkoba.

Ditresnarkoba Polda Kepri menangkap Andre saat keluar dari mobil di terminal keberangkatan Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, Rabu (25/7) sekitar pukul 10.30 WIB.

Selain pelaku, petugas juga mengamankan tiga orang saksi yang mengantar menggunakan mobil Toyota Avanza.

Saat digeledah di toilet bandara, petugas menemukan narkoba berupa tiga butir kapsul yang dikeluarkan melalui anus pelaku.

Setelah menemukan barang bukti, pelaku bersama tiga orang saksi lainnya langsung digiring petugas Ditresnarkoba Polda Kepri untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kapolres Tanjungpinang, AKBP Ucok Lasdin Silalahi saat dikomfirmasi membenarkan penangkapan yang dilakukan Polda Kepri.

“Iya tadi ada penangkapan yang dilakukan Polda Kepri, tapi berat dan jenisnya saya belum tahu,” katanya singkat.

Sementara itu, Direktur Resnarkoba Polda Kepri Kombes Yani Sudarto juga membenarkan adanya penangkapan terduga pelaku narkoba. Namun hingga saat ini, pihaknya belum menerima informasi dan laporan secara lengkap.

“Petugas masih melakukan pengembangan di lapangan,” katanya singkat. (odi)

Dinas Perikanan Bantu kapal untuk Nelayan Batam

0
ilustrasi pembuatan kapal. F Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Dinas Perikanan (Diskan) Batam kembali menyerahakan bantuan berupa alat tangkap hingga kapal untuk nelayan yang beroperasi di Batam. Tahun ini kapal yang akan diserahkan kepada nelayan merupakan buatan Karimun.

“Prosesnya sudah 60 persen. Kemarin yang menang lelang pengerjaan kapal orang Karimun,” kata dia, Selasa (24/7/2018).

Jika tidak ada kendala, penyerahan bantuan kepada nelayan ini akan diserahkan September mendatang. Dana bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) murni ini digunakan untuk pengadaan 28 boat pancung, mesin tempel 20 PK 28 unit, alat tangkap ikan, hingga mesin ketinting 10 unit, dan bibit ikan kerapu sekitar 5.479 ekor.

“Bantuan ini yang akan kami serahkan nantinya,” sebutnya.

Husnaini menjelaskan dari tahun ke tahun bantuan nelayan ini diberikan kepada warga yang ada di pesisir yang mayoritas dari mereka merupakan nelayan. Untuk perkotaan, pihaknya hanya membantu nelayan yang ada di daerah Bengkong.

“Kan setiap musrembang mereka selalu memberikan masukan. Hingga saat ini baru bengkong yang mengusulkan minta bantuan,” ujarnya.

Daerah penerima bantuan yakin Belakangpadang, Bulang hingga Galang. Saat ini jumlah nelayan yang ada di Batam mencapai 14.500 jiwa. Untuk pemberdayaan, enam ribu nelayan sudah tergabung dalam kelompok usaha bersama (KUB). Usaha ini membuat nelayan harus mengelola keuangan mereka dan berusaha melengkapi peralatan dengan mandiri.

“Jadi mereka punya usaha, tabungan. Tidak selalu bergantung pada bantuan pemerintah,” lanjut Husnaini.

Untuk peralatan yang dimiliki nelayan, saat ini sedikitnya ada 12 ribu unit armada mesin 10 GT yang beroperasi dalam aktivitas nelayan. Selain bantuan peralatan sebelumnya Kementerian Kelautan dan Perikanan juga memberikan asuransi bagi nelayan. Saat ini sudah ada 5.900 nelayan yang mendapatkan bantuan ini.

“Hampir semua kebutuhan nelayan kami coba bantu. Kami berharap nelayan bisa memiliki kehidupan lebih baik lagi,” tutupnya. (yui)

Tak Ada Lagi Jelaga di Serambi Singapura

0
WARGA Pulau Pemping memuat gas LPG ukuran 3 kilogram ke dalam perahunya di Pelabuhan Belakangpadang, Batam, Sabtu (21/07/2018) lalu. F Suparman-Batam Pos

Sejak digulirkan pada 2007 lalu, program konversi minyak tanah ke gas LPG 3 Kilogram (Kg) terus berlanjut. Tak terkecuali di wilayah Batam, Kepulauan Riau. Bukan hanya di pulau utama, distribusi gas melon ini telah merambah hingga pulau-pulau terpencil yang berada di garis terdepan NKRI.

Setelah hampir dua jam mengarungi laut dan dua kali berganti perahu kayu, akhirnya sampai juga perjalanan ke Pulau Pemping, Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam, Sabtu (21/07/2018) siang.

Cuaca yang sedikit mendung membuat perjalanan yang cukup jauh itu terasa dekat. Apalagi di sepanjang perjalanan tersaji pemandangan yang menyegarkan mata.

Di sisi kiri haluan perahu, banyak dijumpai pulau-pulau kecil. Baik yang berpenghuni maupun yang kosong. Ada pula deretan hutan bakau yang rimbun. Tak hanya itu, perahu kayu itu juga kerap melintas di dekat nelayan tradisional yang sedang beraktivitas. Pemandangan yang sudah mulai jarang terlihat di pesisir Kota Batam.

Sementara di sisi kanan perahu atau di sebelah utara, pemandangan yang kontras tak kalah menarik. Gedung-gedung pencakar langit di Negeri Singa, Singapura, terlihat begitu dekat.

Meski cuaca siang itu sedikit mendung, namun udara tetap terasa gerah saat kaki menapak di Pulau Pemping. Hal ini membuat suasana di pulau yang menjadi salah satu pulau terluar Indonesia itu terlihat sepi. Sebagian besar warganya memilih mendinginkan badan di depan kipas angin, di dalam rumah masing-masing. Atau bersantai di teras rumah yang umumnya masih berupa rumah panggung berbahan kayu.

Sementara di ujung pelantar Pangkalan Pelam, Pulau Pemping, terlihat ada kesibukan kecil. Sumarni, 45, sedang menyiapkan nasi ayam penyet pesanan pelanggan di warungnya. Ini merupakan satu-satunya warung nasi yang ada di kawasan permukiman warga Pulau Pemping.

“Hari ini cuma ada ayam. Tahu dan tempe tak masuk. Sotong pun tak ada,” kata Sumarni sambil menyajikan nasi ayam penyet di atas meja.

Sumarni kemudian bercerita tentang usaha warung nasinya itu. Mulai dari pasang surutnya pembeli, hingga sulitnya mendapatkan bahan-bahan sembako untuk warung yang dikenal dengan Kedai Pak RW itu.

Wanita asli Pulau Pemping ini juga menceritakan bagaimana ia merintis usaha warung nasi itu. Juga soal transformasi bahan bakar untuk memasak di warung. Mulai dari kayu bakar, kompor berbahan bakar minyak tanah, hingga kini menjadi gas LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram dari Pertamina.

“Yang jelas enak pakai gas (LPG). Lebih praktis. Tinggal ceklek, api langsung menyala,” kaya Sumarni.

Dengan gas LPG pula, lanjut Sumarni, memasak juga lebih cepat. Tak hanya itu, dapurnya juga jadi lebih bersih. Berbeda saat ia masih menggunakan kompor minyak tanah, selain aroma minyak kerap mengontaminasi makanan, dapur Sumarni juga terkesan cepat kotor.

“Apalagi di atap dapurnya. Banyak jelaga,” ujar Sumarni dengan logat Melayu khas pulau yang kental.

Cerita yang sama disampaikan Mak Atai. Sebelum ada LPG 3 kilogram, warga Pulau Pemping memasak dengan kompor minyak tanah. Bahkan banyak pula yang memasak dengan kayu bakar. Itulah sebabnya, banyak dapur warga yang terpisah cukup jauh dari rumah utama.

Hal ini untuk menghindari terjadinya kebakaran. Sebab sebagian besar rumah warga Pulau Pemping masih berbahan kayu. Sehingga jika memasak dengan kayu bakar, dikhawatirkan api akan memicu terjadinya kebakaran.
“Dulu, kalau pagi semua rumah seperti berasap semua. Rasanya kita malu karena di seberang itu sudah negara tetangga. Kami ini macam tinggal di serambinya Singapura,” kata Mak Atai.

Kehadiran LPG 3 kilogram dari Pertamina ini, kata Mak Atai, selain memudahkan aktivitas warga juga banyak berperan dalam pelestarian lingkungan. Sebab, dengan sendirinya warga tak lagi menebang kayu hutan untuk dijadikan kayu bakar.
Tak hanya kayu hutan, rerimbunan hutan bakau yang banyak memagari pantai Pulau Pemping juga kerap jadi sasaran warga. Dulu, sebelum mereka beralih ke bahan bakar LPG 3 kilogram Pertamina.

“Kalau tak ada gas Pertamina ini, mungkin pokok (pohon, red) bakau itu tak bisa sampai sebesar itu. Sudah ditebang untuk kayu bakar,” kata Mak Atai sambil menunjuk ke arah rerimbunan bakau yang berjajar di sisi pelantar Pangkalan Pelam, Pulau Pemping.

Hanya saja, Mak Atai mengakui sesekali terjadi keterlambatan pasokan LPG 3 kilogram ke Pemping. Tapi ia maklum. Sebab meski masih masuk wilayah administrasi Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam, Pulau Pemping justru lebih dekat dengan Singapura.

Karena dekatnya itu, pulau yang dihuni 270 keluarga itu dijadikan titik serah terakhir ekspor gas dari Indonesia ke Singapura.

Bahkan sampai kini, kedekatan jarak Pemping-Singapura itu masih belum bisa sepenuhnya disembunyikan. Sebab warga di sana masih lebih mudah mendapatkan siaran radio Singapura ketimbang radio lokal. Atau, ada kalanya sinyal telepon seluler dari Singapura, SingTel, lebih dominan dibandingkan sinyal operator seluler dalam negeri. Meski begitu, Mak Atai berharap ke depannya pemerintah lebih banyak memperhatikan warganya di wilayah perbatasan. Seperti Pemping. Termasuk dalam hal pasokan energi.

Mak Atai berharap, pasokan gas LPG 3 kilogram ke Pemping semakin lancar. Bahkan ia meminta warga di wilayah pulau justru diprioritaskan mendapatkan gas bersubsidi itu dari warga di wilayah perkotaan di Pulau Batam.

“Kalau yang di kota punya banyak pilihan. Kami ini harusnya yang diutamakan dapat subsidi,” pintanya.

Program konversi minyak tanah ke LPG 3 Kg di Batam memang sudah berjalan sejak 2009 lalu. Namun warga Pemping baru bisa menikmati gas bersubsidi itu 2011.

Sales Executive Domestic Gas Pertamina Marketing Branch Kepri Andri Setyawan membenarkan hal ini. Program konversi minyak tanah ke gas LPG di Batam berjalan sejak 2009 dan dinyatakan selesai pada 2011 lalu. Artinya, seluruh wilayah Batam saat ini sudah mendapatkan pasokan LPG 3 kilogram. Termasuk wilayah pulau terluar seperti Pulau Pemping.

Andri mengatakan, distribusi gas LPG ukuran 3 kilogram memang untuk masyarakat miskin. Ini karena memang gas tersebut merupakan gas bersubsidi yang seharusnya hanya dinikmati masyarakat kurang mampu.

Pemerintah dan Pertamina, kata Andri, terus menggodok formulasi penyaluran gas LPG 3 kilogram supaya tepat sasaran.
Selain warga miskin, masyarakat di wilayah kepulauan dan perbatasan juga menjadi prioritas distribusi gas bersubsidi itu. Dalam hal ini Pertamina bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk kelancaran penyaluran LPG di wilayah kepulauan.
Sebagai contoh untuk Pulau Pemping, Batam, serta pulau-pulau lain di sekitarnya.

Tak hanya LPG bersubsidi, kata Andri, pihaknya bersama pemerintah juga memperkuat distribusi LPG Non PSO atau non subsidi ke sejumlah wilayah perbatasan di Kepri. Misalnya wilayah Natuna dan Anambas.

Sehingga saat ini warga di daerah paling utara Indonesia itu juga sudah bisa menikmati gas LPG dari Pertamina. Baik yang bersubsidi ukuran 3 Kg maupun gas non subsidi. Selama ini, warga di Natuna dan Anambas menggunakan gas LPG dari Malaysia.

“Saat ini suplai LPG Non PSO kerja sama dengan pemerintah pusat menggunakan tol laut dari Jakarta. Selain itu Agen LPG yang ada saat ini merupakan agen ex minyak tanah, sehingga sudah memiliki jaringan dan berpengalaman untuk distribusi LPG ke pulau-pulau,” kata Andri, Rabu (25/07/2018).

Andri menjelaskan, untuk wilayah Kepri saat in baru Batam, Bintan, dan Tanjungpinang yang sudah masuk wilayah konversi minyak tanah ke gas LPG. Sehingga distribusi LPG bersubsidi di Kepri fokus di tiga daerah tersebut.

Ditanya soal kuota, Andri menyebut sesuai dengan kuota yang ditetapkan Dirjen Migas dalam APBN 2018, Kepri mendapat kuota LPG subsidi sebesar 45.117 metric ton (MT) atau sekitar 15 juta tabung LPG ukuran 3 Kg, sedangkan untuk Batam sebesar 32.756 MT atau sekitar 10,9 juta tabung LPG ukuran 3 Kg.

Hingga bulan Juni 2018, distribusi LPG bersubsidi untuk wilayah Kepri sudah terealisasi sebesar 22.461 MT. Sedangkan untuk Batam sudah tercapai 16.606 MT.

“Realisasi masing-masing sama, baik Kepri maupun Batam sebesar 51 persen dari kuota pemerintah untuk tahun 2018,” kata Andri.

Andri menambahkan, pihaknya akan terus meningkatkan distribusi gas LPG, baik yang bersubsidi maupun non subsidi di wilayah Kepri. Termasuk jika kemudian ada penambahan kuota LPG bersubsidi untuk wilayah lain di Kepri selain Batam, Bintan, dan Tanjungpinang. Disamping itu, Pertamina juga mengupayakan distribusi LPG bersubsidi tepat sasaran.

“Prinsipnya kami berkomitmen menjalankan distribusi energi secara merata sesuai penugasan pemerintah,” kata Andri.

Lurah Pemping, Tauran, mengatakan saat ini memang masih ada warganya yang belum menggunakan gas LPG subsidi untuk kebutuhan rumah tangga. Namun jumlahnya sangat kecil. Sebagian besar warga Pemping sudah beralih dari bahan bakar minyak tanah dan kayu bakar ke gas LPG.

“Bukan tidak ada gas. Tapi biasanya mereka masih ingin menggunakan kayu,” kata dia, Senin (29/7) lalu.

Namun begitu, Tauran yakin ke depannya seluruh warga Pemping akan beralih ke gas LPG. Sebab jika melihat jumlah permintaan yang ada, saat ini angkanya terus naik dari waktu ke waktu.

“Artinya semakin banyak warga yang beralih ke gas LPG ini,” kata dia.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindag dan ESDM) Kota Batam Zarefriadi mengatakan, program konversi minyak tanah ke LPG 3 kilogram di Pulau Batam sudah selesai pada 2011 lalu. Namun sampai saat ini pasokan LPG 3 kilogram ke Batam terus meningkat seiring bertambahnya kebutuhan masyarakat.
Selain di mainlad (pulau utama), distribusi LPG 3 kilogram Pertamina juga menyentuh masyarakat di pulau-pulau pesisir (hinterland), seperti Pulau Pemping yang merupakan salah satu pulau terluar Indonesia di wilayah Batam.

“Dengan wewenang pengawasan yang ada, kami mendorong agar distribusi LPG bersubsidi dari Pertamina ini menyeluruh ke semua masyarakat Batam yang berhak,” kata Zaref.

Selain mendorong perluasan dan pemerataan distribusi, kata Zaref, pemerintah daerah juga mendukung langkah pemerintah pusat dan Pertamina dalam penyaluran LPG subsidi agar tepat sasaran. Sebab LPG subsidi ukuran 3 kilogram sebenarnya hanya diperuntukkan bagi masyarakat miskin.

“Kami dukung skema apapun dari Pertamina dan pemerintah pusat agar distribusi LPG bersubsidi ini tepat sasaran,” katanya. (suparman)

 

KPU Batam Terima Pergantian Bacaleg

0

Warga melihat umbul-umbul yang dipsang oleh KPU Kota Batam di halaman kantor Lurah Tanjunguncang, Batuaji, Senin (14/5). KPU Kota Batam mensosialisasikan ke[ada masyarakat supaya mengenal partai peserta pemilu atau sadar pemilu. F Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Sejumlah Partai Politik (Parpol) mengajukan pergantian bakal caleg (Bacaleg) pasca perbaikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Batam beberapa waktu lalu.

Komisioner Bidang Teknis, KPU Batam, Zaki Setiawan mengatakan setelah dinyatakan semua parpol perlu perbaikan, sejumlah partai mulai bertanya prosedur pengajuan pergantian bacaleg pada Pemilihan Legislatif (Pileg) April 2019 mendatang

“Ada beberapa partai yang ingin mengajukan pergantian bacaleg mereka. Namun masih tanya-tanya prosedurnya,” kata dia, Selasa (24/7).

Ia menjelaskan pergantian boleh dilakukan apabila bacaleg meninggal, mundur dan berkas pengajuan bacaleg dinyatakan tidak memenuhi syarat. KPU lanjutnya, sudah memberikan waktu hingga 31 Juli mendatang untuk melengkapi berkas pengajuan bacaleg yang tidak lengkap tersebut.

“Lain dari tiga hal tersebut pergantian tak bisa dilakukan,” ujarnya.

Berkas yang sudah diserahkan ke masing-masing parpol harus dikembalikan paling lambat batas waktu yang telah ditentukan. Jika parpol tidak mengembalikan berkas, maka dinyatakan gugur.

“Dan itu boleh diganti bacalegnya, jika saat pengembalian berakhir berkas belum juga lengkap,” jelas mantan pewarta ini.

Zaki menambahkan sejak dikembalikan, hingga saat ini belum ada satu parpol yang mengembalikan berkas. Ia mengingatkan parpol untuk segera melengkali berkas jika tidak akan dinyatakan gugur.

“Masih ada sisa waktu kurang lebih satu minggu lagi untuk melengkapi berkas sebelum diserahkan kembali,” imbaunya .

Parpol yang merasa kurang mengerti mengenai berkas yang harus dilengkapi, KPU membuka diri untuk ketersedian informasi terikait kelengkapan berkas tersebut.

“Kami layani jika ada pertanyaan, agar semua perbaikan berjalan dengan baik,” tutupnya.(yui)

Play sound