Senin, 11 Mei 2026
Beranda blog Halaman 12607

BPN Bagikan 47 Ribu Sertifikat Tanah Gratis Tahun ini

0
Suyono, 71, menunjukkan sertifikat tanah Kavelingnya yang baru diambilnya dari BPN Kota Batam di Mall Top 100 Batuaji, Sabtu (6/1). Pemko Batam dan BPN Kota Batam memberikan secara gratis sertifikat tanah gratsi bagi warga yang tidak mampu. Suyono menempati rumahnya di Kaveling Kamboja, Seipelunggut Sagulung dari tahun 2003 baru ini bisa mendapatkan sertifikat ruamhnya secara gratis. Tahun ini Batam mendapatkan bantuan sertifikat tanah gratis sebanyak 20.901 sertifikat di tahun 2017. F.Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Badan Pertanahan Nasional (BPN) Batam tahun ini akan menerbitkan 47 ribu sertifikat gratis untuk masyarakat yang tinggal di kavling yang ada di Batam.

Kepala BPN/ATR Batam, Asnaedi mengatakan saat ini timnya sudah mulai melakukan pendataan lokasi kavling yang akan mendapatkan surat legalitas tanah tersebut.

“Kami sudah berkoordinasi dengan lurah terkait jumlah penerima sertifikat di masing-masing wilayah mereka,” kata dia, Sabtu (10/2).

Ia menyebutkan lokasi pendaftaran tanah sistem lengkap (PTSL) tahun ini diantaranya, Kelurahan Kabil, Mangsang, Batubesar, Sambau, Sagulung, Duariankang, hingga Tanjungpiayu.

“Luasan per KK yang didata mencapai dua ribu meter persegi. Sekarang ini tim sudah mulai pengukuran dan penghimpunan data,” sebutnya.

Ia menambahkan untuk memudahkan proses penerbitan sertifikat tanah, mereka yang belum membayar uang wajib tahunan (UWT) akan ditangguhkan agar nanti bisa dilunasi.

“Disertifikatnya ada tanda khsusus kalau mereka belum bayar,” tambahnya.

Disinggung mengenai penerbitan sertifikat tanah untuk kampung tua, Asnaedi mengungapkan belum bisa dijadikan target PTSL karena belum memiliki hak atau dasar penguasaan tanah yang jelas.

“Yang ini belum ada untuk tahun ini,” imbuh pria asal Makasar ini.(yui)

Pemko Batam Tak Sanggup Bangun Destinasi Pantai

0
Warga Batam memadati pantai Viovio yang berada di Galang
Foto. Dalil Harahap/batam Pos

batampos.co.id – Keterbatasaan anggaran membuat Pemko Batam tak bisa berbuat banyak untuk menambah destinasi pariwisata, terutama pantai. Meski Walikota Batam menginginkan sektor pariwisata menjadi unggulan karena sektor industri tak bisa diharapkan lagi.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Pebrialin menegaskan Pemko tak punya anggaran untuk membangun atau menambah destinasi pariwisata baru. Apalagi, destinasi itu berada di kawasan pantai.

“Pemerintah kota tak bisa mengeluarkan uang untuk destinasi pantai. Apalagi saat ini anggaran pariwisata memang terbatas,” terang Pebrialin, kemarin.

Meski begitu, ia optimis jumlah wisatawan di Kota Batam akan terus meningkat. Hal itu melihat peningkatan jumlah wisatawan yang terus bertambah setiap tahunnya. Apalagi dengan berbagai infrastruktur jalan kota Batam yang telah diperbaiki.

“Data dari BPS jumlah wisatawan yang datang itu meningkat. Walau kebanyakan yang datang memang dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia,” jelas Pebrialin.

Menurut dia, beberapa tahun terakhir juga banyak bermunculan hotel-hotel baru yang dinilai dapat mendukung sektor pariwisata. Bahkan, ia juga tengah menunggu pengesahan Perda Melayu ditahun 2018. Dimana nantinya, seluruh hotel di Batam wajib memakai ornamen melayu.

“Nah ini yang sedang kami tunggu untuk disahkan. Kalau sudah disahkan, maka ciri khas untuk kota Batam sudah pasti ada,’ pungkas Pebrialin. (she)

Lokasi Bekas Kior Liar Tetap Diawasi

0
Tim terpadu Pemko Batam melakukan penertiban bangunan kios yang berdiri di kawasan terminal Jodoh Batuampar, Selasa (30/1). Sedikitnya puluhan kios kios yang dibongkar dikawasan tersebut. F Cecep Mulyana

batampos.co.id – Bekas kios liar di kawasan Terminal Jodoh, Batuampar tetap dalam pengawasan petugas Kecamatan dan Satpol PP. Hal itu dilakukan untuk menghindari lokasi kembali digunakan untuk berjualan.

Camat Batuampar, Tukijan mengatakan beberapa hari lalu kawasan itu telah dibersihkan oleh sejumlah petugas. Dimana saat pembongkaran, masih ada sisa-sisa bangunan yang tertinggal.

“Kemarin sisa-sisa penertiban telah dibersihkan. Lokasi tetap diawasi petugas,” kata Tukijan, kemarin.

Menurut dia, saat ini pihaknya tengah menunggu kelanjutan pembangunan drainase di lokasi. Sebab sebelumnya, sudah ada pembangunan drainase untuk pencegahan, namun terhenti karena adanya kios liar.

“Nah sekarang kios itu sudah dibongkar, pembangunan drainase akan dilanjut,” terang Tukijan.

Ia berharap dengan dilanjutkan pembangunan drainase, dapat mengantisipasi banjir di kawasan tersebut, terutama jalan di depan Hotel Pasifik dan sekitarnya. Sebab beberapa waktu lalu banjir di sepanjang jalan tersebut cukup tinggi.

“Jadi kalau hujan tak perlu was-was lagi karena banjir jalan tersebut,” imbuh Tukijan.

Sebelumnya, tim terpadu menertibkan puluhan kios di kawasan Terminal Jodoh. Puluhan kios terpaksa dibongkar karena berdiri diatas drainase utama. (she)

Empat Kru Kapal Sunrise Glory Tidak Saling Kenal

0
Anggota TNI AL mengawal sabu dan empat tersangka dengan bersenjata lengkap saat ekspos di Lanal Batam, Batuampar, Sabtu (10/2). Sabu seberat satu ton ini dibawa oleh kapal MV Sunrise Glory. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Nakhoda Kapal dan tiga kru kapal Sunrise Glory mengakui tidak saling kenal. Hal ini mereka sampaikan ke penyidik TNI AL dan BNN. Mereka mengakui direkrut seseorang di Taiwan.

“Tidak saling kenal mereka ini, ini sedang kami selidiki lebih lanjut,” kata Wakasal Laksamana Madya TNI Achmad Taufiqoerrochman, Sabtu (10/2).

Kendala penyelidikan ini, kata Achmad karena bahasa. Ke empat orang ini tidak mengerti bahasa inggris, hanya tahu bahasa mandarin.

“Kami sedang datangkan ahli bahasa, agar memudahkan penyidikan,” ucapnya.

Terkait nama-nama empat orang ini. Achmad mengatakan pihaknya masih melakukan pengembangan, sehingga belum bisa disebutkan.

“Masih kami kembangkan dulu, nanti baru akan disampaikan perkembangan selanjutnya,” tuturnya.

Pengembangan ini juga terkait dengan dugaan, kapal ini sudah pernah mengirimkan sabu-sabu ke Indonesia sebelumnya. “Jaringan mananya, akan kami ungkap nanti,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan Kapal Sunrise Glory ini sempat kabur, saat akan didekati oleh KRI Sigurot 864, Rabu (7/2) lalu.

“Dari situlah, kami diamankan petugas karena gerak-geriknya mencurigakan dan ia menyalahi aturan perairan di Indonesia dengan mengibarkan bendera Singapura di perairan Indonesia,” ujar Komandan Guskamlabar, Laksamana Pertama Bambang Irwanto.

Setelah dihentikan dan diperiksa, ternyata seluruh dokumen yang dibawa, semuanya palsu atau hanya foto kopian saja. Dokumen tersebut menyatakan bahwa kapal tersebut adalah kapal tangkap ikan.

Mulanya Ke empat orang Cina Taipei ini, mengaku kapal yang dinaikinya adalah kapal milik orang Indonesia. Setelah di cek, ternyata mereka memasang empat bendera yakni Singapura, Indonesia, Malaysia dan Cina Taipei.

Hal tersebut dilakukan untuk penyamaran saja atau mengelabuhi petugas patroli laut di beberapa negara nantinya.

“Ternyata modus ini digunakan untuk menyelundupkan sabu,” ungkap Bambang. (ska)

Ustaz Abdul Somad Serukan Kebangkitan Umat

0
Ribuan jamaah memadati dataran Engku Putri Batamcentre untuk mendengarkan ceramah ustad Somad, Sabtu (10/2/2018). F Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Suara takbir terdengar keras. Puluhan ribu masyarakat Batam datang berbondong-bondong dan berkumpul untuk mendengarkan ceramah Ustaz Abdul Somad, Lc, MA di Dataran Engku Putri, Sabtu (10/2).

Kehadiran ustaz yang fenomenal ini di tengah lautan masyarakat Batam, dimulai dengan pengajian. Sementara kepadatan lalu lintas sudah mulai terasa ratusan meter dari lokasi. Beberapa jalur menuju Engku Putri terpaksa harus dialihkan.

Masyarakat yang datang terlambat harus rela berjalan kaki, setelah memarkirkan kendaraannya agak jauh dari lokasi. Para ibu-ibu membawa anaknya, bapak-bapak menggendong anaknya dan muda-mudi antusias ingin menyaksikan langsung ceramah yang bertema Kebangkitan Umat ini.

Dengan suara serak khasnya, ia mulai menyapa masyarakat yang duduk rapi di dataran Engku Putri tersebut. Ustaz asal Riau ini sempat berpantun yang diakhiri dengan tepuk tangan massa. “Kalau sudah masyarakat Batam berkumpul, tentara israel bakal terpukul,” begitu kurang lebih inti pantunnya.

Kalimat demi kalimat, Ustaz Abdul Somad terus menyerukan ajakan agar masyarakat tidak mudah terpecah belah, tidak mudah terhasut dengan perbedaan yang ada. Ia mengaitkan ceramahnya tersebut dengan keseharian masyarakat Islam sekarang.

“Ada yang berjanggut, ada yang tidak berjanggut. Lalu, kenapa harus dipermasalahkan. Bisa saja yang tidak berjanggut karena memang belum berjanggut. Jangan mudah berantem masalah seperti itu,” ungkapnya.

Satu contoh lagi, ia berkata ada muslim yang bercelana panjangnya hanya di bawah mati kaki. Lalu ada lagi yang bercelana panjangnya di atas mata kaki. Kalau tidak sombong, tidak masalah. “Jangan berantem. Kalau berantem yang celana di bawah mata kaki dan di atas mata kaki, yang senang siapa. Yang senang yang enggak pakai celana,” paparnya yang diiringi tawa massa yang hadir.

Jika perintahnya kuat, maka hukumnya wajib. Jika perintahnya tidak kuat, maka hukumnya sunah. “Jika larangannya kuat, maka haram. Jika larangannya tidak kuat, maka halal,” terangnya.

Menanggapi hal itu, Fakhril Marwan Muhana yang jauh-jauh datang dari Batuaji mengangguk. Ditanya, ia sangat sepakat dengan apa yang dikatakan ustaz. “Benar, masalah perbedaan seharusnya tidak mudah dibenturkan. Kesalahpahaman dan pembelahan di tengah masyarakat kian dalam, rasanya pas sekali mendengar ceramah malam ini,” kata Fakhril.

Terlepas dari itu, Fakhril yang mengajak serta istri dan anaknya harus rela berdesak-desakan untuk melewati kerumunan masyarakat yang hadir. Namun, ia mengaku cukup puas bisa menyaksikan dari jauh. “Tertib juga ternyata, orang-orang yang hadir duluan duduk. Jadi yang belakang bisa menyaksikan meskipun dari jauh. Seharusnya kami datang lebih cepat tadi,” ungkapnya. (why)

Di Batam, Kawasan Kumuh Bertambah

0
Ruli yang semakin menjamur di belakang kantor Lurah Bukit Tempayan, dekat Pasar Melayu, Batuaji.
Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Jumlah kawasan kumuh yang ada di Batam mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan adanya perubahan kriteria ketentuan kawasan kumuh oleh pusat.

“Bertambanya cukup banyak, karena perubahan tersebut,” kata Kepala Disperakimtan Batam, Herman Rozi, Sabtu (10/2).

Ia menyebutkan kriteria yang dimaksud adalah ketersediaan hidran atau alat pemadam kebakaran di permukiman warga yang tinggal di rumah swadaya atau yang lebih dikenal dengan kavling.

“Ini yang masih sangat kurang kita. Kalau yang lain seperti jalan permukiman, drainase, hingga ketersediaan air bersih sudah lebih baik,” sebutnya.

Ia menyebutkan sebelumnya ada 517 hektar kawasan kumuh yang tersebar di 10 titik yang ada di Batam yakni, Tanjungpiayu (Seidaun, Kampungbagan, dan Tanjungpiayu laut), Mangsang (Mangsapermai, Bukitwiduri), Nuansa Jaya-Bukit Berbunga, Seibeduk, KSB Seilekop, KSB Seipelunggut, KSB Kabil, Tibankampung, Bengkongpalapa, Bengkongsadai, (Sadai, Bengkongdalam), dan Tanjungsengkuang.

“Ini sudah berkurang, karena adanya program PIK hingga KOTAKU dari pemerintah. Kalau tidak salah sekarang 100 hektar namun bertambah karena tidak adanya hidran,” bebernya.

Sementara itu Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (DPK) Batam Azman mengatakan pengadaan hidran tergantung dari anggaran yang ada. Saat ini baru ada 56 hidran yang disebar di permukiman warga.

“Itu selalu kami usulkan, namun tergantung anggaran,” sebutnya.

Ia menambahkan 56 hidran tersebut memang tersebar di kavling seperti i Bumi Perkemahan, dapur 12 dan tempat lainnya. Namun untuk jumahnya memang masih jauh dari yang diharapkan.

“Selain punya Pemko juga ada punya BP Batam. Mereka sudah ada 200 hidran,” imbuhnya.

Azman mengungkapkan tahun ini tidak ada pengadaan untuk hidran ini. Pihaknya akan mencoba mengusulkan di anggaran selanjutnya. “Ya, intinya kami tetap berusaha memenuhi ketersediaan hidran,” tutupnya.(yui)

Mudik Imlek belum Padat

0
Calon penumpang memadati Pelabuhan Domestik Sekupang
Foto Cecep Mulyana/batam Pos

batampos.co.id – Jelang libur tahun baru China atau Imlek yang tinggal menghitung hari, beberapa armada masih terlihat sepi dari penumpang.

Kepala Pos Syahbandar Pelabuhan Domestik Sekupang (PDS), Trino Palapa mengungkapkan arus pelayaran masih berjalan normal. Jumlah penumpang yang mudik belum ada peningkatan.

Ia menyebutkan berdasarkan informasi yang didapat dari operator kapal, penumpang kebanyakan sudah membeli tiket untuk berangkat di tanggal 12-14 Februari.

“Jadi peningkatan diperkirakan empat-tiga hari jelang hari raya Imlek,” ujarnya.

Trino mengungkapkan tujuan paling ramai adalah tanjungbatu, Selat panjang, sedangkan untuk tujuan lainnya masih normal saja.

“Tujuan yang paling ramai tersebut bisa ditempuh dalam waktu satu hingga tiga jam. Jadi jika ada peningkatan penumpang yang cukup signifikan kapal bisa balik lagi ke Batam untuk mengangkut penumpang pas di hari tersebut,” beber pria kelahiran Solok, Sumatera Barat ini.

Ia menambahkan musim utara masih berlangsung, dan ketinggian ombak juga masih cukup tinggi. Namun begitu untuk pelayaran antar pulau dari PDS hingga saat ini masih aman.

“Kami tetap berkomunikasi dengan nahkoda dan syahbandar tujuan. Akhir-akhir ini angin cukup kencang, tapi pelayaran masih berjalan dengan baik,” ujarnya.

Dia memperkirakan lonjakan penumpang bisa mencapai ribuan nanatinya selama peak season berlangsung. Untuk itu pihaknya memastikan kesiapan kapal tentunya, termasuk anggota yang bertugas.

“Alhamdulillah sejauh ini semua terkendali, kami berharap cuaca baik dan penumpang tiba di tujuan dengan selamat,” tutupnya.

Sementara itu salah satu perwakilan operator kapal, Asmadi mengungkapkan pembeliaan tiket untuk imlek memang sudah mulai terlihat. “Mereka beli sudah dari jauh hari, namun berangkat tiga hari sebelum imlek,” kata dia.

Untuk armada semua siap melayani pemudik imlek yang hendak menuju kampung halamannya. “Tiket cukup, dan armada dalam keadaan siap,” tambahnya.(yui)

Indonesia Jadi Target Pasar Narkoba

0
Kapal MV Sunrise Glory yang ditangkap Angkatan Laut yang sandar di Dermaga Lanal Batam, Batuampar, Sabtu (10/2). Kapal ini membawa satu ton sabu-sabu. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Penangkapan kapal Sunrise Glory dengan 1 ton 29 kilogram sabu-sabu di perairan Batam Kamis (8/2) makin menguatkan fakta yang memprihatinkan. Bahwa Indonesia semakin menjadi jujukan (tujuan) bandar narkoba internasional dalam memasarkan barang haramnya.

Apalagi, penangkapan kapal Sunrise Glory yang berbendera Singapura hanya berselang tujuh bulan dari pengungkapan penyelundupan 1 ton sabu-sabu lewat laut dengan kapal Wanderlust yang terungkap di Hotel Mandalika di Anyer, Banten, 13 Juli 2017. Rentetan penangkapan itu sangat meresahkan. Sebab, dengan hitungan kasar, setiap 1 ton sabu-sabu tersebut memiliki daya rusak hingga 2 juta pemakai bila masing-masing mengonsumsi 0,5 gram saja.

Deputi Penindakan Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Pol Arman Depari menjelaskan, maraknya penyelundupan narkoba lewat laut sudah terjadi dalam dua tahun terakhir. Menurut dia, hal itu terjadi karena gencarnya penindakan narkoba di beberapa negara di Asia. ”Tiongkok menindak, Filipina juga,” ujarnya kepada Batam Pos (Jawa Pos Group) di jumpa pers penangkapan kapal Sunrise Glory di Batam kemarin (10/2).

Akibatnya, sabu-sabu yang seharusnya dipasok untuk dua negara tersebut kini dialihkan masuk ke Indonesia. Dari pantauan BNN, para bandar sabu-sabu internasional menilai Indonesia sebagai pangsa pasar yang potensial. ”Penduduk 200 juta lebih dan sebanyak 40 persennya adalah generasi muda yang sangat mudah terpengaruh dan berpotensi menjadi pecandu,” ucapnya.

Sesuai data BNN, pasar narkotika di Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Pada 2015 jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai 5,2 juta orang. Jumlah itu terus naik pada 2016 dengan pengguna diprediksi mencapai 5,7 juta jiwa. Pada 2017 kenaikan tetap terjadi dengan jumlah pengguna 5,9 juta orang.

Juru Bicara Divhumas Polri Kombespol Slamet Pribadi menambahkan, selain jumlah pengguna, yang lebih menggiurkan adalah harga narkotika di Indonesia yang berlipat-lipat dari harga di negara produsen seperti Tiongkok. ”Maka, bila bisa menjual ke Indonesia, mereka akan untung besar. Ya menambah menjadi incaran,” jelasnya.

Terkait penangkapan kapal Sunrise Glory, Arman Depari menyatakan, BNN sedang menyelidiki apakah pemilik kapal Sunrise Glory dan kapal Wanderlust merupakan satu jaringan yang sama. ”Dari barang bukti itu bisa terekam. Apakah ada kesamaan barang bukti Wanderlust dengan Sunrise Glory. Jadi, narkoba ini memiliki sidik jari. Kalau sama, satu jaringan mereka,” terangnya.

Dugaan pemilik kapal Sunrise Glory tersebut satu jaringan dengan kapal Wanderlust dikatakan Wakil KSAL Laksamana Madya TNI Achmad Taufiqoerrochman. ”Melihat modus kapal ini mencoba memasuki perairan Indonesia, mengungkapkan kemungkinan itu,” ujarnya dalam jumpa pers di Batam kemarin.

Kapal Sunrise Glory yang membawa 1 ton 29 kilogram narkoba jenis sabu-sabu, ternyata sudah menjadi target operasi (TO) TNI AL sejak Desember tahun lalu. Diduga kapal ini semula membawa sabu-sabu seberat 3 ton. Namun diduga sebagian isinya sudah dibongkar terlebih dahulu.

Mereka ini mencoba masuk dengan menyisir melalui Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Lalu coba-coba masuk, tapi saat akan dikejar mereka akan keluar dari ZEE. Masuk ke perairan internasional,” kata Wakasal Laksamana Madya TNI Achmad Taufiqoerrochman, Sabtu (10/2).

Achmad menerangkan sejak Desember tahun lalu, pihaknya menerima informasi ada kapal Sundemen 66 yang akan mencoba menyelundupkan sabu ke Indonesia. Sejak saat itu, TNI AL memerintahkan jajarannya untuk memantu setiap pergerakan kapal di perairan Indonesia. “Kami tidak bekerja sendirian, tapi bersama dengan BNN,” tuturnya.

Kemudian, Rabu, (7/2), kapal yang memiliki ciri-ciri yang sama saat melintasi Selat Philip. TNI AL mengerahkan KRI Siguror. Kapal tersebut akhirnya ditangkap di titik kordinat 01/08.722U/103.48.022T. Saat ditangkap kapal itu menggunakan bendera Singapura.

“Danguskamla melapor ke Pangmabar, meminta kapal bersama empat krunya itu ditarik ke Batam. Walau nama kapal itu bukanlah, sesuai dengan informasi yang kami dapat. Kami bawa dulu, karena secara siluet kapal itu memiliki ciri yang sama dengan kapal yang diinformasikan ke kami,” tuturnya.

Anggota TNI AL mengawal sabu dan empat tersangka dengan bersenjata lengkap saat ekspos di Lanal Batam, Batuampar, Sabtu (10/2). Sabu seberat satu ton ini dibawa oleh kapal MV Sunrise Glory. F. Dalil Harahap/Batam Pos

Kapal itu masuk ke Batam, Kamis (8/2) dinihari. Dari awal, kata Achmad pihak TNI AL sudah mencurigai kapal ini adalah kapal yang selama ini jadi target operasi mereka. Oleh sebab itu, TNI AL segera berkoordinasi dengan Badan Narkotika Nasional. “Pak Arman (Irjen Pol Arman Depari selaku Deputi Penindakan BNN) mengirimkan anggotanya ke kami. Bea Cukai menurunkan unit anjing pelacaknya,” ungkapnya.

Butuh waktu satu hari lebih, untuk pihak TNI AL, BNN dan Bea Cukai menemukan sabu tersebut. “Kami temukan itu, Jumat (10/20 pukul 18.00,” tuturnya.

Sabu itu ditemukan di dalam palka bagian buritan kapal. Sebanyak 41 karung sabu ditemukan di bawah tumpukan karung beras. “Kami menduga itu beras semua, soalnya bagian atas kami lihat isinya beras semua. Berasnya banyak banget, bisa untuk persedian beberapa bulan,” tuturnya.

Namun saat tim anjing pelacak diturunkan. Anjing-anjing tersebut langsung mencium keberadaan sabu-sabu tersebut. Saat berada di atas kapal, anjing pelacak itu menuju bagian buritan kapal. “Setelah dicek, benar ada sabu. Saat ini anjing pelacaknya sedang dalam kondisi yang tak baik. Bisa jadi karena ombak, atau mencium sabunya. Kami menduga masih ada lagi sabunya disembunyikan di kapal,” ungkapnya.

Achmad menuturkan pihaknya akan menunggu kondisi anjing pelacak pulih kembali, agar bisa kembali bekerja mengendus narkoba lainnya yang disembunyikan komplotan ini.

Melihat sindikat ini, ia menduga jaringan ini memiliki mother ship atau kapal yang menyuplai sabu-sabu ke kapal-kapal kecil. “Itu bisa jadi, melihat persedian makanan mereka,” ungkapnya.

Dari pantauan Batam Pos di kapal itu berisikan berkarung-karung beras yang sudah dibongkar oleh tim Satgas gabungan. Tidak hanya beras saja. Ada juga rokok, tius, dan berbagai jenis minuman kaleng. Selain itu juga ada sampo bertuliskan huruf Thailand. Lalu juga ada air mineral dalam kemasan merek Swirzer, yang berasal dari Pasir Panjang, Singapura. Selain itu, ada air mineral dalam kemasan merek En Pure buatan Malaysia.

Bagian haluan kapal, terdapat dua pintu tingkap dan satu pintu geser. Pintu geser ini menuju sebuah ruangan yang berada di bagian kiri haluan. Sedangkan dua pintu tingkap ini, menuju ke bagian palka kapal. Tempat menuju ke palka kapal, juga bisa melalui bagian tengah kapal. Dari tempat untuk istirahat bagi kru kapal, ada jalan menuju ke bagian palka.

Untuk menuju ke palka yang lainnya, juga bisa melalui buritan. Di tempat inilah sabu itu disembunyikan oleh komplotan ini.

Di lihat secara sekilas, Sunrise Glory mirip dengan kapal-kapal penangkap ikan milik nelayan Thailand. Berjejer di sisi kiri dan kanan kapal, pancing besar untuk menangkap ikan. Kamuflase kapal ini sangat sempurna, dengan memiliki izin menangkap ikan yang dikeluarkan pejabat Indonesia tahun 2014. “Terkait dokumen ini, kami rasa dipalsukan,” tuturnya.

Terkait dugaan Kapal Sunrise Glory dan Wonderlust merupakan satu jaringan yang sama, Deputi Penindakan BNN Irjen Pol Arman Depari menuturkan akan melakukan pemeriksaan atas barang bukti. “Dari barang bukti itu bisa terekam. Apakah ada kesamaan barang bukti wonderlust dengan Sunrise Glory. Jadi narkoba ini memiliki sidik jari. Kalau sama, satu jaringan mereka,” tuturnya.

Maraknya peredaran narkoba dalam dua tahun terakhir ini, menurut Arman karena gencarnya penindakan narkoba di beberapa negara di Asia. “Cina menindak, Filipina juga,” ujarnya.

Akibatnya apa, sabu-sabu yang harusnya jadi pasokan untuk dua negara ini masuk ke Indoensia. Para bandar sabu menilai, Indonesia adalah pangsa pasar yang cukup memiliki potensi. “Bayangkan penduduk dua ratus juta lebih. Sebanyak 40 persennya adalah generasi muda yang sangat mudah terpengaruh dan berpotensi menjadi pencandu,” ucapnya.

Hal ini, haruslah menjadi acuan seluruh instansi di Indonesia. Arman mengatakan dirinya telah mengandeng berbagai instansi, termasuk TNI AL dalam memberantas narkoba. “Indonesia memiliki garis pantai yang panjang. BNN tidak memiliki kapal. TNI AL punya, kami koordinasi dengan mereka. Agar penindakan narkoba menjadi lebih optimal,” ujarnya.

Saat ini, katanya hampir sebagian besar narkoba masuk ke Indonesia melalui laut. Oleh sebab itu, ia berharap seluruh stakeholder dapat bersinergi memberantas peredaran narkoba. (ska)

Dokumen BAP Novel Hilang

0
Novel Baswedan seusai disiram air keras.

batampos.co.id – Proses penanganan kasus penyiraman air keras Novel Baswedan masih belum menunjukan hasil positif hingga saat ini. Sebaliknya, kejanggalan justru terendus dalam perkara yang terjadi 11 April tahun lalu tersebut. Salah satunya terkait dengan pemeriksaan Novel di Singapura pada medio Agustus tahun lalu.

Kejanggalan itu diungkapkan komisioner Ombudsman RI (ORI) Adrianus Meliala. Dia mendapati dokumen berita acara pemeriksaan (BAP) Novel yang hilang. Padahal, pada saat pemeriksaan itu, Novel diperiksa dan sudah di-BAP penyidik Polda Metro Jaya.

“Hanya (dokumen) pemberian keterangan saja dari Novel (yang ada di kepolisian). Ada tanda tangan dan cap KBRI,” ujarnya kepada Jawa Pos, Sabtu (10/2).

Dokumen yang tidak mirip BAP itu ditengarai menjadi akar lambatnya penanganan teror terhadap penyidik KPK tersebut. Adrianus mengatakan, kepada Ombudsman, penyidik Polda Metro Jaya memang mengatakan bahwa Novel belum pernah di-BAP.

“Ini sesuai dengan perkataan penyidik (Polda Metro Jaya) bahwa Novel belum pernah di-BAP,” ungkapnya.

Adrianus pun menyarankan agar dilakukan pemeriksaan ulang terhadap Novel yang kini sedang menjalani perawatan mata di Singapura. Dia juga mengusulkan kepada polisi untuk mendalami keterangan Novel yang sebenar-benarnya.

“Keterangan Novel bisa didalami dibawah sumpah, bukan karena katanya si A, katanya si B,” ucapnya.

Menanggapi hal itu, Novel menegaskan bahwa dirinya sudah pernah di BAP oleh penyidik Polda Metro Jaya di Singapura. Pemeriksaan itu dilakukan di kantor Kedutaan Besar RI (KBRI) Singapura yang terletak di Jalan Chatsworth 7.

“Tidak benar juga bahwa saya pernah menandatangani suatu tulisan dengan format seperti BAP dan diberi cap KBRI. Itu aneh lagi,” ungkap suami Rina Emilda itu.

Novel mengatakan, pemeriksaan di Singapura itu juga disaksikan pegawai dan pimpinan KPK. Karena itu, dia meminta Ombudsman untuk menanyakan secara kelembagaan kepada KPK terkait dengan temuan dokumen kepolisian tersebut.

“Untuk lebih jelas bisa ditanyakan ke KPK, karena setiap proses saya selalu didampingi dari KPK,” tegasnya.

Sementara Karopenmas Divhumas Polri Brigjen M. Iqbal menuturkan, Polri berupaya semaksimal mungkin untuk menemukan pelaku penyiraman Novel. Yang sketsa orang yang diduga menjadi pelaku juga sudah tersebar.

”Kami berupaya sekuat tenaga,” ujarnya. (tyo/idr/jpg)

Rakus Lentil dan Kurma Mentah Beku

0

Semua itu bermula di hari kedua saya berada di Madinah. Sehari sebelumnya kami tiba dari Surabaya setelah matahari tenggelam. Enam cucu yang masih kecil membuat kami tidak bisa bergegas langsung ke masjid Nabi untuk ikut berjamaah salat isya. Kami ke hotel dulu.

Jam 2 dini hari saya bangun. Sengaja. Untuk kembali ke masjid Nabawi. Hanya satu blok dari hotel. Saya ketok dulu kamar Azrul Ananda, anak sulung saya. Ternyata dia juga sudah bangun. Lagi makan burger. Saya ajak dia ke masjid. Untuk sholat malam. Mumpung Raudlah mestinya masih lebih sepi.

Tempat sholat di sebelah makam Nabi Muhammad SAW itu biasanya penuh sesak. Sulit sekali mencapai area itu. Apalagi memasukinya.

Beberapa jam yang lalu, habis makan malam di hotel, kami sudah rame-rame ke masjid Nabawi yang megah dan besar itu. Untuk sholat isya dan beberapa sholat sunnah lainnya. Saat itu niat ke area Raudlah juga ada. Tapi hil itu akan mustahal.

Kami pilih segera tidur saja. Agar bisa bangun jam 2 dinihari. Untuk ke masjid lagi. Pada jam 2 seperti itu saya dan Azrul bisa masuk Raudlah. Sholat sendiri-sendiri. Diselang seling dengan membaca Quran.

Saya lirik Azrul sholat dengan tingkat kekhusukan yang tinggi. Saya tahu dia sulit duduk dalam posisi takhiyat akhir. Ada besi di dalam lututnya. Sejak cedera saat main sepakbola dulu. Ini untuk pertama kalinya Azrul mau diajak umroh. Sehingga baru kali ini saya bisa umroh sekeluarga lengkap. Istri, anak-anak, menantu-menantu dan enam cucu.

Habis subuh, setelah matahari terbit, kami janjian untuk bertemu seluruh keluarga di Starsbuck. Tidak mungkin kami saling mencari di dalam masjid yang begitu besar dan begitu penuh.

Sambil menunggu matahari terbit saya duduk-duduk di plaza depan makam Nabi. Ratusan payung raksasa di plaza itu mulai dimekarkan serentak. Membuka secara otomatis. Gerakan yang sangat masif dan indah. Banyak yang menyaksikannya. Banyak pula yang minta foto bersama. Kadang saya malu dilihat orang saat mereka maksain minta foto bersama di dalam masjid.

Ternyata Starbuck tutup sepagi itu. Kami pun kembali ke hotel. Sarapan prasmanan di coffee shop. Saat itulah rakus saya muncul. Rakus yang akan membawa bencana.

Di prasmanan itu saya lihat disajikan masakan India yang lezat. Lentil. Yang dibuat seperti bubur tapi kental. Saya ambil satu mangkok penuh. Lentil yang lezat. Bumbu daal Indianya terasa nendang. Lentil adalah sejenis kacang-kacangan yang tumbuh di daratan India, Pakistan sampai ke Timteng dan Italia. Orang Italia sangat bangga dengan sup lentil. Karena enaknya, gizinya dan… satu-satunya biji-bijian yang namanya disebut dalam Alkitab Injil. Seperti zaitun, tin dan kurma yang disebut dalam Quran.

Pagi itu lentil satu mangkok ludes. Saya ambil masakan India lainnya. Juga satu mangkok. Habis. Di meja saya lihat ada satu gelas juice yang belum diminum. Agar tidak mubazir saya minumlah juice itu. Kecutnya bukan main.

Perut mulai terasa penuh dan sesak.

Komando berikutnya datang: sudah tiba waktunya berangkat ziarah. Ke masjid Qubah, Kiblatain, gunung Uhud dan lainnya. Lalu saya bertanya ke cucu-cucu: apakah sudah pernah lihat kebun kurma? Mereka menjawab serentak: beluuuum!

Usai ziarah kami pun ke kebun kurma. Kurang menarik. Tidak lagi musim kurma. Tapi di toko kami melihat ada kurma kesukaan saya: kurma mentah. Kok ada kurma mentah di luar musim kurma. Ternyata itu kurma mentah yang dibekukan. Jadi es. Lebih enak. Kriuk-kriuk.

Sepanjang perjalanan kembali ke hotel saya terus mengeremus kurma mentah itu. Sêpêt tapi enak. Enak tapi sêpêt. Saya suka makan kurma mentah di Jakarta. Meski carinya sulit. Kini, di Madinah, ini ada dua kilo kurma mentah beku. Saya tidak berhenti menggayangnya. Saya pernah makan kurma mentah saat di Tucson, Arizona, dua tahun lalu. Tapi tidak beku. Enak sekali. Istri saya tidak mau. Anak-anak tidak mau. Cucu-cucu apalagi.

Sampai di hotel kami istirahat. Menunggu adzan dhuhur yang masih dua jam lagi. Saat itulah tiba-tiba saya merasa sesak nafas. Tambah lama tambah sesak. Sampai saya tidak tahan lagi. Dada sakit. Punggung nyeri. Nafas tersengal berat. Saya pun berteriak kepada keluarga bahwa saya lagi terkena serangan jantung. Agar dibawa ke dokter. Segera.

Mengapa saya berkesimpulan kena serangan jantung? Saya terlalu terpengaruh atas meninggalnya sepupu kami yang baik hati. Seminggu sebelumnya. Kyai Ridlo Tafsir di Takeran Magetan. Gejalanya sama.

Saya coba duduk di ranjang. Menenangkan diri. Tidak bisa. Begitu posisi duduk justru lebih tidak bisa bernafas. Saya coba berbaring. Lebih gak bisa bernafas lagi. Saya hanya bisa bernafas kalau posisi saya berdiri. Itu pun wajah harus menengadah. Dan mulut harus terbuka. Bernafas lewat mulut.

Saya muter-muter panik di dalam kamar. Sambil terus berteriak “saya kena serangan jantung… saya kena serangan jantung”. Wajah mayat Kyai Ridlo Tafsir terus terbayang.

Saya tidak menyalahkan RS di Madinah itu: mengapa tidak memeriksa kemungkinan sakit yang lain. Saya terlalu dominan mendekte dokter. Pertama soal kena serangan jantung itu. Yang sebagian saya maksudkan sebagai trik agar segera ditangani. Kedua soal cerita berbagai makanan yang saya lahap sepanjang pagi itu. Yang membuat dokter fokus pada pencernaan saya.

Mungkin juga karena saat itu pasien terus berdatangan. Banyak yang lebih tua dan wanita. Ruangan penuh. Sudah jam makan siang pula.

Mungkin juga karena rumah sakit ini gratis. Milik pemerintah. Begitu dokter minta saya meninggalkan RS, kami meininggalkan begitu saja. Tidak ada urusan administrasi discharge atau administrasi pembayaran.

Yang jelas saya lega: bukan serangan jantung. Hanya pencernaan yang harus bekerja normal dulu. Dengan cara harus diistirahatkan. Artinya jangan makan dulu. Saya pegang dan ikuti kata-kata dokter itu. (*)

 

oleh: Dahlan Iskan