Wakil Bupati Karimun Anwar Hasyim mengalungkan bunga kepada wisman asal Malaysia Amizah, saat turun dari kapal di Pelabuhan Internasional Tanjungbalai, Karimun, Senin (1/1). F. Dokumentasi Disparbud Karimun untuk Batam Pos.
batampos.co.id – Setiap awal tahun, Pemerintah Karimun selalu menyambut kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) dengan acara seremonial. Tapi kali ini, pengalungan bunga sebagai tanda selamat datang hanya dilakukan secara simbolis oleh Wakil Bupati Anwar Hasyim di pelabuhan internasional Tanjungbalai Karimun, Senin (1/1) kemarin.
Adalah Muh dan Amizah, pasangan suami isteri asal Malaysia menjadi wisman pertama yang masuk ke Bumi Berazam di tahun 2018. Begitu menginjakkan kaki di pelabuhan, Wakil Bupati langsung mengalungkan bunga.
“Selamat datang di Bumi Berazam. Selamat menikmati liburan di Karimun, bapak dan ibu mendapatkan voucher penginapan selama dua hari,” kata Anwar Hasyim kepada wisman asal Malaysia sambil mengalungkan bunga.
Sedangkan Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karimun Zamri mengatakan, penyambutan wisatawan awal tahun 2018 tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang biasanya diadakan sambutan hiburan sambil menikmati makanan tradisional di lokasi pelabuhan.
“Kali ini secara sederhana saja, hanya pengalungan bunga, pemberian bunga telor dengan diiringi kompang di ponton pelabuhan International Tanjungbalai Karimun oleh Pak Wabup,” jelasnya.
Sementara target kunjungan wisman pada tahun 2017 lalu, tidak terpenuhi. Dari 100 ribu wisman yang ditargetkan, hanya 90 ribu wisman. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor, mulai dari terjadinya perubahan mata tukar uang ringgit, isu teroris, pilihan raya di Malaysia dan sebagainya.
“Tahun 2018 target kita sama yaitu 100 ribu. Mudah-mudahan, target dapat tercapai nanti yang rata-rata wisman berkunjung ke Karimun secara bekeluarga maupun berkelompok untuk menikmati kuliner dan wisata alam yang hampir mirif dengan daerah asal wisman,” tuturnya.
Terpisah wisman asal Malaysia Muh bersama istri Amizah cukup terharu atas sambutan dari Pemerintah setempat. Sebab, tidak menyangka akan disambut bagai raja saat turun dari kapal. Dirinya, berkunjung kali kedua setelah 10 tahun silam berkunjung ke Karimun.
“Kami datang kesini untuk merayakan hari jadi pernikahan ke 46 tahun. Dan ingin menikmati kuliner yang cukup lumayan murah,” singkatnya.
Pantauan di lapangan, para wisman yang turun dari kapal baik itu dari Malaysia dan Singapura diberikan kalung bunga, maupun bunga telor sekaligus diberikan voucher hotel yang disediakan oleh Disparbud Karimun bekerjasama engan hotel di Karimun sekitar 20 lembar. (tri)
Ketua APEK Jhon Veto Yunan ketika melihat perhiasan di toko Dayat. F. Tri Haryono.
batampos.co.id – Pergerakan harga emas sepanjang tahun 2017 tidak begitu signifikan atau terjadi penurunan dibandingkan tahun 2016 silam. Hingga akhir tahun 2017, harga emas 24 karat masih bertahap Rp 562 ribu per gram. Sedangkan, penjualan emas untuk di Pulau Karimun cukup sepi tidak seperti tahun 2016 sebelumnya.
Hal ini disampaikan salah seorang pedagang emas di Tanjungbalai Karimun Dayat. Menurunnya penjualan emas diakibatkan lesunya pergerakan ekonomi di pulau Karimun.
“Lesulah tahun 2017. Dampak dari kemerosotan ekonomi di Karimun, investasi tidak ada terobosan untuk menggairahkan ekonomi dari Pemerintah Daerah juga tidak ada sama sekali. Dan saya berharap diawal tahun 2018 ini, bisa terjadi perubahan ekonomi,” harap Dayat pemilik toko mas yang ada di Tanjungbalai Karimun, Minggu (31/12).
Walaupun, diprediksi akan terjadi kenaikan harga minyak dunia namun belum pasti penjualan emas akan ikut naik. Sebab, konsumsi dunia yang lainnya juga berpengaruh terhadap harga emas itu sendiri. Yang jelas, bagaimana pertumbuhan ekonomi di Karimun bisa berubah supaya ada transaksi jual beli perhiasan emas.
“Pelaku usaha saja masih menunggu kebijakan. Sekali lagi, paling kebijakan Pemerintah Daerahlah yang berperan,” tuturnya.
Sementara itu Ketua Asosiasi Pedagang Emas Karimun (APEK) Jhon Vito Yunan ketika dimintai tanggapannya mengatakan, optimis harga emas akan ada perubahan yang secara fluktuasi di tahun 2018. Dan dirinya paling utama adalah, menghimbau kepada masyarakat agar membawa barang berharga perhiasannya emas supaya menunjukkan surat-surat pembelian. Sehingga, ketika ada masalah bisa menjadi alat bukti bagi para pedagang bahwa barang perhiasan emas tersebut dibeli secara legal.
“Saya juga tetap mengingatkan kepada para pedagang emas agar hati-hati ketika melakukan transaksi. Sebab, dilihat pada tahun sebelumnya banyak terjadi modus penipuan melalui transaksi perhiasan emas,” ungkapnya.
Lanjutnya, keberadaan APEK ini tidak lain bertujuan untuk menjalin talisilaturahmi antar pedagang emas dan sepakat tidak saling menjatuhkan nilai harga perhiasan emas yang telah berkomitmen. Selain itu, membantu dalam proses hukum ketika salah satu pedagang emas dituduh sebagai penadah. Artinya, ketika pihak aparat menangani kasus pencurian ada kaitannya dengan pedagang emas bisa dibantu menjembatani penyelesaian masalah. Dimana saat ini yang sudah tergabung di APEK ada 28 anggota pedagang emas.
“Saya mengucapkan selamat tahun baru 2018, semoga ekonomi Karimun tumbuh. Dan bisa berdampak kepada para pedagang emas yang ada di Karimun, ” kata Jhon Vito lagi.
Pantauan di toko emas Dayat, terlihat masyarakat yang sedang melakukan transaksi jual emas. Selain itu ada juga yang hanya melihat dan menanyakan perhiasan emas dengan berbagi corak dan bentuk, seperti gelang, cinci, kalung dan sebagainya.(tri)
batampos.co.id – Kapolres Tanjungpinang AKBP Ardiyanto Tedjo Baskoro menyatakan bahwa sampai saat ini kasus dugaan korupsi dana penyertaan modal APDB 2014 di Badan Usaha Pelabuhan (BUP) PT Pelabuhan Kepri masih dalam tahap pengumpulan data dari instansi terkait.
“Untuk kasusnya masih dalam bentuk laporan informasi. Kami masih dalam tahap pengumpulan data,” ujarnya saat dihubungi Batam Pos, beberapa waktu yang lalu.
Hingga saat ini, Tedjo mengaku bahwa pihaknya masih memeriksa satu orang saksi dalam menindak lanjuti kasus dugaan korupsi sebesar Rp 25 miliar ini. Namun, saat dikonfirmasi siapa yang diperiksa oleh pihaknya terkait laporan informasi ini, Tedjo masih enggan membeberkannya.
“Saksi yang kita periksa sejauh ini baru satu saksi, dari instansi terkait. Nanti akan kami panggil saksi-saksi lainnya untuk mengumpulkan data-datanya,” kata dia lagi.
Ia menambahkan, usai meminta keterangan dari beberapa orang saksi-saksi dan pengumpulan data, Polres Tanjungpinang akan segera melakukan gelar perkara, untuk menentukan kasus ini apakah memenuhi unsur-unsur tindak pidana korupsi atau tidak. Jika memenuhi, Polres Tanjungpinang akan meningkatkan kasus ini ke penyidikan.
“Saat ini kasusnya masih dalam lidik, belum ke sidik. Nanti setelah gelar perkara baru bisa duputuskan apakah bisa dinaikkan atau tidak,” imbuhnya.
Adapun penyelidikan yang dilakukan Polres Tanjungpinang ini bermula dari informasi bahwa penggunaan dana penyertaan modal APDB Kepri untuk menggerakkan BUP milik Pemerintah Provinsi Kepri sebesar Rp 25 miliar habis digunakan hanya untuk biaya operasional saja.
Hal ini menimbulkan kecurigaan aparat kepolisian untuk meyelidikinya lebih jauh lagi. Bahkan, aparat kepolisian juga sudah melakukan pemanggilan terhadap Kepala Biro Administrasi Perekonomian Provinsi Kepri untuk menyerahkan data penyertaan modal Pemerintah Provinsi Kepri ke PT Pelabuhan Kepri. (cr1)
batampos.co.id – KASUS kejahatan yang tak kalah berbahayanya yang masih akan tumbuh subur di Provinsi Kepri pada 2018, khususnya Batam, adalah penyalahgunaan narkoba. Bahkan Kepri masih jadi salah satu pintu utama masuknya narkoba dari luar negeri yang akan diedarkan di berbagai wilayah di Indonesia.
“Narkoba asal Malaysia masih menjadi salah satu penyumbang terbesar narkoba di negeri ini, khususnya jenis sabu,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepri Brigjend Pol Nixon Manurung, Rabu (27/12) tahun lalu, sebelum pindah tugas menjadi Kepala BNNP Kalimantan Selatan.
Selama menjadi kepala BNNP Kepri, Nixon menyebutkan narkoba jenis sabu asal Malaysia lebih banyak keluar lewat pelabuhan Johor Bahru. Dari Johor Bahru, narkoba dikirim ke Batam atau wilayah lainnya di Kepri, sebelum diselundupkan lagi ke wilayah lainnya di Indonesia.
Bahkan narkoba yang masuk ke Kepri dari Johor, tak sekadar transit di Batam. Pulau berbentuk kalajengking ini juga menjadi pasar potensial. Pria yang baru saja ditunjuk menjadi Kepala BNNP Kalimantan Selatan ini menyebutkan, khusus di Kepri, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba sudah masuk tahap mengkhawatirkan. Sebab tak hanya menyasar orang dewasa, namun juga mahasiswa, bahkan pelajar setingkat SMP.
“Remaja itu termasuk golongan yang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba, karena di usia mereka itu, mereka memiliki sifat dinamis, energik, dan rasa ingin tahu yang tinggi, sangat rentan terjerumus ke penyalahgunaan narkoba,” jelasnya.
Nixon menyebutkan, pada 2017 saja, pihaknya berhasil mengungkap sindikat peredaran narkoba jenis sabu-sabu dari Malaysia dengan barang bukti yang cukup banyak. “Kami mengamankan 37.746 gram sabu-sabu, sejumlah itu jugalah masyarakat Kepri yang kami selamatkan dari narkoba ini,” jelas Nixon.
Barang bukti sabu itu akumulasi 55 kasus tindak pidana narkotika yang sudah P21. Sedangkan jumlah jaringan atau sindikat yang terungkap ada delapan jaringan besar, tujuh jaringan sedang, dan enam jaringan kecil.
“Totalnya 21 jaringan yang kita ungkap sepanjang tahun ini,” ujar Kepala Bidang Pemberantasan Narkoba BNNP Kepri, Bubung Pramiadi.
ilustrasi Narkoba
Bubung menyebutkan, dari sindikat tersebut, diamankan 92 tersangka. Satu di antaranya anak di bawah umur berusia 16 tahun yang bertindak sebagai kurir.
Tak hanya WNI, dari 92 tersangka itu, ada 12 Warga Negara Asing (WNA). Satu WNA asal Amerika Serikat dan 11 warga negara Malaysia.
Dibandingkan 2016, jumlah kasus tindak pidana narkoba memang menurun. Tahun 2016 ada 62 kasus. Namun dari sisi barang bukti, jauh lebih besar di 2017. Meski hanya 55 kasus, namun barang bukti sabunya menembus angka 37.746 gram atau 37,74 kilo gram. Sementara di 2016 dari 62 kasus, barang buktinya hanya 17 kg sabu-sabu dan 25 ribu butir ekstasi.
“Jadi jumlah kasus itu bukan ukuran kesuksesan, ukurannya berapa banyak BB yang diamankan karena berkaitan langsung dengan jumlah warga yang diselamatkan,” kata Bubung.
Keberhasilan BNNP Kepri dalam pelaksanaan program pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba (P4GN) di Kepri selama 2017, tak lepas dari dukungan masyarakat yang aktif melapor ke BNNP. Juga berkat kerja sama dengan instansi yang jadi bagian Criminal Justice System, serta pelatihan peningkatan kemampuan penyidik sehingga menambah skill personel dalam mengungkap kasus narkoba.
Selain itu, BNNP Kepri juga menjalin kerja sama dengan Bea Cukai, TNI AL, Kepolisian, Jaksa, Hakim, para penegak hukum, serta lembaga pendidikan, serta masyarakat dalam upaya pemberantasan narkoba melalui diseminasi, penyuluhan, dan juga sosialisasi. BNNP menanamkan bahwa narkoba itu merupakan musuh bersama.
Brigjend Pol Richard Nainggolan, kepala BNNP Kepri yang baru mengatakan, BNNP Kepri akan meningkatkan koordinasi dan optimalisasi, serta meningkatkan daya tolak masyarakat terhadap barang haram ini pada 2018 ini.
Menurutnya, penyalahgunaan narkoba bukan sekadar perilaku menyimpang, yang apabila tertangkap, langsung diproses hukum. Tidak sesederhana itu. Penyalahgunaan barang haram ini tak hanya kasus kriminal saja, melainkan bagian dari kejahatan khusus yang dampaknya luar biasa. Sebab dampaknya akan mempengaruhi keberlangsungan dan tatanan hidup di negeri ini.
Bahkan, kejahatan narkoba disejajarkan dengan kejahatan korupsi dan terorisme. Sebab, korbannya banyak dan merusak masa depan generasi penerus. Baik fisik maupun mentalnya.
“Tak hanya mempengaruhi fungsi kognitif, tapi juga mempengaruhi perasaan, psikomotorik, sehingga membuat pemakainya tidak bisa berpikir normal, rentan jadi pemurung, pemarah, depresi, sulit konsentrasi, dan rentan asusila sehingga mendorong penggunanya melakukan tindakan kriminal,” bebernya.
Kasus kecil akibat narkoba, para penggunanya apabila tidak memiliki uang untuk membeli barang haram untuk pemenuhan kebutuhannya, maka si pengguna rentan melakukan perbuatan kriminal lain seperti memeras orang-orang dekat, menganiaya, mencuri, merampok, bahkan bisa sampai melakukan tindakan pembunuhan. Tindakan ini sangat meresahkan masyarakat.
Sementara pemerhati sosial yang juga psikolog, Mahmud Syaltut, mengaku prihatin anak bawah umur sudah jadi pengedar. Bahkan, kini banyak usia SMP sudah menjadi pengguna narkoba. “Butuh pencegahan defensif,” ujar Syaltut, Kamis (28/12) tahun lalu.
Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Daerah Kepri ini menjelaskan, tak hanya penyalahgunaan narkoba, anak-anak di Kepri kini juga banyak terlibat kasus tindak kriminal lainnya.
Ia mencontohkan, di Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepri, mereka baru saja mengurus kasus pencurian laptop yang dilakukan anak usia lima tahun. Pada awal November lalu, anak usia tujuh tahun juga mencuri uang orangtuanya senilai Rp 5 juta. Menurut Syaltut, tindakan ini merupakan bagian dari reaksi kognitif.
“Ada yang namanya reaksi kognitif. Dimana, anak-anak kini sangat mudah mendapatkan informasi-informasi yang begitu transparan dari internet atau pun televisi. Mereka terpapar, tanpa sortir. Makanya rentan meniru. Meniru kegiatan yang negatif,” jelas Syaltut. (cha)
batampos.co.id – Pasangan calon kepala daerah yang akan mengikuti Pilkada Tanjungpinang 2018 wajib melaporkan kekayaannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Surat keterangan pelaporan harus dilampirkan saat pendaftaran dibuka pada 8 Januari 2018 mendatang. “Pas pendaftaran, form itu yang musti disiapkan,” kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tanjungpinang, Robby Patria, belum lama ini.
Semakin cepat diurus persyaratan ini akan semakin baik. Karena kata Robby, para bakal calon wali kota dan wakil wali kota telah dapat melangsungkan proses untuk melengkapi persyaratan tersebut. Utamanya, persyaratan yang mengharuskan bakal calon mengurus proses laporan di luar kota, dan diperkirakan akan membutuhkan waktu yang lebih panjang. “Seperti laporan kekayaan ke KPK dan keterangan tidak pailit. Yang ngurusnya harus di Pengadilan Niaga di Medan,” terangnya.
Selain memperhatikan waktu untuk segera melengkapi persyaratan pendaftaran, Robby juga mengingatkan agar para bakal calon turut serta memerhatikan besaran angka harta kekayaan yang dilaporkan. “Jumlah harta kekayaan yang dilaporkan di KPK harus sama dengan laporan di kantor pajak,” ucap Robby.
Berkenaan dengan pengurusan pajak NPWP yang bakal dilakukan bakal calon, tentunya seluruh angka akan terlihat. Sehingga jika ditemukan selisih diantara kedua laporan tersebut, akan menjadi pertanyaan tersendiri. “Kalau ada selisih, urusannya nanti debgan kantor pajak,” pungkas Robby. (aya)
batampos.co.id – Kapolres Bintan AKBP Boy Herlambang mengimbau masyarakat yang berlibur ke pantai agar menahan diri untuk tidak berenang di laut saat ombak tinggi. Hal ini menyusul tenggelamnya tiga remaja di Pantai Serumpun Padi Mas Trikota Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Minggu (31/12) sore lalu.
“Ketiganya tenggelam, tapi tidak meninggal,” katanya saat ditemui di pelabuhan Bandar Bentan Telani, Lagoi, Senin (1/1) pagi kemarin.
Ia menjelaskan, saat itu, ketiganya yakni, Sutra Dwi pangga,17, Yufirman,17, dan Angil Surya Laksmana,16, bersama lima teman lainnya bermain di Pantai Trikora. Meski ombak tinggi dan angin bertiup kencang, Sutra tetap nekad berenang.
Tak lama berselang, Sutra terseret ombak dan sudah berada jauh dari bibir pantai. Sutra yang sudah terlihat lemas melambai meminta pertolongan ke teman-temannya yang berada di pantai. Dua korban lainnya, Yufirman dan Angil Surya Laksmana langsung berenang untuk memberikan pertolongan namun keduanya justru ikut diseret ombak.
Saat itu, masyarakat melaporkan kejadian ke petugas. Tim Tagana dan kepolisian dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dibantu masyarakat berhasil menyelamatkan ketiga korban yang tenggelam. “Korban bernama Yufirman sempat kritis, namun masa kritisnya sudah berlalu,” katanya.
Kasatpolair Polres Bintan AKP Norman yang ditemui di Lagoi mengatakan, pihaknya sudah menempatkan 12 personel untuk menjaga sejumlah pantai yang rawan orang tenggelam yakni pantai di Tanjunguban, TanjungBerakit, Pengudang, Trikora dan Bintan Timur.
“Masing masing titik kami tugaskan 2 anggota,” tukasnya. (cr21)
batampos.co.id – Sepanjang tahun 2017, Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Tanjungpinang bersama dengan polsek jajaran mencatat sebanyak 471 tindak pidana di Kota Tanjungpinang. Dari kasus tersebut, 172 kasus belum terselesaikan sampai saat ini.
Kapolres Tanjungpinang AKBP Ardiyanto Tedjo Baskoro mengatakan, di tahun 2017 telah terjadi satu tindak pidana setiap 18 jam. Meski demikian, ia mengklaim bahwa jumlah ini mengalami penurunan dibanding tahun 2016 lalu.
“Kalau kita lihat data tahun 2016, setiap 14 jam terjadi satu peristiwa pidana. Jadi, disini kegiatan preventif juga dinilai sudah aktif,” ujarnya.
Dijelaskannya, pada tahun 2016 lalu, jumlah tindak pidana yang tercatat di Polres Tanjungpinang beserta polsek jajaran sebanyak 592 kasus. Dari jumlah kasus tersebut, 349 kasus diantaranya telah terselesaikan. “Dari jumlah itu, ada penurunan tindak pidana. Sedangkan tingkat penyelesaian kasusnya mengalami peningkatan sebesar 4 persen,” jelasnya.
Sementara itu, untuk kasus narkoba menjadi tahun yang berprestasi bagi Polres Tanjungpinang. Selama tahun 2017, untuk kasus narkoba tercatat ada 55 kasus dan di tahun 2016 tercatat sebanyak 68 kasus.
“Meski jumlah kasusnya sedikit dibandingkan tahun 2016. Namun untuk jumlah barang lebih banyak di tahun 2017,” kata Tedjo.
Untuk 2016 kasus narkoba jenis ganja sebanyak 3 kasus, sabu 62 kasus dan ektasi 3 kasus. Sementara untuk barang bukti tahun 2016 ganja 2.338,12 gram, sabu 3,873 gram, dan ekstsi 195 butir selama 2016. “Dari 68 kasus itu, kita mengamankan total tersangka sebanyak 90 orang,” tuturnya.
Kemudian di tahun 2017 kemarin, kasus narkoba jenis ganja sebanyak 2 kasus, sabu 48 kasus, ektasi 5 kasus. Sementara untuk barang bukti ganja 6,26 kg, sabu 6,274 kg, ektasi 19.191 butir dan serbuk ekstasi 179,79 gram. “Dengan total tersangka sebanyak 87 orang,” bebernya.
Untuk ke depannya, Tedjo berharap seluruh masyarakat Tanjungpinang berperan aktif dalam memberikan informasi kepada pihak kepolisian terkait tindak pidana umum maupun peredaran narkoba. Hal ini tidak terlepas dari Kota Tanjungpinang yang menjadi tempat favorit peredaran narkoba. “Tanjungpinang paling enak masuknya kapal dan juga gampang untuk keluar. Sebagian besar ada yang kami ungkap di pelabuhan maupun bandara. Jika masyarakat ada yang mengetahui atau melihat segera lapor kepada kami,” imbuhnya. (cr1)
batampos.co.id – Kejahatan konvesional masih mendominasi kasus kriminal di Provinsi Kepulauan Riau 2017. Beberapa kasus serupa diprediksi masih akan mewarnai 2018. Namun ujaran kebencian bernuansa SARA di dunia maya diperkirakan akan leboh dominan, apalagi tahun depan merupakan tahun politik.
SUARA tabuh drumband itu membahana di Bandara Hang Nadim Batam, Rabu petang 29 November 2017 lalu. Seorang pria berseragam lengkap ditemani wanita berhijab turun dari pesawat. Ia melempar senyum pada semua yang menyambut, sambil berjalan menuju gedung VVIP bandara tersebut.
Dialah Irjen Pol Didid Widjanardi, jenderal bintang dua yang baru dilantik menjadi Kapolda Kepri. Didid menggantikan Irjen Sam Budigusdian yang mendapat tugas baru sebagai pati SSDM Polri. Didid langsung bertolak ke Batam ditemani istri tercinta yang juga Ketua Bhayangkari Kepri yang baru, setelah dilantik di hari yang sama di Jakarta.
Bukan hanya drumband, sebagai penghormatan, Didid bersama istri juga disambut tari persembahan (sekapur sirih) serta tepuk tepung tawar oleh tokoh-tokoh adat dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau.
Didid pun langsung menyalami sejumlah pejabat tinggi Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau dan Kota Batam, serta petinggi TNI yang bertugas di Provinsi Kepulauan Riau yang datang menyambutnya.
Ya, itulah hari pertama Didid bertugas di Kepri sebagai Kapolda. Tepat sebulan sebelum 2017 berakhir. Meski begitu, ia sangat menyadari bahwa tantangan besar menantinya di Kepri.
Namun di awal tugas, Didid bisa bernapas lega. Sebab, ia mewarisi kinerja jajaran kepolisian di Kepri selama 2017 yang terbilang bagus. Lihatlah kasus kriminalitas yang berhasil dituntaskan. Dari 3.510 kasus 1.968 di antaranya berhasil diselesaikan.
Kinerja ini meningkat dibandingkan 2016. Dari sisi jumlah kasus, 2017 jauh lebih sedikit dari 2016 atau berkurang lebih dari 1.000 kasus. Tahun 2016 Polda Kepri dan jajarannya menangani 4.623 kasus kriminal.
Dari sisi pengungkapan kasus, pada 2017 juga terbilang lebih baik. Jika pada 2016 hanya mampu mengungkap 1.649 kasus, di 2017 lebih banyak lagi, yakni 1.968 kasus. Berselisih lebih dari 300 kasus. Meski masih punya PR 1.542 kasus.
“Angka kriminal turun karena jajaran kami mengambil langkah preventif. Patroli-patroli kami tingkatkan dan berbagai langkah pencegahan lainnya juga kami lakukan,” kada Didid, Jumat (29/12) tahun lalu.
Sepanjang tahun 2017, Didid memaparkan ada lima kasus kejahatan paling menonjol di Kepri. Pertama, kasus pencurian kendaraan bermotor 350 kasus. Kedua, kasus penipuan 251 kasus. Ketiga, penggelapan 241 kasus. Keempat, kasus pencurian dengan kekerasan 224 kasus. Dan kelima, kasus penganiayaan sebanyak 89 kasus.
Kasus-kasus tersebut jika ditelaah lebih dalam, hampir semua berorientasi pada pemenuhan kebutuhan perut atau harta benda. Kondisi ekonomi Kepri yang lesu, sulit mencari pekerjaan, banyak pemutusan hubungan kerja (PHK), dan tingginya harga kebutuhan pokok, diduga menjadi pemicu sejumlah warga mengambil jalan pintas dengan melakukan tindakan kriminal tersebut.
Didid menambahkan, selain kejahatan umum, sepanjang 2017, Polda Kepri dan jajarannya juga menangani 73 kasus trans-nasional. Dari jumlah itu, 23 kasus berhasil dituntaskan. Namun dari sisi jumlah, kasus trans-nasional sedikit naik dibandingkan 2016 yang hanya 61 kasus.
“Kejahatan trans-nasional itu seperti pencucian uang, perdagangan orang, dan cyber crime,” sebut Didid.
Sementara kasus kejahatan yang berhubungan kekayaan negara berupa pembalakan liar, penambangan ilegal, pencurian hasil laut, hak kekayaan intelektual, dan korupsi, terbilang banyak di 2017. Tercatat ada 34 kasus. Namun dibandingkan dengan 2016, menurun tiga kasus. Pada 2016 tercatat 37 kasus.
“Tapi semua kasus terkait kekayaan negara di 2017 berhasil kami tuntaskan,” kata Didid.
Ia menyebutkan kasus pembalakan liar 2016 tercatat 15 kasus (10 tuntas), sementara di 2017 hanya tiga kasus. Sedangkan penambangan ilegal yang ditindak Polda Kepri 2016 ada 12 kasus. Di 2017 turun menjadi 10 kasus. Delapan kasus tuntas di 2016, dan semua tuntas di 2017.
Khusus pencurian ikan, hanya ada tiga kasus yang ditangani Polda Kepri 2017. Semua pelaku melibatkan warga negara asing (WNA) dan tuntas ditangani.
Sementara itu, kasus korupsi yang ditangani Polda Kepri sepanjang 2017 juga terbilang banyak. Ada 29 kasus. Jumlah ini meningkat dibandingkan 2016 yang hanya sembilan kasus. Penyelesaian kasus ini juga meningkat drastis.
“Tahun ini kami telah menyelesaikan 26 kasus tindak pidana korupsi,” sebut Didid.
Terkait dengan tiga kasus yang belum diselesaikan, Didid mengatakan ada beberapa problem. Mulai dari habisnya anggaran dari pihak kejaksaan dalam penanganan kasus, hingga perbedaan pendapat antara pihak kepolisian dengan kejaksaan. Akibatnya, kasus tersebut masih menggantung hingga saat ini.
“Kami berusaha menyelesaikan kasus ini secepatnya. Insha Allah 2018 selesai,” janji Didid.
Meski dari jumlah kasus korupsi 2017 itu kekayaan negara tak kembali, namun Didid mengaku puas. Sebab jajarannya berhasil menagani dengan baik. Ia berjanji akan meningkatkan kinerja lagi dalam pemberantasan korupsi, sehingga pelaku tak hanya dijerat hukum, tapi juga bisa mengembalikan kekayaan negara yang dikorupsi. Seperti 2016 lalu Polda Kepri berhasil megembalikan kekayaan negara dari para koruptor sebesar Rp 3,8 miliar.
“Jangan ada lagi pejabat negara yang coba-coba korupsi. Sebab, ini jadi perhatian serius kami ke depan,” tegasnya.
Didid juga membeberkan keberhasilan pihaknya menekan angka kecelakaan lalu lintas di Kepri. Pada 2016 tercatat ada 1.023 kasus lakalantas. Di 2017 turun jadi 817 kasus.
Tidak hanya jumlah kasus lakalantas yang turun, jumlah korban juga. Tahun 2016 ada 194 orang meninggal dunia akibat lakalantas, sedangkan di 2017 hanya 149 orang. Begitupun korban luka berat dan ringan serta kerusakan harta benda.
***
Di tingkat Kota Batam, Kapolresta Barelang Kombes Hengki memaparkan, selama 2017, ada 2.696 kasus kriminal yang ditangani jajarannya, mulai dari polsek-polsek hingga kasus yang ditangani langsung Satuan Reskrim Polresta Barelang. Dari jumlah itu, sebanyak 1.795 kasus berhasil dituntaskan. Sisanya 901 kasus ada yang masih dalam proses dan ada yang memang belum terungkap.
Khusus kasus kriminal yang ditangani Sat Reskrim Polresta Barelang sendiri, jumlahnya sebanyak 1.105 kasus dengan penyelesaian sebanyak 601 kasus (54 persen). Sisanya ada yang masih diproses dan ada yang memang belum terungkap.
Dari kasus kejahatan tersebut, didominasi kasus pencurian. Baik itu pencurian dengan pemberatan, maupun pencurian biasa, hingga pencurian dengan kekerasan.
“Dari 1.105 kasus kriminal yang kami tangani di Polresta saja, 50 persen lebih atau 602 kasus pencurian. Paling banyak curanmor,” sebut Hengki. Dari 602 kasus pencurian itu, sebanyak 466 kasus berhasil diungkap.
Di urutan kedua, kasus penipuan serta penggelapan sebanyak 147 kasus. Sebanyak 56 kasus penipuan dan penggelapan berhasil diungkap.
Sementara tindak kriminal yang tergolong berat seperti pembunuhan, di 2017 hanya ada empat kasus. Dua kasus sudah berhasil diungkap. Salah satunya kasus pembunuhan Deli, ibu satu anak di Tanjunguncang.
“Kalau kasus pemerkosaan ada empat, semua sudah tuntas,” kata Hengki.
Kapolresta Barelang Kombes Hengki bersama Wakapolresta dan Kasat Reskrim memberikan keterangan pengungkapan narkoba saat ekpos di Mapolresta Barelang, Rabu (27/12). F Cecep Mulyana/Batam Pos
Kendati didominasi kasus pencurian, Hengki kurang sepakat jika dihubungkan dengan kondisi ekonomi Batam yang saat ini terpuruk. Penilaian ini disampaikan Hengki berdasarkan jumlah kasus kriminal di 2017 yang jauh menurun dari 2016.
Pada 2016, kasus tindak kriminal yang ditangani jajarannya mencapai 3.054 kasus. Sebanyak 1.862 kasus tuntas ditangani. Sedangkan 2017 jumlah kasus kriminal, hanya 2.696 kasus dan 1.795 kasus berhasil dituntaskan.
“Kalau memang tindak kriminal faktor besarnya di Batam dipengaruhi kondisi ekonomi yang lagi down di awal tahun dan banyaknya jumlah pengangguran, harusnya tahun ini jumlah kasusnya lebih banyak. Nyatanya tidak, justru menurun,” katanya.
Lalu mengapa masih ada 901 kasus belum terungkap? Hengki menjelaskan beberapa kasus yang belum tuntas utamanya disebabkan minim bukti untuk pengungkapan, penyidikan dan penyelidikan. Bahkan ada yang sampai buktinya mendekati nol. Itu yang jadi kendala kenapa tindak kriminal tersebut ada yang belum terungkap.
Khusus kasus korupsi yang ditangani Polresta Barelang, menurut Hengki hanya ada satu yakni dugaan korupsi di Rumah Sakit Embung Fatimah yang melibatkan dua tersangka yakni SF dan F.
“Kasusnya sudah P21 atau berkas lengkap, tinggal tahap dua saja. Untuk jumlah kerugian negaranya mencapai miliaran rupiah,” katanya.
Sedangkan kasus suap dan atau pungli, Hengki menyebutkan ada beberapa kasus. Salah satunya kasus pungli OTT petugas pelabuhan Roro di Punggur yang melakukan pungli sopir lori yang hendak menyeberang dengan modus menaikkan tarif tiket Roro, jauh di atas tarif normal. Ada dua tersangka di kasus ini. Semuanya petugas ASDP Punggur.
***
Lalu bagaimana dengan tahun 2018 yang merupakan tahun politik dan kondisi ekonomi Kepri diprediksi BI hanya akan tumbuh di kisaran 2,42-4,6 persen?
Irjen Didid mengatakan, melihat kasus 2016 dan kalender politik serta kondisi ekonomi Kepri di 2018, pihaknya memperkirakan beberapa kejahatan konvensional akan tetap ada. Begitupun kejahatan yang bersifat spontanitas, dan kejahatan yang hanya mengandalkan otot dengan latarbelakang ekonomi.
Didid tak menafikan kondisi ekonomi Kepri yang diprediksi masih belum pulih bisa jadi salah satu pemicu lahirnya premanisme, kejahatan jalanan, pencurian kendaraan bermotor, sengketa tanah, penyalahgunaan senjata api, pembunuhan, penganiayaan, dan beragam kejahatan lainnya.
Kejahatan trans-nasional juga diperkirakan semakin marak serta meningkat. Sebab, mobilitas warga antarnegara bakal meningkat, mobilitas kejahatan lintas negara juga meningkat. Antara lain terorisme, penyelundupan narkoba, perdagangan manusia, penyelundupan senjata api, imigran gelap, dan cyber crime.
Kejahatan lain yang diprediksi juga akan mendominasi di 2018 adalah kejahatan di dunia maya. Tidak hanya akibat perkembangan teknologi yang makin pesat, tapi tensi politik di 2018 juga berpotensi lebih memanas karena pengaruh media sosial.
Berita hoax (bohong), fiktif, dan ujaran kebencian yang menyasar pihak-pihak yang bertarung memperebutkan kursi di daerah ataupun pusat, diprediksi semakin banyak.
Khusus kaitannya dengan politik, di Kepri sendiri, pertarungan politik akan dimulai dari Pilkada Kota Tanjungpinang. Setelah itu, berlanjut ke pemilihan legislatif dan berlanjut pemilihan presiden di 2019 secara umum. Masing-masing kekuatan akan unjuk kekuatan dan pengaruh yang berpotensi menimbulkan gesekan orang-orang yang berbeda pandangan politik.
“Tidak menutup kemungkinan adanya gejolak-gejolak itu,” kata Kapolda Irjen Didid.
Namun Kapolda sudah mewanti-wanti jajarannya mendeteksi dini potensi gejolak di tahun politik itu, dan menyiapkan antisipasinya.
“Saya ingin pesta demokrasi ini bisa berjalan lancar tanpa ada gangguan,” ungkapnya.
Agar pesta demokrasi ini berlangsung damai dan aman, pihak kepolisian akan mengerahkan satuan reskrim, intelkam Polda kepri, Polres, Polresta dan Polsek-Polsek yang ada di Kepri, untuk memantau setiap gerakan yang sudah mulai mengarah ke hal-hal negatif.
“Setiap ada penggalangan massa juga akan kami pantau. Kami akan masuk ke pentolan parpol, agar mereka bisa mengendalikan pendukungnya. Menciptakan suasana damai dan aman di tahun 2018 itu wajib,” tegasnya.
Tak hanya tahun politik, 2018 menjadi pertaruhan untuk ekonomi Kepri dimana pariwisata akan menjadi andalan, khususnya di Batam. Badan Pengusahaan Batam sendiri menargetkan perekonomian Batam naik 7 persen dalam dua tahun yang dimulai mengejar target itu di 2018.
Tantangan lain, pembangunan dan investasi di Kota Batam juga kembali digalakkan di 2018, sehingga bakal ada penggusuran rumah liar (ruli) di lahan-lahan milik investor. Begitupun dengan rencana Pemko Batam menata Pedagang Kaki Lima (PK5). Dua hal ini juga berpotensi menimbulkan gejolak.
Namun Kapolda Kepri meyakinkan, BP dan Pemko Batam tidak perlu risau soal keamanan. Polisi menjamin kondisi Batam dan Kepri secara umum tetap kondusif. Sehingga dapat membuat seluruh pihak bekerja dengan tenang dan nyaman.
“Apapun program yang dilakukan BP dan Pemko Batam untuk memulihkan kembali ekonomi Batam kami dukung dari aspek keamanan. Sehingga suasana investasi tetap nyaman dan aman,” kata Irjen Didid.
Didid menuturkan, pihaknya sudah mendeteksi dan meningkatkan pengamanan di daerah-daerah yang dianggap rawan. Juga tempat-tempat keramaian.
Bahkan, unjuk rasa yang biasanya menjadi momok menakutkan bagi para pengusaha dan investor, kini dan ke depan akan semakin diredam. Bahkan, intensitasnya dua tahun belakangan ini sudah menurun.
“Tahun 2016 ada 94 kali unjuk rasa, sepanjang tahun ini cuma 76 saja. Semua berjalan aman dan damai, tidak ada tindakan anarkis,” ungkapnya.
Langkah persuasif ini juga diterapkan pihak kepolisian saat menghadapi konflik sosial. Namun ada peningkatan jumlah konflik sosial yang terjadi. Tahun 2016 hanya 68 kasus, di 2017 naik menjadi 78 kasus.
Konflik sosial yang dimaksud antara lain; konflik antarkelompok yang mengedepankan golongannya saja dan memaksakan kehendaknya. Di Batam, konflik ini berpotensi dipicu oleh penertiban lahan dan bangunan ilegal yang ada di atasnya.
Namun Didid meyakinkan, pihaknya sudah merancang berbagai formula untuk mengantisipasi potensi konflik itu.
“Seperti penertiban ruli, kami meminta pemerintah yang berwenang menggunakan cara-cara yang manusiawi. Sehingga tindak menimbulkan konflik,” ujarnya.
Didid mengakui kerja berat menantinya di 2018 dan 2019. Berbagai persoalan yang berpotensi muncul itu tidak mungkin bisa diantisipasi dan diselesaikan sendiri oleh kepolisian. Perlu bantuan dari semuah pihak, baik pemerintah daerah, TNI, ormas, dan elemen masyarakat lainnya.
“Sinergitas itu penting, agar seluruh program pemerintah berjalan lancar,” ujarnya.
Didid juga mengungkapkan, pihaknya sudah memiliki tim cyber patrol yang bertugas mengawasi lalu lintas di kejahatan di dunia maya. “Tidak hanya pihak kepolisian, kami juga memberdayakan masyarakat dalam memantau berita hoax dan ujaran kebencian,” tutur Didid.
Didid berharap kepada seluruh pihak untuk aktif menjaga keamanan dan ketertiban di Kepri. Juga meningkatkan kewaspadaan akan ancaman aksi teroris yang hingga kini masih nyata dan terus mengancam tata kehidupan bermasyarakat.
“Tingkatkan budaya tertib dalam bermasyarakat, patuhi hukum, norma sosial dan agama, supaya terwujud suasana aman dan damai di tanah Kepri,” pinta Didid.
Ia juga berjanji akan terus melakukan peningkatkan pelayanan ke masyarakat, meningkatkan kemampuan personel kesatuan di seluruh wilayah tugas Polda Kepri untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat Kepri.
Hal senada dikatakan Kombes Hengki. Sebagai pihak yang paling bertanggungjawab untuk keamanan di Batam, Hengki berjanji akan mengerahkan semua kemampuannya dan jajarannya untuk mencegah berbagai potensi konflik dan kasus kriminal.
“2018 kejahatan tak akan jauh seperti yang di 2017, namun kami akan berusaha keras mencegahnya,” kata Hengki.
Ia juga sependapat dengan Kapolda soal potensi kejahatan di dunia maya yang bakal meningkat di 2018 hingga 2019 karena tahun politik. Bakal banyak ujaran kebencian bernuansa SARA di media sosial.
Namun Hengki mengingatkan, sehebat apapun pelaku kejahatan di dunia maya menyembunyikan identitas, teknologi yang dimiliki polisi kini sudah maju untuk mengungkap dan menangkap pelakunya.
“Jadi cerdaslah menggunakan media sosial. Jangan jadikan medsos untuk menghina, mencaci, apalagi menyebarkan kebencian berbau sara,” pinta Hengki.
Khusus kasus sentimen SARA juga berpotensi muncul atau bahkan marak di 2018 jelang tahun politik, Kombes Hengki menegaskan, semua hal yang berbau SARA harus dicegah. Bila ada gangguan kamtibmas, siapapun tak boleh mengaitkannya dengan unsur Suku, Agama, Ras ataupun Adat-istiadat (SARA). Semua pihak harus sama-sama menjamin kebersamaan di tengah perbedaan.
“Kami akan mengundang seluruh tokoh agama apapun di Batam dan mengajak mereka semua membuat komitmen menjaga persatuan dan kesatuan serta kerukunan di tengah keberagaman,” ujar Hengki.
Polisi juga akan bersinergi bersama Dinas Pendidikan Kota Batam untuk mensosialisasikan kerukunan di tengah keberagaman ke seluruh pelajar di Batam melalui kepala sekolah masing-masing.
Hengki juga mengimbau seluruh sekolah agar tiap hari Senin pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, menggelar upacara bendera demi mempertebal rasa cinta tanah air. “Itu akan kami lakukan bersama seluruh sekolah di Batam,” kata Hengki.
Soal prioritas ekonomi Batam di sektor pariwisata di 2018, Hengki menyakinkan kepolisian mendukung penuh. Bahkan siap mengerahkan semua potensi agar wisatawan aman dan nyaman selama di Batam. Begitu juga jaminan keamanan untuk para investor.
“Keamanan memang jadi salah satu kunci dan itu tugas kami kepolisian,” kata Hengki. (ska/gas/nur)
Hendri dan Herman, dua pengedar diamankan petugas di Makodim Bintan, Minggu (31/12). F.Yusnadi/Batam Pos
batampos.co.id – Anggota Komando Distrik Militer (Kodim) 0315/Bintan dan Satpol PP Tanjungpinang mengamankan dua bandar sabu jaringan lapas saat razia penyakit masyarakat (pekat) di sejumlah hotel dan wisma.
Dari tersangka Herman, 23 dan Hendri, 26, petugas mengamankan 10 paket sabu seberat 94,41 gram.
Komandan Kodim 0315 Bintan Letnan Kolonel Infantri Ari Suseno melalui Kasdim 0315 Bintan Mayor Sugeng mengatakan bahwa penangkapan ini bermula dari petugas Babinsa melaksanakan patroli penyakit masyarakat dengan Satpol PP Tanjungpinang.
“Kami dengan Satpol PP Tanjungpinang mengadakan patroli untuk merazia hotel dengan sasaran tindak asusila,” ujarnya.
Saat merazia di Wisma Tanjung, petugas Babinsa Sertu Manurung melihat kedua pelaku keluar dari kamar 305 dengan gerak gerik yang mencurigakan. Selanjutnya, dilakukan penggeledahan terhadap seluruh barang bawaan tersangka.
“Saat digeledah, ditemukan barang bukti sabu di dalam tas hitam. Sehingga pada saat itu dua pelaku dibawa ke Kodim utuk di dalami,” katanya.
Kepada petugas, di dalam kamar 305 Wisma Tanjung itu masih terdapat beberapa paket sabu. Selanjutnya, bersama dengan kedua tersangka, petugas kembali ke kamar itu dan menemukan beberapa barang bukti lainnya.
“Hari ini kami dari kodim menyerahkan kedua pelaku ke Polres Tanjungpinang untuk dilakukan proses lebih lanjut,” imbuhnya.
Kapolres Tanjungpinang AKBP Ardiyanto Tedjo Baskoro membenarkan bahwa pihaknya telah menerima dua pengedar sabu tersebut. Dari tangkapan itu, diperoleh barang bukti seberat 94,41 gram yang dikemas dalam 10 paket.
“Selanjutnya, kedua tersangka kami bawa ke Polres Tanjungpinang untuk didalami lebih lanjut,” kata Tedjo.
Menurut pengakuan Herman, ia tidak berniat menjual sabu. Awalnya ia menghubungi kakaknya yang saat ini berada di lapas Batam, Dayanti untuk meminta pekerjaan. Selanjutnya, Dayanti menyuruh untuk menghubungi seseorang yang berada di lapas Tanjungpinang, Riki Siregar.
“Terus Riki itu ngaasi saya kerjaan untuk pertama kali. Lalu saya kerjakan, dan dikasi upahnya Rp 1,5 juta,” ujar Herman, Minggu (31/12).
Usai berhasil mengedarkan sabu itu, selanjutnya Riki menyuruh Herman kembali mengedarkan barang haram tersebut dengan imbalan sebesar Rp 4 juta. Adapun sabu itu diambil Herman di tepi jalan Cempedak, Kecamatan Tanjungpinang Barat.
“Ambilnya saya tidak tahu dari mana. Saya dapat di tepi jalan, terus saya ambil di bawa ke Wisma,” katanya.
Sesampainya di Wisma tersebut, selanjutnya Herman membagi sabu itu ke dalam tiga paket. Diantaranya paket besar, sedang dan kecil. (cr1)
Suasana di galangan kapal yang menjadi sektor investasi perusahaan asing yang berada di kawasan industri galangan kapal Tanjung Uncang, Batuaji. F.Rezza Herdiyanto/Batam Pos
batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam merancang sejumlah strategi untuk menggairahkan kembali sektor industri galangan kapal atau shipyard. Di antaranya dengan menyiapkan insentif dan beragam kemudahan kepada para pengusaha di bidang tersebut.
“Nanti akan kami lihat lagi. Apakah (insentifnya) di bagian lahan atau tarif jasa pelabuhan,” kata Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo, Minggu (31/12/2017) lalu.
Karenanya, kata Lukita, pihaknya perlu bertemu dan berdiskusi dengan para pengusaha shipyard di Batam. Sehingga kebijakan dan kemudahan yang akan dikeluarkan BP Batam nanti sejalan dengan kebutuhan industri galangan kapal.
Selain menyiapkan insentif bagi investor, BP Batam juga akan segera merevisi Peraturan Kepala (Perka) BP Batam Nomor 17 tahun 2016 tentang Jasa dan Tarif Pelabuhan. Sebab selama ini pengusaha galangan kapal kerap mengeluhkan tarif jasa kepelabuhanan yang diatur dalam perka itu masih terlalu tinggi.
Namun sebelum merivisi Perka 17/2016 itu, BP Batam akan meminta kepada Dewan Kawasan (DK) Batam untuk segera mengajukan revisi PMK 148 ke Kemenkeu yang menjadi dasar dari Perka tersebut.
“Teman-teman asosiasi di pelabuhan mengerti. Kami tak bisa langgar tapi kami juga pahami kebutuhan mereka,” katanya.
Lukita menjelaskan, sektor shipyard tetap menjadi industri unggulan di Batam. Ini sejalan dengan moto Presiden Joko Widodo yang menginginkan Batam menjadi salah satu poros maritim nasional.
“Shipyard masih diunggulkan karena merupakan bagian dari rencana poros maritim. Kita butuh kapal-kapal untuk membangun dan pelihara masa depan Batam,” ujarnya.
Karenanya, Lukita mengatakan BP Batam siap mendukung para pengusaha shipyard di Batam untuk berkompetisi. Dan jika ada perusahaan shipyard yang akan melakukan penggabungan perusahaan (merger), maka BP Batam juga akan fasilitasi.
“Kami akan lihat apakah perlu merger dan apakah dengan begitu maka akan lebih baik. Makanya saya butuh duduk untuk mendengar kebutuhan mereka,” jelasnya.
Sebelumhya, Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putra melihat bahwa pemulihan sektor industri galangan kapal dapat dimulai dengan melakukan restrukturisasi industri.
“Misalnya dengan menggabungkan perusahaan-perusahaan shipyard berskala kecil agar lebihi efisien dan memiliki kapabilitas lebih baik untuk memenuhi permintaan,” kata Gusti belum lama ini.
Saran ini juga sudah termasuk dalam melakukan proses maintenance atau perbaikan kapal, serta mendorong penggunaan teknologi tinggi dalam proses produksinya.
“Sehingga memiliki kemampuan dalam memproduksi jenis ragam kapal termasuk termasuk kapal komersial,” katanya lagi.
Kapal-kapal komersial tersebut seperti kapal pesiar dan kapal penumpang dalam jumlah dan ukuran besar. “Dengan demikian mengurangi ketergantungan terhadap permintaan kapal dari industri migas,” paparnya. (leo)