Rabu, 29 April 2026
Beranda blog Halaman 13147

Pemilik Ribuan Ponsel Belum Diketahui

0

batampos.co.id – Lanal Tanjungbalai Karimun yang berhasil menangkap speed boat Dua Putra di Perairan Penyalai, Provinsi Riau yang membawa ribuan unit ponsel dan laptop serta peralatan kosmetik dari Batam tujuan Kuala Gaung, Provinsi Riau masih melakukan penyidikan terkait siapa pemilik ribuan peralatan elektonik tersebut.

“Kita masih melakukan penyidikan terhadap nakhoda atau tekong speed biat terkait siapa pemilik barang yang saat ini sudah diamankan di Mako Lanal Tanjungbalai Karimun. Termasuk juga pemeriksaan terhadap kru speed boat. Dan, hingga kini dari tekong dan kru kapal belum menyebutkan siapa pemilknya,” ujar Danlanal Tanjunbgbalai Karimun, Letkopl Laut (P) Totok Irianto kepada Batam Pos, kemarin (13/8).

Menyinggung tentang proses penyidikan apakah akan dilakukan sendiri oleh Lanal Tanjungbalai Karimun, Danlanal menyebutkan bahwa untuk penyidikan, memang tidka menutup kemungkinan akan menggandeng instnasi lain, yakni BC.

”Sebab, untuk muatan yang dibawa dari Batam tidak dilengkapi dengan dokumen kepabeanan. Sedangkan, untuk izin berlayar speed boat tidak memiliki SPB. Untuk itu, masalah pelayarannya pihaknya yang akan melakukan penyidikan,” jelasnya.

Sebelumnya, tiga unit patroli keamanan laut (Patkamla) yang merupakan gabungan satuan tugas (Satgas) dari Tim Westrern Fleet Quick Response (WFQR) Lantamal IV bersama Lanal Tanjungbalai Karimun berhasil mengejar dan menangkap speed boat Dua Putra yang membawa 5.170 unit ponsel pintar berbagai merek. Laptop berbagai merek ada 100 unit, jenis tablet pintar sebanyak 620 unit, 1 kotak kosmetik dan 135 tas laptop.

Pada saat akan ditangkap, speed boat yang menggunakan tuiga mesin masing-masing 300 PK mencoba untuk mearikan diri. Meski sudah diberikan tembakan peringatan, namun tetap melaju melarikan diri. Akhirnya, setelah berhasil ditemnbak mesinnya oleh kapal Patkamla TNI AL, akhirnya kapal bersama muatan berhasil dibawa ke Mako Lanal untuk menjalkani pemeriksaan. Karena, speedboat dan muatan tidka memiliki dokumen resmi. (san)

Teknologi Lampu Lalulintas di Batam masih Buruk, Listrik Mati, Lampu Lalin Ikut Mati

0

batampos.co.id – Sebagian besar lampu lalulintas di Batam belum memiliki penyimpan daya cadangan jika listrik mati. Alhasil, setiap kali listrik mati, lampu lalulintas juga ikut mati.

Seperti yang terjadi di Simpang Gelael, Batamcenter, Minggu (13/8) siang. Aktivitas lalulintas di simpang yang padat ini terganggu lebih kurang 20 menit karena lampu lalulintas tak berfungsi.

“Warga jadi terganggu perjalanannya. Mobilnya sampai berjubel di tengah simpang, tapi untung ada polisi,” kata pekerja parit, Saripin, yang tak jauh dari lokasi.

Wargapun merasa terganggu dan meminta pihak terkait menuntaskan masalah lalulintas tersebut. “Yang begini mesti jadi perhatian,” harap warga Bengkong, Juma.

Tak hanya kali ini, hal serupa kerap terjadi. Contohnya awal April lalu, banyak lampu lalulintas mati karena listrik mati, di antaranya Simpang Kara Batamcenter, Simpang Frengky Batamcenter, Simpang Basecamp Batuaji, Simpang Baloi Lubukbaja juga Simpang Kalista Batamecenter.

Pada waktu yang berbeda, beberapa simpang di wilayah Batuaji dan Sagulung mengalami hal serupa.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Batam Yusfa Hendri, mengaku dari 38 simpang di Batam hanya beberapa saja yang tidak berpengaruh jika listrik mati, seperti Simpang Jam, Simpang Kabil dan Simpang Lippo Nagoya dan beberapa simpang namun ia mengaku tak hafal. Sementara sebagian besarnya hanya mengandalkan listrik PLN.

ilustrasi

“Masih banyak yang masih teknologinya AC, yang kelemahannya kalau mati lampu traffic lightnya juga mati, kalau mati lama kadang kita bawa genset.” kata Yusfa.

Untuk mengatasi hal ini, secara bertahap pihaknya bersama Kementrian Perhubungan akan meningkatkan teknologi lampu lalulintas yang semula hanya andalkan listrik, ke depan akan ditambah batrei penyimpan daya yang akan bertahan hingga dua jam.

“Tahun ini ada empat yang kami tingkatkan, yakni simpang Rosadale (Gelael), Simpang Baloi, Seraya Atas dan Simpang Virgo di Pelita. Anggarannya sekitar Rp 4 miliar,” terangnya.

Untuk program peningkatan tahun depan, lanjut dia, pihaknya sudah mengajukan ke Kementrian Perhubungan. Simpang-simpang yang diajukan untuk dikerjakan lampu lalulintasnya adalah Simpang Seiharapan, Simpang Basecamp, Simpang Bandara juga Simpang KDA.

“Peningkatannya dari tiang, lampu hingga tekonologinya,” pungkasnya. (cr13)

Apri Buka Event Jong Race Desa Teluk Bakau

0
Bupati Bintan Apri Sujadi bersama Wakilnya Dalmasri Syam didampingi Kadis Pariwisata Luki Z Prawira (topi putih) menyaksikan lomba Jong di pantai Dispar Bintan di Desa Teluk Bakau, Sabtu (12/8). F.Slamet/Batam Pos.

batampos.co.id – Bupati Bintan Apri Sujadi membuka event pariwisata Jong Race Desa Teluk Bakau di pantai Perkantoran Dinas Pariwisata Bintan, Desa Teluk Bakau, Sabtu (12/8) pagi. Di event itu, Apri menyampaikan bahwa Melayu tidak akan hilang di Bintan dan Bintan tidak akan lepas dari Melayu.

“Kebiasaan (masyarakat) Melayu yang positif harus terus dipupuk dan dikembangkan,” ujarnya.

Ia mencontohkan salah satunya adalah kebiasaan masyarakat Melayu bermain Jong atau permainan sampan layar mini tanpa awak. Permainan Jong harus dilestarikan karena merupakan budaya Melayu dan berciri khas masyarakat Bintan.
Di kesempatan itu, ia juga menyampaikan Pemkab Bintan mendukung kegiatan event pariwisata ini. Ia berharap agar ke depan event Jong Race yang ditaja Pemdes Teluk Bakau bersama Dinas Pariwisata Bintan menjadi salah satu ikon wisata di Kabupaten Bintan.

“Bisa menjadi magnet sehingga menarik lebih banyak wisatawan lokal maupun mancanegara berkunjung ke Bintan,” harapnya.

Panitia Jong Race, Along menyampaikan, event digelar dua hari, 12-13 Agustus. Peserta lomba terdiri atas 14 tim dari Tanjungpinang dan Bintan.

“Lomba dibagi dua kategori, kecil dan besar. Di mana,
masing-masing tim beranggotakan 10 orang,” sebutnya.

Perlombaan Jong Race dimulai saat bupati bersama wakil bupati Bintan menekan tombol sirine. Di mana, tiga Jong peserta meluncur dari garis start sebagai simbolis pertandingan. Lomba ini diikuti sekitar 300 jong dari berbagai komunitas maupun perorangan baik dari Bintan maupun Tanjungpinang. (cr21)

 

PDIP Tak Tutup Kemungkinan Maju Sendiri

0
Lis Darmansyah. F. Dok Batam Pos.

batampos.co.id – Dengan raihan kursi terbanyak pada pemilihan legislatif 2014 silam membuat PDI Perjuangan semakin percaya diri menatap Pilkada Tanjungpinang tahun depan. Karena faktor tersebut membuat Partai Banteng ini bisa mengajukan pasangan calon kepala daerah sendiri atau lain kata tanpa membentuk koalisi dengan partai politik lain.

Namun keuntungan tersebut tidak boleh buru-buru bikin PDI Perjuangan jemawa. Lis Darmansyah yang merupakan calon wali kota berstatus petahana yang akan diusung PDI Perjuangan mengingatkan bahwasanya partainya tidak menutup pintu bagi partai politik lain yang ingin menjalin koalisi.

“PDI Perjuangan tetap membuka diri kok,” kata Lis, kemarin.

Soal sosok orang yang kelak akan mendampinginya, Lis juga mengatakan, tidak menutup kemungkinan dari kader partai politik lain atau elemen tokoh masyarakat. Namun, jikalau memang nantinya tidak juga didapati kecocokan atau tidak ada partai politik yang berkomunikasi menjalin koalisi, maka PDI Perjuangan, kata Lis, masih punya sejumlah kader yang dirasa berkelayakan mendampinginya.

“Tapi soal nama-nama, nanti dulu ya. Tunggu saatnya,” ujar Lis.

Dijabarkan Lis, bahwasanya partainya tidak mau gegabah dan terburu-buru menyongsong Pilkada Tanjungpinang yang akan dihelat tahun depan. Hingga kini, Lis sebagai wali kota lebih ingin fokus merampungkan tugas-tugas yang tersisa hingga akhir masa jabatannya pada Januari 2018 mendatang.

Lagi pula, tambah dia, hingga kini DPD PDI Perjuangan Kepri juga masih membuka pendaftaran bakal calon wakil wali kota yang akan mendampinginya. Pun juga DPP PDI Perjuangan baru bisa memberikan putusan lanjutan mengenai langkah-langkah strategis Pilkada Tanjungpinang pada akhir bulan ini.

“Jadi tunggu saja. Kalau nanti waktunya sudah tiba pasti juga diumumkan. Sekarang saya fokus dengan kerja sebagai wali kota yang masih tersisa saja dulu,” pungkas Lis. (aya)

Oktober Tarif Air SWRO Dievaluasi

0

batampos.co.id – Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Tanjungpinang, Hendri mengatakan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) akan melakukan evaluasi tarif air Sea Water Riverse Osmosis (SWRO) Tanjungpinang pada Oktober mendatang. Menurut Hendri, jika memang memungkin nilainya akan diturunkan.

“Struktur UPTD SPAM memang sudah terbentuk, hanya saja belum dilantik. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini sudah dilakukan pengukuhannya,” ujar Hendri menjawab pertanyaan Batam Pos, Minggu (13/8) di Tanjungpinang.

Menurut Hendri, UPTD SPAM bukan hanya bertanggungjawab pada proses pengelolan SWRO nantinya. Akan tetapi, mereka juga bertanggungjawab untuk menghandle SPAM Senggarang dan Kampung Bugis. Dikatakan Hendri, meskipun belum dilantik, tetapi personel yang terbentuk sekarang ini sudah terlibat dalam pelatihan bersama petugas pendamping yang dipersiapkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera).

Ditanya mengenai adanya wacana, Walikota Tanjungpinang, Lis Darmansyah yang ingin melakukan evaluasi tarif air SWRO. Lantaran dinilai masih tinggi dibandingkan dengan harga hasil produksi Perusahaan Daerah Air Minum (PADM). Mengenai hal itu, Hendri membenarkan adanya wacana tersebut. Dijelaskannya, besar kemungkin dilakukan evaluasi pada Oktober mendatang.

“Nanti setelah UPTD mulai bekerja secara resmi, tentu akan melakukan evaluasi-evaluasi. Terutama masalah tarif, sehingga jika memang harganya masih tinggi. Penurunan tarif tersebut terjadi, apbila biaya operasional tertutupi dan ada keuntungan dari harga sementara sekarang ini,” papar Hendri.

Terpisah, Anggota DPRD Kepri, Rudy Chua mengatakan pihaknya banyak mendapatkan laporan dari masyarakat yang menjadi jalur distribusi air SWRO. Yakni mengenai kerusakan-kerusakan pipa. Menurut Rudy, pihaknya mengharapkan Dinas Pekerjaan Umum, Pemprov Kepri juga memberikan respon. Karena memang, persoalan ini tidak bisa dilepas begitu saja.

“Kerusakaan pada sejumlah pipa tentu menjadi persoalan. Karena dikhawatirkan bisa menyebabkan air terbuang, jika operasional SWRO dipaksakan tanpa diperbaiki,” ujar Rudy Chua.

Legislator daerah pemilihan, Tanjugpinang tersebut juga mengatakan, sekarang ini ada operator SWRO yang dihaier oleh Kemenpupera. Untuk memudahkan lagi dalam pengelolan SWRO, sebaiknya UPTD bisa bekerjasama sementara waktu dengan mereka. Artinya pendampingan tersebut bisa berlanjut, sampai kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) teruji.

“Memang harus sedikit berkorban untuk sesuatu yang lebih baik. Saya pikir, langkah ini lebih baik dan bisa menghindari resiko yang tidak diinginkan,” jelas politisi Partai Hanura tersebut.

Ditanya mengenai persoalan tarif air SWRO. Mengenai hal itu, Rudy Chua mengatakan hal itu sudah tidak persoalan. Apalagi sudah dilakukan sosialisasi beberapa kali kepada masyarakat. Dikatakannya, kenapa Kemenpupera menggratiskan operasional selama satu bulan adalah untuk mengukur tingkat penggunaan air disetiap rumah tangga.

“Dengan begitu, masyarakat juga bisa membandingi. Apakah lebih hemat dengan SWRO atau menggunakan pelayanan air tangki yang tidak jelas diambil dari mana,”tutup Rudy.

Seperti diketahui, harga tarif SWRO adalah Rp19.500 permeter kubik atau bisa membeli lima tandon air bersih ukuran 1.000 liter. Sedangkan ukuran yang sama, di penjual air tangki adalah berkisar Rp70 ribu per 1.000 liter. Sementara tarif air konvensional yang saat ini dinikmati masyarakat Tanjungpinang hanya Rp2.600 permeter kubik.(jpg)

Lawan DBD Dengan 3M Plus

0
ilustrasi

batampos.co.id – Gerakan 3M (menguras, menutup, mengubur) plus dipercaya sebagai cara terampuh melawan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam meminta warga Batam turut andil menggalakkan gerakan tersebut.

“Tak ada yang paling baik selain 3M plus. Masyarakat kami harap lakukan ini,” ajak Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, Minggu (13/8) siang.

Ia meminta, masyarakat memperhatikan bak-bak dan penampungan air yang jadi sarang nyamuk. Menurutnya, peran masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya memberantas penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan nyamuk Aedes Aegypti ini.

“Kesadaran warga sangat penting,” katanya.

Ia mengatakan, dari pihaknya menambah gerakan ‘plus’ yakni dengan menggerakkan program satu rumah satu Juru Pemantau Jentik (jumantik) serta program jumantik cilik. Namun sayang, kini di lapangan gerakan ini belum terlalu nampak.

“By processlah. Bertahap kami akan terus lakukan ini,” imbuhnya.

Untuk diketahui, data Balai Tehnik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) kelas 1 Batam semester pertama tahun 2017 ini, lima penderita meninggal dunia dari 302 kasus.

Tahun-tahun sebelumnya, yakni tahun 2015 ada 712 kasus, lima di antaranya meninggal dunia. Sementara tahun 2016 ada 1016 kasus dengan 11 meninggal dunia.

Imbauan agar menggalakkan 3M juga, mengingat Agustus ini mulai turun.

Prakiraan cuaca Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara Hang Nadim Batam menyebutkan pada bulan ini hujan akan terjadi 3 sampai 7 hari dan puncaknya dari November hingga Januari. (cr13)

Berkas Pungli ASDP Telah Rampung

0
KantorASDP di Punggur malam hari, Rabu (19/4). Dua pegawai ASDP ini ditangkap polisi kasus pungli, atas nama Depi dan Pandi. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Jajaran Sat Reskrim Polresta Barelang telah menyelesaikan pemberkasan kasus pemberkasan kasus OTT yang menjerat dua pegawai BUMN pada PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP).

Berkas kasus itu telah dikirimkan Unit Tindak Pidana Koruspi (Tipikor) Sat Reskrim Polresta Barelang ke Kejaksaan Kamis (10/8) lalu. Saat ini, penyidik masih menunggu jawaban dari jaksa, apakah berkas itu telanh lengkap atau belum.

“Sudah kita kirimkan. Sekarang kita masih menunggu jawaban dari jaksa. Mudah-mudahan bisa cepat disetujui sama Jaksa,” ujar Kanit Tipikor Sat Reskrim Polresta Barelang Iptu Budi Tambunan.

Dijelaskan Budi, dalam berkas itu pihaknya menyertakan dua orang tersangka, yakni Fendy Rhofiek Nugroho, 30 selaku petugas dilapangan dan Defi Andri, 45, selaku Supervisor pelabuhan penyeberangan. Dalam peranannya, Defi menyuruh Fendy untuk memungut uang kepada sopir truk.

“Ada dua orang tersangka. Sementara, untuk tersangka lainnya kita belum mempunyai bukti yang kuat,” katanya.

Dalam berita sebelumnya, kedua pegawai PT ASDP itu melakukan praktik pungli dengan cara menaikkan golongan kendaraan dan tidak melaporkan jumlah tiket yang sebenarnya.

Dari hasil penangkapan ini, diamankan barang bukti berupa uang pembayaran dari pengguna jasa ASDP sebesar Rp 8.152.000. Uang itu merupakan uang pembayaran jasa penyebrangan yang dibayarkan tanpa menggunakan tiket.

Selain itu, Tim Saber Pungli juga mengamankan uang sebesar Rp 37.000.000 yang disimpan di dalam berangkas penyimpanan uang. Uang itu merupakan uang hasil pungli yang mereka lakukan selama sembilan hari.

Atas perbuatannya, kedua oknum itu dijerat dengan pasal 2 ayat (1) atau pasal 3 dan atau pasal 5 dan atau pasal 11 dan atau pasal 12 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tidak Pidana Korupsi, dengan ancaman hukuman penjara maksimal selama 20 tahun. (cr1)

Rias Wajah Suami dengan Mata Tertutup

0

batampos.co.id – Momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sudah selayaknya dirayakan dengan penuh hikmat. Seperti halnya yang dilakukan oleh warga Perumahan Cendana RT 02 RW 36, Batamkota yang menggelar berbagai kegiatan untuk menjalin kebersamaan antar warga.

Mulai dari lomba hingga hiburan, dilaksanakan Panitia RT 02 untuk memeriahkan peringatan HUT RI Ke-72 tahun ini. Diawali dengan senam bersama pada pagi hari (13/8). Kemudian dilanjutkan dengan perlombaan baik bagi anak maupun orangtua.

Keriuhan pun terjadi ketika para orangtua dilibatkan dalam perlombaan make up. Para istri yang biasanya berias, kali ini harus merias suaminya tanpa melihat. Meskipun harus berantakan, canda tawa tidak henti lepas dari wajah suami istri yang mengikuti lomba. Bahkan para penonton pun ikut tertawa.

Ketua Panitia Agustusan, Hadrus mengatakan selain berbagai perlombaan tersebut, mereka berencana menyiapkan kegiatan Kenduri. Dimana seluruh warga akan makan bersama di ruas jalan depan perumahan, lalu dilanjutkan dengan nonton bareng film perjuangan. “Pokoknya kita adakan untuk memperkuat kesatuan dan kekeluargaan warga lingkungan kita,” kata Hadrus.

Sejumlah ibu-ibu RT 02/RW 36 Perumahan Cendana Batamkota saat merias suaminya pada lomba merias pada acara rangkaian kegiatan peringatan HUT kemerdekaan yang ke-72, Minggu (13/8). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Kegiatan ini tidak hanya diperuntukkan untuk warga RT 02 saja, namun pihaknya juga membuka tangan bagi warga lain untuk merasakan kekeluargaan di tengah Hari Kemerdekaan RI.

“Dengan diadakan kegiatan ini, kami berharap dapat memberikan pelajaran dan contoh bagaimana kita menghargai perjuangan para pejuang yang telah membela negara ini,” jelas bapak tiga anak ini.

Sementara itu, Ketua RT 02 RW 36 Pramono Budi mendukung sepenuhnya kegiatan positif ini karena dapat mempererat tali silaturahmi antar warga. “Semoga saja, ini menjadi kegiatan rutin yang diselenggarakan untuk meningkatkan kekompakkan juga,” harap Budi. (cep)

 

Sulitnya (Punya) Anak Superpandai

0

Umur Audrey baru empat tahun. Saat itu. Tapi pertanyaannya setinggi filosof: Ke mana perginya rasa bahagia? Atau: Apa arti kehidupan?

Pertanyaan seperti itu membuat orang tuanya kewalahan. Begitu sering dia tanyakan. Dan tidak ada jawaban. Gurunya belingsatan. Lingkungannya jengkel. Di mata mereka, Audrey-cilik tetap dianggap bocah ingusan. Tidak pantas bertanya seperti itu. Bahkan, ada yang menganggapnya mengidap kelainan jiwa.

Kalangan dewasa menganggapnya tidak normal. Teman sebaya menganggapnya aneh sendiri. Harus dijauhi. Tidak bisa diajak berteman. Harus dikucilkan.

Situasi lingkungan seperti itu membuat Audrey menderita. Padahal, dia merasa normal. Semua pelajaran bisa dia ikuti dengan baik. Sangat baik. Bahkan istimewa. Semua bisa dia jawab. Bahkan yang belum ditanyakan sekali pun. Tapi, dia merasa terasing. Di rumahnya, di sekolahnya, di pergaulannya, dan juga di gerejanya. Di rumah, dia selalu dimarahi. Di sekolah selalu di-bully. Di pergaulan ibunya selalu jadi bahan gunjingan.

Orang tuanya, terutama ibunya, kian jengkel. Yakni saat Audrey melanjutkan pertanyaan ’’arti kehidupan’’ itu. Dengan pertanyaan yang lebih sulit dijawab: Mengapa ada orang miskin dan miskin sekali? Sampai harus menjadi pemulung. Atau gelandangan. Anak kecil yang tambah menjengkelkan.

Ketika sudah di sekolah dasar dia ngotot ingin ke tempat sampah. Mencari pemulung. Ingin membantu. Ingin melakukan seperti yang disebut dalam Pancasila. Khususnya sila kelima. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dia tidak hanya hafal Pancasila. Tapi merasuk sekali dalam jiwanya. Saking merasuknya, sampai dia selalu mempersoalkan ini: Mengapa yang tertulis dan diajarkan di Pancasila tidak sesuai dengan kenyataan? Dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Seperti yang dia lihat. Dan yang dia alami sendiri. Sebagai pribadi. Sebagai anak. Bahkan sebagai anak keluarga Tionghoa.

Dia ngotot ingin selalu ke tempat pemulung. Ingin tahu arti kehidupan. Ibunya, tentu, melarangnya. Bahkan memarahinya. Semua ibu mungkin akan seperti itu.

Lain waktu, Audrey bikin kejutan lagi. Cita-citanya ingin jadi tentara. Agar bisa jadi pejuang. Seperti pahlawan. Yang fotonya dipajang di dinding kelasnya. Heroik. Seperti kisah pahlawan dari guru-gurunya.

Ibunya, tentu, marah lagi.

Waktu ibunya menikah dulu, bukan anak seperti itu yang dia impikan. Begitu lama sang ibu mendambakan segera punya anak. Tidak kunjung hamil. Tiga tahun. Empat tahun. Lima tahun. Lama sekali menanti. Setelah itu barulah hamil.

Begitu besar harapan pada anak itu. Apalagi, Audrey tidak kunjung punya adik. Audrey menjadi satu-satunya anaknya. Terlalu banyak keinginan sang ibu pada masa depan Audrey kecilnya. Begitu mampu sang ibu untuk menyiapkan apa saja. Dia insinyur kimia. Suaminya insinyur mesin. Kedudukan suaminya sangat tinggi di sebuah perusahaan raksasa. Di luar itu masih punya usaha. Bahkan beberapa. Pokoknya, dia cukup kaya. Kurang apa.

Harapan pada anaknya tentu seperti umumnya harapan orang tua. Apalagi anak tunggal. Yang untuk menanti kehadirannya begitu lama. Anaknya harus pandai, cantik, dan kelak bisa menjadi orang sukses. Terkemuka. Kaya. Lebih sukses dari orang tuanya. Kemudian bisa mendapat suami yang setara.

Tapi, ternyata anaknya telah membuatnya repot. Malu. Marah. Teman-teman sang ibu menyarankan agar membawa Audrey ke dokter jiwa. Begitu banyak yang menyarankan langkah itu. Begitu sering diucapkan. Secara nyata maupun isyarat. Kadang Audrey mendengar sendiri saran ke dokter jiwa itu.

Ada yang mengucapkannya terang-terangan. Di depan si anak. Mungkin mengira toh anak ini tidak akan paham apa yang diucapkan orang dewasa. Ternyata Audrey lebih dari sekadar paham. Baru mendengar saran itu saja, Audrey sudah kian merasa disakiti hatinya. Apalagi setelah benar-benar dibawa ke dokter jiwa.

Dasar anak cerdas, dia tahu apa yang harus diperbuat di dokter jiwa. Jawaban apa yang harus diberikan. Bahkan, dia bisa menilai dokternya. Berkualitas atau tidak. Karena tidak ’’sembuh’’, Audrey dibawa ke dokter yang lain lagi. Yang berikutnya lagi. Bahkan, Audrey pun bisa membandingkan. Mana dokter yang kurang paham dan mana yang lebih kurang paham. Ketika ada dokter jiwa yang kemudian memberinya obat, Audrey pun kian merasa betapa sulit orang lain memahami dirinya. Bahkan dokter jiwa sekali pun.

Ketika kelas tiga SD, Audrey bikin kejutan lagi. Gak mau sekolah. Terlalu mudah. Orang tuanya mencarikan jalan keluar. Pindah sekolah. Memang dia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk kelas enam sekali pun. Audrey akhirnya bisa mendapat percepatan. Umur 12 tahun sudah kelas tiga SMA. Kesulitan muncul. Di mana ada universitas yang bisa menerima mahasiswa baru yang umurnya baru 13 tahun.

Dicarilah berbagai informasi. Di dalam negeri. Di luar negeri. Ketemu. Di Amerika Serikat. Di Negara Bagian Virginia. Di Kota Williamburg. Termasuk kota pertama dalam sejarah AS yang didarati bangsa Eropa. Saya tahu kota ini. Saya pernah ke sana.

Audrey tentu harus dites. Lulus. Dalam tes bahasa Inggris, tidak ada masalah. Bahkan, Audrey bisa bahasa Prancis. Rusia. Di William and Marry University ini, Audrey ambil mata kuliah yang wow: fisika murni. Dia pun lulus S-1 fisika murni hanya dalam waktu dua tahun. Dengan tingkat kelulusan summa cum laude pula.

Orang tuanya tentu gembira. Tapi sekaligus sedih. Marah. Sulit. Audrey tetap ingin masuk tentara. Jadi pejuang negara. Seperti pahlawan yang dikenalnya di foto-foto di dinding taman kanak-kanaknya.

Nasihat orang tuanya tidak pernah dia terima. Misalnya, nasihat untuk menyadari bahwa dirinya itu keluarga Tionghoa. Minoritas. Belum tentu bisa diterima baik oleh lingkungan yang luas. Kok mau masuk tentara. Jadi pejuang bangsa.

Sejak kecil Audrey terus dinasihati tentang sulitnya jadi minoritas. Tentang bahayanya menjadi golongan Tionghoa. Risiko bermata sipit. Berkulit kuning. Tentang risiko-risiko pergaulan. Kekerasan. Apalagi dia seorang wanita. Begitu protektif si ibu sampai-sampai saat ada tukang di rumahnya, Audrey tidak boleh keluar kamar.

Begitu ketatnya aturan yang harus dijalani seorang anak kecil bermata sipit membuat Audrey memberontak. Diam-diam. Dipendam. Dalam hati. Dia berusaha menghitamkan kulitnya. Tapi setiap becermin, dia mengakui matanya masih sipit. Dia bertekad tidak mau berbahasa Mandarin. Dia berhenti kursus Mandarin. Bahkan, dia bertekad tidak akan mau menikah dengan pemuda Tionghoa.

Dia tidak percaya soal perbedaan ras tidak bisa diatasi. Dia percaya pada Pancasila. Yang ajarannya mulia. Tidak membeda-bedakan warga negara. Dia tahu dalam kenyataan bahwa pembedaan itu ada. Justru itu harus diperjuangkan. Agar Pancasila bisa dilaksanakan.

Dia tidak mau kaya raya. Tidak mau jadi pengusaha. Dia juga masih melihat banyak golongan Tionghoa yang tidak melaksanakan Pancasila. Di tengah bangsa yang masih begini miskinnya. Tapi, dia juga kecewa. Bahwa golongan Tionghoa masih diperlakukan tidak adil dan beradab. Oleh golongan lainnya. Dia kecewa dalam hal ini Pancasila baru di bibir saja.

Mengapa saat berumur empat tahun Audrey sudah mempertanyakan arti kehidupan dan ke mana perginya rasa bahagia?

Hari itu Audrey mendadak diajak ke Tulungagung. Kakeknya meninggal. Kakek yang dia sayangi. Kakek yang periang dan penyayang. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Tulungagung, dia mendengar pembicaraan orang tuanya. Terutama tentang penyebab meninggalnya. Yakni, meninggal karena sedih. Ditinggal mati istrinya. Sang istri meninggal setelah menderita lama: korban tabrak lari.

Audrey-kecil sangat sayang oma dan opanya. Audrey memanggilnya Ama dan Akong. Pagi itu, jam 4 pagi, Ama bersepeda sehat ke arah Alun-Alun Tulungagung. Sebuah mobil menabraknya. Tidak pernah diketahui siapa penabraknya.

Dari situlah Audrey terus berpikir. Mengapa orang yang begitu menyenangkan harus meninggal. Bahagia itu ternyata bisa datang dan pergi. Banyak sekali yang dia renungkan. Padahal, kalau ada orang dewasa bicara, Audrey itu hanya diam. Begitulah kata ibunya. Kami-kami ini tidak tahu bahwa dalam diamnya itu ternyata dia terus berpikir. Padahal, orang mengira dia diam karena tidak peduli dengan pembicaraan orang dewasa.

Kata Audrey, umur itu ternyata pendek. Sejak saat itu, Audrey bertekad untuk mengisi umur yang pendek itu dengan sebanyak mungkin arti kehidupan. Audrey jadi anak genius. Audrey bukan tidak bisa berubah.

Dia terkejut saat ke dokter gigi. Orang tuanya membawa Audrey ke dokter gigi di Singapura. Di sana dia mendapat kesan betapa orang-orang Singapura sangat bangga akan negaranya. Padahal, dia melihat orang-orang itu memiliki nama China.

Kesimpulannya: untuk bangga pada negara, untuk membela negara, ternyata tidak harus dengan cara mengubah identitas. Dengan nama tetap China, dengan kulit tetap kuning, dengan mata tetap sipit, ternyata orang-orang itu begitu fanatik pada ke-Singapura-annya. Pada negaranya.

Audrey mulai mau belajar lagi bahasa Mandarin. Dengan cepat. Bahasa apa pun bisa dia kuasai dengan mudah. Bahkan, Audrey sudah menerbitkan beberapa buku pelajaran bahasa Mandarin untuk anak Indonesia.

Audrey juga mulai ingin punya nama Tionghoa.

Dia ke pengadilan. Mengubah namanya. Menjadi: Audrey Yu Jia Hui. Dia ingin membuktikan bahwa untuk cinta negara tidak harus mengubah atau menyembunyikan identitas suku atau rasnya. Seperti di Singapura. Dan sebetulnya juga di Amerika.

Hanya, dia tetap masih membujang. Umurnya sudah 30 tahun saat ini. Mengajar bahasa Inggris untuk level tertinggi di Shanghai. Sambil terus menyusun konsep penerapan Pancasila yang baik. Saya sudah dikirimi draf konsep pemasyarakatan Pancasila menurut dia. Saya sudah membaca dan ikut merenungkannya.

Ibunya juga sudah mulai berubah. Audrey sudah bisa pulang tahun depan dengan suasana baru.

’’Saya baru tahu dari bukunya kalau perasaannya kepada saya seperti itu,’’ kata sang ibu kepada saya.

’’Saya menyesal,’’ tambahnya. ’’Saya sudah berubah. Saya mau berubah,’’ kata sang ibu. (*)

 

Oleh Dahlan Iskan

Polemik Labuh Jangkar, Kadishub Minta Petunjuk Biro Hukum

0

batampos.co.id – Pemerintah Provinsi Kepri mendapatkan desakan dari DPRD Provinsi Kepri untuk segera menuntaskan persoalan labuh jangkar dalam wilayah 0-12 mil.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kepri, Brigjen TNI Jamhur Ismail mengatakan pihaknya sedang meminta petunjuk dari Biro Hukum Pemprov Kepri.

“Ya saat ini kami sedang berkoordinasi dengan Biro Hukum, Pemprov Kepri. Apakah kebijakan yang kita buat untuk memungut retrebusi labuh jangkar sekarang bertentangan dengan hukum atau tidak,” ujar Jamhur Ismail menjawab pertanyaan Batam Pos, akhir pekan lalu di Tanjungpinang.

Menurutnya, Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah sudah terbit sejak 2,9 tahun yang lalu. Didalam UU tersebut juga dijelaskan, apabila belum ada Peraturan Pemerintah (PP) sebagai petunjuk pelaksakaan (juklak) dan petunjuk teknisnya (juknis). Maka UU tersebut sudah legal secara hukum.

“Jika parameternya adalah UU tersebut, kita sudah tidak bertentangan dengan hukum atas kebijakan yang sudah dibuat,” jelas Jamhur.

Disebutkannya, Pemprov Kepri melalui Dishub Kepri juga sudah membuat Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Badan Usaha Pelabuhan (BUP) Kepri, BUP Batam, dan BUP Karimun. Ditegaskannya, langkah tersebut adalah untuk mengoptimalkan pengelolaan labuh jangkar sesuai dengan kewenangan yang diberikan. Sementara itu, para agen-agen kapal sudah bisa berkoordinasi dengan BUP.

“Sekarang ini, Perda Retrebusi sedang di evaluasi di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Mudah-mudahan ada petunjuk yang diberikan. Karena memang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Sektor labuh jangkar adalah andalan baru bagi Kepri,” papar Jamhur.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Kepri, Onward Siahaan mengatakan, informasi yang diterima pihaknya, Pemprov Kepri melalui Dishub Kepri sudah memungut pendapatan dari sektor labuh jangkar. Akan tetapi sekarang ini masih dititipkan di Satker Kementerian Perhubungan. Ia khawatir, persoalan akan menjadi temuan. Karena belum masuk ke kas daerah.

“Kita tidak ingin ini menjadi persoalan ke depan, kalau memang sudah kita terima sebaiknya langsung ke kas daerah. Apabila dibiarkan berlarut, berpotensi jadi temuan. Kabarnya sudah ada Rp 12 miliar yang terkumpul,” ujar Onward.(jpg)